Tampilkan postingan dengan label Khilafah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Khilafah. Tampilkan semua postingan

Minggu, Januari 14, 2018

Air kencing unta tetap Najis tidak boleh diminum

Maaf tema extra untuk menjawab masalah yg sdh viral tentang air kencing Unta.
Muhammad Abduh Tuasikal (Rumaysho.Com) menulis sbb:


عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَدِمَ أُنَاسٌ مِنْ عُكْلٍ أَوْ عُرَيْنَةَ فَاجْتَوَوْا الْمَدِينَةَ فَأَمَرَهُمْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِلِقَاحٍ وَأَنْ يَشْرَبُوا مِنْ أَبْوَالِهَا وَأَلْبَانِهَا فَانْطَلَقُوا فَلَمَّا صَحُّوا قَتَلُوا رَاعِيَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاسْتَاقُوا النَّعَمَ فَجَاءَ الْخَبَرُ فِي أَوَّلِ النَّهَارِ فَبَعَثَ فِي آثَارِهِمْ فَلَمَّا ارْتَفَعَ النَّهَارُ جِيءَ بِهِمْ فَأَمَرَ فَقَطَعَ أَيْدِيَهُمْ وَأَرْجُلَهُمْ وَسُمِرَتْ أَعْيُنُهُمْ وَأُلْقُوا فِي الْحَرَّةِ يَسْتَسْقُونَ فَلَا يُسْقَوْنَ
Dari Anas bin Malik berkata, “Beberapa orang dari ‘Ukl atau ‘Urainah datang ke Madinah, namun mereka tidak tahan dengan iklim Madinah hingga mereka pun sakit. Beliau lalu memerintahkan mereka untuk mendatangi unta dan meminum air kencing dan susunya. Maka mereka pun berangkat menuju kandang unta (zakat), ketika telah sembuh, mereka membunuh pengembala unta Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan membawa unta-untanya. Kemudian berita itu pun sampai kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjelang siang. Maka beliau mengutus rombongan untuk mengikuti jejak mereka, ketika matahari telah tinggi, utusan beliau datang dengan membawa mereka. Beliau lalu memerintahkan agar mereka dihukum, maka tangan dan kaki mereka dipotong, mata mereka dicongkel, lalu mereka dibuang ke pada pasir yang panas. Mereka minta minum namun tidak diberi.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadist di atas menunjukan bahwa air kencing unta tidak najis, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan ‘Urayinin yang terkena sakit untuk berobat dengan meminum air susu dan air kencing unta. Beliau tidak akan menyuruh untuk meminum sesuatu yang najis. Adapun air kencing hewan-hewan lain yang boleh dimakan juga tidak najis dengan mengqiyaskan (menganalogikan) pada air kencing unta. Inilah yang jadi pendapat Imam Malik, Imam Ahmad, sekelompok ulama salaf, sebagian ulama Syafi’iyah, Ibnu Khuzaimah, Ibnul Mundzir, Ibnu Hibban. Sedangkan Imam Syafi’i dan jumhur menyatakan najisnya kencing dan kotoran setiap hewan yang haram dimakan. Ibnu Hajar sendiri lebih cenderung pada pendapat yang menyatakan najis. Lihat Fathul Bari, 1: 338-339.

Sumber : https://rumaysho.com/3721-hukum-berobat-dengan-minum-air-kencing.html

Komentarku ( Mahrus ali ) :
  Hadis ttg minum air kencing  Unta ada dua riwayat yg berbeda  sbb :
1.         Spt hadis  di atas yg menyebutkan sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam  : Minumlah air susu Unta dan air kencingnya .
2.         Riwayat di bawah ini dimana Rasulullah shallallahu alaihi wasallam   bersabda: “
3.         Minumlah air susu Unta tanpa  menyuruh minum air kencingnya . Lihat  riwayat Bukhari sbb:
جامع الأصول (3/ 608)
-           (خ) سلام بن مسكين -رحمه الله- عن ثابت البُناني «أنَّ أنَساً قال: إنَّ ناساً كان بهم سُقْمٌ، فقالوا: يا رسولَ الله، آونَا وأطْعِمْنَا، [ص:609] فَلَمَّا صَحُّوا قالوا: إنَّ المدينةَ وَخْمةٌ، فأنْزَلهمْ الحَرَّةَ في ذودٍ لهم (1) فقال: اشْرَبوا مِنْ ألبَانها، فلما صَحُّوا قَتَلُوا راعيَ رسولِ الله -صلى الله عليه وسلم-
“ ,……………………, intinya : Rasulullah shallallahu alaihi wasallam   bersabda : Minumlah air susunya “. ( tanpa menyebut minumlah air kencing Unta ).
-           جامع الأصول (7/ 260)
-           أخرجه أبو داود، وقال: «أبْوَالُها» ليس بصحيح في هذا الحديث، قال: [ص:261] وليس في أبوالها إلا حديث أنس، تفرَّدَ به أهلُ البصرة.
Intinya : Abu Dawud menyatakan :  “ Minumlah air kencingnya “  tdk sahih  dlm hadis ini. Beliau jg menyatakan : Tambahan  “ Dan air kencingnya “ itu  hanya riwayat Anas dan penduduk Basrah yg meriwayatkannya scr sendirian >
Komentarku ( Mahrus ali ) :
Penduduk Basrah scr sendirian  yg meriwayatkan hadis “ Minumlah air kencing Unta “ sbg tanda   kelemahan .
Jadi air kencing unta tetap Najis  tdk boleh dimunm 
Ada hadis  lag :
مشكاة المصابيح (1/ 229)
 -[51] وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «صَلُّوا فِي مَرَابِضِ [ص:230] الْغَنَمِ وَلَا تُصَلُّوا فِي أَعْطَانِ الْإِبِلِ» . رَوَاهُ التِّرْمِذِيّ
Intinya : Rasulullah shallallahu alaihi wasallam   bersabda: Salatlah di kandang  Kambing dan jangan salat di tempat Unta menderum .  HR Tirmizi .
التنوير شرح الجامع الصغير (5/ 108)
(1)        أخرجه ابن ماجه (497)، وانظر مصباح الزجاجة (1/ 72)، وضعفه الألباني في ضعيف الجامع (2496).
Hadis tsb dilemahkan oleh al albani .
التنوير شرح الجامع الصغير (5/ 108)
قال أبو حاتم: كنت أنكر هذا الحديث لتفرده حتى وجدت له أصلاً لكنه موقوف أصح.
Intinya : Abu Hatim ingkar hadis itu karena tafarrud.   Ia adalah mauquf dan ini lebih tepat.

