Tampilkan postingan dengan label Saudi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Saudi. Tampilkan semua postingan

Selasa, Maret 22, 2016

BREAKING: Filipina Gagalkan Rencana Garda Revolusi Iran Bajak dan Bom Pesawat Arab Saudi


Garda Revolusi Iran menyusun rencana pembajakan dan pengeboman pesawat penumpang Arab Saudi yang terbang di Asia Tenggara.
Pihak berwenang Filipina mengungkapkan berhasil menggagalkan upaya pembajakan sebuah pesawat Arab Saudi, yaitu Saudi Arabian Airlines di Bandara Internasional Ninoy Aquino di Manila.

Hal itu diungkap harian Manila Times, sumber Manila Times mengungkapkan, serangan itu akan dilancarkan di Asia Tenggara setelah Iran memperingatkan melancarkan dendam kesumatnya melawan Arab Saudi. Hal itu dilakukan Iran setelah Saudi mengeksekusi ulama Syiah Nimr al-Nimr bulan lalu.

Surat kabar itu melaporkan, tim yang termasuk 10 konspirator meninggalkan Iran baru-baru ini dengan penerbangan terpisah dan tiba di beberapa negara Asia Tenggara melalui Turki.

Rencana serangan itu akan dilakukan di Malaysia, Indonesia atau Filipina.

Dalam dokumen rahasia Saudi yang ditulis seorang bekas jenderal Saudi, dan berhasil didapatkan Harian Manila Times, menyebutkan rencana penyerangan itu sudah sangat matang.

''Rencananya sebuah tim terdiri dari 10 orang akan diterjunkan sebagai pelaksana. Enam di antaranya warga Yaman. Beberapa nama berhasil diidentifikasi pihak Saudi,'' tulis dokumen tersebut.

Nama-nama tersangka masih dirahasiakan Pemerintah Saudi. Namun media lokal Filipina yakin, ''Tim tersebut sudah berangkat ke beberapa negara Asia Tenggara lewat Turki dalam dua penerbangan terpisah untuk melaksanakan rencana itu,'' tulis media lokal Filipina.

Menurut sebuah sumber, awal bulan ini Pemerintah Saudi telah meminta Pemerintah Manila agar mereka diizinkan ''Memasang mesin pemantau X-ray di Bandara Internasional Ninoy Aquino,'' kata sumber tadi.

Permintaan itu masih dipertimbangkan masak-masak oleh Pemerintahan Presiden Benigno Aquino III. ''Langkah ini memang diperlukan untuk meningkatkan prosedur pengawasan bagi para penumpang yang tiba menggunakan pesawat terbang dari Saudi,'' tulis Manila Times.

Menurut Manila Bulletin, Kedutaan Besar Arab Saudi di Manila telah meminta pihak berwenang bandara setempat memasang perangkat pemindai untuk memperketat prosedur keamanan bagi penumpang yang bepergian menggunakan pesawat Arab Saudi.

"Perusahaan memberikan prioritas utama untuk keamanan pesawat. Keamanan pesawat adalah tanggung jawab internasional,’’ kata juru bicara Saudi Arabian Airlines Abdulrahman Al-Fahad seperti dikutip dari laman Arab News, Rabu (24/2).

Al-Fahad menambahkan, departemen keamanan penerbangan di Arab Saudi bekerja sama dengan instansi lain untuk meningkatkan keamanan. "Kami melakukan kontak dengan semua pemangku kepentingan untuk menjamin keamanan pesawat dan penumpang," ujarnya.

Kamis, Januari 07, 2016

Kedutaan Iran Dibom Pesawat Tempur Arab Saudi




SANA’A (atjehcyber) – Tensi antara Iran dan Arab Saudi, kian memanas. Setelah memutuskan hubungan diplomatis, Saudi lewat jet tempurnya dilaporkan menyerang Kedutaan Besar Iran di Ibu Kota Yaman, Sana’a.
Jet-jet tempur Saudi itu memang sebelumnya acap berseliweran di angkasan Yaman, untuk menghantam sejumlah posisi milisi Houthi. Salah satu posisi Houthi yang diserang Saudi berpusat di Sana’a.

Tapi salah satu jet tempur Saudi, dilaporkan telah membom Kedutaan Iran di Sana’a. Disebutkan Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Iran, sejumlah staf kedutaan terluka akibat serangan itu.

Pihak Iran menyatakan, serangan bom jet tempur Saudi itu sebagai tindakan yang disengaja, pasca-serangan bom bakar ke Kedutaan Saudi di Tehran, Iran, beberapa waktu lalu.

