Tampilkan postingan dengan label Polemik DG DR Sayyid Muhammad. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Polemik DG DR Sayyid Muhammad. Tampilkan semua postingan

Rabu, Oktober 17, 2012

Polemik dengan Sarkub ke dua



Dari kalangan ulama madzhab Hanafi, al-Imam Muhammad Amin Afandi yang populer dengan sebutan Ibn Abidin, juga berkata dalam kitabnya, Hasyiyah Radd al-Muhtar sebagai berikut
“مَطْلَبٌ فِي أَتْبَاعِ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الْوَهَّابِ الْخَوَارِجِ فِيْ زَمَانِنَا :كَمَا وَقَعَ فِيْ زَمَانِنَافِيْ أَتْبَاعِ ابْنِ عَبْدِ الْوَهَّابِ الَّذِيْنَ خَرَجُوْا مِنْ نَجْدٍ وَتَغَلَّبُوْا عَلَى الْحَرَمَيْنِ وَكَانُوْايَنْتَحِلُوْنَ مَذْهَبَ الْحَنَابِلَةِ لَكِنَّهُمْ اِعْتَقَدُوْا أَنَّهُمْ هُمُ الْمُسْلِمُوْنَ وَأَنَّ مَنْ خَالَفَ اعْتِقَادَهُمْ مُشْرِكُوْنَ وَاسْتَبَاحُوْا بِذَلِكَ قَتْلَ أَهْلِ السُّنَّةِ وَقَتْلَ عُلَمَائِهِمْ حَتَى كَسَرَ اللهُ شَوْكَتَهُمْ وَخَرَبَ بِلاَدَهُمْ وَظَفِرَ بِهِمْ عَسَاكِرُ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَ ثَلاَثٍ وَثَلاَثِيْنَ وَمِائَتَيْن ِوَأَلْفٍ.” اهـ (ابن عابدين، حاشية رد المحتار، ٤/٢٦٢).
“Keterangan tentang pengikut Muhammad bin Abdul Wahhab, kaum Khawarij pada masa kita. Sebagaimana terjadi pada masa kita, pada pengikut Ibn Abdil Wahhab yang keluar dari Najd dan berupaya keras menguasai dua tanah suci. Mereka mengikuti madzhab Hanabilah. Akan tetapi mereka meyakini bahwa mereka saja kaum Muslimin, sedangkan orang yang berbeda dengan keyakinan mereka adalah orang-orang musyrik. Dan oleh sebab itu mereka menghalalkan membunuh Ahlussunnah dan para ulamanya sampai akhirnya Allah memecah kekuatan mereka, merusak negeri mereka dan dikuasai oleh tentara kaum Muslimin pada tahun 1233 H.” (Ibn Abidin, Hasyiyah Radd al-Muhtar ‘ala al-Durr al-Mukhtar, juz 4, hal. 262).

Komentarku ( Mahrus ali): 
Aneh sekali Ibnu Abidin pengikut Thareqat Naqsyabandi ini, dia menyatakan pengikut Wahabi di namakan Khawarij, lalu ahli bid`ah  tidak di sebut khowarij. Setahu saya pengikut wahabi tidak akan menyatakan muslim lain musrik kecuali dengan dalil. Mereka selalu berpegangan kepada dalil dan melepaskan segala hal yang bertentangan dengan dalil sekalipun cocok dengan akal. Buktikan sekarang saja, pengikut – pengikutnya yang di Mekkah dan Medinah, apakah mereka itu khawarij dan kaum muslimin  ahli bid`ah di Indonesia lebih baik dari mereka.
Siapa yang menyatakan  pengikut wahabi di kalahkan oleh Allah di Saudi arabia, sungguh  dia tidak mengetahui sejarah dan realita, tahunya hanya omong kosong dan hayalan belaka.
Mereka kuat sekali disana.
Lihat komentar orang tentang Ibnu Abidin sbb:
حاشية ابن عابدين الدمشقي: هذا أهم كتاب للأحناف وأكثره دفاع عنهم، رغم صغر حجمه النسبي وتأخر صاحبه. وعليه الاعتماد في الفتوى.
Hasiyah Ibnu Abidin Damaskus  Ini adalah buku yang paling penting  bagi pengikut madzhab Hanafi dan paling  membela mereka, meskipun relatif kecil ukurannya, pengarangnya  juga terahir. Tapi di gunakan  pegangan untuk berfatwa.
Klik lagi disini sebagai refrensinya:.
Komentarku ( Mahrus ali): 
 Ternyata Ibnu Abidin adalah figur yang fanatik sekali kepada madzhab  hanafi bukan kepada kebenaran, bukan kepada al quran atau hadis. Setahu saya, fanatisme madzhab sangat membahayakan pada umat, bukan mengajak mereka kepada kebenaran dengan jujur.  Ajaran madzhab hanafi sekalipun salah didukung dan ajaran di luar madzhabnya sekalipun syafii akan di serang. Ini aib yang terjelek. Ia mirip dengan ayat:
اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ(31)
Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. Tobat 31
واتصل ابن عابدين رحمه الله بالشيخ خالد النقشبندي فلقَّنه الطريقة وأجازه ، ودافع عنه ضدّ خصومه وكتب في ذلك رسالة بعنوان ( سلّ الحسام الهندي في نصرة مولانا خالد النقشبندي )
 Ibnu Abidin rahimahullah berhubungan  dengan  Sheikh Khalid Naqshbandi lalu di ajari Tharekat dan di ijazahinya. Dia membela gurunya dalam menghadapi lawan – lawannya , lalu menulis buku dengan judul
Pedang Hindia yang terhunus dalam membela maulana Khalid an naqsyabandi [1]
Komentarku ( Mahrus ali): 
Setahu saya, pengikut tarekat itu banyak kesyirikannya. Boleh Klik lagi disini:

غريب حالك أخي الفقير لعل الموقف الذي وقفه العلامة ابن عابدين رحمه الله يعود إلى قصور ما وصله عن أهل نجد أو إلى مخالفة ما سمعه لما تعلمه في الطريقة النقشبندية والقادرية وكانوا في وقت تروج فيه الأكاذيب على أهل نجد فانتصر للحق كما رأى وهلا رأيت كتاب دحلان لتعلم ما أعنيه .
Aneh kau saudaraku al fakir ,  Mungkin posisi  al allamah Ibnu Abidin, rahimahullah karena kurangnya informasi tentang rakyat Najd atau menyalahi apa yang dia dengar karena  apa yang ia pelajari di Tarekat Naqsybandi dan Qadiriyyah.
Dalam waktu itu dipromosikan kedustaan  tentang rakyat Najd . Dia bela kebenaran sebagaimana apa yang ia lihat. . Alangkah baiknya anda melihat kitab karya Dahlan agar mengetahui  apa yang saya maksud.

Komentarku ( Mahrus ali): 
Ibnu  Abidin kurang informasi tentang penduduk Najd atau sengaja tidak peduli padanya karena ajaran yang dia ikuti yaitu Tarekat Naqsyabandi dan Qadiriyah yang selalu senang kebid`ahan dan anti tuntunan Rasul. Begitu juga  kitab karya Dahlan yang penuh kedustaan , sepi dari kejujuran.

