Tampilkan postingan dengan label Masjid. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Masjid. Tampilkan semua postingan

Kamis, Agustus 11, 2016

Sebuah Masjid di Semarang Digembok atas Usulan Yayasan Kristen?




Sebuah Masjid di Semarang Digembok atas Usulan Yayasan Kristen?

SEMARANG (voa-islam.com)—Masjid Attaqwa yang berlokasi di daerah Ndelik Sari, Kota Semarang, Jawa Tengah dikabarkan digembok oleh pengurus RW setempat atas usulan sebuah yayasan Kristen. Warga Muslim pun kesulitan untuk melaksanakan shalat di masjid tersebut.

Hal ini seperti yang dikatakan Ridho, warga Semarang yang juga aktifis Islam kepada Voa-Islam melalui sambungan telepon, Ahad (31/1/2016) pagi.

"Kalau masjid sendiri awalnya tidak seperti itu. Tapi memang karena banyak yang masuk Nasrani akhirnya di gembok. Awalnya dengan alasan menghemat biaya dan dana. Penggembokan ini usulan yayasan Kristen," ungkap Ridho.

Ridho menjelaskan bahwa daerah Ndelik Sari ini awalnya mayoritas berpenduduk Muslim. Namun lambat laun kini kondisi berubah.

"Awalnya kan Muslim, kebanyakan tidak mampu. Di daerah bukit banyak kristen, asalnya Islam seratus persen tapi sekarang menjadi Kristen 60 persen," jelas Ridho.

Menurut Ridho daerah Ndelik Sari ini memang menjadi daerah rawan kristenisasi. Diawali dengan kegiatan bimbel murah dan bantuan makanan akhirnya masyarakat diajak untuk piknik dan ikuti kegiatan gereja.

"Awalnya ada bimbel mata pelajaran dan anak itu dibantu makanan. Mereka diajak piknik dan ke gereja sama anak-anak. Dari situ banyak yang terpengaruh dan masuk Nasrani," ujar Ridho.

Penggembokan masjid Attaqwa sempat diprotes oleh warga Muslim. Namun usaha itu tidak berhasil, warga hanya bisa pasrah melihat masjid digembok atas keputusan RW setempat.

"Warga sempat protes, tapi memang sudah keputusan RW jadi walaupun protespun tidak ada artinya," kata Ridho.

Ridho juga mengaku bahwa kasus ini sempat akan dilaporkan ke Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Semarang. Namun, niat ini belum kesampaian, karena kantor MUI Kota Semarang selalu sepi.

“Kantornya saja sepi, paling ada jam jam tertentu. Jadi susah kalau ajukan laporan seperti ini. MUI Semarang juga memang baru didirikan Oktober kemarin,” ujar Ridho.

Warga dibantu beberapa aktifis Muslim pun berusaha mediasi ke sejumlah tokoh dan lembaga Islam. Alhamdulillah, Muhammadiyah merespon baik untuk membantu advokasi kasus ini

"Paling Muhammadiyah sempat respon dan akan bantu prosesnya,” jelas Ridho. * [Sendia/Syaf/voa-islam.com]




Jumat, Juli 03, 2015

Jawabanku untuk Syukur Solo



Pernah belajar di LIPIA
Pernah belajar di: MTs Islam Nru-Q dan MAAM
Tinggal di Kota Surakarta
Dia menulis :
 " Bila telah masuk 10 malam terakhir Romadhon.. Jangan matikan lampu ! " (Sa'd bib Jubair)
Komentarku ( Mahrus ali ):
Atsar yg anda  sampaikan itu sbb:
أحمد: حدثنا معتمر، عن الفضيل بن ميسرة، عن أبي حريز، أن سعيد بن جبير قال: لا تطفئوا سرجكم (5) ليالي العشر
……….., jangan matikan lampumu di malam sepuluh hari ( yg terahir dari bulan Ramdhan ).
Maunya atsar itu dibuat pegangan untuk mendukung memberikan lampu ke masjid. Dengan demikian , tidak benar masjid gelap tanpa  lampu.
Saya katakan:Said bin Jubair sbg kreator atsar tsb tidak mengarahkan kalimat itu untuk masjid, dan beliau  juga tidak menyebut masjid agar diberi lampu.Layak  sekali  perkataan beliau ter arah untuk orang – orang yg berada di rumah agar menghidupkan lampunya ketika sepuluh malam Ramadhan yg terahir untuk mendapatkan lailatul qadar.
 Dia tingkat tiga dari pertengahan tabiin , wafat pd tahun 95 H.
وروي عنه ، أنه قال : لا تطفئوا مصابيحكم في العشر -يعجبه العبادة .
Di riwayatkan beliau berkata : Jangan matikan lampu – lampumu di sepuluh hari terahir bulan Ramdhan – beliau tertarik untuk menunaikan ibadah.


