Tampilkan postingan dengan label Hilal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hilal. Tampilkan semua postingan

Kamis, Oktober 02, 2014

IKut Mekkah atau rukyah hilal negara masing - masing ?

Alghifari Smith
WUQUF DI ARAFAH ADALAH ACUAN.
————————————————
Mufti Agung Al-Quds, Palestina, Syaikh Mohammed Hussein mengingatkan kaum Muslimin di seluruh dunia, bahwa Arab Saudi melalui kesaksian hilal, hendaknya diikuti negeri-negeri lainnya. Sebab kiblat dan pusat jamaah haji ada di tanah suci Mekkah al-Mukarramah.

“Sebab ini berkaitan dengan ibadah lainnya. Jumat (3/10) adalah Hari Arafah, di mana jutaan jamaah haji berkumpul di padang Arafah, maka umat Muslim lainnya yang tidak haji disunahkan puasa Arafah,” ujar Mufti Hussein.
Demikian pula, Sabtu di Mekkah dan tempat-tempat lainnya di seluruh dunia sama-sama melaksanakan Hari Raya Idul Adha 1435.
Mahkamah Agung Saudi Arabia meminta kaum Muslimin di seluruh dunia agar mengacu pada putusan Saudi Arabia sebagai kiblat yang memimpin jutaan umat Islam di seluruh dunia yang berhaji ke Tanah Suci.
“Berbeda dengan Idul Fitri yang memungkinkan perbedaan, tetapi ini Idul Adha, acuannya adalah jamaah haji di tanah suci Mekkah al-Mukarramah, umat Islam seluruh dunia merayakan Idul Adha pada saat yang sama dengan Arab Saudi,” bunyi pernyataan.
Di samping berkaitan dengan penampakan bulan (rukyatul hilal) tersebut, tentunya, yang paling pokok adalah saat jamaah haji seluruhnya melaksanakan wuquf di Arafah pada Jumat (3/10) nanti, sebagai puncak ibadah haji. Ini bisa disaksikan dari seluruh dunia.
Dalam rangka penyatuan penanggalan Kalender Dunia Islam, Organisasi Konferensi Islam (OKI) sebenarnya pernah membuat kesepakatan yang dikenal dengan Konvensi Istambul 1978. Konvensi Istambul adalah pertemuan Musyawarah Ahli Hisab dan Ru’yat di Istanbul, Turki tahun 1978 yang dihadiri oleh wakil-wakil dari 19 Negara Islam (termasuk Indonesia), ditambah dengan tiga Lembaga Kegiatan Masyarakat Islam di Timur Tengah dan Eropa.
Ada tiga kesepakatan terpenting Konvensi Istambul, yaitu pertama, sepakat satunya penanggalan bagi dunia Islam. Kedua, ru’yatul hilal (penglihatan bulan) suatu negara berlaku untuk semua negara. Ketiga, Mekkah Al-Mukarramah dijadikan sentral ru’yatul hilal dan pusat informasi ke seluruh negeri-negeri Islam.
Di tengah situasi global yang semakin mendewasakan umat Islam, semoga ukhuwah Islamiyah, persatuan dan kesatuan umat Islam, dapat terwujud di tengah perbedaan penetapan yang ada, khususnya dalam penetapan satu Ramadhan, 1 Dzulhijjah, Hari Raya Idul Fitri dan Hari Raya Idul Adha.
Terlepas dari perbedaan itu semua, kami hanya mengingatkan kepada Pihak Pemerintah RI, terutama Kementerian Agama, hendaknya memperhatikan acuan pelaksanaan ibadah haji adalah di tanah suci Mekkah al-Mukarramah, sebab ini berkaitan dengan ibadah-ibadah lainnya. Seperti saat wuquf di Arafah, Jumat nanti 9 Dzulhijjah (3/10), sehingga disebut Haji Akbar. Maka umat Islam di seluruh dunia lainnya, dianjurkan untuk melaksanakan puasa Arafah.
Esok harinya, Sabtu 10 Dzulhijjah berarti Hari Raya Idul Adha bagi umat Islam di seluruh dunia.
Jika kemudian Pemerintah RI melalui Kementerian Agama, yang dibacakan oleh Wamenag Nasaruddin Umar, menetapkan Idul Adha adalah Ahad (5/10), lalu mereka puasa Arafah berarti Sabtu (4/10). Yang menjadi tanda tanya sangat besar adalah puasa Arafah mengikuti Arafah yang mana? Padahal pula, Sabtu (4/10) itu kaum Muslimin di Mekkah al-Mukarramah dan di seluruh dunia, sedang melaksanakan shalat Idul Adha. Ini berarti, keputusan pemerintah tentang hari puasa Arafah yang jatuh pada Hari Raya adalah haram hukumnya. Kalau ini diikuti pula oleh jutaan umat Islam, maka berdosalah pemerintah dan umat Islam bila melaksanakan putusan itu.
Lalu, apakah keputusan sepenting itu dan menyangkut umat Islam mayoritas Indonesia tersebut, ditetapkan oleh Wakil Menag. Padahal Menteri Agama sebagai Amirul Haj Indonesia sedang berada di tanah suci Mekkah, mendengar sendiri dan menyaksikan sendiri ibadah haji di sana ?
Kami juga hanya mengingatkan kepada seluruh kaum Muslimin di manapun berada, hendaknya mengikuti haji di tanah suci sebagai acuan pelaksanaaan ibadah terkait, termasuk puasa Arafah dan penentuan Hari Raya Idul Adha 1435 tahun ini.
Bagi Pemerintah RI melalui Kemenag, masih terbuka perubahan keputusan buatan manusia, demi tanggung jawab di hadapan Allah dan tanggung jawab di hadapan jutaan umat Muslim Indonesia khususnya.
Dan kisruh seperti ini tidak akan ada ketika institusi pemersatu kaum muslimin, Khilafah Islamiyah 'alaa Minhaajin Nubuwwah telah tegak di tengah-tengah umat.