Dia melanjutkan keterangannya sbb:

والقوم هنا يتحدثون عن فقيه من كبار الفقهاء وعالم نحرير من السادة الفضلاء وقد نبه من ترجم له أنه تلقى التصوف على الطريقة النقشبندية والقادرية فلما ذكر هذا الكلام الآن . أرجو ألا يكون هذا من باب صد الناس عن علم هذا الفاضل!!
Orang-orang di sini  ( Najd )berbicara tentang ( Muhammad bin Abd Wahhab ) sebagai Fakih senior yang ahli hukum dan orang alim yang sanggup memerdekakan ,Gentlemen yang berbudi luhur.  Dalam riwayat hidup Ibnu Abidin  diterangkan bahwa ia telah menerima tasawuf dalam tarekat  Naqshbandi dan Qadiriyyah
Ketika kalimat itu di sebutkan, saya berharap  agar tidak termasuk menghalangi manusia untuk mengetahui hakikat orang yang berbudi luhur ini ( Muhammad bin Abd Wahab ).
Lihat disini:
majles.alukah.net/showthread.php?18900.

bersambung……………….



[1] http://majles.alukah.net/

Polemik dengan Sarkub





Bukti Pernyataan Ulama Terkemuka: “Wahhabi Adalah Khawarij!”



Mengapa Wahhabi dikategorikan ke dalam golongan Khawarij? Apa saja bukti-buktinya?. Sebab sepertinya Wahhabi keberatan sekali kalau mereka dimasukkan ke dalam golongan Khawarij. Baiklah, kami akan berusaha meyakinkan pada pembaca yang budiman, dengan memberikan penjelasan bahwa kita mengganggap Wahhabi sebagai Khawarij, karena semua ulama Ahlussunnah Wal-Jama’ah yang otoritatif (mu’tabar) di kalangan pesantren mengatakan demikian. Dari kalangan ulama madzhab al-Maliki, al-Imam Ahmad bin Muhammad al-Shawi al-Maliki, ulama terkemuka abad 12 Hijriah dan semasa dengan pendiri Wahhabi, berkata dalam Hasyiyah ‘ala Tafsir al-Jalalain sebagai berikut:
هَذِهِ اْلآَيَةُ نَزَلَتْ فِي الْخَوَارِجِ الَّذِيْنَ يُحَرِّفُوْنَ تَأْوِيْلَ الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ وَيَسْتَحِلُّوْنَ بِذَلِكَ دِمَاءَ الْمُسْلِمِيْنَ وَأَمْوَالَهُمْ كَمَا هُوَ مُشَاهَدٌ اْلآَنَ فِيْ نَظَائِرِهِمْ وَهُمْ فِرْقَةٌ بِأَرْضِ الْحِجَازِ يُقَالُ لَهُمُ الْوَهَّابِيَّةُ يَحْسَبُوْنَ أَنَّهُمْ عَلىَ شَيْءٍ أَلاَ إِنَّهُمْ هُمُ الْكَاذِبُوْنَ. (حاشية الصاوي على تفسير الجلالين، ٣/٣٠٧).
“Ayat ini turun mengenai orang-orang Khawarij, yaitu mereka yang mendistorsi penafsiran al-Qur’an dan Sunnah, dan oleh sebab itu mereka menghalalkan darah dan harta benda kaum Muslimin sebagaimana yang terjadi dewasa ini pada golongan mereka, yaitu kelompok di negeri Hijaz yang disebut dengan aliran Wahhabiyah, mereka menyangka bahwa mereka akan memperoleh sesuatu (manfaat), padahal merekalah orang-orang pendusta.” (Hasyiyah al-Shawi ‘ala Tafsir al-Jalalain, juz 3, hal. 307).

