Tampilkan postingan dengan label jawabanku untuk komentator. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jawabanku untuk komentator. Tampilkan semua postingan

Jumat, Juli 10, 2015

Jawabanku untuk Ibnu Taimiyah - seri ke 4




Kaum muslimin sekarang bila disuruh untuk kembali kpd tuntunan shalat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yg asli, bukan yg palsu maka mereka sangat berat. Mereka  mudah menerima shalat di karpet dan sulit sekali menerima tuntunan shalat di tanah spt  kaum nasrani disuruh menjalankan shalat spt nabi Isa, maka mereka akan menolak dengan serta merta, mereka akan bilang masak orang sekian banyaknya ini salah semua. Untuk apa ikut satu orang. Masak kita ikut satu orang lalu pendapat orang banyak di tinggalkan. Pendeta – pendetanya juga marah sekali, mereka akan mengatakan : Jangan dengarkan omongan orang itu. Pada hal Nabi Isa menjalankan shalat sebagaimana ayat  sbb:
وَجَعَلَنِي مُبَارَكًا أَيْنَ مَا كُنتُ وَأَوْصَانِي بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ مَا دُمْتُ حَيًّا
 dan Dia menjadikan aku ( Isa as ) seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup; Maryam 31

Orang – orang kristen, pendeta, uskup sampai Paus paulus akan marah kesetanan, caci maki akan keluar  dari mulut mereka. Dan mereka akan menyatakan tiada perintah  shalat dlm agama Kristen. Tokoh – tokoh mereka  berdusta, berbuat  culas lalu di amini  oleh bawahannya. Inilah faktor kesesatan mereka dan sekarang menjalar kpd kaum muslimin. 

Begitulah kesalahan yang membudaya bila ada orang yang mengingatkan akan dipertahankan dan kebenaran yg datang akan di tolak dengan mentah – mentah. Sy  ingat ayat:
فَلَمَّا جَاءَتْهُمْ رُسُلُهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ فَرِحُوا بِمَا عِنْدَهُمْ مِنَ الْعِلْمِ وَحَاقَ بِهِمْ مَا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ
Maka tatkala datang kepada mereka rasul-rasul (yang diutus kepada) mereka dengan membawa keterangan-keterangan, mereka merasa senang dengan pengetahuan yang ada pada mereka dan mereka dikepung oleh azab Allah yang selalu mereka perolok-olokkan itu. Ghafir 83.
Komentarku ( Mahrus ali ):
Ajaran para Rasul di tolak, di ledek, dan masarakat  merasa ajaran  mereka sudah final, tidak boleh di robah, dan yang merobahnya ke ajaran Rasul  yang asli harus  di hujani dengan berbagai macam hinaan . Ahirnya  azab  Allah menimpa kepada masarakat  yang sedemikian  itu.
Karena itu, dalil harus  kita dulukan, bukan pendapat manusia, ulama  atau orang awam. Disaat kita mendengar ajaran baru, kita harus melihat dalilnya. Bila  tepat dan sahih, kita harus berani meninggalkan ajaran lama yang tidak berdalil. Bila kita masih kokoh dengan ajaran yang tidak berdalil, maka seperti saya  dulu bila begitu saya akan masih menjadi tokoh ahli bid`ah.

Jawabanku untuk Ibnu Taimiyah Bekasi seri 3




Anda menulis  hadis  sbb: ----------------

حدثنا معاذ بن فضالة حدثنا هشام عن يحيى عن أبي سلمة قال
سألت أبا سعيد وكان لي صديقا فقال
اعتكفنا مع النبي صلى الله عليه وسلم العشر الأوسط من رمضان فخرج صبيحة عشرين فخطبنا وقال
إني أريت ليلة القدر ثم أنسيتها أو نسيتها فالتمسوها في العشر الأواخر في الوتر
وإني رأيت أني أسجد في ماء وطين فمن كان اعتكف مع رسول الله صلى الله عليه وسلم فليرجع فرجعنا وما نرى في السماء قزعة فجاءت سحابة فمطرت حتى سال سقف المسجد وكان من جريد النخل وأقيمت الصلاة فرأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم يسجد في الماء والطين حتى رأيت أثر الطين في جبهته
dari Abi salamah ia berkata:
Aku bertanya keada ABU SAID (Al Khudri) yang ia adalah salah satu sahabatku, maka ia berkata;
Kami pernah beri'tikaf bersama NABI pada 10 malam pertengahan romadhon, kemudian Nabi keluar pada 10 malam yang akhir, lalu berkhutbah kepada kami dan bersabda:

Sungguh aku melihat malam lailatul qodar kemudian aku lupa atau dilupakan, karenanya carilah di malam - malam terakhir yang ganjil,
Sungguh aku melihat (dalam mimpi) bahwa AKU SUJUD di atas air dan tanah (becek).
Maka siapa saja yang telah i'tikaf bersama Nabi hendaklah ia pulang..
Maka kamipun pulang dan tidaklah kami melihat langit awan yang tipis sekalipun, hingga kemudian datang awan yang banyak lalu turunlah hujan hingga menetes pada atap masjid yang terbuat dari DAHAN KURMA, dan setelah sholat aku melihat NABI sujud di atas tanah becek hingga terlihat sisa tanah itu pada dahi Nabi