Serangan itu dilancarkan para demonstran yang memrotes keras kebijakan Saudi, setelah mengeksekusi ulama Syiah, Sheikh Nimr al-Nimr.

“Aksi yang disengaja ini oleh Saudi, merupakan pelanggaran konvensi internasional yang melindungi perwakilan-perwakilan diplomatik,” seru juru bicara Kemenlu Iran, Hossein Jaber Ansari, dilansir Metro.co.uk, Kamis (7/1/2016).

“Pemerintah Saudi bertanggung jawab atas kerusakan dan situasi yang diderita para staf yang terluka. Republik Islam (Iran) punya hak untuk menuntut permasalahan ini,” tandasnya.

Readmore: http://www.atjehcyber.net/2016/01/kedutaan-iran-dibom-pesawat-tempur-arab.html#ixzz3wb3lEDiM
Sumber: @atjehcyber | fb.com/atjehcyberID

Sabtu, September 26, 2015

Di Mata Syiah, Kelompok Liberal dan Metro TV


  • Anda Irwin
    Anda Irwin

    Jamaah haji setiap tahun yang jumlahnya diperkirakan mencapai 4 juta orang, membutuhkan manajemen dan pengelolaan yang ekstra tinggi dan kerja keras tiada henti.


    Beberapa hal kecil yang bisa dilihat misalnya;
    1. Jika 1 orang jamaah membutuhkan 20 liter air bersih untuk standar minimal MCK di luar zam-zam, maka sehari Mekah memerlukan sekitar 20 liter x 4 juta orang = 80 juta liter air. Bagaimana menyediakan 80 juta liter air setiap hari untuk keperluan MCK jamaah haji, padahal lembah hijaz itu, tidak ada sumber air selain zam zam. Sumber Air bersih untuk kebutuhan MCK adalah laut merah, yang disuling, itupun harus dialirkan sejauh 60 km. Anda yang pernah haji atau umrah, pernahkah kesulitan mendapatkan air bersih? Atau pernahkah terdengar keluhan dari jamaah yang kekurangan air, atau tandon yang kosong, atau kran yang macet seperti di negara kita? Tidak ada ada bukan?

    2. Lalu bagaimana menyediakan 12 juta liter air zam-zam setiap hari untuk kebutuhan wudhu dan minum jamaah, belum lagi air zam-zam yang disediakan pemerintah Saudi untuk dibawa pulang secara gratis? Pernahkah terdengar ada jamaah yang mengeluh karena kehausan atau tidak kebagian air zam-zam?

    3. Kita beralih ke soal sampah. Jika seorang jamaah menghasilkan sampah 20 gram saja sehari, berarti 20 gr x 4 juta = 80 juta gr = 8 ton sampah kering perhari yang harus dibersihkan dan disediakan tempat penampungan. Kita tidak bisa bayangkan, andai kota Mekah ada di bumi jakarta. Betapa pusingnya pemerintah DKI dalam menanganinya. Mungkin presiden harus sediakan menteri khusus urusan sampah

    4. Selanjutnya masalah Sanitasi.
    Untuk bisa BAB, tentu butuh sarana dan prasarana. Sekarang, berapa kotoran padat dan cair manusia di Mekah yang harus dibersihkan? Jika seorang jamaah buang kotoran padat 5 gram dan ½ liter kotoran cair, tentu jumlahnya mencapai sekitar 20 ton kotoran padat dan 40 ton kotoran cair. Adakah jamaah mengeluh terkena penyakit akibat sanitasi yang mampet? Atau masalah MCK yang gak beres? Hampir tidak kita jumpai bukan?

    Mungkin Anda perlu tahu, pengelola masjidil haram setiap hari harus menumpahkan cairan desinfektan untuk mencegah pencemaran lingkungan. Tenaga kerja pembersih masjidil haram terbagi dalam 3 shift dan beberapa jenis pekerjaan. Singkatnya ratusan tenaga pembersih harus dikerahkan setiap shift agar masjidil haram tetap bersih dan nyaman.

    5. Mari kita hitung, jika seorang tenaga kerja dibayar 500 riyal saja per-bulan (ini angka kasar minimal), berapa juta riyal yang harus dikeluarkan untuk biaya tenaga kerja itu? Adakah jamaah diminta untuk infak? Atau Anda pernah melihat ada kotak infak bersliweran di masjidil haram? Jutaan riyal dikeluarkan pengurus masjidil haram, sementara kita sepeserpun tak diminta iuran, dan kita nyinyir? Satu lagi yang tidak bisa dihitung dengan uang secara instan, yaitu keamanan dan stabilitas di Mekah. Tanpa ini, anda tidak mungkin bisa berhaji atau berangkat Umrah dengan aman dan nyaman.

