Tampilkan postingan dengan label luruskan barisan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label luruskan barisan. Tampilkan semua postingan

Senin, Februari 23, 2026

luruskan barisan ke 8

 

حديث "لا يركب البحر إلا غاز أو حاج أو معتمر" يُروى من طريق ليث بن أبي سليم عن نافع عن ابن عمر مرفوعاً، وهو إسناد ضعيف. ليث (بن أبي سليم) ضعيف ومختلط، وقد اضطرب فيه، وأخرجه البزار وغيره، بينما ذكره البعض موقوفاً من قول مجاهد.

تفاصيل الحديث والإسناد:

نص الحديث: "لا يركب البحر إلا غاز أو حاج أو معتمر".

طريق الرواية: ليث بن أبي سليم، عن نافع (مولى ابن عمر)، عن ابن عمر رضي الله عنهما.

حكم الإسناد: ضعيف

 

Hadits, "Tidak seorang pun boleh naik lewat laut kecuali seorang pejuang ( berperang ) , seorang peziarah (haji ), atau orang yang sedang melaksanakan umrah," diriwayatkan melalui Layth ibn Abi Sulaym, dari Nafi', dari Ibn Umar, sebagai sabda Nabi (shalawat dan salam kepadanya). Rantai periwayatan ini lemah. Layth (ibn Abi Sulaym) dianggap lemah dan tidak dapat diandalkan, dan riwayatnya tidak konsisten. Hadits ini dimasukkan oleh al-Bazzar dan lainnya, sementara sebagian mengutipnya sebagai pernyataan Mujahid (semoga Allah meridainya).

Atsar lemah. Bukan Rasul yang bersabda tapi Ibnu Umar dan sahabat lainnya tidak bicara begitu.

 

Rincian hadits dan rantai periwayatannya:

 

Teks hadits: "Tidak seorang pun boleh naik ke laut kecuali seorang pejuang,( berperang ) seorang peziarah ( haji ), atau orang yang sedang melaksanakan umrah."

 

Begitu juga hadis sbb :

Sebaik-baik di antara kalian adalah orang-orang yang bahunya paling lembut ( tidak kaku ) saat shalat

خيرُكُم ألينُكُم مَناكبَ في الصَّلاةِ

الراوي: عبدالله بن عباس • ابن خزيمة، صحيح ابن خزيمة (٣/ ٨٠) • أخرجه في صحيحه • شرح حديث مشابه

 ٢ - خيرُكم ألينُكم مناكِبَ في الصَّلاةِ

الراوي: عبدالله بن عباس • ابن حبان، صحيح ابن حبان (١٧٥٦) • أخرجه في صحيحه • أخرجه أبو داود (٦٧٢)، وابن خزيمة (١٥٦٦)، والبيهقي (٥٣٩٣) • شرح حديث مشابه

Sebaik-baik di antara kalian adalah orang-orang yang paling rileks bahunya saat shalat.

 

Diriwayatkan oleh: Abdullah ibn Abbas • Ibn Khuzaymah, Sahih Ibn Khuzaymah (3/80) • Beliau memasukkannya ke dalam kitab Sahihnya • Penjelasan hadits serupa

نعم، يُصنَّف الإمام ابن حبان (ت 354هـ) عند كثير من علماء الحديث، لا سيما المتأخرين منهم، بأنه متساهل في التوثيق،،. ومع كونه إماماً حافظاً وصاحب كتاب "الصحيح"، إلا أنه يُوثّق بعض المجاهيل (الرواة غير المعروفين) ويدرجهم في كتابه الثقات، ويعتبر أن الأصل في الراوي العدالة ما لم يُجرح.

Ya, Imam Ibn Hibban (wafat 354 H) dianggap oleh banyak ulama hadits, terutama ulama hadits generasi belakangan, sebagai ulama yang longgar dalam otentikasi ( tashih ) haditsnya. Meskipun merupakan ulama hadits terkemuka dan penulis "Sahih ," beliau mengotentikasi ( menyatakan terpercaya )beberapa perawi yang tidak dikenal (yang tidak banyak diketahui) dan memasukkan mereka dalam bukunya "al-Thiqat" (Para Perawi Terpercaya), dengan mempertimbangkan asumsi standar integritas seorang perawi kecuali jika terbukti sebaliknya.

