Tampilkan postingan dengan label Abu salafy. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Abu salafy. Tampilkan semua postingan

Senin, Februari 18, 2013

Kesesatan al bani ke 5




Judul asli buku : Tanaqudlaat Albany al-Waadlihah fiima waqo’a fi tashhihi al-Ahaadiits wa tadl’iifiha min akhtho’ wa gholath (Kontradiksi Al-Albani yang nyata terhadap penshahihan hadits-hadits dan pendhaifannya yang salah dan keliru).

Pengarang: Sarjana Mesir yang bernama Mahmud Sa`id Mamduh

Penerjemah: S yaikh Hasan Ali Assegaf

No.5: (Hal.11 nr. 5) Hadits: ‘Engkau akan naik keatas dihari kiamat dengan cahaya dimuka, cahaya ditangan dan kaki dari bekas wudu’ yang sempurna’(Muslim nr 246). Al-Albani dalam Daeef Al-Jami wa Ziyadatuh, 2/14 nr. 1425menyatakan bahwa hadits ini lemah. Walaupun hadits ini diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah.

Komentarku ( Mahrus ali): 
Redaksi yang seperti itu, saya tidak menjumpainya di seluruh kitab – kitab al bani dan mulai lahir sampai sekarang , saya tidak menjumpai terjemahan “Engkau akan naik keatas dihari kiamat”. Insya Allah redaksi ini adalah kesalahan terjemahan bukan terjemahan yang benar dan penerjemahnya  kurang mengerti bahasa arab.
Bahasa arabnya sbb:

 صحيح وضعيف الجامع الصغير - (ج 9 / ص 215)
-     إِنَّ أُمَّتِي يُدْعَوْنَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ غُرًّا مُحَجَّلِينَ مِنْ آثَارِ الْوُضُوءِ( فَمَنْ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يُطِيلَ غُرَّتَهُ فَلْيَفْعَلْ).
Sesungguhnya umatku dipanggil di hari kiamat dengan muka, tangan dan kaki yang cemerlang  karena bekas air wudhu. ( Barang siapa  yang mampu untuk memanjangkan cahayanya , lakukanlah ) .
تخريج السيوطي( ق ) عن أبي هريرة .
تحقيق الألباني
( صحيح ) انظر حديث رقم : 2005 في صحيح الجامع وما بين قوسين ضعيف عند الألباني انظر ضعيف الجامع رقم : 1816 .
Riwayat Imam Suyuthi  ( ق  ) dari Abu Hurairah.
Kajian al albani: Sahih , lihat hadis nomer 2005  dalam kitab sahihul jami` . Dan apa yang diantara dua tanda kurung itu lemah menurut al bani . lihat  Dhoiful jami` , nomer 1816.
Komentarku ( Mahrus ali): 
DI tempat lain al bani menyatakan:
رياض الصالحين - (ج 1 / ص 394)
قلت : وقوله " فمن استطاع . . . " مدرج في الحديث كما قال الحافظ وغيره فراجع له ( الإرواء )
 رقم ( 94 ) و ( الضعيفة ) رقم ( 1030 - 1425 )
 [ 394 ]
Riyadlushalihin 394/1
Aku berkata: Kalimat hadis : “ Barang siapa yang mampu …………)  adalah sisipan perawi ( tambahannya) dalam hadis  sebagaimana  dikatakan oleh al Hafidh dll…… baca lagi ( Al Irwa` ) nomer 94 , Dhoifah  nomer 1030 – 1425.
Komentarku ( Mahrus ali): 
Yang dilemahkan oleh al bani adalah
-     ( فمن استطاع منكم أن يطيل غرته فليفعل ) .
( Barang siapa  yang mampu untuk memanjangkan cahayanya , lakukanlah )
Dengan demikian permasalahan jadi jelas dan tidak samar lagi dan memang  sisipan itu adalah dari perawi Abu Hurairah sendiri bukan sanda Nabi SAW
. Dan bukan al bani saja yang menyatakan sedemikian tapi banyak ulama . Karena itu, bila belum dikaji ulang, jangan mudah menyalahkan kepada al bani atau lainnya. Tapi kaji dulu dan baru beri kesimpulan yang benar bukan belum dikaji lalu di nyatakan salah atau sesat. Akhirnya kembali kepada dirinya sendiri setelah di adakan pengkajian.

Senin, Februari 04, 2013

Kesesatan Nashiruddin Al-bany (wahaby – salafy) Dalam Ilmu Hadits ke 4


Judul asli buku : Tanaqudlaat Albany al-Waadlihah fiima waqo’a fi tashhihi al-Ahaadiits wa tadl’iifiha min akhtho’ wa gholath (Kontradiksi Al-Albani yang nyata terhadap penshahihan hadits-hadits dan pendhaifannya yang salah dan keliru).

Pengarang: Sarjana Mesir yang bernama Mahmud Sa`id Mamduh

Penerjemah: S yaikh Hasan Ali Assegaf



No.4: (Hal.10 nr.4) Hadits: “Bila seorang bangun malam (untuk sholat), maka mulailah sholat dengan 2 raka’at ringan” (Muslim nr. 768). Al-Albani dalam Daeef Al-Jami wa Ziyadatuh, 1/213 nr. 718 menyatakan bahwa hadits inilemah. Walaupun hadits ini diriwayatkan oleh Muslim dan Ahmad dari Abu Hurairah.

 و حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ عَنْ هِشَامٍ عَنْ مُحَمَّدٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا قَامَ أَحَدُكُمْ مِنْ اللَّيْلِ فَلْيَفْتَتِحْ صَلَاتَهُ بِرَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ

Komentarku ( Mahrus ali):

Penilaian hadis riwayat Muslim tsb berbeda sbb:

مختصر الشمائل - (ج 1 / ص 147)

227 - ( ضعيف )

صحيح وضعيف الجامع الصغير - (ج 5 / ص 79)

تحقيق الألباني

( ضعيف ) انظر حديث رقم : 619 في ضعيف الجامع .

