Tampilkan postingan dengan label Lesbumi NU. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lesbumi NU. Tampilkan semua postingan

Senin, September 09, 2013

Selamatkan NU dari Pengaruh JIL dan SYIAH



selamatkan NU

Syi’ah, di sana Menghujat Sahabat di sini Jualan Ukhuwah
Slogan mengedepankan ukhuwah Islamiyah dan persatuan yang dilontarkan tokoh Syi’ah di Indoneia ditepis oleh pengamat aliran sesat di Indonesia. Ukhuwah Islamiyah yang mana? Mereka (Syi’ah) menghina para sahabat, sedang kita Ahlus Sunnah menghormati para shabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Para kyai NU (Nahdlatul Ulama) pun resah, ada indikasi masuknya paham Syiah di tubuh NU karena adanya amalan kader yang mulai tak selaras dengan NU. Dicontohkan, banyak kader NU yang menganggap pajak sama dengan zakat, padahal esensi keduanya jelas berbeda. “Ini jelas akibat pengaruh pemikir-pemikir Syiah yang pura-pura masuk NU,” tegas M. Zaim Ahmad Ma’soem juru bicara Forum Pengasuh Pondok Pesantren dalam pertemuan di Pondok Pesantren Langitan, Kecamatan Widang, Senin (29/2).
Lebih tegas dari itu dikatakan, NU dengan Syiah tidak bisa bekerjasama, karena bagaikan air dengan minyak.
Masalah slogan ukhuwah dari tokoh Syi’ah yang ditepis oleh pengamat, dan berita tentang NU Tak Ada Tawar Menawar Aqidah dengan Syiah tergambar dalam tulisan yang dimuat di situs hidayatullah.com berikut ini:


Dusta, Himbauan Ukhuwah Islamiyah Kaum Syiah
Tuesday, 06 April 2010 06:01 Nasional

Ahlul Bait Indonesia menyerukan pentingnya persatuan, kebersamaan dan ukhuwah Islamiyah. Tapi itu dinilai hanya kedok oleh pengamat
Pernyataan Ketua Pengarah Acara Silaturahmi Nasional Ahlul Bait Indonesia V yang juga tokoh Syiah Indonesia, Hasan Daliel al Aydrus, yang menyerukan persatuan dan kebersamaan untuk membangun kewibawaan Bangsa Indonesia dan ukhuwah kaum muslimin, dinilai penulis buku buku “Paham dan Aliran Sesat di Indonesia” Hartono Ahmad Jaiz, sebagai pernyataan yang absurd, bohong, dan hanya upaya menyembunyikan kedok. Peneliti soal aliran sesat di Indonesia ini menilai, pernyataan Daliel tersebut merupakan kebohongan dan dusta.
“Jelas ini bohong dan dusta. Ukhuwah Islamiyah yang mana?. Mereka menghina para sahabat. Syiah yang ada di dunia ini imamnya itu jelas, adalah ghulat,” kata Ahmad Jaiz, ketika dimintai keterangannya , Senin (05/04) kemarin.
Syiah Ghulat adalah kelompok Syiah yang berlebihan dalam memuja Sayidina Ali bin Abu Thalib, bahkan menganggapnya sebagai Tuhan dan roh Allah adalah roh Ali.
Kalau memamg akan dilakukan dialog antar Sunni dan Syiah, menurut Ahmad Jaiz, maka sudah pasti kaum syiah akan memilih juru bicara atau tokoh yang sudah dikenal kuat pembelaannya terhadap aliran syiah dan pengusung paham sepilis (sekularisme, pluralisme, dan liberalisme).
“Kalau seperti itu pilihan mereka, berarti mereka sudah percaya diri. Mereka (syiah, red) sudah merasa kuat dengan dukungan dari ulama yang dekat dengan syiah, seperti Said Aqil Siradj dan Gusdur,” sebut Ahmad Jaiz.
Menurut Ahmad Jaiz, kekeliruan Daliel adalah pernyataannya yang sangat mengagung-agungkan persatuan dan ukhuwah ummat Islam di atas segala-galanya, padahal aqidah tidak mungkin bersatu.
“Di Iran pusat Syiah sendiri, tidak ada masjid sunni yang bisa berdiri. Padahal gereja, sinagog tetap dibiarkan berdiri. Ulama-ulama sunni dibunuhi. Madrasah dihancurkan. Persatuan apa yang mau ditegakkan?. Ukhuwah yang mana kalau seperti ini?,” lanjutnya.
Sehingga, tegas Ahmad Jaiz, seruan silatnas Ahlul Bait Indonesia yang menyerukan persatuan dan kebersamaan untuk membangun kewibawaan bangsa Indonesia dan ukhuwah kaum muslimin, adalah kebohongan yang besar.
Lebih jauh, Hartono mengumpamakan kaum Syiah dengan seorang dukun. “Siapa yang tau seorang dukun yang musyrik bisa lolos naik haji. Begitupun kaum syiah,” jelas Ahmad Jaiz.
Ahmad Jaiz mewanti-wanti kepada kaum muslimin untuk mawas diri dengan segala bentuk aliran sesat dan sempalan-sempalan Islam yang ada saat ini, termasuk aliran syiah. Sebab kata dia, gerakan semacam itu akan semakin gencar dalam setiap aksinya dengan cara bergabung kepada gerakan sepilis dan kebebasan berkeyakinan.
“Ummat Islam harus waspada dan mawas diri, sebab mereka akan bergabung dengan sepilis dan gerakan kebebasan berkeyakinan,” ujarnya.
Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Ketua Pengarah Acara Silaturahmi Nasional Ahlul Bait Indonesia V yang juga tokoh Syiah Indonesia, Hasan Daliel al Aydrus, menyatakan, pihaknya siap duduk bersama satu meja dengan kalangan Ahlussunnah dalam mendialogkan masalah Sunni dan Syiah di Indonesia dengan dimediasi oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI).
Acara silatnas Ahlul Bait Indonesia tersebut juga menyerukan pentingnya kebersamaan dan persatuan untuk membangun kewibawaan Bangsa Indonesia dan kaum muslimin.
Silaturahmi Nasional Ahlul Bait Indonesia ke V ini digelar di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta. Acara yang berlangsung selama 3 hari pada tanggal 02 hingga 04 April 2010 itu ikut dihadiri Ketua Mahkamah Konstitusi Machfud MD, mantan Kepala BIN, A.M.Hendropriyono, Menteri Kehutanan Zulkfli Hasan, pendiri penerbit Mizan, Haidar Bagir, sejumlah ustadz Syi’ah Ahlul Bait Indonesia, Hasan Dalil Alaydrus, Omar Othman Shihab, serta Direktur Islamic Cultural Center (pusat kebudayaan Iran), Mohsen Hakimollahi.
Acara dihari 250-an orang dari berbagai yayasan dan mejelis taklim ahlul bait dari Aceh hingga Papua.
***
Bagi NU, Tak Ada Tawar Menawar Aqidah dengan Syiah
Bagi Nahdhatul Ulama (NU), untuk urusan akidah, tak ada lagi tawar menawar dengan Syiah
Kewaspadaan Nahdlatul Ulama (NU) terhadap kaum Syiah nampaknya tak terbendung. Senin lalu, dalam pertemuan ratusan ulama NU yang tergabung dalam Forum Pengasuh Pondok Pesantren bertemu di Pondok Pesantren Langitan, Kecamatan Widang, Senin (29/2), pembicaraan masalah Syiah diungkap kembali. Menurut para ulama, ajaran Syi’ah bahkan sudah merasuk dalam tubuh NU.
Menurut M. Zaim Ahmad Ma’soem, juru bicara forum mengatakan, indikasi masuknya paham Syiah di tubuh NU karena adanya amalan kader yang mulai tak selaras dengan NU. Dia mencontohkan, banyak kader NU yang menganggap pajak sama dengan zakat, padahal esensi keduanya jelas berbeda. “Ini jelas akibat pengaruh pemikir-pemikir Syiah yang pura-pura masuk NU,” tegas Ma’soem.
“Racun” lain yang tidak kalah mengkhawatirkannya, lanjut Ma’soem, adalah pluralisme dan liberalisme yang diusung Ulil Abshar Abdala dengan bendera Islam Liberalnya.
Kewaspadaan masalah ini dibenarkan oleh Ketua PWNU Jatim KH Moch. Hasan Mutawakkil ’Alallah. Menurut Pengasuh Pesantren Zainul Hasan, Genggong, ini, sikap waspada para kiai NU itu dikarenakan mereka (ulama NU, red) ingin membentengi organisasi NU agar tak kemasukan paham Syiah.
“NU sebagai ormas sosial punya kewajiban menjaga pemahaman aqidah ahlussunnah wal jamaah. Jika kiai-kiai itu bersemangat, tak lain untuk memproteksi dan menjaga aqidah,” ujarnya
Menurut Mutawakkil, ancaman Syiah di Indonesia tak hanya pada masalah aqidah, namun juga sudah mulai pada tingkat politik kenegaraan.
“Jika urusan politik kenegaraan, NU bisa elastis, namun jika sudah menyangkut aqidah, itu sudah tak bisa ditawar, “ tambahnya.
Menurut Mutawakkil, sebenarnya, kewaspadaan NU tak hanya pada Syiah, juga paham transnasional yang dibawa kaum liberal ke Indonesia.
“Liberal itu menafsirkan ayat-ayat Allah sesuai dengan kehendak hatinya. Inti ajarannya, ia ingin menjadikan agama ini sebagai budaya. Ia mencontohkan kasus di Barat, di mana kaum gereja tak berdaya menghadapi serangan liberal sehingga memunculkan tren perkawinan sejenis, baik di kalangan gay atau penganut lesbian.
Sebelum ini, Habib Achmad Zein Alkaf, anggota Komisi Fatwa MUI Jatim yang juga anggota Syuriah PWNU Jatim telah menulis “Export Revolusi Syiah ke Indonesia”. Sebelumnya, ia menyampaikan, penerbitan buku itu dilakukan guna menghadapi Muktamar NU di Makassar.
“Jelang Muktamar NU ke-32 di Makasar, kami minta warga NU jangan memilih pemimpin yang berafiliasi dengan Syiah. NU dengan Syiah tidak bisa bekerjasama, karena bagaikan air dengan minyak,” ujarnya.
Sekalipun sudah ada upaya dari para kyai NU untuk membendung Syi’ah sebelum Muktamar NU ke-32 di Makassar 23-28 Maret 2010, namun justru yang terpilih sebagai ketua umum NU dalam muktamar itu adalah sosok yang sudah dikenal sebagai pembela Syi’ah. Bagaimana perjalanan NU ke depan dengan dipimpin oleh Ketua Umumnya Said Aqil Siradj, yang sejak ada seminar nasional yang menyoroti sesatnya Syiah 1997, Said Aqil Siraj telah pasang badan untuk membela Syi’ah? Sementara itu suara kyai-kyai NU yang masih sayang-sayang terhadap aqidah tampak sebegitu tak ada tawar menawar dengan Syi’ah. Yang jelas, ini semua adalah urusan Ummat Islam pada umumnya, bukan hanya urusan NU, dalam hal menghadapi bahaya kesesatan Syi’ah ini.

