Meluruskan Ritual-ritual Ahli Bid'ah yang dianggap Sunnah. Menggugat sholawat dan dzikir syirik. Menyampaikan pengkajian hadis secara jujur dan ilmiyah Pergilah ke blog ke II : www.mantankyainu2.blogspot.com
Tampilkan postingan dengan label Salafi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Salafi. Tampilkan semua postingan
Senin, November 27, 2023
Rabu, Mei 28, 2014
Berlomba dengan" Salafy"
By Asqi Resnawan
on 4:20 AM

By: Junaedi Putra
apa yang terlintas dalam benak anda jika disebut kata "bid'ah", "sesat", dan berbagai vonis lainnya?
sebagian orang akan langsung ingat dengan sebuah harokah yang menamai dirinya dengan sebutan "salafi".
tidak sepenuhnya salah memang mengingat memang "salafi" ini sangat gemar mengumbar vonis sesat, bid'ah, dll kepada harokah lain. sehingga hampir semua harokah mendapatkan sebutan itu kecuali harokahnya sendiri.
image ini muncul sebagai akibat dari hal yang selalu diulang bertahun-tahun.
sehingga akhirnya kiyai-kiyai NU turun tangan dan menjelaskan masalahnya dengan perspektifnya. dan harokah-harokah lain pun turun tangan untuk menjelaskan masalahnya satu persatu.
dulu, jika kita membaca situs milik ustadz salafi, maka dada kita akan dibuat sesak karena begitu mudahnya mereka mengumbar vonis kepada saudara seiman.
tapi perlu dicatat, itu dulu. sekarang? saya melihat mereka mulai berubah. cara dakwahnya mulai "merakyat", dan mengedepankan basyir daripada nadzir.
mereka kini sudah membedakan mana yang ushul dimana harus tegas, dan dimana hal furu' yang memungkinkan adanya ikhtilaf dalam memahami dalil dan mereka menerimanya.
jika ingin buktinya, silakan buka user youtube yg satu ini
http://www.youtube.com/user/moslemchannel/videos
dalam situs ini terdapat ratusan bahkan ribuan video yang menjelaskan ttg keislaman dengan "gaya" yang lebih "renyah" dan lebih berfokus untuk mentarbiyah bukan memvonis.
jika anda melihat user youtube yang satu ini, maka anda akan lebih kaget lagi
http://www.youtube.com/user/yufidedu/videos
di user ini kita disuguhkan pelajaran biologi, fisika, dll dengan gaya yang sangat "renyah", ada juga pelajaran bahasa arab, dll.
singkatnya, saya melihat bahwa "gaya" dakwah "salafi" mulai berubah dari yang terlihat "sangar" menjadi "teduh".
saya melihat ini adalah sebuah kemajuan yang sangat luar biasa. perlu saya apresiasi.
bukan hanya itu, "salafi" yang dikenal sangat anti demokrasi bahkan mengharamkannya dan mengharamkan seluruh yg berkaitan dg demokrasi termasuk pileg, pilpres,dll. kini mereka terus belajar dan akhirnya mereka menyadari bahwa ada "pertarungan" besar dalam setiap pemilihan itu.
walaupun sistem pemilu bukanlah sistem yang ideal, namun itu adalah pertarungan dan harus dimenangkan oleh kaum muslimin.
sehingga kita bisa melihat di pileg kemarin ust Firanda terang2an menyerukan kepada umat islam untuk memilih PKS.
dan di pilpres ini lebih dahsyat lagi, hampir seluruh ustadz salafi menyatakan dukungannya kepada prabowo.
di sisi lain saya melihat budaya kritik dan nasihat sangat subur di kalangan ulama "salafi". sehingga jika mereka menemukan kesalahan siapapun termasuk temannya sendiri maka akan ditegurnya. jika kesalahannya sudah tersebar luas, maka akan ditegur secara terbuka.
hal ini sangat bagus menurut saya. karena memang beginilah seharusnya kaum muslimin bersikap, selalu memperbaiki diri, dan bersikap terbuka dalam menerima semua kritik.
salafi sudah memperbaiki diri, dan melesat jauh.
bagaimana dengan harokah lain?
wa fii dzalika fal yatanafasihil mutanafishun
(dan pada yang demikianlah seharusnya orang yang suka berlomba-lomba, berlomba-lomba)
fastabiqul khoirot
(berlomba-lombalah dalam kebaikan)
apa yang terlintas dalam benak anda jika disebut kata "bid'ah", "sesat", dan berbagai vonis lainnya?
sebagian orang akan langsung ingat dengan sebuah harokah yang menamai dirinya dengan sebutan "salafi".
tidak sepenuhnya salah memang mengingat memang "salafi" ini sangat gemar mengumbar vonis sesat, bid'ah, dll kepada harokah lain. sehingga hampir semua harokah mendapatkan sebutan itu kecuali harokahnya sendiri.
image ini muncul sebagai akibat dari hal yang selalu diulang bertahun-tahun.
