Tampilkan postingan dengan label Bid`ah di bagi lima. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bid`ah di bagi lima. Tampilkan semua postingan

Kamis, Maret 01, 2012

Tahlilan untuk tegakkan syi`ar Hindu, mematikan tuntunan Nabi SAW

Fajar Sodiq berkata

Ass wr wb…(utk para Ustadz,Kiai,Ulama). Sampai diusia 46 saya tetap warga NU keturunan,dan sangat meyakini bahwa dari 73 golongan Ahli Sunnah Waljama’ah yg selamat hanyalah warga NU saja. Setelah baca buku saku “Seputar Hukum Selamatan Yasinan dan Tahlilan” dan buku “Bila Kyai diPerTuhankan” dari LPPI karya Hartono Ahmad Jaiz akhirnya penasaran dengan buku2 yg lain misalkan : Ada Pemurtadan di IAIN, Aliran dan Faham Sesat di Indonesia, Kesesatan LDII, Bahaya Islam Liberal, Fikih Lintas Agama dll, Seterusnya terbit buku karya Mahrus Ali yg controversial dengan NU,Juga sekarang disusul buku Kyai Afroki Abdul Ghoni(Buku Putih Kyai NU), Drs Buchari (MWC NU Membedah Kitab Tauhid Kiai Ahli Bid’ah), Buku ilmiah dan berbobot Lau Kaana Khairan lasabakuuna ilaihi. Ternyata setelah kita baca buku2 karya mereka benar2 ilmiah dan masuk diakal. Maaf bukan saya memihak mereka, terus terang saja saat ini saya benar2 dalam misi mencari Islam yg benar dan murni, yg sesuai dengan apa yg diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW saja. Disebuah tautan didunia maya buku2 karya mereka langsung diklaim buku2 sesat, ini adalah suatu bantahan yg tidak etis dan tidak ilmiah. Dari ini saya sangat mengharap dari tokoh2 NU, Aktivis, Kiai,Gus,Ulama juga team LBM NU Jember untuk menanggapi buku2 mereka dengan tegar, tidak emosi, tidak dengan taklid buta, dan yang ilmiah. Dan tanggapilah buku2 mereka perbuku berdasarkan dalil yg kuat dari Al Qur’an dan Hadts shohih dengan mendetail seperti bukunya Mahrus Ali “Sesat Tanpa Sadar” yg menjawab buku (Membongkar Kebohongan….LBM Jember), Sampaikan komplit asal usul hadits, perowi dan sanadnya dengan jelas, Biar nanti pembaca yg menilai akan kebenaranya dan utk meyakininya. Setelah baca buku2 mereka timbul dari hati utk menanyakan hanya beberapa pertanyaan saja (sebenarnya puluhan) :
1- Ada dikitab apa tuntunan tentang sholawat Narriyah dan sholawat Bad’r, (apakah itu tuntunan dari Rosulullah atau Imam Safe’i, atau sunnah bikinan Ulama saja).
2- Apakah dan kenapa Rosulullah para sahabat, 4 Imam Maliki,Hanafi Safe’i dan Hambali tidak mengajarkan selamatan setelah kematian 3-7-40 hari dst, Yasinan dan Tahlilan?, Dan sejak kapan, oleh siapa acara diajarkan?, Apakah acara itu bisa mengurangi dosa orang yg ditahlili(misalkan koruptor)?. Kenapa pula acara itu yg mengadakan hanya warga NU Indonesia saja (negara Islam lainnya tidak ada sama sekali)?.
3- Kenapa waktu Rosulullah perang demi Islam lawan orang kafir tidak menggunakan Ilmu Tenaga Dalam (tetap pakai pedang dan panah / padahal dia seorang Rosul)?, dan kenapa tidak memberi sikep,rajah atau jimat bertuliskan arab biar menjadi sakti?.
4- Yang benar itu Al Qur’an yang harus mengikuti adat, tradisi, zaman atau sebaliknya adat, tradisi dan zaman yg harus kembali kepada Al Qur’an?.
5-Apakah buku LAU KAANA KHAIRAN LASABAKUUNA ILAIHI itu sesat?.
6- Bagaimana dng Muktamar NU pertama diSurabaya tgl 13 RabiulTsani 1345 H (21 Oktober 1926 M) menetapkan dengan tegas bahwa selamatan setelah kematian adalah Bid’ah yg hina, apakah itu suatu fitnah?
Fakta nyata bahwa sampai detik ini belum ada seorangpun dari Habib, Gus, Kiai, Ulama yg bisa menemukan kalau selamatan, yasinan dan tahlilan 3-7-40 hari dst Al Qur’an maupun dari Hadits Rosulullah. Adanya dikitab suci agama Hindu yaitu WEDA Manawa Darna Sastra,Weda Samerti hal 192-193, dan di Sama Weda Samhita Buku I hal1, Bab 10 no i hal 20, (Fakta nyata itu adalah ritualnya orang yg beragama Hindu dan bukan dari Islam). terimakasih mohon dengan sangat akan penjelasannya.
Komentarku ( Mahrus ali ):
  Apa yang anda jalankan adalah langkah yang tepat bukan salah, teruslah mencari kebenaran bukan terus menekuni kesalahan sampai mati, tapi sebelum mati ingin mencari kebenaran yang berdalil , bukan kebenaran atau kesalahan tanpa dalil. Ingatlah firmanNya:
قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ
Katakanlah: "Unjukkanlah bukti kebenaranmu, jika kamu memang orang-orang yang benar".[1]
وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ اْلأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ *
Berhatilah  terhadap perkara baru. Sesungguhnya tiap perkara baru adalah bid`ah dan setiap bid`ah adalah sesat. [2]
  Orang yang mengadakan tahlilan pada hari ke 1 – 7 adalah menegakkan syi`ar Hindu, mematikan tuntunan dalam Islam, mendapat dosa bukan pahala, amalannya tertolak di sisi Allah sekalipun di terima dikalangan setan manusia dan jin.