ابن حبان محدّثٌ جهبذٌ، واسع الإطلاع كثيراً، وما نقم عليه من تساهل إنّما هو بسبب توثيقه للمجاهيل، فإن الأصل في الراوي عند ابن حبان العدالة، والجرح طارئ؛ فعلى هذا وثّق كثيراً من المجاهيل. (انظر على سبيل المثال: الثقات 4/ 318 و 6/ 146 و 168 و 178)، وأخرج لهم في صحيحه مما أدّى إلى انتقاده ووصفه بالتساهل، وكتابه: " المجروحين " يدلّ على رسوخ قدمه وعمق نظره وتضلعه في علل الحديث الذي هو رأس علم الحديث.

--------

ص143 - أرشيف ملتقى أهل الحديث - تساهل ابن حبان - المكتبة الشاملة الحديثة

Ibn Hibban adalah seorang ulama hadits yang sangat terampil dengan pengetahuan yang luas. Kritik yang ditujukan kepadanya karena dianggap terlalu lunak dalam mentashih perawi yang tidak dikenal. Menurut Ibn Hibban, asumsi dasar mengenai seorang perawi adalah integritas, dan kritik apa pun dianggap sebagai anomali. Berdasarkan prinsip ini, ia menpercayai banyak perawi yang tidak dikenal. (Lihat, misalnya, Al-Thiqat 4/318 dan 6/146, 168, dan 178). Ia memasukkan beberapa riwayat mereka dalam kitab Shahihnya, yang menyebabkan kritik dan tuduhan terlalu lunak. Kitabnya, Al-Majruhin (Yang cacat), menunjukkan pengetahuannya yang mendalam, wawasan yang tajam, dan penguasaannya terhadap cacat hadits, yang merupakan landasan ilmu hadits.

 

 

- ...

Sabtu, Februari 21, 2026

luruskan barisan waktu salat ke 7

 

هو محمد بن بشار بن عثمان بن داود بن كيسان العبدي البصري، أبو بكر المعروف ببندار، من حفاظ الحديث الثقات، لم يخرج من البصرة أكثر عمره برا بأمه، فلمَّا ماتت ارتحل، فكان يقول: «أردت الخروج فمنعتني أمي، فأطعتها، فبورك لي فيه»، وكان يحدث وهو ابن ثماني عشرة سنة، وكان أهل البصرة يقدمون عليه، وكان كثير الحديث، فيقول أبو داود: «كتبت عن بندار نحوا من خمسين ألف حديث»، وكان يحفظ حديثه، ويقرؤه من حفظه، وكان مكثرًا فيوجد عنده ما ليس عند غيره، روى عنه البخاري 205 حديثًا في صحيحه، ومسلم 460 حديثًا في صحيحه.

Dia adalah Muhammad ibn Bashar ibn Uthman ibn Dawud ibn Kaysan al-Abdi al-Basri, Abu Bakr, yang dikenal sebagai Bundar, salah satu penghafal hadits yang terpercaya. Ia tidak meninggalkan Basra hampir sepanjang hidupnya karena ketaatannya kepada ibunya. Ketika ibunya meninggal, ia melakukan perjalanan. Ia  berkata: “Aku ingin pergi, tetapi ibuku mencegahku, jadi aku menaatinya, dan aku diberkati karenanya.” Ia  meriwayatkan hadits ketika berusia delapan belas tahun, dan penduduk Basra biasa mendatanginya. Ia memiliki banyak hadits, dan Abu Dawud berkata: “Aku telah mencatat sekitar lima puluh ribu hadits dari Bundar.” Ia biasa menghafal hadits-haditsnya dan membacanya dari hafalan. Ia sangat produktif, sehingga ia memiliki apa yang tidak dimiliki orang lain. Al-Bukhari meriwayatkan 205 hadits darinya dalam kitab Shahihnya, dan Muslim meriwayatkan 460 hadits darinya dalam kitab Shahihnya.

Pada tahun sekitar 200 H hadis itu tidak di kenal orang di Medinah atau Mekkah dan hanya Muhammad bin Basysyar yang tahu.  Hadis itu atau atsar itu memang bukan Nabi yang bersabda tapi Ibnu Abbas. Karena Rasul tidak bersabda  seperti itu ( merapatkan bau waktu salat), maka di ambillah kata Ibnu Abbas. ini Namanya atsar bukan hadis tidak bisa di buat sandaran. Kalau di pakai pegangan untuk merapatkan bau dalam salat sama dengan orang bodoh tentang ilmu hadis ,  pak  turut belaka an ikut orang banyak atau lingkungan.