مختصر إرواء الغليل - (ج 1 / ص 91)

 453 - ( صحيح )

مشكاة المصابيح - (ج 1 / ص 264)

1193 - [ 6 ] ( صحيح )

رياض الصالحين - (ج 1 / ص 429)

 وهو عند غير مسلم عن أبي هريرة مرفوعا من فعله صلى الله عليه وسلم وهو الصواب وأما من قوله فشاذ كما حققته في ( ضعيف أبي داود ) رقم ( 240 )

Dalam kitab Munkhtashor Syamail , 147/1. Al bani menyatakan  lemah.

Dalam kitab Sahih wa dhoif jami` shaghir 79/5 , Al bani menyatakan lemah, lihat 619 dalam Dhoif Jami`

Dalam kitab Mukhtashar Irwail Gholil 91/1. Al Bani menyatakan  sahih

Dalam kitab Misykatul mashobih 264/1. Albani menyatakan sahih.

Dalam kitab Riyadhus shalihin 429/1. Albani menyatakan  syadz ( Unik, ganjil ).

Hadis dilain riwayat Muslim  dari Abu Hurairah dari perbuatan Rasulullah SAW dan inilah yang benar. Untuk sabda Rasul tentang hal itu hukumnya Syadz sebagaimana  yang telah ku kaji dalam  Dhoif Abu Dawud 240

Komentarku ( Mahrus ali):

Saya setuju dengan kajian al albani itu yang menyatakan riwayat Muslim  dalam hal ini adalah syadz – boleh dikatakan lemah bukan sahih atau hasan. Dan hadis yang Syadz adalah yang lemah.

Dalam kitab Baiquni dijelaskan:

البيقونية لابن العثيمين - (ج 1 / ص 1)s

.أَوَّلُهَا( الصَّحِيْحُ) وَهُوَ مَااتَّصَلْ       إِسْنَادُهُ وَلَمْ يُشَذّ أَوْيُعَلْ

Permulaan pembagian hadis adalah sahih yaitu hadis yang sanadnya bersambung, tidak syadz dan tidak ada illatnya ( cacatnya).

Lihat di Baiquniyah 1/1

Rabu, Januari 23, 2013

Mereka Menghapus pusaka dan warisan Islam yang masih tersisa agar kaum Muslim terputus dari sejarah Islam


Penghancuran di pemakaman Baqi'







Dengan alasan pemurnian tauhid dari bentuk kesyirikan, pemakaman Baqi’ menjadi korban penghancuran oleh kaum wahhabi salafi. Dengan alasan dangkal dan tidak masuk akal tersebut, mereka dengan bangga membongkar dan merusak peninggalan-peninggalan Nabi Muhammad Saw, rumahnya, kamarnya bahkan berencana ingin memindahkan makam dan menghancurkan kubahnya (Inna lillahi, kebodohan yang memuncak). Pemakaman para sahabat Nabi Saw di Baqi’ pun juga ikut diratakan dan dihancurkan kubah-kubahnya oleh mereka.

Berikut foto-foto pemakaman Baqi’ sebelum dihancurkan.  Foto-foto ini diambil dari buku album foto-foto pribadi Sultan Abdul Hamid Utsmani tentang Mekkah dan Madinah sebelum dihancurkan. Terbit tahun 2006 di Turki. Dalam buku ini dimuat sekitar 130 foto-foto indah dan bersejarah dari tanah Arafah, Ka’bah, Masjidun Nabi, Kuburan Abu Thalib, kota Madinah dan Mekkah :














Rabu 8 Syawal 1345 Hijriah bertepatan dengan 21 April 1925 mausoleum (kuburan besar yang amat indah) di Jannatul al-Baqi di Madinah diratakan dengan tanah atas perintah Raja Ibnu Saud. Di tahun yang sama pula Raja Ibnu Saud yang Wahabi itu menghancurkan makam orang-orang yang disayangi Rasulullah Saw (ibunda, istri, kakek dan keluarganya) di Jannat al-Ma’la (Mekah). Meskipun ada bantahan keras dari ulama-ulama di seluruh dunia waktu itu, mereka tetap tidak mengindahkannya.



Penghancuran situs bersejarah dan mulia itu oleh Keluarga al-Saud yang Wahabi itu terus berlanjut hingga sekarang. Menurut beberapa ulama apa yang terjadi di tanah Arabia itu adalah bentuk nyata konspirasi Yahudi melawan Islam, di bawah kedok Tauhid. Sebenarnya, tujuan utamanya adalah secara sistematis ingin menghapus pusaka dan warisan Islam yang masih tersisa agar Kaum Muslim terputus dari sejarah Islam.



Dan berikut foto-foto pemakaman Baqi’ setelah diratakan dan dihancurkan :















Generasi yang akan datang tidak akan mendapatkan bukti sejarah. Anak cucu kita, generasi mendatang tidak akan pernah dapat menyaksikan prasasti-prasasti, bukti-bukti, dan saksi-saksi bisu perjuangan para sahabat ra. Bahkan generasi sekarang (termasuk penulis) sudah tidak dapat menyaksikannya, kecuali dari buku-buku. Sedangkan buku-buku sejarah mudah sekali dimanipulasi. Jika buku-buku pun sudah ada yang dimanipulasi.. maka musnahlah sudah bukti sejarah semuanya. Wahaby sudah melakukannya untuk kitab-kitab klasik.



Alasan dan argumentasi mereka meratakan dan menghancurkan pemakaman di Baqi’ adalah bahwa sebagian orang menjadikan tempat-tempat tersebut sebagai lokasi perayaan dan mempersekutukan Allah dengan menyembahnya, mengelilinginya, mengikat tali, menaburkan dedaunan atau menyembelih binatang sebagai persembahan kepadanya.