(1)        فيض الباري على صحيح البخاري (1/ 428)
(2)        لأنَّ ابن حَزْم لمَّا مرَّ على حديث: «صلُّوا في مَرَابِض الغنم، ذهب إلى أنَّه منسوخٌ، والناسخ: ما وَرَدَ في تطييب المساجد، وهذا يُشْعِرُ بنجاسة أزبالها عنده
Intinya : Ibn Hazem menyatakan : Perintah salat di kandang Kambing itu mansukh ( sdh  di hapus , tdk berlaku lagi ) , karena ada perintah mengharumkan masjid.
Komentarku ( Mahrus ali ) :
Perintah salat  di kandang Kambing  sudah tentu ada air kencing dan tahinya. Bila tdk di mansukh , mk akan bertentangan dg hadis :

Abu Said   Al Khudri  ra berkata :
بَيْنَمَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي بِأَصْحَابِهِ إِذْ خَلَعَ نَعْلَيْهِ فَوَضَعَهُمَا عَنْ يَسَارِهِ فَلَمَّا رَأَى ذَلِكَ الْقَوْمُ أَلْقَوْا نِعَالَهُمْ فَلَمَّا قَضَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى الله عليه وَسَلَّمَ صَلَاتَهُ قَالَ مَا حَمَلَكُمْ عَلَى إِلْقَاءِ نِعَالِكُمْ قَالُوا رَأَيْنَاكَ أَلْقَيْتَ نَعْلَيْكَ فَأَلْقَيْنَا نِعَالَنَا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى الله عليه وَسَلَّمَ إِنَّ جِبْرِيلَ صَلَّى الله عليه وَسَلَّمَ أَتَانِي فَأَخْبَرَنِي أَنَّ فِيهِمَا قَذَرًا أَوْ قَالَ أَذًى وَقَالَ إِذَا جَاءَ أَحَدُكُمْ إِلَى الْمَسْجِدِ فَلْيَنْظُرْ فَإِنْ رَأَى فِي نَعْلَيْهِ قَذَرًا أَوْ أَذًى فَلْيَمْسَحْهُ وَلْيُصَلِّ فِيهِمَا
Suatu saat, Rasulullah saw menjalankan salat jamaah, lalu melepaskan kedua sandalnya dan diletakkan di sebelah kiri. Ketika  pengikut Jamaah  melihatnya ,mereka turut melemparkan sandalnya. Ketika menyelesaikan salat, beliau  bersabda :” Mengapa kamu lemparkan sandalmu ?”.
Mereka menjawab : Kami lihat anda melemparkan sandal, kami mengikutimu  “.
Beliau  bersabda: “ Sesungguhnya Jibril datang kepadaku  dengan memberitahu bahwa ada kotoran di  kedua sandal.  “.
  Rasulullah  saw  bersabda :” Bila seseorang dantaramu  datang ke masjid, lihatlah. Bila melihat kotoran di kedua sandalnya,usapkan, lalu lakukan salat dengannya “.    Hadis sahih
Komentarku ( Mahrus ali ) :
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam   melempar sandalnya karena sandalnya kotor . ( ada tahi atau air kencing atau lainnya ).
Imam  Qurthubi berkata :
وَلمَ ْيخَتَلِفِ الْعُلَمَاءُ فِي جَوَازِ الصَّلاَةِ فِي النَّعْلِ إِذَا كَانَتْ طَاهِرَةً حَتَّى لَقَدْ قَالَ بَعْضُ الْعُلَمَاءِ إِنَّ الصَّلاَةَ فِيْهِمَا أَفْضَلُ وَهُوَ مَعْنَى قَوْلِهِ تَعَالَى خُذُوا زِيْنَتَكُمْ ثم كل مسجد على ما تقدم
Tiada hilaf diantara ulama untuk memperkenankan  menjalankan salat dengan sandal  yang suci . Sebagian  ulama berkata : Bahkan lebih utama melakukan salat dengan dua sandal  . Itulah maksud ayat  :  Gunakan pakaianmu ketika masuk masjid “. ( ketika akan salat “. 

-           التلخيص الحبير ط العلمية (1/ 196)
-           فَرَوَاهَا الدَّارَقُطْنِيُّ مِنْ حَدِيثِ جَابِرٍ 1 بِلَفْظِ "مَا أُكِلَ لَحْمُهُ فَلَا بَأْسَ بِبَوْلِهِ"
Daroqthni meriwayatkan  dari hadis Jabir  dg redaksi “ Hewan yg bisa di mkn dagingnya , mk boleh diminum air kencingnya “  ( Sangat lemah ) 
1 وَمِنْ حَدِيثِ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ 2 "لَا بَأْسَ بِبَوْلِ مَا أُكِلَ لَحْمُهُ" 2 وَإِسْنَادُ كُلٍّ مِنْهُمَا ضَعِيفٌ جِدًّا.
Dari hadis Al Bara` bin Azib “ Boleh minum air kencing  hewan yg bisa di makan dagingnya “. ( Sangat lemah ) .
Cari ilmu agama dg sistim dialog yg ilmiyah ttg buka ketika adzan Maghrib membatalkan puasa   dg penuh persaudaraan di dua grup WA sy . 
Mau ikut , hub 08813270751.082225929198 ,081384008118,0 857-8715-4455 
0812-4194-6733



Selasa, Maret 03, 2015

Hadis tentang khilafah ala minhaj Nubuwah di akhir zaman munkar dan Syadz.




 Hadis tentang  adanya “ Khilafah ala minhaj Nubuwah  di akhir zaman adalah dusta, bukan sungguhan, munkar dan syadz , tidak populer dikalangan tabiin apa lagi para  sahabat karena seorang perawi Habib bin Salim yang tafarrud dalam meriwayatkan hadis ini:

قال البخاري : حبيب بن سالم مولى النعمان بن بشير الأنصاري، وهو كاتب النعمان فيه نظر، وضعفه العقيلي
Bukari berkata: Habib bin Salim – maula Nu`man bin Basyir al anshari – penuis Nu`man masih perlu di pertimbangkan lagi. Al Uqaili menyatakan lemah.