    Negara maju aja tidak ada yang nyinyir mengomentari tragedi tersebut, tidak Jerman, tidak Amerika, tidak pula Jepang. Hanya Metro TV dengan media syiah dan kelompok liberal saja yang pandai berkomentar. Mungkin Metro Group punya proposal yang lebih bagus bagaimana mengelola 4 juta jamaah haji. Atau mungkin para komentator itu lebih hebat dari Jerman, Amerika dan Jepang!
    Kita semakin yakin, sebenarnya tujuan besar mereka bukan dalam rangka kritik kebijakan pemerintah Saudi, toh mereka juga tidak punya kepentingan dengan itu. Tapi kritik Saudi, hakekatnya untuk menyudutkan Wahhabi.

    Mengapa syiah dan liberal selalu bersinergi?

Rabu, Juli 29, 2015

Politik Luar Negeri Saudi ‘ Menaklukkan ’ Amerika !


Satu hal menarik, manakala dalam satu buletinnya Hizbut Tahrir Indonesia alias HTI menyebut serangan Saudi ke pemberontak Houthi Yaman sebagai serangan agen (amerika) untuk membunuhi kaum Muslimin Yaman. Rasa-rasanya kali ini tak perlu diulas lagi bahwasanya yang diserang Saudi adalah pemberontak Syiah Houthi, bukan negeri Yaman.
Selanjutnya, penting bagi kita buat mengetahui hakikat sesungguhnya hubungan Saudi-Amerika. Jika kita perhatikan secara jeli, sangat sulit buat mengatakan bahwasanya Saudi adalah antek Amerika.
Betapa tidak! Amerika merupakan Negara pendewa sekulerisme, liberalisme, pluralisme, demokratisme, emansipasi dan segala bentuk kebebasan berekspresi, sementara Saudi merupakan sebuah negeri yang berazaskan Al-Qur’an dan Sunnah, penegak panji-panji tauhid, penentang utama paham sepilis (sekulerisme, pluralism dan liberalisme), serta antidemokrasi.
Amerika dengan dalih pembela HAM membolehkan kaum wanitanya berpakaian semitelanjang, sementara Saudi mewajibkan kaum wanitanya mengenakan cadar manakala beraktivitas di luar rumah. Masih lekat di benak kita tentunya, bagaimana kritikan tajam mantan putra mahkota Saudi, Pangeran Sultan rahimahullah terhadap paham emansipasi, dimana dengan lugas beliau menyatakan, “hakikat dari emansipasi sesungguhnya adalah kebebasan menyentuh wanita.” Dan bukan hanya soal prinsip kenegaraannya yang bertolak belakang 1800.
Kedua negara juga mendakwahkan prinsip-prinsip yang mereka anut ke seantero penjuru dunia. Amerika dengan gencar menyebarkan dan menyerukan paham demokrasi, emansipasi, pluralisme, HAM, serta sederet isme-isme lain yang intinya menekankan kebebasan beragama dan kebebasan berekspresi tanpa batas.
Sebaliknya, Saudi berada di garda terdepan dalam mendakwahkan Islam yang murni ke segenap penjuru dunia, dimana prinsip-prinsip Islam yang murni tersebut sangat bertentangan dengan isme-isme jualan Amerika dan konco-konconya.
Tidak main-main…Saudi bahkan mendirikan lembaga-lembaga Islam di luar negeri macam LIPIA di Indonesia guna menangkal isme-isme jualan Amerika CS tersebut. Saudi juga memberikan jatah ribuan beasiswa kepada para pemuda dari berbagai negara untuk belajar di universitas-universitas Islamnya dengan tujuan sekembali ke negeri masing-masing, para pemuda tersebut diharapkan tampil sebagai pendakwah tauhid dan sunnah, yang dengan dakwah itu maka isme-isme dagangan Amerika menjadi tidak laku.
Nah, kalau macam itu…mana mungkin dua negara yang saling bertarung dalam perang ideologi dapat dikatakan, salah satunya adalah antek yang lain? Tidak…Amerika sama sekali tidak pernah menganggap Saudi sebagai sekutu. Yang ada, siasat politik Saudi-lah yang memaksa Amerika bermuka manis di hadapan negeri tauhid tersebut.
Saudi, dengan limpahan minyak yang terus menerus mengaliri bawah tanah Jazirah dapat dengan leluasa ‘menundukkan’ Amerika untuk bersedia menandatangani beragam kerjasama militer. Ketergantungan Amerika akan minyak Saudi-lah yang menjadikan Washington dengan cepat tanggap mengikuti instruksi Riyadh guna mengirimkan bantuan militer besar-besaran untuk mementahkan ambisi Saddam Hussein yang pada Perang Teluk I berencana menganeksasi negeri tersebut, setelah Kuwait berhasil dicaploknya.
Begitu pula, tatkala Saudi bersama koalisinya berusaha mengusir pemberontak Houthi dari Yaman, tak ada jalan lain bagi Amerika selain hanya berposisi sebagai penonton. Gonggongan PBB dan Rusia yang meminta serangan udara Saudi dihentikan tidak akan berpengaruh terhadap kebijakan Saudi.
Bahkan PBB pun tidak mampu untuk memaksa Saudi menghentikan serangan gencarnya terhadap pemberontak Syiah Houthi mengingat Amerika sukses dipasung Saudi dengan politik minyak-nya.
Alhasil, serangan Saudi terhadap pemberontak Syiah Yaman akan membawa dampak positif terhadap negeri kayak minyak tersebut.
Pertama, pamor Saudi di kancah internasional bakal kian diperhitungkan.
Kedua, serangan tersebut akan menyibukkan Iran sehingga mau tidak mau negeri yang didirikan di atas reruntuhan kekaisaran majusi Persia tersebut memfokuskan diri dalam memasok senjata buat para milisi houthi serta menghambat laju Syiah-isasi yang kini marak di negeri-negeri Muslim.
Ketiga, serangan Saudi bersama koalisinya terhadap pemberontak Houthi Yaman sekaligus memperkuat keamanan dalam negeri Saudi dari ancaman Iran. Sekiranya Yaman yang berbatasan langsung dengan Saudi dibiarkan jatuh ke tangan Syiah Houthi, dikhawatirkan bakal menjadi batu loncatan Iran dalam mengarahkan moncong meriamnya ke jantung tanah suci.
Dengan demikian, jelas sudah bahwa Saudi berhasil memperagakan permainan politik yang teramat cantik. Lewat politik minyaknya, Saudi berhasil ‘menaklukkan’ Amerika dan dengan serangan tiba-tibanya terhadap pemberontak Houthi yang membuat PBB dan Rusia tak berdaya selain mengecam dan mengecam, Saudi kian menguatkan eksistensinya sebagai pemimpin dunia Islam.
Permainan cantik, strategi jitu dan pertimbangan politik atas asas maslahat-mudharat itulah yang tidak pernah diperagakan rezim Taliban yang semata mendasarkan perjuangan ‘jihad’-nya atas dorongan emosi dan ghirah, sehingga mereka hanya mampu bertahta di Afghanistan selama 5 tahun! Maka dari itu, hendaknya mereka yang mengaku sebagai para ‘pejuang khilafah’ merenungkan hal ini!
https://muslimlurus.wordpress.com/…/politik-luar-negeri-sau…-