Shohih bukhori, kitab sholat tarawih, bab keutamaan lailatul qodar..
Komentarku ( Mahrus ali ):
Maaf terjemahannya banyak kekeliruan.
فخرج صبيحة عشرين فخطبنا
, kemudian Nabi keluar pada 10 malam yang akhir, lalu berkhutbah kepada kami ( terjemahanmu yang salah )
Terjemahanku ( Mahrus  ali ) :
Maka Nabi keluar pada pagi hari  dua puluh Ramadhan ( bukan  pada 10 malam yang  akhir, )lalu berkhutbah kepada kami
إني أريت ليلة القدر ثم أنسيتها أو نسيتها فالتمسوها في العشر الأواخر في الوتر
Sungguh aku melihat malam lailatul qodar kemudian aku lupa atau dilupakan, karenanya carilah di malam - malam terakhir yang ganjil, ( terjemahanmu yang salah) .
Terjemahanku ( Mahrus ali ) :
Sungguh aku di perlihatkan  malam lailatul qodar ( dlm sebuah mimpi , bukan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melihatnya )  kemudian aku dilupakan ( oleh Allah )  atau dilupakan ( artinya sama  tapi kalimatnya beda  yaitu Unsiituha, dan nusituha)  karenanya carilah di malam - malam terakhir yang ganjil.
Kalimatnya bila diharakati sbb :
التوضيح لشرح الجامع الصحيح (13/ 576)
إِنِّي أُرِيتُ لَيْلَةَ القَدْرِ، ثُمَّ أُنْسِيتُهَا -أَوْ نُسِّيتُهَا- فَالتَمِسُوهَا فِي العَشْرِ الأَوَاخِرِ فِي الوَتْرِ

فمن كان اعتكف مع رسول الله صلى الله عليه وسلم فليرجع فرجعنا وما نرى في السماء قزعة
Maka siapa saja yang telah i'tikaf bersama Nabi hendaklah ia pulang..
Maka kamipun pulang dan tidaklah kami melihat langit awan yang tipis sekalipun ( terjemahanmu yg salah )

Komentarku ( Mahrus ali ):
Terjemahan yg benar:
Maka siapa saja yang telah i'tikaf bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam hendaklah kembali ke masjid.Maka kamipun kembali  dan tidaklah kami melihat langit ada gumpalan awan
Anda menyatakan:
Maka jika kalangan GHULAT dalam masalah bid'ah ini konsisten dengan teknik IHTIJAJ nya, maka hendaklah mereka konsisten pula dalam berpegang pada 2 fakta hadits ini;