Komentarku ( Mahrus ali ):
Pegangan  kita  ini  adalah rukyat hilal, bukan ikut Mekkah atau Medinah dan  tidak ikut  rukyat Amirika atau Sofyet. . Bila  kita  saat rukyat hilal tidak tampak  karena awan atau karena masih kecil derajat hilalnya, lalu lima jam  lagi di Mekkah  hilal tampak. Sudah tentu, Mekkah sudah mulai bulan baru dan kita menanti besuk malam dan menyempurnakan  bulan sampai tiga puluh hari. Ini perbedaan akan terjadi sekarang dan hari mendatang. Ini perbedaan yang wajar, bahkan harus disamakan ini yang tidak wajar. Bahkan akan bertentangan dengan hadis yang menganjurkan rukyah di mathla` negara masing – masing. Kita  ikut hadis sbb:
ٍ عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِي اللَّه عَنْهممَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَكَرَ رَمَضَانَ فَضَرَبَ بِيَدَيْهِ فَقَالَ الشَّهْرُ هَكَذَا وَهَكَذَا وَهَكَذَا ثُمَّ عَقَدَ إِبْهَامَهُ فِي الثَّالِثَةِ فَصُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ غُمَّ  عَلَيْكُمْ فَاقْدِرُوا لَهُ ثَلَاثِينَ
            Ibnu Umar ra  berkata : Sesungguhnya Rasulullah menyebut bulan Ramadhan , lalu  mencontohkan dengan  kedua tangannya  begini , begini dan begini . Kemudian ketiga kalinya beliau melengkungkan ibu jarinya ( 29 hari ) . Beliau bersabda :Berpuasalah  karena melihat bulan  tanggal satu ( Ramadhan ) dan berbukalah karena melihat  bulan tanggal satu ( Syawal ) . Bila ada  awan di atasmu , tentukan tiga puluh hari . [1]
Al Qurthubi berkata :
وَفُرِضَ عَلَيْنَا عِنْدَ غُمَّةِ اْلهِلاَلِ إِكْمَالُ عِدَّةِ شَعْبَانَ ثَلاَثِيْنَ يَوْمًا وَإِكْمَالُ عِدَّةِ رَمَضَانَ ثَلاَثِيْنَ يَوْمًا حَتَّى نَدْخُلَ فِي اْلعِبَادَةِ بِيَقِيْنٍ وَنَخْرُجَ عَنْهَا بِيَقِيْنٍ
  Kita di wajibkan ketika awan menghalangi bulan sabit  untuk menyempurnakan  tiga puluh hari  bulan  sya`ban  dan menyempurnakan  tiga puluh hari bulan Ramadhan  sehingga kita  menjalankan ibadah dengan yakin  dan kita keluar dari Ramadhan juga dengan yakin . [2]Pendapat ini didukung Imam Malik  , Abu Hanifah , Imam  Syafii , mayoritas ulama` salaf dan kholaf kata Imam Nawawi  [3]    
                          Muthrof bin Abdillah bin Assyakhir – tokoh tabi`in  dan Ibnu Qutaibah dari pakar bahasa berkata :” Boleh berpedoman kepada  hisab  waktu langit berawan . Imam  Qurthubi menolaknya  dengan pernyataan nya  : “ Ijma` sahabat bisa menghancurkan pendapat kedua pakar itu . Ibnu Nafi` meriwayatkan  dari Imam Malik tentang  seorang pemimpin  yang memulai Ramadhan  dan mengakhirinya dengan hisab  - tidak perlu  di ikuti . [4]



Mau nanya hubungi kami:
088803080803( Smartfren). 081935056529 (XL ) atau  08819386306   ( smartfren)





[1]  HR  Bukhori / Shoum / 1900. Nasai / Shoum / 2120. Abu Dawud / Shoum / 2220 . Ibnu Majah / Shiyam / 1654. Muslim / Shiyam / 1080 . Ahmad / Musnad muktsirin minas shohabah / 4474. ( muttafaq alaih ) . Tafsir qurthubi 293/2. Ahkamul quran lil jasshos /234/1. Tafsir Ibnu Katsir / 226/1. Al Mubdi`/ 5/3. Fathul qadir / 184/1. Manarus sabil / 208/1. Al Kafi fi fiqhi Ahmad bin Hambal  347/1. Kassyaful qina` /301/1 Majmu`  fatawa / 207/25. I`anatut tholibin 215/2. Al mughni /6/4. Ikhtilaful hadis / 250/1. Al muhaddzab / 215/1. Iqna` /234/1.  Al wasith / 513.
[2] Tafsir Al qurthubi  293/2
[3] Al majmu`  271/6
[4]  Ibid 293/2.

Selasa, November 01, 2011

Hadis rukyah hilal yang lemah di gugat

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ جَاءَ أَعْرَابِيٌّ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ إِنِّي رَأَيْتُ الْهِلاَلَ قَالَ أَتَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ أَتَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ قَالَ نَعَمْ قَالَ يَا بِلاَلُ أَذِّنْ فِي النَّاسِ أَنْ يَصُومُوا غَدًا
 Dari Ibnu Abbas ra berkata : Seorang arab badui datang kepada Nabi SAW ,lalu berkata :”Sesungguhnya aku melihat Hilal “.
Rasulullah SAW bertanya :”Apakah kamu bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan sesungguhnya Muhammad Rasulullah SAW “.
Dia  menjawab :” Ya “.
Rasulullah SAW bersabda :” Wahai Bilal ! umumkan kepada manusia agar berpuasa  besok “.


نصب الراية في تخريج أحاديث الهداية  - (ج 4 / ص 371)
Ibnu Hajar berkomentar
قَالَ التِّرْمِذِيُّ : هَذَا حَدِيثٌ فِيهِ اخْتِلَافٌ ، وَقَدْ رُوِيَ عَنْ عِكْرِمَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُرْسَلًا .انْتَهَى .
Tirmidzi menyatakan : Hadis ini masih hilaf . Ia juga di riwayatkan oleh Ikrimah dari Nabi SAW dalam keadaan mursal
وَرَوَاهُ النَّسَائِيُّ مُرْسَلًا ، وَمُسْنَدًا ، وَذَكَرَ أَنَّ الْمُرْسَلَ أَوْلَى بِالصَّوَابِ .وَأَنَّ سِمَاكًا إذَا تَفَرَّدَ بِشَيْءٍ لَمْ يَكُنْ حُجَّةً ؛ لِأَنَّهُ كَانَ يُلَقَّنُ فَيَتَلَقَّنُ .انْتَهَى .
Ia juga di riwayatkan oleh Nasai dalam keadaan mursal ( sanad  terputus / lemah ) dan musnad ( sanad bersambung ) . Dan bel.iau menyebutkan bahwa  Mursal lebih tepat . Dan Simak sendiri bila menyendiri tidak bisa di buat hujjah . Sebab  dia menyampaikan hadis dengan di benarkan orang , lalu dia mengikuti petunjuknya .
وَرَوَاهُ مُسْنَدًا ابْنُ حِبَّانَ فِي " صَحِيحِهِ "
Ia juga di riwayatkan dalam keadaan musnad  dalam kitab sahihnya
Identitas Simak bin Harb sbb :

مَرْتَبَتُهُ عِنْدَ ابْنِ حَجَرْ : صَدُوْقٌ ، وَ رِوَايَتُهُ عَنْ عِكْرِمَةَ خَاصَّةً مُضْطَرِبَةٌ ، وَ قَدْ تَغَيَّرَ بِأَخِرهِ فَكَانَ رُبَّمَا تُلُقِّنَ

Martabatnya menurut Ibn Hajar , dia ( Simak ) jujur . Riwayatnya dari Ikrimah peribadi ( secara husus )  kacau dan hapalannya juga berobah di ahir hayatnya  ,. Terkadang menerima masukan dari orang lain ( Artinya hadisnya  tidak asli sesuai dengan hapalannya tapi  di dekte orang lain ) .