اصطلاحات الإمام البخاري رحمه الله . معنى قوله : ( في حديثه نظر ) .
قال المحدث الألباني في ( الضعيفة ) تحت حديث رقم ( 5986 ) :
(
وهذا إسناد ضعيف جِدًّا ؛ عمرو بن عطية هذا ؛ روى العقيلي في
"
الضعفاء " عن البخاري أنه قال :
"
في حديثه نظر " .
وهذا كناية عن أنه شديد الضعف عنده . )
Istilah Imam Bukhari rahimahullah tentang pengertian perkataannya “ Hadisnya masih perlu di pertimbangkan “
Al Muhaddits al albani  dalam al dhoifah  di bawah hadis nomer 5986 :
Ini sanad yang paling lemah. Amar bin Athiyah ini , Imam Al Uqaili meriwayatkan  dalam kitab al Dhu`afa` dari Bukhari  bahwa beliau berkata  :
" في حديثه نظر "
Hadisnya masih perlu di pertimbangkan”

Ini sindiran halus  bahwa hadis tsb sangat lemah menurut beliau.

Komentarku ( Mahrus ali ):
Perkataan Imam Bukhari tentang Habib bin Salim  juga sama : “
قال البخاري : حبيب بن سالم مولى النعمان بن بشير الأنصاري، وهو كاتب النعمان فيه نظر، وضعفه العقيلي
Bukhari berkata: Habib bin Salim – maula Nu`man bin Basyir al anshari – penuis Nu`man masih perlu di pertimbangkan lagi. Al Uqaili menyatakan lemah.
Dan Imam Al bani menyatakan : Perkataan Imam Bukhari sedemikian ini sebagai tanda bahwa  hadis itu bersanad lemah sekali. ( Bukan saya – Mahrus ali ). Al Bani yang menurut anda mensahihkan , juga melemahkan disini karena perkataan Imam Bukhari: “Hadisnya masih perlu dipertimbangkan “
، قال الحافظ ابن كثير في " اختصار علوم الحديث " ( ص 118 تحقيق الشيخ أحمد شاكر رحمه الله ) : " إذ قال البخاري في الرجل : " سكتوا عنه " ، أو " فيه نظر " ، فإنه يكون في أدنى المنازل وأردئها عنده ، ولكنه لطيف العبارة في التجريح ، فليعلم ذلك
Al Hafidh Ibn katsir  dalam kitab :” Ikhtshar ulumil hadis  hal 118 tahkik Syaikh Ahmad Syakir rahimahullah .
Bila Bukhari menyatakan :
سكتوا عنه " ، أو " فيه نظر "
Ulama  tidak memberikan komentar kepadanya  atau masih perlu dipertimbangkan”
Kalimat tsb menunjukkan  bahwa perawi tersebut termasuk berderajat paling rendah menurut beliau. Tapi karena beliau lembut  dalam bertutur kata dalam masalah tajrih . Hendaklah masalah itu diketahui .
Komentarku ( Mahrus ali ):
Hadis kembalinya khilafah ala manhaj nubuwah di rwayatkan oleh Habib bin Salim yang di katakan oleh Imam Bukhari “ Masih perlu dipertimbangkan”  Ia derajatnya paling rendah. Jadi menurut Bukhari tidak termasuk hadis yang sahih. Apalagi sudah dilemahkan oleh Imam al Uqaili seperti itu. Maksud masih dipertimbangkan Bukhari masih meragukan identitasnya.
Menurut saya : Hal yang perlu di pertimbangka lagi adalah mengapa murid selain Habib tidak meriwayatkannya.   
Bila  hadis “ Khilafah ala minhajin nubuwah “  di hasankan oleh al arnauth atau al albani , hakikatnya adalah di lemahkan oleh al Uqaili dan Imam Bukhari sendiri  menyatakan “ Dia perlu dipertimbangkan “ . Karena itu, jangan langsung diterima, apalagi di sahihkan. Imam Bukhari sendiri tidak berani menyatakan sahih.  Albani  sendiri  juga pernah menyatakan sangat lemah karena ada perawi yang dikatakan oleh Bukhari “ Perlu dipertimbangkan”.  
Memang benar apa yang dinyatakan oleh Bukhari, tidak salah. Sebab, murid Nu`man bin Basyir  sebagai teman seperguruan Habib  bin Salim  adalah banyak sekali, bahkan puluhan . Tapi selain Habin bin Salim tidak ada yang merwayatkan  “ Khilafah  ala minhajin nubuwah di akhir  zaman itu “. Apakah mereka  tidak tahu semuanya. Ataukah Nu`man bin Basyir tidak pernah meriwayatkan hal itu. Atau kalimat tsb hanya sekedar tambahan perawi. Dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tidak pernah menyatakan seperti itu.
Karena itu, Imam Bukhari, Muslim , Nasai, Ibn Majah dan Imam Malik sendiri  tidak mencantumkan hadis tsb didalam kitab Muwattha`nya. Atau ada kemungkinan Imam Malik – sebagai tokoh ulama Medinah tidak mengerti hadis itu.  Atau mengerti, tapi tidak dicantumkan  dalam kitab Muwattha`nya karena masih di ragukan kevalidannya. Masih banyak alternatifnya. Dan
Ini Murid Nu`man bin Basyir sbb:

أزهر بن عبد الله الحرازى الحمصى ( د س )
حبيب بن سالم ( مولاه و كاتبه ) ( م د ت س ق )
حبيب بن يساف ( س ) ( على خلاف فيه )
الحسن البصرى ( س )
أبو القاسم حسين بن الحارث الجدلى ( د )
حميد بن عبد الرحمن بن عوف ( خ م ت س ق )
خيثمة بن عبد الرحمن الجعفى ( م )
سالم بن أبى الجعد الغطفانى ( خ م )
سماك بن حرب ( م د ت س ق )
عامر الشعبى ( خ م د ت س ق )
عبد الله بن عتبة بن مسعود ( ق ) ( على شك فى ذلك )
عبد الرحمن بن عرق الحمصى ( ق )
عبيد الله بن عبد الله بن عتبة بن مسعود ( م د س ق )
عروة بن الزبير بن العوام ( م د س )
أبو ميسرة عمرو بن شرحبيل
العيزار بن حريث العبدى ( د س )
مالك بن أدى بن زياد الأشجعى الحمصى
محمد بن النعمان بن بشير ( ابنه ) ( خ م ت س ق )
أبو الضحى مسلم بن صبيح الكوفى ( س )
المفضل بن المهلب بن أبى صفرة الأزدى ( د س )
أبو طلحة نعيم بن زياد الأنمارى ( ف س )
الهيثم بن مالك الطائى ( بخ )
يسيع الحضرمى ( بخ د ت س ق )
أبو إسحاق السبيعى ( خ م ت )
أبو الأشعث الصنعانى ( ت سى )
أبو سلام الأسود ( م )
أبو صالح الحارثى ( سى )
أبو عازب ( ق )
أبو قلابة الجرمى ( د س ق )
Lihat di Mausuah ruwatil hadis 7152.
Jadi hadis” Kihlafah ala minhaj Nubuwah di akhir zaman  itu” tafarrud redaksinya  juga sanadnya Dan hanya Habib yang meriwayatkannya. .
Bila  anda menyatakan:
Habib bin Salim ini riwayatnya bisa diterima. Imam at-Tirmizi mengakuinya sebagai orang yg banyak meriwayatkan hadits dari Nu'man bin Basyir. Salah satu hadits yg perawinya Habib bin Salim dan dinilai Hasan Shahih oleh Abu Isa, dan dinilai Shahih oleh Syaikh al-Albani adalah hadits mengenai bacaan surat ketika dua hari raya dan shalat jum'at dalam Shahih Sunan Tirmidzi no.533.

Komentarku ( Mahrus ali ):
Habib bin Salim pernah meriwayatkan dalam sunan Tirmidzi lalu dikatakan hadisnya  hasan sahih  karena tidak tafarrud. Beda kasusnya dalam hadis  “ Akhir zaman ada khilafah ala minhaj Nubuwah itu “ . Di sini terdapat tafarrud yaitu hanya Habib bin Salim yang meriwayatkannya, tidak ada orang lain. Beliau adalah Tabiin pertengahan tingkat tiga. Imam Bukhari tidak berani mencantumkan dia dalam kitab sahihnya. Beliau tidak mengangkatnya sebagai perawinya dalam kitab sahihnya.
Bahkan Imam Suyuthi menyatakan lemah  pada hadis “ Khilafah aa minhaj Nubuwah di akhir zaman  itu “
جامع المسانيد والسنن (2/ 399)
(2) قال السيوطي: أخرجه الطبراني وأحمد البزار والروياني، ورمز له بالضعف. جمع الجوامع: 2/1191،
Imam Suyuthi berkata: Ia diriwayatkan oleh Thabrani, Ahmad, Al Bazzar dan al ruyani , lalu diberi tanda lemah . Jam ul jawami`  1191/2 .
Perawi bernama Habib bin Salim sendiri menyatakan bahwa :
إِنِّي لَأَرْجُوَ أَنْ يَكُونَ أَمِيرُ الْمُؤْمِنِينَ - يَعْنِي عُمَرَ - بَعْدَ الْمُلْكِ الْعَاضِّ وَالْجَبْرِيَّةِ فَأَدْخَلَ كِتَابِي عَلَى عُمَرَ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ فَسُّرَ بِهِ وَأَعْجَبَهُ.
Sesungguhnya aku berharap amirul mukminin  - Umar ( bin  Abd Aziz )  setelah raja yang menggigit  ( zalim ) dan otoriter  atau diktator. Lalu beliau memasukkan tulisanku  kepada Umar bin Abd Aziz, lalu beliau bergembira dan kagum padanya.
Komentarku ( Mahrus ali ):
Ada menyataka bahwa “ Khilafah ala minhaj Nubuwah “  di akhir zaman , Pada hal, perawinya sendiri menyatakan  khalifah tsb adalah Umar bin Abd Aziz yang lalu  - yaitu dari kalangan raja – raja Banu Umayyah. Bukan di akhir zaman sekarang atau nanti yang masih ditunggu.
Al bani sendiri juga tidak menyetujui hal itu, karena terlalu dekat dengan khilafah rasyidah. Disini sudah terdapat kontradiksi pemahaman  antara perawinya sendiri dan bukan perawinya yaitu Al bani.
Saya sendiri tidak perduli kontradiksi pemahaman itu, sebab hadisnya tentang  “khilafah ala  minhaj nubuwah di akhir zaman “ adalah munkar, syadz  bukan hadis yang populer , baik di kalangan tabiin apalagi dikalangan sahabat.
Ia harus dibuang, tidak perlu diambil lagi, tidak perlu disebarluaskan kecuali  diterangkan syadznya dan munkarnya.

أبو صاعد الفضلي
. وأن هذه الكلمة التي في آخر الحديث "ثم تكون خلافة على منهاج النبوة" هي مما يجب أن يُتوقف فيه، بسبب الشك في معرفة حال أحد رواة السند وتفرده بها. والله أعلم.
Abu Shoid al fadhli menyatakan: Sesungguhnya  kalimat ini di akhir hadis : “ Lantas khilafah ala minhaj nubuwah “ harus di hentikan  dulu ( masih di ragukan )  sebab adanya keraguan tentang kondisi  salah satu perawi sanadnya. Dan dia juga tafarrud .
http://www.ahlalhdeeth.com/vb/archive/index.php/t-155508.html
محمد السالم
 
ورد في عودة الخلافة بعض الأحاديث ، أشهرها حديث حذيفة رضي الله عنه ، وحاصل الكلام على هذه الرواية أنها على أحسن الأحوال شاذة، أو منكرة
Muhammad Salim berkata:
Dalam sebagian hadis terdapat keterangan tentang  kembalinya khilafah. Paling populer adalah hadis  Hudzaifah  ra . Perkataan terahir dalam riwayat ini bahwa paling baik baginya adalah  syadz dan munkar.
قال الحافظ الدارقطني : تفرد به أبو داود الطيالسي عن داود بن إبراهيم الواسطي عن حبيب بن سالم عن النعمان.
Al hafidh Daroquthni berkata:  Abu Dawud Thoyalisi  meriwayatkan secara sendirian   dari Dawud bin Ibrahim al wasithi  dari Habib bin Salim dari al Nu`man.
- كراهية المتقدمين لرواية الغريب:
كان المتقدمون من علماء الحديث يكرهون رواية الغرائب وما تفرد به الرواة، ويعدونه من شَرِّ الحديث، كما قال الإمام مالك رحمه الله: "شَرُّ العلم الغريبُ، وخيرُ العلم الظاهرُ الذي قد رواه الناس" 1،
 
Hukum hanya seorang perawi yang meriwayatkan hadis.( tafarrud )
1. Ulama hadis dahulu tidak suka atau benci terhadap riwayat gharib ( nyeleneh )
Ulama hadis dahulu benci terhadap terhadap riwayat – riwayat yang gharib ( nyeleneh ) dan hadis yang di riwayatkan oleh seorang perawi , lalu di anggap sebagai hadis yang terjelek sebagaimana di katakan oleh Imam Malik rahimahullah: Ilmu terjelek adalah yang gharib dan ilmu yang terbaik adalah yang tampak yang di riwayatkan oleh manusia. ( banyak ).
 
