Tampilkan postingan dengan label Polemik salat di atas tanah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Polemik salat di atas tanah. Tampilkan semua postingan

Jumat, Juli 26, 2013

Salat mujahidin Suriah yang nyunnah




http://cdn.ar.com/images/stories/2013/07/2000-deaths-during-ramadan.jpg  


  Saya lihat salat mereka di atas tanah langsung, itulah salat yang pas dengan tuntunan, tidak kurang dan tidak lebih. Bersujud di tanah untuk  rendah diri kepada Allah yang Maha Tinggi , berlainan dengan salat di atas dipan atau tingkat 3 atau 4, maka dianggap kurang merendah kepada Allah yang Maha besar., masih ada  rasa sombiongnya.

Jumat, Maret 30, 2012

Debat Mas Halim Alwei dan Imam tentang salat tanpa alas

Dalam link ini : http://orgawam.wordpress.com/2010/12/11/2581/?replaytocom=6974#respond

Imam berkata

Nukilan Anda Saudara Mas Halim Alwie :
Ibnu Taimiyah berkata :

أَمَّا الْغُلَاةُ : مِنْ الْمُوَسْوِسِينَ فَإِنَّهُمْ لَا يُصَلُّونَ عَلَى الْأَرْضِ وَلَا عَلَى مَا يُفْرَشُ لِلْعَامَّةِ عَلَى الْأَرْضِ لَكِنْ عَلَى سَجَّادَةٍ وَنَحْوِهَا وَهَؤُلَاءِ كَيْفَ يُصَلُّونَ فِي نِعَالِهِمْ وَذَلِكَ أَبْعَدُ مِنْ الصَّلَاةِ عَلَى الْأَرْضِ فَإِنَّ النِّعَالَ قَدْ لَاقَتْ الطَّرِيقَ الَّتِي مَشَوْا فِيهَا ;
Untuk orang-orang yang suka beragama dengan berlebihan maka tidak akan melakukan Shålat di atas tanah atau hamparan yang biasanya untuk umum, tapi mereka akan menghamparkan sajadah dll. Mereka tidak akan melakukan Shålat dengan sandal. Dan ini lebih berat dari pada Shålat di tanah. Sebab sandal yang di buat jalan akan menyentuh najis dll . (Kutub Waråsail Ibnu Taimiyah 177/22).
فَلَمْ يَكُنْ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم يَتَّخِذُ سَجَّادَةً يُصَلِّي عَلَيْهَا وَلَا الصَّحَابَةُ ; بَلْ كَانُوا يُصَلُّونَ حُفَاةً وَمُنْتَعِلِينَ وَيُصَلُّونَ عَلَى التُّرَابِ وَالْحَصِيرِ وَغَيْرِ ذَلِكَ مِنْ غَيْرِ حَائِلٍ
Nabi dan sahabatnya tidak pernah menggelar sajadah untuk Shålat, bahkan mereka melakukan Shålat dengan kaki telanjang dan bersandal dan mereka juga melakukan Shålat di debu, tikar dll tanpa sajadah (Kutub Waråsail Ibnu Taimiyah 192/22).
TANGGAPAN SAYA :
Ini juga terjemahan yang ngawur dengan memelintir fatwa Ibnu Taimiyyah agar mendukung pendapat Anda : ( Saya terjemahkan )
أَمَّا الْغُلَاةُ : مِنْ الْمُوَسْوِسِينَ فَإِنَّهُمْ لَا يُصَلُّونَ عَلَى الْأَرْضِ وَلَا عَلَى مَا يُفْرَشُ لِلْعَامَّةِ عَلَى الْأَرْضِ لَكِنْ عَلَى سَجَّادَةٍ وَنَحْوِهَا وَهَؤُلَاءِ كَيْفَ يُصَلُّونَ فِي نِعَالِهِمْ وَذَلِكَ أَبْعَدُ مِنْ الصَّلَاةِ عَلَى الْأَرْضِ فَإِنَّ النِّعَالَ قَدْ لَاقَتْ الطَّرِيقَ الَّتِي مَشَوْا فِيهَا ;
Adapun orang2 yang terlalu waswas maka mereka tidak akan sholat di atas bumi dan TIDAK AKAN SHOLAT DIATAS HAMPARAN MILIK UMUM YANG DIHAMPARKAN DI ATAS TANAH TETAPI mereka akan sholat di atas sajadah dan lainnya, lalu bagaimana mereka akan sholat di atas sandalnya ? bahkan perbuatan itu akan lebih jauh lagi dari sholat di atas tanah, karena sandal untuk berjalan di atasnya (bumi).
Silakan perhatikan tulisan yang berhuruf cetak ! MAKA DAPAT DIPAHAMI BAHWA IBNU TAIMIYYAH MEMBOLEHKAN SHOLAT DI ATAS HAMPARAN / KARPET MILK UMUM YANG SUDAH DIHAMPARKAN SEBELUMNYA.
kEDUA,
فَلَمْ يَكُنْ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم يَتَّخِذُ سَجَّادَةً يُصَلِّي عَلَيْهَا وَلَا الصَّحَابَةُ ; بَلْ كَانُوا يُصَلُّونَ حُفَاةً وَمُنْتَعِلِينَ وَيُصَلُّونَ عَلَى التُّرَابِ وَالْحَصِيرِ وَغَيْرِ ذَلِكَ مِنْ غَيْرِ حَائِلٍ
Maka tidaklah Rosululloh mengambil sajadah lalu sholat di atasnya demikian pula para sahabatnya BAHKAN MEREKA KADANG SHOLAT TIDAK BERALAS KAKI ( TELANJANG KAKI ) DAN KADANG JUGA BERSANDAL, KADANG JUGA MEREKA SHOLAT DI ATAS TANAH DAN KADANG PULA SHOLAT DI ATAS TIKAR DAN LAINNYA TANPA PENGAHALANG.
Lihatlah pada huruf besar itu, bahkan Ibnu Taimiyyah mendukung keduanya yaitu sholat tidak beralas kaki/ sandal ataupun sholat dengan bersandal.
Juga mendukung sholat di atas tikar dan juga di atas tanah.
Inilah kenyataanya fatwa beliau dengan tidak membedakan apakah sholat itu adalah sholat wajib ataupun sholat sunah.
Kalau Anda berpegang pada pendapat beliau maka seharusnya Anda menerima pendapat beliau itu.
Oh ya saya masih curiga dengan kalimat terakhir itu, ini bunyinya :
وَالْحَصِيرِ وَغَيْرِ ذَلِكَ مِنْ غَيْرِ حَائِلٍ
Karena maknanya janggal, silakan Saudara Mas Halim cek lagi ( saya lihat ada salah tulis )

