Tampilkan postingan dengan label Kesyirikan diba`. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesyirikan diba`. Tampilkan semua postingan

Minggu, April 14, 2013

Sayyidul wujud untuk Rasul syirik atau tauhid




Kalimat sayyidil wujud untuk Rasulullah SAW  tidak terdapat dalilnya, ya`ni ia bid`ah sekali untuk memberi nama Rasulullah SAW dengan sayyidil wujud. Ia bukan tuntunan Rasulullah SAW, mungkin tuntunan Sufi dan orang – orang mistik atau sederajat Abu jahal.
Para sahabat, tabiin, dan ulama salaf tiada yang menamakan Rasulullah SAW dengan sayyidil wujud. Bahkan ulama ahli hadis seperti Bukhari, Muslim, Ibn Majah, Ahmad, Tirmidzi, Abu dawud dan seluruh penghuni kota hijrah dan ummul qura tidak pernah menamakan Rasulullah SAW dengan nama tsb.
  Ia barang baru bukan barang lama yang berdalil. Kok sampai hati menamakan Rasulullah SAW dengan nama seperti itu, mengapa sebelum menamai Rasulullah SAW dengan nama tsb tidak melihat terlebih dulu kepada kitab – kitab kuning yang berbahasa arab, apakah ada  kitab – kitab tsb yang menggunakan nama tsb dengan dalil yang sahih atau sekedar penamaan saja lalu diikuti tanpa dalil. Apakah tidak terdengar ayat Allah yang menyatakan;
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا(36)
Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak tahu dalilnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. Al Isra

Ayat tsb menjelaskan mengatakan sesuatu harus berdalil. Bila tidak, maka harus diam saja dan jangan  langsung menjelaskan. Dalam ayat lain Allah menyatakan:
قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ
Katakanlah: "Unjukkanlah bukti kebenaranmu, jika kamu memang orang-orang yang benar".[1]

 Ikutilah para sahabat yang dulu, jangan membuang prilaku para sahabat lalu mengambil teladan kepada tokoh – tokoh agama sekarang. Kita di tuntut mengikuti para sahabat sebagaimana dalam ayat;
وَالسَّابِقُوْنَ الأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللّهُ عَنْهُمْ وَرَضُواْ عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَداً ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
9.100. Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar. At-Taubah (9): 100
 Pengertian wujud itu termasuk Rasulullah SAW, para nabi yang lalu, seluruh malaikat, hewan dan gunung dll, begitu juga Allah juga wujud. Kalau Muhammad di namakan sayyidul wujud ber arti Allah dibawahnya dan Muhammad diatasNya. Ini yang membahayakan bukan membawa keselamatan.

As syamikh dari Al Jazair berkata:

لِأَنَّ سَيِّدَ الْوُجُودِ هُوَ اللهُ ، وَلَيْسَ إلّا هُوَ ، وَجَعْلُ الرَّسُولِ سَيِّدَ الْأَكْوَانِ أَوْ سَيِّدَ الْوُجُودِ شِرْكٌ بِاللهِ ، لِأَنَّ كَلِمَةَ ( الْوُجُودِ ) تَشْمَلُ وُجُودَ الْخَالِقِ وَالْمَخْلُوقِ جَمَادٌ وَنباتٌ وَحَيَوَانٌ وَقَوْلُهُمْ: مُحَمَّدُ سَيِّدُ الْوُجُودِ بِالْمَعْنَى اللُّغَوِيِّ مَعَنَاهُ هُوَ الْآمِرُ الَّذِي لَهُ السِّيادَةُ الْمُطْلَقَةُ عَلَى جَمِيعِ الْمَخْلُوقَاتِ ، لِأَنَّه سَيِّدُ الْوُجُودِ ، وَلَا يَخْفَى عَلَى الْإِنْسانِ مَا يَعْنِيهِ هَذَا اللَّفْظُ مِنْ الشِّرْكِ بِاللهِ ، إِذَا قَصْدِنَا بِهِ غَيْرَ اللَّهِ ، وَكَمَا وَجْدَنَا فِي أَقْوَالِ النَّصَارَى مِنْ يَدَّعِي كَوْنَ الْمَسِيحِ هُوَ أَوَّلَ مَوْجُودٍ ، وَمِنْه خَلْقُ الْوُجُودِ ، نَجِدُ هَذَا الْقوْلَ عِنْدَ مِنْ يَدَّعُونَ مَحَبَّةَ الرَّسُولِ ، وَمِنْ قَالَ بِهَذَا الْقوْلِ فَهُوَ مُشْرِكٌ بَيِّنُ الشِّرْكِ وَكُفْرٌ بِمَا أَنُزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ.
Sebab sayyidul wujudf adalah Allah, bukan lainNya. Lalu Rasulullah SAW dijadikan  sebagai sayyidul akwan atau sayyidul wujud adalah syirik kepada  Allah, sebab kalimat al wujud mencakup sang pencipta dan mahlukNya  - baik berupa  benda padat, tumbuhan dan hewab.
Perkataan mereka, muhammad  sayyidul wujud dengan ma`na bahasanya  adalah yang memerintah. Dia punya kekuasaan mutlak  kepada seluruh mahluk. Sebab dia adalah sayyidul wujud. Tidak samar lagi bagi manusia apa yang dikehendaki dengan kalimat itu mengandung kesyirikan kepada Allah. Bila kita maksudkan kalimat  tsb selain Allah. Sebagaimana kita jumpai dalam perkataan kaum kristiani orang yang menganggap bahwa Isa al masih adalah permulaan perkawa yang wujud, lalu dari padanya  segala benda di ciptakan. Kita jumpai  perkataan sedemikian ini  dikalangan orang yang mengaku cinta Rasulullah SAW. Barang siapa yang mengatakan  sedemikian ini maka termasuk musrik yang jelas dan kufur terhadap apa diturunkan oleh Allah kepada Muhammad.[2]