 Dari kalangan ulama madzhab Hanafi, al-Imam Muhammad Amin Afandi yang populer dengan sebutan Ibn Abidin, juga berkata dalam kitabnya, Hasyiyah Radd al-Muhtar sebagai berikut:
“مَطْلَبٌ فِي أَتْبَاعِ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الْوَهَّابِ الْخَوَارِجِ فِيْ زَمَانِنَا :كَمَا وَقَعَ فِيْ زَمَانِنَافِيْ أَتْبَاعِ ابْنِ عَبْدِ الْوَهَّابِ الَّذِيْنَ خَرَجُوْا مِنْ نَجْدٍ وَتَغَلَّبُوْا عَلَى الْحَرَمَيْنِ وَكَانُوْايَنْتَحِلُوْنَ مَذْهَبَ الْحَنَابِلَةِ لَكِنَّهُمْ اِعْتَقَدُوْا أَنَّهُمْ هُمُ الْمُسْلِمُوْنَ وَأَنَّ مَنْ خَالَفَ اعْتِقَادَهُمْ مُشْرِكُوْنَ وَاسْتَبَاحُوْا بِذَلِكَ قَتْلَ أَهْلِ السُّنَّةِ وَقَتْلَ عُلَمَائِهِمْ حَتَى كَسَرَ اللهُ شَوْكَتَهُمْ وَخَرَبَ بِلاَدَهُمْ وَظَفِرَ بِهِمْ عَسَاكِرُ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَ ثَلاَثٍ وَثَلاَثِيْنَ وَمِائَتَيْن ِوَأَلْفٍ.” اهـ (ابن عابدين، حاشية رد المحتار، ٤/٢٦٢).
“Keterangan tentang pengikut Muhammad bin Abdul Wahhab, kaum Khawarij pada masa kita. Sebagaimana terjadi pada masa kita, pada pengikut Ibn Abdil Wahhab yang keluar dari Najd dan berupaya keras menguasai dua tanah suci. Mereka mengikuti madzhab Hanabilah. Akan tetapi mereka meyakini bahwa mereka saja kaum Muslimin, sedangkan orang yang berbeda dengan keyakinan mereka adalah orang-orang musyrik. Dan oleh sebab itu mereka menghalalkan membunuh Ahlussunnah dan para ulamanya sampai akhirnya Allah memecah kekuatan mereka, merusak negeri mereka dan dikuasai oleh tentara kaum Muslimin pada tahun 1233 H.” (Ibn Abidin, Hasyiyah Radd al-Muhtar ‘ala al-Durr al-Mukhtar, juz 4, hal. 262).
Dari kalangan ulama madzhab Hanbali, al-Imam Muhammad bin Abdullah bin Humaid al-Najdi berkata dalam kitabnya al-Suhub al-Wabilah ‘ala Dharaih al-Hanabilah ketika menulis biografi Syaikh Abdul Wahhab, ayah pendiri Wahhabi, sebagai berikut:
عَبْدُ الْوَهَّابِ بْنُ سُلَيْمَانَ التَّمِيْمِيُّ النَّجْدِيُّ وَهُوَ وَالِدُ صَاحِبِ الدَّعْوَةِ الَّتِيْ انْتَشَرَشَرَرُهَا فِي اْلأَفَاقِ لَكِنْ بَيْنَهُمَا تَبَايُنٌ مَعَ أَنَّ مُحَمَّدًا لَمْ يَتَظَاهَرْ بِالدَّعْوَةِ إِلاَّ بَعْدَمَوْتِ وَالِدِهِ وَأَخْبَرَنِيْ بَعْضُ مَنْ لَقِيْتُهُ عَنْ بَعْضِ أَهْلِ الْعِلْمِ عَمَّنْ عَاصَرَ الشَّيْخَ عَبْدَالْوَهَّابِ هَذَا أَنَّهُ كَانَ غَاضِبًا عَلىَ وَلَدِهِ مُحَمَّدٍ لِكَوْنِهِ لَمْ يَرْضَ أَنْ يَشْتَغِلَ بِالْفِقْهِكَأَسْلاَفِهِ وَأَهْلِ جِهَتِهِ وَيَتَفَرَّسُ فِيْه أَنَّهُ يَحْدُثُ مِنْهُ أَمْرٌ .فَكَانَ يَقُوْلُ لِلنَّاسِ: يَا مَا تَرَوْنَ مِنْ مُحَمَّدٍ مِنَ الشَّرِّ فَقَدَّرَ اللهُ أَنْ صَارَ مَاصَارَ وَكَذَلِكَ ابْنُهُ سُلَيْمَانُ أَخُوْ مُحَمَّدٍ كَانَ مُنَافِيًا لَهُ فِيْ دَعْوَتِهِ وَرَدَّ عَلَيْهِ رَدًّا جَيِّداًبِاْلآَياَتِ وَاْلآَثاَرِ وَسَمَّى الشَّيْخُ سُلَيْمَانُ رَدَّهُ عَلَيْهِ ( فَصْلُ الْخِطَابِ فِي الرَّدِّ عَلىَمُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الْوَهَّابِ ) وَسَلَّمَهُ اللهُ مِنْ شَرِّهِ وَمَكْرِهِ مَعَ تِلْكَ الصَّوْلَةِ الْهَائِلَةِ الَّتِيْأَرْعَبَتِ اْلأَبَاعِدَ فَإِنَّهُ كَانَ إِذَا بَايَنَهُ أَحَدٌ وَرَدَّ عَلَيْهِ وَلَمْ يَقْدِرْ عَلَى قَتْلِهِ مُجَاهَرَةًيُرْسِلُ إِلَيْهِ مَنْ يَغْتَالُهُ فِيْ فِرَاشِهِ أَوْ فِي السُّوْقِ لَيْلاً لِقَوْلِهِ بِتَكْفِيْرِ مَنْ خَالَفَهُوَاسْتِحْلاَلِ قَتْلِهِ. اهـ (ابن حميد النجدي، السحب الوابلة على ضرائح الحنابلة، ٢٧٥).
“Abdul Wahhab bin Sulaiman al-Tamimi al-Najdi, adalah ayah pembawa dakwah Wahhabiyah, yang percikan apinya telah tersebar di berbagai penjuru. Akan tetapi antara keduanya terdapat perbedaan. Padahal Muhammad (pendiri Wahhabi) tidak terang-terangan berdakwah kecuali setelah meninggalnya sang ayah. Sebagian ulama yang aku jumpai menginformasikan kepadaku, dari orang yang semasa dengan Syaikh Abdul Wahhab ini, bahwa beliau sangat murka kepada anaknya, karena ia tidak suka belajar ilmu fiqih seperti para pendahulu dan orang-orang di daerahnya. Sang ayah selalu berfirasat tidak baik tentang anaknya pada masa yang akan datang. Beliau selalu berkata kepada masyarakat, “Hati-hati, kalian akan menemukan keburukan dari Muhammad.” Sampai akhirnya takdir Allah benar-benar terjadi. Demikian pula putra beliau, Syaikh Sulaiman (kakak Muhammad bin Abdul Wahhab), juga menentang terhadap dakwahnya dan membantahnya dengan bantahan yang baik berdasarkan ayat-ayat al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Syaikh Sulaiman menamakan bantahannya dengan judul Fashl al-Khithab fi al-Radd ‘ala Muhammad bin Abdul Wahhab. Allah telah menyelamatkan Syaikh Sulaiman dari keburukan dan tipu daya adiknya meskipun ia sering melakukan serangan besar yang mengerikan terhadap orang-orang yang jauh darinya. Karena setiap ada orang yang menentangnya, dan membantahnya, lalu ia tidak mampu membunuhnya secara terang-terangan, maka ia akan mengirim orang yang akan menculik dari tempat tidurnya atau di pasar pada malam hari karena pendapatnya yang mengkafirkan dan menghalalkan membunuh orang yang menyelisihinya.” (Ibn Humaid al-Najdi, al-Suhub al-Wabilah ‘ala Dharaih al-Hanabilah, hal. 275).
Dari kalangan ulama madzhab Syafi’i, al-Imam al-Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan al-Makki, guru pengarang I’anah al-Thalibin, kitab yang sangat otoritatif (mu’tabar) di kalangan ulama di Indonesia, berkata:
وَكَانَ السَّيِّدُ عَبْدُ الرَّحْمنِ الْأَهْدَلُ مُفْتِيْ زَبِيْدَ يَقُوْلُ: لاَ يُحْتَاجُ التَّأْلِيْفُ فِي الرَّدِّ عَلَى ابْنِ عَبْدِ الْوَهَّابِ، بَلْ يَكْفِي فِي الرَّدِّ عَلَيْهِ قَوْلُهُ صلى الله عليه وسلم سِيْمَاهُمُ التَّحْلِيْقُ، فَإِنَّهُ لَمْ يَفْعَلْهُ أَحَدٌ مِنَ الْمُبْتَدِعَةِ اهـ (السيد أحمد بن زيني دحلان، فتنة الوهابية ص/٥٤).
“Sayyid Abdurrahman al-Ahdal, mufti Zabid berkata: “Tidak perlu menulis bantahan terhadap Ibn Abdil Wahhab. Karena sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam cukup sebagai bantahan terhadapnya, yaitu “Tanda-tanda mereka (Khawarij) adalah mencukur rambut (maksudnya orang yang masuk dalam ajaran Wahhabi, harus mencukur rambutnya)”. Karena hal itu belum pernah dilakukan oleh seorang pun dari kalangan ahli bid’ah.” (Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan, Fitnah al-Wahhabiyah, hal. 54).
Demikian pernyataan ulama terkemuka dari empat madzhab, Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali, yang menegaskan bahwa golongan Wahhabi termasuk Khawarij bukan Ahlussunnah Wal-Jama’ah. Tentu saja masih terdapat ratusan ulama lain dari madzhab Ahlussunnah Wal-Jama’ah yang menyatakan bahwa Wahhabi itu Khawarij dan tidak mungkin kami kutip semuanya dalam pembahasan kali ini.