Komentarku ( Mahrus ali ):
Anda  ( Imam ) menyatakan :
TANGGAPAN SAYA :
Ini juga terjemahan yang ngawur dengan memelintir fatwa Ibnu Taimiyyah agar mendukung pendapat Anda : ( Saya terjemahkan )
Komentarku ( Mahrus ali ):
 Terjemahan Mas Halim alwie dan Imam tidak ada bedanya, jadi bukan terjemahan yang di katakan ngawur oleh Imam. Pernyataan Imam ini sengaja di buat untuk menunjukkan seolah dia lebih benar. Tapi bila di perhatikan dengan seksama, dua terjemahan itu sama   saja.

Imam menyatakan lagi:
Juga mendukung sholat di atas tikar dan juga di atas tanah.
Inilah kenyataanya fatwa beliau dengan tidak membedakan apakah sholat itu adalah sholat wajib ataupun sholat sunah.
Komentarku ( Mahrus ali ):
Tapi kami hanya menyatakan: Mana dalilmu untuk membolehkan  salat wajib di sajadah ?
Bila ada, saya sangat senang. Tolong di jawab. Dan saya belum menjumpainya.
Baca lagi:
06 Feb 2011

21 Feb 2011

06 Feb 2011

17 Mar 2011

 

 

Selasa, November 08, 2011

Ahli bid`ah menggugat bid`ahnya sajadah


1029- حدثنا ابوكريب. ثنا ابومعاوية عن الأعمش عن ابى سفيان عن جابر عن ابى سعيد قال: صلى رسول الله صلى الله عليه وسلم على حصير. رواه ابن ماجة

"Abi sa'id ra berkata:"Nabi saw pernah menunaikan shalatnya diatas alas tikar. HR. Ibnu Majah


قال ابن بطال : إن كان ما يصلي عليه كبيرا قدر طول الرجل وأكثر فإنه يقال له حصير ولا يقال له خمرة . وكل ذلك يصنع من سعف النخل وما أشبهه
----------------------------------------
Ibnu Batthol berkata: Jika alas shalat kita itu besarnya seukuran kita (sujud-duduk) maka itu dinamakan "Hashir" bukan dinamakan KHUMROH


Adapun hadits KHUMROH sbb:

عن عبدالله بن شداد. حدثتني ميمونة زوجة النبي صلى الله عليه وسلم قالت: كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يصلى على الخمرة. . رواه ابن ماجة

Sayyidah Maimunah istri nabi berkata

"Nabi pernah shalat di atas alas kecil dari kain

"حدثنا نصر بن علي حدثنا عيسى بن يونس عن الأعمش عن أبي سفيان عن جابر عن أبي سعيد أن النبي صلى الله عليه وسلم صلى على حصير رواه الترمذى



Komentar imam tirmidzi:
قال وفي الباب عن أنس والمغيرة بن شعبة قال أبو عيسى وحديث أبي سعيد حديث حسن والعمل على هذا عند أكثر أهل العلم إلا أن قوما من أهل العلم اختاروا الصلاة على الأرض استحبابا وأبو سفيان اسمه طلحة بن نافع

الحاشية رقم:1:


Hadis Imam Bukhari


بل روى البخاري في صحيحه من طريق أبي سلمة ، عن عائشة أن النبي صلى الله عليه وسلم كان له حصير يبسطه ويصلي عليه
--------------------------------
Bahkan telah diriwayatkan pula oleh imam Bukhari dalam kitab shohihnya dari jalur Abi Salamah bersumber dari Sayyidah Aisyah bahwa nabi saw beliau mempunyai alas tikar yang bisa di gelar dan beliau shalat diatasnya


HASHIR ini menurut ibnu batthol adalah:
Segala jenis alas yg berasal dari rajutan2 pelepah kurma atau sejenisnya... (tuh arabx komen sy diatas).