Maka kita jawab ; bahwa semua tindakan tersebut tidak kami restui dan tidak kami setujui. Justru kami melarang aktivitas tersebut dan memperingatkan orang agar menjauhi hal tersebut. Praktek-praktek tersebut adalah termasuk kebodohan yang wajib diperangi. Sebab mereka yang melakukannya adalah orang-orang yang beriman kepada Allah, mengakui keesaan-Nya, dan bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Dia. Hanya saja mereka melakukan perbuatan yang salah dan tidak mengetahuai cara yang benar. Maka adalah sebuah kewajiban mengajarkan dan membimbing mereka. Hanya saja semua praktek-praktek keliru tersebut tidak membuat tempat-tempat itu ditelantarkan, dilenyapkan dan dihapus eksistensinya







Berargumentasi dengan praktek-praktek menyimpang di atas adalah argumentasi tabu dan alasan yang lemah yang tidak bisa diterima di mata kalangan ulama dan cendikiawan. Karena hal itu bisa dihilangkan dengan larangan, pengawasan, amar ma`ruf nahi munkar, dan dakwah karena Allah dengan cara yang bijak, tutur kata yang baik dan perilaku terpuji dengan tetap mempertahankan jejak-jejak peninggalan kita, melestarikannya, dan memberikan perhatian kepadanya semata-mata untuk menjaga orisinalitas ummat, menunaikan hak sejarah dan melaksanakan amanah yang dibebankan kepada kita dan yang tidak lain adalah bagian orisinil dari sejarah kita yang agung dan sejaran Nabi Muhammad Saw.





PERHATIAN AL-QURAN TERHADAP PENINGGALAN-PENINGGALAN PARA NABI DAN ORANG-ORANG SHOLIH



Dalam Al-Quran Allah menyebutkan kisah tabut bani Israil yang Dia jadikan pertanda

akan keabsahan Thalut sebagai raja mereka :



وَقَالَ لَهُمْ نِبِيُّهُمْ إِنَّ آيَةَ مُلْكِهِ أَن يَأْتِيَكُمُ التَّابُوتُ فِيهِ سَكِينَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَبَقِيَّةٌ مِّمَّا تَرَكَ آلُ مُوسَى وَآلُ هَارُونَ تَحْمِلُهُ

الْمَلآئِكَةُ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَةً لَّكُمْ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ



"Dan Nabi mereka mengatakan kepada mereka : "Sesungguhnya tanda ia akan menjadi raja, ialah kembalinya tabut kepadamu, di dalamnya terdapat ketenangan dari Tuhanmu dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun ; tabut itu dibawa oleh malaikat…."

Tabut ini memiliki kedudukan yang tinggi dan status yang mulia. Ia berada di tangan mereka dan ditempatkan di depan saat mereka mengadakan peperangan. Dengan keberkahan tawassul kepada Allah dengannya dan dengan isinya mereka mendapat kemenangan. Mereka selalau membawa tabut saat memerangi musuh manapun.



Baqiyyah ini adalah harta peninggalan Nabi Harun yaitu tongkat Nabi Musa, tongkat dan pakaian Nabi Harun, sepasang sandal dan dua papan Taurat. Demikian informasi yang bersumber dari tafsir Ibnu Katsir jilid I hlm. 313. Dalam tabut itu juga terdapat mangkok emas yang fungsinya untuk membasuh dada para nabi sebagaimana dikutip dari Al-Bidayah wan-Nihayah jilid 2 hlm. 8.



Berkat peninggalan-peninggalan agung yang dinisbatkan kepada para hamba Allah terpilih ini, Allah meninggikan status tabut, meluhurkan derajatnya, menjaga dan merawatnya secara khusus saat bani Israil kalah akibat kemaksiatan dan pelanggaran yang mereka lakukan. Kekalahan ini karena mereka tidak mementingkan menjaga tabut.



Maka Allah menghukum mereka dengan mencabut tabut dari tangan mereka lalu Dia menjaga dan mengembalikan kembali kepada mereka agar menjadi bukti keabsahan Thalut sebagai raja mereka. Allah telah mengembalikan tabut kepada mereka dengan penuh kemuliaan dan penghargaan saat ia datan dibawa para malaikat. Adakah perhatian yang lebih besar melebihi perhatian terhadap peninggalan tersebut, pelestarian terhadapnya dan mengingatkan akal terhadap urgensi perkara tersebut, keagungan dan nilai kesejarahan, keagamaan dan peradabannya.

Allah Swt berfirman :

وَكَذَلِكَ أعْثَرْنَا عَلَيْهِمْ لِيَعْلَمُوا أنَّ وَعْدَ اللّهِ حَقٌّ وَأنَّ السّاعَةَ لاَ رَيبَ فيها إذْ يَتنازَعُونَ بَيْنَهُم أمْرَهُم فَقَالُوا ابْنُوا عَلَيْهِم بُنْيَاناً رَبُّهُم أعْلَمُ بِهِم قَالَ الّذينَ غَلَبُوا عَلَى أمْرِهِم لَنَتَّخِذَنّ عَلَيْهِم مَسْجداً



“ Dan demikianlah Kami perlihatkan (manusia) dengan mereka agar mereka tahu bahwa janji Allah benar dan bahwa hari kiamat tidak ada keraguan padanya. Ketika mereka berselisih tentang urusan mereka, maka mereka berkata “ Dirikanlah sebuah bangunan di atas (gua) mereka “. Orang yang berkuasa atas urusan mereka berkata “ Kami pasti akan mendirikan masjid di atas kuburan mereka “. (Al-Kahfi : 21)

Ayat ini jelas menceritakan dua kaum yang sedang berselisih mengenai makam ashabul kahfi. Kaum pertama berpendapat agar menjadikan sebuah rumah di atas kuburan mereka. Sedangkan kaum kedua berpendapat agar menjadikan masjid di atas kuburan mereka.

Kedua kaum tersebut bermaksud menghormati sejarah dan jejak mereka menurut manhajnya masing-masing. Para ulama Ahli Tafsir mengatakan bahwa kaum yang pertama adalah orang-orang msuyrik dan kaum yang kedua adalah orang-orang muslim yang mengesakan Allah Swt.



Lihat bagaimana Allah Swt mengabadikan tindakan para pecinta Ashabul Kahfi dan menjaga sejarah tersebut dengan membangunkan masjid di goa Kahfi tersebut ??