مَرْتَبَتُهُ عِنْدَ الْذَّهَبِـي : ثِقَةٌ سَاءَ حِفْظُهُ ، أَحَدُ عُلَمَاءِ الْكُوْفَةِ
وَ كَانَ الْثَّوْرِىُّ يُضْعِفُهُ بَعْضٍ الْضَّعْفِ ،
Martabatnya menurut Dzahabi : Dia terpercaya , tapi hapalannya jelek dan salah satu ulama Kufah . Sofyan Ats tsauri menyatakan  , dia lemah .
وَ قَالَ مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الْلَّهِ بْنِ عَمَّارٍ الْمَوْصِلِىُّ : يَقُوْلُوْنَ إِنَّهُ كَانَ يَغْلَطُ ، وَ يَخْتَلِفُوْنَ فِىْ حَدِيْثِهِ . وَ قَالَ أَبُوْ طَالِبٍ ، عَنْ أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ : مُضْطَرِبٌ الْحَدِيْثِ
Muhammad bin Abdillah bin Ammar al maushili  berkata : Mereka mengatakan bahwa  Simak adalah keliru dan mereka juga berbeda pendapat dalam hadisnya . Abu Thalib berkata dari Imam Ahmad bin Hambal : Simak kacau hadisnya, [1] Mausuah ruwatil hadis 2624
Namanya 
ــ سِمَاكُ بْنُ حَرْبِ بْنِ أَوْسِ بْنِ خَالِدٍ بْنِ نِزَارِ بْنِ مُعَاوِيَةَ الذُهْلَىْ الْبَكْرِىِّ ، أَبُوْ الْمُغِيْرَةِ الْكُوفِىُّ ، ( أَخُوْ مُحَمَّدٍ بْنُ حَرْبٍ وَ إِبْرَاهِيْمُ بْنُ حَرْبٍ )
Simak  bin Harb bin Aus bin Khalid bin Nizar bin Muawiyah Adz dzuhli al Bakry, Abu-Mughirah al kufi (saudara dari Muhammad bin Harb  dan Ibrahim bin Harb )



فيض القدير - (ج 6 / ص 369)
قال ابن القطان : فيه سماك بن حرب يقبل التلقين
Dalam kitab Faidhul qadir 6/369, Al Munawi  berkata :
Ibn Al qatthan berkata :  Sanadnya terdapat Simak bin Harb yang mau di dekte dlm menyampaikan hadis .
مقدمة الفتح - (ج 1 / ص 457)
سماك بن حرب الكوفي تابعي مشهور مختلف فيه وقد ضعفوا أحاديثه عن عكرمة
Ibn Hajar dalam kitab Mukaddimatul fath  1/ 457 menyatakan :
Simak bin Harb al Kufi  , tabiin yang mashur , tapi ulama masih hilaf tentang dia . Dan mereka menyatakan lemah hadisnya yang dari Ikrimah ( sebagaimana hadis di atas )
فيض القدير - (ج 6 / ص 377)
وفيه أيضا سماك بن حرب أورده في الضعفاء وقال : ثقة كان شعبة يضعفه ، وقال ابن حجر : وقيل أبي حراش في حديثه لين ،
Dalam  kitab faidhul qadir  377/6 al Munawi berkata ( tentang   Simak bin Harb ) . yang di cantumkan dalam kitab  Dhu`afa` ( koleksi perawi – perawi lemah ) , lalu  beliau  berkata : Dia perawi terpercaya , tapi Syu`bah menyatakan dia lemah .
Di katakan kepada Abu Hirasy , hadisnya lemah ,.

فيض القدير - (ج 6 / ص 539)
ولم يخرجه البخاري لأن مداره على سماك بن حرب وهو لا يخرج عنه لكونه ليس من شروطه وسببه
Dalam kitab  Faidhul qadir 6/ 539 Al Munawi menyatakan  :
Hadis  tsb ( tentang thaharah ) , Bukhari tidak meriwayatkannya  , sebab pada pokoknya pada Simak bin Harb . Dan Imam Bukhari tidak meriwayatkan hadis dari Simak bin Harb , karena tidak memenuhi persaratan Bukhari  dan sebabnya.