Rabu, Juli 01, 2015

Masjid Unik Berlantai Bumi Beratap Langit di Turki

   



Kata man jadda wajada ini mampu membuat seorang miskin di Turki mewujudkan impian membuat Masjid unik berlantai Bumi dan beratap Langit bernama Shanke Yadem. Masjid dengan dua menara tinggi berbentuk kotak tersebut dibangun oleh seorang miskin yang bernama Khairudin Afandi di daerah Al-Fateh, di pinggir kota Istanbul, Turki. Baca juga Mau Jalan Jalan Murah ke Turki, Baca Dulu Panduan Ini Cerita dibangunnya Masjid berlantai Tanah dan beratap Langit yang diberi nama Shanke Yadem yang dalam bahasa setempat bermakna "anggap saja saya sudah makan" ini memang tergolong langka. Dan nama Shanke Yadem adalah nama yang diberikan oleh warga setempat setelah mengetahui kronologi kejadian dibangunnya Masjid tersebut Berawal dari cita cita yang mulia untuk memiliki masjid, setiap pulang dari pasar Khairudin Afandi mampu menahan diri tidak membelanjakan duitnya walau hanya untuk sekedar makan, dia lebih suka menabung hasil keringatnya pada sebuah tromol untuk mewujudkan cita citanya membangun masjid. Karena beliu ini penganut filosofi makan untuk hidup, bukan hidup untuk makan    



Shanke yadem






















  
Dan setelah minggu, bulan dan tahun terus berjalan dia selalu konsisten dengan amalan menabungnya, akhirnya Khairudin Afandi membuka tabungannya untuk dibelikan material, dan kemudian dibangunlah masjid Shanke Yadem yang sekarang banyak dikunjungi oleh wisatawan dari seluruh Dunia. Baca juga Masjid Perut Bumi Al Maghribi Tuban Mulai dilirik Pengunjung . (tiwimu)





Selasa, Juni 30, 2015

Jawabanku untuk Bpk. Asnawi hakim, Aulia arfan,Helmi Fauzi dan Munir El Sasaki


  Asnawi Hakim

  Direktur di PT. UDAR IDER TBK
Pernah bekerja di: aswaja dan Pasuran Putu Santri NH
 
Pernah belajar di Universitas Menyan Indonesia

Dari Kota Bogor · Pindah ke Kota Bandung

pak mahrus ali ituh hehehe karna menurut nya itu gk di lakukan di masa kanjeng nabi kita hehehe
  Asnawi Hakim pak mahrus emang tampil beda hehehe back to sunnah katanya.. solat mesti beralaskan tanah pake lantai keramik ato marmer mamnu' apa lg pake sajadah bid'ah gk tau level berapa bidengah nya

Komentarku ( Mahrus ali ):
Saya ini tidak memperdulikan apa yang saya sampaikan ini beda atau sama dengan ajaran Islam  yang membudaya di masarakat.
Memang tuntunan yang asli itu beda dengan tuntunan yg palsu yg sekarang membudaya dan menjadi tontonan di masaakat . Itu fakta bukan meng ada – ada hal yg semestinya tidak ada. Saya ingat hadis :
بَدَأَ الْإِسْلاَمُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ *
Islam mulai dalam keadaan terasing ( terpencil  dan   jarang pengikutnya ) . Dan akan kembali dalam keadaan terasing. Beruntunglah  orang orang yang terpencil . Hadis sahih , Muslim/Iman /145

وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ
Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).  ( 116  Al an`am )


 
  Aulia Arfan Bahkan saya pernah dgr dari salah seorang ustadz salafy....tentang keutamaan memberikan penerangan di masjid... Bahkan yg memasang lampu akan mendapat pahala jariyah...