Komentarku ( Mahrus ali):

Di katakan dalam artikel tsb sbb:

, al-Imam Ahmad bin Muhammad al-Shawi al-Maliki, ulama terkemuka abad 12 Hijriah dan semasa dengan pendiri Wahhabi, berkata dalam Hasyiyah ‘ala Tafsir al-Jalalain sebagai berikut:

هَذِهِ اْلآَيَةُ نَزَلَتْ فِي الْخَوَارِجِ الَّذِيْنَ يُحَرِّفُوْنَ تَأْوِيْلَ الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ وَيَسْتَحِلُّوْنَ بِذَلِكَ دِمَاءَ الْمُسْلِمِيْنَ وَأَمْوَالَهُمْ كَمَا هُوَ مُشَاهَدٌ اْلآَنَ فِيْ نَظَائِرِهِمْ وَهُمْ فِرْقَةٌ بِأَرْضِ الْحِجَازِ يُقَالُ لَهُمُ الْوَهَّابِيَّةُ يَحْسَبُوْنَ أَنَّهُمْ عَلىَ شَيْءٍ أَلاَ إِنَّهُمْ هُمُ الْكَاذِبُوْنَ. (حاشية الصاوي على تفسير الجلالين، ٣/٣٠٧).

“Ayat ini turun mengenai orang-orang Khawarij, yaitu mereka yang mendistorsi penafsiran al-Qur’an dan Sunnah, dan oleh sebab itu mereka menghalalkan darah dan harta benda kaum Muslimin sebagaimana yang terjadi dewasa ini pada golongan mereka, yaitu kelompok di negeri Hijaz yang disebut dengan aliran Wahhabiyah, mereka menyangka bahwa mereka akan memperoleh sesuatu (manfaat), padahal merekalah orang-orang pendusta.” (Hasyiyah al-Shawi ‘ala Tafsir al-Jalalain, juz 3, hal. 307).

Komentarku ( Mahrus ali):

Masalah tsb sudah saya jawab dengan lengkap dan ada juga pernyataan  saya tentang Imam  Shawi yang mengarang kitab – kitab jimat, memang dia juga  mengikuti tarekat.Ini sebagian jawaban saya:

Saya melihat banyak  kitab – kitab tafsir seperti tafsir Ibnu Katsir , Nasafi , Fathul qadir , Jalalain , al Muyassar , namun saya tidak menjumpai para ahli tafsir yang mentafsiri ayat ke 8 Fathir itu untuk kaum wahabi  sebagaimana yang di lakukan  oleh Ahmad  Asshawi . Apalagi dia mengatakan bahwa  ayat itu  di turunkan  untuk orang – orang Khawarij . Sekarang kalau mau ngawur dalam mentafsiri ayat  memang begitulah  liku – liku jalannya . Tapi bila kita mau jujur dalam mentafsiri ayat maka kita akan meminta padanya mana dalilnya bahwa ayat tsb di turunkan untuk orang Khawarij . Harus ada  dalil , karena Rasulullah SAW  sebagai figur yang menjelaskan ayat – ayat al quran sebagaimana ayat :

ِ وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

. Dan Kami turunkan kepadamu Al Qur'an, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan,[1]

Bagaimana akal kita bisa menerima , Khowarij itu baru tumbuh ketika  khilafah Ali bin Abu Thalib, lalu  ayat ini di turunkan ketika Rasulullah SAW masih hidup, dan Ali bin Abu Thalib masih belum menjadi Khalifah , lalu di katakan  ayat Fathir 8 itu di turunkan untuk kaum Khowarij . Inilah kekeliruan yang harus di buang tapi malah di dukung . Sungguh keblinger orang yang mendukungnya dan beruntunglah orang yang  menggunakan akalnya.

Lalu pengarang itu menyamakan khowarij dengan wahabi yang mendirikan negara Islam Saudi arabia . Apakah kita yang mendukung negara Jahiliyah ini di katakan ahlis sunnah yang masuk surga  , sedang wahabi Saudi yang mendirikan negara Islam , memeraktekkan hukum Kisas di negaranya di katakan Khowarij yang akan masuk Neraka . Sungguh kita ini merasa di bodohi , tapi kita malah mendukung kekeliruan itu .

Klik lagi disini:

http://mantankyainu.blogspot.com/2011/06/sayang-sesepuh-nu-dusta.html

Dan Klik lagi disini:

http://www.shiaweb.org/v2/news/article_316.html

Saya tahu artikel yang dikutip  Sarkub tsb dari situs – situs syi`ah yang sesat.

Juga dari situs ahli tasawwuf yang menyesatkan, lihat disini:

http://www.soufia.org/ibnabdin_wahabism.html

Bersambung………………….

Senin, April 04, 2011

Polemik ketiga dengan DR Sayyid Muhammad bin Alawi al Maliki



SHALAT PARA NABI DI DALAM KUBURAN MEREKA DAN AKTIVITAS IBADAH LAIN

Di tulis oleh H Mahrus ali .

DR. Sayyid Muhammad bin Alwi al Maliki  menyatakan  sbb :

وَمِنْ ثَمَرَاتِ تِلْكَ الْحَيَاةِ الْبَرْزَخِيَّةِ صَلاَتُهُمْ فِي قُبُوْرِهِمْ صَلاَةٌ حَقِيْقِيَّةٌ لَيْسَتْ خَيَالِيَّةً وَلاَ مِثَالِيَةً ، وَقَدْ جَاءَتْ أَحَادِيْثُ فِي هَذَا الْمَوْضُوْعِ ، فَمِنْهَا : عَنْ أَنَسٍ بْنِ مَالِكٍ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ :(اْلأَنْبِيَاءُ أَحْيَاءُ فِي قُبُوْرِهِمْ يُصَلُّوْنَ)) ..رَوَاهُ أَبوُ يَعْلَى وَالْبَزَّارُ وَرِجَالُ أَبِي يَعْلَى ثِقَاتٌ ، كَذَا فِي مَجْمَعِ الزَّوَائِدِ  (ج8 ص211) ، قَالَ اْلإِمَامُ الْحَافِظُ اْلبَيْهَقِي فِي الْجُزْءِ الْخَاصِّ بِهَذِهِ الْمَسْأَلَةِ .
Salah satu buah kehidupan hakiki dalam alam barzakh adalah para nabi melakukan sholat di dalam kuburan mereka dengan shalat yang sesungguhnya bukan bersifat fantasi atau imajinasi. Ada beberapa hadits mengenai topik ini :
Dari Anas ibnu Malik, ia berkata, “Rasulullah Saw bersabda : 
اَلأَنْبِيَاءُ أَحْيَاءُ فِي قُبُوْرِهِمْ يُصَلُّوْنَ

“Para nabi itu hidup dalam kuburan mereka dalam keadaan mengerjakan sholat.” HR Abu Ya’la dan Al Bazzaar. Para perawi Abu Ya’la tsiqat. Demikian dalam Majma’ Al Zawaaid vol. VIII hlm. 211. 

