Kamis, Juni 01, 2017

Fase ke 2. Berbuka ketika adzan Maghrib membatalkan puasa

Fase ke 2. Berbuka ketika adzan Maghrib membatalkan puasa
Syaikh Muhammad Shalih al Munjid menulis :
قال الله تعالى : (ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ) البقرة/187 ، والليل في لغة العرب يبدأ من غروب الشمس .
Allah Ta’ala berfirman,
ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ (سورة البقرة: 187)
“Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam.” SQ. Al-Baqarah: 187
Malam dalam bahasa Arab, dimulai sejak matahari terbenam.
جاء في "القاموس المحيط" (1364) : "اللَّيْلُ : من مَغْرِبِ الشمسِ إلى طُلوعِ الفَجْرِ الصادِقِ أو الشمسِ" انتهى .
Disebutkan dalam qamus Al-Muhith (1364), malam: Dari sejak matahari terbenam hingga terbit fajar shadiq atau terbit matahari.”
وجاء في "لسان العرب" (11/607) : "اللَّيْلُ : عقيب النهار ، ومَبْدَؤُه من غروب الشمس" انتهى .
Disebutkan dalam Lisanul Arab, (11/607), Malam: setelah siang, berawal dari terbenamnya matahari.
وقال الحافظ ابن كثير رحمه الله في تفسير هذه الآية :
"وقوله تعالى : (ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ) يقتضي الإفطار عند غُرُوب الشمس حكمًا شرعيًا" انتهى .
Al-Hafiz Ibnu Katsir rahimahullah berkata dalam tafsirnya tentang ayat ini, “Firman Allah Ta’ala,
ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ)
“Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam.” SQ. Al-Baqarah: 187
Menunjukkan bahwa waktu berbuka adalah ketika matahari terbenam berdasarkan hukum syariat.” (Tafsir Al-Quranil Azim, 1/517)
https://islamqa.info/ar/110407
Komentarku ( Mahrus ali ) :
Anad menyatakan :
Malam dalam bahasa Arab, dimulai sejak matahari terbenam.
جاء في "القاموس المحيط" (1364) : "اللَّيْلُ : من مَغْرِبِ الشمسِ إلى طُلوعِ الفَجْرِ الصادِقِ أو الشمسِ" انتهى .
Disebutkan dalam qamus Al-Muhith (1364), malam: Dari sejak matahari terbenam hingga terbit fajar shadiq atau terbit matahari.”
Komentarku ( Mahrus ali ) :
Malam menurut kamus bahasa dg malam menurut al quran itu beda, tdk sama.
Devinisi malam yg anda cantumkan adalah : Dari sejak matahari terbenam hingga terbit fajar shadiq atau terbit matahari.”
Jadi berahirnya malam masih kabur , apakah sampai matahari terbit atau fajar shadiq.
Mana yg di pilih. Apakah puasa di mulai dari fajar shadiq terbit atau matahari
terbit ?. Sehingga setelah fajar shadiq terbit kita masih boleh makan dan minum hingga matahari terbit dan setelah salat subuh. Apakah spt itu ?
Bila spt itu , mk makan masih boleh setelah salat Subuh asal matahari blm terbit.
Bila berahirnya malam dr terbitnya fajar shadiq masih benar. Salahnya di kasih atau matahari terbit dlm devinisi malam tadi.
Jadi devinisi itu tdk bisa di buat pegangan untuk puasa.
Kalau menurut al quran devinisi malam itu di mulai setelah salat Maghrib > Sebab shalat maghrib di katakan sbg salat siang yg terahir sbgmn di jlskan dlm ayat 114 Hud kemarin .
Salat maghrib di katakan sbg salat siang yg terahir dan salat subuh sbg permulaan salat siang sbgmn bahasa al quran yg menyebut dg kalimat thorofayin nahar 114 HUd. Atau boleh di katakan dua ujung siang . Ujung yg satu salat subuh dan ujung yg lain salat Maghrib.
Ayatnya sbb:
وَأَقِمِ الصَّلَاةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِّنَ اللَّيْلِ ۚ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ۚ ذَٰلِكَ ذِكْرَىٰ لِلذَّاكِرِينَ
Dan dirikanlah salat itu pada kedua tepi siang dan pada sebagian malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat. 114 Hud.
Jadi karena salat Maghrib di anggap sbg salat siang terahir , mk adzan Maghrib di kumandangkan waktu siang bukan waktu malam. Bila berbuka saat itu , sm dg berbuka waktu siang. Puasanya batal , tdk dpt pahala dari Allah karena menyalahi perintah Allah dlm surat 187 Baqarah sbb:
ثُمَّ أَتِمُّواْ الصيام إِلَى الليل
Kemudian sempurnakanlah puasa sampai malam. 187 Baqarah.
Berbuka ketika adzan Maghrib menyalahi ayat itu. Otomatis dpt dosa karena menyalahi ayat.
Berbuka ketika adzan Maghrib mengikuti orang banyak menyalahi Allah yg Maha Esa.
Syaikh Muhammad Shalih al Munjid menulis lg :
وقال الحافظ ابن كثير رحمه الله في تفسير هذه الآية :
"وقوله تعالى : (ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ) يقتضي الإفطار عند غُرُوب الشمس حكمًا شرعيًا" انتهى .
Al-Hafiz Ibnu Katsir rahimahullah berkata dalam tafsirnya tentang ayat ini, “Firman Allah Ta’ala,
ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ)
“Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam.” SQ. Al-Baqarah: 187
Menunjukkan bahwa waktu berbuka adalah ketika matahari terbenam berdasarkan hukum syariat.” (Tafsir Al-Quranil Azim, 1/517)
Komentarku ( Mahrus ali ) :
Menurut sy berbuka ketika adzan Maghrib atau matahari terbenam bukan cocok dg sariat sbgmn klaim Ibnu Katsir tapi menyalahi sariat , sbb adzan Maghrib menurut ayat Hud114 termasuk siang bukan malam.
Pendapat Ibnu Katsir itu hrs di cansel atau tertolak karena nyalahi ayat 114 Hud. Kita hormat pd ayat bukan pd pendapat Ibn Katsir . Bila kita ikut pendapat Ibnu Katsir meng akhirkan dalil sm dg menghambakan Allah dan mempertuhankan Ibn Katsir . Kita ingat firmanNya:
اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ(31)
Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. Tobat 31
Imam Syafii berkata:
لَا تُقَلِّدْ دِينَك الرِّجَالَ فَإِنَّهُمْ لَنْ يَسْلَمُوا مِنْ أَنْ يَغْلَطُوا .
Dalam masalah agama,jangan ikut orang , sebab mereka mungkin juga salah .
Ahlus sunnah yg benar adalah ahlus sunnah mendahulukan dalil dr pd perkataan ulama atau texk kitab arab lainnya.
Cari ilmu agama dg sistim dialog yg ilmiyah ttg setan di rantai di bulan Ramadhan , penuh persaudaraan di dua grup WA sy .
Mau ikut , hub 08813270751.082225929198 ,081384008118,0 857-8715-4455

0812-4194-6733
Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pesan yang baik, jangan emosional.Bila ingin mengkeritisi, pakailah dalil yang sahih.Dan identitasnya jelas. Komentar emosional, tidak ditayangkan