[1] Namel 64
[2] HRAbu Dawud  / Assunnah /4607. Darimi /Muqaddimah /95

Kamis, November 03, 2011

Hadis sawadul a`dhom yaitu mayoritas yang harus diikuti

Hadis tentang sawadul a`dhom  yaitu mayoritas  yang harus diikuti  dan jangan  ikut minoritas adalah lemah , hadisnya  sbb:

اِتَّبِعُوا السَّوَادَ اْلأَعْظَمَ فَإِنَّهُ مَنْ شَذَّ شَذَّ فِي النَّارِ " . رَوَاهُ ابْنُ مَاجَه مِنْ حَدِيْثِ أَنَسٍ

Ikutilah sawadul a`dhom ya`ni kebanyakan orang . sesungguhnya barang siapa yang terpencil , maka  terpencil dalam neraka . HR Ibnu Majah dari hadis Anas , lemah kata al albani . [1] lemah
Ia  bertentangan dengan hadis :

بَدَأَ الْإِسْلاَمُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ *
Islam mulai dalam keadaan terasing ( terpencil  dan   jarang pengikutnya ) . Dan akan kembali dalam keadaan terasing. Beruntunglah  orang orang yang terpencil . Hadis sahih ,[2]

Ada hadis lagi :
اِفْتَرَقَتْ بَنُو إِسْرَاِئيْلَ عَلَى إِحْدَى وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً أَوْ قَالَ اثْنَتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً وَتَزِيْدُ هَذِهِ اْلأُمَّةُ فِرْقَةً وَاحِدَةً كُلُّهَا فِي النَّارِ إِلاَّ السَّوَادَ اْلأَعْظَمَ لَهُ رَجُلٌ ياَ أَبَا أُمَامَةَ مِنْ رَأْيِكَ أَوْ سَمِعْتَهُ مِنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ  إِنِّي إِذًا لَجَرِيئٌ بَلْ سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَيْرَ مَرَّةٍ وَلاَ مَرَّتَيْنِ وَلاَ ثَلاَثَةً

Banu Israil berpecah menjadi 71 golongan atau  beliau bersabda : 72 golongan . Dan umat ini berpecah lebih darin itu , yaitu tambah satu lagi  menjadi 73 golongan . seluruhnya  di neraka kecuali golongan mayoritas .
Seorang lelaki berkata : Wahai Abu Umamah , dari pendapatmu  ataukah kamu dengar dari Rasulullah  .
Dia menjawab : Sesungguhnya aku termasuk orang yang berani , bahkan aku dengar dari beliau  dua atau tiga kali  bahkan lebih . [3] lemah  ,kata al albani

بَاب السَّوَادِ الْأَعْظَمِ  ( ابن ماجه)
قُلْ أَطِيعُوا اللهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا عَلَيْهِ مَا حُمِّلَ وَعَلَيْكُمْ مَا حُمِّلْتُمْ وَإِنْ تُطِيعُوهُ تَهْتَدُوا وَمَا عَلَى الرَّسُولِ إِلاَ الْبَلاَغُ الْمُبِينُ(54)
Katakanlah: "Ta`atlah kepada Allah dan ta`atlah kepada rasul; dan jika kamu berpaling maka sesungguhnya kewajiban rasul itu adalah apa yang dibebankan kepadanya, dan kewajiban kamu sekalian adalah semata-mata apa yang dibebankan kepadamu. Dan jika kamu ta`at kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk. Dan tidak lain kewajiban rasul itu melainkan menyampaikan (amanat Allah) dengan terang."[4]

Nu`man bin Basyir berkata : Rasulullah   bersabda:
مَنْ لَمْ يَشْكُرْ الْقَلِيلَ لَمْ يَشْكُرْ الْكَثِيرَ وَمَنْ لَمْ يَشْكُرْ النَّاسَ لَمْ يَشْكُرْ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ وَالتَّحَدُّثُ بِنِعْمَةِ اللهِ شُكْرٌ وَتَرْكُهَا كُفْرٌ وَالْجَمَاعَةُ رَحْمَةٌ وَالْفُرْقَةُ عَذَابٌ
Barang siapa tidak bersukur kepada barang sedikit , tidak akan bersukur barang banyak . Bararang siapa yang tidak bersukur kepada manusia , sama dengan tidak bersukur kepada Allah azza wajal . Berbicara nikmat Allah sama dengan bersukur kepadanya.  Mengabaikan nikmat sama dengan kufur kepadanya> Jamaah adalah  rahmat dan perpecahan adalah siksaan

 فَقَالَ أَبُو أُمَامَةَ الْبَاهِلِيُّ عَلَيْكُمْ بِالسَّوَادِ الْأَعْظَمِ قَالَ فَقَالَ رَجُلٌ مَا السَّوَادُ الْأَعْظَمُ فَنَادَى أَبُو أُمَامَةَ هَذِهِ الْآيَةَ الَّتِي فِي سُورَةِ النُّورِ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا عَلَيْهِ مَا حُمِّلَ وَعَلَيْكُمْ مَا حُمِّلْتُمْ

Abu Umamah al Bahili berkata : Ikutilah mayoritas ( as sawasul a`dhom ) .
Perawi berkata : Ada seorang lelaki bertanya : Apakah maksud as sawadul a`dhom .
Abu Umamah membacakan ayat ini di surat An nur :

فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا عَلَيْهِ مَا حُمِّلَ وَعَلَيْكُمْ مَا حُمِّلْتُمْ

dan jika kamu berpaling maka sesungguhnya kewajiban rasul itu adalah apa yang dibebankan kepadanya, dan kewajiban kamu sekalian adalah semata-mata apa yang dibebankan kepadamu.
HR Ahmad 27684 dan hanya Imam Ahmad yang meriwayatkannya  dari kalangan penyusun kutubut tis`ah . Sanadnya terdapat perawi bernama Abu waki` yang terkadang keliru dalam meriwayatkan hadis .
Ibnu Abi Hatim berkata :

رَوَى عَنْهُ أَبُو وَكِيْعٍ وَلاَ يُتَابَعُ فِي هَذَا

Abu Waki` meriwayatkan hadis tsb dan tiada hadis lain yang mendukungnya, kata
Imam Bukhari . [5]
Dan Abu waki` sendiri kadang keliru dalam meriwayatkan hadis di hawatirkan riwayat ini termasuk kekeliruannya. Jadi hadis tsb belum di buat landasan.