Komentarku ( Mahrus ali ) :

Hadis tsb  di sahihkan oleh al albani dalm Assahihah 621[1] Abd Rauf Al Munawi juga menyatakan sahih dalam kitab Faidhul qadir  401/3 Dan ia  telah saya bahas dalam buku karya  kami Sesat tanpa sadar “ Rujuklah ke sana . Namun  di sini  saya terangkan sedikit saja sbb :
Sanad hadis sbb:
Ahmad bin Abu bakar  bin Ismail Al bushiri berkata :
Abu Ya`la Al maushili berkata : Abul jahem Al azraq bin Ali  berkata :  Yahya bin Abu bakar  bercerita kepada kami , lalu berkata : bercerita kepada kami Al mustalim bin Sa`id  dari Al hajjaj  dari Tsabit Al Bunnany  dari Anas bin Malik ra , Rasulullah SAW  bersabda : …………………………………
Perawinya terdapat  perawi bernama  Hasan  bin Qutaibah
اَلْحَسَنُ بْنُ قُتَيْبَةَ
Tentang  Al Hasan bin Qutaibah perawi hadis tsb:
قَالَ ابْنُ عَدِى: أَرْجُو أّنَّهُ لاَ بَأْسَ بِهِ.
Ibnu Adi berkata : Al Hasan bin Qutaibah  , aku berharap dia tidak apa – apa .
قُلْتُ: بَلْ هُوَ هَالِكٌ.
Saya kataakn : Dia orang yang binasa
قَالَ الدَّارَقُطْنِي فِي رِوَايَةِ الْبَرْقَانِى: مَتْرُوكُ الْحَدِيْثِ.
Daroquthni menurut riwayat Al barqani  befkata :   Hadisnya di tinggalkan
وَقَالَ أَبُو حَاِتمٍ: ضَعِيْفٌ.
Abu hatim berkata :   Dia lemah
وَقَالَ اْلعُقَيْلِى: كَثِيْرُ اْلوَهْمِ.
Al Uqaili berkata : Dia sering keliru . [2]



DR. Sayyid Muhammad bin Alwi al Maliki  menyatakan  lagi :
وَفِي رِوَايَةٍ عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ قَالَ :

Dalam bagian khusus menyangkut topik ini Al Imam Al Hafidh Al Baihaqi berkata :
Dalam salah satu riwayat dari Anas ra dari Nabi Saw, beliau bersabda :

 
إِنَّ اْلأَنْبِيَاءَ لاَ يَتْرُكُوْنَ فِي قُبُوْرِهِمْ بَعْدَ أَرْبَعِيْنَ لَيْلَةً , وَلَكِنَّهُمْ يُصَلُّوْنَ بَيْنَ يَدَي اللهِ تَعَالَى حَتىَّ يُنْفَخَ فِي الصُّوْرِ
 .
“Sesungguhnya para nabi tidak dibiarkan dalam kuburan mereka setelah empat puluh malam. Namun mereka melaksakan shalat menghadap Allah sampai sangkakala ditiup.”

قَالَ اْلبَيْهَقِي : إِنْ صَحَّ بِهَذَا اللَّفْظِ فَالْمُرَادُ بِهِ – وَاللهُ أَعْلَمُ – لاَ يَتْرُكُوْنَ لاَ يُصَلُّوْنَ إِلاَّ هَذَا الْمِقْدَارَ ، ثُمَّ يَكُوْنُوْنَ مُصَلِّيْنَ بَيْنَ يَدَي اللهِ تَعَالَى ، قَالَ الْبَيْهَقِي : وَلِحَيَاةِ اْلأَنْبِيَاءِ بَعْدَ مَوْتِهِمْ شَوَاهِدُ مِنَ اْلأَحَادِيْثِ الصَّحِيْحَةِ .

Al Baihaqi mengatakan bahwa jika hadits ini shahih dengan redaksi demikian maka yang dimaksud adalah – wallahu a’lam – tidak dibiarkan tidak mengerjakan sholat kecuali selama masa 40 malam kemudian selanjutnya mereka shalat menghadap Allah.
Menurut Al Baihaqi banyak bukti dari hadits-hadits shahih yang menunjukkan para nabi itu hidup sesudah kematian mereka.  

Komentarku ( Mahrus ali ) :

Al bani menyatakan hadis tsb palsu , lihat di kitab al silsilah al dhaifah – mukhtashar 1/364 .

Dalam kitab al badrul munir , ibn Al mulaqqin  berkata :
قَالَ الْبَيْهَقِيّ : وَهَذَا يعد فِي أَفْرَاد الْحسن بن قُتَيْبَة الْمَدَائِنِي .
Al baihaqi berkata : Hadis tsb termasuk hadis yang di riwayatkan oleh al Hasan bin Qutaibah  secara sendirian .  Al badr al munir 5/ 284.

Komentarku ( Mahrus ali ) :
Kalau kita kembali kepada keterangan yang lalu tentang identitas Hasan bin Qutaibah , kita akan tahu dengan jelas kelemahan nya , rujuklah ke sana .

Dalam http://www.islamweb.net/ terdapat keterangan tentang sanad hadis tsb  sbb :

رقم الحديث: 4
(
حَدِيْثٌ مَرْفُوْعٌ) وَرُوِيَ كَمَا , أَخْبَرَنَا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ الْحَافِظُ , ثَنَا أَبُو حَامِدٍ أَحْمَدُ بْنُ عَلِيٍّ الْحَسْنَوِيُّ ، إِمْلاءً , ثنا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ مُحَمَّدُ بْنُ الْعَبَّاسِ الْحِمْصِيُّ ، بِحِمْصَ, ثنا أَبُو الرَّبِيعِ الزَّهْرَانِيُّ , ثنا إِسْمَاعِيلُ بْنُ طَلْحَةَ بْنِ يَزِيدَ , عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي لَيْلَى , عَنْ ثَابِتٍ , عَنْ أَنَسٍ , رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ , عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ : "
............
Lantas penilaiannya  sbb :

الحُكْمُ الْمَبْدَئِي: إِسْنَادٌ شَدِيْدُ الضُّعْفِ فِيْهِ رَاوِيَانِ ضَعِيْفَانِ هُمَا أَحْمَدُ بْنُ عَلِي الْمُقْرِئ وَهُوَ ضَعِيْفٌ غَيْرُ مُحْتَجٍّ بِحَدِيْثِهِ، وَمُحَمَّدٌ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ اْلأَنْصَارِي.
Hukum senmentara , sanadnya sangat lemah , terdapat dua perawi yang lemah yaitu Ahmad bin Ali bin Abd Rahman al Muqri . Dia adalah perawi lemah , hadisnya tidak bisa di buat hujjah  dan Muhammad bin Abd Rahman al anshari .



DR. Sayyid Muhammad bin Alwi al Maliki  menyatakan lagi :
ثُمَّ ذَكَرَ اْلبَيْهَقِي بِأَسَانِيْدِهِ حَدِيْثَ :

Kemudian Al Baihaqi menyebutkan sebuah hadits dengan sanad-sanadnya yang shahih : 

مَرَرْتُ بِمُوْسَى وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي فِي قَبْرِهِ

“Saya melewati Musa saat ia berdiri mengerjakan sholat di dalam kuburannya.” 