Jumat, Maret 20, 2015

Alhamdulillah, 170 Ribu Warga Rohingya Diizinkan Tinggal di Saudi

Friday, March 20, 2015

Islamedia.co - Pemimpin komunitas Muslim Rohingya di Arab Saudi Abu Al-Shamie Abdulmajid  mengatakan mimpi mereka jadi kenyataan untuk bisa menjadi warga yang sah di Arab Saudi.

Menurutnya, hal itu berkat langkah kerajaan Arab Saudi yang mengakui keberadaan warga Rohingya di negara itu.

Diberitakan Saudi Gazette, hari ahad (15/03/2015), Kerajaan Arab Saudi telah memberikan izin tinggal (iqama) kepada 170 ribu pengungsi Muslim Rohingya di negara tersebut. Sementara jutaan penduduk Rohingya lainnya tengah menjalani proses penerimaan iqama.

Media lain, Arab News memberitakan, masih ada sekitar 4 juta warga Rohingya di Saudi kini berhak untuk mendapatkan iqama.

Abdulmajid bahkan mengatakan warga Rohingya telah lebih dari 70 tahun lalu menjadi bagian dari Arab Saudi, setelah kabur dari pembantaian etnis di Myanmar.

PBB menyebutkan, Muslim Rohingya adalah suku paling teraniaya di dunia. Myanmar tidak mengakui mereka sebagai warga negara, sementara penganut Buddha memusuhi mereka kendati mereka telah tinggal beberapa generasi di negeri itu.

Dengan iqama ini, kata Abdulmajid, berbagai permasalahan yang menimpa warga Muslim Rohingya di Saudi akan sirna.

Bahkan kini, warga Rohingya bisa bebas bekerja, mendapatkan layanan medis dan menempuh pendidikan di sekolah pemerintah serta hak-hak warga negara lainnya.