أَنَسُ بْنَ مَالِكٍ يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ أُمَّتِي لاَ تَجْتَمِعُ عَلَى ضَلاَلَةٍ فَإِذَا رَأَيْتُمْ اخْتِلاَفًا فَعَلَيْكُمْ بِالسَّوَادِ الْأَعْظَمِ

Anas bin Malik ra berkata : Aku mendengar Rasulullah   bersabda : Sesungguhnya umatku tidak akan berkumpul untuk kesesatan . Bila kamu melihat perbedaan pendapat maka ikutilah mayoritas  terbanyak jumlahnya.
HR Ibnu Majah , lemah karena ada perawi bernama Abu Kholaf al a`ma  perawi yang di tinggalkan  oleh ulama , Mu`an bin Rifa`ah yang  lemah . Al abbas bin Usman Addimasyqi yang suka berkata benar , tapi juga keliru .

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدُ اللهِ مَعَ الْجَمَاعَةِ وَهَذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ لاَ نَعْرِفُهُ مِنْ حَدِيثِ ابْنِ عَبَّاسٍ إِلاَّ مِنْ هَذَا الْوَجْهِ

Dari Ibnu Abbas ra berkata : Rasulullah   bersabda :Tangan bersama jamaah . ( Allah selalu membela kumlulan atau jamaah kaum muslim ) .
HR Tirmidzi 2166 , Imam Tirmidzi berkata : Hadis nyeleneh dan aku tidak mengetahui  kecuali dari jalur periwayatan tsb.

عَنْ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ اللهَ لاَ يَجْمَعُ أُمَّتِي أَوْ قَالَ أُمَّةَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى ضَلاَلَةٍ وَيَدُ اللهِ مَعَ الْجَمَاعَةِ وَمَنْ شَذَّ شَذَّ إِلَى النَّارِ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ مِنْ هَذَا الْوَجْهِ

Dari Ibnu Umar ra ,sesungguhnya Rasulullah   bersabda : Sesungguhnya Allah tidak akan mengumpulkan umatku atau beliau bersabda : Umat Muhammad , atas kesesatan . Dan tangan Allah bersamaah jamaah ( kaum muslim ) .
HR Tirmidzi 2168 , lemah karena perawi bernama   Sulaiman al madani . Abu Isa  - Imam Tirmidzi sendiri menyatakan  nyeleneh.
Dan beliau berkata lagi :

سَأَلْتُ مُحَمَّدًا عَنْ هَذَا الْحَدِيْثِ فَقَالَ سُلَيْمَانُ الْمَدَنِي هَذَا مُنْكَرُ الْحَدِيْثِ ،
Saya bertanya kepada Muhammad ( Imam Bukhari ) tentang hadis itu , lalu beliau bilang : Sulaiman al madani ( salah satu perawinya ) adalah mungkar mungkar hadisnya. [6]

As syaukani berkata :

وَبَقِيَ الْهَدْيُ النَّبَوِيُّ الْفِرْقَةُ الَّتِي لاَ تَزَالُ ظَاهِرَةً عَلَى الْحَقِّ ، فَهِيَ الْمُرَادَةُ بِلَفْظِ النَّاسِ فِي الْحَدِيثِ وَهِيَ السَّوَادُ الْأَعْظَمُ وَلَوْ كَانَتْ قَلِيلَةَ الْعَدَدِ

Tinggal tuntunan Nabi   yaitu golongan yang selalu exis dalam membela kebenaran . Itulah yang di maksud dalam hadis dengan as sawadul a`zham , sekalipun jumlahnya sedikit. [7]
Komentarku ; Maksud sawadul a`zham adalah golongan terbanyak , maka  tidak layak di gunakan untuk minoritas. Mungkin beliau mengikuti ulama yang menyatakan sawadul a`zham tidak  boleh terdiri dari ahli bid`ah sekalipun mayoritas . Sebab di kalangan mereka itu penuh dengan kesyirikan , kebid`ahan  yang bila di ikuti , akan membikin lebih parah dan lebih ternoda baik dari segi akidah atau lainnya. Bahkan banyak hadis yang menyatakan amaliah mereka tertolak .
Sekarang paling penting bagi kita belum menjumpai hadis sahih yang menganjurkan untuk mengikuti golongan mayoritas kecuali hadis yang lemah.

Dalam encyplopedi fikih Islam terdapat keterangan sbb:

اِتِّبَاعُ السَّوَادِ اْلأَعْظَمِ:
قَالَ اْلغَزَالِى: مُتَبِعُ السَّوَادِ اْلأعْظَمِ لَيْسَ بِمُقَلِّدٍ بَلْ عَلِمَ بِقَوْلِ الرَّسُوْلِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وُجُوْبَ اتِّبَاعِهِ لِقَوْلِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "عَلَيْكُمْ بِالسَّوَادِ اْلأَعْظَمِ ".