التمهيد لما في الموطأ من المعاني والأسانيد - (ج 16 / ص 14)
وسماك ثقة عند قوم مضعف عند آخرين كان ابن المبارك يقول سماك بن حرب ضعيف الحديث
Dalam kitab Tamhid lima fil muwattho` ……………………..  16/14  di katakan :
Simak menurut suatu kaum terpercaya  dan perawi lemah menurut lainnya . ibn Mubarak berkata : Simak bin harb lemah hadisnya .
مجلة المنار - (ج 28 / ص 551)
وسماك قال سفيان : إنه ضعيف ,
Dalam Majallah al Manar  28/ 551  di katakan :
Sofyan berkata tentang Simak , dia ( simak ) adalah lemah .
عمدة القاري 3 - (ج 1 / ص 409)
وأجاب ابن حزم عن ذلك فقال لا حجة فيه لأن في سنده سماك بن حرب وهو يقبل التلقين شهد عليه بذلك شعبة وغيره
Dalam kitab Umdatul qari 1/409 , Badruddin al aini berkata :
Ibn Hazem menjawab tentang hal itu , hadis itu  tidak menjadi hujjah , sebab  sanadnya  terdapat Simak  bin Harb yang menerima dekte orang lain  dalam menyampaikan hadis . Syu`bah dan lainnya  juga menyaksikan hal itu .
مجلة مجمع الفقه الإسلامي - (ج 9 / ص 1062)
وقد ضعف هذا الحديث؛ لأن سماك بن حرب قد انفرد به، وقد قال فيه سفيان: إنه ضعيف، وقال أحمد: هو مضطرب الحديث، قال الحافظ في التقريب (1/332): "صدوق وروايته عن عكرمة خاصة مضطربة، وقد تغير بآخره، فكان ربما يلقن" -وراجع ميزان الاعتدال (2/232)
Dalam majalah Majmaul fiqhi al islami 9/ 1062 terdapat keterangan :
Hadis ini lemah karena Simak bin Harb yang menyendiri dalam meriwayatkan hadis . Sungguh Sofyan berkata  tentang dia  : Dia ( Simak ) adalah lemah .
Ahmad menyatakan : Dia adalah kacau hadisnya .
Dalam kitab Taqrib , Al Hafid Ibn Hajar berkata :  Simak adalah perawi yang jujur , riwayatnya dari Ikrimah saja yang kacau . Dia  berobah hapalannya ketika lansia . dan terkadang  menerima kalimat dari orang lain  . Lihat  Mizanul i`tidal  2/ 232
أحاديث يحتج بها الشيعة آخر نسخة - (ج 1 / ص 75)
وقال النسائي »ليس بالقوي« (المجتبى8/319) وقال الدارقطني في العلل »سيء الحفظ«. وقال الفسوي » روايته عن عكرمة مضطربة وعن غيره صالح وليس بالمتين«.
Dalam kitab ahadis  yahtajju biha syi`ah , Abd Rahman Muhammad Sa`id  dari Damaskus  berkata :
Nasai  berkata : Simak bukan perawi yang kuat . Al Mujtaba  8/319 .  Daroquthni dalam kitab al Ilal , Simak  adalah  jelek hapalannya  .
Ya`qub al Fasawi berkata : Riwayatnya dari Ikrimah  kacau . Dari lainnya  masih baik dan tidak kuat .
الاسعاد في شرح لمعة الاعتقاد - (ج 1 / ص 42)
 و تفرد به سماك بن حرب و لا يحتمله
Dalam kitab al Is`ad fi syarhi Lum`ati i`tiqad  1/ 42 .
Simak bin  Harb meriwayatkan secara sendirian  , dan dia tidak mampu untuk berbuat seperti itu . ( Jadi hadisnya lemah ) .
الموسوعة الفقهية الكويتية - (ج 22 / ص 26)
 وبين الترمذي أن أكثر رواته رووه مرسلاً، وكذا نقل الزيلعي عن النسائي أنه رجح الإرسال، انظر نصب الراية ( 2 / 443 - ط المجلس العلمي
Dalam kitab al mausu`ah al fiqhiyah  al kuwaitiyah  22/26 .
Imam Tirmidzi sendiri menyatakan , bahwa kebanyakan perawinya meriwayatkan hadis tsb secara musal . Begitu juga Zaila`I mengutip  dari Nasa`I  bahwa belaiu mentarjih  bahwa hadis tsb mursal  . Lihat kitab Nasbur royah  443 / 2. Cetakan majlis al ilm.

mbak lail mengeritik saya tentang kelemahan hadis tsb , dan sudah lama tidak saya jawab karena saya tidak punya kesempatan untuk itu  dan tema ini bukan perioritas bagi saya untuk di tayangkanndi blog saya . Dengan bagaimanapun saya harus menjawabnya dan baru sekarang saya ada  waktu longgar  untuk masalah extra ini .
 ) . Anda (mbak lail ) menyatakan

  المستدرك على الصحيحين للحاكم مع تعليقات الذهبي في التلخيص (1/ 437)
حدثنا أبو بكر محمد بن أحمد بن بالويه ثنا محمد بن أحمد بن النضر الأزدي ثنا معاوية بن عمرو ثنا زائدة عن سماك بن حرب عن عكرمة عن ابن عباس قال : جاء أعرابي إلى النبي صلى الله عليه و سلم فقال : أبصرت الهلال الليلة فقال : أتشهد أن لا إله إلا الله و أن محمدا عبده و رسوله ؟ فقال : نعم قال : قم يا بلال فأذن في الناس فليصوموا
قد احتج البخاري بعكرمة و احتج مسلم بسماك و هذا حديث صحيح الإسناد متداول بين الفقهاء و لم يخرجاه
تعليق الذهبي قي التلخيص : صحيح


Dalam kitab Al Mustadrak alasahihain karya Al hakim  …………….  1;437 ada keterangan :
Imam Bukhari telah berhujjah dengan Ikrimah dan Imam Muslim juga berhujjah  dengan Simak . dan ini hadis sahih sanadnya , populer di kalangan  fuqaha` , tapi  tidak  di riwayatkan oleh Bukhari Muslim . Dzahabi juga memberikan komentar dalam kitab Talhis , sahih .
Komentarku ( Mahrus ali ) :

Bila benar , komentar Imam Dzahabi terhadap hadis tsb sahih , maka  saya juga punya data tentang komentar Dzahabi sbb :

المستدرك على الصحيحين للحاكم مع تعليقات الذهبي في التلخيص (1/ 586)

تابعه سفيان الثوري و حماد بن سلمة عن سماك بن حرب
Dalam kitab al Mustadrak alas sahihain dengan komentar Dzahabi  dalam kitab Talkhis  1/ 586  sbb :
    Hadis tsb  di ikuti    oleh Sofyan Tsauri  dan Hammad bin Salamah  dari  Simak  bin Harb.
Komentarku ( Mahrus ali ) :
   Disini ,  tiada pernyataan Dzahabi  yang menyatakan hadis  tsb  sahih , hanya saja perawi bernama  Sofyan Tsauri  juga di sebut ikut meriwayatkan hadis itu .
Ada komentar Dzahabi  sbb :

مَرْتَبَتُهُ عِنْدَ الْذَّهَبِـي : ثِقَةٌ سَاءَ حِفْظُهُ ، أَحَدُ عُلَمَاءِ الْكُوْفَةِ
وَ كَانَ الْثَّوْرِىُّ يُضْعِفُهُ بَعْضٍ الْضَّعْفِ ،
Martabatnya menurut Dzahabi : Dia terpercaya , tapi hapalannya jelek dan salah satu ulama Kufah . Sofyan Ats tsauri menyatakan  , dia lemah .
Komentarku ( Mahrus ali ) :
  Tsauri sendiri menyatakan lemah kepada perawi bernama Simak .
عبد الله منصور
وجاء الحافظ الذهبي فى التلخيص وصحح أحاديث ولكنه ايضا - رحمه الله - كان متساهلا فى الأحكام
ولا شك أن الألباني والأرنؤط قد حكموا على الأحاديث من جهة الرواة أو من جهة المتن فنحن الآن قد وصلنا من أحوال الرواة ومن الكتب ما قد يحتمل انه كان مفقودا قبل ذلك .... والله تعالى أعلم بالصواب
Abdullah bin Mansur menyatakan :
Al Hafidh Dzahabi  dalam kitab Talkhis telah menyatakan sahih  terhadap beberapa  hadis , tapi beliau  rahimahullah serba mudah dlm hal hukum
Dan tidak di ragukan bahwa  al abani dan al arna`uth menilai hadis – hadis   dari  segi perawi – perawi  atau redaksi hadis . Kita sekarang telah sampai kepada kondisi para perawi  dan  kitab  - kitab yang mungkin waktu dulu  tidak ada . Wallohu a`lam bisshowab .