Komentarku ( Mahrus ali )
:
Asal hadisnya  sbb :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَقَدْ رَأَيْتُنِي فِي الْحِجْرِ وَقُرَيْشٌ تَسْأَلُنِي عَنْ مَسْرَايَ فَسَأَلَتْنِي عَنْ أَشْيَاءَ مِنْ بَيْتِ الْمَقْدِسِ لَمْ أُثْبِتْهَا فَكُرِبْتُ كُرْبَةً مَا كُرِبْتُ مِثْلَهُ قَطُّ قَالَ فَرَفَعَهُ اللَّهُ لِي أَنْظُرُ إِلَيْهِ مَا يَسْأَلُونِي عَنْ شَيْءٍ إِلَّا أَنْبَأْتُهُمْ بِهِ وَقَدْ رَأَيْتُنِي فِي جَمَاعَةٍ مِنَ الْأَنْبِيَاءِ فَإِذَا مُوسَى قَائِمٌ يُصَلِّي فَإِذَا رَجُلٌ ضَرْبٌ جَعْدٌ كَأَنَّهُ مِنْ رِجَالِ شَنُوءَةَ وَإِذَا عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ عَلَيْهِ السَّلَام قَائِمٌ يُصَلِّي أَقْرَبُ النَّاسِ بِهِ شَبَهًا عُرْوَةُ بْنُ مَسْعُودٍ الثَّقَفِيُّ وَإِذَا إِبْرَاهِيمُ عَلَيْهِ السَّلَام قَائِمٌ يُصَلِّي أَشْبَهُ النَّاسِ بِهِ صَاحِبُكُمْ يَعْنِي نَفْسَهُ فَحَانَتِ الصَّلَاةُ فَأَمَمْتُهُمْ فَلَمَّا فَرَغْتُ مِنَ الصَّلَاةِ قَالَ قَائِلٌ يَا مُحَمَّدُ هَذَا مَالِكٌ صَاحِبُ النَّارِ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ فَالْتَفَتُّ إِلَيْهِ فَبَدَأَنِي بِالسَّلَامِ * 
Dari Abu Hurairah r.a katanya: Rasulullah s.a.w bersabda: Aku  berada di Hijir, orang-orang Quraisy sibuk bertanya tentang perjalananku dalam peristiwa Isra` itu. Mereka bertanya berbagai perkara mengenai Baitul maqdis yang kurang jelas pada ingatanku. Aku amat dukacita karena aku belum pernah mengalaminya sebelum ini. Lalu Allah memperlihatkan kepadaku dari jauh sehingga aku mampu melihatnya. Walau bagaimana sekalipun bentuk pertanyaan yang diajukan kepadaku, aku tetap dapat menceritakan kepada mereka dengan jelas. Aku berada dalam sekumpulan para nabi, aku melihat Nabi Musa a.s sedang berdiri mengerjakan sembahyang, memangnya dia seorang lelaki berbadan tinggi, kurus serta berambut kerinting, seakan-akan seorang lelaki dari Kaum Syanu'ah. Aku juga melihat Nabi Isa bin Maryam a.s yang sedang berdiri mengerjakan sembahyang,  orang yang paling mirip dengannya ialah Urwah bin Mas'ud As-Saqafi. Selain dari itu aku juga melihat Nabi Ibrahim a.s yang sedang berdiri mengerjakan sembahyang.  Orang yang amat dengannya adalah Sahabat kamu semua, maksudnya: Diri baginda sendiri. Ketika masuk waktu sembahyang, aku mengimami mereka, setelah selesai  ada suara memanggilku: Wahai Muhammad! Ini adalah Malik penjaga Neraka, ucapkanlah salam kepadanya! Lalu aku menoleh kepadanya, ternyata dia lebih dahulu mengucapkan salam kepadaku  HR Muslim 251

Imam  Bukhari  tidak meriwayatkan seperti itu , tapi cukup  sbb :
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ صَالِحٍ حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ قَالَ أَخْبَرَنِي يُونُسُ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ قَالَ أَبُو سَلَمَةَ سَمِعْتُ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَمَّا كَذَّبَتْنِي قُرَيْشٌ قُمْتُ فِي الْحِجْرِ فَجَلَّى اللَّهُ لِي بَيْتَ الْمَقْدِسِ فَطَفِقْتُ أُخْبِرُهُمْ عَنْ آيَاتِهِ وَأَنَا أَنْظُرُ إِلَيْهِ
Abu Salamah berkata : Aku mendengar Jabir bin Abdillah ra berkata : Aku mendengar Nabi SAW  bersabda : Ketika Quraisy membohongkan aku ,  aku berdiri di Hijir Ismail  , lalu Allah menampakkan aku  Baitul maqdis . Aku   memberitahu mereka tentang tanda – tandanya  dan aku juga melihatnya  . HR Bukhari  4340 .

Komentarku ( Mahrus ali ) :

Dalam hadis di atas riwayat Bukhari itu tanpa menyebut “ Aku melihat Musa berdiri melakukan salat  “.  Dan memang Imam Bukhari tidak meriwayatkan kisah seperti itu , sama dengan Ibnu Majah dan Tirmidzi .



HR Muslim 251

حَدَّثَنَا هَدَّابُ بْنُ خَالِدٍ وَشَيْبَانُ بْنُ فَرُّوخَ قَالَا حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ عَنْ ثَابِتٍ الْبُنَانِيِّ وَسُلَيْمَانَ التَّيْمِيِّ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَتَيْتُ وَفِي رِوَايَةِ هَدَّابٍ مَرَرْتُ عَلَى مُوسَى لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِي عِنْدَ الْكَثِيبِ الْأَحْمَرِ وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي فِي قَبْرِهِ
………………… Dari  Anas bin Malik , sesungguhnya Rasulullah SAW  bersabda : Aku datang …………….. , menurut riwayat Haddab , aku berjalan bertemu Musa dalam  malam isra` di al katsibil ahmar ( tempat tinggi  panjang dari pasir )  dan  beliau lagi melakukan salat  di kuburan. HR Muslim 4379

Menurut riwayat lainnya , tanpa menyebut kuburan dalam malam Isra` tapi sbb :

أَخْبَرَنَا الْعَبَّاسُ بْنُ مُحَمَّدٍ قَالَ حَدَّثَنَا يُونُسُ بْنُ مُحَمَّدٍ قَالَ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ عَنْ سُلَيْمَانَ التَّيْمِيِّ وَثَابِتٍ عَنْ أَنَسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَتَيْتُ عَلَى مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَام عِنْدَ الْكَثِيبِ الْأَحْمَرِ وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي قَالَ أَبُو عَبْد الرَّحْمَنِ هَذَا أَوْلَى بِالصَّوَابِ عِنْدَنَا مِنْ حَدِيثِ مُعَاذِ بْنِ خَالِدٍ وَاللَّهُ تَعَالَى أَعْلَمُ
…………………Dari Anas , sesungguhnya  Rasulullah SAW  bersabda : Aku datang kepada Musa as di al katsibil ahmar  . Beliau sedang  berdiri melakukan salat .

Abu Abd Rahman berkata : Ini lebih layak di benarkan menurut kami  dari pada hadis Mu`adz bin  Khalid ( tadi )  , wallahu ta`ala  a`lam .   HR Nasa`I 1614.


