Tampilkan postingan dengan label Lailatul qadar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lailatul qadar. Tampilkan semua postingan

Selasa, Agustus 23, 2011

Menggapai kemuliaan di Malam Lailatul Qadar, Malam Seribu Bulan

Tak terasa akhirnya kita telah mencapai sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan kali ini yang penuh dengan keberkahan yang telah kita rasakan. Berbagai ketaatan serta ibadah pun telah kita lakukan dengan maksimal pada 20 hari terakhir ini. Tibalah kita pada sepuluh hari terakhir yang merupakan momen yang paling ditunggu-tunggu oleh seluruh umat Muslim di berbagai penjuru dunia karena pada sepuluh hari terakhir ini terdapat satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan yaitu malam Lailatul Qadar.
Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al Qur’an) pada suatu malam yang diberkahi. dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah.” (QS. Ad Dukhan [44] : 3-4)
serta di surat lain yaitu Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. Al Qadar [97] : 3-5)
Masya Alloh, sungguh mulia sekali pada satu malam itu seluruh ibadah kita bernilai seribu bulan. Contohnya saja kalau kita melakukan shalat tarawih, maka shalat tarawih kita bernilai pahala 83 tahun 4 bulan. Serta hanya di dalam satu malam ini lebih baik dari umur seseorang yang menghampiri 100 tahun, jika tambah berapa tahun beliau baligh dan dipertanggung jawabkan.
Namun pertanyaannya Kapan Malam Lailatul Qadar Terjadi?
Lailatul Qadar itu terjadi pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
“Carilah lailatul qadar pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari)
Terjadinya lailatul qadar di malam-malam ganjil itu lebih memungkinkan daripada malam-malam genap, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
“Carilah lailatul qadar di malam ganjil dari sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari)
Hikmah Allah menyembunyikan pengetahuan tentang terjadinya malam lailatul qadar di antaranya adalah agar terbedakan antara orang yang sungguh-sungguh untuk mencari malam tersebut dengan orang yang malas. Karena orang yang benar-benar ingin mendapatkan sesuatu tentu akan bersungguh-sungguh dalam mencarinya. Hal ini juga sebagai rahmat Allah agar hamba memperbanyak amalan pada hari-hari tersebut dengan demikian mereka akan semakin bertambah dekat dengan-Nya dan akan memperoleh pahala yang amat banyak. Semoga Allah memudahkan kita memperoleh malam yang penuh keberkahan ini.
Yang terakhir adalah Tanda Malam lailatul Qadar yaitu berdasarkan Hadist dari Abi bin Ka’ab bahwa Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya,”Shubuh hari dari malam lailatul qadar matahari terbit tanpa sinar, seolah-olah mirip bejana hingga matahari itu naik.” (HR. Muslim) (Lihat Shohih Fiqh Sunnah II/149-150)
Semoga kita semangat dalam meraih kemuliaan di Malam Lailatul Qadar.

Sumber http://rangeradith.wordpress.com/2010/08/30/menggapai-kemuliaan-di-malam-lailatul-qadar-malam-seribu-bulan/


Komentarku ( Mahrus ali )