Allah tidak menegor atau mencelanya dan menjelaskan larangan tindakan tersebut padahal al-Quran adalah sebagai petunjuk dan penjelas kebenaran dari kebatilan, itu artinya Allah merekomendasikan tindakan mereka yang pertama membangun masjid di atas goa ashabul akhfi dan kedua tindakan mereka di dalam melestaraikan dan menjaga sejarah penting dan mulia tersebut agar menjadi pelajaran bagi umat muslim dan bukti akan kekuasaan Allah Swt.



PELESTARIAN KHULAFAURRASYIDIN TERHADAP CINCIN NABI SAW



Al-Imam Al-Bukhari meriwayatkan dengan sanadnya dari Ibnu `Umar Ra, ia berkata :



اتخذ رسول الله صلى اله عليه وآله وسلم خاتماً من ورق وكان في يده ثم كان بعد في يد أبي بكر ثم كان بعد في يد عثمان حتى وقع بعد في بئر أريس نقشه محمد رسول الله .



"Rasulullah Saw memakai cincin dari perak yang dikenakan di tangan. Selanjutnya sepeninggal beliau cincin itu melekat pada tangan Abu Bakar kemudian `Umar lalu di tangan `Utsman sampai cincin itu jatuh di sumur Ariis. Pada cincin itu terdapat ukiran bertuliskan Muhammad Rasulullah."

Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Kitabullibas bab Khatamul Fidldlah. Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata,

جاء في رواية النسائي : أنه التمس فلم يوجد ، وجاء في رواية ابن سعد : أنه كان في يد عثمان ست سنين . اهـ



“Dalam riwayat Al Nasa’i terdapat redaksi : “Sesungguhnya ‘Utsman mencari cincin itu namun tidak menemukannya.” Dalam riwayat Ibnu Sa’d terdapat redaksi : “Sesungguhnya cincin itu melekat di tangan ‘Utsman selama 6 tahun.”

(Fathul Bari jilid X hlm. 313)



PELESTARIAN KHULAFAURRASYIDIN TERHADAP TOMBAK MILIK NABI SAW



Al-Imam Al-Bukhari meriwayatkan dengan sanadnya kepada Az-Zubair, ia berkata :



لقيت يوم   بدر عبيدة بن سعيد بن العاص وهو مدجج لا يرى منه إلا عيناه وهو يكنى أبا ذات الكرش فقال : أنا أبو ذات الكرش فحملت عليه بالعنزة فطعنته في عينه فمات ، قال هشام : فأخبرت أن الزبير قال : لقد وضعت رجلي عليه ثم تمطأت فكان الجهد أن نزعتها وقد انثنى طرفاها ، قال عروة : فسأله إياها رسول الله فأعطاه ، فلما قبض رسول الله  أخذها ثم طلبها أبو بكر فأعطاه إياها ،فلما قبض أبو بكر سأله إياها عمر ، فأعطاه إياها ، فلما قبض عمر أخذها ، ثم  طلبها عثمان منه فأعطاه إياها ، فلما قتل عثمان وقعت عند آل علي فطلبها عبد الله ابن الزبير ، فكانت عنده حتى قتل .



“Pada saat perang Badar saya bertemu dengan ‘Ubaidah ibnu Sa’id ibnu Al-’Ash yang mengenakan pakaian tempur lengkap hingga yang terlihat Cuma matanya. ‘Ubaidah memiliki julukan Abu Djatil Kirsy. “Saya Abu Djatil Kirsy,” katanya. Lalu saya menyerang dia dengan tombak dan berhasil menusuk matanya hingga ia pun tewas.” Hisyam berkata, “Saya dikabari bahwa Az-Zubair berkata,”Sungguh saya telah menginjakan kaki saya di atas tubuh Abu Djatil Kirsy lalu saya berjalan dengan angkuh. Kemudian dengan susah payah saya mencabut tombak dari tubuh Abu Djatil Kirsy yang ternyata telah bengkok kedua sisinya.” Urwah berkata, “Rasulullah meminta tombak tersebut kepada Az-Zubair dan dia pun menyerahkannya. Sepeninggal beliau, Az-Zubair mengambil kembali tombak itu. Abu Bakar kemudian meminta tombak itu dan Az-Zubair pun memberikannya. Saat Abu Bakar meninggal, ‘Umar memintanya dan Az-Zubair pun mengabulkannya. Wakti ‘Umar meninggal dunia tombak itu diambil oleh Az-Zubair lalu diminta oleh ‘Utsman dan Az-Zubair pun menyerahkannya. Ketika ‘Utsman terbunuh tombak itu jatuh ke tangan keluarga Ali dan Abdullan ibnu Az-Zubair memintanya. Akirnya tombak itu berada di tangan Az-Zubair sampai ia meninggal dunia.”

(HR Al-Bukhari dalam kitab Al-Maghazi Bab Syuhudu Al-Malaikat Badran)



Ada apa di balik perhatian besar terhadap tombak tersebut ? bukankah banyak tombak-tombak lainnya yang barangkali lebih baik dan lebih bagus?? Dari siapakah perhatian besar ini? Sesungguhnya perhatian ini berasal dari empat figur khulafa’ yang bijak yang menjadi pemimpin agama, pilar-pilar tauhid dan sosok-sosok terpercaya dalam aspek agama.



Jika kepada sosok ulama bernama Utsaimin saja mereka buatkan gedung mewah dan megah dan dibuatkan museum peninggalannya seperti pena, kacamata dan arlojinya serta mereka jaga dengan baik, maka bagaimana dengan peninggalan-peninggalan para manusia mulia, sahabat-sahabat Nabi Saw dan terlebih lagi makhluyk termulia baginda Nabi Muhammad Saw, seharusnya mereka lebih menjaga dan melestarikannya ???