1. MEWAJIBKAN atap MASJID dari dedaunan KURMA..
2. yang menyebabkan terjadinya REMBESAN saat hujan..

ALLOHU A'LAM..
Komentarku ( Mahrus ali ):
Sampai segitu orang sesat menyesatkan orang yg lurus, mestinya kembali saja kpd tuntunan yg ada  yaitu shalat langsung di tanah, bukan di sajadah atau keramik. Bukan merobah tuntunan agar cocok dengan budaya shalat di masa sekarang  yaitu shalat di karpet. Silahkan bc ayat ini:
فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللهِ  وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللهِ  وَالْيَوْمِ ا‏ ْلآ‏خِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلاً
Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan  Rasul  (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. Nisa` 59
Saya tdk mempersoalkan atap masjid dari benda kayu, besi, seng, eternit dll. Sebab Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tidak pernah memerintahkan sesuatu  tentang atap masjid. Untuk masalah  sujud di tanah, tidak boleh dirobah, harus tetap seperti kondisi semula- yaitu sujud di tanah tanpa tikar atau kramik. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menyebut sebagai  berikut:
وَجُعِلَتْ لِيَ الْأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُورًا فَأَيُّمَا رَجُلٍ  أَدْرَكَتْهُ الصَّلَاةُ فَلْيُصَلِّ
Bumi di jadikan  tempat sujud dan alat suci ( untuk tayammum )Setiap lelaki  yang   menjumpai waktu salat   , salat lah ( di tempat itu ) ………( HR Bukhori /Tayammum/ 335. Muslim / Masajid dan tempat salat  /521 )
 Bila anda mempersoalkan atap masjid harus ikut atap masjid Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, maka  saya tanyakan mana  hadis nya yang menyatakan atap masjid harus mengikuti atap masjid Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.
Siapapun yg mencari hadis tsb tidak akan menjumpainya sampai mati. Tapi kalau masalah keharusan sujud di bumi tanpa alas, maka banyak hadisnya  misal – bukan semuanya  sbb:
حَيْثُمَا أَدْرَكَتْكَ الصَّلَاةُ فَصَلِّ وَالْأَرْضُ لَكَ مَسْجِدٌ *
 Dimana saja  kamu menjumpai waktu shalat  telah tiba , shalat lah dan bumi (( bukan sajadah, keramik atau karpet )  adalah tempat sujudmu Muttafaq alaih  , Bukhori 811
Mengapa anda mempersoalakan bagi orang yg sujud langsung ke tanah hendaknya atapnya juga harus spt atap masjid Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.
Saya katakan: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan para sahabatnya terkadang menjalankan shalat tanpa atap ketika beliau berpergian dan menjalankan shalat wajib. Contohnya :
دَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَزُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ جَمِيعًا عَنْ وَكِيعٍ قَالَ زُهَيْرٌ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ حَدَّثَنَا عَوْنُ بْنُ أَبِي جُحَيْفَةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ
أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمَكَّةَ وَهُوَ بِالْأَبْطَحِ فِي قُبَّةٍ لَهُ حَمْرَاءَ مِنْ أَدَمٍ قَالَ فَخَرَجَ بِلَالٌ بِوَضُوئِهِ فَمِنْ نَائِلٍ وَنَاضِحٍ قَالَ فَخَرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ حُلَّةٌ حَمْرَاءُ كَأَنِّي أَنْظُرُ إِلَى بَيَاضِ سَاقَيْهِ قَالَ فَتَوَضَّأَ وَأَذَّنَ بِلَالٌ قَالَ فَجَعَلْتُ أَتَتَبَّعُ فَاهُ هَا هُنَا وَهَا هُنَا يَقُولُ يَمِينًا وَشِمَالًا يَقُولُ حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ قَالَ ثُمَّ رُكِزَتْ لَهُ عَنَزَةٌ فَتَقَدَّمَ فَصَلَّى الظُّهْرَ رَكْعَتَيْنِ يَمُرُّ بَيْنَ يَدَيْهِ الْحِمَارُ وَالْكَلْبُ لَا يُمْنَعُ ثُمَّ صَلَّى الْعَصْرَ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ لَمْ يَزَلْ يُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ حَتَّى رَجَعَ إِلَى الْمَدِينَةِ
Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah dan Zuhair bin Harb semuanya meriwayatkan dari Waki' berkata Zuhair, telah menceritakan kepada kami Waki' telah menceritakan kepada kami Sufyan telah menceritakan kepada kami 'Aun bin Abi Juhaifah dari Bapaknya dia berkata, "Saya mendatangi Nabi shallallahu'alaihiwasallam di Makkah, ketika itu beliau berada
di Abthah, dalam kubah merah terbuat dari kulit. Perawi berkata:  Bilal datang membawakan air wudhu untuk beliau. Dari sisa air itu ada orang yang mengambil air itu dan ada orang yang memercikkan ke tubuhnya. Kemudian Nabi Shallallahu'alaihiwasallam, keluar memakai pakaian merah. Seolah-olah aku masih melihat  putihnya betis Nabi." Perawi berkata, "Lalu Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, wudhu, dan Bilal adzan. Aku mengamat  gerak-gerik mulut Bilal berseru ke sana  dan ke sini mengucapkan ke kanan dan kiri , 'Hayya 'alash shalah, hayya 'alal falah.' Kemudian, Bilal menancapkan sebuah tongkat berujung besi ( tombak ), lalu Nabi Shallallahu'alaihiwasallam, maju ke depan mengimami shalat qasar Zhuhur dua rakaat. (Ketika Nabi sedang shalat), keledai dan anjing  lewat di depan beliau (di balik tongkat itu), tetapi ia tidak dicegah (oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam), kemudian shalat Ashar dua rakaat, kemudian selalu  shalat dua rakaat hingga (tiba) kembali di Madinah'." HADIST NO – 777/ HR Muslim
Komentarku ( Mahrus ali ):
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan para sahabatnya menjalankan shalat di berpergian tanpa atap, juga bersujud di tanah tanpa tikar. Pada  hal tikar saat itu ada, tanpa kain sekalipun , kain saat itu banyak. Walapun sekali dalam hidupnya, kain blum pernah dijadikan sebagai tempat sujud  Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dalam shalat  wajib, bukan shalat sunat.
Realita kita bila berpergian selalu melakukan shalat di karpet masjid, beda dengan tuntunan Shalat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.
Shalat wajib ber atap atau tidak, bukan menjadi persoalan. Bila di haruskan ber atap, maka akan keliru.  Sebab Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan para sahabatnya menjalankan shalat tanpa atap  juga terkadang pakai atap. Tiada isykal dlm hal ini, mudah sekali, jangan dipersulit, nanti termasuk ghuluw. Tapi jangan di abaikan masalah sujud di tanah, nanti kita termasuk orang yang mengabaikan tuntunan, lalu membuangnya untuk mengambil kebid`ahan dalam shalat yaitu shalat di sajadah.

