Tampilkan postingan dengan label Tawassul. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tawassul. Tampilkan semua postingan

Kamis, November 19, 2015

Kisah lemah di buat landasan tawassul dengan mayat.



-         

Bambang Hendy Setiawan‎  menukis :


Dalam diskusi di grub fb sekitar akhir Juli (mengenai permintaan/berdoa kepada mayit), saya temui riwayat yang dipakai penggemar tawasul. Dan saya baru ingat untuk menanyakan status atsar ini. Saya curiga akan keshahihannya. Berikut riwayat yang telah saya copy dari mereka:
=====
Diriwayatkan dari Utsman bin Hunaif bahwa ada seorang laki-laki datang kepada (Khalifah) Utsman bin Affan untuk memenuhi hajatnya, namun sayidina Utsman tidak menoleh ke arahnya dan tidak memperhatikan kebutuhannya. Kemudian ia bertemu dengan Utsman bin Hunaif (perawi) dan mengadu kepadanya. Utsman bin Hunaif berkata: Ambillah air wudlu' kemudian masuklah ke masjid, salatlah dua rakaat dan bacalah: “Ya Allah sesungguhnya aku meminta-Mu dan menghadap kepada-Mu melalui Nabi-Mu yang penuh kasih sayang, wahai Muhammad sesungguhnya aku menghadap kepadamu dan minta Tuhanmu melaluimu agar hajatku dikabukan. Sebutlah apa kebutuhanmu”. Lalu lelaki tadi melakukan apa yang dikatakan oleh Utsman bin Hunaif dan ia memasuki pintu (Khalifah) Utsman bin Affan. Maka para penjaga memegang tangannya dan dibawa masuk ke hadapan Utsman bin Affan dan diletakkan di tempat duduk. Utsman bin Affan berkata: Apa hajatmu? Lelaki tersebut menyampaikan hajatnya, dan Utsman bin Affan memutuskan permasalahannya”. [HR. Al-Thabrani dalam al-Mu'jam al-Kabir dan al-Baihaqi dalam Dalail al-Nubuwwah. Doa ini dikutip oleh Ibnu Taimiyah dalam kitabnya Majmu' al-Fatawa, I/264, dan al-Tawassul wa al-Wasilah, II/199]

Komentarku ( Mahrus ali ):

Saya kutupkan pernayatan  Akhi  Abu Muhammad  - Abdullah bin Jabir al Hamadi  dan  saya ambil secara ringkas belaka, tidak semuanya  sbb:

أبو محمد، عبدالله بن جابر الحمادي

وهذه القصةُ شاذةٌ لا تصح؛ لما يلي:
أولاً/ أنَّ مدارَها على شَبيب بن سعيد، ولأهل العلم كلامٌ في روايته،
Kisah tsb adalah ganjil, (tidak wajar , unik , nyeleneh tidak populer  ). Pertama pangkal permasalahannya adalah pada  seorang perawi bernama Syabib bin  Said . Para ulama masih mengkritik  tentang riwayatnya.

ثانياً/نصَّ ابنُ عدي على أن عبدَالله بن وهب قد حدَّث عن شبيب بمناكير.
وهذه القصة من رواية عبدالله بن وهب عن شَبيب.
Kedua: Ibnu Ady telah menyatakan  bahwa Abdullah bin Wahab telah meriwayatkan hadis – hadis munkar dari Syabib . Sedang kisah di atas adalah dari riwayat Abdullah bin Wahab  dari Syabib.
.
ثالثاً/أن كلَّ مَنْ روى الحديثَ عن أبي جعفر لم يذكر هذه القصة، ومنهم شعبة بن الحجاج وهشام الدستوائي.
Ketiga : Setiap orang  yang meriwayatkan hadis  dari Abu Ja`far  tidak mencantumkan kisah diatas , termasuk  di antara mereka adalah Syu`bah bin Al Hajjaj  dan Hisyam ad dastawai.

الرواية الثانية/زيادة: "وإن كانت حاجةٌ ؛ فافعل مثل ذلك".

Riwayat kedua   ada tambahan :  Bila kamu punya kebutuhan lakukanlah  spt itu.

وهذه الزيادة رواها ابنُ أبي خيثمة في تاريخه من طريق حماد بن سلمة عن أبي جعفر الخطمي عن عمارة بن خزيمة عن عثمان بن حُنيف.
ولم يرو هذه الزيادة أحدٌ ممن خرَّج الحديث من طريق حماد سوى ابن أبي خيثمة.
ثم إن شعبة بن الحجاج وهشاماً الدستوائي رويا هذا الحديث عن أبي جعفر الخطمي بدونها.

Intinya  tambahan itu dari perawi bernama  Ibnu Abi Khoitsamah. Tiada yang memberikan  riwayat tambahan itu kecuali dia.