Komentarku ( Mahrus ali ) :

   Al Bani telah menyatakan lemah hadis badui yang melihat hilal itu .

كتاب التلخيص قال عنه الذهبي في السير: وبكلّ حالٍ فهو -أي مستدرك الحاكم- كتابٌ مفيدٌ قد اختصرته، ويعوز عملاً وتحريراً
Imam Dzahabi sendiri menyatakan dalam kitab Siyar .  Sudah tentu kitab Mustadrak al Hakim  adalah kitab yang berguna  , dan aku telah meringkasnya  ,tapi butuh  untuk di kerjakan lagi dan di atur redaksinya. [1]
Dzahabi menyatakan :
ومن ذلك قوله في السير: «في المستدرك شيء كثير على شرطهما. وشيء كثير على شرط أحدهما. ولعل مجموع ذلك ثلث الكتاب، بل أقل. فإن في كثير من ذلك أحاديث في الظاهر على شرط أحدهما أو كليهما، وفي الباطن لها علل خفية مؤثرة. وقطعة من الكتاب إسنادها صالح وحسن وجيد. وذلك نحو ربعه. وباقي الكتاب مناكير وعجائب. وفي غضون ذلك أحاديث نحو المئة يشهد القلب ببطلانها، كنت قد أفردت منها جزءاً». فكيف يوافقه؟
Termasuk dalam hal itu adalah perkataan Imam Dzahabi dalam kitab siyar .
Dalam kitab al mustadrak terdapat hadis banyak yang mememnuhi persaratan perawi Bukhari dan Muslim , juga banyak yang mengikuti persaratan perawi salah satunya . Barang kali jumlahnya  sepertiga kitab , atau kurang sedikit .Kebanyakan nya adalah hadis – hadis yang menurut lahiriyahnya mengikuti sarat salah satu Bukhari Muslim atau keduanya , tapi memiliki beberapa illat ( cacat ) samar yang berpengaruh ,.  Sebagian dari kitab Mustadrak , ada yang  sanadnya  baik , hasan dan jayyid . Mungkin  sekitar seper empatnya . lainnya dalam kitab Mustadrak adalah  hadis – hadis mungkar , dan  aneh . Di samping itu ada beberapa hadis  sekitar seratusan yang hati saya  menyaksikan  hadis tsb batil . Sudah saya sisihkan dalam satu juz , lalu bagaimanakah Dzahabi menyetujuinya. ?
Komentarku ( Mahrus ali ) :
  Hadis yang belum di komentari oleh Dzahabi dalam kitab al Mustadrak itu , biasanya  ulama menyatakan  , Dzahabi menetujuinya  atau Dzahabi mengakuinya  ……………………. Namun hakikatnya hati Dzahabi masih menyaksikan batilnya , lalu bagaimana di katakan menyetujuinya atau mengakuinya. [2]

Anda (
mbak lail )menyatakan lagi :

Ibnu hajar mengkritik pendapat yg mendhoifkan Simak scr mutlak

Komentarku ( Mahrus ali ) :
Lihat perkataan Ibnu Hajar  sbb :
قال الحافظ في التقريب (1/332): "صدوق وروايته عن عكرمة خاصة مضطربة، وقد تغير بآخره، فكان ربما يلقن" -وراجع ميزان الاعتدال (2/232)
Dalam majalah Majmaul fiqhi al islami 9/ 1062 terdapat keterangan :
Dalam kitab Taqrib , Al Hafid Ibn Hajar berkata :  Simak adalah perawi yang jujur , riwayatnya dari Ikrimah saja yang kacau . Dia  berobah hapalannya ketika lansia . dan terkadang  menerima kalimat dari orang lain  . Lihat  Mizanul i`tidal  2/ 232
Komentarku ( Mahrus ali ) :
 Hadis seorang Badui melihat Hilal adalah dari Ikrimah , sudah tentu termasuk kacau hadisnya .
مَرْتَبَتُهُ عِنْدَ ابْنِ حَجَرْ : صَدُوْقٌ ، وَ رِوَايَتُهُ عَنْ عِكْرِمَةَ خَاصَّةً مُضْطَرِبَةٌ ، وَ قَدْ تَغَيَّرَ بِأَخِرهِ فَكَانَ رُبَّمَا تُلُقِّنَ

Martabatnya menurut Ibn Hajar , dia ( Simak ) jujur , riwayatnya dari Ikrimah peribadi ( secara husus )  kacau dan hapalannya juga berobah di ahir hayatnya  ,. Terkadang menerima masukan dari orang lain ( Artinya hadisnya  tidak asli sesuai dengan hapalannya tapi dari di dekte orang lain ) . Mausuah ruwatil hadis .

Anda menyatakan :




تهذيب التهذيب (4/ 205)
ومن سمع منه قديما مثل شعبة وسفيان فحديثهم عنه صحيح مستقيم والذي قاله ابن المبارك إنما نرى أنه فيمن سمع منه بآخره
Orang yang mendengar dari Simak waktu dulu  seperti Syu`bah dan Sofyan , maka hadisnya mereka dari nya adalah sahih  dan lurus . Dan apa yang di katakan oleh Ibn Mubarak  , kita berpendapat bahwa ia bagi orang yang mendengar hadis dari Simak  waktu berusia lanjut.

Komentarku ( Mahrus ali ) :
Ternyata Sofyan Sendiri melemahkannya , baik waktu tua atau masih muda sbb :

مستقيم والذي قاله ابن المبارك إنما نرى أنه فيمن سمع منه بآخره
مجلة المنار - (ج 28 / ص 551)
وسماك قال سفيان : إنه ضعيف ,
Dalam Majallah al Manar  28/ 551  di katakan :
Sofyan berkata tentang Simak , dia ( simak ) adalah lemah .