sehingga akhirnya kiyai-kiyai NU turun tangan dan menjelaskan masalahnya dengan perspektifnya. dan harokah-harokah lain pun turun tangan untuk menjelaskan masalahnya satu persatu.
dulu, jika kita membaca situs milik ustadz salafi, maka dada kita akan dibuat sesak karena begitu mudahnya mereka mengumbar vonis kepada saudara seiman.
tapi perlu dicatat, itu dulu. sekarang? saya melihat mereka mulai berubah. cara dakwahnya mulai "merakyat", dan mengedepankan basyir daripada nadzir.
mereka kini sudah membedakan mana yang ushul dimana harus tegas, dan dimana hal furu' yang memungkinkan adanya ikhtilaf dalam memahami dalil dan mereka menerimanya.
jika ingin buktinya, silakan buka user youtube yg satu ini
http://www.youtube.com/user/moslemchannel/videos
dalam situs ini terdapat ratusan bahkan ribuan video yang menjelaskan ttg keislaman dengan "gaya" yang lebih "renyah" dan lebih berfokus untuk mentarbiyah bukan memvonis.
jika anda melihat user youtube yang satu ini, maka anda akan lebih kaget lagi
http://www.youtube.com/user/yufidedu/videos
di user ini kita disuguhkan pelajaran biologi, fisika, dll dengan gaya yang sangat "renyah", ada juga pelajaran bahasa arab, dll.
singkatnya, saya melihat bahwa "gaya" dakwah "salafi" mulai berubah dari yang terlihat "sangar" menjadi "teduh".
saya melihat ini adalah sebuah kemajuan yang sangat luar biasa. perlu saya apresiasi.
bukan hanya itu, "salafi" yang dikenal sangat anti demokrasi bahkan mengharamkannya dan mengharamkan seluruh yg berkaitan dg demokrasi termasuk pileg, pilpres,dll. kini mereka terus belajar dan akhirnya mereka menyadari bahwa ada "pertarungan" besar dalam setiap pemilihan itu.
walaupun sistem pemilu bukanlah sistem yang ideal, namun itu adalah pertarungan dan harus dimenangkan oleh kaum muslimin.
sehingga kita bisa melihat di pileg kemarin ust Firanda terang2an menyerukan kepada umat islam untuk memilih PKS.
dan di pilpres ini lebih dahsyat lagi, hampir seluruh ustadz salafi menyatakan dukungannya kepada prabowo.
di sisi lain saya melihat budaya kritik dan nasihat sangat subur di kalangan ulama "salafi". sehingga jika mereka menemukan kesalahan siapapun termasuk temannya sendiri maka akan ditegurnya. jika kesalahannya sudah tersebar luas, maka akan ditegur secara terbuka.
hal ini sangat bagus menurut saya. karena memang beginilah seharusnya kaum muslimin bersikap, selalu memperbaiki diri, dan bersikap terbuka dalam menerima semua kritik.
salafi sudah memperbaiki diri, dan melesat jauh.
bagaimana dengan harokah lain?
wa fii dzalika fal yatanafasihil mutanafishun
(dan pada yang demikianlah seharusnya orang yang suka berlomba-lomba, berlomba-lomba)
fastabiqul khoirot
(berlomba-lombalah dalam kebaikan)
Komentarku ( Mahrus ali ):
Setahu saya, kebenaran tetap satu, bukan dua atau tiga.
Kita berpegangan kepada ayat:
فَمَاذَا بَعْدَ الْحَقِّ إِلاَّ الضَّلاَلُ
فَأَنَّى تُصْرَفُونَ
maka tidak ada
sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan. Maka bagaimanakah kamu dipalingkan
(dari kebenaran)?
Ajaran selain Islam
adalah ajaran hawa nafsu yang menyesatkan . Allah berfirman :
ثُمَّ جَعَلْنَاكَ عَلَى شَرِيعَةٍ مِنَ
اْلأَمْرِ فَاتَّبِعْهَا وَلاَ تَتَّبِعْ أَهْوَاءَ الَّذِينَ لاَ يَعْلَمُونَ
Kemudian Kami jadikan
kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama) itu, maka
ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak
mengetahui.
Ajaran selain Islam
mengajak ke fasikan sebagaimana ayat :
وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللهُ
فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
Barangsiapa tidak
memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah
orang-orang yang fasik.
Hukum selain dari
Allah adalah hukum Iblis . Allah berfirman :
فَالْحُكْمُ لِلَّهِ الْعَلِيِّ الْكَبِيرِ
maka putusan
(sekarang ini) adalah pada Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.
ذَلِكَ بِأَنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا
اتَّبَعُوا الْبَاطِلَ وَأَنَّ الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّبَعُوا الْحَقَّ مِنْ
رَبِّهِمْ كَذَلِكَ يَضْرِبُ اللهُ لِلنَّاسِ أَمْثَالَهُمْ
Yang demikian adalah
karena sesungguhnya orang-orang kafir mengikuti yang batil dan sesungguhnya
orang-orang yang beriman mengikuti yang hak dari Tuhan mereka. Demikianlah
Allah membuat untuk manusia perbandingan-perbandingan bagi mereka.