Makanya Imam hadis tidak banyak yang meriwayatkan > Imam Maik , Bukhari an Muslim tidak meriwayatkan dalam kitab mereka . Imam Malik itu tokoh penduduk Medinah mengapa tidak tahu atsar itu.

ATsar tunggal , gharib, tidak perlu di ambil ,tapi buang saja agar tidak menyesatkan orang banyak

 

 

٣ - خيارُكم ألينُكم مناكِبَ في الصَّلاةِ

الراوي: عبدالله بن عمر • البزار، البحر الزخار (١٢/٢١٨) • لا نعلم رواه عن نافع إلا ليث • أخرجه الطبراني في (١٢/٤٠٥) (١٣٤٩٤)، وأخرجه ابن شاهين في ((الترغيب في فضائل الأعمال)) (٤٧٤)، والديلمي في ((الفردوس)) (٢٨٥٨) مطولاً

3 - Sebaik-baik di antara kalian adalah orang-orang yang bahunya paling lembut ( tidak kaku ) saat shalat.

 

Diriwayatkan oleh: Abdullah ibn Umar • Al-Bazzar, Al-Bahr Al-Zakhkhar (12/218) • Kami tidak mengetahui ada yang meriwayatkannya dari Nafi’ kecuali Layth • Diriwayatkan oleh Al-Tabarani dalam (12/405) (13494), dan oleh Ibn Shahin dalam “Al-Targhib fi Fada’il Al-A’mal” (474), dan oleh Al-Daylami dalam “Al-Firdaws” (2858) secara panjang lebar

Komentarku ( Marus ali ) :

Perawi tunggalnya adalah Laits yang lemah. Tinggalkan saja hadis itu dan tidak perlu I pungut atau di ambil. Ia bikin orang sesat dari jalan lurus menuju jalan serong.

طريق الرواية: ليث بن أبي سليم، عن نافع (مولى ابن عمر)، عن ابن عمر رضي الله عنهما.

حكم الإسناد: ضعيف

Jenis periwayatan: Layth ibn Abi Sulaym, dari Nafi' (budak yang dibebaskan oleh Ibn Umar), dari Ibn Umar (semoga Allah meridai keduanya).

 

Hukum mengenai rantai periwayatan: Lemah

Kamis, Februari 12, 2026

luruskan barisan salat ke 6

 

 

27يَا بَنِي آدَمَ لَا يَفْتِنَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ كَمَا أَخْرَجَ أَبَوَيْكُم مِّنَ الْجَنَّةِ يَنزِعُ عَنْهُمَا لِبَاسَهُمَا لِيُرِيَهُمَا سَوْآتِهِمَا ۗ إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لَا تَرَوْنَهُمْ ۗ إِنَّا جَعَلْنَا الشَّيَاطِينَ أَوْلِيَاءَ لِلَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ

27 Wahai anak Adam, janganlah setan menggoda kamu sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua orang tuamu dari surga, dengan menelanjangi mereka dan menyingkapkan aurat mereka. Sesungguhnya ia dan kaumnya melihat kamu dari tempat yang tidak kamu lihat. Kami telah menjadikan setan sebagai sekutu orang-orang yang tidak beriman. Al a`raf 27.

Orang bilang : Mungkin juga mu`jizat.

Saya katakan: Mu`jizat hendaknya cocok dengan ayat. Allah suddah menjelaskan Rasul itu manusia biasa , bukan mlaikat an bukn jin . Kita tidak percaya ayat ini

فَقَالَ الْمَلَأُ الَّذِينَ كَفَرُوا مِن قَوْمِهِ مَا نَرَاكَ إِلَّا بَشَرًا مِّثْلَنَا وَمَا نَرَاكَ اتَّبَعَكَ إِلَّا الَّذِينَ هُمْ أَرَاذِلُنَا بَادِيَ الرَّأْيِ وَمَا نَرَىٰ لَكُمْ عَلَيْنَا مِن فَضْلٍ بَلْ نَظُنُّكُمْ كَاذِبِينَ

Maka berkatalah pemimpin-pemimpin yang kafir dari kaumnya: "Kami tidak melihat kamu, melainkan (sebagai) seorang manusia (biasa) seperti kami, dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti kamu, melainkan orang-orang yang hina dina di antara kami yang lekas percaya saja, dan kami tidak melihat kamu memiliki sesuatu kelebihan apapun atas kami, bahkan kami yakin bahwa kamu adalah orang-orang yang dusta". Hud 27

Bila kita percaya Rasul bisa melihat setan dari belakang ketik a salat , kita ber arti tidk mngerti ayat itu atau mendustakanny a, tidak percaya paanya. dan ayat itu tidak berfungsi dalam kehidupan kita sseperti omong kosong belaka,tidak dari Allah bahkan bikinan manusia. Lalu bodohnya kita memegang hadis mungkar untuk lemparkan ayat suci.