KOMENTARNYA IMAM SYAUKANI DALAM KITABNYA "NAILUL AWTHAR:

قال في النيل : وقد روي عن زيد بن ثابت وأبي ذر وجابر بن عبد الله وعبد الله بن عمر وسعيد بن المسيب ومكحول وغيرهم من التابعين استحباب الصلاة على الحصير ، وصرح ابن المسيب بأنها سنة .

وممن اختار مباشرة المصلي للأرض من غير وقاية عبد الله بن مسعود فروى الطبراني عنه أنه كان لا يصلي ولا يسجد إلا على الأرض

وعن إبراهيم النخعي أنه كان يصلي على الحصير ويسجد على الأرض



Imam Syaukani dalam kitabnya NAILUL AWTHAR berkata:


"Telah diriwayatkan dari Zaid bin tsabit, Abi Dzar, Jabir bin Abdillah, Abdullah bin Umar, Said bin Musayyib, Makhul dan yg lain dari generasi tabiin, yaitu di amjurkannya shalat diatas alas. Ibnu musayyib menjelaskan bahwa itu SUNNAH.

Adapun kelompok yang memilih tempat shalatnya langsung di tanah tanpa alas adalah Ibnu Mas'ud ra.
Imam Thabrani meriwayatkan bahwa Ibnu mas'ud ra tidak pernah shalat dan sujud kecuali di tanah.

Sedangkan riwayat versi ibrahim annakho'i, beliau (ibnu mas'ud ra), shalatnya berdiri diatas alas, namun sujudnya ditanah. (tempat keningnya tdk berAlas)


Komentarku ( Mahrus ali ) :

Ada kekeliruan terjemah sbb:
قال ابن بطال : إن كان ما يصلي عليه كبيرا قدر طول الرجل وأكثر فإنه يقال له حصير ولا يقال له خمرة . وكل ذلك يصنع من سعف النخل وما أشبهه
----------------------------------------
Ibnu Batthol berkata: Jika alas shalat kita itu besarnya seukuran kita (sujud-duduk) maka itu dinamakan "Hashir" bukan dinamakan KHUMROH

Komentarku ( Mahrus ali ) :
Mestinya sbb:
Ibnu Batthol berkata: Jika alas shalat  itu besar seukuran panjang tubuh lelaki maka itu dinamakan "Hashir" bukan dinamakan KHUMROH.   Dan seluruhnya itu  terbuat dari daun kurma dan sesamanya.


 Ada kekeliruan terjemah sbb :
Adapun hadits KHUMROH sbb:

عن عبدالله بن شداد. حدثتني ميمونة زوجة النبي صلى الله عليه وسلم قالت: كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يصلى على الخمرة. . رواه ابن ماجة

Sayyidah Maimunah istri nabi berkata

"Nabi pernah shalat di atas alas kecil dari kain

Komentarku ( Mahrus ali ) :
Mestinya sbb:
Maimunah istri nabi  SAW  berkata

" Rasulullah SAW menjalankan shalat di atas khumrah. (bukan kain kecil ).
Kontek hadis tsb untuk salat sunat bukan salat wajib. Lihat hadis aslinya sbb:
48. Bab dibolehkan shalat sunnah berjamaah dan dibolehkan memakai tikar atau sajadah kecil yang terbuat dari daun kurma sebagai sajadah.

386-حَدِيْثُ  مَيْمُوْنَةَ، قَالَتْ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ  يُصَلِّي وَأَنَا حِذَاءَهُ، وَأَنَا حَائِضٌ، وَرُبَّمَا أَصَابَنِيْ ثَوْبُهُ إِذَا سَجَد
قَالَتْ: وَكَانَ يُصَلِّي عَلَى  الْخُمْرَةِ
أَخْرَجَهُ الْبُخَارِيْ فِى : 8 كِتَابُ الصَّلاَةِ  : 19 بَابُ إِذَا أَصَابَ ثَوْبُ الْمُصَلّىِ امْرَأَتَهُ إِذَا سَجَدَ


386.Maimunnah menuturkan: “Rasulullah saw pernah melakukan shalat dan aku berada di muka beliau saw,  aku sedang haid. Adakalanya, baju beliau saw mengenai aku ketika beliau saw bersujud. Pada waktu itu, beliau saw shalat di atas khumrah” (Bukhari, 8, kitab shalat, 19, bab jika pakaian seorang yang sedang shalat mengenai isterinya ketika ia sedang sujud).
    Allu`lu` wal marjan 193/1 Al albani berkata :  Muttafaq alaih
Lihat di kitab karyanya : Ats tsamarul mustathob  330/1

 Khumrah adalah alas yang cukup untuk wajah.
فتح الباري لابن رجب - (ج 3 / ص 126)
وقال أبو عبيد : الخمرة شيء منسوج يعمل من سعف النخل ، ويرمل بالخيوط ، وهو صغير على قدر ما يسجد عليه المصلي أو فويق ذلك ، فإن عظم حتى يكفي الرجل لجسده كله في الصلاة أو مضطجعا أو أكثر من ذلك ، فهو حينئذ حصير ، وليس
بخمرة .