Anda menyatakan :
Yang terakhir adalah Tanda Malam lailatul Qadar yaitu berdasarkan Hadist dari Abi bin Ka’ab bahwa Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya,”Shubuh hari dari malam lailatul qadar matahari terbit tanpa sinar, seolah-olah mirip bejana hingga matahari itu naik.” (HR. Muslim) (Lihat Shohih Fiqh Sunnah II/149-150)
Komentarku ( Mahrus ali )
Hadis terahir yang anda sampaikan itu saya  cari di nomer dan juz itu  tidak ada . Saya menjumpai  hadis  riwayat Muslim sbb :
و حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبَّادٍ وَابْنُ أَبِي عُمَرَ قَالَا حَدَّثَنَا مَرْوَانُ وَهُوَ الْفَزَارِيُّ عَنْ يَزِيدَ وَهُوَ ابْنُ كَيْسَانَ عَنْ أَبِي حَازِمٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ تَذَاكَرْنَا لَيْلَةَ الْقَدْرِ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَيُّكُمْ يَذْكُرُ حِينَ طَلَعَ الْقَمَرُ وَهُوَ مِثْلُ شِقِّ جَفْنَةٍ
Dari Abu Hurairah ra berkata : Kami saling mengingatkan tentang lailatul qadr  di sisi Rasulullah SAW, lalu beliau bersabda : Siapakah  di antaramu  yang ingat  ketika  bulan terbit seperti sisi mangkok besar. HR Muslim 1170
Komentarku ( Mahrus ali )
    Ada perawi  cacat dalam hadis tsb .
مُحَمَّدُ بْنُ عَبَّادٍ  صَدُوقٌ يَهِمُ
مَرْوَانُ وَهُوَ الْفَزَارِيُّ   مُدَلِّسٌ
يَزِيدَ وَهُوَ ابْنُ كَيْسَانَ  صَدُوقٌ يُخْطئ
Muhammad bin Abbad perawi yang selalu berkata benar tapi  keliru
Marwan  al Fazari  yang mudallis – suka menyelinapkan perawi lemah agar di kira sahih .
Yazid bin Kaisan  yang jujur  tapi keliru
Jadi hadis itu jelas lemahnya  dan hanya Imam Muslim yang meriwayatkannya di antara  penyusun kutubut tis`ah .
Abul  mu`athi dalam kitab al Musnad al Jami` 423/41 berkata :
أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ (2749) قَالَ : حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبَّادٍ ، وَابْنُ أَبِيْ عُمَرَ . وَ"أَبُوْ يَعْلَى" 6176 قَالَ : حَدَّثَنَا الْحَارِثُ بْنُ سُرَيْجٍ.
ثَلَاثَتُهُمْ (مُحَمَّدُ بْنُ عَبَّادٍ ، وَابْنُ أَبِيْ عُمَرَ ، وَالْحَارِثُ بْنُ سُرَيْجٍ) عَنْ مَرْوَانَ الْفَزَارِيِّ ، عَنْ يَزِيْدَ بْنِ كَيْسَانَ ، عَنْ أَبِيْ حَازِمٍ ، فَذَكَرَهُ.
HR. Muslim (2749)lalu  mengatakan: Bercerita kepada kami Muhammad bin Abbad, dan  anak Abu Umar. Dan "Abu Ali" 6176 berkata:  Bercerita kepada kami  Harits bin Suraij.
Tiga dari mereka (Muhammad bin Abbad, anak Abu Umar, dan al-Harits bin Suraij) dari Marwan al Fazari, dari Yazid bin Kaisan, dari Abu Hazim, lalu ia menyebutkan……………….

Komentarku ( Mahrus ali )
Jadi hanya Marwan  al Fazari  yang mudallis – suka menyelinapkan perawi lemah agar di kira sahih  yang meriwayatkan hadis tsb , tiada perawi lainnya .
Dia adalah atbaut tabiin Rank 8 [1]bukan tabiin juga bukan sahabat   – Jadi hadis tersebut tidak di kenal  di kalangan tabiin , dan para sahabat tapi populer di zaman sekarang . Bahkan  di kalangan pengikut tabiin saja hadis itu masih di anggap nyeleneh  dan tidak di kenal sekalipun Imam Muslim yang meriwayatkan nya.
Ada hadis lagi sbb :

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مِهْرَانَ الرَّازِيُّ حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ بْنُ مُسْلِمٍ حَدَّثَنَا الْأَوْزَاعِيُّ حَدَّثَنِي عَبْدَةُ عَنْ زِرٍّ قَالَ سَمِعْتُ أُبَيَّ بْنَ كَعْبٍ يَقُولُا وَقِيلَ لَهُ إِنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ مَسْعُودٍ يَقُولُا مَنْ قَامَ السَّنَةَ أَصَابَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ فَقَالَ أُبَيٌّ وَاللَّهِ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ إِنَّهَا لَفِي رَمَضَانَ يَحْلِفُ مَا يَسْتَثْنِي وَ وَاللَّهِ إِنِّي لَأَعْلَمُ أَيُّ لَيْلَةٍ هِيَ هِيَ اللَّيْلَةُ الَّتِي أَمَرَنَا بِهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِقِيَامِهَا هِيَ لَيْلَةُ صَبِيحَةِ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ وَأَمَارَتُهَا أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ فِي صَبِيحَةِ يَوْمِهَا بَيْضَاءَ لَا شُعَاعَ لَهَا
Dari Zir berkata : Aku mendengar Ubay bin Ka`ab berkata : Di katakan kepadanya  : Sesungguhnya Abdullah bin Mas`ud berkata : Barang siapa qiyamul lail setahun akan menjumpai  lailatul qadar “.
Ubay berkata : “ Demi Allah yang tiada Tuhan kecuali Dia , sesungguhnya lailatul qadar di Ramadhan . Dia bersumpah tanpa kecuali , demi Allah , sungguh aku tahu malam apa itu ?  ia adalah malam yang Rasulullah SAW memerintah kita untuk salat malam di dalamnya  . Yaitu malam 27 . Tandanya matahari terbita pada paginya putih tiada cahanya yang berkilau ( tiada pancaran sinarnya ) . HR Muslim 762
Ada hadis lagi sbb :