“Kami sekarang bisa bergerak bebas dan bergabung dengan sistem pendidikan umum, tidak lagi belajar di sekolah sumbangan swasta,” kata Abdulmajid .

Sejak tahun 1968 pemerintah Saudi mendukung kaum Rohingya, ditandai dengan penerimaan imigran pertama dari Myanmar oleh Raja Abdul Aziz. Izin tinggal tetap dikeluarkan untuk Rohingya di Saudi tahun 1980 pada pemerintahan Raja Saud.

Saudi memasukkan warga Rohingya sebagai pendatang yang dilindungi. Artinya mereka kebal beberapa hukum dari peraturan kependudukan dan tidak ada yang boleh menyakitinya.

Mayoritas warga Rohingya tinggal di Makkah, kebanyakan bekerja di sektor konstruksi atau mengajarkan hafalan al-Quran.

Abdulmajid, seperti warga Rohingya lainnya, sudah mengubur harapan untuk kembali ke tanah kelahiran mereka di Myanmar. Menurut dia, impiannya untuk pulang sirna karena penganiayaan terhadap mereka masih terjadi di negara itu.

“Mimpi kembali ke Myanmar telah sirna dari hati komunitas Rohingya karena ketiadaan paspor, terutama karena duta besar Pakistan dan Bangladesh menolak memberikannya. Ketakutan akan pengadilan dan penyiksaan terhadap Muslim juga membuat mimpi ini mustahil diwujudkan saat ini,” kata Majid. [hidayatullah/islamedia]

Minggu, Februari 22, 2015

ALLAHU AKBAR: KABAR GEMBIRA DARI NEGERI SAUDI, ULAMA MUJAHID DIBEBASKAN DARI PENJARA !!


Oleh: Abu Husein At-Thuwailibi.

Antum ingat kan dengan raja Saudi yang sekarang ??

Namanya raja Salman Bin Abdil Aziz... yang baru-baru ini mengundang pujian dari ummat islam seluruh dunia saat ia meninggalkan "Tamu terhormat" presiden Amerika Barrac Obama untuk melaksanakan shalat ashar, sebuah fenomena langka dan mengandung qudwah hasanah dari sosok seorang Ulil Amri.

Thoyyib, kita lanjutkan..... smile emotikon Antum ingat nggak tulisan-tulisan saya yang mengkritisi Pemerintah Arab Saudi yang saat itu di pimpin raja Sebelumnya ??

Saya mengkritisi kebijakan-kebijakan politik Raja Saudi yang banyak merugikan Islam dan Ummat Islam, terlepas dari banyaknya kebaikan dan kedermawanan Raja Saudi terhadap masyarakat dunia.

Namun, karena Raja Saudi itu bukan malaikat, alias manusia biasa, maka tentu dia tidak akan luput dari kesalahan-kesalahan atau bahkan penyimpangan-penyimpangan... Dia bukan Nabi yang harus di bela sampai mati, dia mesti kita bela kalau benar, di luruskan kalau salah, ya tentunya sesuai kapasitas masing-masing...

Namanya juga manusia. Iya to ? Nah, berangkat dari fakta itu maka wajar bila kita mengkritisi, meluruskan dan memperbaiki yang salah, tentunya dengan koridor yang tidak melanggar batasan-batasan cara mengkritik, misal dengan pembentukan opini dsb.

Nah, sikap kritis kita terhadap kebijakan-kebjikan Pemerintah Arab Saudi itu menuai kecaman dan hujatan dari segelintir pemuda sekte mulukiyah (neo murji'ah), yakni sekte yang menjadikan agamanya sebagai pemuas nafsu dan kepentingan para muluk (raja-raja),Wal-'Iyaadzu Billah...

Sikap kritis dan tidak sudi menjilat pemerintah itu dianggap sebagai sikap "Hizbiyah", "khawarij", "Sururi", "takfiri", dst. Padahal Wallahi tak sekalipun diri ini "MENGKAFIRKAN" individu muslim tertentu yang tidak dikafirkan Allah dan Rasul-Nya.

Bahkan, saya sendiri di tuduh oleh seorang Mahasiswa Universitas Islam Madinah sebagai "orang yang hobi menjelek-jelekkan arab saudi",

Ntah kapan saya menjelek-jelekkan Arab Saudi, Wallahi Billahi saya tak pernah menjelek-jelekkan arab saudi... Arab Saudi itu negeri Islam, Daulah Sunniyah, banyak para 'Ulama dan Mujahidin disana, bahkan negeri Tauhid di bumi ini salah satu diantaranya adalah Negeri Saudi In Syaa' Allah.. Lantas ntah apa yang menyebabkan pemuda itu menuduh saya di media sosial bahwa saya suka menjelek-jelekkan arab saudi... !? Sikap kritis dan berusaha mengatakan yang haq itu dianggap "menjelek-jelekkan", !? Ini kan fitnah namanya... smile emotikon saya ini Ahlus Sunnah in syaa' Allah, bukan Syi'ah yang sangat benci Arab Saudi..