Abu 'Ubaid berkata:  Al khumrah sesuatu yang di anyam dari daun palem( kurma ), dan di jahit dengan benang . Ia kecil secukup dengan tempat yang di sujudi atau lebih dari itu sedikit.. Bila besar sampai cukup tubuh lelaki dalam salat atau ketika berbaring atau lebih besar dari itu . Maka  ketika ini di katakan tikar ( hashir )  bukan khumrah.

  Jadi hadis riwayat Maimunah itu ketika Rasul menjalankan salat sunat bukan salat wajib.  Ketika Rasulullah SAW  menjadi imam Salat wajib, maka Maimunah tidak akan di sisinya. Keliru sekali, orang yang menggunakan hadis tsb untuk dasar memakai sajadah dalam salat wajib. Lihat polemik kami tentang salat tanpa alas sbb : 
17 Mar 2011
30 Mar 2011
01 Apr 2011
21 Feb 2011

Anda menggunakan dalil ini :
1029- حدثنا ابوكريب. ثنا ابومعاوية عن الأعمش عن ابى سفيان عن جابر عن ابى سعيد قال: صلى رسول الله صلى الله عليه وسلم على حصير. رواه ابن ماجة

"Abi sa'id ra berkata:"Nabi saw pernah menunaikan shalatnya diatas alas tikar. HR. Ibnu Majah

Komentarku ( Mahrus ali ) :
 Dalam hadis tsb tiada keterangan apakah saat itu Rasulullah SAW  melakukan salat wajib atau sunat. Jadi masih belum bisa di buat landasan bolehnya menggunakan tikar atau sajadah  ketika salat wajib bukan salat sunat. Masalahnya ketika menjalankan salat wajib, Rasulullah SAW  selalu menjalankannya langsung ke tanah. Agar lebih jelas,baca buku karya saya:
 Ternyata Rasulullah SAW  menjalankan salat wajib di atas tanah.
Lihat disini:
14 Jun 2011
Imam Tirmidzi menyatakan: Hadis tsb hasan. Dan penghasanan Tirmidzi adalah lemah.
Syekh Muqbil  Al wadi`I murid Al bani mengatakan :
غَالِبُ تَحْسِيْنَاتِ التِّرْمِذِي ضِعَافٌ.
Kebanyakan hadis yang di hasankan oleh Tirmidzi adalah lemah . [1]

المسند الجامع 366/13
أخرجه أحمد 3/10(11087) قال : حدَّثنا أبو مُعَاوِيَة. وفي 3/52(11509) قال : حدَّثنا مُحَمد بن عُبَيْد. وفي 3/59(11584) قال : حدَّثنا يَعْلَى.
Diriwayatkan oleh Ahmad, 3 / 10 (11 087),beliau berkata: Abu Muawiyah Bercerita kepada kami. Dalam 3 / 52 (11 509) Ahmad berkata: bercerita kepada kami Muhammad bin Ubaid. Dalam 3 / 59 (11 584) beliau mengatakan: bercerita pada kami


 و"مسلم" 2/62(1095) قال : حدَّثني عَمْرو النَّاقِد ، وإِسْحَاق بن إبراهيم ، عن عِيسَى بن يُونُس.
Muslim berkata 2 / 62 (1095): 'Amr annaqid mengatakan kepada saya, dan Ishak Ben-Abraham,  dari Isa  Ben Yunus.
وفي 2/62(1096) و2/128(1450) قال : حدَّثنا أبو بَكْر بن أَبي شَيْبَة ، وأبو كُرَيْب ، قالا : حدَّثنا أبو مُعَاوِيَة (ح) قال : وحدَّثنيه سُوَيْد بن سَعِيد ، حدَّثنا علي بن مُسْهِر.
Dalam 2 / 62 (1096) dan 2 / 128 (1450) beliau mengatakan:  Bercerita kepada kami Abu Bakar bin Abi Shaybah dan  Abu kuraip. Mereka  mengatakan: bercerita kepada kami Abu Muawiyah ( Pindah sanad) beliau berkata:  Bercerita kepadaku Swaid bin Said , mengatakan kepada kami Ali bin Mushir


 وفي 2/128(1450) قال : حدَّثنا إِسْحَاق بن إبراهيم ، أخبرنا عِيسَى بن يُونُس.
 Dalam 2 / 128 (1450) beliau mengatakan: Bercerita kepada kami Ishak Ben Ibrahim, Bercerita kepada kami  Isa Ben Yunus.