وإنما أحببتُ التنبيه على هاتين الروايتين، لأنه قد يُستدل بهما على جواز التوسل بالنبي صلى الله عليه وسلم أو جاهه، وهما روايتان منكرتان.
Aku hanya mengingatkan  dua riwayat ini . Sebab  terkadang di buat dalil  bagi orang yang bertawassul pada Nabi atau pangkatnya . Dan kedua  riwayat itu adalah munkar. ( lemah )

Komentarku ( Mahrus ali ):
Sanadnya  sbb :

المعجم الكبير للطبراني - (ج 7 / ص 410)
-        حَدَّثَنَا طَاهِرُ بن عِيسَى بن قَيْرَسٍ الْمِصْرِيُّ الْمُقْرِئُ، حَدَّثَنَا أَصْبَغُ بن الْفَرَجِ، حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْمَكِّيِّ، عَنْ رَوْحِ بن الْقَاسِمِ، عَنْ أَبِي جَعْفَرٍ الْخَطْمِيِّ الْمَدَنِيِّ، عَنْ أَبِي أُمَامَةَ بن سَهْلِ بن حُنَيْفٍ، عَنْ عَمِّهِ عُثْمَانَ بن حُنَيْفٍ أَنَّ رَجُلا،"كَانَ يَخْتَلِفُ إِلَى عُثْمَانَ بن عَفَّانَ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى

المعجم الكبير للطبراني - (ج 7 / ص 410)
-        حَدَّثَنَا طَاهِرُ بن عِيسَى بن قَيْرَسٍ الْمِصْرِيُّ الْمُقْرِئُ، حَدَّثَنَا أَصْبَغُ بن الْفَرَجِ، حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْمَكِّيِّ، عَنْ رَوْحِ بن الْقَاسِمِ، عَنْ أَبِي جَعْفَرٍ الْخَطْمِيِّ الْمَدَنِيِّ، عَنْ أَبِي أُمَامَةَ بن سَهْلِ بن حُنَيْفٍ، عَنْ عَمِّهِ عُثْمَانَ بن حُنَيْفٍ أَنَّ رَجُلا،"كَانَ يَخْتَلِفُ إِلَى عُثْمَانَ بن عَفَّانَ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى

المعجم الصغير للطبراني - (ج 2 / ص 106)
-        حدثنا طاهر بن عيسى بن قيرس المقري المصري التميمي ، حدثنا أصبغ بن الفرج ، حدثنا عبد الله بن وهب ، عن شبيب بن سعيد المكي ، عن روح بن القاسم ، عن أبي جعفر الخطمي المدني ، عن أبي أمامة بن سهل بن حنيف ، عن عمه عثمان بن حنيف «
-        دلائل النبوة للبيهقي - (ج 6 / ص 354)
-         - أخبرنا أبو سعيد عبد الملك بن أبي عثمان الزاهد ، رحمه الله ، أنبأنا الإمام أبو بكر محمد بن علي بن إسماعيل الشاشي القفال ، قال : أنبأنا أبو عروبة ، حدثنا العباس بن الفرج ، حدثنا إسماعيل بن شبيب ، حدثنا أبي ، عن روح بن القاسم ، عن أبي جعفر المديني ، عن أبي أمامة بن سهل بن حنيف

معرفة الصحابة لأبي نعيم الأصبهاني - (ج 14 / ص 81)
-        حدثنا أبو عمرو ، ثنا الحسن ، ثنا أحمد بن عيسى ، ثنا ابن وهب ، أخبرني أبو سعيد واسمه شبيب بن سعيد من أهل البصرة ، عن أبي جعفر المديني ، عن أبي أمامة بن سهل بن حنيف ، عن عمه عثمان بن حنيف

Seluruh jalur riwayat di hampir seluruh   kitab hadis hanya melalui Abu Ja1far al madini  yaitu tingkat  enam   dari orang – orang yang masih menjumpai  yunior tabiin.  Jadi  di masa beliau kisah itu masih tidak dikenal, apalagi di masa sahabat. Kisah itu  dikatakan nyeleneh sekali, tidak populer dan masih  satu orang yang tahu.  Di masa beliau hanya beliau seorang yang mengerti dan  seluruh sahabat kecuali Usman bin  Hunaif sampai mati tidak kenal  kisah itu.
  Kisah sedemikian ini di golongkan dlm kisah yang munkar, lemah sekali,  bukan sahih dan tidak boleh di buat pegangan tapi lepaskan saja. Bila di buat pegangan , maka  keliru, tidak benar, sesat menyesatkan dan tidak mengarahkan orang ke jalan yang lurus .
Tawassul  dengan nabi atau pangkatnya di bolehkan oleh ahli bid`ah , dilarang oleh ahlus sunnah . Ahli bid`ah menggunakan kisah munkar untuk  tawassul dengan mayat.. Tiada landasan yang sahih. Bahkan ayat al quran menentangnya. Allah berfirman:
وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا
Yang artinya, “Dan Sesungguhnya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping (menyembah) Allah” (QS Jin:18).
Kita diperintahkan oleh Allah agar berdoa langsung tanpa tawassul pada Nabi shallahu alaihi wasallam  sebagaimana ayat:
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ
Dan Tuhanmu berfirman: "Berdo`alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina".   Ghofir 60
Termasuk disini adalah orang yg tidak mau berdoa kpd Allah langsung tp harus menggunakan  perantara para wali yg sudah meninggal dunia. Dia  tdk pernah berdoa  langsung , bahkan anti padanya.
Dia  tdk mau berdoa kecuali di kuburan dimuka para wali. Dan tdk mau berdoa langsung  pada Allah. Dia termasuk orang yg nolak ayat Ghofir 60  di atas.
Di bawah ini kami tunjukkan hobby syi`ah dalam berdoa  , yaitu selalu bertawassul dengan figur idola mereka  sbb:

«بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ اللّهُمَّ إِنِّي أَتَوَجَّهُ إِلَيْكَ بِأَحَبِّ اْلأَسْمَاءِِ إِلَيْكَ وَأَعْظَمِهَا لَدَيْكَ وَأَتَقَرَّبُ وَأَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِمَنْ أَوْجَبْتَ حَقَّهُ عَلَيْكَ بِمُحَمَّدٍ وَعَلِيٍّ وَفَاطِمَةَ وَالْحَسَنِ وَالْحُسَيْنِ وَعَلِيٍّ بْنِ الْحُسَيْنِ وَمُحَمَّدٍ بْنِ عَلِيٍّ وَجَعْفَرَ بْنِ مُحَمَّدٍ وَمُوْسَى بْنِ جَعْفَرَ وَعَلِيٍّ بْنِ مُوْسَى وَمُحَمَّدٍ بْنِ عَلِيٍّ وَعَلِيٍّ بْنِ مُحَمَّدٍ وَالْحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ وَالْحُجَّةِ الْمُنْتَظَرِ صَلَوَاتُ اللّهِ عَلَيْهِمْ أَجْمَعِيْنَ، اكْفِنِي كَذَا وَكَذَا...»
Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
Ya Allah ! Sesungguhnya aku menghadap padaMu dengan nama yang Engkau sukai dan yang paling agung di sisiMU . Aku mendekat dan bertawassul dengan orang yang haknya telah Engkau wajibkan atas diriMU – yaitu dengan Muhammad , Ali, Fathimah, Hasan , Husain , Ali bin Al Husain , Muhammad bin Ali , Ja`far bin Muhammad , Musa bin Ja   `far , Ali bin Musa , Muhammad bin Ali , Ali bin Muhammad , Al Hasan bin Ali dan hujjah yang di nanti – nantikan – semoga rahmat Allah  terlimpahkan untuk mereka – Cukupilah aku dengan ini ……….. dan ini….

Komentarku ( Mahrus ali ) :
Itulah tata cara  orang – orang  syi`ah dalam bertawassul dengan memanggil  figur – figur yang di idolakan  bahkan mereka  anggap bahwa Allah punya hak untuk mengabulkan doa bila nama figur itu di sebut dalam doa. Dan hal sedemikian ini belum ada tuntunannya dari hadis yang sahih dan tiada sahabat yang melakukannya.
Lembaga Tetap Pengkajian Ilmiyah dan Fatwa Saudi dan dua tokoh ulama menyatakan sbb:
وَإِنْ كَانَتْ مُشْتَمِلَةً عَلَى اْلإِسْتِغَاثَةِ بِغَيْرِ اللهِ أَوِ التَّوَسُّلِ إِلَى اللهِ ِبخَلْقِهِ فِي الدُّعَاءِ كَمَا فِي قَصِيْدَةِ اْلبُرْدَةِ أَوْ فِيْهَا دَعَاوِى كَاذِبَةٌ وَغُلُوٌّ فِي تَعْظِيْمِ الْمَخْلُوْقِ أَوْ فِيْهَا كَلِمَاتٌ لاَيُفْهَمُ مَعْنَاهَا لِكَوْنِهَا أَعْجَمِيَّةً أَوْ رُمُوْزًا، فَلاَ يَجُوْزُ الذِّكْرُ بِهَا بَلْ قَدْ يَكُوْنُ شِرْكًا كَاْلاِسْتِغَاثَةِ بِغَيْرِ اللهِ، وَدَعْوًى أَنَّ اْلعَالِمَ لَمْ يُخْلَقْ إِلاَّ مِنْ أَجْلِ رَسُوْلِ اللهِ وَأَنَّ عُلُوْمَ الَّلوْحِ وَاْلقَلَمِ مِنْ عِلْمِهِ، إِلَى غَيْرِ هَذَا مِمَّا اشْتَمَلَتْ عَلَيْهِ أَوْرَادُ الْمُتَصَوِّفَةِ وَأَنَاشِيْدُهُمْ.
Bila halaqah dzikir itu mengandung minta tolong kepada lain Allah atau tawassul dengan mahluknya dalam berdoa  sebagaiamana yang tercantum dalam kasidah Burdah , atau beberapa pengakuan yang palsu , berlebihan dalam mengagungkan  mahluk  atau terdapat kata – kata yang tidak bisa di mengerti artinya  karena ajam atau kode – kode tertentu , maka  tidak boleh berdzikir dengannya . Bahkan syirik  seperti minta  pertolongan kepada  lain Allah dalam berdoa dan pengakuan bahwa  alam ini  di ciptakan  karena Rasulullah SAW. Dan  pengetahuan dalam loh mahfudh atau pena di sana  telah di ketahui oleh Nabi SAW  dan memang  begitulah apa yang di muat dalam wirid ahli tasawwuf dan kasidah – kasidah mereka. [1]

 .  