Mengikuti golongan mayoritas atau yang terbanyak.
Al Ghozali berkata : Pengikut golongan mayoritas bukan ber arti taklid , tapi mengetahui Rasulullah  bersabda : Ikutilah  golongan mayoritas , dan itu adalah wajib di ikuti . [8]

" وَمَنْ سَرَّهُ أَنْ يَسْكُنَ بُحْبُوْحَةَ، الْجَنَّةِ فَلْيَلْزَمِ الْجَمَاعَةِ "، وَ 0" وَالشَّيْطَانُ مَعَ اْلوَاحِدِ وَهُوَ مِنَ اْلاِثْنَيْنِ أَبْعَدُ "، وَذَلِكَ قَبُوْلُ قَوْلٍ بِحُجَّةٍ

Barang siapa yang senang bertempat di tengah surga , maka ikutilah jamaah ( golongan orang banyak atau komunitas kaum muslimin )  dan setan  selalu bersama dengan  satu orang . Ia lebih jauh dengan dua orang .
Itu adalah menerima pendapat dengan landasan hujjah / dalil . [9]


Komentarku :
وَقَالَ ابْنُ حَزْمٍ الظَّاهِرِى: عَلَيْكُمْ بِالسَّوَادِ اْلأَعْظَمِ، رِوَايَةٌ لاَ تَصِحُّ وَخَبَرٌ لَمْ يُخْرِجْهُ أَحَدٌ مِمَّنْ اشْتَرَطَ الصَّحِيْحَ

Ibnu Hazem azh zhahiri berkata : Hadis ikutilah golongan mayoritas adalah  riwayat yang lemah , tiada orang ayng mensaratkan sahih yang meriwayatkannya . [10]

Al albani berkata :  HR Tirmidzi 25/2 , Al Hakim 114/1 , Al baihaqi  91/1 dari jalur Muhammad bin Sauqah dari Abdullah bin Dinar dari dia ….
Tirmidzi berkata : Hadis hasan sahih nyeleneh .
Al Hakim berkata : Sahih menurut persaratan syaikhain ( Bukhari dan Muslim )
Imam Dzahbi menyatakan oke .
Al albani juga menyatakan  cocok . [11]
Ibnu Abi Hatim berkata :
- وَسَأَلْتُ أَبِي ، وَأَبَا زُرْعَةَ ، عَنْ حَدِيثٍ رَوَاهُ مُحَمَّدُ بْنُ سُوقَةَ ، عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ دِينَارٍ ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ عَنْ عُمَرَ ، أَنَّهُ خَطَبَ بِالْجَابِيَةِ ، فَقَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم مَنْ سَرَّهُ بَحْبُوحَةَ الْجَنَّةِ فَلْيَلْزَمِ الْجَمَاعَةَ ، وَمَنْ سَاءَتْهُ سَيِّئَتُهُ وَسَرَّتْهُ حَسَنَتُهُ فَهُوَ مُؤْمِنٌ الْحَدِيثُ مَا عِلَّتُهُ
فَقَالا هَذَا خَطَأٌ ، رَوَاهُ ابْنُ الْهَادِ ، عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ دِينَارٍ ، عَنِ الزُّهْرِيِّ ، عَنِ السَّائِبِ بْنِ يَزِيدَ ، أَنَّ عُمَرَ أَخَذَ مِنَ الْخَيْلِ الزَّكَاةَ

Saya bertanya kepada ayahku dan Abu Zur`ah  tentang hadis riwayat Muhammad bin Suqah  dari Abdullah bin Dinar  dari Ibnu Umar dari Umar , sesungguhnya  dia  berhutbah di Jabiyah, lalu berkata : Rasulullah   bersabda : Barang siapa yang senang  untuk bertempat di tengah surga , maka ikutilah jamaah .  Barang siapa yang senang bertempat di tengah surga , maka ikutilah jamaah ( golongan orang banyak atau komunitas kaum muslimin )  .Dan barang siapa yang kejelekannya tidak membikin hatinya sakit dan kebaikannya membikinnya bergembira , maka  termasuk mukmin , apakah illatnya ( aibnya ).
Keduanya menjawab: Ini adalah keliru . Ia diriwayatkan oleh Ibnu al hadi  dari Abdullah bin Dinar dari Al zuhri  dari Al sa`ib bin Yazid , sesungguhnya Umar mengambil zakat kuda ………………….[12]
Komentarku lagi :
Untuk mengikuti jamaah , maksud nya di anjurkan bersatu di kalangan kaum muslimin dan tidak boleh berkelompok – kelompok dan banyak landasannya terutama dari al Quran sbb :
شَرَعَ لَكُمْ مِنَ الدِّينِ مَا وَصَّى بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلاَ تَتَفَرَّقُوا فِيهِ كَبُرَ عَلَى الْمُشْرِكِينَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَيْهِ اللهُ يَجْتَبِي إِلَيْهِ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي إِلَيْهِ مَنْ يُنِيبُ(13)
Dia telah mensyari`atkan kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama) -Nya orang yang kembali (kepada-Nya).[13]
Ayat tsb memerintah menegakkan ajaran agama dan jangan sampai bercerai berai.
Di ayat lain , Allah berfirman :

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيعًا وَلاَ تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللهُ لَكُمْ ءَايَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan ni`mat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena ni`mat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.  [14]
Orang yang berpecah belah akan mendapat siksaan yang pedih.

وَلاَ تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَأُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat,  [15]
Karena itu, bila terjadi persengketaan, maka di perintahkan untuk berdamai sebagaimana ayat :
وَإِنْ طَائِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا فَإِنْ بَغَتْ إِحْدَاهُمَا عَلَى الْأُخْرَى فَقَاتِلُوا الَّتِي تَبْغِي حَتَّى تَفِيءَ إِلَى أَمْرِ اللهِ فَإِنْ فَاءَتْ فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا بِالْعَدْلِ وَأَقْسِطُوا إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mu'min berperang maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan yang lain maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah; jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil dan berlaku adillah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.[16]
 Sudah tentu di anjurkan untuk bersatu , dan ia akan membikin kaum musrikin takut dan mereka selalu berusaha untuk memecah belah kaum muslim in dengan memberikan dana segar kepada  tokoh – tokohnya   yang sanggup membikin kaum muslimin sangat toleransi dan bersenang  - senang dengan lawan dan musuh – musuh Allah.