Bahkan Syu`bah sendiri melemahkannya , lihat sbb :
عمدة القاري 3 - (ج 1 / ص 409)
وأجاب ابن حزم عن ذلك فقال لا حجة فيه لأن في سنده سماك بن حرب وهو يقبل التلقين شهد عليه بذلك شعبة وغيره
Dalam kitab Umdatulk qari 1/409 , Badruddin al aini berkata :
Ibn Hazem menjawab tentang hal itu , hadis itu  tidak menjadi hujjah , sebab  sanadnya  terdapat Simak  bin Harb yang menerima petunjuk orang lain  dalam menyampaikan hadis . Syu`bah dan lainnya  juga menyaksikan hal itu .
Anda menyatakan lagi :

kasus Idhthirob sanad itu hanya mencederai kedhobitan, yaitu hanya dikhawatirkan memarfu’kan hadis mauquf, memauqufkan hadis marfu’, membalik urutan kejadian , krng teliti menderet poin2 dalam hadis dll..

ibnu taimiyyah berkata dlm syarhul umdah ketika membahas zaid bin jabiroh yg dikritik buruk hafalannya lalu dianggap dhoif scr mutlak pdhl tdk demikian

Komentarku ( Mahrus ali ) :


شرح العمدة (ص: 432)
أن رواته عدول مرضيون وإنما يخاف على بعضهم من سوء حفظه وذلك إنما يؤثر في رفع موقوف أو وصل مقطوع أو اسناد مرسل أو زيادة كلمة أو نقضص اخرى أو اختلاط حديث بحديث وشبه ذلك مما يؤتى الإنسان فيه من جهة تغير حفظه
Anda menterjemahkan keliru , bukan begitu , tapi begini :
Perawi – perawinya  adil dan memuaskan ( di ridai ) . Hanya sebagian mereka karena hapalannya jelek . Hal itu berpengaruh dalam memarfukkan hadis yang maukuf , menyambungkan hadis yang terputus , atau menyatakan musnad pada hadis yang mursal  , menambah kalimat , atau menguranginya , lalu di ganti yang lain , mencampur hadis dengan hadis lain dan hal yang mirip dengannya   dari apa yang di berikan kepada manusia karena hapalannya berobah . Syarah Umdah 432

Anda menyatakan lagi :

Simak adl perawi yang Jujur, bahkan salah seorang ulama Kufah yg disebut Ibnu Adi sbg Kibaru Tabi’iy


الكاشف في معرفة من له رواية في الكتب الستة (1/ 465)
سماك بن حرب أبو المغيرة الذهلي أحد علماء الكوفة




تهذيب التهذيب (4/ 205)
وقال ابن عدي ولسماك حديث كثير مستقيم إن شاء الله وهو من كبار تابعي أهل الكوفة وأحاديثه حسان وهو صدوق لا بأس به.

Komentarku ( Mahrus ali ) :


أقول:
الذين ضعفوا أحاديث سماك مطلقا
مثل عبد الله ابن المبارك
وشعبة
و سفيان الثوري
aku berkata:
Yang melemahkan hadis – hadis  Simak secara mutlak
Seperti Abdullah bin Al-Mubarak
Syu`bah
Sufian  Tsauri
 

وصالح لم يخصوا ذلك بأحاديثه عن عكرمة فقط
والنسائي عند ما قال: ربما لقن فإذا أنفرد بأصل لم يكن حجة لأنه كان يلقن فيتلقن لم يخص ذلك بأحاديثه عن عكرمة
Saleh tidak menghususkan hadis – hadis Simak  dari  Ikrimah saja
لَمْ يَكُنْ حُجَّةً ؛ لِأَنَّهُ كَانَ يُلَقَّنُ فَيَتَلَقَّنُ .انْتَهَى .
Dan Nasai ketika berkata : Kadang di ajari orang , bila menyendiri tidak bisa di buat hujjah . sebab  dia menyampaikan hadis dengan di benarkan orang , lalu dia mengikuti petunjuknya. Jadi tidak husus  hadis – hadis yang dari Ikrimah .

و ابن حبان عند ما قال وسماك يخطأ كثيرا وضعفه
وأحمد عندما قال مضطرب الحديث

Ibnu Hibban ketika berkata :Simak sering  keliru dan  beliau menyatakan Simak adalah lemah.
Imam Ahmad ketika berkata : Simak adalah perawi yang  kacau hadisnya.
Komentarku ( Mahrus ali ) :

Dan masih banyak ulama yang menyatakan bahwa Simak adalah perawi lemah mutlak  seperti Ibn Kharras , Ibn Ammar

فالراجح أنه ضعيف مطلقا ولاسيما في حديثه عن عكرمة وما رُوي عنه بآخرة
Jadi yang rajih adalah lemah secara mutlak , apalagi hadidsnya  yang dari Ikrimah . Dan apa yang di riwayatkan di ahir hayatnya .


Itulah perkata  Syaikh Abd Rahman .
Anda menyatakan lagi :
Ibnu Khuzaimah yg setahu sy terkenal ketat menyeleksi hadis shahih


Komentarku ( Mahrus ali ) :

Apakah ulama – ulama yang menyatakan hadis badui melihat hilal  itu serampangan  dalam melemahkan hadis itu .Seketat – Ibn Khuzaimah , masih kalah dengan Bukhari  Muslim dan beliau berdua tidak memasukkan  hadis tsb dlm kitab sahihnya . Ibnu Khuzaimah sekalipun ketat dalam menyeleksi hadis , namun namanya manusia masih mungkin keliru  dan juga mungkin benar . Jangan sekali menyatakan bahwa Ibnu Khuzaimah tidak akan melakukan kekeliruan .

Anda menyatakan :

Ad-dzahabi yg terkenal sbg kritikus hadis menyetujui penshahihan Al-hakim.

Komentarku ( Mahrus ali ) :

Aslinya Dzahabi  bukan menyetujui tapi beliau tanpa komentar , namun di hatinya masih banyak uneg – uneg , sebagaimana keterangan  beliau yang telah saya paparkan di atas .

mbak lail mengatakan...

subhanallah, tentu penulis telah faham bahwa apa yang tdk dicantumkan oleh bukhari dan muslim dlm shahihnya bukan berarti hadis tersebut pasti dhoif. Monggo dibaca biografi Muslim dan bukhari dlm Siyar A’lam Nubala’, niscaya panjenengan akan menemukan informasi bahwa Bukhari dan Muslim tdk memaksudkan ketika menyusun Shahihnya bhw semua hadis yg tdk terdapat dlm shahihnya pasti dhoif. Jk semua hadis selain bukhari muslim pasti dhoif mk tdk ada gunanya Al-hakim membuat Mustadrok, Ibnu hibban membuat Shahih, Ibnu Khuzaimah membuat Shahih,Addaruquthni membuat Sunan dst..Attirmidzi juga tdk mengatakan lemah, tp beliau hanya mengatakan “ikhtilaf”.
Komentarku ( Mahrus ali ) :
Saya tidak bermaksud  seperti itu , tapi  saya maksudkan Bukhari dan Muslim saja  tidak mau memasukkan hadis tsb ke dalam kitab sahihnya . Sekalipun ada hadis sahih  di luar  dua kitab sahih itu .
Anda menyatakan lagi :