Selasa, Juni 25, 2013

Apa Hubungan Tarekat, Theosofi Yahudi, dan NU dalam Mendukung Penjajah dan Menghadapi Islam?



Nukitab Salafiwahabi mengirimkan sesuatu di DUKUNG USTADZ H. MAHRUS ALI DKK

Apa Hubungan Tarekat, Theosofi Yahudi, dan NU...
         

Nukitab Salafiwahabi
         

26 Juni 0:53

Apa Hubungan Tarekat, Theosofi Yahudi, dan NU dalam Mendukung Penjajah dan Menghadapi Islam?
blavatsky-theosophy
nu
Akhir-akhir ini semakin berani adanya kelompok tertentu yang menyelisihi Ummat Islam pada umumnya dalam mengawali puasa Ramadhan dan Idul Fithri. Seolah bahkan unjuk gigi. Di antara yang jelas-jelas menyelisihi itu adalah kelompok Tarekat Naqsabandiyah Sumatera Barat. Ramadhan 1432 H/ 2011, mereka mendahului keputusan pemerintah dua hari. Sehingga mereka telah memulai puasa Ramadhan hari Sabtu 30 Juli 2011, padahal keputusan pemerintah Indonesia bahkan Saudi Arabia dan lain-lain awal Ramadhan 1432 H adalah hari Senin 1 Agustus 2011.
Secara petunjuk dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, mengawali puasa dan berhari raya Idul Fithri itu adalah dengan melihat hilal (bulan sabit tanda tanggal satu), atau kalau tertutup awan (tidak terlihat) maka bulannya disempurnakan 30 hari. Di samping itu, mengawali puasa Ramadhan dan berhari raya itu sesuai dengan keadaan masyarakat, awal puasa pada saat mereka mengawali puasa, dan berhari raya saat mereka berhari raya.
صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ ، وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ
“Berpuasalah karena melihat hilal, begitu pula berhari rayalah karena melihatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ وَانْسُكُوا لَهَا فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا ثَلَاثِينَ فَإِنْ شَهِدَ شَاهِدَانِ فَصُومُوا وَأَفْطِرُوا
“Berpuasalah kalian karena melihatnya, berbukalah (berhari raya Fithri lah) kalian karena melihatnya dan sembelihlah kurban karena melihatnya pula. Jika -hilal- itu tertutup dari pandangan kalian, sempurnakanlah menjadi tiga puluh hari, jika ada dua orang saksi, berpuasa dan berbukalah kalian.”( HR. An Nasai no. 2116. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)
Dalam hadits ini dipersyaratkan dua orang saksi ketika melihat hilal Ramadhan dan Syawal. Namun untuk hilal Ramadhan cukup dengan satu saksi karena hadits ini dikhususkan dengan hadits Ibnu ‘Umar yang telah lewat. (Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 2/ 92).
Di samping itu ada sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُومُونَ وَالْفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُونَ وَالأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّونَ
“Puasa kalian ditetapkan tatkala mayoritas kalian berpuasa, idul fithri ditetapkan tatkala mayoritas kalian beridul fithri, dan idul adha ditetapkan tatkala mayoritas kalian beridul adha.” ( HR. Tirmidzi no. 697. Beliau mengatakan hadits ini hasan ghorib. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih). Ketika menyebutkan hadits tersebut, Abu Isa At Tirmidzi rahimahullah menyatakan, ”Sebagian ulama menafsirkan hadits ini dengan mengatakan, “Puasa dan hari raya hendaknya dilakukan bersama jama’ah (yaitu pemerintah kaum muslimin) dan mayoritas manusia (masyarakat)”. ” (lihat http://muslim.or.id/ramadhan/menentukan-awal-ramadhan-dengan-hilal-dan-hisab.html, atau lihat http://nahimunkar.com/pemerintah-putuskan-awal-puasa-ramadhan-1432h-senin-1-agustus-2011/)
Berita tentang pengumuman pemerintah mengenai awal Ramadhan 1432H dan penyelisihan kelompok Tarekat Naqsabandiyah Sumatera Barat sebagai berikut:
Pemerintah akhirnya memutuskan awal puasa Ramadhan 1432H jatuh pada Senin, 1 Agustus 2011. Keputusan ini diambil dalam siding itsbat di Kementerian Agama, yang dipimpin Menteri Agama, Suryadharma Ali, Ahad, 31 Agustus 2011. Dari 38 lokasi yang tersebar di seluruh Indonesia, tiga lokasi melihat penampakan hilal yaitu di Makassar, Gresik, dan Bangkalan.
Permulaan puasa 1 Agustus juga akan berlaku di Kuwait, Qatar, Uni Emirat Arab, dan Yaman. Di Indonesia, permulaan puasa Ramadan juga akan berlangsung 1 Agustus.
Sementara itu, sejumlah umat Islam dari pengikut Tarekat Naqsabandiyah Islam tradisional di Sumatera Barat sudah mulai puasa sejak Sabtu, 30 Juli 2011. Pimpinan jemaah Naqsabandiyah untuk Musala Baitul Makmur di Pasar Baru, Kecamatan Pauh, Kota Padang, Syafri Malin Mudo, mengatakan berdasarkan hisab ajaran Naqsabandiyah penetapan awal Ramadan, Idul Fitri, dan Idul Adha selalu lebih awal 2 hari dari versi pemerintah.
“Hal itu didasarkan pada metode hisab Munjid yang digunakan Tarekat Naqsabandiyah yang berasal dari Mekkah, Arab Saudi. Berdasarkan kalender kami, 1 Ramadan 1432 Hijriah jatuh hari Sabtu 30 Juli 2011,” kata Syafri, Minggu 30 Juli 2011.
Masjid pengikut ajaran ini juga terdapat di sejumlah kota dan kabupaten lain di Sumatera Barat. Pengikut Naqsabandiyah di Kota Padang lebih dari 3.000 orang, sedangkan di Sumatera Barat sekitar 8.000 orang.
TEMPO Interaktif, MINGGU, 31 JULI 2011 | 18:43 WIB (http://nahimunkar.com/pemerintah-putuskan-awal-puasa-ramadhan-1432h-senin-1-agustus-2011/)
Pantas dipertanyakan, apa latar belakang Tarekat Naqsabandiyah menyelisihi pelaksanaan awal Ramadhan, dan juga biasanya menyelisihi dalam berhari raya Idul Fithri itu? Karena sebenarnya dalam Islam sudah ada petunjuk dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bagaimana tatacara untuk mengawali puasa Ramadhan, dan menentukan hari raya, seperti tercantum dalam hadits-hadits shahih yang telah dijelaskan oleh para ulama tersebut. Sedangkan Islam ini ketika sudah ada petunjuk dari Allah dan Rasul-Nya, maka tidak ada pilihan yang lain-lain lagi. Dalilnya firman Allah Ta’ala:


وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا [الأحزاب/36]
Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata. (Qs al-Ahzab 33:36).