[1] Misykatul mashobih 381
[2] Muslim/Iman /145. Ibnu Majah /Fitan /3986. Ahmad /Baqi musnad muktsirin/8812.
[3] Dhilalul jannah  28/1
[4] An nur 45
[5] Al jarh watta`dil 403/9
[6] Ilalut tirmidzi 262/2
[7] Nailul authar 500/1
[8]  Al mustasfa  387/2
[9] Encyplopedi fikih Islam 45/1
[10] Al ihkam fii ushulil ihkam  76/6
[11] Irwa`ul gholil 215/6
[12] Ilal hadis karya Ibnu Abi Hatim 1978/1
[13]  Syura 13
[14] Ali Imran    102  .
[15] Ali Imran    105
[16]  Al Hujurat  9

Senin, Oktober 31, 2011

Kentongan dan Bedug yang Dipukul untuk Memberitahukan Waktu Shalat


 
Apakah hukum kentongan yang dipukul untuk memberitahukan waktu­  shalat fardhu, dipukul sebelum adzan, malah sering dipukul pula setelah adzan, yang demikian itu tidak memberi bekas dalam hati, selain menyerupai orang yahudi atau Nasrani (walau sekarang ini inereka meninggalkannya). Dan bagaimana hukumnya "Bedug" yang dipukul bersama kentongan, tetapi seringkali dipukul bersama-sama dengan adzan, apakah hukumnya seperti kentongan itu? apakaah sunah beradzan di tempat yang tinggi seperti menara mesjid? Dan bagaimana hukumnya memukul bedug untuk memberitahu mulai bulan Ramadhan, atau hari raga, atau waktu sahur, dan lain-lain.
Bagaimana kebiasaan di desa-desa dalam mesjid sering mengganggu,terutama orang-orang yang berada di sekitar mesjid? Apakah demikian itu layak bagi agama yang suci maka tidak dilarang dan diingkari?
Jawaban Muktamar NU "  Adapun hukumnya kentongan, telah menjadi berselisih di antara pendapat para ulama yang besar-besar, kalau ingin mengetahui dalilnya masing-masing haraplah membaca kitab-kitabnya yang te­rcetak, kemudian supaya diingat kemaslahatannya dan mafsadahnya serta diperhatikan benar-benar.
Adapun hukumnya "Bedug", maka tidak ada larangan tentang memukul bedug itu, apalagi kalau dengan bedug itu dapat menimbulkan syiar agama Islam. Tapi kalau mengganggu orang yang sembahyang atau ­orang yang tidur, maka haramlah bedug itu karena mengganggunya.
Adapun adzan di tempat yang tinggi, seperti menara atau diatap ­masjid, maka hukumnya setidak-tidaknya di pinto mesjid.
Keterangan, dalam kitab-kitab filth.'
Komentarku ( Mahrus ali ) :
A.   Mun’im DZ menyatakan :
Bedug hanya dipasang di masjid di samping kentongan Islam termasuk beduk dan wayang dan juga gamelan.
Boleh saja orang setuju dengan keberadaan bedug di masjid – masjid atau tidak usah memakainya   .
Komentarku ( Mahrus ali ) :
Untuk mengetahui hukum bedug itu , pikirlah hadis sbb:
Abdullah bin zaid bin Abd rabbih  datang kepada   Rasulullah  saw,  lalu berkata :
إِنَّمَا يُجْتَمَعُ إِلَيْهِ بِالصَّلاَةِ لِحِينِ مَوَاقِيتِهَا بِغَيْرِ دَعْوَةٍ ، فَهَمَّ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنْ يَجْعَلَ بُوقاً كَبُوقِ الْيَهُودِ الَّذِينَ يَدْعُونَ بِهِ لِصَلاَتِهِمْ ثُمَّ كَرِهَهُ ، ثُمَّ أَمَرَ بِالنَّاقُوسِ فَنُحِتَ لِيُضْرَبَ بِهِ لِلْمُسْلِمِينَ إِلَى الصَّلاَةِ ، فَبَيْنَمَا هُمْ عَلَى ذَلِكَ رَأَى عَبْدُ اللَّهِ بْنُ زَيْدِ بْنِ عَبْدِ رَبِّهِ أَخُو بَلْحَارِثِ بْنِ الْخَزْرَجِ ، فَأَتَى رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ :
Sesungguhnya  untuk mengumpulkan orang – orang untuk melakukan salat tanpa undangan atau panggilan . Lantas Rasulullah SAW ingin membuat trompet ( corong ) seperti milik orang yahudi yang mengajak untuk melakukan salat  , lalu beliau tidak menyukainya . Kemudian beliau memerintah untuk bikin kentongan , lalu di buatkan  untuk di pukul sebagai tanda panggilan untuk melakukan salat . ketika  keada an seperti ini , maka Abdullah bin Zaid bin Abd Rabbih -  saudara Balharts bin Al Khozroj  bermimpi lalu datang kepada Rasulullah SAW , lalu berkata :

يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ طَافَ بِىَ اللَّيْلَةَ طَائِفٌ ، مَرَّ بِى رَجُلٌ عَلَيْهِ ثَوْبَانِ أَخْضَرَانِ يَحْمِلُ نَاقُوساً فِى يَدِهِ فَقُلْتُ : يَا عَبْدَ اللَّهِ أَتَبِيعُ هَذَا النَّاقُوسَ؟ فَقَالَ : وَمَا تَصْنَعُ بِهِ؟ قُلْتُ : نَدْعُو بِهِ إِلَى الصَّلاَةِ. قَالَ : أَفَلاَ أَدُلُّكَ عَلَى خَيْرٍ مِنْ ذَلِكَ؟ قُلْتُ : وَمَا هُوَ؟ قَالَ تَقُولُ : اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ ، أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً رَسُولُ اللَّهِ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً رَسُولُ اللَّهِ ، حَىَّ عَلَى الصَّلاَةِ حَىَّ عَلَى الصَّلاَةِ ، حَىَّ عَلَى الْفَلاَحِ حَىَّ عَلَى الْفَلاَحِ ، اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ
Wahai   Rasulullah  ! tadi malam ,aku bermimpi ada seorang lelaki yang mengenakan dua kain hijau dengan membawa kentongan di tangannya  ,aku berkata :” Wahai hamba Allah ! apakah kamu menjual kentongan itu ?”.
Dia berkata :”Untuk apakah  ? “.
Aku berkata : “Untuk mengundang salat  “.
Dia berkata :” Maukah  kamu ,aku tunjukkan yang lebih baik daripada  itu ? “.
Aku berkata :  Apakah itu ? “.
Bacalah :
تَقُولُ : اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ ، أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً رَسُولُ اللَّهِ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً رَسُولُ اللَّهِ ، حَىَّ عَلَى الصَّلاَةِ حَىَّ عَلَى الصَّلاَةِ ، حَىَّ عَلَى الْفَلاَحِ حَىَّ عَلَى الْفَلاَحِ ، اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّه
ُ HR Ibnu Khuzaimah [1]
وَقَالَ ابْنُ خُزَيْمَةَ فِي صَحِيْحِهِ هَذَا حَدِيْثٌ صَحِيْحٌ ثَاِبتٌ مِنْ جِهَةِ النَّقْلِ ِلأَنَّ مُحَمَّدًا سَمِعَ مِنْ أَبِيْهِ وَابْنُ إِسْحَاقَ سَمِعَ مِنَ التَّيْمِي وَلَيْسَ هَذَا ِممَّا دَلَّسَهُ وَقَدْ صَحَّحَ هَذِهِ الطَّرِيْقَةَ الْبُخَارِي فِيْمَا حَكَاهُ التِّرْمِذِيّ فِي اْلعِلَلِ
Ibnu Khuzaimah dalam kitab sahihnya berkata : Ini hadis sahih yang bisa di tetapkan  dari segi periwayatan . Perawi Muhammad mendengar dari ayahnya  dan Ibnu Ishak mendengar dari Attaimi  dan tidak tergolong hadis tambahannya .Imam Bukhori sendiri menyatakan sahih sebagaimana  di kisahkan oleh Tirmizi dalam kitab al ilal[2]

. ثُمَّ اسْتَأْخَرَ غَيْرَ كَثِيرٍ ثُمَّ قَالَ مِثْلَ مَا قَالَ ، ثُمَّ جَعَلَهَا وِتْراً إِلاَّ أَنَّهُ قَالَ : قَدْ قَامَتِ الصَّلاَةُ قَدْ قَامَتِ الصَّلاَةُ ، اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ ، فَلَمَّا خَبَّرَ بِهَا رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ :« إِنَّهَا لَرُؤْيَا حَقٌّ إِنْ شَاءَ اللَّهُ ، فَقُمْ مَعَ بِلاَلٍ فَأَلْقِهَا عَلَيْهِ ، فَإِنَّهُ أَنْدَى صَوْتاً مِنْكَ ». فَلَمَّا أَذَّنَ بِلاَلٌ سَمِعَهَا عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ وَهُوَ فِى بَيْتِهِ فَخَرَجَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَهُوَ يَجُرُّ إِزَارَهُ وَهُوَ يَقُولُ : يَا نَبِىَّ اللَّهِ وَالَّذِى بَعَثَكَ بِالْحَقِّ لَقَدْ رَأَيْتُ مِثْلَ مَا رَأَى. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- :« فَلِلَّهِ الْحَمْدُ فَذَاكَ أَثْبَتُ »
Malaikat tadi mundur , lalu berkata apa yang dia katakan : < lalu di jadikan ganjil dan ada tambahannya  yaitu : Qad qamatis sholat X2  Allahu akbar – Allahu akbar  la ilaha illallah .
Ketika Rasulullah SAW  di beri tahu , maka  beliau bersabda:
Sesungguhnya ia impian yang benar , insya Allah ! , berdirilah dan ajarkan kepada Bilal . sesungguhnya dia bersuara lebih  keras dari pada kamu .
Ketika Bilal menyampaikan adzan , maka Umar bin Al Khotthob mendengarnya , lalu menarik sarungnya seraya  berkata : Wahai Nabiyullah ,  Demi Tuhan yang mengutusmu dengan benar , sungguh aku bermimpi sebagaimana  dia mimpi .
Rasulullah SAW bersabda : Al Hamdulillah , hal itu lebih mantap .[3]