Mungkin anda bertanya-tanya; di sisi manakah saya mengkritisi pemerintah kerajaan Arab Saudi (waktu itu) ??

Tinta sejarah tidak akan mungkin pudar begitu saja, saudi waktu itu turut dalam koalisi menyerang Mujahidin di Suriah dengan Amerika dan sejumlah negara Kafir, dengan alasan "menyerang ISIS". Padahal yang jadi korban dan yang mereka habisi adalah Mujahidin. Itu fakta !

Selain itu, fakta sejarah membuktikan, Raja Saudi yang saat itu mendukung pemberontakan terhadap DR.Muhammad Mursi di mesir, ia mendukung sepenuhnya Militer mesir yang dipimpin Jendral Zhalim As-Sisi membunuhi dan membantai Ummat Islam di Mesir. !? alasannya karena satu hal: arab saudi sangat membenci ikhwanul muslimin, sebab ikhwanul muslimin waktu itu dianggap akan menggoyang eksistensi politik kerajaan arab saudi dimata dunia islam. Pembantaian berdarah pun terjadi, ribuan nyawa kaum muslimin, anak-anak, wanita, dsb melayang seketika, semua itu atas dukungan raja Saudi.....sehingga dukungannya itu mendapat kecaman dari banyak kalangan; baik Salafi maupun Haraki. termasuk mendapat kecaman dari sejumlah Ulama di Arab Saudi diantaranya Syaikh Muhammad Al-'Arifi, Syaikh Salman Al-Audah, dll. Ini adalah nama-nama Ulama Salafi yang yang dianggap Hizbi oleh sekte Mulukiyah karena berani nya mereka dalam mengkritisi pemerintah Arab Saudi yang di nilai zhalim, hingga hal itu berujung pada jerusi besi... Mereka keluar masuk penjara karena dianggap "Provokator" dan mengganggu kepentingan pemerintah.

Apakah ini anda anggap kebaikan ? Apakah ini anda anggap bukan kesalahan ?? Disinilah letak dimana kami mengkritisi tindakan dan kebijakan politik Raja Saudi waktu itu... Dan masih banyak lagi tentunya...

Nahimunkar.com mengabarkan bahwa sudah menjadi rahasia umum dimana selama Raja Abdullah bin Abdul Aziz berkuasa di Saudi, banyak sekali keputusan pemerintah yang dikrtiik oleh para Ulama Robbani, sehingga akibat dari kritikan tersebut, Ulama Robbani pun harus menelan pil pahit, masuk dalam sel penjara.

Raja Salman, selaku pemegang kekuasaan di Kerajaan Saudi saat ini memang sangat terlihat berbeda dengan raja sebelumnya. Banyak reformasi yang dilakukan untuk kembali kepada tatanan Islam yang sesungguhnya meski secara perlahan.

Kebijakan-kebijakan Raja Abdullah yang dinilai keluar dari jalur syariah dan terlalu condong kepada Barat mulai dihapus pelan-pelan. Sikap Raja Salman ini mendapatkan banyak simpatik dan acungan jempol dari masyarakat Saudi secara umum. Terlebih masyarakat Saudi yang menginginkan perubahan menuju Islam yang kaffah.dan menjadi poros perjuangan Islam.

Kerajaan Arab Saudi, pada hari Selasa (17/2/2015) yang lalu, menetapkan pencabutan cekal atas ulama dan dai, Syaikh DR. Salman Al-Audah, setelah lama menjalaninya di masa kekuasaan Raja Abdullah bin Abdul Aziz.

Pernyataan itu disampaikan sumber pejabat kerajaan. “Cekal atas Syaikh Salman Audah telah dicabut. Nama tertulis dalam daftar orang-orang yang dicabut cekalnya untuk bepergian ke luar negeri.”

Seperti yang banyak dikabarkan, Syaikh Salman Al Audah adalah Ulama Robbani yang lurus aqidahnya di atas manhaj ahlus sunah wal jamaah. Dimana dia berani terus terang mengkritik setiap kebijakan pemerintah yang dinilai menyimpang dari syariah.