 



Sumber:http://ibnu-alkatibiy.blogspot.com/2011/12/mereka-menghapus-pusaka-dan-warisan.html














Maka kita jawab ; bahwa semua tindakan tersebut tidak kami restui dan tidak kami setujui. Justru kami melarang aktivitas tersebut dan memperingatkan orang agar menjauhi hal tersebut. Praktek-praktek tersebut adalah termasuk kebodohan yang wajib diperangi. Sebab mereka yang melakukannya adalah orang-orang yang beriman kepada Allah, mengakui keesaan-Nya, dan bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Dia. Hanya saja mereka melakukan perbuatan yang salah dan tidak mengetahuai cara yang benar. Maka adalah sebuah kewajiban mengajarkan dan membimbing mereka. Hanya saja semua praktek-praktek keliru tersebut tidak membuat tempat-tempat itu ditelantarkan, dilenyapkan dan dihapus eksistensinya.



Komentarku ( Mahrus ali):



Sebetulnya kuburan itu tidak boleh di bangun, jangan di biarkan pembangunan kuburan itu, tapi harus di robohkan. Ingat saja pada hadis:



Ali bin Abu Tholib sendiri dalam suatu hadis sbb:

عَنْ أَبِي الْهَيَّاجِ اْلأَسَدِيِّ قَالَ: قَالَ لِي عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ: أَلاَ أَبْعَثُكَ عَلَى مَا بَعَثَنِي عَلَيْهِ رَسُولُ اللهِ  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَنْ لاَ تَدَعَ تِمْثَالاً إِلاَّ طَمَسْتَهُ, وَلاَ قَبْرًا مُشْرِفًا إِلاَّ سَوَّيْتَهُ .حَدَّثَنِي حَبِيبٌ بِهَذَا اْلإِسْنَادِ,وَقَالَ: وَلاَ صُورَةً إِلاَّ طَمَسْتَهَا .

Abul Hayyaj Al asadi berkata : “ Ali bin Abu  Tholib ra berkata kepadaku : “ Aku mengutus kamu sebagaimana   Rasulullah  saw,   mengutus aku , bila ada  patung  hancurkan , bila ada kuburan yang tinggi ratakan dengan tanah .  Menurut  riwayat lain dengan sanad sama  ada tambahan :  Bila ada gambar  , hapuslah .[1]

Menurut riwayat Nasai sbb :

لاَ تَدَعَنَّ قَبْرًا مُشْرِفًا إِلاَّ سَوَّيْتَهُ وَلاَ صُورَةً فِي بَيْتٍ إِلاَّ طَمَسْتَهَا

Jangan kamu biarkan kuburan yang tinggi  kecuali kamu ratakan dengan tanah atau gambar dirumah kecuali kamu hapus [2]







Di katakan dalam artikel tsb sbb:



Tabut ini memiliki kedudukan yang tinggi dan status yang mulia. Ia berada di tangan mereka dan ditempatkan di depan saat mereka mengadakan peperangan. Dengan keberkahan tawassul kepada Allah dengannya dan dengan isinya mereka mendapat kemenangan. Mereka selalau membawa tabut saat memerangi musuh manapun.



Komentarku ( Mahrus ali):



Kamu katakan:

Dengan keberkahan tawassul kepada Allah dengannya dan dengan isinya mereka mendapat kemenangan. Mereka selalau membawa tabut saat memerangi musuh manapun.



Komentarku ( Mahrus ali):

Ini awal kedustaan bukan yang terahir. Mana dalil yang menunjukkan apa yang kamu katakan. Saya tidak menjumpainya.Mereka  tidak bertawassul dengan tabut itu. Ini kekeliruan yang nyata bukan kebenaran yang samar. Ini penyesatan yang membahayakan bukan bimbingan yang menyelamatkan.



Di katakan dalam artikel tsb sbb:

Baqiyyah ini adalah harta peninggalan Nabi Harun yaitu tongkat Nabi Musa, tongkat dan pakaian Nabi Harun, sepasang sandal dan dua papan Taurat. Demikian informasi yang bersumber dari tafsir Ibnu Katsir jilid I hlm. 313. Dalam tabut itu juga terdapat mangkok emas yang fungsinya untuk membasuh dada para nabi sebagaimana dikutip dari Al-Bidayah wan-Nihayah jilid 2 hlm. 8.

Komentarku ( Mahrus ali):

Itu sekedar pendapat bukan dalil yang sahih.



Di katakan dalam artikel tsb sbb:



Berkat peninggalan-peninggalan agung yang dinisbatkan kepada para hamba Allah terpilih ini, Allah meninggikan status tabut, meluhurkan derajatnya, menjaga dan merawatnya secara khusus saat bani Israil kalah akibat kemaksiatan dan pelanggaran yang mereka lakukan. Kekalahan ini karena mereka tidak mementingkan menjaga tabut.

Komentarku ( Mahrus ali):

Kamu katakan: “Kekalahan ini karena mereka tidak mementingkan menjaga tabut “

 Ini pendapatmu yang keliru, bukan yang benar. Kekalahan dan kemenangan itu dari Allah, bukan karena mereka tidak mementingkan menjaga tabut. Lihat ayat:

إِنْ يَنْصُرْكُمُ اللهُ  فَلاَ غَالِبَ لَكُمْ وَإِنْ يَخْذُلْكُمْ فَمَنْ ذَا الَّذِي يَنْصُرُكُمْ مِنْ بَعْدِهِ وَعَلَى اللهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ(160)



Jika Allah menolong kamu, maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu; jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mu'min bertawakkal.[3]



Di katakan dalam artikel tsb sbb:



Kedua kaum tersebut bermaksud menghormati sejarah dan jejak mereka menurut manhajnya masing-masing. Para ulama Ahli Tafsir mengatakan bahwa kaum yang pertama adalah orang-orang msuyrik dan kaum yang kedua adalah orang-orang muslim yang mengesakan Allah Swt.