 Rasulullah SAW tidak mau menggunakan lonceng . kentongan  , trompet atau corong karena  sudah di lakukan  oleh non muslim dalam acara memanggil orang banyak untuk acara kebaktian .Bila sekiranya bedug itu  , asal usulnya budaya Cina  , India yang kafir , maka tidak layak di taruh di tempat peribadatan kaum muslimin . Jadi memukul bedug , kentongan untuk memanggil orang – orang yang salat adalah langkah yang harus di tinggalkan , karena menyerupai non muslim . Ia bid`ah yang di import dari non muslim.
Fatwa muktamar NU yang saya lihat di sini adalah ngambang sekali , kurang tegas dan tidak mengambil  refrensi atau tex dari refrensi yang akurat .Sulit mencari dalil yang memperbolehkan bedug .
 Saya  condong kalau bedug itu termasuk  kebudayaan  Cina karena  PT Jarum rokok mensponsori Festival bedug  atau kirap bedug dan saya dengar mengarak bedug terbesar . Karena ia budaya non muslim , maka  harus di berikan kepada mereka , tidak usah kita miliki apalagi sebagai syi`ar Islam . Kita berpegangan kepada hadis :
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
Barang siapa  menyerupai suatu kaum , maka tergolong mereka . [4]
Dan kita juga tidak boleh simpati dengan mereka sebagaimana ayat :
وَلاَ تَرْكَنُوا إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ وَمَا لَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ مِنْ أَوْلِيَاءَ ثُمَّ لاَ تُنْصَرُونَ
Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolongpun selain daripada Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan.[5]

لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ مَنْ قَبْلَكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ سَلَكُوا جُحْرَ ضَبٍّ لَسَلَكْتُمُوهُ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ فَمَنْ
Sungguh kamu sekalian akan mengikuti  prilaku bangsa sebelummu  sejengkal demi sejengkal, selengan demi selengan  hingga mereka masuk ke lobang biawak, kamu akan mengikutinya . Kami berkata : “  Wahai   Rasulullah  !  Yahudi dan Nasrani ?  Rasul  menjawab : “ Siapa lagi “. [6]

B.   Mun’im DZ menyatakan :
pemakaian kedua alat tersebut di masjid-masjid sangat diperlukan untuk memperbesar syiar Islam.
Komentarku ( Mahrus ali ) :

Tidak memakai bedug , islam tetap jaya , lihat saja di Saudi arabia yang suaru – suraunya bertebaran di perkampungan , dan tiada satupun yang memakai kentongan atau bedug . Jadi tidak benar , bila bedug merupakan  syi`ar Islam , malah sebaliknya . Masjid tanpa bedug lebih islami karena tiada unsur budaya lokal yang aslinya dari budha .


[1] Sahih Ibnu Khuzaimah 192/1   , Sunan Darimi 1232
[2] Aunul ma`buid  122/2
[3] Sunan Darimi  1332  Sahih Ibnu Huzaimah  370
[4]  HRAbu Dawud  / 4031.
[5] Hud 113
[6]  Muttafaq  alaih

Selasa, September 27, 2011

Kedustaan dlm wasiat Imam Ghozali


Imam Ghazali terbangun pada dini hari dan sebagaimana biasanya melakukan shalat dan kemudian beliau bertanya pada adiknya, “Hari apakah sekarang ini?”

Adiknya pun menjawab,
“Hari senin.”

Beliau kemudian memintanya untuk mengambilkan sajadah putihnya, lalu beliau menciumnya, Menggelarnya dan kemudian berbaring diatasnya s
…ambil berkata lirih, “Ya Allah, hamba mematuhi perintahMu,”

… dan beliau pun menghembuskan nafas terakhirnya.Di bawah bantalnya mereka menemukan bait-bait berikut, ditulis oleh Al-Ghazali ra., barangkali pada malam sebelumnya.

“Katakan pada para sahabatku, ketika mereka melihatku, mati Menangis
Ini hanyalah rumah dan pakaian untukku dan berduka bagiku

Janganlah mengira bahwa jasad yang kau lihat ini adalah aku

Dengan nama Allah, kukatakan padamu, ini bukanlah aku,

Aku adalah jiwa, sedangkan ini hanyalah seonggok daging
ku sementara waktu.

Aku adalah harta karun, jimat yang tersembunyi,
Dibentuk oleh debu ,yang menjadi singgasanaku,

Aku adalah mutiara, yang telah meninggalkan rumahnya,

Aku adalah burung, dan badan ini hanyalah sangkar ku

Dan kini aku lanjut terbang dan badan ini kutinggal sbg kenangan

Puji Tuhan, yang telah membebaskan aku
Dan menyiapkan aku tempat di surga tertinggi,
Hingga hari ini , aku sebelumnya mati, meskipun hidup diantara mu.

Kini aku hidup dalam kebenaran, dan pakaian kubur ku telah ditanggalkan.

Kini aku berbicara dengan para malaikat diatas,
Tanpa hijab, aku bertemu muka dengan Tuhanku.

Aku melihat Lauh Mahfuz, dan didalamnya ku membaca

Apa yang telah, sedang dan akan terjadi.
Biarlah rumahku runtuh, baringkan sangkarku di tanah,

Buanglah sang jimat, itu hanyalah sebuah kenang2an, tidak lebih

Sampingkan jubahku, itu hanyalah baju luar ku,
Letakkan semua itu dalam kubur, biarkanlah terlupakan

Aku telah melanjutkan perjalananku dan kalian semua tertinggal.

Rumah kalian bukanlah tempat ku lagi.
Janganlah berpikir bahwa mati adalah kematian, tapi itu adalah kehidupan,

Kehidupan yang melampaui semua mimpi kita disini,
Di kehidupan ini, kita diberikan tidur,

Kematian adalah tidur, tidur yang diperpanjang
Janganlah takut ketika mati itu mendekat,

Itu hanyalah keberangkatan menuju rumah yang terberkati ini

Ingatlah akan ampunan dan cinta Tuhanmu,
Bersyukurlah pada KaruniaNya dan datanglah tanpa takut.

Aku yang sekarang ini, kau pun dapat menjadi
Karena aku tahu kau dan aku adalah sama
Jiwa-jiwa yang datang dari Tuhannya
Badan badan yang berasal sama
Baik atapun jahat, semua adalah milik kita
Aku sampaikan pada kalian sekarang pesan yang menggembirakan

Semoga kedamaian dan kegembiraan Allah menjadi milikmu selamanya.