 

كان رسولُ اللهِ ﷺ إذا أُقيمَتِ الصلاةُ مسَحَ صُدورَنا، وقال: رُصُّوا المَناكِبَ بالمَناكِبِ، والأقدامَ بالأقدامِ، فإنَّ اللهَ تعالى يُحِبُّ في الصلاةِ ما يُحِبُّ في القِتالِ، كأنَّهم بُنيانٌ مَرصوصٌ.

الراوي: البراء بن عازب • شعيب الأرنؤوط، تخريج مشكل الآثار (٥٦٢٧) • إسناده ضعيف • أخرجه الطحاوي في ((شرح مشكل الآثار)) (٥٦٢٧) بلفظه، وابن أبي عاصم في ((الجهاد)) (١٤٣) ببعض لفظه

Ketika salat hendak dimulai, Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam biasa mengusap dada kami dan berkata, “Rapatkan bahu kalian dan kaki ( mata kaki kalian, karena Allah menyukai dalam salat apa yang Dia sukai dalam peperangan, seolah-olah keduanya adalah bangunan yang kokoh.”

 

Diriwayatkan oleh: Al-Bara’ ibn ‘Azib • Shu’ayb al-Arna’ut, Takhrij Mushkil al-Athar (5627) • Sanad periwayatannya lemah • Juga diriwayatkan oleh al-Tahawi dalam Sharh Mushkil al-Athar (5627) dengan redaksi yang sama, dan oleh Ibn Abi ‘Asim dalam al-Jihad (143) dengan beberapa redaksi yang sama

Hadis lemah.

الكتاب: شرح مشكل الآثار

المؤلف: أبو جعفر أحمد بن محمد بن سلامة بن عبد الملك بن سلمة الأزدي الحجري المصري المعروف بالطحاوي (المتوفى: 321هـ)

تحقيق: شعيب الأرنؤوط

الناشر: مؤسسة الرسالة

الطبعة: الأولى - 1415 هـ، 1494 م

عدد الأجزاء: 16 (15 وجزء للفهارس)

Kitab: Penjelasan Riwayat-Riwayat yang Sulit

Pengarang: Abu Ja'far Ahmad ibn Muhammad ibn Salamah ibn 'Abd al-Malik ibn Salamah al-Azdi al-Hajari al-Misri, dikenal sebagai al-Tahawi (wafat 321 H)

Penyunting: Shu'ayb al-Arna'ut

Penerbit: Yayasan Al-Risalah

Edisi: Pertama - 1415 H, 1494 M

Jumlah Jilid: 16 (15 jilid dan satu jilid untuk indeks)

شرح مشكل الآثار (14/ 294)

مَا قَدْ حَدَّثَنَا أَبُو أُمَيَّةَ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْقَاسِمِ الْأَسَدِيُّ، عَنْ أَبِي جَنَابٍ الْكَلْبِيِّ، عَنْ طَلْحَةَ بْنِ مُصَرِّفٍ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْسَجَةَ، عَنِ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أُقِيمَتِ الصَّلَاةُ مَسَحَ صُدُورَنَا، وَقَالَ: " رُصُّوا الْمَنَاكِبَ بِالْمَنَاكِبِ، وَالْأَقْدَامَ بِالْأَقْدَامِ، فَإِنَّ اللهَ تَعَالَى يُحِبُّ فِي الصَّلَاةِ مَا يُحِبُّ فِي الْقِتَالِ , كَأَنَّهُمْ بُنْيَانٌ مَرْصُوصٌ "

 

Penjelasan Riwayat-Riwayat yang Sulit (14/294)

Abu Umayyah meriwayatkan kepada kami, Muhammad ibn al-Qasim al-Asadi meriwayatkan kepada kami, dari Abu Janab al-Kalbi, dari Talhah ibn Musarrif, dari Abd al-Rahman ibn Awsajah, dari al-Bara’ ibn Azib, yang berkata: Ketika shalat hendak dimulai, Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam mengusap dada kami dan berkata: “Rapatkan bahu ke bahu dan rapatkan kaki.” Dengan kaki ( mata kaki dengan mata kaki ), karena Allah Yang Maha Kuasa menyukai dalam shalat apa yang Dia sukai dalam peperangan, seolah-olah mereka adalah bangunan yang kokoh.