Semoga dengan bebasnya Syaikh Salman Al Audah menjadikan dakwah manhaj nabawiyah kian semarak, dan menjadi tonggak lahirnya para pejuang Islam yang tam

Senin, Februari 02, 2015

Gebrakan: Raja Salman bersihkan kerajaan, dekati IM





Semoga angin baru kebangkitan Islam terjadi melalui gebrakan Raja Salman yang melakukan pembersihan loyalis Raja Abdullah. Kini ia dikabarkan mendekati Ikhwanul Muslimin (IM), sebagaimana analisis Hashmi Bachtiar, alumni Universitas Al-Azhar dan mahasiswa postgraduate Hubungan Internasional di Lille-Perancis yang diterima redaksi Arrahmah.com, Ahad (1/2/2015).

Raja Salman bin Abdul Aziz sebagai nakhoda baru kerajaan Saudi Arabia terus melanjutkan ‘kudeta’ di tubuh kerajaan lumbung minyak tersebut. Sebelumnya, pasca dibai’at menjadi raja menggantikan saudara tirinya Abdullah bin Abdul Aziz, Raja Salman langsung bergerak cepat dengan memilih Muhammad bin Nayef sebagai wakil putra mahkota dan memecat Khalid Al-Tuwaijri yang menjabat kepala dewan kerajaan.

Baru-baru ini Raja Salman kembali mengambil kebijakan yang membuat dirinya semakin menjadi sorotan. Raja Salman mengganti Gubernur Makkah dan melakukan perombakan besar-besaran dalam kaninet kerajaan, mungkin ini perombakan terbesar yang pernah terjadi di kerajaan Saudi Arabia. Setidaknya Raja Salman mengeluarkan 34 keputusan raja yang salah satunya pergantian kabinet.

Perombakan kabinet tersebut sangat jelas tujuannya yaitu membersihkan loyalis Raja Abdullah dan menggantinya dengan sosok yang dipercaya oleh Raja Salman. Sebut saja menteri pertahanan yang baru, sekarang dijabat oleh Muhammad bin Salman yang merupakan anaknya sendiri. Kemudian menteri dalam negeri, dijabat oleh Muhammad bin Nayef bin Abdul Aziz, yang sebelumnya dipilih menjadi wakil putra mahkota.

Keputusan lainnya adalah memberi ampunan kepada tahanan politik, yang merupakan pantangan dalam kerajaan. Selama ini Saudi Arabia selalu menempatkan oposisi kerajaan sebagai musuh berbahaya, tetapi Raja Salman malah memberi ampunan, semakin membuat penasaran kemana arah politik raja baru tersebut.

Sebenarnya membaca arah politik Raja Salman tidaklah terlalu sulit. Dengan kebijakannya akhir-akhir ini sudah terlihat, baik itu arah politik dalam negeri maupun kawasan dan internasional. Dari komposisi kabinet yang baru dipilih dan orang-orang terdekat raja Salman juga bisa dikuak, kemana kapal kerajaan tersebut akan berlayar.

Di dalam kerajaan, Raja Salman dibantu oleh dua orang terdekatnya dalam melakukan operasi pembersihan loyalis Abdullah. Pertama adalah Muhammad bin Nayef yang dipilih sebagai wakil putra mahkota.

Muhammad bin Nayef selama ini dikenal dekat dengan petinggi Turki dan mempunyai sejarah buruk dengan Khalifa bin Zayed presiden Uni Emirat Arab. Mungkin inilah alasan mengapa Erdogan menunda lawatannya ke Somalia dan memilih terbang ke Riyadh ikut prosesi pemakaman Abdullah. Sedangkan Bin Zayed presiden Uni Emirat Arab memilih tidak hadir dengan alasan tidak jelas.

Sosok kedua adalah Muhammad bin Salman. Tidak tanggung-tanggung, Muhammad bin Salman diberi tiga jabatan penting sekaligus, yaitu sebagai menteri pertahanan, kepala dewan kerajaan dan kepala urusan ekonomi dan pembangunan. Dua sosok inilah yang membantu pembersihan loyalis Abdullah ditubuh kerajaan.

Untuk Raja Salman sendiri, dirinya dikenal dekat dengan Tamim bin Hamed, amir kerajaan Qatar. Raja Salman dikenal sudah lama memiliki hubungan baik dengan kerajaan Qatar. Terlihat ketika kudeta di Mesir terhadap Muhammad Mursi, Raja Salman bersama Qatar menentang aksi kudeta tersebut, namun Raja Salman tidak bisa berbuat banyak terbentur oleh Raja Abdullah yang waktu itu salah seorang pendukung kudeta. Sosok Raja Salman sangat dibenci Uni Emirat Arab, konon issue kesehatan Raja Salman bermasalah bermula dari negara tersebut.