      DR Abu Lubabah At thahir Shalih Husain kepala bagian dirosah Islamiyah  di Emirat menyatakan :
وَإِطْلاَقُ الْحُكْمِ عَلَى التَّفَرُّدِ بِالرَّدِّ وَالنَّكَارَةِ أَوِ الشُّذُوْذِ مَوْجُوْدٌ فِي كَلاَمِ كَثِيْرٍ مِنْ أَهْلِ الْحَدِيْثِ
 Mengghukumi perawi yang secara sendirian meriwayatkan agar riwayatnya  tertolak , dikatakan mungkar , syadz memang ada dlm perkataan kebanyakan ahli hadis . Ulumul hadis 12/1

Kesimpulan:
1.Bila Bukhari menyatakan :
سكتوا عنه " ، أو " فيه نظر "
Ulama  tidak memberikan komentar kepadanya  atau masih perlu dipertimbangkan”
Kalimat tsb menunjukkan  bahwa perawi tersebut termasuk berderajat paling rendah menurut beliau. Tapi karena beliau lembut  dalam bertutur kata dalam masalah tajrih . Hendaklah masalah itu diketahui .
2.Bila  hadis “ Khilafah ala minhajin nubuwah “  di hasankan oleh al arnauth atau al albani , hakikatnya adalah di lemahkan oleh al Uqaili dan Imam Bukhari sendiri  menyatakan “ Dia perlu dipertimbangkan “ . Karena itu, jangan langsung diterima, apalagi di sahihkan. Imam Bukhari sendiri tidak berani menyatakan sahih.  Albani  sendiri  juga pernah menyatakan sangat lemah karena ada perawi yang dikatakan oleh Bukhari “ Perlu dipertimbangkan”.
3.Imam Bukhari, Muslim , Nasai, Ibn Majah dan Imam Malik sendiri  tidak mencantumkan hadis tsb didalam kitab Muwattha`nya. Atau ada kemungkinan Imam Malik – sebagai tokoh ulama Medinah tidak mengerti hadis itu.  Atau mengerti, tapi tidak dicantumkan  dalam kitab Muwattha`nya karena masih di ragukan kevalidannya. Masih banyak alternatifnya.

Senin, April 18, 2011

Hadis tentang khilafah Islamiyah di akhir zaman

Di tulis oleh H Mahrus ali 

Rasulullah   bersabda :

 تَكُونُ النُّبُوَّةُ فِيكُمْ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلاَفَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ اللهُ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا عَاضًّا فَيَكُونُ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ يَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا جَبْرِيَّةً فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلاَفَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ

“(1) Babak Kenabian akan berlangsung di tengah kalian selama masa yang Allah kehendaki kemudian Allah mencabutnya jika Allah menghendaki untuk mencabutnya.
(2) Kemudian babak keKhalifahan yang mengikuti pola (manhaj) Kenabian berlangsung di tengah kalian selama masa yang Allah kehendaki kemudian Allah mencabutnya jika Allah menghendaki untuk mencabutnya.
(3) Kemudian babak Raja-raja yang menggigit berlangsung di tengah kalian selama masa yang Allah kehendaki kemudian Allah mencabutnya jika Allah menghendaki untuk mencabutnya.
(4) Kemudian babak Raja-raja yang memaksakan kehendak(para diktator) berlangsung di tengah kalian selama masa yang Allah kehendaki kemudian Allah mencabutnya jika Allah menghendaki untuk mencabutnya.
(5) Kemudian babak keKhalifahan yang mengikuti pola (manhaj) Kenabian kemudian Nabi diam.” (HR Ahmad 17680)

ثُمَّ سَكَتَ قَالَ حَبِيبٌ فَلَمَّا قَامَ عُمَرُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ وَكَانَ يَزِيدُ بْنُ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ فِي صَحَابَتِهِ فَكَتَبْتُ إِلَيْهِ بِهَذَا الْحَدِيثِ أُذَكِّرُهُ إِيَّاهُ فَقُلْتُ لَهُ إِنِّي أَرْجُو أَنْ يَكُونَ أَمِيرُ الْمُؤْمِنِينَ يَعْنِي عُمَرَ بَعْدَ الْمُلْكِ الْعَاضِّ وَالْجَبْرِيَّةِ فَأُدْخِلَ كِتَابِي عَلَى عُمَرَ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ فَسُرَّ بِهِ وَأَعْجَبَهُ
Lantas Rasulullah   diam ,
Habib berkata : Ketika Umar bin  Abd Aziz menjadi raja  dan Yazid bin Nu`man bin Basyir menjadi temannya , maka aku menulis surat kepadanya    dengan hadis ini , aku ingatkan  dia dengannya . Aku katakan kepadanya  :" Sesungguhnya  aku berharap  agar amirul mukminin  ya`ni Umar  setelah raja  yang ganas dan menganiaya rakyat / dektator" .
Surat ku ini di masukkan ke ruangan Umar bin  Abd aziz , lalu  beliau pun merasa  gembira  dan tertarik padanya . [1]HR Ahmad .