Kerusakan suatu kaum
karena kebenaran dulu, sekarang di
salahkan dan kesalahan dulu lalu sekarang dibenarkan. Ini namanya tahrif yang dilakukan kaum Yahudi sebagaimana ayat:
فَبِمَا نَقْضِهِمْ مِيثَاقَهُمْ لَعَنَّاهُمْ وَجَعَلْنَا
قُلُوبَهُمْ قَاسِيَةً يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ وَنَسُوا حَظًّا
مِمَّا ذُكِّرُوا بِهِ وَلَا تَزَالُ تَطَّلِعُ عَلَى خَائِنَةٍ مِنْهُمْ إِلَّا
قَلِيلًا مِنْهُمْ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاصْفَحْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ
الْمُحْسِنِينَ
(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuk mereka,
dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka merobah perkataan
(Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa
yang mereka telah diperingatkan dengannya, dan kamu (Muhammad) senantiasa akan
melihat kekhianatan dari mereka kecuali sedikit di antara mereka (yang tidak
berkhianat), maka maafkanlah mereka dan biarkanlah mereka, sesungguhnya Allah
menyukai orang-orang yang berbuat baik.[1]
Kamis, Januari 23, 2014
Inilah Hasil Kesepakatan Perundingan Antara Hang FM Dengan Muslimin Ahlussunnah dan FPI Kota Batam
Alhamdulillah pada
hari ini telah terjadi pertemuan penting terkait konflik antara Hang FM Batam yang berhadapan dengan Umat
Islam Ahlussunnah wal Jama’ah (ASWAJA) dan Front Pembela Islam (FPI) Kota
Batam.
Ruang rapat
dilantai 4 kantor Walikota Batam pada Rabu pagi (22/1/2014) dipenuhi oleh
rombongan Ahlul Sunnah Wal Jamaah (ASWAJA) serta Front Pembela Islam (FPI) Kota
Batam.
Dalam pertemuan
antara Muslimin Ahlul Sunnah Wal Jamaah (ASWAJA), Front Pembela Islam Kota
Batam, KPID Kepri (Komisi Penyiaran Indonesia Daerah Kepulauan Riau), MUI (Majelis
Ulama Indonesia), Pemerintah/ Perwakilan Walikota Batam, Polda Kepri serta
berbagai ormas Islam dan tokoh-tokoh masyarakat, meminta dan mendesak untuk
menutup segera Radio Hang FM Batam yang dianggap menyesatkan umat Islam dalam
suatu program siaran mereka.
Ustad Basyir juru
bicara Front Pembela Islam (FPI) Kota Batam mengatakan,
”Radio
Hang FM sudah bertahun-tahun melakukan siaran dakwah yang menyesatkan umat
muslim kota
Batam dan ini seperti sebuah racun. Kalau ini tak dihentikan, ini bakalan
rusak ketaqwaan serta keimanan umat muslim di kota Batam. Makanya pagi ini kami datang ke
Walikota untuk segera menutup Radio Hang FM yang tak boleh dibiarkan lama-lama”, katanya.
Sementara itu,
Komisioner KPID Kepri Zamhur ketika dijumpai di Kantor Walikota Batam
mengatakan,
”Yang berhak
menutup atas radio Hang FM adalah Balai
Spektrum dan Orbit (Balmon), kalau kami hanya sebagai pelaksana Izin Penyiaran
Radio , katanya.
Zamhur mengatakan
bahwa tugas kami adalah memberikan sangsi berupa surat teguran 1 atas radio Hang FM dan
merubah isi materi program siaran mereka. Dan yang lebih berhak lagi untuk
menutup adalah melalui Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara melalui jalur
hukum bila pihak Ahlul Sunnah Wal Jamaah (ASWAJA) serta Front Pembela Islam
(FPI) Kota Batam tetap memaksakan.
Sementara itu
Direktur PT.Radio Media
Hang FM mengatakan,
“Saya bersedia
menjalani pegambilan sumpah, seandainya ada suatu kesalahan yang kami buat dan
kami minta maaf kepada umat muslim Kota Batam, Ahlul Sunnah Wal Jamaah (ASWAJA)
serta Front Pembela Islam Kota Batam”.
Dalam kelanjutan
rapat pertemuan tersebut setelah sholat, pihak KPID Kepri, PT.Radio Media Hang FM, MUI, Pemerintah
Kota Batam, Muslimin Ahlul Sunnah Wal Jamaah (ASWAJA) dan Front Pembela Islam
(FPI) Kota Batam membuat suatu kesepakatan yang harus dilakukan oleh Radio Hang
FM yang intinya adalah Hang FM Batam akan meminta maaf dan tidak akan lagi
menyiarkan hal-hal yang bersifat Khilafiyah.