Jawabanku untuk Ibnu Taimiyah Bekasi seri ke 2



Ini jawaban sy yg lalu
Untuk marmer, sebetulnya sudah ada sebelum Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dilahirkan, lihat komentar sbb:
الرخام هو صخر كلسي متحول، يتكون من الكالسيت النقي جداً (شكل بلوري لكربونات الكالسيوم CaCO3). يستعمل في النحت، وكذلك يستعمل كمادة بنائية، وأيضاً في العديد من الأغراض الأخرى مثل إكساء الأرضيات والجدران وجدران الحمامات. وقد تكون تحت ظروف نادرة من الضغط والحرارة الهائلتين في جوف الأرض.
تشتهر عدة دول في إنتاجه منها، فلسطين، تركيا، إسبانيا، البرازيل وإيطاليا التي تعد في المرتبة الأولى.ومما يميزه أيضا تفاعله مع الأحماض وهو ينشأ في البيئات البحربة. إستعمال الرخام قد عرف خلال العصور القديمة التى عرفت المبانى والقصور الفاخرة المزينة بمشغولات وتماثيل من الرخام، وقد سجل التاريخ أن الرخام كان يستعمل في إستعمالات كثيرة في جميع العصور التى عرفت المدنية. وقد وصف هيرودوت أهرامات الجيزة بأنها مكسية من الرخام المجلى الذى أكسبها جمالا وعظمة، وقد ذكر في التوراة أن الرخام استخدم في بناء معابد أورشليم ، زهذا يثبت أن الرخام قد عرف من أكثر من ألاف السنين قبل الميلاد. وكان الرخام وسيلة الفنانين في التعبير سواء في فن المعمار أوالنحت ومبانى اليونان القديمة وتماثيل روما وقد عرف الفراعنة الرخام في مصر منذ أكثر من 5 ألاف سنة فقد أستخدم في تكسية الأهرامات وفى بناء المعابد وقصور الملوك وتماثيلهم والمسلات وأعمدة المعابد .
Marmer adalah batu kapur mutan, terdiri dari kalsit yang sangat murni (bentuk kristal kalsium karbonat CaCO3). Digunakan untuk memahat, serta digunakan sebagai konstruktivisme, dan juga  banyak tujuan lain seperti membikin lantai tanah, melapisi dinding dan dinding kamar mandi. Mungkin dalam kondisi langka tekanan dan temperatur yang sangat  dari  bawah tanah.

Beberapa negara terkenal dalam produksi marmer  seperti  Palestina, Turki, Spanyol, Brazil dan Italia  yang termasuk peringkat pertama. Termasuk kelebihannnya bisa berinteraksi dengan asam.  Ia  berasal dari lingkungan laut . Penggunaan marmer telah dikenal dimasa lalu untuk  bangunan, istana  mewah kuno  dihiasi dengan berbagai kerajinan dan  patung-patung dari  marmer,
وقد سجل التاريخ أن الرخام كان يستعمل في إستعمالات كثيرة في جميع العصور التى عرفت المدنية. وقد وصف هيرودوت أهرامات الجيزة بأنها مكسية من الرخام المجلى الذى أكسبها جمالا وعظمة،

