Judul Buku : Sejarah Tahlil
Penulis : KH Muhammad Danial Royyan
Tebal : viii, 72
Penerbit : LTN NU Kendal
bekerjasama dengan Pustaka Amanah Kendal
Cetakan : pertama, 17 Februari 2013
Peresensi : Fahroji
Munculnya kembali ideologi dan
faham Salafi Wahabi dengan berbagai bentuk organisasinya yang telah menyebar ke
tengah masyarakat lintas bangsa dan negara (ideologi transnasional) sekarang
ini yang cenderung memusyrikkan dan membid’ahkan amaliah yang sudah ada, maka,
mau tidak mau semua hal yang berkaitan dengan amaliah agama harus diketahui
lengkap dengan dalil-dalilnya.
Kondisi tersebut telah menimbul
keprihatinan di kalangan ulama dan pengurus NU di berbagai wilayah dan cabang,
salah satunya PCNU Kendal. KH Muhammad Danial Royyan penulis buku ini yang juga
ketua tanfidziyah PCNU Kendal periode 2012-2017 menuangkan kegelisahannya
dengan menulis buku Sejarah Tahlil. Tradisi Tahlilan yang merupakan salah satu
sasaran tembak bagi kaum salafi wahabi perlu mendapatkan pembelaan agar kaum
Nahdliyyin tidak menjadi ragu atas amaliah yang dilakukan secara turun-temurun
dan masih berkembang di masyarakat hingga saat ini.
Buku Sejarah Tahlil yang dicetak
dalam ukuran saku tersebut memaparkan bagaimana tradisi bacaan Tahlil
sebagaimana yang dilakukan kaum muslimin sekarang ini tidak terdapat secara
khusus pada zaman nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya. Tetapi tradisi itu
mulai ada sejak zaman ulama muta’akhirin sekitar abad sebelas hijriyah yang
mereka lakukan berdasarkan istimbath dari Al Qur’an dan Hadits Nabi SAW, lalu
mereka menyusun rangkaian bacaan tahlil, mengamalkannya secara rutin dan
mengajarkannya kepada kaum muslimin.
Dalam buku tersebut juga diulas
siapa sebenarnya yang pertama kali menyusun rangkaian bacaan tahlil dan
mentradisikannya. Menurut penulis buku ini, hal tersebut pernah dibahas dalam
forum Bahtsul Masail oleh para kyai Ahli Thariqah. Sebagian mereka berpendapat
bahwa yang pertama menyusun tahlil adalah Sayyid Ja’far Al- Barzanji. Sedangkan
pendapat yang lain mengatakan bahwa yang menyusun tahlil pertama kali adalah
Sayyid Abdullah bin Alwi Al Haddad.
Dari dua pendapat tersebut,
pendapat yang paling kuat tentang siapa penyusun pertama tahlil adalah Imam
Sayyid Abdullah bin Alwi Al Haddad. Hal itu didasarkan pada argumentasi bahwa
Imam Al- Haddad yang wafat pada tahun 1132 H lebih dahulu daripada Sayyid
Ja’far Al – Barzanji yang wafat pada tahun 1177 H.
Pendapat tersebut diperkuat oleh
tulisan Sayyid Alwi bin Ahmad bin Hasan bin Abdullah bin Alwi Al-Haddad dalam
syarah Ratib Al Haddad, bahwa kebiasaan imam Abdullah Al Haddad sesudah membaca
Ratib adalah bacaan tahlil. Para hadirin yang hadir dalam majlis Imam Al Haddad
ikut membaca tahlil secara bersama-sama tidak ada yang saling mendahului sampai
dengan 500 kali.
Disamping mengulas sejarah tahlil,
buku setebal 72 hal itu juga membahas argumentasi tahlil dan pahala bacaanya
yang diyakini bisa sampai kepada mayyit. Pada bab-bab berikutnya penulis juga
mengupas tentang talqin dan ziarah kubur lengkap dengan pengertian, tatacara
dan argumentasi pelaksanaannya. Buku ini wajib dibaca oleh warga Nahdliyyin di
Kendal karena memang diterbitkan dalam rangka penggalian dana NU Kendal dan menggantikan
model penggalian dana dengan lewat stiker. Sungguhpun demikian buku ini juga
perlu dibaca oleh warga NU dimana saja berada.
Peresensi adalah kontributor NU
Online Kendal
Komentarku ( Mahrus
ali):
Tahlilan setelah kematian mulai 1-
7,40,100,1000, haul bukan budaya Islam
taipi di gali dari budaya kufur yang dikemas dengan dzikir, seolah Islami, tapi
kufri dan banyak kesyirikan didalamnya, Dan tanpa acara tahlil adalah langkah
yang cocok dengan rasul, para sahabat dan tabiin, beda dengan kultur budha dll.
Boleh diklik disini:
Pergilah
ke blog kedua http://www.mantankyainu2.blogspot.com/
Atau blog bahasa arabku http://mahrusaliindonesia.blogspot.com/
Blog ke tiga