Adapun hasil
kesepakatan bersama yang harus dilakukan oleh Hang FM Batam, diantaranya:
1.
Hang FM Batam harus meminta maaf secara terbuka melalui media masa
cetak dan lembaga penyiaran Hang FM kepada umat Islam khususnya Ahlul Sunnah
Wal Jamaah (ASWAJA) selama satu (1) Bulan 5 x sehari.
2.
Apabila terjadi pelanggaran yang dilakukan oleh siaran radio Hang FM
dengan menyebutkan kata Bid’ah, Syirik, Murtad, Sesat, dan kata-kata siaran
yang mengarah pada pertentangan aliran, dan keyakinan, maka KPID Kepri AKAN
SEGERA MEMPROSES PENUTUPAN RADIO HANG FM BATAM.
3.
Apabila KPID Kepri tidak melakukan penutupan sebagaimana butir 2
diatas. Dalam jangka 2×24 jam maka Muslimin Ahlussunnahh wal Jama’ah (ASWAJA)
dan seluruh umat Muslim Kota Batam khususnya akan melakukan penutupan
radio Hang FM.
Sampai sore hari
pembahasan tersebut masih berlangsung di raung rapat lantai 4 Walikota Batam.
Alhamdulillah,
umat Islam patut bersyukur atas kesepakatan damai ini. Allohu Akbar, Allohu
Akbar, Allohu Akbar, Terimakasih Ya Allah, Engkau telah memenangkan Muslimin
Ahlussunnah wal Jama’ah Batam. Semoga ini adalah awal kebangkita umat Islam
Ahlussunnah di seluruh pelosok NUsantara.
Perlu diketahui
Radio Hang FM Batam adalah salah satu radio yang menganut paham Wahabi Salafi
yang jika ditelusuri sejarah paham ini akan sama dengan paham Syiah yang
sama-sama dibentuk dan didukung Yahudi berlabel Islam. Tujuan mereka satu,
untuk memecah belah umat Islam dari dalam dengan jalan menuduh sesat, bid’ah,
syirik, dan kafir terhadap umat Islam yang berbeda paham. Dengan dalih dan
semboyannya yang khas seperti “Kembali Kepada Qur’an dan Sunnah Sesuai
Pemahaman Salafush Sholeh” atau “Penegak Tauhid” dan sejenisnya, paham Wahabi
hanya mau taqlid kepada guru dan ulamanya sendiri seperti Syaikh Muhammad bin
Abdul Wahab, Ibnu Taimiyah, Syaikh Nashiruddin Al-Albani, Syaikh Utsamain, dan
lain sebagainya serta cenderung melawan arus pemahaman ulama ahlussunnah wal jama’ah
yang dianut mayoritas umat Islam seluruh dunia.
Sumber: http://www.elhooda.net/2014/01/inilah-hasil-kesepakatan-perundingan-antara-hang-fm-dengan-muslimin-ahlussunnah-dan-fpi-kota-batam/
Komentarku ( Mahrus ali):
Aneh bukan masalah yang wajar bila
menerangkan bid`ah, syirik, kufur tidak diperbolehkan. Maunya yang syirik
biarkan saja, jangan dibahas. Bid`ah biarkan saja, jangan di
perbencangkan. Kufur biarkan saja, jangan di olok – olok. Ini langkah paling
jelek bukan paling baik.
Mereka memusuhi salafy wahabi yang ber amar ma`ruf dan nahi
mungkar sesuai dengan dalil, bahkan dakwahnya di berhentikan lalu dakwah
kebid`ahan, kesyirikan dan kekufuran dibiarkan. Aneh mereka musuh sama salafy tapi akrab dengan kristen, bahkan menjaga grejanya.
Saya ingat firmanNya:
ذَٰلِكُم بِأَنَّهُ إِذَا دُعِيَ اللَّهُ
وَحْدَهُ كَفَرْتُمْ ۖ وَإِن يُشْرَكْ بِهِ تُؤْمِنُوا ۚ
فَالْحُكْمُ لِلَّهِ الْعَلِيِّ الْكَبِيرِ
Yang demikian itu adalah karena kamu
kafir apabila Allah saja yang di mintai . Dan kamu percaya apabila Allah
dipersekutukan. Maka putusan (sekarang ini) adalah pada Allah Yang Maha Tinggi
lagi Maha Besar. Ghafir 12
088803080803.( Smartfren) 081935056529 ( XL )
Dengarkan pengajian - pengajianku
Alamat rumah: Tambak sumur 36 RT 1 RW1 Waru Sidoarjo. Jatim.Jumat, Desember 13, 2013
Beberapa catatan atas pemikiran "ulama deradikalisasi" BNPT dari Timur Tengah -
Oleh
: Muhammad Abdullah (Pemerhati
isu-isu jihad Islam)
(Arrahmah.com) - BNPT mendatangkan tiga ulama Timur Tengah dalam
rangkaian program deradikalisasi terhadap para narapidana “terorisme” di Indonesia.