[1] Namel 64
[2] http://www.maqalaty.com

Kamis, Maret 07, 2013

يَارَبِّ وَارْضَ عَنِ الْمَشَايِخْ



يَارَبِّ وَارْضَ عَنِ الْمَشَايِخْ
Ya rabbi wardho anil masyayikh
Wahai Tuhan ku ridalah kepada  para  masyayikh.  

(Pengertian masyayikh )


Setelah kalimat sulalah  - keturunan Rasulullah   di sebut lalu di  sebut juga kalimat masyayikh  - ya`ni kalangan bangsa arab yang tidak dari golongan sayyid, habib atau  syarif.  Ini budaya  di kalangan mereka dan kedua golongan  itu  berbeda ajaran, akidah  dan ibadahnya, bukan sekarang saja  tapi  sejak dulu begitu  dan bertambah sangat luas dan  dalam  jurangnya   di akhir zaman ini.  Perbedaan ini mirip  dengan perbedaan antara kalangan Muhammadiyah dan NU di jawa .  Tambah bulan, tambah tahun, makin sulit di persatukan dan perbedaan semakin tajam dan bertambah banyak macam perbedaannya. Fanatisme kepada  dua golongan itu selalu  di landasi dengan dalil – dalil agama, akhirnya  tiada  golongan dan pengikutnya  yang mengaku bersalah.  Masing – masing golongan sejak dulu  hingga  kini  tetap mengaku paling benar.  Allah  berfirman:

مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ
yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.[1]
   Ini panggilan yang ada unsur ashabiyah – ya`ni  dari kalangan sayyid  yang awam biasanya mengganggap remeh terhadap  kalangan masyayikh, bahkan  di antara  para sayyid sendiri  saya sering dengar bangga – bangga  an tentang nasab.  Seggaf  di anggap lebih baik dari pada al idrus  dan  al idrus merasa lebih baik  dari pada mauladawilah.  Dan begitu juga seterusnya.  Suku  itu bisa  menjadi kebanggaan tersendiri bagi kalangan mereka. Terkadang hati saya geli kepada  olah mereka.  Apa gunanya menjelekkan suku orang lain, kalau  dia sendiri menderita, fakir miskin, munafik, dungu dan fasik? Bila dia sendiri jelek, lalu apa  gunanya  datuk dan kakek – kakek yang di junjung – junjung.  Kakeknya sendiri  bila  hidup tidak senang di perlakukan seperti itu.  
Masyayikh ada yang ber arti guru dan  ada dua .  Masyayikh ahli bidah dan masyayikh ahli hadis.  Untuk mendoakan  masyayikh ahli hadis silahkan  dan termasuk ayat:

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ  وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَاللهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوَاكُمْ

Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (Yang Haq) melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mu’min, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat tinggalmu.[2]

Untuk masyayikh yang ahli bid`ah, syirik, munafik atau fasik, maka  tidak boleh di doakan karena ada ayat:

مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ

Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat (nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu, adalah penghuni neraka Jahannam.( At taubah 113)  

Bila di doakan, tidak akan di terima oleh Allah sebagaimana ayat:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا

Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya. [3]


blog ke tiga
Peringatan: Mesin pencari diblog tidak berfungsi, pergilah ke google lalu tulislah:  mantan kiyai nu    lalu teks yang kamu cari
 