Jadi sebenarnya, ada apa di balik Tarekat Naqsabandiyah Sumatera Barat?
Mari kita lihat kaitannya dengan gerakan kebatinan Yahudi yakni Theosofi dan juga gerakan kaum Adat di Sumatera Barat. Inilah uraiannya, sebuah tulisan dari pengamat tentang Yahudi, Artawijaya:
Gerakan Theosofi dan Kaum Adat di Minangkabau
Datuk-Sutan-Maharadja
Datuk Sutan Maharadja, tokoh adat, penganut tarekat, penganut Theosofi Yahudi, penentang kelompok Islam
Theosofi adalah perkumpulan sinkretisme yang kemudian banyak melahirkan istilah-istilah baru, seperti agama kemanusiaan, agama budi, agama kemerdekaan, agama universal dan lain-lain.
Theosofi adalah organisasi kebatinan yang didirikan oleh para Yahudi dan aktivis Freemasonry, yaitu: Helena Petrovna Blvatsky, Henry Steel Olcott, William Quan Judge, Dr Annie Besant, dan Charles Webster Leadbeater. Mereka adalah orang-orang yang bergiat dalam diskusi-diskusi mengenai okultisme, ancient wisdom (kearifan kuno), dan doktrin-doktrin kabbalah. Mereka kemudian mendirikan the Theosophical Society (Masyarakat Theosofi) pada tahun 1875 di New York, Amerika Serikat.
Apa itu organisasi Theosofi? Dalam situs www.theosofi-indonesia.com, dijelaskan, “Theosofi adalah sebuah badan kebenaran yang merupakan dasar dari semua agama, yang tidak dapat dimiliki dan dimonopoli oleh agama atau kepercayaan manapun. Theosofi menawarkan sebuah filsafat yang membuat kehidupan menjadi dapat dimengerti, dan Theosofi menunjukkan bahwa keadilan dan cinta-kasihlah yang membimbing evolusi kehidupan.”
Dari penjelasan di atas, maka bisa disimpulkan bahwa, Theosofi menganggap bahwa kebenaran adalah dasar semua agama yang tidak bisa dimonopoli oleh agama atau kepercayaan apapun. Dengan kata lain, tidak boleh ada satu agama manapun yang merasa keyakinannya paling benar. Semua agama, selama membawa kebenaran dan kebaikan, menurut Theosofi pada hakikatnya sama. Kebenaran yang dimaksud oleh Theosofi adalah kesatuan hidup menuju pada Yang Satu, sedangkan kebaikan adalah wujud dari pengabdian kepada kemanusiaan. Theosofi berkeyakinan, “There is no religion higher than truth” (Tidak ada agama yang lebih tinggi daripada kebenaran). (http://www.suara-islam.com/news/kajian-dan-dakwah/freemasonry/2335-doktrin-pluralisme-agama-jil-dan-theosofi-bag2)
***
Penganut Theosofi di Minangkabau menolak penegakkan syariat yang dianggap ancaman terhadap adat istiadat Minangkabau. Padahal syariat yang ingin ditegakkan ketika itu hanyalah ingin menghapus adat istiadat yang bertentangan dengan akidah Islam.
Gerakan Theosofi tak hanya ada di Tanah Jawa. Di Minangkabau, Sumatera Barat, organisasi kebatinan Yahudi ini juga memiliki banyak pengikut. Terutama mereka yang dididik di sekolah-sekolah milik pemerintah kolonial, elit setempat yang memiliki kedekatan dengan Belanda, dan para penganut tarekat. Para penganut tarekat menganggap Theosofi sama dengan tasawuf, sebagaimana anggapan ini juga pernah hinggap pada Haji Agoes Salim yang sempat menjadi anggota Theosofi dan kemudian keluar dari keanggotaan setelah mengetahui tujuan sesungguhnya dari Theosofi yang tidak sejalan dengan Islam. Haji Agoes Salim bahkan pernah menerjemahkan buku berjudul “Kitab Theosofi” yang ditulis oleh tokoh Theosofi dunia, Charles Webster Leadbeater.
Sebagaimana di Tanah Jawa, penganut Theosofi di Minangkabau juga memiliki kedekatan dengan pemerintah Belanda. Mereka juga terlibat dalam permusuhan dengan kelompok Islam, utamanya mereka yang menginginkan ajaran Islam bersih dari unsur-unsur tradisi dan adat istiadat yang bukan berasal dari Islam atau yang bertentangan dengan Islam. Di Sumatera Barat, tokoh kaum adat yang menginginkan tradisi tetap berada di atas (mengungguli?, red nm) hukum syariat, adalah mereka yang tercatat sebagai penganut organisasi Theosofi. Sedangkan mereka yang menginginkan tradisi Minangkabau bersih dari unsur-unsur bid’ah, khurafat, dan takhayul yang berasal dari tradisi di luar Islam, disebut sebagai kaum muda Islam. Namun, kaum adat menyebut mereka yang ingin mengadakan pemurnian ajaran Islam ini dengan sebutan “Kelompok Paderi” atau “penganut Wahabi”.
Dalam sejarah tercatat, mereka yang dituduh sebagai pewaris gerakan Paderi dan pembawa paham Wahabi, serta penentang kelompok adat adalah Syekh Abdul Karim Amrullah (ayah dari Buya Hamka), Haji Miskin, Haji Abdullah Ahmad, Syekh Djamil Djambek, dan Syekh Achmad Khatib. Mereka sendiri tidak pernah menyebut dirinya sebagai kelompok Wahabi dan tak pernah juga menyatakan dirinya sebagai pewaris gerakan Paderi. Semua label itu diberikan oleh kaum adat, yang pada masa lalu khawatir bahwa adat istiadat, tradisi dan budaya Minangkabau tergerus dengan syariat Islam. Namun begitu, kelompok yang dituduh sebagai penganut Wahabi berhasil menjadikan Minangkabau sebagai wilayah yang kental dengan nuansa syariat Islam, dengan semboyannya yang terkenal hingga kini: Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah!
Siapa tokoh penganut Theosofi di Sumatera Barat? Diantara tokoh kaum adat yang juga penganut Theosofi adalah Datuk Sutan Maharadja. Selain penganut Theosofi, Sutan Maharadja juga dikabarkan sebagai penganut Tarekat Martabat Tujuh. Datuk Sutan Maharadja yang bernama asli Mahyudin lahir pada 27 November 1862 di daerah Sulit Air, Solok, Sumatera Barat. Ia menamatkan pendidikan di Europeesche Lagere School (ELS),sekolah elit yang kebanyakan muridnya anak-anak tuan-tuan Belanda. Sutan Maharadja bisa mengenyam pendidikan di sekolah tersebut karena kedekatan ayahnya dengan pemerintah kolonial. Seperti keterangan sejarawan Deliar Noer, Sutan Maharadja dikenal sengit dalam menentang kelompok Islam.
Ayah Sutan Maharadja bernama Datuk Bandaro. Sosok sang ayah dikenal sangat memusushi ulama dan menjunjung tinggi adat istiadat. Datuk Bandaro mengkhawatirkan sepak terjang para ulama yang berusaha memurnikan ajaran Islam dari tradisi dan adat istiadat di luar Islam, sebagai pewaris gerakan Paderi atau penganut Wahabi yang ingin menghapuskan adat dan tradisi Minangkabau. Padahal, apa yang dilakukan para ulama ketika itu, sekadar membersihkan Minangkabau dari adat dan tradisi yang bertentangan dengan Islam. Para ulama ketika itu dengan tegas menyatakan bahwa Islam yang merupakan jati diri rakyat Minangkabau harus bersih dari adat dan tradisi yang tidak sesuai dengan ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam.
Datuk Sutan Maharadja terinspirasi dengan Gerakan Turki Muda (Young Turk Movement) yang dipelopori oleh seorang Yahudi Dunamah anggota Freemason, Mustafa Kemal At-Taturk. Karena terinspirasi dengan revolusi yang terjadi di Turki, Sutan Maharadja kemudian mendirikan kelompok kaum adat dengan tujuan menjaga kelestarian adat istiadat Minangkabau dan menjauhkannya dari pengaruh Kesultanan Aceh, yang pada masa lalu sangat menjalin erat dengan Khilafah Utsmaniyah di Turki. Oleh para pendukungnya, Sutan Maharadja kemudian mendapat gelar “Datuk Bangkit” karena usahanya untuk membangkitkan kembali adat istiadat Aceh, yang menurutnya pada masa lalu sudah tercemar oleh pengaruh kesultanan Aceh.
Datuk Sutan Maharadja selalu menyatakan dirinya sebagai penganut Theosofi. Ia juga menegaskan pentingnya pendidikan Barat dan perlunya menjaga keteguhan adat istiadat Minangkabau dari pengaruh luar, khususnya Aceh yang berjuluk “Serambi Makkah.” Untuk melawan gerakan kaum muda yang ia sebut sebagai pewaris “Kelompok Paderi dan Wahabi” ia dan beberapa bangsawan Minangkabau kemudian mendirikan Sarikat Adat Alam Minangkabau (SAAM) pada 1916.
Untuk menyampaikan gagasan-gagasan dan mengkonter pemahaman yang ia sebut sebagai “Wahabi”, Sutan Maharadja kemudian mendirikan Surat Kabar Oetoesan Melayoe pada 1911. Dalam slogannya, surat kabar ini menulis, “Tegoehlah Setia Perserikatan Hati Antara Anak Bangsa Anak Negeri dengan Orang Wolanda (Belanda, red)”. Dengan slogan ini, jelaslah bahwa Oetoesan Melayoe sangat pro terhadap pemerintah kolonial Belanda, dan dalam artikel-artikelnya juga sangat jelas mendukung pemerintah Hindia Belanda.
Sutan Maharadja menyerang kelompok kaum muda lewat tulisan-tulisannya di surat kabar yang ia pimpin. Ia dengan tegas menolak upaya kaum muda dengan ajaran-ajaran syariatnya yang ingin menghapus adat dan tradisi Minangkabau. Pertentangan ini sampai membuat Haji Abdullah Ahmad, tokoh Islam yang disebut Wahabi oleh Sutan Maharadja, menyebut kelompok kaum adat, terutama Sutan Maharadja sendiri, “Tak tentu agamanya dan tak tentu adatnya.”
Selain Sutan Maharadja, tokoh kelompok Sarikat Alam Adat Minangkabau (SAAM) yang menjadi anggota Theosofi adalah Abdul Karim. Selain menolak penegakkan syariat Islam, pada masa lalu SAAM juga menolak pelajaran Islam masuk dalam sekolah-sekolah di Minangkabau. Mereka khawatir, pelajaran agama Islam yang masuk ke sekolah-sekolah adalah pelajaran yang mengadopsi pemahaman Wahabi yang bisa menjadi ancaman bagi adat istiadat masyarakat Minangkabau.
Untuk menolak pelajaran agama Islam di sekolah-sekolah, kaum adat kemudian membuat artikel di Surat Kabar Oetoesan Melayoe pada 28 Oktober 1918. Mereka menulis,”Relakah orang-orang Theosofi seperti Engku A Karim dan lain-lain bila anak kemenakan beliau itu akan dapat pelajaran agama Islam di sekolah, yaitu kalau yang diajarkan agama Islam itu hanya fekah (fikih) atau hukum syara’ saja? Kecuali kalau yang akan diajarkan di sekolah itu ialah pelajaran yang perbaikan hati, pensucian hati, supaya berhati suci dan berhati mulia. Sedang sekolah-sekolah agama Islam yang diadakan sekarang kalau cuma namanya saja yang sekolah agama Islam, padahal yang diajarkan melainkan hukum syara’ atau fikih saja. Pendeknya, yang diajarkan adalah Arabich Cultuur (Kultur Arab).”
Selain memuat penolakan terhadap pelajaran agama Islam di sekolah-sekolah, kaum adat yang dimotori oleh Sutan Maharadja juga membuat fitnah dengan mengatakan bahwa sekolah Adabiah yang dikelola oleh Haji Abdullah Ahmad memungut biaya yang sangat mahal kepada anak-anak didiknya. Kemudian, dengan bahasa yang sangat menjilat kaum adat meminta kepada pemerintah Belanda untuk membangun sekolah HIS (Holland Inlands School) lainnya di Minangkabau.