 Sejarah telah mencatat bahwa marmer sering  digunakan di berbagai hal dalam segala masa yang kenal peradaban . Herodotus menggambarkan Piramida Giza yang dilapisi dengan  marmer yang tampak jelas yang bisa membikin  keindahan dan kemegahan,
وقد ذكر في التوراة أن الرخام استخدم في بناء معابد أورشليم ،.
Disebutkan dalam kitab Taurat bahwa marmer  digunakan untuk membangun tempat ibadah di  Yerusalem,
وهذا يثبت أن الرخام قد عرف من أكثر من ألاف السنين قبل الميلاد. وكان الرخام وسيلة الفنانين في التعبير سواء في فن المعمار أوالنحت ومبانى اليونان القديمة وتماثيل روما
Ini  membuktikan bahwa marmer telah dikenal lebih dari ribuan tahun sebelum Masehi. Marmer sebagai sarana seniman – seniman dalam ekspresi baik dalam arsitektur atau memahat dan bangunan Yunani kuno dan patung-patung di  Roma
وقد عرف الفراعنة الرخام في مصر منذ أكثر من 5 ألاف سنة فقد أستخدم في تكسية الأهرامات وفى بناء المعابد وقصور الملوك وتماثيلهم والمسلات وأعمدة المعابد
Raja – raja Firaun telah mengenal marmer di Mesir selama lebih dari lima ribu tahun  digunakan dalam menghiasi piramida  dan membangun kuil ( tempat ibadah ) dan istana raja, patung-patung dan obelisk dan  tiang – tiang  kuil.
Komentarku ( Mahrus  ali ):
Marmer sudah ada sebelum Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam  di lahirkan. Dan kelirulah anggapan orang bahwa masjid Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam  berlantaikan tanah itu karena saat itu belum ada marmer. Itu adalah klaim kosong bukan klaim berbobot yang berlandaskan  data dan fakta. Ia hanyalah bertolak dari kebodohan tentang sejarah peradaban manusia.
 Bahkan tempat – tempat Ibadah Yahudi juga di hiasi dengan marmer untuk tembok atau tiang – tiangnya. Hal  itu tidak di sebutkan dalam Injil masa Nabi Isa, tapi  sebelumnya jauh yaitu di sebutkan dalam kitab Taurat Nabi Musa alaihissalam.
Pendapat yg menyatakan shalat di atas tanah ghuluw bertentangan dengan perkataan Imam Malik:
. وَقَدْ رُوِيَ أَنَّ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ مَهْدِيٍّ لَمَّا قَدِمَ الْمَدِينَةَ بَسَطَ سَجَّادَةً فَأَمَرَ مَالِكٌ بِحَبْسِهِ فَقِيلَ لَهُ : إنَّهُ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ فَقَالَ : أَمَا عَلِمْت أَنَّ بَسْطَ السَّجَّادَةِ فِي مَسْجِدِنَا بِدْعَةٌ .
Sungguh telah di kisahkan bahwa Abd rahman bin Mahdi ketika datang ke Medinah menggelar sajadah , lalu Imam Malik memerintah agar di tahan ( dipenjara ) . Di katakan kepadanya  : “  Dia adalah  Abd Rahman bin mahdi  “
Imam Malik  menjawab :”  Apakah kamu tidak mengerti bahwa  menggelar sajadah dimasjid kami adalah bid`ah “.
Pendapat tsb bertentangan dengan pendapat Ibn Rajab sbb:
فتح الباري لابن رجب - (ج 3 / ص 150)
الْمُرَادُ مِنْ هَذَا اْلحَدِيْثِ هَاهُنَا : أَنَّ النَّبِيَّ - صلى الله عليه وسلم - لَمْ يَكُنْ يُصَلِّي اْلمَكْتُوْبَةَ إِلاَّ عَلَى اْلأَرْضِ مُسْتَقْبِلَ اْلقِبْلَةِ ، فَأَمَّا صَلاَةُ الْفَرِيْضَةِ عَلَى اْلأَرْضِ فَوَاجِبٌ لاَ يَسْقُطُ إِلاَّ فِي صَلاَةِ شِدَّةِ اْلخَوْفِ ، كما قال تعالى: { فَإِنْ خِفْتُمْ فَرِجَالاً أَوْ رُكْبَاناً } [البقرة :239] .
Ibnu Rajab berkata dalam kitab Fathul bari 150/3 sbb:
Maksud hadis tsb ( hadis Nabi turun dari kendaraan ketika menjalankan salat wajib ) adalah sesungguhnya Nabi SAW tidak akan menjalankan salat wajib kecuali di tanah dengan menghadap kiblat. Untuk menjalankan salat fardhu di atas tanah ( langsung bukan di sajadah atau keramik ) adalah wajib kecuali dalam salat waktu peperangan atau keadaan yang menakutkan sebagaimana firman Allah taala sbb:
Jika kamu dalam keadaan takut (bahaya), maka shalatlah sambil berjalan atau berkendaraan.
Pendapat yg menyatakan shalat di tanah  ghuluw juga bertentangan dengan pendapat Ibnu Taimiyah sbb:
أَمَّا الْغُلَاةُ : مِنْ الْمُوَسْوِسِينَ فَإِنَّهُمْ لَا يُصَلُّونَ عَلَى الْأَرْضِ وَلَا عَلَى مَا يُفْرَشُ لِلْعَامَّةِ عَلَى الْأَرْضِ لَكِنْ عَلَى سَجَّادَةٍ وَنَحْوِهَا وَهَؤُلَاءِ كَيْفَ يُصَلُّونَ فِي نِعَالِهِمْ وَذَلِكَ أَبْعَدُ مِنْ الصَّلَاةِ عَلَى الْأَرْضِ فَإِنَّ النِّعَالَ قَدْ لَاقَتْ الطَّرِيقَ الَّتِي مَشَوْا فِيهَا ;
Untuk orang – orang yang suka beragama dengan berlebihan maka tidak akan melakukan salat di atas tanah atau hamparan yang biasanya untuk umum .tapi  mereka akan menghamparkan sajadah dll . Mereka  tidak akan melakukan salat dengan sandal . Dan ini lebih  berat dari pada salat di tanah.  Sebab sandal yang di buat jalan akan menyentuh najis dll . [1]
فَلَمْ يَكُنْ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم يَتَّخِذُ سَجَّادَةً يُصَلِّي عَلَيْهَا وَلَا الصَّحَابَةُ ; بَلْ كَانُوا يُصَلُّونَ حُفَاةً وَمُنْتَعِلِينَ وَيُصَلُّونَ عَلَى التُّرَابِ وَالْحَصِيرِ وَغَيْرِ ذَلِكَ مِنْ غَيْرِ حَائِلٍ
Nabi dan sahabatnya tidak pernah mengelar sajadah untuk salat , bahkan mereka melakukan salat dengan kaki telanjang dan bersandal  dan mereka juga melakukan salat di debu, tikar dll tanpa sajadah [2]
                
وَهَذَا فِيهِ مُشَابَهَةٌ لِأَهْلِ الْكِتَابِ الَّذِينَ كَانُوا لَا يُصَلُّونَ إلَّا فِي مَسَاجِدِهِمْ
Ini mirip dengan ahli kitab yang tidak mau melakukan salat kecuali di tempat salatnya [3] (Gerejanya ) .Sekarang realita kaum muslimin tidak mau melakukan salat wajib kecuali di masjid , tidak mau di atas tanah .
Komentarku ( Mahrus ali ):
Ibnu Taimiyah yang dulu bukan Ibnu Taimiyah sekarang menyatakan bahwa orang – orang yang melakukan shalat di sajadah itulah orang yang ghulu, karena waswas, dan menganggap bahwa tanah itu kotor, najis, tidak layak digunakan untuk shalat. Hal ini karena tdk paham tentang tuntunan shalat , bodoh sekali, dan sangat paham dengan tontonan shalat.