Komentarku ( Mahrus ali ):
Sy belum tahu dalilnya. Pendapat spt itu hanya akal – akalan yang menyesatkan  bukan  dalil yang mengarah kpd kebenaran.. Ia mengikuti budaya penerangan lampu di masjid – masjid yang ada didunia ini, bukan  spt masjid Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tanpa  lampu . Sy tahu masjid Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tanpa lampu , ada hadis sbb:
عَنْ أَبِي مُوسَى عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ أَتَاهُ سَائِلٌ يَسْأَلُهُ عَنْ مَوَاقِيتِ الصَّلَاةِ فَلَمْ يَرُدَّ عَلَيْهِ شَيْئًا قَالَ فَأَقَامَ الْفَجْرَ حِينَ انْشَقَّ الْفَجْرُ وَالنَّاسُ لَا يَكَادُ يَعْرِفُ بَعْضُهُمْ بَعْضًا (مسلم: 614) وفي رواية: حِينَ كَانَ الرَّجُلُ لَا يَعْرِفُ وَجْهَ صَاحِبِهِ أَوْ أَنَّ الرَّجُلَ لَا يَعْرِفُ مَنْ إِلَى جَنْبِهِ (أبو داود: 395)
Dari Abu Musa Al-Asy’ari: bahwa Rosul -shollallohu alaihi wasallam- pernah di datangi orang yang menanyakan waktu-waktu sholat, dan beliau tidak menjawabnya. Namun beliau kemudian mendirikan sholat shubuh, ketika muncul fajar. Ketika itu hampir saja mereka tidak mengenali satu sama lain. (HR. Muslim: 614) dalam riwayat lain redaksinya: “Ketika itu seseorang tidak mengenali raut wajah temannya”. Atau dengan redaksi: “Sungguh saat itu seseorang tidak mengenali siapa yang disampingnya”. (HR. Abu Dawud: 395, dishohihkan oleh Albani)سبل السلام (1/ 108)
لأنه كان مسجده صلى الله عليه وسلم ليس فيه مصابيح
…………., sebab masjid Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tiada lampu – lampunya.
Imam Dzahabi berkata:  
ثم إنه عليه السلام لم يأمرهم بوقود ، ولا بقناديل في مسجده ، ولا فعله ، وميمونة لا يدرى من هي ، ولا يعرف لعثمان سماع منها ) 0
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sendiri  juga tidak pernah memerintah untuk menghidupkan lampu di masjid, beliau  sendiri juga tidak pernah berbuat.







Mantap ulasan kang Dodi ElHasyimi
 

  Pernah bekerja sebagai Hubungan masyarakat di Wilwatikta Warehouse - WW
Pernah bekerja di: Teknisi Refill Toner
Jurusan Psikologi di Boro boro sarjana
Pernah belajar di: SMK Roudlotul Jannatinna'im

Dia menulis :
komentar paling shohih Mahrus Ali Nanti akan sy tunjukkan bahwa cerita yang di suguhkan oleh Dodi ElHasyimi adalah lemah, tdk valid, mengkaburkan ajaran Islam, tidak mecerahkan umat.

Komentarku ( Mahrus ali ):
Benar apa yg anda katakan.

 Munir El Sasaki menulis:

Saya sich hanya merasa ada kejanggalan ketika ada satu atau dua orang dimasa kita sàat ini yg tiba - tiba mempermasalahkan menggunaan lampu saat sholat..

[dari sisi ini saya tanyakan]

Knp ko menggunakan lampu itu (dihukumi bid'ah dholalah..?), yang berarti klw seseorang tdk menggunakan lampu itu maka (ia) mendapatkan pahala yang besar..?