 724‏- حَدِيْثُ  ‏أَبِي سَعِيدٍ، قَالَ: اعْتَكَفْنَا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ   الْعَشْرَ الأَوْسَطَ مِنْ رَمَضَانَ، فَخَرَجَ صَبِيحَةَ عِشْرَينَ، فَخَطَبَا، وَقَالَ: إِنِّي أُرِيتُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ ثُمَّ أُنْسِيتُهَا أَوْ نُسِّيتُهَا، فَالْتَمِسُوهَا فِي الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ فِي الْوِتْرِ، وَإِنِّي رَأَيْتُ أَنِّي أَسْجُدُ فِي مَاءٍ وَطِينٍ، فَمَنْ كَانَ اعْتَكَفَ مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  ، فَلْيَرْجِعْ فَرَجَعْنَا وَمَا نَرَى فِي السَّمَاءٍ قَزَعَةَ؛ فَجَاءَتْ سَحَابَةٌ فَمَطَرَتْ حَتَّى سَالَ سَقْفُ الْمَسْجِدِ، وَكَانَ مِنْ جَرِيدِ النَّخْلِ، وَأَقِيمَتِ الصَّلاَةُ، فَرَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ   يَسْجُدُ فِي الْمَاءِ وَالطِّينِ، حَتَّى رَأَيْتُ أَثَرَ الطِّينِ فِي جَبْهَتِهِ
أَخْرَجَهُ اْلبُخَارِيّ فِي : 32 كِتَابُ فَضْلِ لَيْلَةِ اْلقَدْرِ : 2 2 بَابُ الْتِمَاسِ لَيْلَةِ اْلقَدْرِ فِي السَّبْعِ اْلأَوَاخِرِ

724.Abu Said menuturkan: “Kami pernah beri’tikaf pada sepuluh hari  pertengahan di bulan Ramadhan. Pada pagi hari kedua puluh, beliau saw berpidato kepada kami: “Aku diperlihatkan bahwa malam Qadar terjadi, tetapi aku lupa atau aku dilupakan kepadanya. Karena itu, carilah pada malam ganjil di sepuluh hari terakhir dan aku melihat seolah-olah aku bersujud di atas air dan tanah. Barangsiapa yang beri’tikaf bersama Rasulullah saw, maka kembalilah.”
Kami kembali bei’tikaf dan tidak melihat sepotong awanpun di langit. Tiba-tiba datanglah awan dan turunlah hujan sampai air menetes dari atap masjid yang terbuat dari pelepah pohon kurma. Ketika shalat diiqamatkan, maka aku lihat Rasulullah saw bersujud di atas air dan tanah sampai aku lihat di dahi beliau saw terdapat bekas tanah.” (Bukhari, 32, Kitab Fadlu Lailatul Qadr, 2, bab mencari Lailatul Qadar pada malam tujuh terakhir di bulan Ramadhan).

Allu`lu` wal marjan 343/1  al albani berkata :  Sahih
Lihat di kitab karyanya : Sahih wa dho`if  sunan Abu Dawud 382/3
 
Komentarku ( Mahrus ali )
 Hadis tsb menunjukkan kadang di malam lailatul qadar terjadi hujan bukan cerah terus .
Baca juga di