Muhammad Anwar Syah al kasymiri  berkata :

9 - قوله: (عند الكَثِيب الأَحْمرِ) وَلَمْ يَتَحَقَّقْ لِي قَبْرُهُ بَعْدُ، إِِلاَّ أََنِّي أَسْمَعُ اْلآنَ أَنَّ السُّلْطَانَ عَبْدَ الْحَمِيْدِ قَدْ بَنَى عَلَى قَبْرِهِ قُبَّةً، فَلاَ أَدْرِي مِنْ أَيْنَ حَصَلَ لَهُ الْعِِلْمُ بِذَلِكَ. وَلَعَلَّهُ اعْتَمَدَ فِيْهِ عَلَى خَبَرِ اْليَهُوْدِ.

Al Katsibul ahmar ,  saya sendiri tidak tahu di mana kuburan nabi Musa as , saya hanya mendengar  sekarang bahwa Sulthan Abd Hamid telah membangun kubah di kuburan nya  ( Kuburan Musa as ) . Aku  tidak mengerti dari manakah beliau mendapat informasi seperti itu , barang kali beliau berpegangan kepada  info dari orang  yahudi . [3]

Komentarku ( Mahrus ali ) :

Bila benar kuburan Musa as  di cungkup , maka sungguh di haramkan karena ada  hadis sbb :
عَنْ أَبِي الْهَيَّاجِ اْلأَسَدِيِّ قَالَ: قَالَ لِي عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ: أَلاَ أَبْعَثُكَ عَلَى مَا بَعَثَنِي عَلَيْهِ رَسُولُ اللهِ  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَنْ لاَ تَدَعَ تِمْثَالاً إِلاَّ طَمَسْتَهُ, وَلاَ قَبْرًا مُشْرِفًا إِلاَّ سَوَّيْتَهُ .حَدَّثَنِي حَبِيبٌ بِهَذَا اْلإِسْنَادِ,وَقَالَ: وَلاَ صُورَةً إِلاَّ طَمَسْتَهَا .
Abul Hayyaj Al asadi berkata : “ Ali bin Abu  Tholib ra berkata kepadaku : “ Aku mengutus kamu sebagaimana   Rasulullah  saw,   mengutus aku , bila ada  patung  hancurkan , bila ada kuburan yang tinggi ratakan dengan tanah .  Menurut  riwayat lain dengan sanad sama  ada tambahan :  Bila ada gambar  , hapuslah .[4]
Menurut riwayat Nasai sbb :
))لاَ تَدَعَنَّ قَبْرًا مُشْرِفًا إِلاَّ سَوَّيْتَهُ وَلاَ صُورَةً فِي بَيْتٍ إِلاَّ طَمَسْتَهَا ((

Jangan kamu biarkan kuburan yang tinggi  kecuali kamu ratakan dengan tanah atau gambar dirumah kecuali kamu hapus [5]
   Menurut hadis tersebut meninggikan kuburan termasuk larangan Rasulullah saw dan harus di ratakan lagi  seperti semula . Meninggikan  kuburan itu termasuk budaya jahiliyah.

Al albani menyatakan  hadis tentang Nabi Musa  melakukan salat di kuburannya  sahih , lihat al sahihah  2627 . Misykatul mashobih  3/276

Komentarku ( Mahrus ali ) :

Hadis tentang Nabi Musa  melakukan salat di kuburannya itu juga di riwayatkan oleh Imam Ahmad  12532 , Nasai 1631, al  kubra 1331 Seluruhnya  hanya dari satu orang yaitu Sulaiman at taimi dari Tsabit dari Anas .

Lihat Imam Bukhari , Tirmidzi , Ibnu Majah dan Abu dawud  sama sekali tidak berani meriwayatkan  hadis tsb , entah mengapa mereka  berani meriwayatkannya dan mengapa Imam Bukhari dan lainnya tidak berani  dan tidak mencantumkannya dalam kitab sahihnya . Jadi hadis tsb hanya dari seorang yaitu Sulaiman attaimi  dari Tsabit dari Anas .
Ada juga riwayat Abu Hurairah . Jadi hanya  dua sahabat yang meriwayatkannya  . Namun menurut riwayat Jabir tanpa menyebut kisah nabi Musa melakukan salat di kuburan . Terus apakah para nabi yang melakukan salat di kuburannya itu tidak capek , lalu mengapa mereka  melakukannya , siapakah yang memerintah , apakah tidak bid`ah karena tiadanya perintah dari Allah . Terus siapakah yang akan memberikan pahala  . Bila ada pahalanya , maka  tidak adil bila para nabi saja yang bisa menambah pahalanya  sedang kita tidak bisa meraih pahala lagi di kuburan .
Sudah hadisnya ahad dan hanya melalui jalur satu orang yaitu Sulaiman attaimi  dari Tsabit dari Anas . Mengapa  tiada ulama  yang mau meriwayatkannya  selain Sulaiman  itu . Untungnya ada Abu Hurairah  juga meriwayatkannya . perhatikan ayat sbb :
وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ

Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: "Ya Tuhanku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian) ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?"[6]

Ayat itu menunjukkan hendaknya kamu bersedekah sebelum ajal merenggutmu . Bila masih hidup kamu bisa menambah pahala dan memperbanyak sedekah . Namun bila telah mati , kamu tidak akan mampu melakukan kebaikan sekalipun kamu ingin atau tidak ingin . Sebab  dunia adalah untuk memperbanyak kebaikan sebagaimana ayat :
خِتَامُهُ مِسْكٌ وَفِي ذَلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ
laknya adalah kesturi; dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.[7]
Dalam suatu ayat juga di jelaskan :
لِمِثْلِ هَذَا فَلْيَعْمَلِ الْعَامِلُونَ
Untuk kemenangan serupa ini hendaklah berusaha orang-orang yang bekerja.[8]

Dalam http://www.islamweb.net/ terdapat keterangan  sbb :
رقم الحديث: 6
(حديث مرفوع) مَا أَخْبَرَنَا أَبُو الْحُسَيْنِ عَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بِشْرَانَ بِبَغْدَادَ , أنبأ إِسْمَاعِيلُ بْنُ مُحَمَّدٍ الصَّفَّارُ , ثنا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الْمَلِكِ الدَّقِيقِيُّ , ثنا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ , ثنا سُلَيْمَانُ التَّيْمِيُّ , عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ , رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، أَنَّ بَعْضَ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، أَخْبَرَهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : " لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِهِ مَرَّ عَلَى مُوسَى عَلَيْهِ السَّلامُ وَهُوَ يُصَلِّي فِي قَبْرِهِ " .

………………dari Anas bin  Malik ra , sesungguhnya  sebagian sahabat Nabi SAW  memberi tahu  kepadanya bahwa Nabi SAW : Pada malam beliau di isra`kan bertemu dengan Musa as yang melakukan salat di dalam kuburnya .
الْحُكْمُ الْمَبْدَئِي: إِسْنَادُهُ مُتَّصِلٌ، رِجَالُهُ ثِقَاتٌ، وَجَهَالَةُ الصَّحَابِي لاَ تَضُرُّ
Hukum sementara , sanadnya  bersambung , dan perawi – perawinya terpercaya , dan ada sahabat yang tidak di ketahui namanya itu  tidak berbahaya .