Pada masa lalu, di Minangkabau kelompok yang disebut pewaris Kelompok Paderi dan penganut paham Wahabi memang menolak keberadaan Theosofi dan kelompok-kelompok tarekat lainnya yang dianggap berseberangan dengan akidah Islam. Untuk membantah kelompok kaum muda yang disebut Wahabi, Sutan Maharadja kemudian membuat sebuah tulisan di Oetoesan Melayoe pada 11 Juni 1917 dengan judul “Theosofie dan SAAM (Sarikat Alam Adat Minangkabau”. Ia menulis, “…sepanjang kata murid Haji Abdullah Ahmad itu, Theosofi dikatakan sebagai agama baru. Dikatakan agama baru oleh murid Haji Abdullah Ahmad, karena pada gurunya tak ada ilmu tasauf dan tidaklah ia tahu bahwa ilmu tasauf itu bukanlah agama baru, melainkan sudah sejak dari zaman Nabi Adam. Theo itu artinya “Allah”. Sofie itu artinya ilmu. Jadi Theosofie itu ilmu Allah, ma’rifatullah…” demikian tulis Sutan Maharadja.
Benarkah Theosofi itu tasauf dan ilmu mengenal Allah? Dalam buku The Key to Theosophy, Blavatsky mengatakan, Theosofi adalah the wisdom religion (agama kebijaksanaan) yang berusaha mempersatukan agama-agama dalam sebuah “Kesatuan Hidup” yang selaras dengan nilai-nilai kemanusiaan. Tujuan Theosofi, kata Blavatsky, sama dengan apa yang dilakukan oleh seorang Yahudi bernama Ammonius Saccas, yang berusaha mengajak para gentiles/goyim (non Yahudi), para pemeluk Kristen, pemuja dewa-dewa, untuk mengenyampingkan tuntutan mereka dengan mengingat bahwa mereka memiliki kebenaran yang sama. Agama menurutnya, adalah tunas-tunas dari batang pohon yang sama, yaitu the wisdom religion.
Theosofi mempunyai misi menyatukan agama-agama dalam sebuah puncak persaudaraan universal, yang pada ujungnya justru menihilkan sama sekali agama-agama yang ada. Karena, masing-masing orang tidak boleh merasa agamanya yang paling benar, dan masing-masing orang harus mengakui bahwa semua agama sama, menuju pada yang sama, dan mengabdi pada kemanusiaan. Theosofi adalah perkumpulan sinkretisme yang kemudian banyak melahirkan istilah-istilah baru, seperti agama kemanusiaan, agama budi, agama kemerdekaan, agama universal dan lain-lain. Dan, atas nama “menjaga kearifan lokal masa lalu” kelompok Theosofi pada masa lalu juga berusaha menjadikan nilai-nilai tradisi berada di atas agama. Jadi, agama tak boleh mengalahkan tradisi. Inilah yang juga menjadi sikap Datuk Sutan Maharadja, yang berusaha mati-matian untuk menjaga agar adat istiadat dan tradisi tak terhapus oleh ajaran-ajaran yang dibawa oleh syara’.
Jika Sutan Maharadja memang anggota Theosofi sejati, tentu ia sangat tahu siapa saja pendiri Theosofi, apa latarbelakangnya, dan bagaimana ajaran-ajarannya. Jika ia sudah tahu tapi masih menjadi penganut Theosofi, maka bisa dipastikan ia tak lain adalah kepanjangan tangan pemerintah kolonial, yang pada masa lalu banyak dari elit-elitnya adalah anggota Theosofi dan Freemason. Sebagai aliran kebatinan Yahudi yang memiliki banyak pemahaman sesat seperti pluralisme agama, kesatuan wujud hamba dengan Tuhan (manunggaling kawula gusti), kesatuan Tuhan bagi semua agama-agama yang ada, tentu Theosofi sangat berbahaya bagi masyarakat Minangkabau yang begitu berurat berakar dengan jatidiri keIslamannya.
Artawijaya
Penulis buku “Gerakan Theosofi di Indonesia” dan “Jaringan Yahudi Internasional di Nusantara” Pustaka Al-Kautsar, Jakarta
http://suara-islam.com/, Wednesday, 03 August 2011 15:11 | Written by Shodiq Ramadhan |
Mendukung Penjajah Belanda, Memusuhi Islam
Butir-butir yang penting dalam uraian tersebut di antaranya:
Gerakan Theosofi tak hanya ada di Tanah Jawa. Di Minangkabau, Sumatera Barat, organisasi kebatinan Yahudi ini juga memiliki banyak pengikut. Terutama mereka yang dididik di sekolah-sekolah milik pemerintah kolonial, elit setempat yang memiliki kedekatan dengan Belanda, dan para penganut tarekat. Para penganut tarekat menganggap Theosofi sama dengan tasawuf…
Sebagaimana di Tanah Jawa, penganut Theosofi di Minangkabau juga memiliki kedekatan dengan pemerintah Belanda. Mereka juga terlibat dalam permusuhan dengan kelompok Islam, utamanya mereka yang menginginkan ajaran Islam bersih dari unsur-unsur tradisi dan adat istiadat yang bukan berasal dari Islam atau yang bertentangan dengan Islam.
Untuk menyampaikan gagasan-gagasan dan mengkonter pemahaman yang ia sebut sebagai “Wahabi”, Sutan Maharadja kemudian mendirikan Surat Kabar Oetoesan Melayoe pada 1911. Dalam slogannya, surat kabar ini menulis, “Tegoehlah Setia Perserikatan Hati Antara Anak Bangsa Anak Negeri dengan Orang Wolanda (Belanda, red)”. Dengan slogan ini, jelaslah bahwa Oetoesan Melayoe sangat pro terhadap pemerintah kolonial Belanda, dan dalam artikel-artikelnya juga sangat jelas mendukung pemerintah Hindia Belanda.
Dalam kenyataan, faham tarekat yang terbukti dalam sejarah di antara orang-orangnya mendukung penjajah Belanda, justru faham tarekat itu diwadahi secara resmi dalam NU (Nahdlatul Ulama). Secara sejarah pula, NU tidak diragukan pula kedekatannya dengan penjajah Belanda, disamping memelihara keyakinan batil yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah sampai hal-hal yang berkaitan dengan kerjasama dengan jin atau syetan, di antaranya ilmu kebal.
Beritanya sebagai berikut:
Astagfirullah!! Densus NU Diwajibkan Puasa 40 Hari Supaya Sakti Kebal Petasan
19 JULY 2011
Pada peringatan Harlah NU ke-85 diprolamirkan Densus 99 Banser NU untuk menangkal teror bom. Para personelnya diwajibkan puasa 30-40 hari untuk mendapatkan kesaktian ilmu kebal petasan.
Bertepatan dengan Harlah Nahdlatul Ulama (NU) ke-85, Gerakan Pemuda Ansor memproklamirkan Detasemen Khusus 99 Banser Nahdlatul Ulama (Densus 99 Banser NU) untuk mengabdikan diri terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dalam mencegah aksi terorisme.
Ketua Umum GP Ansor, Nusron Wahid menyatakan Densus 99 terdiri dari 204 personil yang memiliki kemampuan ilmu kebal dan seni bela diri mumpuni. Selain ilmu kebal, detasemen yang dikomandani Gus Nuruzzaman ini juga dibekali keahlian menjinakkan bom. (http://nahimunkar.com/astagfirullah-densus-nu-diwajibkan-puasa-40-hari-supaya-sakti-kebal-petasan/)
Kembali kepada masalah apa hubungan tarekat dengan NU dan penjajah, disamping memadahi tarekat, masih pula NU dalam sejarahnya ada catatan tentang dukungan NU terhadap penjajah Belanda. Inilah sorotannya.
Kongres NU 1927 Menjunjung Sepuluh Jari Pemerintah Belanda
Untuk mengetahui sebagian kiprah NU terutama yang belum tentu menguntungkan Islam bahkan kadang jauh dari Islam yang benar, dapat disimak tulisan berikut ini:
…yang menyandang sikap yang kadang tidak menguntungkan Islam, sehingga sikapnya itu gampang cocok dengan musuh Islam justru dilakukan pula oleh jum’iyyah terbesar di Indonesia yakni NU.
Makanya bagi yang faham akan watak NU (Nahdlatul Ulama), tidak begitu kaget ketika kini di Indonesia sudah disiapkan kader NU warisan Gus Dur yang diplot untuk membangun sebuah jejaring politik dan bisnis Yahudi di Indonesia.
Memangnya kenapa tidak begitu kaget?
Ya, coba buka sejarah atau buku-buku tentang dosa-dosa NU, atau buku Bila Kyai Dipertuhankan Membedah Sikap Beragama NU karya Hartono Ahmad Jaiz. Di sana telah tertera dalam sejarah secara jelas dan gamblang watak NU. Mari kita simak kutipan ini:
Kadang-kadang NU disifatkan orang sebagai suatu partai yang secara khas biasa mendukung setiap pemerintahan yang ada. Karena kesediaannya setiap waktu memasuki kabinet apapun, partai ini juga sering dituduh sebagai berpaham petualang. “Para pemimpin NU adalah tipe “solidarity maker”, pembangun lambang-lambang, baik lambang tradisional maupun lambang kebangsaan”. Namun warna dan suasana NU jelas tetap bersifat konservatif sewaktu ia menjadi partai politik. Partai memberi kesan dikuasai oleh para kiai dan ulama. Menurut Herbert Feith, “Tidak seorang pun terdapat dalam kalangan kepemimpinan NU ini yang memiliki kemahiran yang diperlukan dalam negara modern.” (BJ Boland,Pergumulan Islam di Indonesia, terjemahan, Grafiti Pers, Jakarta, cetakan pertama 1985, halaman 55, mengutip Feith, The declien, h 234).
Catatan sejarah tentang NU bisa disimak pula, untuk menjelaskan komentar tersebut di atas, sebagai berikut:
“Arsip kolonial dengan kode 261/X/28.
Isi arsip melaporkan kongres NU di Surabaya 13 Oktober 1927 yang penuh dengan pidato-pidato yang menjunjung pemerintah Belanda sebagai pemerintah yang adil, cocok dengan Islam, dan patut dijunjungsepuluh jari. Sementara itu tokoh Islam yang menantang Belanda, menurut laporan itu, dicaci maki dan pantas dibuang ke Digul.” (Majalah Tempo, Jakarta, 26 Desember 1987, seperti dikutip KH Firdaus AN,Dosa-dosa Politik, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, cetakan pertama, 1999, halaman 52, lihat buku Hartono Ahmad Jaiz dan Abduh Zulfidar Akaha, Bila Kyai Dipertuhankan, Membedah Sikap Beragama NU).
(Hartono Ahmad Jaiz, Keserakahan Yahudi, Nasrani, dan Gengnya, WIP Solo 2011, halaman 87-88). (lihat http://nahimunkar.com/astagfirullah-densus-nu-diwajibkan-puasa-40-hari-supaya-sakti-kebal-petasan/).
Ini bukan berarti semua orang dari kelompok-kelompok itu seperti itu gambarannya. Hanya saja catatan telah menunjukkan demikian. Dan sampai sekarang masih terasa pula aromanya, bahkan arahnya seperti tidak jauh berbeda, walau istilah colonial atau penjajah kurang tampak, karena penjajahan kini bukan lagi penjajahan fisik namun sudah lebih berbahaya lagi karena bahkan sampai penjajahan akal, budaya, ekonomi, politik, pandangan hidup, informasi dan lainnya.
Apa yang tercatat dari kasus-kasus yang lalu ini mungkin bisa dijadikan pelajaran yang berharga bagi yang memperhatikannya dan masih sayang-sayang terhadap Islamnya.
Perlu berkaca diri pula, puasanya itu untuk Allah Ta’ala dengan mengikuti tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam atau demi lainnya dan mengikuti ajaran lainnya?
Kalau memang untuk Allah Ta’ala dengan mengikuti Rasul-Nya, kenapa harus mendahului sampai dua hari? Kenapa pula ada puasa sampai 40 hari?
Tuntunan siapa dan untuk siapa sebenarnya amalan mereka itu?