 و"ابن ماجة" 1029 قال : حدَّثنا أبو كُرَيْب ، حدَّثنا أبو مُعَاوِيَة.
Dan "Ibnu Majah," 1029, berkata:Bercerita kepada kami Abu Kuraib,  dan Abu Muawiyah bercerita kepada kami.
والتِّرْمِذِيّ" 332 قال : حدَّثنا نَصْر بن علي ، حدَّثنا عِيسَى بن يُونُس.
 al-Tirmidzi, " 332:berkata : Bercerita kepada kami Nasr bin Ali, Bercerita kepada kami Isa bin Yunus
 و"ابن خزيمة" 1004 قال : حدَّثنا يَعْقُوب بن إبراهيم الدَّوْرَقِي ، حدَّثنا أبو مُعَاوِيَة.
Dan."  Ibnu  Khuzaymah "1004, berkata: Bercerita kepada kami Yaqub ibn Ibrahim Aldouragi  dan  Abu Muawiyah



خمستهم (أبو مُعَاوِيَة ، ومُحَمد بن عُبَيْد ، ويَعْلَى ، وعِيسَى بن يُونُس ، وعلي بن مُسْهِر) عن الأَعْمَش ، عن أَبي سُفْيان , عن جابر , فذكره.

Lima orang  (Abu Mu'awiyah, Muhammad bin Ubaid, Ya`la  , Issa Ben Younes  dan Ali bin Mushir) dari  Al a`masy  dari Abu Sufyan, dari Jabir, lalu ia menyebutkan……….

  Jadi hadis Abu Said yang menyatakan  bahwa  Nabi SAW melakukan salat di atas  tikar itu tidak di kenal di kalangan sahabat.dan tabiin . Ia diriwayatkan oleh al a`masya yang termasuk Yunior tabiin bukan seniornya  dan selain melalui jalur Al a`masy , maka  hadis tsb tidak ada. Karena al almasy menyendiri dalam meriwayatkannya maka bisa di katakan hadis tsb lemah.

Anda menyatakan lagi:
Hadis Imam Bukhari


بل روى البخاري في صحيحه من طريق أبي سلمة ، عن عائشة أن النبي صلى الله عليه وسلم كان له حصير يبسطه ويصلي عليه
--------------------------------
Bahkan telah diriwayatkan pula oleh imam Bukhari dalam kitab shohihnya dari jalur Abi Salamah bersumber dari Sayyidah Aisyah bahwa nabi saw beliau mempunyai alas tikar yang bisa di gelar dan beliau shalat diatasnya

Komentarku ( Mahrus ali ) :
 Hadis dengan redaksi tsb tidak saya jumpai di sahih Bukhari. Lalu bagaimanakah anda mengutip kok sampai keliru. Dan ini sangat menyesatkan bukan mengajak kebaikan.. Saya berharap anda mengutipnya dengan benar agar kesalahan dan penyesatan ini tidak terulang dua atau tiga kali. Ini masalah ilmu bukan mainan. Lihat aslinya sbb:
صحيح البخاري – (ج 3 / ص 164)
-     حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ الْمُنْذِرِ قَالَ حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي فُدَيْكٍ قَالَ حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي ذِئْبٍ عَنْ الْمَقْبُرِيِّ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ لَهُ حَصِيرٌ يَبْسُطُهُ بِالنَّهَارِ وَيَحْتَجِرُهُ بِاللَّيْلِ فَثَابَ إِلَيْهِ نَاسٌ فَصَلَّوْا وَرَاءَهُ
Sesungguhnya Nabi SAW punya tikar yang di gelar waktu siang dan di gunakan sekat di malam hari, lalu orang – orang sama melompat lalu melakukan salat di belakangnya.

Komentarku ( Mahrus ali ) :
 Tikar itu bukan untuk sujud, ini poin yang perlu di pahami, bukan masalah remeh temeh yang di abaikan begitu saja.

Anda menyatakan:
KOMENTARNYA IMAM SYAUKANI DALAM KITABNYA "NAILUL AWTHAR:

قال في النيل : وقد روي عن زيد بن ثابت وأبي ذر وجابر بن عبد الله وعبد الله بن عمر وسعيد بن المسيب ومكحول وغيرهم من التابعين استحباب الصلاة على الحصير ، وصرح ابن المسيب بأنها سنة .


Imam Syaukani dalam kitabnya NAILUL AWTHAR berkata:


"Telah diriwayatkan dari Zaid bin tsabit, Abi Dzar, Jabir bin Abdillah, Abdullah bin Umar, Said bin Musayyib, Makhul dan yg lain dari generasi tabiin, yaitu di amjurkannya shalat diatas alas. Ibnu musayyib menjelaskan bahwa itu SUNNAH.