1.     [1] Encyplopedia Lembaga Tetap Pengkajian Ilmiyah dan Fatwa Saudi  949

Sabtu, November 14, 2015

Jawabanku untuk Muhammad Syafii ke 5






Muhammad Syafii sudahlaaah mari kita sesama muslim bersatu dan merapatkan barisan,stop mencaci maki sesama muslim.

Komentarku ( Mahrus ali ):
Bersatu  dengan muslim ahli bid`ah dan  syirik  tidak akan terwujud . Kita tegakkan  sunnah , mereka  tegakkan kebid`ahan untuk tumbangkan sunnah. Kita  luruskan tauhid , mereka mengagungkan kuburan ngefan kesirikan . Biarlah  kita berpisah agar tidak terjangkit  virus ngefan kebidahan dan kesyirikan. Kita ingat ayat ini:

قَالَ رَبِّ إِنِّي لَا أَمْلِكُ إِلَّا نَفْسِي وَأَخِي ۖ فَافْرُقْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ الْقَوْمِ الْفَاسِقِينَ
 Berkata Musa: "Ya Tuhanku, aku tidak menguasai kecuali diriku sendiri dan saudaraku. Sebab itu pisahkanlah antara kami dengan orang-orang yang fasik itu". Maidah 25


Anda menyatakan:
tidak usah mempermasalahkan masalah khilafiyah

Komentarku ( Mahrus ali ):
Masalah khilafiyah bila  tidak di bicarakan, maka manusia tidak tahu mana yang  benar dan mana yang  salah di antara  masalah hilafiyah itu, dan tidak paham mana  yang   sunnah dan mana yang  bid`ah , mana yang  sirik dan mana yang  tauhid. Para Nabi diutus untuk menjelaskan mana yang  benar  dari masalah hilafiyah . Ingat ayat ini :

كَانَ النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً فَبَعَثَ اللَّهُ النَّبِيِّينَ مُبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ وَأَنزَلَ مَعَهُمُ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِيَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ فِيمَا اخْتَلَفُوا فِيهِ ۚ وَمَا اخْتَلَفَ فِيهِ إِلَّا الَّذِينَ أُوتُوهُ مِن بَعْدِ مَا جَاءَتْهُمُ الْبَيِّنَاتُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ ۖ فَهَدَى اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا لِمَا اخْتَلَفُوا فِيهِ مِنَ الْحَقِّ بِإِذْنِهِ ۗ وَاللَّهُ يَهْدِي مَن يَشَاءُ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ
  Manusia itu adalah umat yang satu. (setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab yang benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Tidaklah berselisih tentang Kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka Kitab, yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki antara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkann itu dengan kehendak-Nya. Dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.  213 Baqarah

 Dalam ayat  itu di jelaskan para nabi di utus menerangkan kepada manusia mana yang  benar dan mana  yang  salah  di antara masalah khilafiyah. Bukan diam saja atau menyatakan sama benarnya. Kebenaran hanya  satu bukan dua atau tiga. Allah berfirman:
فَمَاذَا بَعْدَ الْحَقِّ إِلاَّ الضَّلَالُ فَأَنَّى تُصْرَفُونَ
maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan. Maka bagaimanakah kamu dipalingkan (dari kebenaran)?[1]

Bila mereka diam, maka umat ini bingung dalam beragama, tiada paham yang  jelas yang  memiliki landasan yang  kokoh.

Dalam  ayat itu juga di terangkan sbb:
فَهَدَى اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا لِمَا اخْتَلَفُوا فِيهِ مِنَ الْحَقِّ بِإِذْنِهِ ۗ وَاللَّهُ يَهْدِي مَن يَشَاءُ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ
Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkann itu dengan kehendak-Nya. Dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.

Orang yang  tahu mana yang  benar di antara masalah khilafiyah sesuai  dengan dalil adalah orang yang  beriman.
Bagi orang kafir akan tdak paham mana yang  benar dari masalah khilafiyah itu, lalu bengong, lalu bilang  - emboh saya tidak paham dan tidak mengerti mana yang  benar.
Masalah khilafiyah terkadang masalah syirik atau tauhid, hilaf dalam masalah islam atau kafir. Masalah sedemikian  ini harus di tuntaskan dan  harus tahu mana yang  benar dan mana yang  salah yang  cocok dengan dalil , bukan cocok dengan ajaran  golongan sekalipun nentang dalil. Ingatlah  firmanNya:

قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ
Katakanlah, “Tunjukkanlah bukti kebenaranmu, jika kamu memang orang-orang yang benar.”[2]