Komentarku ( Mahrus ali ): Tidak ada kitab kitab sunnah yang mencantumkan hadis tsb kecuali musykilil atsar. Saya tidak menjumpai hadis yang menerangkan untuk merapatkan bau dan mata kaki yang valid. Kita hanya mendengar orang bilang begitu.  Para imam ahii hadis enggan memasukkan hadis tsb dalam kitab mereka. Ini bukti hadis itu tidak sahih. Andaikan sahih mengapa mereka berbuat seperti itu. Lihat sanadnya :

مَا قَدْ حَدَّثَنَا أَبُو أُمَيَّةَ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْقَاسِمِ الْأَسَدِيُّ، عَنْ أَبِي جَنَابٍ الْكَلْبِيِّ، عَنْ طَلْحَةَ بْنِ مُصَرِّفٍ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْسَجَةَ، عَنِ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ

Abu Umayyah meriwayatkan kepada kami, Muhammad ibn al-Qasim al-Asadi meriwayatkan kepada kami, dari Abu Janab al-Kalbi, dari Talhah ibn Musarrif, dari Abd al-Rahman ibn Awsajah, dari al-Bara’ ibn Azib,

عبد الرحمن بن عوسجة الهمداني ثم النهمي الكوفي

Abd al-Rahman ibn Awsajah al-Hamdani, kemudian al-Nahmi al-Kufi

Kevalidan hadis itu harus diklarivikasi ,matan dan sanadnya. Bila salah satunya cacat, maka hadis itu tidak sahih dan harus dI tinggalkan karena lemah, tidak boleh I buat pegaangan atau sandaran dalam beragama. Cacat disini karena tafarrudnya Abd Rahman bin Ausaja dari Irak. Perawi Medinah tidak ada yang paham hadis itu. Pada hal  kesendirian perawi Irak itu gawat sekali.

 

لا يُشك أن تفرد الصدوق ليس كتفرد الضعيف المتفق على ضعفه، فوجب التفريق بينهما؛ لأن تفرد الصدوق مشكوك فيه عند من لا يقبله، وأما تفرد الضعيف فالمترجح في الظن أنه خطأ، ولهذا فالأولى أن يُستعمل لفظ (التوقف) بدل الرد إلا بالنسبة لمن صرح بالرد كالبرديجي مثلاً فيُحافظ على عبارته كما قالها، وأما من حيث عموم المذهب فلفظ (التوقف) أولى.

Tidak diragukan lagi bahwa riwayat tunggal dari perawi terpercaya tidak sama dengan riwayat tunggal dari perawi lemah yang kelemahannya disepakati secara bulat. Oleh karena itu, harus dibedakan di antara keduanya. Riwayat tunggal dari perawi terpercaya dipertanyakan oleh mereka yang tidak menerimanya, sedangkan riwayat tunggal dari perawi lemah umumnya dianggap keliru. Karena alasan ini, lebih baik menggunakan istilah "penangguhan" (tawaqquf) daripada "penolakan" (radd), kecuali dalam kasus seseorang yang secara eksplisit menolak suatu riwayat, seperti al-Bardiji, yang redaksinya harus dipertahankan. Namun, mengenai posisi umum mazhab tersebut, istilah "penangguhan" lebih tepat.

Sabtu, Februari 07, 2026

luruskan barisan salat ke 4

 

Berdusta kepada orang tidak diperkenankan apalagi terhadap Rasul. Berekatakalah yang sungguh bila menyampaikan hadis, jangan di tambah atau di kurangi, ini Namanya I korupsi. jangan menyebarkan hadis hadis yang hakikatnya tidak sahih.

المسند الجامع (16/ 726)

 عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْمَقْبُرِيِّ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ:

(صَلَّى بِنَا رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَوْمًا، ثُمَّ انْصَرَفَ، فَقَالَ: يَا فُلاَنُ، أَلاَ تُحْسِنُ صَلاَتَكَ؟ أَلاَ يَنْظُرُ الْمُصَلِّي إِذَا صَلَّى كَيْفَ يُصَلِّي؟ فَإِنَّمَا يُصَلِّي لِنَفْسِهِ، إِنِّي وَاللهِ لأُبْصِرُ مَنْ وَرَائِي كَمَا أُبْصِرُ مَنْ بَيْنَ يَدَيَّ.) ".