Menurut al albani hadis tsb hasan . Dan beliau menyatakan di akhir zaman nanti akan ada khilafah yang punya  manhaj nubuwah dimana seluruh peraturan dan undang undangnya  mengacu kepada al quran dan hadis .[2]
Perawi hadis menyatakan  khilafah dengan manhaj nubuwah itu sudah terjadi ketika Umar bin Abd Aziz menjadi raja  banu Umayyah . Dan hadis ini di beritahukan kepada sang raja lalu beliau senang dan tertarik padanya .
Tapi al bani menolak nya dan menyatakan khilafah itu akan terjadi di akhir zaman. Bukan  era raja  Umar bin Abd aziz .karena masa itu terlalu dekat dengan khufaur rasyidin . Seorang netter menyatakan :
Ini suatu berita gembira untuk umat yang mulia ini . Ia harapan baru bagi mereka yang harus di sebar luaskan  dan  di upayakan dengan sungguh – sungguh , lalu berkorban dengan  barang yang mahal dan indah , seluruh kekuatan  di arahkan ke sana untuk di wujudkan  lalu mengulang lagi bangunan yang pernah di lakukan oleh Rasulullah  .[3]
Syuaib al arna`uth menyatakan  hadis tsb hasan .

Komentarku ( Mahrus ali )  :

 Setahu  saya hadis tsb hanya di riwayatkan oleh Hudzaifah  dan tiada sahabat lain yang  meriwayatkannya  , kalau  di lihat dari kalimat hadis :
كُنَّا قُعُودًا فِي الْمَسْجِدِ مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Kami  duduk  di dalam masjid bersama  Rasulullah 

……………..,menunjukkan  saat itu  Rasulullah   masih hidup, lalu Basyir di tanya  , apakah kamu hapal hadis Rasulullah   tentang para amir , pada  hal Rasulullah   di sisinya   , kan aneh sekali. Bila pertanyaan  seperti itu di  lontarkan ketika  Rasulullah   telah wafat , maka  tepat sekali  . Saya sampaikan hadisnya dengann lengkap sbb :

حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ دَاوُدَ الطَّيَالِسِيُّ حَدَّثَنِي دَاوُدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الْوَاسِطِيُّ حَدَّثَنِي حَبِيبُ بْنُ سَالِمٍ عَنِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ قَالَ كُنَّا قُعُودًا فِي الْمَسْجِدِ مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَانَ بَشِيرٌ رَجُلًا يَكُفُّ حَدِيثَهُ فَجَاءَ أَبُو ثَعْلَبَةَ الْخُشَنِيُّ فَقَالَ يَا بَشِيرُ بْنَ سَعْدٍ أَتَحْفَظُ حَدِيثَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي اْلأُمَرَاءِ فَقَالَ حُذَيْفَةُ أَنَا أَحْفَظُ خُطْبَتَهُ فَجَلَسَ أَبُو ثَعْلَبَةَ فَقَالَ حُذَيْفَةُ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

 Sulaiman bin Dawud At thoyalisi bercerita kepada kami lalu berkata   : Bercerita kepada kami  Dawud bin Ibrahim  Al wasiti, lalu berkata  : Bercerita kepada kami  Habib bin  Salim  dari Nu`man bin Basyir  berkata  : Kami duduk dalam masjid bersama  Rasulullah  . Dan Basyir adalah lelaki yang jarang bicara , lalu Abu Tsa`labah  datang seraya berakata :  Wahai  Basyir , apakah kamu hapal  hadis Rasulullah   tentang para amir
Hudzaifah berakata : Aku hapal hutbah beliau , lalu Abu Tsa`labah  duduk
Hudzaifah berkata  : Rasulullah    bersabda : ………………………….., sebagaimana   hadis  di atas .
Hadis tsb cacat :
Dawud bin Ibrahim Al wasiti perawi yang  tidak di cantumkan dalam kedua kitab tahdzib Ibnu hajar dan  Dzahabi. Dan dia tidak di kenal
Habib bin Salim , menurut Imam Bukhari , perawi  masih perlu di bahas lagi identitasnya.
Komentarku ( Mahrus ali ) :
Kalau memang  hal itu di nyatakan oleh Rasulullah   ketika hutbah , otomatis bukan  satu orang  - Hudzaifah  saja yang ingat atau hapal . Mestinya banyak  sahabat  yang meriwayatkannya  dan realitanya menggelikan sekali  yaitu hanya Hudzaifah  saja yang meriwayatkannya  dan ini perlu  di perhatikan dan termasuk sisi yang di buat pegangan  orang untuk menyatakan bahwa hadis tsb tidak akurat dan tidak rasional . 

قَالَ اْلبَزَّارُ: هَذَا الْحَدِيْثُ لاَ نَعْلَمُ أَحَدًا قَالَ فِيْهِ: النُّعْمَانُ عَنْ حُذَيْفَةَ, إِلاَّ اِبْرَاهِيْمُ بْنُ دَاوُدَ.

Al bazzar berkata : Hadis itu , saya tidak mengetahui seorang perawi yang mengatakan Nu`man dari Hudzaifah kecuali Ibrahim bin Dawud .
Dalam musnad al bazzar , sanadnya sbb  :

2796ـ حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ بْنُ عَمْرِو بْنِ سُكَيْنٍ ، قَالَ : أَخْبَرَنَا يَعْقُوبُ بْنُ إِسْحَاقَ الْحَضْرَمِيُّ ، قَالَ : أَخْبَرَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ دَاوُدَ ، قَالَ : حَدَّثَنِي حَبِيبُ بْنُ سَالِمٍ ، عَنِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ بَشِيرٍ ،

Dalam musnad al bazzar ini dengan jelas tidak di terangkan  saat itu bersama  Rasulullah  Dan Hudzaifah tsb adalah Hudzaifah bin  Al Yaman. Jadi perawi hadis dalam dua  sanad itu berbeda  . Ada  yang menyatakan  Ibrahim bin Dawud dan Dawud bin Ibrahim , lalu manakah yang benar  ,  sanadnya kacau , redaksi hadis juga  kacau . Ada yang mnyatakan saat itu , Rasulullah   masih hidup dan ada yang  tidak . Terus tentang khilafah di akhir zaman itupun  hanya  di jelaskan dalam  hadis itu tidak  di jumpai dalam  hadis lainnya  .Pentafsiran  khilafah itu  sendiri berbeda antara  al albani dan perawi hadis , mana mungkin di katakan  sahih . 
.
وَقَالَ ابْنُ عَدِي : لَيْسَ فِي مُتُوْنِ أَحَادِيْثِهِ حَدِيْثٌ مُنْكَرٌ , بَلْ قَدْ اضْطَرَبَ فِي أَسَانِيْدِ مَا يُرْوَي عَنْهُ , إِلاَّ أَنَّ أَبَا حَاتِمٍ وَ أَبَا دَاوُدَ وَابْنَ حِبَّانَ وَثَّقُوهُ , فَحَدِيْثُهُ حَسَنٌ عَلَى أَقَلِ اْلأَحْوَالِ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى , وَ قَدْ قَالَ فِيْهِ الْحَافِظُ : " لاَ بَأْسَ بِهِ " .