Komentarku ( Mahrus ali):

Anda katakan:

Para ulama Ahli Tafsir mengatakan bahwa kaum yang pertama adalah orang-orang msuyrik dan kaum yang kedua adalah orang-orang muslim yang mengesakan Allah Swt

Komentarku ( Mahrus ali):

Ini kedustaan lagi bukan kejujuran, bukan para ulama ahli tafsir tapi konon pendapat  itu  dari Ibnu Jarir

تفسير ابن كثير - (ج 9 / ص 138)

حَكَى اِبْن جَرِير فِي الْقَائِلِينَ ذَلِكَ قَوْلَيْنِ " أَحَدهمَا " إِنَّهُمْ الْمُسْلِمُونَ مِنْهُمْ " وَالثَّانِي " أَهْل الشِّرْك مِنْهُمْ فَاَللَّه أَعْلَم

Ibnu Jarir bercerita tentang orang – orang yang berkata menjadi dua pendapat. Mereka adalah kaum muslimin dari kalangan mereka dan yang kedua adalah kaum musrik, wallohu a`lam.  Tafsir ibn Katsir 58/9

Ibnu Katsir menyatakan:

تفسير ابن كثير - (ج 9 / ص 138)

وَالظَّاهِر أَنَّ الَّذِينَ قَالُوا ذَلِكَ هُمْ أَصْحَاب الْكَلِمَة وَالنُّفُوذ وَلَكِنْ هَلْ هُمْ مَحْمُودُونَ أَمْ لَا ؟ فِيهِ نَظَر لِأَنَّ النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ " لَعَنَ اللَّه الْيَهُود وَالنَّصَارَى اِتَّخَذُوا قُبُور أَنْبِيَائِهِمْ وَصَالِحِيهِمْ مَسَاجِد " يُحَذِّر مَا فَعَلُوا



 Secara lahiriyah, orang – orang yang mengatakan seperti itu adalah kalangan orang – orang yang perkataannya berpengaruh. Tapi apakah mereka  terpuji atau tidak? Masih perlu di kaji ulang. Sebab Nabi SAW bersabda: Semoga Allah melaknat yahudi dan Nasrani yang membikin kuburan para nabi dan orang – orang saleh mereka sebagai masjid ( didirikan masjid di atasnya) . Beliau memperingatkan jangan sampai menjalankan sebagaimana mereka.

Di katakan dalam artikel tsb sbb:

Lihat bagaimana Allah Swt mengabadikan tindakan para pecinta Ashabul Kahfi dan menjaga sejarah tersebut dengan membangunkan masjid di goa Kahfi tersebut ??



Komentarku ( Mahrus ali):

Membangun bangunan di kuburan adalah tindakan orang – orang syirik om. 



Kalau bangunan di saudi untuk Utsaimin itu perpustakaan bukan di atas kuburannya om. Mohon dibedakan



Anda katakan:
Ada apa di balik perhatian besar terhadap tombak tersebut ? bukankah banyak tombak-tombak lainnya yang barangkali lebih baik dan lebih bagus?? Dari siapakah perhatian besar ini? Sesungguhnya perhatian ini berasal dari empat figur khulafa’ yang bijak yang menjadi pemimpin agama, pilar-pilar tauhid dan sosok-sosok terpercaya dalam aspek agama.

Komentarku ( Mahrus ali): 
Itu sekedar peninggalan belaka dari seorang rasul sebagaimana peninggalan ulama di Indonesia dan tiada unsur kesyirikan di dalamnya, tauhid masih terjaga dab tidak di agungkan sebagaimana kris, dim mitoskan, di anggap ada kekuatan gaib dll.
Dan kliklah 4 shared mp3 atau di panahnya.




[1] HR Muslim  969

[2] HR Nasai 2031 *



[3] Ali imran 161

Selasa, Januari 22, 2013

Membongkar kedustaan Salafi Wahhabi atas nama imam Syafi'i. Bag I






Berbagai cara dan strategi busuk mereka lakukan untuk menyerang ajaran yang dipegang teguh oleh mayoritas umat Muslim ini, umat yang selalu mengedepankan sikap damai, kasih sayang dan toleransi, umat muslim Ahlus sunnah waljama’ah.

Mulai dari mencela para ulama salaf maupun ulama besar sesudahnya seolah mereka ingin menunjukkan bahwa para ulama kita dalam kesalahan, sesat atau pun kata busuk lainnya dengan hanya bermodal taqlid pada ulama mereka yang kapasitas keilmuannya sangat jauh dibandingkan para ulama yang mereka cela.

Mereka juga suka mencomot ucapan para ulama Ahlus sunnah dan memaknai dengan pemahaman yang menurut mereka itulah maksud ucapan tersebut padahal jika mau diteliti dan dikaji, maka akan tampak nyata makna yang sebenarnya. Tidaklah mereka berbuat demikian kecuali karena dua hal :


1. Sengaja memanipulasi ucapan para ulama Ahlus sunnah wal jama’ah untuk menipu dan membodohi umat dari makna yang sebenarnya demi mempromosikan doktrin mereka.
2. Kejahilan dan kedangkalan di dalam memahami ajaran agama Islam ini disebabkan mereka memisahkan diri dari pemahaman jumhurul ulama.

ومن يشاقق الرسو ل من بعد ما تبين له الهدى ويتبع غير سبيل المؤمنين نوله ما تولى ونصله جهنم وسائت مصيرا

“ Dan barangsiapa menentang Rasul Saw setelah jelas kebenaran baginya dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, kami biarkan dia dalam kesesatan yang telah dilakukannya itu dan Kami masukkan dia ke dalam neraka jahannam dan itu seburuk-buruk tempat kembali “ (QS. An-Nisa : 115)

Di antara ucapan ulama Salaf yang sering mereka nukil adalah kalam Imam Syafi’i Rahimahullahu.