Al-Musnad al-Jami’ (16/726)

 

Diriwayatkan oleh Abu Sa’id al-Maqburi, dari Abu Hurayrah, yang berkata:

 

(Suatu hari Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam memimpin kami shalat, kemudian beliau berpaling dan berkata: “Wahai fulan, tidakkah engkau melaksanakan shalatmu dengan benar? Tidakkah orang yang shalat memperhatikan bagaimana ia shalat ketika ia shalat? Karena ia hanya shalat untuk dirinya sendiri. Demi Allah, aku melihat apa yang ada di belakangku sejelas aku melihat apa yang ada di depanku.”)

Diriwayatkan oleh: Abu Hurairah • Al-Albani, Sahih al-Jami’ (7964) • Sahih • Diriwayatkan oleh Muslim (423) dengan sedikit variasi • Penjelasan hadits serupa

سعد  بن سعيد بن كيسان

 

اللقب : المقبري, ابن أبي سعيد

 

الرتبة : مقبول

 

لاسم: سعيد بن أبي سعيد (سعيد بن أبي سعيد: كيسان)

الكنية: أبو سعد، أبو عباد

النسب: المقبري, المدني، الليثي مولاهم

بلد الإقامة: المدينة

علاقات الراوي: أخوه عباد بن أبي سعيد المقبري، وابنه عبد الله

تاريخ الوفاة: 117 هـ أو 123 هـ، أو 125 هـ، أو 126 هـ، أو فى حدود سنة 120 هـ

بلد الوفاة: المدينة

طبقة رواة التقريب: الثالثة

Nama: Sa'id ibn Abi Sa'id (Sa'id ibn Abi Sa'id: Kaysan)

Kunya: Abu Sa'd, Abu 'Abbad

Julukan : Al-Maqbari, Al-Madani, Al-Laythi, orang merdeka mereka

Tempat Tinggal: Madinah

Hubungan Perawi: Saudaranya 'Abbad ibn Abi Sa'id al-Maqbari, dan putranya 'Abdullah

Tanggal Wafat: 117 H, 123 H, 125 H, 126 H, atau sekitar 120 H

Tempat Wafat: Madinah

Kelas Perawi dalam Al-Taqrib: Ketiga

Peringkat Ibn Hajar: Terpercaya, berubah ingatan empat tahun sebelum kematiannya, dan riwayatnya dari 'A'isha dan Umm Salama adalah mursal (riwayat dengan mata rantai yang hilang)

Peringkat Al-Dhahabi: Ahmad berkata: Tidak bahaya dengannya.

Komentarku ( Marus aki ):

 

Hanya seorang yang meriwayatkan hadis tsb yaitu Sa`ad sekitar tahun 120 H. Dan hanya orang itu yang tahu > penduduk Madinah lainnya tidak kenal. Walaupun orang madinah dan derajat kepercayaan riwayatnya paling rendah.apalagi sendirian.

الرتبة عند ابن حجر: ثقة، تغير قبل موته بأربع سنين، وروايته عن عائشة وأم سلمة مرسلة

الرتبة عند الذهبي: قال أحمد: ليس به بأس

Penilaian Ibn Hajar: ( Sa`ad )Dapat dipercaya, tetapi kondisinya ( Hapalannya )memburuk empat tahun sebelum kematiannya, dan riwayatnya dari Aisyah dan Umm Salama adalah mursal (riwayat dengan mata rantai transmisi yang hilang). Penilaian Al-Dhahabi: Ahmad berkata: Tidak ada yang salah dengannya.( Tidak apa apa ).

Komentarku (Marus ali ) ber arti beliau itu lemah

 

الراوي: أبو هريرة • الألباني، صحيح الجامع (٧٩٦٤) • صحيح • أخرجه مسلم (٤٢٣) باختلاف يسير • شرح حديث مشابه

Perawi :

 ؛؛حح: Abu Hurairah • Al-Albani, Sahih al-Jami' (7964) • Sahih • Diriwayatkan ole

 Muslim (423) dengan sedikit variasi • Penjelasan hadis serupa