Statemen beliau;
حَدِيثُ ابْنِ عَبَّاسٍ فِيهِ اخْتِلَافٌ
Sy harap penulis berhati2 dlm menukil.
Jk hadis mukhtalaf sdh ckp menjadi alasan mendhoifkan hadis, mk sebagian hadis dlm shahih bukhari pun layak ditolak, krn Addaruquthni terkenal mengkritik sebagian hadis dlm shahih bukhari. Jk penilaian satu orng ahli hadis terhadap perawi sdh ckp tuk mendhoifkan perawi, mk kita sdh bisa menolak sluruh shahih bukhari krn muhammad bin yahya Ad-dzuhli dikenal mengkritik Bukhari dan menuduhnya termasuk golongan lafdziyyun yg termasuk ahlul bid’ah.
Komentarku ( Mahrus ali ) :
Saya  katakan , jangan memutus perkataan saya atau lain saya , tapi sampaikan dengan jujur , lihat kalimat saya sbb :
قَالَ التِّرْمِذِيُّ : هَذَا حَدِيثٌ فِيهِ اخْتِلَافٌ ، وَقَدْ رُوِيَ عَنْ عِكْرِمَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُرْسَلًا .انْتَهَى .
Tirmidzi menyatakan : Hadis ini masih hilaf . Ia juga di riwayatkan oleh Ikrimah dari Nabi SAW dalam keadaan mursal
وَرَوَاهُ النَّسَائِيُّ مُرْسَلًا ، وَمُسْنَدًا ، وَذَكَرَ أَنَّ الْمُرْسَلَ أَوْلَى بِالصَّوَابِ .وَأَنَّ سِمَاكًا إذَا تَفَرَّدَ بِشَيْءٍ لَمْ يَكُنْ حُجَّةً ؛ لِأَنَّهُ كَانَ يُلَقَّنُ فَيَتَلَقَّنُ .انْتَهَى .
Ia juga di riwayatkan oleh Nasai dalam keadaan mursal ( sanad  terputus / lemah ) dan musnad ( sanad bersambung ) . Dan beliau menyebutkan bahwa  Mursal lebih tepat . Dan Simak sendiri bila menyendiri tidak bisa di buat hujjah . Sebab  ia menyampaikan hadis dengan di benarkan orang , lalu dia mengikuti petunjuknya .
Jangan salah paham pada  pernyataan Imam Tirmidzi  seperti  itu – yaitu hadis Ibnu Abbas masih hilaf  antara   ulama , bukan satu orang sebagaimana yang kamu pahami , bukan yang saya pahami .

Anda menyatakan :

Statemen bhw hadis itu tdk dikenal di zaman shahabat dan tabiin juga tdk bs diterima. Attirmidzi sendiri mengutip bhw hadis tersebut diamalakan mayoritas ahli ilmu. Ibnu Al Mubarok, Assyafii, Ahmad bin Hanbal dan penduduk Kufah juga menjadikannya sbg dasar. Lalu dari mana bs dikatakan hadis ini tdk dikenal?
Komentarku ( Mahrus ali ) :
Anda menyatakan seperti itu   sebagai tanda bahwa anda  tidak paham artikel saya yang anda keritik lihat kalimat saya  di dalam artikel sbb :

ثَلَاثَتُهُمْ (زَائِدَةٌ بْنُ قُدَامَةَ ، وَالْوَلِيدِ بْنِ أَبِيْ ثَوْرٍ ، وَسُفْيَانُ الْثَّوْرِيُّ) عَنْ سِمَاكِ بْنِ حَرْبٍ ، عَنْ عِكْرِمَةَ ، فَذَكَرَهُ.
Semua perawi tsb  (Zaidah  bin Qudaamah, Walid bin Abi Tsur, dan Sufian , Al tsauri ) dari Simak bin Harb ,  dari Ikrima, lalu ia menyebutkan  .
Komentarku ( Mahrus ali )
Hadis tsb ( hadis seorang badui melihat hilal sendirian ) tidak  di kenal sama  sekali di kalangan sahabat dan tabiin . Ia populer di zaman sekarang . Hanya Simak bin Harb yang meriwayatkan – bukan perawi lainnya – dia tabiin . dan di kalangan tabiin hanya dia yang mengerti hadis tsb – bukan orang lain. Mereka  tidak mengerti sama  sekali kepada hadis itu . Dia bukan sahabat sehingga masih bisa di toleransi bisa mendengar dari Nabi SAW:


Lalu kamu menyatakan hadis itu di kenal di kalangan sahabat , mana sahabat lain yang meriwayatkannya , tolong  tunjukkan . Atau di kalangan tabiin yang meriwayatkan  hadis itu ,  tunjukkan selain dari Simak .

Apakah anda paham , bahwa hadis ini dari seorang Tabiin  sudah tidak populer di masanya , lalu kamu katakan populer di kalangan  sahabat itu kan aneh sekali , jarang orang ber akal berkata seperti kamu .

الاسعاد في شرح لمعة الاعتقاد - (ج 1 / ص 42)
 و تفرد به سماك بن حرب و لا يحتمله
Dalam kitab al Is`ad fi syarhi Lum`ati i`tiqad  1/ 42 .
Simak bin  Harb meriwayatkan secara sendirian  , dan dia tidak mampu untuk berbuat seperti itu . ( Jadi hadisnya lemah ) .



Lihat pernyataan Ibnu Hajar sbb :
مقدمة الفتح - (ج 1 / ص 457)
سماك بن حرب الكوفي تابعي مشهور مختلف فيه وقد ضعفوا أحاديثه عن عكرمة
Ibn Hajar dalam kitab Mukaddimatul fath  1/ 457 menyatakan :
Simak bin Harb al Kufi  , tabiin yang mashur , tapi ulama masih hilaf tentang dia . Dan mereka menyatakan lemah hadisnya yang dari Ikrimah ( sebagaimana hadis di atas )
Anda menyatakan lagi : Bottom of Form