         

http://muslim.or.id/ramadhan/menentukan-awal-ramadhan-dengan-hilal-dan-hisab.html

Senin, Mei 27, 2013

PR untuk kita semua,bil khusus saudara2ku warga NU

PR untuk kita semua,bil khusus saudara2ku...
Hendri Intifadha 27 Mei 22:31
PR untuk kita semua,bil khusus saudara2ku warga NU
=====================
Ketua Umum PBNU periode 1984-1989 dengan Musytasyar KHR As’ad Syamsul Arifin bersama 8 Kiyai lainnya, dan Ro’is ‘Am Syuriyah KH Ahmad Siddiq. Kepemimpinan Gus Dur itu bisa terpilih lagi. Sampai saat Gus Dur terpilih menjadi Presiden RI 1999, dia masih berstatus ketua Umum PBNU. Kemudian kedudukannya digantikan oleh Hasyim Muzadi setelah bersaing ketat dengan Dr Said Agil Siradj dalam muktamar NU di Jawa Timur, dengan isu jangan sampai memilih orang yang suka blusak-blusuk (keluar masuk) ke Gereja, maksudnya adalah Said Agil Siradj.Meskipun isu itu bisa berhasil menggagalkan Said Agil Siradj hingga tidak mampu mengalahkan Hasyim Muzadi, namun hasilnya sama juga, yaitu gemar-gemar juga Hasyim Muzadi itu dalam hal berkasih-kasihan dengan gereja. Buktinya, justru dia mengadakan acara do’a bersama antara agama secara besar-besaran di senayan Jakarta Agustus 2000. (lihat buku Hartono Ahmad Jaiz dan Abduh Zulfidar Akaha, Bila Kyai Dipertuhankan, Membedah Sikap Beragama NU, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, 2001, dalam judul bab NU dan Peran Kesejarahannya Mempraktekkan Nasihat Kruschov Berdampingan dengan Lawan, Berhadapan dengan Pembaharu).