Anda menyatakan:
toh masing2 punya dalil

Komentarku ( Mahrus ali ):
Orang LDII, ahli bid`ah, salafy, Muhammadiyah , ahli syirik  dan tarekat  juga akan bilang  seperti itu. Bahkan  orang Hindupun ngaku benar, biksu ngaku benar dan pendeta  Kristiani  juga ngaku benar. Tidak ada dari mereka yang  ngaku salah. Kebenaran  adalah satu  bukan semuanya khilaf.
Walaupun masing –masing punya  dalil, mesti ada dalil yang  kuat  dan lemah. Kadang dalil di pelintir dan  tidak di artikan yang  benar. Kadang akal – akalan.
Kunci kita ini  adalah mengikuti teladan Rasulullah shallahu alaihi wasallam.
Suatu misal orang berkata  tahlilan setelah kematian  punya dalil. Maka kita   cukup mengatakan  buktikan bahwa Rasulullah shallahu alaihi wasallam dan para sahabatnya mengadakan tahlilan  setelah kematian  . Bila tidak ada , mka  kita  tidak  usah gubris argumentasinya. Kita cukup ikut Rasulullah shallahu alaihi wasallam saja yang   tidak mengadakan tahlilan  setelah kematian.

Ikutilah ayat ini:
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللهَ فَاتَّبِعُوْنِي يُحْبِبْكُمُ اللهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَاللهُ غَفُوْرٌ رَحِيْمٌ

“Katakanlah, jika kalian benar-benar mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Ali ‘Imran: 31)

Anda menyatakan:

wahai kaum muslimin,musuh2 kita banyak diluar sana,jngn sampai kita berpecah belah hanya karen a masalah ini
sekali lagi saya serukan
BERSATULAH UMAT ISLAM
ALLAHU AKBAR

Komentarku ( Mahrus ali ):
Kita ahlissunnah  dengan ahli bid`ah  di fron tidak pernah bersatu. Di dunia maya, tidak bersatu . Di dunia nyata pun tidak bersatu.
Lihat saja ahli bid`ah banyak  yang  dukung thaghut, anti penerapan sariat Islam dalam suatu negara. Bahkan memerangi mereka.
Waktu rezim Soekarno  saja ahli bid`ah ikut Nasakom , ikut group rezim bersama Soekarno  dan anti gerakan yang   menginginkan sariat Islam tegak dibumi pertiwi.













[1] Yunus 32
[2] QS. An Naml: 64

Jawabanku untuk Muhammad Syafii ke 4.




Jawabanku untuk Muhammad Syafii ke 4.
Ibnu Safrani berkata:
فالحديث على هذا شاذ .

أما أن الدواعي تتوافر على نقله فللتالي :

1-
أنه علم من أعلام النبوة لو كان ، والغالب في مثل ذلك الانتشار .

2-
أن المدينة مرت بقحط في فترات متعددة ، ولم يستعمل الناس ذلك ، فلو كان معروفاً لما تركوه .

3-
أن فيه تغيير لبناء المسجد ، فلو كان لنقل كما تنقل أخبار ما يفعل ببناء المسجد .

أما المتن فلا شك أنه منكر ، فأين عمر بن الخطاب والصحابة لما توسلوا بالعباس عن هذا ؟ ولم لم تخبرهم عائشة بذلك ؟

وإن قيل لعله قحط آخر ، فهذ ا يحتاج إلى تبيينه تاريخياً ، إضافة إلى أن ذلك لا ينفي النكارة ، فلم سكتت عائشة في القحط الأول ؟
 Atas dasar ini  hadis tsb adalah syadz ( nyeleneh ,  ganjil sekali tunggal , tidak wajar,  tidak dikenal  di kalangan sahabat ).
Motif untuk mengutip kisah itu sbb :
  1. Ia salah satu tanda kenabian bila benar begitu . Biasanya masalah sedemikian ini akan menyebar.
  2. Kota Medinah mengalami paceklik  beberapa  kali  dan orang – orang tidak menggunakan  hal itu. Bila hal itu di kenal di kalangan mereka, maka  mereka akan melakukannya.
  3. Masalah itu mengandung  perobahan pembangunan masjid . Bila benar akan ada berita  yang  kita kutip  sebagaimana   berita tentang renovasi masjid.

Untuk redaksi hadis, maka tidak diragukan lagi  kemungkarannya Dimana UMar bin  Al Khatthab   dan para sahabat ketika mereka bertawassul pada al albbas ( yang  masih hidup ) dan tidak melakukan seperti itu> Mengapa  Aisyah tidak memberitahu hal itu  padanya.
Bila dikatakan , barang kali ada paceklik lain.  Hal ini butuh data  historisnya . Walaupun  demikian , redaksi hadis masih munkar . Dan mengapa Aisyah diam  saja  waktu paceklik pertama kali.