Ketiga ulama tersebut adalah Ali Hasan Al-Halabi (ulama kelompok salafi
Yordania, dikenal luas sebagai tokoh Murjiah kontemporer), dr. Najih Ibrahim
(mantan pendiri dan pimpinan Jama’ah Islamiyah Mesir, pernah mendekam 25 tahun
penjara di era diktator sekuler Husni Mubarak) dan Hisyam An-Najjar (sumber
situs Salafi Mesir menyatakan dia ulama kelompok salafi dan caleg partai Salafi
An-Nur dari provinsi Alexandria, namun penerjemah BNPT menyatakan ia adalah
mantan jubir resmi Jama’ah Islamiyah Mesir).
Para ulama BNPT berada di Indonesia dari 8-14
Desember 2013, ketiganya melakukan dialog dengan napi “terorisme”
di LP Cipinang dan Nusakambangan, menggelar konferensi Internasional di UI
Depok dan melakukan wawancara media dengan Metro TV.
Ada beberapa hal yang perlu dicatat dari kegiatan “deradikalisasi” ketiga ulama Timteng tersebut di Indonesia.
Ada beberapa hal yang perlu dicatat dari kegiatan “deradikalisasi” ketiga ulama Timteng tersebut di Indonesia.
Ali Hasan Al-Halabi
(ulama kelompok salafi Yordania, dikenal luas sebagai tokoh Murjiah
kontemporer)
Pertama, kehadiran ketiganya di Indonesia adalah atas inisiatif dan
undangan BNPT. Maka tujuan ketiganya, walau mereka menegaskan semata-mata
datang karena rasa cinta dan menginginkan kebaikan bagi para napi “terorisme”
dan kaum Muslimin Indonesia, tak bisa dilepaskan dari agenda dan
program-program BNPT. Islam mengajarkan kita untuk menilai seseorang dari
zhahirnya. Jika seseorang datang kepada kita di atas kendaraan perang musuh,
sudah wajar bahkan seharusnya bagi kita untuk waspada, curiga dan menilai
secara lahiriahnya.
Kedua, ketiga ulama tersebut berbicara tentang dua tema sentral; takfir
(pengkafiran) dan tafjir (peledakan). Mereka berkelit bahwa mereka
tidak sedang memposisikan para napi “terorisme” sebagai para teroris yang
serampangan mengkafirkan kaum muslimin. Mereka berdalih bahwa takfir dan
tafjir pada saat ini merupakan perkara yg menjadi gejala umum, bukan
saja di Indonesia, namun
juga di Mesir, Tunisia,
Libya,
Yordania, Aljazair dan lain-lain. Setiap hari atau setiap pekan ada penyerangan
terhadap tentara dan polisi serta perusakan gereja di Mesir.
Frame berfikir mereka tersebut jelas-jelas
versi Barat dan kelompok anti Islam. Selain juga sangat bertentangan dengan
fakta di lapangan, terlebih di Mesir sendiri. Ketiga ulama tersebut masih
terkungkung oleh frame Barat dan anti-Islam yang mendefinisikan terorisme
sebagai “gerakan yang mengangkat senjata utk membela kaum Muslimin, tanah air
kaum Muslimin dan menegakkan syariat Islam.”
Kasus napi “terorisme” di Indonesia
misalnya, sangat beragam latar belakang dan faktanya. Contoh, sebagiannya
adalah kasus jihad membela kaum Muslimin dari serangan Nasrani di Poso dan Ambon. Dalam Islam itu adalah jihad membela diri yang
disyariatkan. Sebagiannya adalah kasus latihan “militer” di Aceh, dalam Islam
terhitung I’dad yang juga diperintahkan Allah Ta’ala. Sebagian lainnya adalah
juru dakwah yang mendakwahkan tauhid dan penegakan syariat. Sebagian lainnya
adalah kasus anggota POLRI yang terlibat kasus jual beli senjata untuk mengisi
kantong pribadi. Dan ada kasus-kasus lainnya yg beragam latar dan faktanya.
dr. Najih Ibrahim
(mantan pendiri dan pimpinan Jama’ah Islamiyah Mesir, pernah mendekam 25 tahun
penjara di era diktator sekuler Husni Mubarak)
Memukul rata semua kasus sebagai “terorisme”
dan dikait-kaitkan dengan takfir dan tafjir jelas tidak akan
dilakukan oleh ulama yang obyektif, jujur, amanah dan paham realita.
Sangat wajar jika kemudian umat Islam
mempertanyakan kepada ketiga ulama tersebut; Kenapa Anda tidak membicarakan
penyerangan dan kebiadaban milisi Nasrani terhadap kaum Muslimin di Poso dan
Maluku? Kenapa Anda tidak membicarakan hukum syariat dalam masalah latihan
“militer”? Kenapa Anda tidak membicarakan latihan militer orang-orang Nasrani
dan Syiah di Indonesia? Kenapa pula Anda tidak membicarakan kegigihan rezim Indonesia sejak
dulu sampai sekarang dalam memerangi usaha penegakan syariat? Dan banyak
pertanyaan lainnya yang sangat layak ditanyakan kepada ketiga ulama tersebut.
