Tampilkan postingan dengan label demo.. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label demo.. Tampilkan semua postingan

Selasa, Desember 27, 2016

Angga Peserta Aksi Bela Islam dari Padang Dipanggil Polisi dengan Tuduhan Makar. Jokowi Mulai Sisir dari Yang Lemah?

Nusantarakini.com, Jakarta –

Seorang peserta Aksi Bela Islam 3 dari Padang dipanggil tangan-tangan kekuasaan Jokowi untuk bersaksi dengan tuduhan makar. Tentu saja hal ini menimbulkan kecaman dan perasaan tidak senang bagi rakyat yang turut memperjuangkan kehormatan agamanya pada 2 Desember 2016.

Sebagaimana diketahui terdapat jutaan penduduk Indonesia yang turun pada aksi bela Islam ke – 3 tersebut. Berarti dengan memanggil Angga sama saja dengan melukai perasaan juta penduduk Indonesia yang bergerak damai ketika itu.

Melihat baru sekarang aksi tersebut mulai dipersoalkan, rakyat melihat ada kejanggalan dan motif politik yang kuat atas tindakan tangan-tangan kekuasaan Jokowi tersebut. Sangat sulit ditutup-tutupi oleh rezim ini, bahwa sekarang rezim mencoba membalas aksi tersebut dengan mempergunakan tangan-tangan kekuasaannya. Hal semacam ini tentu tindakan sewenang-wenang. Bila ini dibiarkan, kesewenang-wenangan akan bisa merajalela pada waktu-waktu selanjutnya.

Pemerintah Jokowi diperingatkan agar dapat menahan diri untuk tidak memancing kemarahan rakyat dengan penggunaan tuduhan makar.
Sebagaimana diketahui, watak rakyat Indonesia bila berhubungan dengan kehormatan agamanya, tidak pernah takut sedikitpun. (sed)

whatsapp-image-2016-12-24-at-10-48-45-am

 whatsapp-image-2016-12-24-at-10-48-45-am

Selasa, Desember 06, 2016

Mengapa Fatwa Gus Mus dan SAS Terkait Larangan Sholat Jum’at Dijalan Tak Ditaati Umat Islam? Ini Jawabannya


Gambar: Istimewa


By Wira TarunaPosted on December 3, 2016
Argumentasi sederhana ini cukup telak mematahkan fatwa Gus Mus dan Said Aqil Siradj (SAS) terkait larangan sholat Jum’at di jalan. Gus Mus sebut sholat Jum’at di jalan adalah bid’ah besar, sedangkan Said Aqil Siradj sebut tidak sah.

Faktanya, bukan cuma jutaan umat Islam yang tidak mau melaksanakan fatwa Gus Mus dan Said itu, Presiden Jokowi dan Wakil Presiden Jusuf Kalla serta jajarannya pun mengabaikan fatwa petinggi organisasi PBNU itu.

Kenapa bisa demikian? Ulasan sederhana dari Pondok Pesantren Tebuireng Jombang Jawa Timur KH Ahmad Musta’in Syafi’ie yang berjudul: “DAHSYATNYA ENERGI AL-MAIDAH:51” ini coba menjawabnya.

—

DAHSYATNYA ENERGI AL-MAIDAH:51

Oleh : KH Ahmad Musta’in Syafi’ie
Pondok Pesantren Tebuireng Jombang Jawa Timur

Sekian lama kiai toleransi sengaja “menyembunyikan-mu”, wahai al-Maidah:51. Ternyata Pemilikmu tersinggung. Lalu, dengan cara-Nya sendiri Dia bertindak. Cukup lidah Ahok diplesetkan dan NKRI tersentak menggelegar, menggelepar. Kita petik hikmahnya :

1. Aksi 411 and 212 adlh bukti bhw Allah SWT itu ada dan kehendakNya tdk bisa dibendung oleh siapapun. Pemerintah trpaksa harus mengalah, pdhal sblumnya Jokowi sdh pamer militer. Kini aksi diarahkan menjadi doa. Ternyata malah punya daya tarik yg luar biasa. Sluruh negeri menyambut dg nama berbeda, aksi Nusantara Bersatu, istighatsah militer dll.

Negara jg trpaksa mengeluarkan dana sangt besar utk menfasilitasi aksi 212. Aparat di jalanan trpaksa harus menyesuaikan diri dg menggunakan simbol-simbol islam. Polisi pakai surban putih, membuat tim khusus bernama ASMAUL HUSNA, polwan serentak berjilbab, Habib papan atas memimpin istighatsah pakai ikat merah-putih melilit kepala. Lucu (?). Mungkin Tuhan sdng menjewer telinga kita, agar slalu “putih” dlm mengemban amanat.