Komentarku ( Mahrus ali ) :

Ternyata kisah nabi Musa melakukan salat di dalam kuburnya  itu bukan dari Anas bin Malik sendiri , tapi dari Anas dari sebagian sahabat Nabi SAW . Pada  hal dalam hadis – hadis sebelumnya  kisah itu dari Anas bin Malik . Jadi ada perbedaan yang harus di cari solusinya.

Dalam http://www.hdrmut.net/ terdapat keterangan sbb :
صَقْرُالْعَرَبِ
مِنْ كِبَارِ كُتَّابِ الْمُلْتَقَى
Shaqr al arab dari tokoh penulis dalam website al multaqa menyatakann  sbb :

قال الله عزوجل : وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ أَفَإِنْ مَاتَ أَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلَى أَعْقَابِكُمْ وَمَنْ يَنْقَلِبْ عَلَى عَقِبَيْهِ فَلَنْ يَضُرَّ اللَّهَ شَيْئًا وَسَيَجْزِي اللَّهُ الشَّاكِرِينَ(144)

Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun; dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.[9]

Allah juga berfirman :
إِنَّكَ مَيِّتٌ وَإِنَّهُمْ مَيِّتُونَ(30)
Sesungguhnya kamu akan mati dan sesungguhnya mereka akan mati (pula).[10]


وَقَالَ الصِّدِّيْقُ رَضِي اللهُ عَنْهُ : مَنْ كَانَ يَعْبُدُ مُحَمَّداً فَاِءنَّ مُحَمَّداً قَدْ مَاتَ وَمَنْ كَانَ يَعْبُدُ اللهَ فَإِنَّ اللهَ حَيٌّ لاَيَمُوْتُ .
Abu  bakar assiddiq ra  berkata : Barang siapa menyembah Muhammad , maka sesungguhnya Muhammad telah meninggal  dunia . Barang  siapa yang menyembah Allah maka sesungguhnya Allah hidup tidak mati .

فَياَ تُرَى نُصَدِّقُكَ وَنُكَذِّبُ اللهَ عَزَّوَجَلَّ
Wahai gerangan , untuk apakah aku membenarkanmu dan membohongkan kepada Allah azza wajal  .

DR. Sayyid Muhammad bin Alwi al Maliki  menyatakan hadis sbb :
وَقَدْ رَأَيْتُنِي فِي جَمَاعَةٍ مِنْ الْأَنْبِيَاءِ فَإِذَا مُوسَى قَائِمٌ يُصَلِّي فَإِذَا رَجُلٌ ضَرْبٌ جَعْدٌ كَأَنَّهُ مِنْ رِجَالِ شَنُوءَةَ وَإِذَا عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ عَلَيْهِ السَّلَام قَائِمٌ يُصَلِّي أَقْرَبُ النَّاسِ بِهِ شَبَهًا عُرْوَةُ بْنُ مَسْعُودٍ الثَّقَفِيُّ وَإِذَا إِبْرَاهِيمُ عَلَيْهِ السَّلَام قَائِمٌ يُصَلِّي أَشْبَهُ النَّاسِ بِهِ صَاحِبُكُمْ يَعْنِي نَفْسَهُ فَحَانَتْ الصَّلَاةُ فَأَمَمْتُهُمْ فَلَمَّا فَرَغْتُ مِنْ الصَّلَاةِ قَالَ قَائِلٌ يَا مُحَمَّدُ هَذَا مَالِكٌ صَاحِبُ النَّارِ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ فَالْتَفَتُّ إِلَيْهِ فَبَدَأَنِي بِالسَّلَامِ
قُلْتُ : أًخْرَجَهُ مُسْلِمٌ عَنْ أَنَسٍ (ج2 ص268) ، وَأَخْرَجَهُ عَبْدُ الرَّزَّاقُ فِي الْمُصَنَّفِ (ج3 ص577) .
وَقَوْلُهُ : ضَرْبٌ ، أًيْ خَفِيْفُ اللَّحْمِ الْمَمْشُوْقِ الْمُسْتَدِقُّ .
وَقَالَ اْلبَيْهَقِي فٍي دَلاَئِلِ النُّبُوَّةِ : وَفِي الْحَدِيْثِ الصَّحِيْحِ عَنْ سُلَيْمَانَ التَّيْمِي  وَثَابِتٍ الْبُنَانِي عَنْ أَنَسٍ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ قَالَ :

“Sungguh saya telah melihat diri saya dalam rombongan para nabi. Tiba-tiba bertemu Nabi Musa yang sedang berdiri mengerjakan sholat dan ternyata ia seorang lelaki berbadan kurus ( dlorbun ) dan berambut keriting seperti lelaki Arab. Tiba-tiba bertemu Nabi Isa yang sedang berdiri mengerjakan sholat. Orang yang paling mirip dengannya adalah ‘Urwah ibnu Mas’ud Al Tsaqafi. Dan tiba-tiba bertemu Nabi Ibrahim yang sedang berdiri mengerjakan sholat. Orang yang paling mirip dengannya adalah teman kalian – maksudnya beliau sendiri -. Saat waktu sholat tiba saya menjadi imam mereka. Ketika saya selesai sholat seseorang berkata kepadaku, “Wahai Muhammad !, ini adalah malaikat Malik penjaga nereka. Berilah salam kepadanya ! Saya pun menoleh kepadanya namun ia mendahului saya memberikan salam.”
Saya katakan, “Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim dari Anas vol. II hlm. 268 dan oleh Abdul Razq dalam Al Mushannaf vol. III hlm. 577.
Kata dlorbun dalam hadits berarti berbadan kurus.
Dalam Dalaa’ilu Al Nubuwwah Al Baihaqi mengatakan bahwa dalam hadits shahih dari Sulaiman Al Taimi dan Tsabit Al Bunani dari Anas ibnu Malik bahwa Rasulullah Saw bersabda : 
أَتَيْتُ عَلَى مُوسَى لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِي عِنْدَ الْكَثِيبِ الْأَحْمَرِ وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي فِي قَبْرِهِ


“Saya datang menemui Musa pada malam saat aku diisra’kan di dekat bukit pasir merah. Saat itu ia sedang berdiri melakukan sholat di dalam kuburnya.”
Saya katakan bahwa hadits ini shahih dan diriwayatkan oleh Muslim vol. II hlm 268. 

Komentarku ( Mahrus ali ) :

Kembalilah kepada  jawaban  yang baru kita  lalui , jadi mengulangi jawaban yang menunjukkan kelemahan hadis tsb terlalu berat sekali dan akan menyiakan waktu untuk membacanya . Lebih baik kita membahas tema lainnya .







[1] Yas`alunak  272/6
[2] Mizanul i`tidal 519 /1
[3] Faidhul bari 4/107
[4] HR Muslim  969
[5] HR Nasai 2031 *

[6] Al Munafiqun 10
[7] Al Muthoffifin .26
[8] Asshoffat  61
[9] Ali imran 144
[10] Zunar 30