Setelah kita runtutkan peristiwanya, Said Aqiel Siradj tahun 1998 melontarkan pemikiran bahwa sebaiknya NU (Nahdlatul Ulama) dipimpin oleh wanita, supaya maju. Selama ini NU tidak maju-maju karena selalu dipimpin laki-laki, katanya. Tahu-tahu dalam perjalanan kiprahnya, Said Aqiel Siradj mencalonkan diri sebagai calon ketua umum PBNU dalam Muktamar NU ke-30 di Kediri Jawa Timur tahun 1999. Apakah Said Aqiel Siradj merasa dirinya itu perempuan atau bagaimana, sehingga mencalonkan diri untuk memimpin NU saat itu. Kalau dia merasa laki-laki ya malu dong.Dia sendiri yang mengusulkan agar NU dipimpin oleh wanita, kok dia malah mencalonkan diri padahal berkelamin lelaki. Periode mendatang pun kalau dia mencalonkan diri untuk memimpin NU, berarti ia menganggap dirinya adalah perempuan!

Ketika keberanian Said Aqiel Siradj dalam mendukung calon presiden sudah terbukti menabrak-nabrak ayat, hadits, dan organisasi seperti itu, lantas dukungannya sekarang (2009) terhadap capres dan cawapres (JK-Wiranto) yang tampak dekat dengan aliran-aliran sesat (LDII dan NII KW IX) itu apakah tidak mungkin dia akan membenarkan yang sesat, atau sebaliknya menyesatkan yang benar? Mudah-mudahan saja tidak. Sekalipun tidak, toh sudah jelas diablusak-blusuk. Jadi ya ataupun tidak, hampir tiada beda

http://nahimunkar.com/kenapa-banser-nu-sebegitu-rakusnya-membela-gereja/

Rabu, Februari 20, 2013

Pengajian dibubarkan, kebaktian di Greja dilindungi



Grobogan, NU Online
Untuk memperkuat pemahaman tentang Ahlussunah wal Jamaah (Aswaja), Satuan Densus 26 bersama dengan Satkoryon Banser Purwodadi menggelar Pendidikan Khusus Da'i Ahlussunah Wal Jamaah 1926. Kegiatan kali ini meruapakan  angkatan ke-32. Acara digelar di Gedung Serba Guna PCNU Grobogan, Jalan Slamet Riyadi Purwodadi.

Pendidikan Khusus dilaksanakan selama dua hari. Yakni,  Sabtu-Ahad (16-17/2).  Sedangkan peserta yang mengikuti acara tersebut mencapai sekitar 600 orang. Mereka berasal dari pengurus Pondok Pesantren se-Kabupaten Grobogan, takmir masjid dan mushola, pengurus PCNU, MWCNU, Banom NU, dan tokoh agama.

Komandan Satkoryon Banser Purwodadi, M  Sirojuddin mengatakan, dasar utama penyelenggaraan pendidikan khusus da'i ini adalah berkaitan fakta di lapangan. Dimana, berdasarkan fakta di lapangan menunjukkan bahwa selama ini banyak ditemukan berbagai statemen atau pernyataan yang menuduh bahwa amaliyah-amaliyah NU seperti tahlil, yasinan, berzanji, dan ziarah kubur dipersepsikan bertentangan dengan ajaran Al-Qur'an dan dinyatakan sebagai bentuk bid'ah.
"Melalui pendidikan khusus ini, diharapkan mereka nantinya bisa menjawab keresahan masyarakat dan hasutan yang dilontarkan pihak di luar NU," kata Gus Didin, panggilan akrab M. Sirajuddin.

Selama menjalani acara tersebut, lanjutnya, peserta diberikan pemahaman tentang kitab "Al-Muqtathofat Li Ahlil Bidayaat" yang disampaikan Ketua PCNU Kota Malang, Jawa Timur, KH Marzuki Mustamar dan koordinator Densus 26 Indonesia, Umarudin Masdar.

Melalui kitab tersebut, peserta diberi pemahaman tentang dalil-dalil amaliyah aswaja yang biasanya dijadikan pijakan oleh kiai-kiai. Dalil-dalil tersebut disadurkan dengan mengambil beberapa ayat dari Al-Qur'an sebagai sumber utama pegangan umat islam.

"Mereka diberikan pemahaman dalil-dalil amaliyah yang menerangkan tentang faham yang selama ini kita jalani, yakni faham ahlussunah wal jamaah," terangnya.

Gus Didin menambahkan, selama ini sebenarnya sudah dilakukan berbagai gerakan masyarakat untuk membendung arus faham Islam kiri yang berpotensi membuat perpecahan di tengah masyarakat. Seperti menerjunkan pasukan Banser ke tempat-tempat pengajian. Selain itu, juga dilaksanakan pengajian tentang aswaja untuk memberi pencerahan tentang NU yang sebenarnya.

"Setelah pendidikan ini, peserta akan menjadi agen atau kader yang akan menyampaikan pencerahan tentang aswaja NU yang mengutamakan rahmatan lil 'alamin," ungkapnya.


Redaktur     : A. Khoirul Anam
Komentarku ( Mahrus ali): 
Dikatakatan dalam artikel tsb.
Gus Didin menambahkan, selama ini sebenarnya sudah dilakukan berbagai gerakan masyarakat untuk membendung arus faham Islam kiri yang berpotensi membuat perpecahan di tengah masyarakat. Seperti menerjunkan pasukan Banser ke tempat-tempat pengajian. Selain itu, juga dilaksanakan pengajian tentang aswaja untuk memberi pencerahan tentang NU yang sebenarnya.
Komentarku ( Mahrus ali): 
  Aneh bin ajaib bukan hal yang wajar , kekufuran bukan keislaman bila pengajian yang berlandaskan al quran dan hadis malah di datangi Banser lalu dibubarkan di saat kebaktian di Greja dilindungi oleh Banser. Ini banser pembela kafir atau mukmin.
Mestinya dengarkan dulu pengajian yang berlandaskan al quran dan hadis itu, jangan langsung disuruh bubar. Bila cocok dengan keduanya, maka ikutilah. Bila tidak cocok perlu diperingatkan. Ikutilah mereka dan jangan berpegangan kepada ajaran golongan yang keliru lalu membuang ajaran yang cocok dengan keduanya. Ini wasiat penting, jangan anggap remeh. Kita saling mengingatkan sebelum mati bukan sesudahnya. Ingat firmanNya:
قُلْ إِنَّمَا أُنْذِرُكُمْ بِالْوَحْيِ وَلَا يَسْمَعُ الصُّمُّ الدُّعَاءَ إِذَا مَا يُنْذَرُونَ(45)
Katakanlah (hai Muhammad): "Sesungguhnya aku hanya memberi peringatan kepada kamu sekalian dengan wahyu dan tiadalah orang-orang yang tuli mendengar seruan, apabila mereka diberi peringatan" Anbiya`

Minggu, Februari 10, 2013

NU Kraksaan Istiqomah Gelar Istighotsah Selama 10 Tahun






Probolinggo, NU Online
Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Kraksaan Kabupaten Probolinggo tiap hari Jum’at malam rutin menggelar kegiatan istighotsah.

Kegiatan yang sudah berlangsung secara istiqomah selama 10 tahun ini diikuti oleh seluruh pengurus ranting NU, lembaga, lajnah dan badan otonom.

Ketua Tanfidziyah MWCNU Kecamatan Kraksaan Moch. Siddiq Hasan kepada NU Online, Ahad (10/2) mengatakan selain merupakan instruksi dari Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), istighotsah ini juga bertujuan untuk mengamalkan ajaran tradisi NU Ahlussunnah wal Jamaah dan mendoakan masyarakat.

”Dalam istighotsah ini kami berdoa bersama-sama dan memohon kepada Allah agar Kabupaten Probolinggo, khususnya Kraksaan menjadi daerah yang aman dan kondusif baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur. Selain itu diberikan kemudahan dalam segala hal sehingga dapat berkomunikasi dan koordinasi dengan baik kepada ranting dalam melaksanakan program kerja,” ungkapnya.

Menurut Hasan, biasanya setelah istighotsah dilanjutkan dengan diskusi dengan seluruh pengurus ranting untuk membahas program kerja yang akan dijalankan baik di MWC maupun ranting NU. Usulan-usulan tersebut kemudian ditampung untuk diambil sebuah keputusan membuat usulan prioritas yang selanjutnya akan dijadikan sebagai program kerja.