Saya hanya minta agar dimunculkan pendapat salaf, atau minimal penjelasan - penjelasan dari Al A'immah (para ahlul 'ilm) dimasa lampau..

Krn jika hanya mengangkat dalil ini dan itu sebagai hujjah utk membid'ah dholalah kan masalah ini, saya khawatir aja klw (istidlal) dg hujjah yg dimunculkan tdk terarah dg benar (tdk tepat sasaran)


Komentarku ( Mahrus ali ):
Anda menyatakan:
Saya sich hanya merasa ada kejanggalan ketika ada satu atau dua orang dimasa kita sàat ini yg tiba - tiba mempermasalahkan menggunaan lampu saat sholat..

[dari sisi ini saya tanyakan]

Komentarku ( Mahrus ali ):
Saya umpamakan , adzan yang membudaya di kalangan Syi`ah menggunakan  asy hadu anna  aliyan  waliyullah.
Lalu ada orang yang meluruskan , maka  kalangan ulama  atau  juhala Syi`ah akan protes keras. Mereka tidak akan setuju. Mereka tidak tinggal diam. Dan mereka akan mengatakan sebagaimana  apa yang di katakan oleh bapak Munir itu?  Di masa spt ini  kok baru ada orang yang mengatakan adzan yg benar adalah tanpa  asyhadu anna aliyan waliyullah. Mengapa  ulama – ulama  yg dulu kok diam sj,
Mirip  juga dengan orang kristen yang menyatakan bahwa Yesus bukan Tuhan dan bukan anaknya, maka  dengan cepat akan diprotes oleh seluruh pendeta kristen seluruh dunia. Mereka takkan tinggal diam . Mereka akan menyesatkan pd orang yang meluruskan itu.Pada hal, hakikatnya pendapat pendeta – pendeta  itulah yang sesat dan orang tadi adalah benar.   

Perkataan seperti itu persis  dengan sinyalemen  orang – orang kafir ketika menolak kebenaran :
وَمَا سَمِعْنَا بِهَذَا فِي ءَابَائِنَا الْأَوَّلِينَ
Dan kami belum pernah mendengar (seruan yang seperti) ini pada nenek moyang kami dahulu". Al qashas 36.
Karena itu, jangan ikut perkataan orang kafir dulu atau sekarang tapi ikutilah perkataan orang mukmin  yaitu  sami`na wa atho`na kepada dalil dari Allah dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Ada atau  tidak ada ulama  yang berfatwa itu bukan persoalan . Yang penting itu dalil.
Lalu bpk Munir mengatakan lagi:
Knp ko menggunakan lampu itu (dihukumi bid'ah dholalah..?), yang berarti klw seseorang tdk menggunakan lampu itu maka (ia) mendapatkan pahala yang besar..?
Komentarku ( Mahrus ali ):
Apakah memakai lampu di masjid itu boleh dikatakan  mengikuti tuntunan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, lalu yang tidak memakainya dikatakan bid`   ah. Kalau  sedemikian ini jelas salah total bukan benar sebagian dan salah sebagian. Ia pendapat yg terbalik.
Jadi ketika  kita menjalankan shalat di masjid tanpa lampu itulah yg mengikuti tuntunan. Bila memakainya termasuk bid`ah dholalah dan tiada dholalah hasanah .
Bapak Munir menyatakan lagi:

Saya hanya minta agar dimunculkan pendapat salaf, atau minimal penjelasan - penjelasan dari Al A'immah (para ahlul 'ilm) dimasa lampau..