2. Mestinya penguasa dan para cukong sadar, bhw negeri ini lebih didirikan oleh teriak “Allah Akbar” ketimbang “Haliluya”. Umat islam yg selama ini diam, kini sbgian kecil berani menunjukkan jati dirinya scra alamiah dan sangat militan. Inilah yg disebut “silent majority”. Maka jangan coba-coba mengusik “air tenang” jika tidak ingin hanyut.

3. Aksi ini sungguh peringatan, bahwa : tasamuh, tawazun, tawassut yg dislogankan NU itu perlu ditinjau kembali. Bukan pada konsepnya, tapi praktiknya. Di samping ada batasan, wajib apa pengawalan yg tegas dan bijak. Sadarlah, betapa kaum Nahdliyin diam-diam mengapresiasi aksi ini secara suka rela. Artinya, mereka sdh mulai tdk sudi dan meninggalkan gaya PBNU yg tk jelas. Sok toleransi, tapi tak ada aksi. Berdalih” RAHMATAN LIL ‘ALAMIN” tapi sejatinya “ADL’AFUL IMAN”.

Dialah Rasulullah SAW, saat pribadinya disakiti, memaaf. Jika agama dinista, beliau marah besar. Bbrpa suku dan pribadi dikutuk dan dilaknat. Mukmin beneran itu tegas-keras kepada kafir, berkasih sayang sesama mukmin, ” asyidda’ ‘ala al-kuffar, ruhama’ bainahum” (Al-Fath:29). Tapi sebagian oknum PBNU, kiai toleransi, kiai seni sekarang cenderung sebaliknya, “asyidda’ ‘ala al-mukminin, ruhama’ bain al-kuffar”. (?)

4. Gus Mus yg membid’ahkan shalat jum’ah di jalan raya dan kiai Sa’id yg menghukumi tdk sah skrang diam soal shalat jum’ah di Silang Monas. Wonten punopo kiai?. Begitulah bila fatwa beraroma dan tendensius, hanya melihat illat hukum secara pendek dan sesaat. Terlalu naif menggunakan ikhtifah fiqih utk kepentingan politik.

Benar, jika itu mengganggu lalu lintas. Tapi hanya sebentar dan hanya pengguna jalan yg ketepatan lewat. Stelahnya, ada maslahah sangat besar bagi umat islam pd umumnya. Maslahah inilah yg tdk beliau lihat. Lagian, tradisi kita sdh biasa menutup jalan utk majlis dzikir, istighatsah, trmasuk haul Gus Dur di pesantren Tebuireng.

Gus Mus pernah mencak-mencak saat amaliah kaum Nahdliyin dibid’ahkan, tapi sekarang ganti membid’ahkan sesama muslim, “bid’ah besar”. Ternyata, amunisi bid’ah yg ditembakkan Gus Mus ini lbh besar dibanding bid’ah yg ditembakkan nonnahdliyin.

Skedar mmbaca sejarah, bhw zaman Umar ibn al-Khattab, tentara islam shalat jum’ah di jalan sblum menaklukkan negeri futuhat. Sultan Muhammad al-Fatih shalat jum’ah di sepanjang pantai Marmara sebelum menjebol benteng Konstatinopel. Inilah awal khilafah Utsmniyah berdiri. Sekali lagi, orang ‘alim mesti melihat sisi maslahah jauh ke depan ketimbang illat “bid’ah” sesaat.

Mengagumkan, fatwa dan puisi Gus Mus begitu manusiawi, tawadlu’, filosufis dan sufistik sehingga mengesankan derajat beliau telah mencapai hakekat keagamaan. Tiba-tiba tega merendahkan ilmu kiai-kiai MUI dengan mengatakan ilmu Syafi’i Ma’arif lebih tinggi. Sungguh membuat penulis tercengang. Ya. karena pernah kuliah di Jogya dan sedikit tahu.


Merendahkan ilmu kiai-kiai MUI sama saja dg merendahkan ilmu ketua Syuriah NU, KH. Ma’ruf Amin. Begitu cerdiknya Gus Mus, “sekali dayung dua kepala kena pentung”. Penulis membatin, ” kok bisa, sekelas ketua Syuriah NU tega merendahkan sesama ketua Syuriah. Ini fenomena apa?”. Hadana Allah. Terpujilah kiai Makruf tdk meladeni. Meski demikian, akan lebih elegan bila kiai Ma’ruf Amin tdk merangkap jabatan. Mohon maaf kiai.

Jumat, Desember 02, 2016

Cerita Inspiratif tentang Demo 212

Tulisan Joni A Koto, Arsitek, Urban Planner, alumni ITB 1993- 1 Desember 2016

Cerita Inspiratif 

Adalah saya akan tak ikut lagi aksi 212..?