Setidaknya ketiganya berbicara hanya menurut
data dan informasi sepihak dari pihak pengundang, BNPTN yg jelas2 sangat anti
Islam.
Ketiga, tentang definisi terorisme dan sosok teroris. Pasca
serangan 9/11 para pengamat, illmuwan dan warga negara Barat semakin banyak
yang memahami bahwa kebencian kaum Muslimin dan peperangan kaum Muslimin
(mujahidin atau biasa dituding “teroris”) terhadap Amerika, Israel, Inggris,
Perancis dan Barat bukanlah karena faktor mereka sebagai warga negara Barat.
Namun disebabkan kezaliman-kezaliaman dan serangan-serangan Barat sendiri
terhadap kaum Muslimin. Utamanya sekali di Palestina, Irak dan Afghanistan.
Kebiadaban penjajah Yahudi yang menduduki
Palestina dengan dukungan Inggris dan restu negara-negara adidaya dunia seperti
Amerika, Perancis dan Rusia lewat PBB pada 1948 sampai saat ini. Pembantaian
penjajah Yahudi terhadap jutaan kaum Muslimin Palestina, pengusiran penjajah
Yahudi terhadap jutaan kaum Muslimin Palestina, agresi militer penjajah
Yahudi ke Jalur Gaza, penistaan penjajah Yahudi terhadap kesucian Masjidil
Aqsha di kota Al-Quds, penggusuran rumah-rumah warga Muslim Palestina dan
penghancuran lahan pertanian mereka oleh penjajah Yahudi di Tepi Barat, blokade
ekonomi penjajah yahudi terhadap lebih dari satu juta warga Muslim dan
seterusnya adalah kejahatan-kejahatan terorisme.
Setiap hari seluruh dunia melihat dan
mendengar langsung semua kejahatan terorisme penjajah Yahudi di Palestina
tersebut. Negara-negara Asia dan Afrika dalam
Konferensi Asia Afrika di Bandung pada 1955 telah mengutuk keras penjajah
Yahudi tsb sbg imperialis keji. Misi kemanusiaan kapal Mavi Marmara yang berusaha
menembus blokade penjajah Yahudi terhadap Gaza
ternyata beranggotakan banyak warga negara Barat sendiri. Itu bukti tak
terbantahkan bahwa penjajah Yahudi adalah teroris sejati, gembong teroris,
tidak berperi kemanusiaan dan tidak berperi keadilan, serta penjajahan yang
harus dihentikan kejahatannya; tidak saja menurut ajaran agama Islam, namun
juga menurut akal sehat dan hati nurani banyak warga Barat non-Muslim sendiri.
Bukankah lebih tepat apabila ketiga ulama
Timteng tersebut mendatangi pemerintah penjajah Yahudi, beramar ma’ruf
nahi mungkar kepada mereka. Dan menasehati mereka untuk menghentikan
penjajahan, teror, pembantaian, pengusiran, perampokan dan blokade mereka
terhadap penduduk muslim Palestina? Bukankah penjajah Yahudi itu lebih
berbahaya terhadap kaum Muslimin dan lebih dekat jaraknya dgn negara asal
ketiga ulama Timteng tersebut? Bukankah penjajah Yahudi “Israel” hanya
berjarak puluhan kilometer saja dari Mesir dan Yordan? Ataukah gajah di pelupuk
mata tidak nampak, kuman di seberang lautan justru kelihatan? Siapa sebenarnya
teroris, yang lebih dekat, lebih berbahaya dan lebih wajib dihentikan tindakan
terorismenya? Butuh kejujuran dan keberanian memang untuk menjawabnya.
Kempat, sudah sama-sama diketahui bahwa sejak awal diproklamasikannya negara
penjahah Yahudi di Palestina, Amerika Serikat adalah negara pengayom dan
pelindung setianya. Amerika menggelontorkan bantuan ekonomi, politik dan
militer dalam jumlah yang fantastis kepada negara penjajah Yahudi. Negara
penjajah Yahudi adalah anak emas dan sekutu utama AS dan Barat di Timteng, itu
sudah berita yang diketahui seluruh dunia. Para
pemimpin Amerika dan Barat sendiri yang menegaskannya. Dan hal itu dibuktikan
lewat kebijakan lapangan AS dan Barat dari dahulu sampai sekarang. Semua rancangan
resolusi DK PBB untuk menjatuhkan sanksi kepada penjajah Yahudi dimentahkan
oleh veto AS dan sekutunya. Tegasnya, negara penjajah Yahudi adalah teroris
kakap yang aman dan nyaman melakukan terorisme karena dilindungi oleh
negara-negara penjajah dan teroris super kakap, AS dan Barat.