Komentarku ( Mahrus ali ):
Kan di muka sudah di tulis pendapat Imam Dzahabi, bc lagi.
Bapak Munir menyatakan lagi:

Krn jika hanya mengangkat dalil ini dan itu sebagai hujjah utk membid'ah dholalah kan masalah ini, saya khawatir aja klw (istidlal) dg hujjah yg dimunculkan tdk terarah dg benar (tdk tepat sasaran)

Komentarku ( Mahrus ali ):
Ini bentuk pelecehan dalil dan menjunjung pendapat ulama. Ini keyakinan yang harus dilenyapkan, bukan dibiarkan bertengger di pikiran dan hati kita. Kita jangan tergolong ayat sbb:
اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ(31)
Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. Tobat 31
Imam Syafii menyatakan:

لَا تُقَلِّدْ دِينَك الرِّجَالَ فَإِنَّهُمْ لَنْ يَسْلَمُوا مِنْ أَنْ يَغْلَطُوا.
Dalam masalah agama,jangan ikut orang, sebab  mereka mungkin juga salah. 
Anda menyatakan:
saya khawatir aja klw (istidlal) dg hujjah yg dimunculkan tdk terarah dg benar (tdk tepat sasaran)
Komentarku ( Mahrus ali ):
Terus apakah memakai lampu waktu shalat itu  sudah benar pemahaman hujjahnya dan anda  tidak hawatir dengannya? Tunjukkan dalilnya :

قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

Katakanlah: "Unjukkanlah bukti kebenaranmu, jika kamu memang orang-orang yang benar". Namel 64
Di ayat lain, Allah menyatakan:


أَمْ لَكُمْ سُلْطَانٌ مُبِينٌ(156)فَأْتُوا بِكِتَابِكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

Atau apakah kamu mempunyai bukti yang nyata? Maka bawalah kitabmu jika kamu memang orang-orang yang benar. Shoffat.

Aneh dikasih  dalil, malah hawatir keliru, dikasih pendapat ulama , malah yakin benar. Bagaimana  bila pendapat itu ternyata salah. Akhirnya anda  menyakini kebenaran suatu kesalahan


Senin, Juni 29, 2015

Jawabanku untuk Gus Dodi ElHasyimi ke 7











Dodi Elhasyimi menulis lagi:

 juga Menukil pendapat Al Mundziri yg MENSAHIHKAN RIWAYAT IBNU MAJAH
Komentarku ( Mahrus ali ):
Anda salah paham, tidak benar dalam memahami kalimat sbb:

والحديث عزاه المنذري إلى ابن ماجه من طريق زياد بن أبي سودة عن أخيه عثمان عن ميمونة ، وهو في الصحيح،
Hadis tsb ( hadis pengiriman minyak untuk lampu baitul maqdis ) dinisbatkan oleh al Mundziri kepada Ibnu Majah  dari jalur Ziyad bin Abi Saudah  dari saudaranya  Usman  dari Maimunah . Dan hadis itu di sahih Bukhari dan Muslim.
Komentarku ( Mahrus ali ):
Bila hadis tsb di anggap di sahih Bukhari dan Muslim, maka sy tidak menjumpainya setelah lama mencarinya. Dan sy anggap keliru sekali, bukan benar. 
Jadi al mundziri  tidak mensahihkan hadis tsb. Hadis  itu di sahih Bukhari dan Muslim itu perkataan Syaikh Abd Muhsin bukan al Mundziri.

Anda menyatakan:
 juga menukil lafadz Al Buushiriy di Mishhbahuz Zujajah yg mengatakan Isnad dari jalur Ibnu Majah Shahih dan Rijalnya Tsiqot
Komentarku ( Mahrus ali ):
Sanad sahih, kadang hadis dikatakan lemah karena syadz, redaksinya  kacau dari satu riwayat ke riwayat lain, kadang redaksi hadis  gharib tidak  cocok dengan kebanyakan riwayat sahih yg lain, nentang al quran atau hadis mutawatir.
Dan hadis  riwayat Ibn Majah sudah dijelaskan kelemahannya  di atas.