Saya anggap dunia adalah soal bagaimana hidup dan cari kehidupan.. bagaimana menikmati dan lebih baik dari manusia lain, bagaimana bisa punya status baik, dihargai dgn apa yg dipunya dan sedikit jalan2 menikmati dunia..

Saya anggap orang yg maju dalam agama itu adalah yg berfikiran luas dan penuh toleransi, saya anggap tak perlulah terlalu fanatis akan sesuatu, tak perlu reaktif akan sesuatu, keep calm, be cool.. Janganlah sesekali dan ikut2an jadi orang norak.. ikut kelompok jingkrang2 dan entah apalah itu namanya..

Saya tak ikut aksi bela agama ini itu. Kalian jgn usil, jgn pikir dgn kalian-ikut dan saya-tidak artinya kalian masuk syurga dan saya tidak..! Saya ini beragama lho, saya ikut berpuasa, saya bersedekah dan beramal.. Saya bantu orang2, bantu saudara2 saya juga,, jgn kalian tanya2 soal peran saya ke lingkungan, kalian lihat orang2 respek pada saya, temanpun aku banyak.. tiap kotak sumbangan aku isi..

Saya masih heran, apa sih salah seorang Ahok..? Dia sudah bantu banyak orang, dia memang rada kasar tapi hatinya baik kok, saya hargai apa yg sudah dia buat bagi Jakarta.. 

Saya anggap aksi ini itu hanya soal politis karena kebetulan ada Pilkada. Saya tak mau terbawa2 arus seperti teman2 kantor yg tiba2 juga mau ikut aksi, saya anggap itu berlebihan dan terlalu cari2 sensasi.. paling juga mau selfie2..

Sampai satu saat..

Sore ini dalam gerimis saat saya ada di jalan, dalam mobil menuju tempat miting, dalam alunan musik barat saya berpapasan dgn rombongan pejalan kaki, saya melambat, mereka berjalan tertib, barisannya panjang sekali, pakai baju putih2, rompi hitam dan hanya beralas sendal, muka mereka letih, tapi nyata kelihatan tidak ada paksaan sama sekali di wajah2 itu.. mereka tetap berjalan teratur, memberi jalan ke kendaraan yg mau melintas, tidak ada yg teriak, berlaku arogan dan aneh2 atau bawa aura mirip rombongan pengantar jenazah yg ugal2an.. Ini aneh, biasanya kalau sdh bertemu orang ramai2 di jalan, aromanya kita sudah paranoid, suasana panas dan penuh tanda tanya negatif.. 

Sore ini, di jalan aku merasa ada kedamaian yg kulihat dan kurasa melihat wajah2 dan baju putih mereka yg basah terkena gerimis.. 

Papasan berlalu, aku setel radio lain..6 ada berita, rombongan peserta aksi jalan kaki dari Ciamis dan kota2 lain sudah memasuki kota, ada nama jalan yg mrk lalui.. Aku sambungkan semua informasi, ternyata yg aku berpapasan tadi adalah rombongan itu.. Aku tertegun.. 

Lama aku diam, otakku serasa terkunci, analisaku soal bagaimana orang beragama sibuk sekali mencari alasan. Tak kutemukan apa pun yg sesuai dgn pemikiranku. Apa yg membuat mereka rela melakukan itu semua..? Apa kira2..? aku makin sibuk berfikir.. Apa menurutku mereka itu berlebihan..? Rasanya tidak, aku melihat sendiri muka2 ikhlas itu.. Apa mereka ada tujuan2 politik..? Aku rasa tidak, kebanyakan orang sekarang mencapai tujuan bukan dgn cara2 itu..

 Apakah orang2 dgn tujuan politik yg gerakkan mereka itu..? Aku hitung2 dari informasi, akan ada jutaan peserta aksi, berapa biaya yg harus dikeluarkan untuk itu kalau ini tujuan kelompok tertentu.. Angkanya fantastis, rasanya mustahil ada yg mau ongkosi krn nilainya sangatlah besar..

Aku 'dalam' berfikir, di mobil, masih dalam gerimis, kembali berpapasan dgn kelompok lain, berbaju putih juga, basah kuyup juga.. Terlihat di pinggir2 jalan, anak2 sekolah membagikan minuman air mineral ukuran gelas, sedikit kue2 warung ke mereka, sepertinya itu dr uang jajan mereka yg tak seberapa..

 Aku terdiam makin dalam.. Ya Allah, kenapa aku begitu buruk berfikir selama ini..? 
Kenapa hanya hal2 jelek yg mau aku lihat tentang agamaku.. Kenapa dgn cara pandangku soal agamaku..? 

Aku mampir ke masjid, mau sholat Ashar.. aku lihat sendal2 jepit lusuh banyak sekali berbaris.. aku ambil wudhu..

Kembali di teras, kali ini aku bertemu rombongan tadi, mungkin yg tercecer. Muka mereka lelah sekali, mereka duduk, ada yg minum, ada yg rebahan, dan lebih banyak yg lagi baca Qur'an..  Hmmm..