Komentarku ( Mahrus ali ):
Hadis  tsb dari segi sanad cacat sebagaimana di paparkan tadi.
Sanadnya  juga  tafarrud . Maksudnya  hadis kuburan Rasul  dilobangi lalu  bisa  tembus ke langit bisa bikin hujan itu  hanya melalui  jalur sanad  itu , tiada  jalur lainnya. Sanadnya  sbb:

Sanadnya menurut Darimi sbb:  Bercerita kepada kami Abun Nu`man , bercerita kepada kami  Sa`id bin Zaid , bercerita kepada kami  Amar bin Malik  Annukri , bercerita  kepada kami Abul Jauza` : Aus bin Abdillah berkata :

Sanad sedemikian termasuk nyeleneh , fard mutlak dan ini menurut pakar hadis salaf  tanda kelemahan.
Abdul hay al luknowi berkata:
فكثيراً ما يطلقون النكارة على مجرَّد التَّفرُّد،
Sering kali mereka menyatakan  hadis munkar disebabkan tafarrud saja . ( satu perawi yang meriwayatkan bukan dua atau tiga ).
- كراهية المتقدمين لرواية الغريب:
كان المتقدمون من علماء الحديث يكرهون رواية الغرائب وما تفرد به الرواة، ويعدونه من شَرِّ الحديث، كما قال الإمام مالك رحمه الله: "شَرُّ العلم الغريبُ، وخيرُ العلم الظاهرُ الذي قد رواه الناس" 1،
Hukum hanya seorang perawi yang meriwayatkan  hadis.( tafarrud )
1.     Ulama hadis  dahulu tidak suka atau benci terhadap riwayat  gharib ( nyeleneh )
Ulama hadis dahulu benci  terhadap  terhadap riwayat – riwayat yang gharib ( nyeleneh )  dan  hadis yang  di riwayatkan   oleh seorang  perawi , lalu di anggap   sebagai  hadis yang  terjelek  sebagaimana  di katakan   oleh Imam Malik rahimahullah: Ilmu  terjelek  adalah  yang gharib  dan  ilmu yang  terbaik adalah  yang tampak yang di riwayatkan oleh manusia. ( banyak ).
Komentarku ( Mahrus ali ):
Mengapa  kisah turun hujan karena atap kuburan Rasulullah shallahu alaihi wasallam dilobangi  itu hanya di riwayatkan satu orang , bukan dua atau  tiga. Tiada  tabiin yang  tahu . Mayoritas sahabat  dan tabiin  tidak paham kisah itu. Bila mereka paham pasti mereka lakukan  seperti apa yang  tertera  dalam kisah itu.
Abdul hay al luknowi berkata:
فكثيراً ما يطلقون النكارة على مجرَّد التَّفرُّد،
Sering kali mereka menyatakan  hadis munkar disebabkan tafarrud saja . ( satu perawi yang meriwayatkan bukan dua atau tiga ).
- كراهية المتقدمين لرواية الغريب:
كان المتقدمون من علماء الحديث يكرهون رواية الغرائب وما تفرد به الرواة، ويعدونه من شَرِّ الحديث، كما قال الإمام مالك رحمه الله: "شَرُّ العلم الغريبُ، وخيرُ العلم الظاهرُ الذي قد رواه الناس" 1،
Hukum hanya seorang perawi yang meriwayatkan  hadis.( tafarrud )
1.  Ulama hadis  dahulu tidak suka atau benci terhadap riwayat  gharib ( nyeleneh )
Ulama hadis dahulu benci  terhadap  terhadap riwayat - riwayat yang gharib ( nyeleneh )  dan  hadis yang  di riwayatkan   oleh seorang  perawi , lalu di anggap   sebagai  hadis yang  terjelek  sebagaimana  di katakan   oleh Imam Malik rahimahullah: Ilmu  terjelek  adalah  yang gharib  dan  ilmu yang  terbaik adalah  yang tampak yang di riwayatkan oleh manusia. ( banyak ).



  ــ  أوس بن عبد الله الربعى ، أبو الجوزاء البصرى ( من ربعة الأزد )

Mengapa tabiin di Medinah  tidak paham kisah hujan turun karena  kuburan Rasulullah shallahu alaihi wasallam terbuka, malah  tabiin dari Basrah yang  tahu. Mestinya tabiin penduduk Medinah lebih tahu dulu. Dan masalah sedemikian ini cepat menyebar, sulit di bendung .Mengapa jarang  orang yang  ngerti  saat itu. Mengapa  di antara tabiin hanya Aus bin Abdillah yang  paham kisah itu.
ولهذا نقول إنه ينبغي لطالب العلم أن ينظر أن من قرائن الإعلال والرد للأحاديث، في تفردات الكوفيين والعراقيين على وجه العموم،
مجلة البحوث الإسلامية

Karena ini, kami katakan: Layak sekali bagi thalib ilm untuk melihat bahwa sebagian tanda cacat dan tertolaknya beberapa hadis adalah tafarrudnya perawi Kufah dan Irak secara umum ( seperti Zahdam – orang Basrah ).
Majalah buhus Islamiyah.


Jadi  kisah itu  dari segi sanad cacat dan dari redaksi hadis  juga  munkar. Bila masih di paksa  untuk di sahihkan, maka  ajaran shalat Istisqa dan berdoa minta hujan  tidak ada faedahnya, buka saja atap kuburan Rasulullah shallahu alaihi wasallam. Dan jangan  di tutup lagi agar  tdak  terjadi kemarau panjang lagi.
Ini hurafat, hadis  tsb  meng ada – ada , bukan realita , lemah tidak sahih, mengagungkan kuburan  dan menyepelekan  ajaran shalat Istisqa. Bila di percaya merusak akal, tidak melurusaknnya di atas akidah yang  baik. Tapi  jadi bengkong akidah.