[1] Arrum 32
[2] Muhammad 19
[3] Annisa` 116

Senin, Juli 02, 2012

Dialog antara Nabi dan Halimah

Dialog antara Nabi dan Halimah
( Lokasi masa kacil Rasulullah   )  

وَكُلُّ مَنْ فِي اْلكَوْنِ مُتَشَوِّقٌ لِظُهُوْرِكَ *مُنْتَظِرٌ ِلاِشْرَافِ نُوْرِكَ *فَبَيْنَمَا الْحَبِيْبُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ* ‏مُنْصِتٌ لِسَمَاعِ تِلْكَ اْلاَشْبَاحِ *وَوَجْهُهُ مُتَهَلِّلٌ كَنُوْرِ الصَّبَاحِ* اِذْ اَقْبَلَتْ حَلِيْمَةُ مُعْلِنَةً بِالصِّيَاحِ* تَقُوْلُ ‏وَاغَرِيْبَاه* فَقَالَتِ الْمَلاَئِكَةُ يَا مُحَمَّدُ مَا اَنْتَ بِغَرِيْبٍ * بَلْ اَنْتَ مِنَ اللهِ قَرِيْبٌ * وَاَنْتَ لَهُ صَفِىٌّ وَحَبِيْبٌ ‏‏* فَقَالَتْ حَلِيْمَةُ وَاوَحِيْدَاه * فَقَالَتِ الْمَلاَئِكَةُ يَا مُحَمَّدُ مَا اَنْتَ بِوَحِيْد * بَلْ اَنْتَ صَاحِبُ التَّأْيِيْدِ* وَأَنِيْسُكَ ‏الْحَمِيْدُ الْمَجِيْدُ * وَإِخْوَانُكَ مِنَ الْمَلاَئِكَةِ وَاَهْلِ التَّوْحِيْدِ *قَالَتْ حَلِيْمَةُ وَايَتِيْمَاه * فَقَالَتْ الْمَلاَئِكَةُ ِللهِ دَرُّكَ ‏ِمنْ يَتِيْمٍ * فَإِنَّ قَدْرَكَ عِنْدَ اللهِ عَظِيْمٌ*‏
Seluruh orang di alam ini merindukan kedatanganmu, menantikan cahayamu memancar ?
Ketika  Rasulullah   mendengarkan hayalan – hayalan itu, wajah beliau cerah laksana cahaya pagi, tahu – tahu Halimah datang dengan berteriak, wahai anak ku yang terasing. Malaikat menjawab: Wahai Muhammad ! Engkau bukan terasing, bahkan Engkau dekat dengan Allah, dan Engkau orang pilihan dan kekasihnya.
Halimah berkata: Wahai anakku yang sendirian !
Malaikat menjawab: Wahai Muhammad ! Engkau tidak sendirian, bahkan  engkau orang yang mendapat dukungan dan temanmu adalah Allah yang Maha terpuji dan Maha agung dan teman- temanmu  dari kalangan malaikat yang bertauhid
Halimah berkata: Wahai anak Yatim
Malaikat berkata:
Malikat menjawab: Bagus sekali anda menjadi yatim, sesungguhnya  martabatmu di sisi Allah agung sekali.  

Komentarku ( Mahrus ali ):
Kisah tsb tiada dalilnya  dan ini sekedar apa yang terdapat dalam benak si pengarang Diba` lalu di tuangkan dalam karya tulisan lalu di baca orang banyak dan tidak ada  orang yang menganggapnya keliru lalu di kira asli sejarah Rasulullah   lalu di ajarkan kepada masarakat.  Jadinya  kekeliruan demi kekeliruan  terus bertambah tanpa  filter.
Kini tiba saatnya  untuk di katakan bahwa kisah  tersebut sekedar inspirasi dari si pengarang tanpa dalil, bukan realita sejarah. Jangan di percaya sama sekali tapi buang saja di tong sampah.
Pengarang menyatakan:
Halimah berkata: Wahai anakku yang sendirian !
Malaikat menjawab: Wahai Muhammad ! Engkau tidak sendirian, bahkan  engkau orang yang mendapat dukungan dan temanmu adalah Allah yang Maha terpuji dan Maha agung dan teman- temanmu  dari kalangan malaikat yang bertauhid
Komentarku:
Apakah seperti itu kekeliruan bertambah tanpa filter? Apakah tidak mengerti bahwa  Muhammad ketika kecil masih sesat, sudah tentu bukan malaikat yang membantunya dan Allah belum mengangkatnya menjadi kekasih, kembalilah kepada ayat:
وَكَذَلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِنْ أَمْرِنَا مَا كُنْتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلَا الْإِيمَانُ وَلَكِنْ جَعَلْنَاهُ نُورًا نَهْدِي بِهِ مَنْ نَشَاءُ مِنْ عِبَادِنَا وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ
Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu  dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al Qur’an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Qur’an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.[1]