Source http://www.ghazali.org/
Shared By Catatan Catatan Islami Pages
BULAN CAHAYA
Komentarku ( Mahrus ali ) :
Sebetulnya sulit sekali untuk membenarkan atau menyalahkan  bahwa wasiat itu adalah  wasiat Ghozali atau orang lain  , karena dalam artikel itu tidak di sebutkan refrensinya yang akurat , benar atau salah itulah realitanya dlm blog Bulan cahaya. Saya  juga belum menjumpai sumber dari kitab arabnya.
Tapi bila saya biarkan saja tanpa komentar akan membikin persepsi   seolah saya meng iyakan . Pada hal  , dlm hati bukan dalam pembicaraan  , belum tentu membenarkan . Mungkin menyalahkan total atau sebagiannya .
Ada juga rasa kurang berkenan dlm qalbu dan janggal dlm pikiran , namun bila saya biarkan terpendam di dalam keduanya , tidak saya tulis  , ber arti saya termasuk orang yang kurang peduli terhadap kebenaran lalu membiarkan kesalahan ini menyesatkan umat . Na`uudzu billah  bukan al hamdulillah  . Saya harus bela umat bukan mengambil manfaat dari umat  , juga bukan mengarahkannya kepada sesuatu yang menyesatkan.
Saya ingat firmanNya :
وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), kamu akan berpisah dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa.[1]
قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ
Katakanlah: "Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik".[2]

Dalam artikel itu di katakan :
Aku adalah harta karun, jimat yang tersembunyi,
Dibentuk oleh debu ,yang menjadi singgasanaku,

Komentarku ( Mahrus ali ) :

Ini kurang tepat  ya`ni salah total dari Ghozali atau lainnya  , sebab jimat itu kesyirikan yang nyata , bukan tauhid yang  samar . Jimat itu di larang 

dengan ayat :
وَاتَّبَعُوا مَا تَتْلُو الشَّيَاطِينُ عَلَى مُلْكِ سُلَيْمَانَ وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ وَمَا أُنْزِلَ عَلَى الْمَلَكَيْنِ بِبَابِلَ هَارُوتَ وَمَارُوتَ وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّى يَقُولاَ إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلاَ تَكْفُرْ فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ وَمَا هُمْ بِضَارِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلاَّ بِإِذْنِ اللهِ وَيَتَعَلَّمُونَ مَا يَضُرُّهُمْ وَلاَ يَنْفَعُهُمْ وَلَقَدْ عَلِمُوا لَمَنِ اشْتَرَاهُ مَا لَهُ فِي اْلآخِرَةِ مِنْ خَلاَقٍ وَلَبِئْسَ مَا شَرَوْا بِهِ أَنْفُسَهُمْ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan itulah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: "Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir". Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan isterinya. Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui.[3]

  Komisi fatwa Saudi menyatakan : Tidak diperkenankan melakukan hal tsb karena ada ukiran yang  tidak di ketahui artinya  . Terkadang mengandung kesyirikan  dan ia juga memuat dzikir yang tiada tuntunannya . Seluruhnya itu di haramkan  dan tidak boleh di lakukan . Barang siapa yang terpedaya untuk menjalankannya , maka harus menghindarinya dan harus bertobat . [4]

   Muhammad Syamsul haq Al adhim   berkata :
…………. Atau kertas yang di tulisi  sesuatu  dari sihir untuk mahabbah adalah syirik . Masing – masing juga mendatangkan kesyirikan secara langsung atau  tidak . Itulah budaya jahiliyah . [5]

Dalam  artikel itu di katakan :

Puji Tuhan, yang telah membebaskan aku
Dan menyiapkan aku tempat di surga tertinggi,

Komentarku ( Mahrus ali ) :

Ini juga kurang etis , seolah Ghozali  termasuk orang yang di jamin bisa masuk surga bukan masuk neraka . Hakikatnya bukan prediksinya , belum tentu , tidak bisa di pastikan. Apalagi kalau di lihat dari karya tulisnya berupa  kitab Ihya` yang penuh dengan noda dan syirik bukan bintik putih dan tauhid , penuh  dengan  hadis palsu dan lemah .
Bacalah di sini lagi :
28 Mei 2011
10 Apr 2011
Atas dasar hadis yang sangat lemah ini , Imam Ghozali menganjurkan salat hajat [5]. Bahkan nilai hadis tersebut menurut Abul faraj adalah palsu . sebab salah satu perawinya terdapat seorang bernama Aban . Imam Syu`bah berkata : Aku ...


Dalam artikel itu juga di katakan :

Kini aku berbicara dengan para malaikat diatas,
Tanpa hijab, aku bertemu muka dengan Tuhanku.

Komentarku ( Mahrus ali ) :

Itulah wasiat yang ngelantur , berbicara  dengan malaikat di atas , mana dalilnya  dari quran atau hadis , apalagi bertemu dengan Allah tanpa hijab . Ini semua butuh dalil yang mengokohnya bukan sekedar ngomong tanpa dalil seperti ahli bid`ah gitu .
Bertemu dengan Allah setahu  saya di surga kelak sebagaimana ayat :
وُجُوْهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ
“Wajah mereka (orang-orang mu’min) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka melihat.”

Didalam artikel itu di katakan :
Aku melihat Lauh Mahfuz, dan didalamnya ku membaca

Komentarku ( Mahrus ali ) :

Itu juga wasiat yang ngawur , siapa  yang pernah baca di loh mahfud , para  sahabat saja bukan tabiin , apalagi kita  tidak begitu , apalagi al Ghozali yang akidahnya masih di pertentangkan bukan di benarkan   di kalangan ahli hadis .


[1]  Alan`am  153
[2] Yusuf 108
[3] Al Baqarah 102
[4] Lajnah da`imah lil buhuts al ilmiyah wal ifta` assa`udiyah ‎  4798
[5] Aunul ma`bud 262/10