Komentarku ( Mahrus ali ) :
  Syaukani menceritakan seperti itu tanpa sanad sama  sekali. Ini termasuk nukilan yang sangat lemah yang tidak bisa di buat hujjah, apalagi di buat pedoman salat di atas tikar. Apakah Rasulullah SAW  pernah berkata seperti itu.  Carilah sanadnya, jangan  sekedar menukil, hingga kita bisa menilai sanad itu sahih atau lemah.
 


[1]  Maktabah Syekh Muqbil al wadi`I  , bab tanya jawab pemuda Louder

Selasa, April 12, 2011

Polemik ke tiga puluh enam tentang salat tanpa alas ( salat di tanah langsung ,bukan di keramik )


Di tulis oleh H Mahrus ali


Ummati menulis :
9 Januari 2011 pukul 9:41 am | #51
Aiman@
Anggaplah shalat bersandal tanpa sajadah dan apa yg antum sampaikan tentang hadits-hadits itu benar, tapi apakah dalam pemahaman hadits-hadits itu untuk diterapkan dalam praktek sehari-hari shalat lima waktu? Kalau shalat tidak pakai sajadah sambil pakai sandal itu untuk dipraktekkan secara harian, lalu bagaimaan antum memandang ummat Islam yg shalat pakai sajadah dan tidak pakai sandal?
Lalu kenapa sejak zaman dahulu baru ada seorang Mahrus Ali yg mempelopori shalat tidak pakai sajadah sambil pakai sandal, apakah ulama-ulama Islam sejak zaman dahulu sampai sekarang shalatnya salah karena pakai sajadah dan tidak pakai sandal?
Berdasar klaim antum tersebut di atas ada dua kemungkinan,
1 – Para Ulama salah dalam memahami hadits itu
2 – atau mungkinkah antum yg salah dalam memahami maksud hadits di atas?
Silahkan jawab Ust Aiman, ingat jawabnya sertakan dalil hadits shohih ya, karena antum bilang hanya mau gunakan hadits shohih.
       Komentarku ( Mahrus ali ) :
        Anda menyatakan :
lalu bagaimaan antum memandang ummat Islam yg shalat pakai sajadah dan tidak pakai sandal?
Komentarku ( Mahrus ali ) :
Sudah tentu , saya menyatakan sebagaimana apa yang di katakan oleh Imam Malik , bahwa salat semacam itu bid`ah , tiada dalilnya , sia – sia  dan tertolak.Lihat saja dalilnya  di Polemik 35/34.
Anda menyatakan :
Lalu kenapa sejak zaman dahulu baru ada seorang Mahrus Ali yg mempelopori shalat tidak pakai sajadah sambil pakai sandal,
Komentarku ( Mahrus ali ) :
Kamu tahu , bahwa umat setelah di tinggal  oleh nabinya banyak yang menyimpang dari ajaran agamanya . Lihat saja kaum Nabi Musa ketika di tinggal nabi Musa selama empat puluh hari  saja sudah melakukan ke syirikan  sebagaimana ayat :
وَاتَّخَذَ قَوْمُ مُوسَى مِنْ بَعْدِهِ مِنْ حُلِيِّهِمْ عِجْلًا جَسَدًا لَهُ خُوَارٌ أَلَمْ يَرَوْا أَنَّهُ لَا يُكَلِّمُهُمْ وَلَا يَهْدِيهِمْ سَبِيلًا اتَّخَذُوهُ وَكَانُوا ظَالِمِينَ
Dan kaum Musa, setelah kepergian Musa ke gunung Thur membuat dari perhiasan-perhiasan (emas) mereka anak lembu yang bertubuh dan bersuara. Apakah mereka tidak mengetahui bahwa anak lembu itu tidak dapat berbicara dengan mereka dan tidak dapat (pula) menunjukkan jalan kepada mereka? Mereka menjadikannya (sebagai sembahan) dan mereka adalah orang-orang yang zalim.[1]
قَالُوا مَا أَخْلَفْنَا مَوْعِدَكَ بِمَلْكِنَا وَلَكِنَّا حُمِّلْنَا أَوْزَارًا مِنْ زِينَةِ الْقَوْمِ فَقَذَفْنَاهَا فَكَذَلِكَ أَلْقَى السَّامِرِيُّ(87)فَأَخْرَجَ لَهُمْ عِجْلًا جَسَدًا لَهُ خُوَارٌ فَقَالُوا هَذَا إِلَهُكُمْ وَإِلَهُ مُوسَى فَنَسِيَ(88)أَفَلَا يَرَوْنَ أَلَّا يَرْجِعُ إِلَيْهِمْ قَوْلًا وَلَا يَمْلِكُ لَهُمْ ضَرًّا وَلَا نَفْعًا(89)وَلَقَدْ قَالَ لَهُمْ هَارُونُ مِنْ قَبْلُ يَاقَوْمِ إِنَّمَا فُتِنْتُمْ بِهِ وَإِنَّ رَبَّكُمُ الرَّحْمَنُ فَاتَّبِعُونِي وَأَطِيعُوا أَمْرِي(90)
Mereka berkata: "Kami sekali-kali tidak melanggar perjanjianmu dengan kemauan kami sendiri, tetapi kami disuruh membawa beban-beban dari perhiasan kaum itu, maka kami telah melemparkannya, dan demikian pula Samiri melemparkannya", kemudian Samiri mengeluarkan untuk mereka (dari lobang itu) anak lembu yang bertubuh dan bersuara, maka mereka berkata: "Inilah Tuhanmu dan Tuhan Musa, tetapi Musa telah lupa".Maka apakah mereka tidak memperhatikan bahwa patung anak lembu itu tidak dapat memberi jawaban kepada mereka, dan tidak dapat memberi kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan?Dan sesungguhnya Harun telah berkata kepada mereka sebelumnya: "Hai kaumku, sesungguhnya kamu hanya diberi cobaan dengan anak lembu itu dan sesungguhnya Tuhanmu ialah (Tuhan) Yang Maha Pemurah, maka ikutilah aku dan ta`atilah perintahku".[2]