Lagi pula dimasa shahabat sj kadang2 ada satu hadis yg tdk diketahui kecuali oleh satu orang sj, dan itu diterima shahabat yg lain. Misalnya kisah abubakar meriwayatkan bhw nabi itu dikubur ditempat di mana nabi wafat.
Komentarku ( Mahrus ali ) :
Menyendirinya  Abu bakar bisa di terima karena dia terpercaya  dan sahabat Rasulullah SAW  yang terbaik , karena itu sahabat yang lain bisa menerima dan tiada yang menolak nya  kecuali orang syi`ah yang motifnya bukan kebenaran tapi kebodohan  dan kebencian yang berlebihan bukan karena ilmu dan kesenangan kepada  nya . Kalau  Simak banyak ulama yang menyatakan tidak bisa di terima hadisnya bila dia sendiri yang meriwayatkannya .
Anda menyatakan lagi :
Tenntang keburukan hafalan Simak, maka para ahli hadis menyatakan bahwa itu HANYA terjadi dimasa tua, dan itu lumrah. Dan ini tdk mencederai konten matan hadis.
Komentarku ( Mahrus ali ) :
Kamu jangan bergurau seperti orang – orangan gitu , tidak semua ahli hadis  yang menyatakan sepetri itu . Lihat perkataan Imam Dzahabi sbb  .
مَرْتَبَتُهُ عِنْدَ الْذَّهَبِـي : ثِقَةٌ سَاءَ حِفْظُهُ ، أَحَدُ عُلَمَاءِ الْكُوْفَةِ
وَ كَانَ الْثَّوْرِىُّ يُضْعِفُهُ بَعْضٍ الْضَّعْفِ ،
Martabatnya ( Simak )  menurut Dzahabi : Dia terpercaya , tapi hapalannya jelek dan salah satu ulama Kufah . Sofyan Ats tsauri menyatakan  , dia lemah .
  Beliau  tidak menyatakan berobah hapalannya di kala usia lanjut , tapi Simak jelek hapalannya . Lain kata – kata jelek hapalannya dan berobah hapalannya di waktu usia lanjut .
Lalu kamu menyatakan lagi hal itu tidak mencedrai konten matan hadis .
Komentarku ( Mahrus ali ) :
  Perkataanmu  itu menentang keteranganmu yang lalu, rujuklah ke sana lagi .
Anda menyatakan lagi :
Addzahabi sj menshahihkan hadis tersebut. Apakah penulis menuduh Addzahabi tdk konsisten? Justru menurut sy, dg pengetahuan yg mendalam addzahabi berpendapat riwayat Simak pd hadis ini bs diterima, krn faktor keburukan hafalannya dimasa tua tdk terjadi pd kasus riwayat ini.
Komentarku ( Mahrus ali ) :
عبد الله منصور
22-11-07, 05:42 PM
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
أخي الكريم بارك الله فيكم أجمعين
اما سمعت ان الحاكم فى المستدرك لم يكمل تبييض كتابه وكما علمنا ان الحاكم كان متساهلا فى الروايه فكان يصحح الأحادث الضعيفه
Abdullah bin Manshur  menyatakan :
Assakamu alaikum wr wb :
Saudaraku yang mulia , semoga Allah memberikan berkah kepada kalian semuanya  .
Apakah anda tidak mendengar bahwa al Hakim di dalam kitab al Mustadrak belum menyempurnakan kitabnya  . Dan kita sudah tahu bahwa Al hakim adalah gampang sekali dalam meriwayatkan hadis dan mensahihkan hadis yang lemah .
ٍوجاء الحافظ الذهبي فى التلخيص وصحح أحاديث ولكنه ايضا - رحمه الله - كان متساهلا فى الأحكام
Dan datanglah al Hafidh Dzahabi dalam kitab Talkhis , lalu mensahihkan  beberapa hadis , tapi beliau rahimahulloh mudah sekali dalam hal hukum

ولا شك أن الألباني والأرنؤط قد حكموا على الأحاديث من جهة الرواة أو من جهة المتن فنحن الآن قد وصلنا من أحوال الرواة ومن الكتب ما قد يحتمل انه كان مفقودا قبل ذلك .... والله تعالى أعلم بالصواب
Tidak di ragukan lagi, sesungguhnya Al bani dan al arnauth memberikan hukum kepada hadis  dari segi perawi atau redaksi hadis . Kita sekarang ini telah mendapatkan kondisi perawi  dan kitab –kitab  yang dahulu tidak ada . Wallahu a`lam bis showab .
Anda menyatakan lagi :
Sekali lg, ibnu hajar mengkritik orng2 yg melemahkan Simak scr mutlak. Sekali lagi sy ingatkan, simak adl perawi Muslim bin Al-hajjaj dan dipakai dlm shahihnya.
Komentarku ( Mahrus ali ) :
, Ibn Ammar

فالراجح أنه ضعيف مطلقا ولاسيما في حديثه عن عكرمة وما رُوي عنه بآخرة
Jadi yang rajih adalah lemah secara mutlak , apalagi hadidsnya  yang dari Ikrimah . Dan apa yang di riwayatkan di ahir hayatnya .


Itulah perkata  Syaikh Abd Rahman .

Anda menyatakan lagi :

Lalu Sy blm paham knp penulis meminta sanad dari Al-hakim dan Ibnu Hibban, krn riwayat siapapun semua sanadnya berasal dari jalur Simak bin Harb dari Ikrimah. Tapi demi penghormatan kepada penulis berikut sy kutipkan riwayat lengkapnya. Bukan hanya riwayat Al-hakim dan Ibnu hibban, tp riwayat2 yang lain dlm Ummahatul kutub al haditsiyyah. Sy berharap semua “keberatan” sy dijelaskan dg ilmiah bantahannya.
Komentarku ( Mahrus ali ) :
Saya minta seperti itu ,barang kali ada perawi – perawi lain  yang lemah selain Simak , ternyata keberadaan Simak yang menyendiri  sudah cukup di jadikan kelemahan hadis tsb , di samping banyak sanadnya yang cacat.

DR Abu Lubabah At thahir Shalih Husain kepala bagian dirosah Islamiyah  di Emirat menyatakan :
وَإِطْلاَقُ الْحُكْمِ عَلَى التَّفَرُّدِ بِالرَّدِّ وَالنَّكَارَةِ أَوِ الشُّذُوْذِ مَوْجُوْدٌ فِي كَلاَمِ كَثِيْرٍ مِنْ أَهْلِ الْحَدِيْثِ
 Mengghukumi perawi yang secara sendirian meriwayatkan agar riwayatnya  tertolak , dikatakan mungkar , syadz memang ada dlm perkataan kebanyakan ahli hadis . Ulumul hadis 12/1

Imam Syafi`I pernah menyatakan :
إِنَّهُ تَفَرُّدُ الثِّقَةِ بِمُخَالَفَةِ مَنْ هُوَ أَرْجَحُ مِنْهُ
Syadz adalah seorang perawi hadis meriwayatkan secara sendirian dengan bertentangan dengan perawi yang lebih rajih.  Nukat karya Ibnu Hajar 69/1

Inilah jawabanku untuk mbak lail , dan maaf sangat terlambat .



[2] http://www.ibnamin.com/Manhaj/Zahabi.htm