شرح سنن أبي داود - عبدالمحسن العباد (ص: 2)
والحديث عزاه المنذري إلى ابن ماجه من طريق زياد بن أبي سودة عن أخيه عثمان عن ميمونة ، وهو في الصحيح، كما قاله المزي في تهذيب الكمال، وتبعه تلميذه العلائي في جامع التحصيل و ابن حجر في تهذيبه، ولفظ البوصيري في مصباح الزجاجة. إسناد طريق ابن ماجه صحيح رجاله ثقات، وهو أصح من طريق أبي داود ، وعلى هذا يكون فيه اتصال، ولكن إسناد ابن ماجه فيه عثمان .
حصى المسجد



Dodi ElHasyimi Di halaman sebelumnya Abdul Muhsin ' Abbad juga mengatakan :     


قوله باب في السرج في المسجد يعني إضاءتها إنارتها وهذا أمر مطلوب في المساجد والقيام بذلك من الأمور المطلوبة في المساجد لأن كل ما فيه مصلحة ومنفعة في المسجد للناس أمر مطلوب ومن قبل كانت تتخذ السرج ويستعملون الزيت لإيقادها



Ucapan beliau : Bab Lampu2 di Masjid2, yaitu memberi penerangan masjid2, hal ini adalah PERKARA YG DIANJURKAN DI DALAM MASJID2 dan melakukannya termasuk perkara2 yg dianjurkan di dalam masjid2, karena setiap perkara yg membawa maslahat dan manfaat bagi para manusia di dalam masjid maka termasuk PERKARA YG DIANJURKAN...!!!

Komentarku ( Mahrus ali ):
Bila  keterangan syiakh Mushsin tsb  kita ikuti, kita tdak punya dalil yang sahih. Lantas mana dalil yang di buat pegangan oleh syaikh tsb.
Realitanya masjid masjid itu dihiasi dengan lampu yang indah, mahal dan sangat terang benderang. Anehnya  juga ketika  shalat lampu di hidupkan. Setelah selesai shalat , lampu  dimatikan dan masjid di tutup.
Tuntunan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ketika menjalankan shalat selalu gelap, tanpa lampu. Dan ini beliau lakukan seumur hidup. Dan khulafaur Rasyidinpun  mengikuti beliau dlm hal ini tidak menentangnya sebagaimana  apa yang kita jalankan. Karena itu, kita harus kembali ikut tuntunan bukan maju untuk terus menyelisihinya.
Dodi ElHasyimi  menulis : Kayaknya pendapat Mbah Yai Mahrus Ali adalah SYADZ MULAI JAMAN SALAFUS SHALIH ASELI (pake shod) sampe sekarang.....!!!

Komentarku ( Mahrus ali ):
 Pendapat saya itu syadz / ,menyendiri era sekarang dimana masarakat seolah bersepakat  untuk menyelisihi sunnah, senang bikin kebid`aan anti sunnah.
Tapi pendapat anda yang menganjurkan  memberi lampu di masjid menentang tuntunan, menyendiri di masa sahabat – salafus sholih.
Kapan para sahabat menghidupkan lampu di masjid itu,jangan mendustai umat, jangan sesatkan mereka, kasihan sekali anda dan mereka. Berkatalah  yang jujur agar umat tercerah  dengan cahaya  sunah dan tidak tergelapkan dengan kedustaan  ulamanya.
Salafus sholih yang mana yang menganjurkan pakai lampu ?
Bila ulama kibar sekarang menganjurkan menghidupkan lampu di masjid ketika berjamaah, maka  itu adalah  fatwa yang menentang  tuntunan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam untuk mengikuti hawa nafsu orang banyak.