Dalam ayat lain ,Allah menceritakan sbb :
قَالَ فَمَا خَطْبُكَ يَاسَامِرِيُّ(95)قَالَ بَصُرْتُ بِمَا لَمْ يَبْصُرُوا بِهِ فَقَبَضْتُ قَبْضَةً مِنْ أَثَرِ الرَّسُولِ فَنَبَذْتُهَا وَكَذَلِكَ سَوَّلَتْ لِي نَفْسِي(96)قَالَ فَاذْهَبْ فَإِنَّ لَكَ فِي الْحَيَاةِ أَنْ تَقُولَ لَا مِسَاسَ وَإِنَّ لَكَ مَوْعِدًا لَنْ تُخْلَفَهُ وَانْظُرْ إِلَى إِلَهِكَ الَّذِي ظَلْتَ عَلَيْهِ عَاكِفًا لَنُحَرِّقَنَّهُ ثُمَّ لَنَنْسِفَنَّهُ فِي الْيَمِّ نَسْفًا(97)إِنَّمَا إِلَهُكُمُ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ وَسِعَ كُلَّ شَيْءٍ عِلْمًا(98)
Berkata Musa: "Apakah yang mendorongmu (berbuat demikian) hai Samiri?"Samiri menjawab: "Aku mengetahui sesuatu yang mereka tidak mengetahuinya, maka aku ambil segenggam dari jejak rasul lalu aku melemparkannya, dan demikianlah nafsuku membujukku".Berkata Musa: "Pergilah kamu, maka sesungguhnya bagimu di dalam kehidupan di dunia ini (hanya dapat) mengatakan: "Janganlah menyentuh (aku)". Dan sesungguhnya bagimu hukuman (di akhirat) yang kamu sekali-kali tidak dapat menghindarinya, dan lihatlah tuhanmu itu yang kamu tetap menyembahnya. Sesungguhnya kami akan membakarnya, kemudian kami sungguh-sungguh akan menghamburkannya ke dalam laut (berupa abu yang berserakan).Sesungguhnya Tuhanmu hanyalah Allah, yang tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Pengetahuan-Nya meliputi segala sesuatu".[3]
Masarakat menjadi sesat karena anak lembu yang bisa berbicara  Ada hadis sbb :
فَيَبْقَى شِرَارُ النَّاسِ فِي خِفَّةِ الطَّيْرِ وَأَحْلَامِ السِّبَاعِ لَا يَعْرِفُونَ مَعْرُوفًا وَلَا يُنْكِرُونَ مُنْكَرًا فَيَتَمَثَّلُ لَهُمُ الشَّيْطَانُ فَيَقُولُ أَلَا تَسْتَجِيبُونَ فَيَقُولُونَ فَمَا تَأْمُرُنَا فَيَأْمُرُهُمْ بِعِبَادَةِ الْأَوْثَانِ وَهُمْ فِي ذَلِكَ دَارٌّ رِزْقُهُمْ حَسَنٌ عَيْشُهُمْ
Lantas manusia terjelek  yang masih hidup,mereka cekatan seperti  burung terbang , angan – angan mereka laksana binatang buas , tidak menganggap baik perkara yang  ma`ruf, tidak ingkar kepada kemungkaran ,lalu setan  menjelma seraya berkata :”Mengapa kamu tidak mau mengabulkan ? “. Mereka  berkata  : “ Apakah yang engkau perintahkan untuk kami  ? “.  Setan memerintah mereka agar menyembah berhala .  Saat itu   rizeki mereka lancar , kehidupannya juga mewah[4]
Sekarang ini  sudah saatnya orang tidak mengerti tuntunan ,agamanya  bukan tuntunan tapi kebid`ahan , lalu bila  di beri tahu tentang kebid`ahan di terima  . Bila  di beri tahu tentang tuntunan di tolak . Allah berfirman :
لَقَدْ جِئْنَاكُمْ بِالْحَقِّ وَلَكِنَّ أَكْثَرَكُمْ لِلْحَقِّ كَارِهُونَ
Sesungguhnya Kami benar-benar telah membawa kebenaran kepada kamu tetapi kebanyakan di antara kamu benci pada kebenaran itu.[5]
بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ *
Islam mulai dalam keadaan terasing ( terpencil  dan  jarang pengikutnya ) . Dan akan kembali dalam keadaan terasing. Beruntunglah  orang orang yang terpencil . Hadis sahih ,[6]
افْتَرَقَتْ الْيَهُودُ عَلَى إحْدَى وَسَبْعِينَ فِرْقَةً كُلُّهَا فِي النَّارِ إلَّا وَاحِدَةً وَافْتَرَقَتْ النَّصَارَى عَلَى اثْنَتَيْنِ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً كُلُّهَا فِي النَّارِ إلَّا وَاحِدَةً وَسَتَفْتَرِقُ هَذِهِ الْأُمَّةُ عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً كُلُّهَا فِي النَّارِ إلَّا وَاحِدَةً
           Kaum yahudi terpecah belah menjadi 71 golongan . Seluruhnya di Neraka kecuali satu kelompok. Dan kaum Nasrani terpecah menjadi 72 sekte. Seluruhnya di Neraka kecuali satu. Dan umat ini akan terpecah menjadi 73 kelompok. Seluruhnya di Neraka kecuali satu. Para sahabat berkata : “Wahai   Rasulullah ! Siapakah  golongan yang selamat?    Rasul   bersabda : “  مَنْ كَانَ عَلَى مِثْلِ مَا أَنَا عَلَيْهِ الْيَوْمَ وَأَصْحَابِي  Orang yang  berpegangan kepada  prilakuku dan sahabat –sahabatku sekarang “. [7]