Kita layak mengajukan pertanyaan serupa
kepada ketiga ulama timteng tersebut; Bukankah lebih tepat apabila ketiga ulama
Tiimteng tersebut mendatangi pemerintah penjajah AS dan Barat, beramar ma’ruf
nahi mungkar kepada mereka, dan menasehati mereka untuk menghentikan dukungan,
bantuan dan perlindungan mereka kepada negara penjajah teroris Yahudi?
Kelima, ketiga ulama timteng tersebut sering berbicara
tentang Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin. Mereka memaparkan seorang wanita
pelacur yang diampuni Allah dan masuk surga karena memberi minum seekor anjing
yang kehausan. Sebaliknya seorang wanita masuk neraka karena mengurung seekor
kucing tanpa memberinya makan sampai kucing itu mati kelaparan.
Adalah benar Islam adalah rahmatan
lil-alamin. Kedua hadits itu juga shahih, tercantum dalam shahih Bukhari
dan shahih Muslim. Pertanyaannya kemudian adalah, sikap pemerintah Mesir yang
menanda tangani dan mengakui kedaulatan negara penjajah Yahudi lewat perjanjian
Camp David; apakah itu bisa disebut sikap menyayangi jutaan kaum Muslimin
Palestina yang dijajah, dibantai, diusir dan diteror oleh negara penjajah
teroris Yahudi? Hubungan diplomatik pemerintah Mesir dan pemerintah Yordania
secara resmi dengan pemerintah negara penjajah teroris Yahudi; apakah itu bisa
disebut sikap menyayangi jutaan kaum Muslimin Palestina yang dijajah, dibantai,
diusir dan diteror oleh negara penjajah teroris Yahudi? Dari sekian banyak
negara Arab, hanya Mesir dan Yordania yg memiliki Dubes di Tel Aviv dan penjajah
teroris Yahudi memiliki Dubes di Kairo dan Amman. Padahal ulama Al-azhar, ulama
Palestina dan dunia Islam sejak 1930an telah memfatwakan haram bagi umat Islam
palestina menjual tanahnya kepada Yahudi, sampai taraf hukum murtad bagi yang
menjual tanah apalagi mengakui hak Yahudi untuk menjajah Palestina.
Sikap pemerintah Mesir yang membangun tembok
beton utk mengisolasi Jalur Gaza dan menghancurkan lebih dari 80 % terowongan
di perbatasan Mesir – Jalur Gaza yang selama ini menjadi satu-satunya jalur masuknya
sembako dan obat kepada lebih dari satu juta kaum muslimin Jalur Gaza, apakah
itu bisa disebut sikap menyayangi jutaan kaum Muslimin Palestina yang dijajah,
dibantai, diusir dan diteror oleh negara penjajah teroris Yahudi?
Ketika pemerintah Mesir dan Yordania
bersahabat dengan pemerintah penjajah teroris Yahudi; ; apakah itu bisa disebut
sikap menyayangi jutaan kaum Muslimin Palestina yang dijajah, dibantai, diusir
dan diteror oleh negara penjajah teroris Yahudi?
Bukankah lebih tepat apabila ketiga ulama
Timteng tersebut mendatangi pemerintah Mesir dan Yordania sendiri, beramar
ma’ruf nahi mungkar kepada mereka dan menasehati mereka untuk menghentikan
pengkhianatan dan kebiadaban mereka terhadap penduduk Muslim Palestina?
Keenam, ulama Timteng tersebut mengaitkan motif kedatangannya
dengan peristiwa penyerangan terhadap polisi/tentara Mesir dan perusakan gereja
yang terjadi hampir tiap pekan di Mesir.
Sungguh ajaib frame berfikir dan berargumen
mereka; menyalahkan reaksi tanpa mau melihat aksi, menyalahkan rakyat yang
dizalimi tanpa mencegah penguasa sekuler yang menzalimi.
Sudah umum diketahui bahwa di Mesir
kelompok Jama’ah Jihad pada 1990 an melakukan konfrontasi dengan polisi
dan tentara Mesir yang menjadi alat kekuasaan rezim sekuler husni mubarak.
Langkah itu berubah total sejak Jama’ah Jihad oleh Amirnya Syaikh Aiman
Az-Zawahiri melakukan fusi dgn kelompok Syaikh Usamah bin Ladin pada 1998,
sehingga terbentuk kelompok Tandzhim Qa’idatul Jihad yang lebih populer dengan
nama singkat Al-Qaeda. Al-Qaeda menahbiskan diri sebagai gerakan jihad global,
dengan langkah utama memerangi penjajah salibis Yahudi,
AS dan sekutunya yang menjajah Palestina, Afghanistan
dan Irak. Sejak itu tidak ada lagi operasi serangan mujahidin Mesir yg
menargetkan polisi dan tentara Mesir.