Ibnu Ady berkata  : Dalam matan hadisnya tiada  hadis mungkar. tapi sanad  yang dari padanya kacau , hanya  saja Abu Hatim , Abu dawud  dan Ibnu Hibban menyatakan  dia ( Dawud bin Ibrahim ) terpercaya .Jadi hadisnya  minimal hasan insya Allah  taala .
Hafidh ibnu Hajar berkata  :  Tidak berbahaya . 
Komentarku ( Mahrus ali )  : Di katakan  hasan , karena  sanadnya  cacat . Bila  tidak , maka  di nyatakan  sahih . 

Dalam musnad Thoyalisi hadis tsb di cantumkan di nomer 438 , namun ada matannya yang kurang lalu di ambilkan  dari Musnad Ahmad . ( Maksud nya kalimat yang kurang itu di sempurnakan  dalam  riwayat musnad Ahmad ) .
Boleh jadi hadis tsb bikinan orang syiah untuk mencitrakan buruk kepada  kerajaan Banu Umayyah seolah kerajaan yang diktator , menganiaya rakyat , tapi  di beri kedok dengan memuji kepada Umar bin  Abd aziz sebagai raja yang  baik . Dengan  demikian, orang akan  cepat tanggap dan menerimanya  dengan baik . 
Hadis tsb bertentangan dengan hadis  sbb :

Anas ra  berkata :

اصْبِرُوا فَإِنَّهُ لاَ يَأْتِي عَلَيْكُمْ زَمَانٌ إِلاَّ الَّذِي بَعْدَهُ شَرٌّ مِنْهُ حَتَّى تَلْقَوْا رَبَّكُمْ سَمِعْتُهُ مِنْ نَبِيِّكُمْ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Bersabarlah , sesungguhnya  masa itu tambah  akhir tambah jelek  hingga  kamu  berjumpa dengan Tuhanmu   ,  aku mendengarnya dari Nabimu Saw .  HR  Bukhari 7068 .
Dalam hadis itu tidak ada keterangan bahwa  akan terjadi khilafah kedua yang sesuai dengan manhaj Nabi  yang  berarti zaman itu akan lebih baik  dari pada  zaman sebelumnya .
Ada hadis lagi sbb :

-  إِنَّ فِيْكُمُ النُّبُوَّةَ ثُمَّ تَكُوْنُ خِلاَفَةً عَلَى مِنْهَاجِ الُّنبُوَّةِ ثُمَّ يَكُوْنُ مُلْكاً وَجَبَرِيَّةً
Sesungguhnya di dalammu terdapat kenabian , lalu khilafah dengan manhaj nubuwah , lalu kerajaan dan kediktatoran  HR  Thbrani  dari Abu Ubaidah bin Al Jarrah dan Basyir bin Sa`ad – ayah Nu`man bin Basyir .[4] .
Al haitami berkata "  Terdapat tiga perawi yang tidak dikenal  dalam sanad  hadis tsb , jadi sangat lemah . [5]

Dalam hadis tsb juga  tidak ada keterangan tentang  khilafah di akhir zaman  .

Hadis tentang  khilafah di akhir zaman itu juga bertentangan dengan perkataan Umar dan Ali sbb :
لَمْ يَعْهَدْ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْخِلاَفَةِ شَيْئًا وَهَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ
Nabi   tidak mengamanatkan tentang khilafah sedikitpun  , ini hadis hasan  kata  Imam Tirmidzi .


حَدَّثَنَا أَبُو الْمُغِيرَةِ قَالَ حَدَّثَنَا صَفْوَانُ بْنُ سُلَيْمٍ قَالَ حَدَّثَنِي سُلَيْمُ بْنُ عَامِرٍ عَنْ تَمِيمٍ الدَّارِيِّ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَيَبْلُغَنَّ هَذَا اْلأَمْرُ مَا بَلَغَ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَلاَ يَتْرُكُ اللهُ بَيْتَ مَدَرٍ وَلاَ  وَبَرٍ إِلاَّ أَدْخَلَهُ اللهُ هَذَا الدِّينَ بِعِزِّ عَزِيزٍ أَوْ بِذُلِّ ذَلِيلٍ عِزًّا يُعِزُّ اللهُ بِهِ الْإِسْلاَمَ وَذُلًّا يُذِلُّ اللهُ بِهِ الْكُفْرَ وَكَانَ تَمِيمٌ الدَّارِيُّ يَقُولُ قَدْ عَرَفْتُ ذَلِكَ فِي أَهْلِ بَيْتِي لَقَدْ أَصَابَ مَنْ أَسْلَمَ مِنْهُمْ الْخَيْرُ وَالشَّرَفُ وَالْعِزُّ وَلَقَدْ أَصَابَ مَنْ كَانَ مِنْهُمْ كَافِرًا الذُّلُّ وَالصَّغَارُ وَالْجِزْيَةُ

………………………….Dari Tamim Addari , Rasulullah    bersabda :

Sungguh perkara ini ( agama Islam ) akan sampai ke tempat yang di jangkau oleh malam  dan siang . Setiap rumah di kota atau desa , Allah akan memasukkan agama  ini ke dalamnya dengan kemuliaan orang mulia atau kehinaan orang hina . Kemuliaan  di mana Allah telah memuliakan  Islam  atau kehinaan di mana Allah telah menghina kekufuran .

Tamim Addari berkata : Sungguh aku tahu hal itu dalam  ahlu baitku ( kabilahku )
Orang yang masuk Islam di antara mereka   mendapat kebaikan , kemuliaan  dan orang yang masih tetap kafir  mendapat kehinaan , di kenakan pajak padanya .[6]

Komentarku ( Mahrus ali ) :
Sanad hadisnya sbb :
 Bercerita kepada kami  Abul mughirah lalu  berkata  : Bercerita kepada kami  Shofwan bin Sulaim lalu berkata : Bercerita kepada kami  Sulaim bin  Amir dari Tamim  addari yang berkata  : Rasulullah    bersabda : ………………………….