Jawabanku untuk Gus Dodi El Hasyimi ke 6







  Dodi ElHasyimi  menulis : Ini Tahqiqan ulama Wahabi Husain Salim Asad pd Musnad Abi Ya'la... KATANYA : ISNADUHU SHAHIH....!!!
مسند أبي يعلى الموصلي (12/ 523)
 - حَدَّثَنَا أَبُو مُوسَى إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الْهَرَوِيُّ حَدَّثَنَا عِيسَى بْنُ يُونُسَ، حَدَّثَنَا ثَوْرُ بْنُ يَزِيدَ، عَنْ زِيَادِ بْنِ أَبِي سَوْدَةَ، عَنْ أَخِيهِ، عَنْ مَيْمُونَةَ قَالَتْ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَفْتِنَا فِي بَيْتِ الْمَقْدِسِ قَالَ: «هُوَ أَرْضُ الْمَحْشَرِ وَأَرْضُ الْمَنْشَرِ ائْتُوهُ فَصَلُّوا فِيهِ، فَإِنَّ صَلَاةً فِيهِ كَأَلْفِ صَلَاةٍ»، قُلْنَا: يَا رَسُولَ اللَّهِ فَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ أَنْ يَتَحَمَّلَ إِلَيْهِ؟ قَالَ: «مَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ أَنْ يَأْتِيَهُ فَلْيُهْدِ إِلَيْهِ زَيْتًا يُسْرَجُ فِيهِ، فَإِنَّ مَنْ أَهْدَى إِلَيْهِ زَيْتًا كَانَ كَمَنْ قَدْ أَتَاهُ»
[حكم حسين سليم أسد] : إسناده صحيح
Komentarku ( Mahrus ali ):
Seorang pengawas dalam shaut islami menyatakan:

وقال عنه الإمام الذهبي: خبر منكر، وضعفه الألباني في "ضعيف الجامع".
Imam Dzahabi menyatakan : Ia khabar yang munkar , dilemahkan  oleh al bani  dalam kitab Dhaif jami`.








 
  Dodi ElHasyimi  menulis : Abdul Ghafur Al Balusyi ketika Mentahqiq Musnad Ishaq bin Rahawaih mengatakan RIJAALUHU TSIQOT....!!!
مسند إسحاق بن راهويه (5/ 106)
 1 - 2211 أخبرنا عيسى بن يونس نا ثور بن يزيد عن زياد بن أبي سودة عن أخيه أن ميمونة مولاة النبي صلى الله عليه و سلم قالت يا رسول الله أفتنا في بيت المقدس فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم
 ( هو أرض المحشر والمنشر ائتوه فصلوا فيه ) وقالت يا رسول الله أرأيت إن لم يطق أحدنا أن يتحمل إليه قال ( فمن لم يطق أن يتحمل إليه فليهد إليه زيتا يسرج فيه فإنه من أهدى إليه كان كمن صلى فيه )
قال المحقق د . عبد الغفور البلوشي : رجاله ثقات
Komentarku ( Mahrus ali ):
Redaksi  hadisnya lemah sekalipun dikatakan perawi sanadnya sahih. Hanya sanadnya sahih, redaksi hadisnya  lemah , bertentangan dengan ayat:
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلاَ تَعَاوَنُوا عَلَى اْلإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ شَدِيدُ الْعِقَاب
Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. [1]


  Dodi ElHasyimi Ulama Kibar Wahabi Abdul Muhsin 'Abbad mengatakan MEMASANG LAMPU UNTUK MENERANGI MASJID ITU AMRUN MATHLUB WA LAA ISYKAALA FIIH (PERKARA YG DIANJURKAN DAN TANPA KEMUSYKILAN) juga Menukil pendapat Al Mundziri yg MENSAHIHKAN RIWAYAT IBNU MAJAH juga menukil lafadz Al Buushiriy di Mishhbahuz Zujajah yg mengatakan Isnad dari jalur Ibnu Majah Shahih dan Rijalnya Tsiqot
شرح سنن أبي داود - عبدالمحسن العباد (ص: 2)
 [ عن سعيد بن عبد العزيز ]. هو سعيد بن عبد العزيز الدمشقي ، وهو ثقة، أخرج له البخاري في الأدب المفرد، ومسلم وأصحاب السنن. [ عن زياد بن أبي سودة ]. زياد بن أبي سودة ثقة، أخرج له أبو داود و ابن ماجه . [ عن ميمونة مولاة النبي صلى الله عليه وسلم ]. ميمونة مولاة النبي صلى الله عليه وسلم صحابية، أخرج حديثها أصحاب السنن. والحديث ضعفه الألباني ، وفي إسناده مسكين بن بكير صدوق يخطئ. ولا أدري هل فيه علة أخرى غير هذه، لكن اتخاذ السرج مطلقاً وإضاءة المساجد أمرٌ مطلوب، ولا إشكال فيه، وإنما الإشكال في كون ذلك الأمر صدر من رسول الله صلى الله عليه وسلم بالنسبة لبيت المقدس أم لا. والحديث عزاه المنذري إلى ابن ماجه من طريق زياد بن أبي سودة عن أخيه عثمان عن ميمونة ، وهو في الصحيح، كما قاله المزي في تهذيب الكمال، وتبعه تلميذه العلائي في جامع التحصيل و ابن حجر في تهذيبه  ذذ، ولفظ البوصيري في مصباح الزجاجة. إسناد طريق ابن ماجه صحيح رجاله ثقات، وهو أصح من طريق أبي داود ، وعلى هذا يكون فيه اتصال، ولكن إسناد ابن ماجه فيه عثمان .
Komentarku ( Mahrus ali ):
Anda menyatakan: Ulama Kibar Wahabi Abdul Muhsin 'Abbad mengatakan MEMASANG LAMPU UNTUK MENERANGI MASJID ITU AMRUN MATHLUB WA LAA ISYKAALA FIIH (PERKARA YG DIANJURKAN DAN TANPA KEMUSYKILAN)