A.   Manipulasi Salafi terhadap kalam imam Syafi’i dalam hal Aqidah :

" روى شيخ الإسلام أبو الحسن الهكاري ، والحافظ أبو محمد المقدسي بإسنادهم إلى أبي ثور وأبي شعيب كلاهما عن الإمام محمد بن إدريس الشافعي ناصر الحديث رحمه الله قال: القول في السنة التي أنا عليها ورأيت أصحابنا عليها أهل الحديث الذين رأيتهم وأخذت عنهم مثل سفيان ومالك وغيرهما الاقرار بالشهادة أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله ، وأن الله تعالى على عرشه في سمائه يقرب من خلقه كيف شاء وأن الله ينزل إلى السماء الدنيا كيف شاء "

“ Syaikhul Islam Abu Hasan Al-Hakary meriwayatkan dan Al-Hafidz Abu Muhammad Al-Muqoddasi dengan isnad mereka kepada Abu Tsaur dan Abu Syu’aib, keduanya dari imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi’I, Nashirul hadits Rh, beliau berkata “ Pendapat di dalam sunnah yang aku pegang dan juga para sahabatku dari Ahli hadits yang telah aku saksikan dan aku ambil dari mereka seperti Sufyan, Malik dan selain keduanya adalah pengakuan dengan syahadah bahwa tiada Tuhan selain Allah Swt, Muhammad adalah utusan Allah dan sesungguhnya Allah Swt di atas Arsy-Nya di dalam langit-Nya yang mendekat kepada makhluk-Nya kapan saja DIA kehendaki, dan sesungguhnya Allah turun ke langit dunia kapan saja DIA kehendaki “.

(Mukhtashor Al-‘uluw halaman : 176)

Jawaban :

Dari sisi sanad :

1. Al-Hafidz Adz-Dzahaby di dalam kitabnya MIZAN AL-I’TIDAL juz : 3 halaman : 112 berkata :

أبي الحسن الهكاري : أحد الكذابين الوضاعين

“ Abu Al-Hasan Al-Hakkari adalah salah satu orang yang suka berdusta dan sering memalsukan ucapan “

2. Abul Al-Qosim bin Asakir juga berkata :

قال أبو القاسم بن عساكر : لم يكن موثوقاً به

“ Dia (Abu Al-Hasan) orang yang tidak dapat dipercaya “

3. Ibnu Najjar berkata :

وقال ابن النجار : متهم بوضع الحديث وتركيب الأسانيد

“ Dia dicurigai memalsukan hadits dan menyusun-nysun sanad “

4. Al-Hafidz Ibnu Hajar di dalam kitab LISAN AL-MIZAN juz : 4 halaman : 159 berkata :

وكان الغالب على حديثه الغرائب والمنكرات ، وفي حديثه أشياء موضوعة

“ Kebanyakan hadits yg diriwayatkannya adalah ghorib dan mungkar dan juga terdapat hadits-hadits palsunya “.

5. Ibrahim bin Muhammad Ibn Sibth bin Al-Ajami di di dalam kitabnya Al-Kasyfu Al-Hatsits juz ; 1 halaman : 184 :

وهو كذاب وضاع

“ Dia adalah seorag yang suaka berdusta dan suka memalsukan hadits “.

Dari sisi tarikh / sejarah :

Mereka (wahhaby salafy) mengaku atsar tersebut diriwayatkan oleh Abu Syu’aib dari imam Syafi’i. Benarkah ??

Ini sebuah kedustaan yang nyata karena di dalam kitab-kitab tarikh / sejarah bahwasanya Abu Syu’aib ini dilahirkan dua tahun setelah wafatnya imam Syafi’i, sebagaimana disebutkan dalam kitab Tarikh Al-Baghdadi juz : 9 halaman : 436.

Sekarang kita lihat bagaimanakah aqidah imam syafi’i yang sebenarnya tentang Istiwa Allah Swt ?

Berikut ini ucapan-ucapan imam Syafi’i yang kami nukil dari kitab-kitab yang mu’tabar dan dari riwayat-riwayat yang tsiqoh :

1.  Ketika imam Syafi’I ditanya tentang makna ISTIWA dalam al-Quran beliau menjawab :

“ ءامنت بلا تشبيه وصدقت بلا تمثيل واتهمت نفسي في الإدراك وأمسكت عن الخوض فيه كل الإمساك”
ذكره الإمام أحمد الرفاعي في ( البرهان المؤيد) (ص 24) والإمام تقي الدين الحصني في (دفع شبه من شبه وتمرد ) (ص 18) وغيرهما كثير.

“ Aku mengimani istiwa Allah tanpa memberi perumpamaan dan aku membenarkannya tanpa member permisalan, dan aku mengkhawatirkan nafsuku di dalam memahaminya dan aku mencegah diriku dari memperdalam persoalan ini dengan sebenar-benarnya pencegahan “

Ini telah disebutkan oleh imam Ahmad Ar-Rifa’i di dalam kitab “ Al-Burhan Al-Muayyad “ (Bukti yang kuat) halaman ; 24.

Juga telah disebutkan oleh imam Taqiyyuddin Al-Hishni di dalam kitab Daf’u syibhi man syabbaha wa tamarroda halaman : 18. Di dalam kitab ini juga pada halaman ke 56 disebutkan bahwa imam Syafi’I berkata :

ءامنت بما جاء عن الله على مراد الله وبما جاء عن رسول الله على مراد رسول الله

“ Aku beriman dengan apa yang dating dari Allah Swt atas menurut maksud Allah Swt, dan beriman dengan apa yang dating dari Rasulullah Saw menurut maksud Rasulullah Saw “.

Syaikh Salamah Al-Azaami dan selainnya mengomentari ucapan imam syafi’I tsb :

ومعناه لا على ما قد تذهب إليه الأوهام والظنون من المعاني الحسية والجسمية التي لا تجوز في حق الله تعالى.

“ Maknanya adalah bukan seperti yang terlitas oleh pikiran dan persangkaan dari makna fisik dan jisim yang tidak boleh bagi haq Allah Swt “

Dan masih banyak lagi yang lainnya.

2. Ketika imam Syafi’i ditanya tentang sifat Allah Swt, beliau menjawab :

حرام على العقول أن تمثل الله تعالى وعلى الأوهام أن تحد وعلى الظنون أن تقطع وعلى النفوس أن تفكر وعلى الضمائر أن تعمق وعلى الخواطر أن تحيط إلا ما وصف به نفسه – أي الله – على لسان نبيه صلى الله عليه وسلم
ذكره الشيخ ابن جهبل في رسالته انظر طبقات الشافعية الكبرى ج 9/40 في نفي الجهة عن الله التي رد فيها على ابن تيمية.