”Dalam kesempatan tersebut kami juga menyerap aspirasi warga nahdliyin dari masing-masing ranting. Kesulitan-kesulitan yang disampaikan warga nahdliyin selanjutnya kami bicarakan bersama untuk dicarikan solusi dan jalan keluarnya. Seperti pada saat adanya aliran sehat yang sangat meresahkan warga Nahdliyin karena ajaran yang disampaikan menyimpang dari akidah ahlussunnah wal jamaah,” jelasnya.

Dikatakan Hasan, melalui kegiatan istighotsah tersebut akhirnya tercipta sebuah ikatan silaturahim yang sangat kuat diantara sesama pengurus NU. Apalagi istighotsah ini merupakan salah satu tradisi ulama NU yang harus terus dilestarikan.

“Istighosah ini merupakan salah satu tradisi NU. Oleh karena itu saya berpesan kepada segenap masyarakat agar tidak meninggalkan tradisi-tradisi yang ada serta tetap berpedoman pada hal-hal yang telah dirumuskan oleh para ulama-ulama NU,” pintanya.

Redaktur     : Mukafi Niam
Kontributor : Syamsul Akbar
Komentarku ( Mahrus ali): 
Sebagai muslim yang ingin selamat di dunia dan akhirat, bukan dunia saja dan di akhirat berbahaya dan menderita bukan selamat dan bahagia, maka harus senang bukan benci dikoreksi dan mau mengoreksi untuk menghindari kesalahan dan menjalankan kebenaran.
Setahu saya dalam istighosah ada kesyirikannya , boleh anda  baca lagi disini:
http://mantankyainu.blogspot.com/2011/04/syirik-dalam-istighosah.html




Dan kliklah 4 shared mp3 atau di panahnya
 

Sabtu, Oktober 06, 2012

MUNAS NU KEMPEK 2012





Penulis: Pejuang Islam [ 18/9/2012 ]

MUNAS NU KEMPEK 2012

Luthfi Bashori

Tiba-tiba, kemarin siang ada forward-an SMS yang masuk ke HP saya, kiriman dari seorang teman yang aktif dalam struktural NU sebagai berikut :

Aww. Munas NU di Kempek Cirebon. Masya Allah. Salib ada di-mana2. Di depan masjid sangat mencolok Posko Kesehatan lengkap dg ambulan salib UKRIDA. Di kamar2 mandi juga banyak salib. Konon KM2 itu dibangun oleh pihak salib. Anehnya Rais Am tetap diam seribu bhs. Pdhal Rapat PBNU tlh menetapkan NU tdk boleh memakai sponsor salib utk kegiatan apa pun. NU mau dikemanakan? Www Ali Mustafa Yaqub.

Secara spontan, SMS itu saya beri komentar ringan : `KEBETULAN PANITIANYA ORANG-ORANG NU NASRANI`, dan saya kirim kepada beberapa tokoh NU yang saya kenal, maka ada beberapa respon SMS yang masuk ke HP saya, antara lain:

BP. SELAMET EFENDI YUSUF : Ha ha ha. Saya ikut salah Kiai, karena saya tdk teliti, tidak tahu ttg itu. Sy justru tahu dari Kiai Ali Mushtofa menjelang pulang ke Jakarta. Astaghfirullah.

SAYA : Pak Nusron Wahid pun semakin `mendewa2kan` teman2nya yg Nasrani dalam banyak statemennya, jadi ada juga GP ANSHOR NASRANI. Pak, sudah demikian parahkah kondisi di tubuh NU saat ini ? Saya mufaraqah dari NU nya Gus Dur dan Said Agil Siraj. Saya lebih memilih NU nya KH. Hasyim Asy`ari. Bapak dan umat Islam bisa mengunjungi situs saya : NU GARIS LURUS dg alamat www.pejuangislam.com.

BP. HASYIM MUZADI : Saya sendiri tidak datang.

SAYA : Pak Nusron Wahid pun semakin `mendewa2kan` teman2nya yg Nasrani dalam banyak statemennya, jadi ada juga GP ANSHOR NASRANI. Pak, sudah demikian parahkah kondisi di tubuh NU saat ini ? Sejak Gus Dur jadi ketua PBNU saya niat mufaraqah dari NU. Saya lebih memilih NU nya KH. Hasyim Asy`ari. Bapak dan umat Islam bisa mengunjungi situs saya : NU GARIS LURUS dg alamat www.pejuangislam.com.

BP. HASYIM MUZADI : Shodaqtum (antum benar).

KH. MUHYIDDIN A. SHOMAD : Bagus sekali Gus komentar antum.

BP. ALI MASHAN MUSA : Masykur ikhbarnya, ma`a al-najah lakum (terima kasih infonya, dengan keberhasilan untuk antum).

BP. NAKHROWI : Saya tidak hadir di Cirebon krn ada acara keluarga, shgg tidak tau persis apa yg terjadi. Terima kasih informasinya Gus.

KH. MUDATSTSIR : Betul2 sdh sngt dkt dg Nihayatul `Alam (hancurnya alam). Na`udzu billah min Fitnatil masih addajjal wa min fitnatil mahya wal mamat w min jami`il fitan wal mihan (kami berlindung dari fitnahnya Dajjal dan dari fitnahnya hidup dan mati dan dari segala fitnah dan cobaan) "Slmt menyongsong munculxa Al MAHDI" smga sgra hadir & kta trmasuk ddlm grupxa.

KH. ABDULLAH KHALIL : Innalillahi wainna ilaihi rajiun .

BP. TAUFIQ : Astaghfirullahal `adziim.

BP. HELMY : Naudzubillahimindzaliq, kok bisa yah ustadz? terus, apa tak ada tindakan apa2 dari mereka2 yang hadir? apa hal itu sudah dianggap biasa? Mau dikemanakan negeri ini? kadang saya befikir, negeri kita masih susah, tapi kemungkaran ada dimana2, ummat Islam banyak, tapi tipis iman. Misalkan diberi kemakmuran apa akan lebih baik? atau justru malah tambah cinta pada dunia? semoga Allah senantiasa melindungi kita semua.

           
 Isikan Komentar Anda
           
Nama        
Email        
Kota          
Pesan/Komentar
         
         

1.     
Pengirim: ilham  - Kota: jakarta selatan
Tanggal: 19/9/2012

Assalamu'alaikum Wr.Wb

sedih baca artikel ini.
saya sedih karena NU yang dulu didirikan oleh KH. Hasyim Asy'ari dan ulama lainnya, berubah menjadi wadah yang berpotensi memurtadkan umat Islam.

apakah ketua PBNU perlu diganti sebelum waktunya, kemudian NU membersihkan diri dari unsur-unsur liberal?

Wassalamu'alaikum Wr.Wb
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Ketua PBNU, Said Agil Siraj sangat perlu diganti, karena sejak awwal dia itu tidak pernah mencerminkan sebagai penganut Islam sama sekali.

2.     
Pengirim: Suprio  - Kota: Bandung
Tanggal: 19/9/2012

Saya sangat prihatin dan malu membaca dan mendengar informasi itu. saya sangat berharap agar NU segera kembali ke RUH keislamannya.
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Barangkali itu dapat terjadi jika warga NU mau mengganti secara total PBNU dan mencari penggantinya dari para ulama yang masih konsisten memegang syariat Islam mengikuti aturan dan ajaran KH. Hasyim Asy`ari, bukan mengikuti aturan Gus Dur dan para pembeonya.

3.     
Pengirim: Ustad Google  - Kota: Bali
Tanggal: 24/9/2012

Hehehe...Aneh,Ini Benar/gak?? kir-kira,apa para Kyai yang hadir dlam munas itu diam?? kedua,kenapa isu ini tidak diklaarifikasikan langsung pada paak saiid aqil???
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Jika akhi ingin klarifikasi, ya dipersilahkan dan tidak ada yang melarang. Bp. Ali Musthafa Ya`qub hadir dalam acara itu.

Bagi kami, sudah sangat jelas keterlibatan Said Agil Siraj dalam dunia `Nasrani dan komunitas agama non Islam lainnya serta sejumlah aliran sesat` yang selalu dibelanya.

Ibarat sejelas melihat matahari di siang terik, maka tidak perlu lagi untuk klarifikasi.

4.     
Pengirim: shofwan  - Kota: Bogor
Tanggal: 28/9/2012

Subhanallah...
ketika sy menulis artikel ini sungguh kami juga sedang berargumen dg 'santri2' liberal, yg membenturkan FPI dan NU. mereka mengejek kami membela quran dan nabi kami dengan sebutan arabisasi.