Komentarku ( Mahrus ali ):
Mana dalilnya ?
Ternyata  beliau tidak membawakan dalil.
Bila di percaya, di buat pegangan perkataan Syaikh tsb, maka kita ini akan bertentangan dengan ayat :
قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ
Katakanlah: "Unjukkanlah bukti kebenaranmu( dalilmu ), jika kamu memang orang-orang yang benar". Namel 64
Di ayat lain, Allah menyatakan:
أَمْ لَكُمْ سُلْطَانٌ مُبِينٌ(156)فَأْتُوا بِكِتَابِكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ
Atau apakah kamu mempunyai bukti yang nyata? Maka bawalah kitabmu jika kamu memang orang-orang yang benar. Shoffat.
Pendapat Syaikh Abd Muhsin al abbad atau lainnya  yang spt itu sangat membahayakan, bukan menyelamatkan. Pendapat tersebut tanpa dalil, ber arti  bikin ajaran yang tidak di ajarkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Boleh dikatakan bikin kebid`ahan untuk menganjurkan agar meninggalkan sunnah – tuntunan  yg ada tentang masjid adalah tanpa lampu – gelap  bukan terang benderang.  Pendapat tsb namanya  tasyri` baru. Dan ini dilarang bukan di perintahkan. Allah berfirman:
أم لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللهُ وَلَوْلاَ كَلِمَةُ الْفَصْلِ لَقُضِيَ بَيْنَهُمْ وَإِنَّ الظَّالِمِينَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيم
Apakah mereka mempunyai  sekutu - sekutu selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah? Sekiranya tak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah) tentulah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu akan memperoleh azab yang amat pedih.  Syura 21

Bila pendapat syaikh tsb diikuti, maka seluruh masjid di anjurkan di kasih lampu . dan ini sangat beda dengan masjid Nabi shallallahu 'alaihi wasallam  dimana khuafaur Rasyidin  tidak memberi penerangan  pd masjid Nabi shallallahu 'alaihi wasallam .

Anda perlu mengetengahkan perkataan syaikh tsb sbb:
وإنما الإشكال في كون ذلك الأمر صدر من رسول الله صلى الله عليه وسلم بالنسبة لبيت المقدس أم لا.
Yang membikin problem adalah apakah  memberi lampu masjid  al aqsha  itu benar – benar  dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam atau bukan.
Komentarku ( Mahrus ali ):
Ternyata  beliau masih meragukan keabsahan  hadis  tentang pengiriman minyak  lampu  ke masjidil aqsha. Beliau  belum yakin kesahihan hadis  tsb. Bahkan beliau lebih condong  untuk melemahkan hadis tsb karena beliau menyatakan hadis itu dilemahkan oleh syaikh al albani.
Dengan sendirinya bila beliau condong  untuk melemahkan hadis itu, maka tiada  pegangan untuk menganjurkan  memberi penerangan masjid.





[1] Al Maidah 2.