“ Haram bagi akal untuk menyerupakan Allah Swt, haram bagi pemikiran untuk membatasi Allah Swt, haram bagi persangkaan untuk memutusi Allah Swt, haram bagi jiwa untuk bertafakkur, haram bagi hati untuk memperdalam sifat Allah, haram bagi lintasan hati untuk membatasi Allah, kecuali apa yang telah Allah sifati sendiri atas lisan nabi-Nya Muhammad Saw “.

(Telah disebutkan oleh syaikh Ibnu Jahbal di dalam Risalahnya, lihatlah Thobaqot Asy-Syafi’iyyah Al-Kubra juz : 9 halaman : 40 tentang menafikan arah dari Allah Swt sebagai bantahan atas Ibnu Taimiyyah)

3. Di dalam kitab Ittihaafus saadatil muttaqin juz : 2 halaman ; 24, imam Syafi’I berkata :

إنه تعالى كان ولا مكان فخلق المكان وهو على صفة الأزلية كما كان قبل خلقه المكانَ لا يجوز عليه التغييرُ في ذاته ولا التبديل في صفاته"

“ Sesungguhnya Allah Ta’ala ada dan tanpa tempat, lalu Allah menciptakan tempat sedangkan Allah masih atas sifat azaliyah-Nya sebagaimana wujud-Nya sebelum menciptakan tempat. Mustahil bagi Allah perubahan di dalam Dzat-Nya dan juga pergantian di dalam sifat-sifat-Nya

‎4. Di dalam kitab Syarh Al-Fiqhu Al-Akbar halaman : 52, imam Syafi’I berkata yang merupakan keseluruhan pendapat beliau tentang Tauhid :

من انتهض لمعرفة مدبره فانتهى إلى موجود ينتهي إليه فكره فهو مشبه وإن اطمأن إلى العدم الصرف فهو معطل وإن اطمأن لموجود واعترف بالعجز عن إدراكه فهو موحد

“ Barangsiapa yang bergerak untuk mengetahui Allah Sang Maha Pengatur-Nya hingga pikirannya sampai pada hal yang wujud, maka ia adalah musyabbih (orang yang menyerupakan Allah dgn makhluq). Dan jika ia merasa tenang dengan suatu hal yang tiada, maka ia adalah mu’aththil (meniadakan sifat Allah Swt). Dan jika ia merasa tenang pada kwujudan Allah Swt dan mengakui ketidak mampuan untuk memahaminya, maka ia adalah muwahhid (orang yang mengesakan Allah Swt) “

Sungguh imam Syafi’I begitu jeli dan luas pemahamannya akan hal ini, beliau sungguh telah mengambil dari ayat-ayat Allah Swt dalam Al-Quran :

- {لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَىءٌ } [سورة الشورى]
“ Tidak ada sesuatu apapun yang menyerupai Allah “
- فَلاَ تَضْرِبُواْ لِلّهِ الأَمْثَالَ } [سورة النحل]
“ Janganlah kalian membuat perumpamaan-perumpoamaan bagi Allah Swt “
- :{هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيًّا } [سورة مريم]
“ Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia ? “

Semua ini membuktikan bahwa imam Syafi’I Ra mensucikan Allah Swt dan sifat-sifat-Nya dari apa yang terlintas dalam pikiran berupa makna-makna jisim / fisik seperti duduk, dibatasi dengan arah, tempat, gerakan dan diam serta yang semisalnya dan inilah aqidah Ahlus sunnah wal jama’ah.

Terbungkamlah lisan mereka..

Sumber: http://ibnu-alkatibiy.blogspot.com/2011/12/membongkar-kedustaan-salafi-wahhabi.html

Komentarku ( Mahrus ali): 
Kamu enak mengertitik keterangan salafy yang mencantumkan perkataan Imam Syafi`I dengan sanad, lalu kamu sendiri menyampaikan perkataan Imam Syafi`I yang kamu buat pegangan tanpa sanad. Ini kekeliruan yang nyata, bukan kebenaran yang samar. Perkataan Imam Syafii yang kamu sampaikan tanpa sanad itu bila di tunjukkan sanadnya belum tentu benar, mungkin keliru, mungkin sanadnya lemah atau kuat. Jadi landasan anda yang tanpa sanad untuk mentahkan pernyataan salafy kurang kuat, masih banyak sisi kelemahan. Saya contohkan satu saja.
Anda menyatakan:

3. Di dalam kitab Ittihaafus saadatil muttaqin juz : 2 halaman ; 24, imam Syafi’I berkata :

إنه تعالى كان ولا مكان فخلق المكان وهو على صفة الأزلية كما كان قبل خلقه المكانَ لا يجوز عليه التغييرُ في ذاته ولا التبديل في صفاته"

“ Sesungguhnya Allah Ta’ala ada dan tanpa tempat, lalu Allah menciptakan tempat sedangkan Allah masih atas sifat azaliyah-Nya sebagaimana wujud-Nya sebelum menciptakan tempat. Mustahil bagi Allah perubahan di dalam Dzat-Nya dan juga pergantian di dalam sifat-sifat-Nya

Saya cari pernyataan Imam Syafii di kitab manapun yang saya miliki saya dibikin pusing dan tidak menjumpainya. Saya hanya menjumpainya di satu kitab yaitu Ittihafus sadah tanpa sanad. Masak begitu banyak teman Imam Syafii tidak menyebutkan kalimat tsb, begitu juga tokoh – tokoh Syafiiyah tidak menyebutkan hal itu, mereka bungkam. Lalu pengarang Ittihafus sadah al muttaqain yang lahirnya di Hindia sekitar tahun 1145 wafat 1205 H mencantumkan  perkataan Imam Syafii itu dalam kitab karyanya tanpa sanad. Pada hal jarak antara Imam Syafii dan beliau ratusan tahun ,boleh di kataka seribuan. Data yang kabur ini lalu kamu ketengahkan ke masarakat dan kamu jadikan sebagai landasan. Ini yang memperihatinkan hati, menyedihkan orang.

 


Dan kliklah 4 shared mp3 atau di panahnya.