  Muhammad waktu kecil tidak mengerti tauhid dan Iman, tidak mengerti ajaran al Quran. Sudah tentu, masih sesat.  
Pengarang diba  berkata lagi:
Ketika  Rasulullah   mendengarkan hayalan – hayalan itu, wajah beliau cerah laksana cahaya pagi, tahu – tahu Halimah datang dengan berteriak, wahai anak ku yang terasing. Malaikat menjawab: Wahai Muhammad ! Engkau bukan terasing, bahkan Engkau dekat dengan Allah, dan Engkau orang pilihan dan kekasihnya.
Komentarku:
Itu keliru sekali dan tidak benar sedikitpun. Ketika Rasulullah   belum mendapatkan wahyu, masih sesat, belum tahu jalan lurus  dan  tidak  menjadi kekasih allah. Bahkan para  sahabat, asalnya  juga bermusuhan, kafir, sesat, lalu mengikuti al Quran dan mendapat hidayah  sebagaimana  ayat:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ ءَايَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ(103)
Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan ni`mat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena ni`mat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.[2]

 
Tugu Hudaibiyah – dan di daerah ini tempat tinggal Banu Sa`ad yaitu suku Halimah Assa`diyah,  daerah ini masa kecil Rasulullah .  Ia di luar tanah haram. Antara Mekkah dan Hudaibiyah sekitar 169 Km.  Ia terletak di utara Mekkah.   Di daerah ini pula pernah terjadi perdamaian antara komunitas Kafir Quraisy dan kaum muslimin  dan terjadi juga  baiat Ridwan sebagaimana ayat:

لَقَدْ رَضِيَ اللهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا
Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mu'min ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dengan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya).[1]
Damai antara kaum musrikin dan kaum muslim juga di jelaskan dalam hadis sbb:
عَنِ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: كَتَبَ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ الصُّلْحَ بَيْنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَبَيْنَ الْمُشْرِكِينَ يَوْمَ الْحُدَيْبِيَةِ فَكَتَبَ هَذَا مَا كَاتَبَ عَلَيْهِ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ فَقَالُوا لاَ تَكْتُبْ رَسُولُ اللَّهِ فَلَوْ نَعْلَمُ أَنَّكَ رَسُولُ اللَّهِ لَمْ نُقَاتِلْكَ فَقَالَ النَّبِيُّ لِعَلِيٍّ امْحُهُ فَقَالَ مَا أَنَا بِالَّذِي أَمْحَاهُ فَمَحَاهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِيَدِهِ قَالَ وَكَانَ فِيمَا اشْتَرَطُوا أَنْ يَدْخُلُوا مَكَّةَ فَيُقِيمُوا بِهَا ثَلاَثًا وَلاَ يَدْخُلُهَا بِسِلاَحٍ إِلاَّ جُلُبَّانَ السِّلَاحِ قُلْتُ لِأَبِي إِسْحَقَ وَمَا جُلُبَّانُ السِّلَاحِ قَالَ الْقِرَابُ وَمَا فِيهِ * 
Dri al-Bara' bin Azib r.a katanya: “ Ali bin Abu Talib penulis isi naskhah perdamaian antara Nabi saw dengan orang-orang Musyrikin pada hari perjanjian Hudaibiah, Ali menulis: Inilah yang dijanjikan oleh Muhammad utusan Allah. Orang-orang musyrik membantah: Jangan kamu tulis kalimah utusan Allah. Kalau kami sudah  yakin bahwa beliau (baginda) adalah utusan Allah, maka kami tidak perlu memusuhinya.
Ali menjawab: “Tidak”.
 Baginda bersabda kepada Ali: “Hapuslah kalimat itu”.
 Ali menjawab: “Tidak! Aku tidak mau menghapusnya”.
 Nabi saw menghapusnya sendiri. Salah satu syarat yang diajukan oleh orang-orang Quraisy di dalam perjanjian tersebut ialah: Nabi  saw  dan para  sahabat  hanya boleh memasuki dan tinggal di kota Mekah selama tiga hari dan tidak dibenarkan membawa senjata kecuali bersarung. Aku bertanya kepada Abu Ishak Apakah yang dimaksudkan dengan bersarung? Lalu beliau menjawab: “Senjata dan sarungnya”[2]

   Tampak tembok masjid lama  dan juga ada masjid baru di Hudaibiyah – lokasi Nabi   waktu kecilnya  bersama Halimah Sa`diyah.  

[1] Al Fateh 18
[2] Muttafaq alaih, Bukhori  1713


[1]  Assyura 52
[2] Ali imran 103