Muhammad Syafii makanya jangan suka mengutak-atik dalil dg akal antum sendiri,jadi bingung sendiri kaaaan
kumpulkan semua dalil baru dech kita lihat apa pendapat ulama
Komentarku ( Mahrus ali ):
Dalil itu bila di biarkan saja akan berbahaya , tidak membikin selamat. Harus di kaji lagi hadis itu agar  tahu lemahnya. Bila  tidak di utak utik, maka lemahnya dikira sahih lalu dipercaya  begitu saja  dan rusaklah akidah  umat.

Kita bahas    dalil itu satu persatu dan silahkan ambil lagi hadis tawassul bil mauta yang  lain  akan kita tunjukkan  kelemahannya .

Anda menyatakan :
jangan bikin kesimpulan sendiri dalam memahami dalil nanti antum malah bingung sendiri

Komentarku ( Mahrus ali ):
Anda bikin kesimpulan  mengikuti ulama ahli bid`ah  dan syirik malah kacau, bingung  , ilmumu ngambang , bukan ilmu yang  mendasar , dan akidahmu  tergoncang , tidak mantap dengan landasan tauhid pada Allah bukan mengagungkan kuburan .
Karena itu , ambillah kesimpulan yang   cocok dengan  dalil bukan yang  menentangnya. 



Jawabanku untuk Muhammad Syafii ke 3






Muhammad Syafii kalau antum masih ngotot ini saya kasih hujjah lagi:
Dari Aus bin Abdullah;"suatu hari dikota madinah mengalami kemarau panjang,lalu datanglah penduduk madinah ke Aisyah(janda rasulullah) mengadu tentang kesulitan tersebut,lalu aisyah berkata:
"lihatlah kubur nabi muhammad lalu bukalah sehingga tidak lagi atap yg menutupinya dan langit terlihat langsung" lantas mereka pun melakukan itu kemudian turunlah hujan lebat sehingga rumput-rumput tumbuh dan onta gemuk,maka disebutlah itu tahun gemuk (HR.IMAM DARIMI)

kitab musnad as-shahabah menjelaskan status atsar diatas sebagai berikut:"syeikh husein berkata"perawinya adalah orang-orang tsiqah"(MUSNAD AL-SHAHABAH,XIII/76)

coba,apa pendapat antum tentang riwayat diatas?


Komentarku ( Mahrus ali ):
 Asal hadisnya  sbb:
عَنْ أَبِى الْجَوْزَاءِ  أَ ْوسٍ بْنِ عَبْدِ اللهِ قَالَ : قُحِطَ أَهْلُ الْمَدِيْنَةِ قَحْطًا شَدِيْدًا فَشَكَوْا إِلىَ عَائِشَةَ فَقَالَتْ : اُنْظُرُوا قَبْرَ النَّبِيِّ فَاجْعَلُوا مِنْهُ كَوًّا إِلَى السَّمَاءِ حَتىَّ لاَ يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ السَّمَاءِ سَقْفٌ قَالَ : فَفَعَلوُا فَمُطِرُوا مَطَرًا حَتىَّ نَبَتَ اْلعُشْبُ وَسَمِنَتِ اْلإِبِلُ حَتىَّ تَفْتَقِطُ مِنَ السَّحْمِ فَسُمِّيَ عَامَ اْلفَتْقِ ( أَخْرَجَهُ اْلإِمَامُ الدَّارِمِى ج : 1 ص : 43)

Dari Aus bin Abdullah: "Sautu hari kota Madina mengalami kemarau panjang, lalu datanglah penduduk Madina ke Aisyah (janda Rasulullah s.a.w.) mengadu tentang kesulitan tersebut, lalu Aisyah berkata: "Lihatlah kubur Nabi Muhammad s.a.w. lalu bikinlah lobang  sehingga tidak ada lagi atap yang menutupinya dan langit terlihat langsung", maka merekapun melakukan itu kemudian turunlah hujan lebat sehingga rumput-rumput tumbuh dan onta pun gemuk, maka disebutlah itu tahun gemuk" (Riwayat Imam Darimi)

Sepengetahuan saya ,  saya jumpai hadis tsb hanya di sunan Darimi. Saya tidak mendapatkannya di sahih Bukhori , Sahih Muslim , Sunan Tirmidzi , Nasai , Ibnu Majah  , Abu Dawud  maupun Imam Ahmad atau al mustadrak .