[1] Kutub warosail ibnu Taimiyah  177/22
[2] kutub warosail ibnu Taimiyah 192/22
[3] Majmuk fatawa  22

Jawabanku untuk Ibnu Taimiyah Bekasi



 

Ibnu Taimiyah
Pernah belajar di IMM JAPAN
Pernah belajar di: School of Photography

Tinggal di Kota Bekasi
Dia menulis  sbb:
BID'AH : ANTARA IFROTH N TAFRITH 2
Sebagaimana sebagian kalangan yang ghuluw dalam menilai keadaan sekunder Nabi n Sahabat dijadikan sebagai HUJAH, maka demikian pula, akan banyak sekali keadaan di mana FAKTA NABI N SAHABAT wajib pula dijadikan HUJJAH oleh para pemegang manhaj GHULUW ini.
1. mereka mewajibkan sholat tanpa LANTAI, dengan dasar bahwa NABI n SAHABAT tidak pernah sholat di atas lantai..
maka argumen ini juga menghendaki keadaan lain, yaitu kewajiban menggunakan dedaunan n ranting kurma sebagai atapnya, PLUS BOCOR.., karena hal ini pun dialami NABI n SAHABAT menjelang malam lailatul qodar, sebagaimana hadits berikut ini;
----------------


حدثنا معاذ بن فضالة حدثنا هشام عن يحيى عن أبي سلمة قال
سألت أبا سعيد وكان لي صديقا فقال
اعتكفنا مع النبي صلى الله عليه وسلم العشر الأوسط من رمضان فخرج صبيحة عشرين فخطبنا وقال
إني أريت ليلة القدر ثم أنسيتها أو نسيتها فالتمسوها في العشر الأواخر في الوتر
وإني رأيت أني أسجد في ماء وطين فمن كان اعتكف مع رسول الله صلى الله عليه وسلم فليرجع فرجعنا وما نرى في السماء قزعة فجاءت سحابة فمطرت حتى سال سقف المسجد وكان من جريد النخل وأقيمت الصلاة فرأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم يسجد في الماء والطين حتى رأيت أثر الطين في جبهته
dari Abi salamah ia berkata:
Aku bertanya keada ABU SAID (Al Khudri) yang ia adalah salah satu sahabatku, maka ia berkata;
Kami pernah beri'tikaf bersama NABI pada 10 malam pertengahan romadhon, kemudian Nabi keluar pada 10 malam yang akhir, lalu berkhutbah kepada kami dan bersabda:

Sungguh aku melihat malam lailatul qodar kemudian aku lupa atau dilupakan, karenanya carilah di malam - malam terakhir yang ganjil,
Sungguh aku melihat (dalam mimpi) bahwa AKU SUJUD di atas air dan tanah (becek).
Maka siapa saja yang telah i'tikaf bersama Nabi hendaklah ia pulang..
Maka kamipun pulang dan tidaklah kami melihat langit awan yang tipis sekalipun, hingga kemudian datang awan yang banyak lalu turunlah hujan hingga menetes pada atap masjid yang terbuat dari DAHAN KURMA, dan setelah sholat aku melihat NABI sujud di atas tanah becek hingga terlihat sisa tanah itu pada dahi Nabi

Shohih bukhori, kitab sholat tarawih, bab keutamaan lailatul qodar..
------------
Maka jika kalangan GHULAT dalam masalah bid'ah ini konsisten dengan teknik IHTIJAJ nya, maka hendaklah mereka konsisten pula dalam berpegang pada 2 fakta hadits ini;