Anda menyatakan :
apakah ulama-ulama Islam sejak zaman dahulu sampai sekarang shalatnya salah karena pakai sajadah dan tidak pakai sandal?
Komentarku ( Mahrus ali ) :
Bila saya katakan benar , saya cari dalilnya  tidak ketemu . Maka saya kembali saja kepada dalil , apakah  kamu menolak dalil ? Allah berfirman :
قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ
Katakanlah: "Unjukkanlah bukti kebenaranmu, jika kamu memang orang-orang yang benar".[8]
وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ اْلأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ *
Berhatilah  terhadap perkara baru. Sesungguhnya tiap perkara baru adalah bid`ah dan setiap bid`ah adalah sesat. [9]
 Anda menyatakan :
Berdasar klaim antum tersebut di atas ada dua kemungkinan,
1 – Para Ulama salah dalam memahami hadits itu
2 – atau mungkinkah antum yg salah dalam memahami maksud hadits di atas?
Komentarku ( Mahrus ali ) :
Bila saya salah , bisa jadi , tapi mana dalilnya Rasulullah SAW dan para sahabat yang menjalankan salat wajib di atas sajadah  . Bila tidak ada , para ulama keliru . Apakah tidak mungkin mereka keliru . Jangankan mereka , Imam Malik atau Syafii saja juga keliru .
Imam Syafii  menyatakan :
إذَا صَحَّ الْحَدِيثُ فَاضْرِبُوا بِقَوْلِي الْحَائِطَ وَإِذَا رَأَيْت الْحُجَّةَ مَوْضُوعَةً عَلَى الطَّرِيقِ فَهِيَ قَوْلِي .
Bila ada hadis sahih , maka  lemparkan perkataanku ke tembok . Bila kamu lihat hujjah telah berada di jalan , maka  itulah perkataan ku 
 لاَ تُقَلِّدْ دِينَك الرِّجَالَ فَإِنَّهُمْ لَنْ يَسْلَمُوا مِنْ أَنْ يَغْلَطُوا .
Dalam masalah agama,jangan ikut orang , sebab  mereka mungkin juga salah . 



[1] Ala`raf 148
[2] Thoha 87- 90
[3] Thoha 95- 97
[4] HR Muslim 2940
[5] Zukhruf 78
[6] Muslim/Iman /145. Ibnu Majah  /Fitan /3986. Ahmad /Baqi Musnad  Muktsirin/8812. Sahih lihat Sahihul jami` 1580
[7] Lihat Tafsir Al Baidhowi 470/2. Qurthubi 159/4. Addurul Mantsur / 289/2. Abus suud 206/3. Al baghowi 333/1. Fathul qadir  370/1. Kasyfud dhunun 1039/1. Annasafi 355/1. Ruhul maani  68/8.  HR Abu Dawud 3980. Tirmidzi / Iman /25064. Ibnu Majah  /3981. Ahmad Baqi Musnad  Muktsirin /8046.Dalam riwayat lain di sebut , golongan yang selamat adalah al jamaah. Penyusun kitab Misbahuz zujajah berkata : Sanad hadis sahih, perawi – perawinya terpercaya. Abu Ya`la  Al maushili  meriwayatkannya.Lihat Misbahuz zujajah  3041. Ia juga di riwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam kitab sahihnya  6138. Imam  Tirmidzi menyatakan  hadis tsb hasan sahih
[8] Namel 64
[9] HRAbu Dawud  / Assunnah /4607. Darimi /Muqaddimah /95