Sanadnya sbb:
-         حَدَّثَنَا أَبُو النُّعْمَانِ حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ زَيْدٍ حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ مَالِكٍ النُّكْرِىُّ حَدَّثَنَا أَبُو الْجَوْزَاءِ : أَوْسُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ

Sanadnya menurut darimi sbb:  Bercerita kepada kami Abun Nu`man , bercerita kepada kami  Sa`id bin Zaid , bercerita kepada kami  Amar bin Malik  Annukri , bercerita  kepada kami Abul Jauza` : Aus bin Abdillah berkata :





Hadis tsb menurut al bani  lemah.
Lihat disini:

ضعيف الإسناد موقوف الألباني التوسل 126

لا يصح الألباني أحكام الجنائز 335

إسناده ضعيف الألباني مشكاة المصابيح 5894

Ust. Abd rahman al faqih berkata:Hadis  tsb lemah karena tiga perkara.
هذا سند ضعيف لا تقوم به حجة لأمور ثلاثة:
أولها: أن سعيد بن زيد وهو أخو حماد بن زيد فيه ضعف.
 قال فيه الحافظ في "التقريب": صدوق له أوهام.
وقال الذهبي في "الميزان": (قال يحيى بن سعيد: ضعيف،
 وقال السعدي: ليس بحجة، يضعفون حديثه،
وقال النسائي وغيره: ليس بالقوي،
 وقال أحمد: ليس به بأس، كان يحيى بن سعيد لا يستمرئه).
، ولو صح لم تكن فيهr
Intinya: Perawi bernama  Said bin Zaid lemah menurut Ibnu Hajar, Dzahabi, Sa`di , Nasa`I .
Komentarku ( Mahrus ali ):

وَ قَالَ عَلِىٌّ ابْنُ الْمَدِيْنِى : سَمِعْتُ يَحْيَى بْنَ سَعِيْدٍ يُضَعِّفُ سَعِيْدَ بْنَ زَيْدٍ فِى الْحَدِيْثِ جِدًّا .
Ali bin Al madini berkata: Aku mendengar Yahya bin sa`id sangat melemahkan Sa`id bin zaid dalam hadis   

 وَ قَالَ ابْنُ حِبَّانَ : كَانَ صَدُوْقًا حَافِظًا مِمَّنْ كَانَ يُخْطِىءُ فِى اْلأَخْبَارِ وَ يَهِمُ حَتَّى لاَ يُحْتَجُّ بِهِ إِذَا انْفَرَدَ .

Ibnu Hibban berkata : Sa`id bin zaid suka berhkata benar , hafidzh , juga   sering keliru dalam menyampaikan hadis  hingga tidak bisa di buat hujjah bila sendirian .
وَ قَالَ الدَّارُقُطْنِى : ضَعِيْفٌ . اهـ .
Daroquthni bilang : Dia lemah [1]
Hadis tsb tidak menjelaskan tawassul dengan Rasulullah SAW , juga tiada doa di dalamnya . Ia menjelaskan  suruh buka  atap kuburan , lalu turunlah hujan . Kisah ini mirip dengan hurafat , sulit sekali di pahami . Dengan melobangi atap kuburan Rasulullah SAW lalu hujan turun ? Ber arti  kuburan Rasulullah SAW  yang ber atap itu membikin kenistaan atau kemarau panjang?

Abd rahman al faqih melanjutkan tulisannya lagi:

وثانيهما: أنه موقوف على عائشة وليس بمرفوع إلى النبي  حجة، لأنه يحتمل أن يكون من قبيل الآراء الاجتهادية لبعض الصحابة، مما يخطئون فيه ويصيبون، ولسنا ملزمين بالعمل بها.
Keduanya  hadis tsb adalah mauquf ( bukan Nabi shallahu alaihi wasallam yang  bersabda ) tapi Aisyah dan tidak bisa di buat hujjah. Sebab ia mungkin sekali termasuk ijtihad  sebagian sahabat  yang  mungkin  benar juga mungkin keliru dan kita tidak di wajibkan menjalankannya.


وثالثها: أن أبا النعمان هذا هو محمد بن الفضل، يعرف بعارم، وهو وإن كان ثقة فقد اختلط في آخر عمره.
Ketiga : Sesungguhnya Abu Nu`man  ini adalah Muhammad bin Al Fadhl terkenal  dengan nama Arim. Bila dia perawi terpercaya  maka  dia   kabur hapalannya ketika lansia.

وقد قال شيخ الإسلام ابن تيمية : (وما روي عن عائشة رضي الله عنها من فتح الكوة من قبره إلى السماء، لينزل المطر فليس بصحيح، ولا يثبت إسناده،
Sungguh Syaikhul Islam Ibn Taimiyah menyatakan : Kisah  yang  diriwayatkan dari Aisyah tentang atap kuburan yang di buka / dilobangi   agar hujan turun , tidak sahih, sanadnya  juga tidak valid.

Komentarku ( Mahrus ali ):
Hadis  itu merusak akidah agar berdoa pada Allah ketika terjadi paceklik , dan ia mengajak pengagungan kuburan. Bila  sahih berakibat orang – orang akan membuka atap kuburan para wali ketika terjadi paceklik sebagai kiasan mereka. Saat ini  akidah  mereka bobrok, tidak berdiri atas tauhid yang  murni  tapi tauhid yang  palsu  dan syirik murni, Dari hadis lemah, orang akan terjerumus ke neraka dan tidak bisa masuk ke surga.
Sampai sekarang kuburan Rasulullah shallahu alaihi wasallam tidak di buka ketika terjadi paceklik yang  sangat.
Bersambung ……………



[1] Mausuatuh ruwatil hadis 2312