1. MEWAJIBKAN atap MASJID dari dedaunan KURMA..
2. yang menyebabkan terjadinya REMBESAN saat hujan..

ALLOHU A'LAM..
Komentarku ( Mahrus ali ):
Anda menyatakan:
Sebagaimana sebagian kalangan yang ghuluw dalam menilai keadaan sekunder Nabi n Sahabat dijadikan sebagai HUJAH, maka demikian pula, akan banyak sekali keadaan di mana FAKTA NABI N SAHABAT wajib pula dijadikan HUJJAH oleh para pemegang manhaj GHULUW ini.
1. mereka mewajibkan sholat tanpa LANTAI, dengan dasar bahwa NABI n SAHABAT tidak pernah sholat di atas lantai..
maka argumen ini juga menghendaki keadaan lain, yaitu kewajiban menggunakan dedaunan n ranting kurma sebagai atapnya, PLUS BOCOR.., karena hal ini pun dialami NABI n SAHABAT menjelang malam lailatul qodar, sebagaimana hadits berikut ini;
Komentarku ( Mahrus ali ):
Aneh sekali, menjalankan shalat di atas tanah di katakan ghuluw, lalu shalat di atas sajadah atau keramiklah  yg paling tepat. Penilaian sedemikian ini tidak benar, salah sekali. Tidak memiliki dasar, tanpa dalil, tanpa melihat tuntunan, tapi lihat tontonan shalat di kalangan masarakat.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan para sahabat menjalankan shalat wajib di tanah, pada  hal mereka  punya kain, tikar dan sajadah ( Khumrah ).
Mengapa mereka  sujud ditanah tidak menggunakan kain, tikar dan sajadahnya untuk sujud spt tontonan shalat sekarang yg menyelisihi tuntunannya.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tdk pernah menjalankan shalat wajib di tikar,kain atau sajadah walaupun sekali bukan dua atau tiga kali.Tapi kita tiap hari melakukan shalat dengan karpet. Kelirulah apa yg kita lakukan dan benarlah apa yg di lakukan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dlm masalah  shalat ini .
Bila Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah menjalankan shalat  wajib di tikar , kain atau sajadah sekali sj, maka sudah cukup untuk dibuat pegangan bolehnya shalat wajib di sajadah , karpet atau tingkat. Berhubung itu tidak ada, mk kita tidak punya dalil untuk memperkenankan shalat wajib di karpet, tingkat atau sajadah,  bukan shalat sunat.
Jadi tikar, kain saat itu bukan untuk shalat wajib.  Tapi saat sekarang, kain dan tikar untuk landasan sujud dan shalat. Ini yg membedakan antara shalat kita dengan tuntunan yg  lurus. Kita menyelisihinya, bukan menteladaninya dlm shalat.Tuntunan shalat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sudah ditinggalkan, lalu tontonan shalat di buat pegangan.
Kramik itu mirip sekali dengan marmer. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan sahabatnya juga tidak pernah menggunakan marmer untuk masjidnya. Pada hal , marmer saat beliau itu sudah ada, apalagi di saat Umar bin Khatthab dimana ghanimah dari beberapa daerah sudah melimpah ruah , artinya  negara khilafah sdh kaya raya.

Sabtu, Juli 04, 2015

Jawabanku untuk Iskandar Muhammadiyah Cut Neuheun



Iskandar Muhammadiyah Cut Neuheun‎menulis:
Assalamualaikum wa rahmatullah.
Sudah menjadi tradisi di Acéh umumnya, setiap ada orang yang meninggal dunia, dari hari pertama meninggal sampai hari ke tujuh diadakan Samadiyah, yaitu membaca Surat Al Ikhlas yang dimaksudkan pahalanya untuk orang yang meninggal.
Orang yang berkunjung ke rumah orang yang meninggal membaca surat Al-Ikhlas (samadiyah), berdasarkan hadits:
من قراء قل هو الله احد الخ عشر الف مرة اعتقه الله عن النار ، رواه بخارى ومسلم
“Barangsiapa yang membaca: Qul huwallahu ahad - hingga akhirnya - sepuluh ribu kali, niscaya dimerdekakan akannya oleh Allah daripada api neraka.”
Riwayat: Bukhari dan Muslim.

Komentarku ( Mahrus ali ):
Sy tidak menjumpai hadis tsb di sahih Bukhari atau Muslim, bahkan di seluruh kitab hadis yg saya miliki.
Anda menyatakan lagi :
من قرأ قل هو الله احد الخ عشر الف مرة للميت اعتقه الله عن النار ، فتح الباري شرح بخاري
“Barangsiapa yang membaca: Qul huwallahu ahad - hingga akhirnya - sepuluh ribu kali untuk mayyit (orang meninggal), niscaya dimerdekakan akannya oleh Allah daripada api neraka.”
Fathul Bari Syarah Bukhari.