Ku teringat kalam Habib Munzir Al-Musawa: "Darah Kami murah untuk membelamu ya Rasulallah"
labbayka ya Rasulallah..

pak luthfi sy pernah 2 kali silaturhmi ke pesantren antum, disingosari tp Allah belum takdirkn bertemu. anda sdg ke bandug saat itu. tp saya titip nama dalam kertas untuk didoakan. smoga masih ingat.

salam ukhuwah dan rindu dari kami jamaah bogor. wasalam
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Mudah-mudahan Allah segera mempertemukan kita dalam kondisi yang lebih baik.

5.     
Pengirim: Rasyid Djamaluddin  - Kota: Kupang
Tanggal: 28/9/2012

Ya Allaah,... ini sudah merupakan sebuah "ancaman" yang segera diatasi dari internal NU, dan "tantangan" masa depan keberlanjutan organisasi ini. Harapan kami agar secara internal NU dapat melakukan konsolidasi, sehingga "gangguan" dan "hambatan" oleh para "oknum" didalam NU bisa meluruskan barisan, demi tegaknya Kalimah ALLAAH FII SABIILILLHAQ"
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Mudah-mudahan ada penggede NU yang merespon harapan akhi.

6.     
Pengirim: abdullahabdallah  - Kota: Surabaya
Tanggal: 30/9/2012

Assalamualikum...
na'udzubillah....
apa indikasi dunia nasrani memang benar2 terjadi ditubuh NU???
Logikanya NU di bentengi oleh ulama2 sepuh,trus teng pundi yai para kyai2 sepuh??? apa cuma difikirkan tanpa jalan keluar???kami orang kecil yai....mudah2an allah senantiasa memberikan hidayah kepada umat islam,tanpa harus saling sikut hanya karena 1 sosok yg dianggap bertanggung jawab....syukron
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Informasi itu justru kami dapatkan dari pengurus Struktural NU. Perlu diketahui mayoritas warga NU justru berada pada tataran kultural bukan struktural. Ibarat dalam suatu negara, para pejabatnya adalah banyak koruptornya atau dhalim kepada rakyatnya, tapi kalangan rakyatnya justru banyak yg berprestasi positif, jadi semoga saja pejabat dhalim yg ahli korupsi itu dibinasakan oleh Allah, demikian juga dalam tubuh NU.

7.     
Pengirim: Sampurna Jaya  - Kota: Cianjur
Tanggal: 1/10/2012

Musykilah, perlu penyatuan fikroh dan spirit nahdiyyin yang murni.
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Ya Allah, mudah2an masih ada tokoh sepuh NU Struktural Non Gusdurian yg bersedia menjadi pimpinan kami, sehingga harapan kami untuk bersih-bersih NU dari kemungkaran aqidah dapat terwujud. Amiin.

8.     
Pengirim: Rahmat Qahira  - Kota: Cianjur
Tanggal: 1/10/2012

Ust.. sy sebagai warga NU nangis dgn kondisi ini, mudah mudahan dgn web.. ini jadi nasihat bagi petinggi kita, salam perjuangan....
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Memang seperti itu tujuan dirilisnya Web ini, mudah2an ada hasil yg positif.

9.     
Pengirim: joko  - Kota: cirebon
Tanggal: 2/10/2012

said aqil jadi ketum nu bukan untuk memajukan nu tapi Numpang Urip, bersihkan NU dari anasir liberal, dan kufar. terus terang kami sedih dan kecewa, di saat saudara kita dari ormas islam (FPI) membela mati-matian aqidah, dari para pengganggu (aliran sesat, maksiat, dan kaum kufar) nusron wahid dan aqil siroj seolah menjadi perisai musuh islam. 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Alhamdulillah selama ini kami para aktifis PI (Pejuang Islam) senatiasa berusaha mengungkap kebobrokan dan kesalahan fatal pemikiran kelompok Liberal, agar umat Islam tetap waspada dan tidak terpengaruh oleh misi jahat mereka.

10.   
Pengirim: diyak  - Kota: jember
Tanggal: 2/10/2012

saya berlepas diri dari NU-nya gus dur dan said agil siradj. saya mengikuti NU-nya KYAI MBAH HASYIM ASYARY.
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Alhamdulillah, semoga banyak tambahan kawan seaqidah.

11.   
Pengirim: Bambang Bamahi  - Kota: Jakarta
Tanggal: 2/10/2012

Assalamualaikum kyai..kalau tidak bisa diganti bagaimana bikin NU Shirothol Mustakim aja Insya Allal ulama-ulama Haq akan setuju..saya yakin Al. Kyai Sasyim Asy'ari sedih melihat sepak terjang NU sekarang..ayo kyao bergerak sudah waktunya said agil diganti aja
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Itu terjemahan dari NU GARIS LURUS. Mudah-mudahan ada kalangan ulama sepuh yang tertarik membimbing kita lewat NU Garis Lurus.

12.   
Pengirim: Erlangga  - Kota: Tuban
Tanggal: 2/10/2012

KH. Hasyim Asy'ari adalah ulama pembela tegaknya syari'at dibumi nusantara, ketegasan beliau dalam berdakwah perlu dicontoh oleh kalangan ulama2 NU. Mungkin hal seperti di Munas Kempek dapat terjadi karena ulama2 NU masih kurang tegas dalam menyampaikan dakwah Islam terutama tauhid dan penerapan syari'at kepada umat.
Maaf hanya saran
Yasarollohu umurona wa kum
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Ini saran yang bagus jika dapat dibaca oleh pengurus NU (stuktural). Kalau kami ini hanya warga kelas bawah namun menghendaki adanya NU Garis Lurus

13.   
Pengirim: munief  - Kota: Malang
Tanggal: 3/10/2012

Ass Ww.. Almukarom Romo kiyai kanjeng Gus... Bgmn Kabar NU akar rumput?? Apa sudah di Pupuk dan disiram?? Kendaraan nya Apa sudah diperbaiki dan di servis, ganti oli...? apa sopirnya sudah mahir mengemudi?? kernetnya gimana?? penumpang dan calon penumpangnya apa sudah diseleksi?? nanti malah nyasar ?? sampek2 sak kendaraan Tergelincir tak tahu arah... Monggo dipersilahkan.....
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
warga NU sudah banyak yang mahir nyupir mobil pribadi, kursus mengemudi dengan program profesional pun sekarang banyak tersebar di mana-mana, jika pengurus NU tidak pandai merawat hubungan baik dengan warganya, maka tidak menutup kemungkinan banyak warga NU yang mufaraqah melihat ketidakbenaran perkembangan di tubuh ormas NU.

Di jaman sekarang, orang NU yang ingin mufaraqah dari ormas itu tidak secara otomatis harus bergabung dengan ormas lainnya. Tapi ada juga yang mengambil langkah independen dalam beraktifitas keagamaannya.

14.   
Pengirim: alimudin  - Kota: lamongan
Tanggal: 3/10/2012

selama ini saya sering prihatin dengan kemesraan yang berlebih lebihan antara bbrp tokoh NU dg kalangan nonmuslim, sampai keluar dari batas toleransi yang sewajarnya. tapi justru tindakan mereka ini mendapat respons yg sgt positif dari media massa sehingga seolah olah menjadi kesan "begitulah NU" bagaimana ya agar nahdliyyin yang dibawah tidak termakan propaganda ini ? Alimuddin, pengajar SMP DR Mustain Romly PP Raudlotul Mutaabbidin Solokuro Lamongan
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Ya harus ada perlawanan dari warga yang sadar syariat. Bahwa kemesraan NU dengan Non Muslim itu dulunya adalah rintisan Gus Dur, contohnya terjalinnya keakraban Gus Dur dengan LB. Moerdani pejabat Nasrani ini.
Jadi menentang pemahaman dan pemikiran Gus Dur yang menentang syariat itu sudah menjadi keharusan warga NU jika ingin selamat dunia-akhirat.

15.   
Pengirim: Amin Nasori  - Kota: Tegal
Tanggal: 3/10/2012

Masya Allah......
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Laa haula wa laa quwwata illaa billaah

16.   
Pengirim: Ainul Yaqin  - Kota: Surabaya
Tanggal: 4/10/2012

Assalaamu'alaikum wr. wb.

saya juga konfirmasi ke Pak Yai Navis beliau tidak hadir, tetapi beliau cerita bahwa delegasi PWNU Jatim juga merisaukan hal itu.
sudah emergensi untuk melakukan penyelamatan warga NU dari kejahatan para pemimpinnya yang dzalim, yang tega menjual haga diri agamanya. 
[Pejuang Islam Menanggapi]
BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIM
Kami berharap kepada ikhwan struktural yang masih memiliki 'hati', agar mengadakan kudeta terhadap kepemimpinan si perusak aqidah umat, Said Aqil Siraj.
Setelah itu, semoga saja NU dapat kembali ke arah Sirathal Mustaqim (NU GARIS LURUS)