Raja Salman sangat paham posisinya saat ini, kemungkinan buruk bisa saja terjadi terhadap pemerintahannya. Bagi loyalis Abdullah di istana, yang dilakukan Raja Salman bukanlah reformasi, tetapi kudeta yang tentu menimbulkan badai di internal kerajaan. Apalagi mengingat yang memusuhinya bukan saja dari internal kerajaan, tetapi juga dari kawasan dan internasional.

Setidaknya saat ini Raja Salman memiliki tiga musuh berbahaya. Yang pertama adalah Khalid Tawajiri, mantan kepala dewan kerajaan. Kedua Bendar bin Sulthan, mantan kepala kemanan nasional dan ketiga Khalifah bin Zayed presiden Uni Emirat Arab.

Tiga nama tersebut jauh sebelum Abdullah wafat sudah menyusun strategi agar Raja Salman tidak naik tahta, namun sayang sebelum misi selesai, Abdullah wafat. Rencana tinggal rencana Raja Salman tetap naik tahta.

Maka wajar Raja Salman bergerak cepat membersihkan istana sebelum melakukan manuver politik lebih jauh. Contoh sikap Saudi Arabia terjadap kasus kudeta di Mesir dan kasus Palestina. Belum lagi konspirasi Barat yang harus dihadapi Raja Salman, jika dirinya melakukan langkah politik yang membahayakan Barat yang sejak lama menjadi ‘tamu istimewa’ di Saudi Arabia.

Mendekat IM

Kedekatan Raja Salman dengan kelompok Ikhwanul Muslimin (IM) juga menjadi catatan penting dalam membaca arah politik Raja Salman. Rasyid Al-Ghanusy adalah tokoh Ikhwanul Muslimin yang turut hadir dalam prosesi pemakaman Abdullah bersama Erdogan. Ini tentu tanda bahwa Raja Salman membuka pintu pembicaraan dengan kelompok tersebut, namun banyak kalangan memperkirakan sebenarnya mereka sudah memiliki hubungan dekat.

Beberapa media menurunkan berita bahwa Saudi Arabia waktu pemerintahan Abdullah meminta PM Inggris David Cameron melakukan penyelidikan terhadap pemimpin Ikhwanul Muslimin yang bermukim di sana dengan tuduhan teroris. David Cameron menyanggupi permintaan Abdullah sebagai sahabat. Namun setelah penyelidikan dilakukan, Inggris tidak menemukan tudahan tersebut, tetapi Inggris belum melaporkan hasil penyelidikan tersebut takut Abdullah kecewa. Mungkin saat ini waktu yang tepat bagi Inggris untuk melaporkan hasil penyelidikan tersebut kepada pemerintah Saudi Arabia, lapor pejabat tinggi kementrian luar negeri Inggris.

Politik Mesir

Kurang lengkap berbicara timur tengah tanpa membahas Mesir. Berita teranyar Raja Salman telah memecat Dubes Saudi Arabia untuk Mesir, Ahmad bin Abdul Aziz Qattan. Dubes Qattan dikenal sebagai kurir kerajaan Saudi Arabia untuk pemerintah kudeta Abdel Fattah As-sisi.

Pemecatan tersebut signal dari Raja Salman bahwa politik Saudi Arabia akan berubah terhadap Mesir. Bisa jadi Raja Salman menghentikan bantuan untuk Mesir, atau masih memberikan bantuan tapi dengan syarat yang harus dipenuhi Mesir. Syaratnya apa? Mungkin kesepakatan poros baru nanti Ankara-Riyadh-Doha yang bisa menjawab.

Sepak terjang Raja Salman ini tentu mendapat dukungan kuat dari rakyat Saudi Arabia, bahkan muslim internasional yang melihat selama ini Saudi Arabia seperti raksasa ompong, makanpun harus disuapkan bubur oleh Amerika. Raja Salman diharapkan menjadi penerus raja Fahd yang mementingkan negaranya dan umat muslim dari pada Barat.

Mungkin benar yang dilakukan Salman adalah kudeta, kudeta terhadap kepentingan Barat, kudeta yang didukung Rakyat Saudi Arabia. (adibahasan/arrahmah.com)

Komentarku ( Mahrus  ali ):
Semoga raja Salman bin Abd Aziz bisa membawa missi yang lebih baik untuk Islam dan kaum muslimin dari pada raja sebelumnya. Bila demikian, insya Allah banyak kalangan rakyat Saudi akan memberikan dukungan kepadanya melebihi raja sebelumnya. Sudah tentu, bila beliau mendekat kepada Islam, mesti hubungannya dengan barat agak renggang, tidak sebagaimana  pendahulunya.