Saya masih belum menjumpai data di mana Shofwan bin Sulaim  sebagai  murid Sulaim bin Amir 

Bila  hadis tsb sahih  maka maksudnhya adalah Islam akan akan berkembang amat pesat ke seluruh pelosok dan kota  - kota di dunia  dan  seluruh orang akan mendengar tentang Islam lalu orang yang masuk Islam akan mendapat kemuliaan  dan kebaikan dan orang yang menentangnya juga tetap akan mendapat kehinaan dan membayar pajak  . Hal  itu bukan ber arti  khilafah Islam ala manhaj nubuwah akan berdiri lagi  dan masih memerlukan  hadis yang  sahih . Untuk hadis Mahdi akan keluar di akhir zaman saya  sendiri belum mengkajinya .

Rasulullah   bersabda :

الْخِلاَفَةُ فِي أُمَّتِي ثَلاَثُونَ سَنَةً ثُمَّ مُلْكٌ بَعْدَ ذَلِكَ ثُمَّ قَالَ لِي سَفِينَةُ أَمْسِكْ خِلاَفَةَ أَبِي بَكْرٍ ثُمَّ قَالَ وَخِلاَفَةَ عُمَرَ وَخِلاَفَةَ عُثْمَانَ ثُمَّ قَالَ لِي أَمْسِكْ خِلاَفَةَ عَلِيٍّ قَالَ فَوَجَدْنَاهَا ثَلاَثِينَ سَنَةً قَالَ سَعِيدٌ فَقُلْتُ لَهُ إِنَّ بَنِي أُمَيَّةَ يَزْعُمُونَ أَنَّ الْخِلاَفَةَ فِيهِمْ قَالَ كَذَبُوا بَنُو الزَّرْقَاءِ بَلْ هُمْ مُلُوكٌ مِنْ شَرِّ الْمُلُوكِ

KHilafah dalam umatku tiga puluh tahun , lalu kerajaan , lalu Safinah berkata  kepadaku :
Ingatlah  hilafah Abu bakar ………………. Lalu hilafah Umar ,………. Lalu hilafah Usman, ……….. lalu hilafah Ali . Kita hitung semuanya adalah tiga puluh tahun
Sa`id berkata  : Aku berkata kepadanya  : Sesungguhnya Banu Umayyah mengaku bahwa khilafah di kalangan mereka .
Dia berkata : Dusta mereka – Banu zarqa` - bahkan mereka adalah raja – raja terjelek ,

Al albani menyatakan : HR Tirmidzi 2226
Sahih , lihat di as sahihah 459,1534,1535 , Sahih  di kitab Dhilalul jannah  1185, sahih  wa dhoif tirmidzi 226/5

Al musnad al jami` 55/16 Ahmad 2264 , 22268 22273 , Abu Dawud 4646 , 4647 Tirmidzi 2225 , Nasai 8099. Im am Baihaqi juga meriwayatkannya  dalam  kitab Madkhal dengan tambahan :  Muawiyah permulaan raja – raja .

Ibnu Hibban meriwayatkannya  dalam kitab sahihnya  dengan tambahan :
Khilafah Abu bakar dua tahun , Umar sepuluh tahun , Usman 12 tahun dan Ali enam tahun.
Jumlahnya  tiga puluh tahun . 
Al hakim  juga meriwayatkannya dalam bab fadhoil di kitab Mustadrak tanpa menyatakan sahih , al baihaqi dalam kitab Dalailun nubuwah


Komentarku ( Mahrus ali ) :

Imam Tirmidzi menyatakan :
وَهَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ قَدْ رَوَاهُ غَيْرُ وَاحِدٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُمْهَانَ وَلاَ  نَعْرِفُهُ إِلاَّ مِنْ حَدِيثِ سَعِيدِ بْنِ جُمْهَانَ

Ini hadis hasan di riwayatkan bukan saja satu orang dari Sa`id bin Jumhan  dan kami  tidak tahu jalur lagi kecuali  dari Said bin Jumhan .

Jadi secara realita  tiada  jalur menurut beliau dan saya sendiri juga mendukungnya kecuali dari Said bin Jumhan . Jadi hadis tsb hanya  dari Said bin Jumhan .
Abu hatim menyatakan  : Hadisnya  tidak bisa di buat pegangan .
Abu Ahmad bin Ady berkata : Dia meriwayatkan  dari safinah , hadis – hadis  yang tidak di riwayatkan orang lain . Saya harap tidak ada bahaya .
Abu Ubaid Al aajuri berkata : Sebagian kaum menyatakan dia lemah , tapi lebih bahaya lagi adalah  Safinah
Imam Bukhari menyatakan : Hadis said bin Jumhan banyak keanehannya 
Saji berkata  : hadisnya  tidak ada pendukungnya  .[7]

Hasyraj bin Nubatah adalah perawi yang selalu berkata benar dan  juga keliru . Abu hatim menyatakan : Dia tidak bisa di buat hujjah
Nasa`I berkata : Dia tidak kuat .



[1] Jamiul ahadis 348/11  Thoyalisi  438 , hal 58 , Al Bazzar 223/7 nomer 2796 , Ahmad 273/4 nomer 18430, Musnad  sahabat  456 /34

[2] Kanzul ummal     121/6 al musnadul jami` 208/11.
[3] www.alokab.info

[4] HR Thabrani  157/1 – 368  nomer 368
[5] Jamiul ahadis 132/9
[6] HR Ahmad  203/1 Ibnu Busyran  dalam kitab al amali  60/1 Thabrani  dalam Mu`jam kabir 126/1  Ibn u Mandah  dalam kitab Iman 102/1 Abd Ghoni al maqdisi dalam  bab al islam  166/1 , lalu berkata : In I hadis hasan  sahih , Al Hakim  430-431 /1 lalu berkata : Sahih menurut sarat perawi Bukhari dan Muslim  dan Imam Dzahabi mendukungnya , sebenarnya  hanya  cocok den gan  persaratan perawi Muslim , Tahdzirus  sajid  112/1 , Majmauz zawaid  226/5 Silsilah sahihah  mukhtashar 32/1 , Ibnu  Hibban dalam kitab sahihnya   1631- 1632


[7] Mausuatur ruwat 2279