Saat militer Mesir dengan dukungan Barat,
Yahudi, sekuler dan Kristen Koptik melakukan kudeta yang menggulingkan Presiden
Muhammad Mursi, terjadilah demonstrasi besar-besaran menentang kudeta militer. Massa demonstran adalah
rakyat sipil Mesir yang mendukung presiden Mursi. Secara biadab tentara dan
polisi Mesir membubarkan demonstasi damai tersebut dengan kekerasan senjata.
Militer Mesir menembak mati lebih dari 1000 demonstran sipil di Rabiah Square, Nahdah Square, Alexandria
dan berbagai wilayah lainnya. Militer mesir membunuh ratusan massa demonstran yang menunaikan shalat subuh
di Rabiah Square, mayoritas mereka adalah wanita, anak-anak dan orang tua.
Militer menyerbu rumah sakit lapangan, membakar jenazah para demonstran dan
membunuh mereka yang cedera untuk menghilangkan bukti-bukti kejahatannya.
Militer Mesir melakukan operasi militer di Kairo dan Sinai. Rumah-rumah
penduduk dan masjid-masjid di Sinai ancur dirudal oleh helikopter tempur Mesir.
Seluruh dunia menyaksikan hal itu, karena
media massa dan
media elektronik Mesir dan Internasional meliputnya. Tak heran apabila junta
militer Mesir lantas memberangus kebebasan pers dan menyampaikan pendapat.
Stasiun TV Al-Jazeera cabang Mesir dan TV-TV Ikhwanul muslimin dibredel dan
ditutup dengan cara kekerasan. Ikhwanul Muslimin dinyatakan organisasi
terlarang, pemimpin-pemimpinnya ditangkap dan diadili dengan tuduhan penggerak
terorisme, demonstrasi anti kudeta militer dianggap kejahatan terorisme dan jam
malam diberlakukan.
Meski militer dan polisi Mesir ganas melibas
gerakan demonstrasi damai, Ikhwanul Muslimin tetap menempuh jalur damai.
Jama’ah Anshar Baitil Maqdis, kelompok jihad di Sinai, yang merespon kebiadaban
junta militer tersebut dengan gerakan jihad. Itupun dengan menargetkan
petinggi-petinggi junta militer yaitu mentri dalam negeri, markas intelijen
perang di Sinai dan Ismailiyah. Setiap kali melakukan operasi jihad, mereka
selalu merilis pernyataan resmi tertulis atau video.
Di luar itu, serangan dan perusakan bisa
diduga adalah operasi intelijen junta militer Mesir sendiri. Perusakan gereja
misalnya, pihak gereja Koptik yang jujur pun telah menyampaikan bahwa pelakunya
bukan orang Islam atau massa
demonstran anti kudeta militer.
Atau pelakunya adalah intelijen penjajah
Yahudi, kelompok nasionalis sekuler atau Kristen Koptik sendiri untuk
mendapatkan simpati dan liputan Barat. Hal seperti itu bukan hal asing bagi
Yahudi dan Kristen Koptik yang licik.
Sungguh aneh, ulama Timteng itu meributkan
serangan terhada polisi/tentara atau perusakan gereja, padahal sangat mungkin
pelakunya bukan umat Islam Mesir sendiri. Sungguh ajaib, mereka ramai membahas
hal itu sampai di Indonesia,
sementara mereka tidak membahas kebiadaban dan kejahatan junta militer yang
tidak berperi kemanusiaan terhadap kaum Muslimin yang notabenenya warga negara
Mesir sendiri.
Sekali lagi, kita sangat layak bertanya
kepada para ulama Timteng tersebut. Bukankah lebih tepat apabila ulama Timteng
tersebut mendatangi pemerintah Mesir sendiri, beramar ma’ruf nahi mungkar
kepada mereka dan menasehati mereka untuk menghentikan pengkhianatan dan
kebiadaban mereka terhadap penduduk muslim Mesir? Siapa yang sebenarnya
teroris; junta militer Mesir yg membantai ratusan warga Muslim Mesir tak berdosa
ataukah Mujahidin Anshar Baitil Maqdis yang menyerang pejabat junta militer
demi membela ratusan kaum Muslimin jelata yang dibantai secara biadab? Jika
tidak ada api, mungkinkah ada asap? Jika junta militer Mesir tidak membantai
ratusan Muslim Mesir yang tak berdosa, bukankah Anshar Baitil Maqdis akan fokus
melawan penjajah teroris Yahudi saja?
Banyak pertanyaan lain yang bisa kita ajukan
kepada ketiga ulama Timteng tersebut, namun setidaknya pertanyaan-pertanyaan di
atas bisa menjadi renungan bagi kaum Muslimin secara umum. Kita tidak hendak
mendiskreditkan ulama, namun kita harus bersikap kritis dan obyektif. Selain
itu, ulama dituntut untuk bersikap jujur, amanah, tulus dan obyektif. Wallahu
a’lam bi shawab. (arrahmah.com)
Langganan:
Postingan (Atom)