Selasa, Agustus 16, 2011

Malam yang terlaknat di malam yang penuh berkah



TRADISI lain yang ditunggu warga Gresik saat Ramadan adalah malam selawe di Desa Giri, Kecamatan Kebomas. Ratusan pedagang kaki lima membeber dagangan di kanan-kiri jalan menuju makam Sunan Giri yang berada di desa tersebut.
Pedagang makanan, pakaian hingga arena permaian telah dibuka untuk menyambut malam selawe bulan Suci Ramadan. Kemunculan para pedagang kaki lima itu tidak terlepas ramainya suasana saat malam 25 Ramadan di makam Maulana Ainul Yakin, atau Sunan Giri, atau Raden Paku, atau Prabu Satmata, atau (oko Samudra.
Mereka dari datang Gresik hingga luar pulau. Tujuan utamanya adalah ngalab berkah dengan berziarah ke makam Sunan Giri, di bukit Giri tersebut.
Saking banvaknya pengunjung ditambah membludaknya PKL jalan selebar delapan meter dengan panjang sekitar satu kilometer menuju makam Sunan Giri ditutup untuk kendaraan umum. "Semakin malam, peziarah ke makam Sunan Giri pada malam selawe (25) Ramadan semakin ramai," ujar Abdul Malik, warga masyarakat Desa Giri, Kecamatan Kebomas.
Di dalam makam itu, ada sejumlah peraturan yang harus ditaati para peziarah. Di antaranya, tidak boleh memotret dan harus melepas alas kaki.
Pada malam hari, pemandangan dari bukit Giri, kompleks makan Sunan Giri cukup elok. Selain udara segar karena pepohonan cukup rindang. "Ribuan peziarah itu datang ke makam kanjeng Sunan Giri untuk berdoa dengan harapan bisa mendapatkan berkah," ujar salah seorang guru kunci makam itu.
"Selain itu, mereka berharap bisa mendapatkan malam yang paling istimewa di bulan Ramadan. Malam Lailatul Qodar," imbuhnya. Selama ini, masyarakat mempercayai malam seribu bulan itu akan turun pada malam ganjil, (yad/ris/ruk)[1]
Komentarku ( Mahrus ali )
Adat budaya jahiliyah yang paling di benci Allah – di cintai oleh setan – setan manusia dan jin adalah malam selawehan yang penuh dengan laknat  di daerah Giri Gresik jatim ,mestinya harus di stop karena  taat pada  Allah bukan di biarkan  untuk taat kepada setan . Allah berfirman :
وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma`ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.
Lukman berwasiat kepada anaknya  agar beramar ma`ruf sebagaimana ayat :
يَابُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ
Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).

Anehnya , banyak orang yang ngaku beriman  merasa gembira, sedikit sekali yang bersedih dengan adanya malam selawehan di Giri yang penuh dengan kemungkaran  di malam lailatul qadar yang lebih baik dari pada   seribu bulan dan malaikat sama turun  . Akhirnya malam selawehan tsb lebih jelek dari pada malam lainnya , setan datang dan malaikat menghindar.   Di Mekkah dan Medinah , banyak orang yang mengisi malam lailatul qadar dengan kebaikan , tapi di Giri Gresik malah di isi dengan kemungkaran massal . Apakah dengan cara itu mereka mengisi malam lailatul qadar. Penduduk sana  sama dengan banu Israil yang di laknat  oleh Allah karena diam kepada kemungkaran  sebagaimana ayat :

لُعِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَى لِسَانِ دَاوُدَ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ ذَلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُونَ(78)كَانُوا لَا يَتَنَاهَوْنَ عَنْ مُنْكَرٍ فَعَلُوهُ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ
Telah dila`nati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan `Isa putera Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.[2]

   Budaya malam selawehan itu  sama dengan  mencoreng hitam pada wajah yang putih , bukan memutihkan wajah yang hitam . Saya  lihat tiada yang sedih  pada hal seorang mukmin itu benci kepada kemungkaran  sebagaimana ayat :

وَاعْلَمُوا أَنَّ فِيكُمْ رَسُولَ اللهِ لَوْ يُطِيعُكُمْ فِي كَثِيرٍ مِنَ اْلأَمْرِ لَعَنِتُّمْ وَلَكِنَّ اللهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ اْلإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ أُولَئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ

Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalangan kamu ada Rasulullah. Kalau ia menuruti (kemauan) kamu dalam beberapa urusan benar-benarlah kamu akan mendapat kesulitan tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus,[3]

Mestinya mereka  berupaya untuk menghentikannya.   Pada  hal  dari aparatnya  seandainya berupaya kesana akan mampu untuk melakukannya.
Itulah malam muda mudi berdesakan  untuk pergi ke makam Sunan Giri ,bukan niat berkunjung tapi senang mencari hiburan , kesenangan , melampiaskan nafsu , ajak pacar  untuk mengisi malam lailatul qadar. Ya persis sebagaimana  pasar , Mall atau pasar malam  , Bazar dll.
       Semoga  Allah memberikan hidayah kepada kita semua ,bukan kesesatan yang terus kita jalani.
Bacalah  artikel ini 

23 Mei 2011
12 Agt 2011



[1] http://bataviase.co.id/node/378482
[2] Al maidah 78-79
[3] Al Hujurat 7