Aku sholat sendiri,. Tak lama punggung ku dicolek dari belakang, tanda minta aku jd imam, aku cium aroma tubuh2 dan baju basah dari belakang.. Aku takbir sujud, ada lagi yg mencolek. Nahh.. Kali ini hatiku yg dicolek.. 

Entah kenapa,  hatiku bergetar sekali, aku sujud cukup lama, mereka juga diam.. Aku bangkit duduk, aku tak sadar ada air bening mengalir dari sudut mataku.. 

Ya Allah.. Aku tak pantas jadi imam mereka. Aku belum sehebat, setulus dan seteguh mereka.. Bagiku agama hanya hal2 manis, tentang hidup indah, tentang toleransi, humanis, pluralis, penuh gaya, in style.. bla bla bla.. Walau ada hinaan ke agamaku aku harus tetap elegan, berfikiran terbuka..  Kenapa Kau pertemukan mereka dan aku hari ini ya Allah, kenapa  Kau jadikan aku imam sholat mereka..? Apa yg hendak Kau sampaikan secara pribadi ke aku..?

Hanya 3 raka'at aku imami mereka. Hatiku luluh ya Allah.. Mataku panas nahan haru.. Mereka colek lagi punggungku, ada anak kecil usia belasan cium tanganku, mukanya kuyu tapi tetap senyum.. agak malu2 aku peluk dia, dadaku bergetar tercium bau keringatnya, dan itu tak bau sama sekali.. Ini bisa jadi dia anakku juga. Apa yg telah kuajarkan anakku soal Islam..? Apakah dia levelnya sekelas anak kecil ini..? Gerimis saja aku suruh anakku berteduh.. dia demam sedikit aku panik.. 

Aku nangis dalam hati.. di baju putihnya ada tulisan nama sekolah, SMP Ciamis.. Ratusan kilo dari sini.. Kakinya bengkak karena berjalan sejak dari rumah. Dia cerita bapaknya tak bs ikut karena sakit, dan hanya hidup dr membecak, bapaknya mau bawa becak ke Jakarta bantu nanti kalau ada yg capek, tapi dia larang.. 
Aku dipermalukan berulang2 di masjid ini.. Aku sudah tak kuat, ya Allah..

 Mereka bangkit, ambil tas2 dan kresek putih dr sudut masjid, kembali berjalan, meninggalkan aku sendirian di masjid, rasa2nya melihat punggung2 putih itu hilang dr pagar masjid, aku seperti sudah ditinggal mereka yg menuju syurga..
 Kali ini aku yg norak, aku sujud, lalu aku sholat sunat dua rakaat, air mataku keluar lagi.. kali ini cukup banyak, untung lagi sendirian..

Sudah jam 5an, lama aku di masjid, serasa terkunci tubuhku di sini.. miting dgn klien sptnya batal.. aku mikir lagi soal ke Islamanku, soal komitmenku ke Allah, Allah yg telah ciptakan aku, yg memberi ibu bapakku rejeki, sampai aku dewasa dan bangga seperti hari ini.. dimana posisi pembelaanku ke agamaku hari ini..? Ada dimana..? Imanku sudah aku buat nyasar di mana..?

Aku naik ke mobil, aku mikir lagi. Kali ini tanpa rasa curiga, kurasa ada sumbat besar yg telah lepas dalam benakku selama ini.. Ada satu kata.. Sederhana sekali tanpa bumbu2.. Ikhlas dalam bela agama itu memamg nyata ada..

Aku mampir di Minimarket, kali ini juga makin ikhlas, makin mantap.. Aku beli beberapa dus air mineral, makanan kering, isi dompet aku habiskan penuh emosional..
 Ini kebangganku yg pertama dalam hidup saat beramal, aku bahagia sekali.. Ya Allah ijinkan aku kembali ke jalanMu yg lurus, yg lapang, penuh kepasrahan dan kebersihan hati..

Ya Allah ijinkan aku besok ikut Shalat Jum'at dan berdoa bersama saudara2ku yg sebenarnya.. Orang2 yg sangat ikhlas membela Mu.. 
Besok, tak ada jarak mereka dgnMu ya Allah.. Aku juga mau begitu, ada di antara mereka, anak kecil yg basah kuyup hari ini.. tak ada penggargaan dr manusia yg kuharap, hanya ingin Kau terima sujudku.. Mohon Kau terima dgn sangat.. Bis[disingkat oleh WhatsApp]

PIDATO MENGEJUTKAN KAPOLRI !! KPK Bebaskan AHOX, POLRI Jadikan TERSANGKA


Minuman aksi demo bela Islam di suntik


Pengusiran wartawan Metro TV di demo 212