Komentarku ( Mahrus ali ):
Hadis tsb tidak saya jumpai di kitab –kitab hadis atau syarahnya apalagi di fathul bari.
Di situ kan diterangkan  baca qul huwallahu ahad lalu di hadiahkan kpd mayat. Hadiyah bacaan al quran pd mayat ini tiada dalilnya.
Imam Syafii sendiri menyatakan pahala baca al Quran untuk mayat tidak sampai. Rasul dan para sahabatnya tidak ada yang menghadiahkan fatihah untuk mayat.
Syekh Ibrahim berkata : “ Syekh Abdul wahhab Al warraq, Abu Hafes berkata :
وَقَالَ الَأكْثَرُ لَايَصِلُ إلَىالميِت ثوابُ القِراءةِوانّ ذَلكَ لِفَاعِله
Mayoritas ulama` menyatakan: Pahala baca  Al Quran  tidak akan sampai ke mayat, ia hanya untuk pembaca. 
Syekh  Muhammad bin Abd rohman Al Magrabi berkata :
أَمَّا قِرَاءَةُ الْقُرْآنِ الْعَزِيْزِ فَمِنْ أَفْضَلِ الْقُرُبَاتِ وَأَمَّا إِهْدَاؤُهُ لِلنَّبِي صلى الله عليه وسلم فَلَمْ يُنْقَلْ فِيْهِ أَثَرٌ مِمَّنْ يُعْتَدُّ بِهِ بَلْ يَنْبَغِي أَنْ يُمْنَعَ مِنْهُ لِمَا فِيْهِ مِنَ التَّهَجُّمِ عَلَيْهِ فِيْمَا لمَ ْيَأْذَنْ فِيْهِ مَعَ أَنَّ ثَوَابَ التِّلاَوَةِ حَاصِلٌ لَهُ بِأَصْلِ شَرْعِهِ صلى الله عليه وسلم وَجَمِيْعُ أَعْمَالِ أُمَّتِهِ فِي مِيْزَانِهِ وَقَدْ أَمَرَناَ الله بالصلاة عليه وَحَِثَّ صلى الله عليه وسلم عَلىَ ذَلِكَ
 Membaca  al Quran  termasuk taqarrub pada Allah terbaik, bila pahalanya di hadiyahkan kepada Nabi saw tidak ada hadis yang menjelaskannya dari perawi yang terpercaya. Bahkan layak sekali di larang dan termasuk su`ul adab pada Nabi saw  karena melakukan hal yang tidak di restui oleh Nabi saw. Sekalipun Nabi saw  juga mendapat bagian  dari pahala bacaan  tersebut dan seluruh amal perbuatan umatnya.  Rasul  hanya memerintah kepada kita untuk membaca sholawat kepadanya. 
Syekh Husnain Muhammad Makhluf berkata:
-                              مَذْهَبُ الشَّافِعِيَّةِ فِى الْعِبَادَاتِ الْبَدَنِيَّةِ الْمَحْضَةِ عَدَمُ وُصُوْلِ ثَوَابِهَا إِلَى الْمَيِّتِ وَلَوْ كَانَتْ تَبَرُّعًا كَالصَّلَاةِ وَتِلَاوَةِ الْقُرْآنِ.  وَهَذَا هُوَ اْلمَشْهُوْرُ عِنْدَهُمْ
Menurut madzhab syafii dalam ibadah fisik, pahalanya tidak bisa sampai kepada mayat sekalipun suka rela di berikan kepadanya seperti salat, atau baca al Quran. Inilah yang mashur di kalangan mereka.
-                              قِرَاءَةُ الْقُرْآنِ عِنْدَ اْلمَالِكِيَّةِ مَكْرُوْهَةٌ لِلْمَوْتَى
Membaca al Quran untuk mayat menurut madzhab maliki makruh.
Bila  kita  jalankan shamadiyah itu , kita  tdk punya dalil  . Kita menyelisihi ayat:

وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولا
               Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mengetahui dalilnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. [1]
Bila kita melaksanakan shamadiyah, kita akan beda dengan perilaku para sahabat dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ketika ada kematian. Tapi kita  cocok dengan budaya Aceh Indonesia sekarang bukan budaya  sahabat di Medinah dulu. Hal ini sangat keliru, tuntunan generasi terbaik kita tinggalkan lalu kita mengambil tontonan dari budaya masarakat sekarang yg jelek dan bid`ah. Kita ingat hadis sbb:
خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ»

Artinya,“Sebaik-baik manusia adalah yang hidup pada masaku, kemudian manusia yang hidup pada masa berikutnya, kemudian manusia yang hidup pada masa berikutnya.” (HR. Bukhari (2652), Muslim (2533))
Kita ini diperintahkan untuk mengikuti budaya sahabat yg dulu agar kita di ridai oleh Allah, bukan membuang  budaya mereka dengan mengambil budaya masarakat sekarang untuk mendapat kebencian Allah dan kerelaan setan .Lihat ayat:
وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ(100)
Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar. 100 Tobat
Tinggalkan kebid`ahan dan ambillah sunnah. Jangan sampai sunnah di tinggalkan lalu menegakkan kebid`ahan  dan menjadi komplotan penegak kebid`ahan bukan kelompok penegak sunnah yg mulia. Menegakkan kebid`ahan sama dengan menghalangi orang dari jalan Allah  untuk diajak ke jalan setan.
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ لِيَصُدُّوا عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ فَسَيُنْفِقُونَهَا ثُمَّ تَكُونُ عَلَيْهِمْ حَسْرَةً ثُمَّ يُغْلَبُونَ وَالَّذِينَ كَفَرُوا إِلَى جَهَنَّمَ يُحْشَرُونَ
Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu, menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah. Mereka akan menafkahkan harta itu, kemudian menjadi sesalan bagi mereka, dan mereka akan dikalahkan. Dan ke dalam neraka Jahannamlah orang-orang yang kafir itu dikumpulkan,[2]
Anda menyatakan:
Bagaimana pendapat Yai mengenai Acara Samadiyah di Acéh yang mengamalkan hadits tersebut?
Komentarku ( Mahrus ali ):
Hadisnya sj kedustaan , bukan kejujuran, tiada kitab yang mencantumkannya. Ia  dari mulut  ke telinga lalu merasuk ke hati yang sakit dan akan di tolak  oleh hati yg tercerahi dengan sunnah. Buang sj kedustaan itu dn ambillah  ayat atau  hadis yg sahih.


[1] Al isra` 36          
[2] Alanfal 36