Tampilkan postingan dengan label jama` salat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jama` salat. Tampilkan semua postingan

Jumat, Desember 27, 2019

Fase ke 23 tentang larangan jama`



Ada keterangan dlm blog PUSKAFI sbb

Istri saya seorang Bidan Desa dan ditempatkan di daerah yang jauh dari tempat saya bertugas. Kami memutuskan untuk tinggal sementar (kurang lebih 3 tahun) di desa tersebut. Apakah saya masih di kategorikan musafir yang boleh menjamak shalat karena saya tidak berencana untuk menetap selamanya di desa tersebut? Adakah batasan seseorang masih dianggap musafir dan boleh menjamak shalat?
Jawaban :
Seseorang jika berniat untuk tinggal di suatu tempat selama 3 tahun, dan membawa semua keperluan hidup di tempat tersebut, maka dikatakan bahwa dia bermukim, sehingga dia tidak boleh menjama' sholat.
Niat dalam hal ini tidak bisa dijadikan ukuran, bisa saja orang tidak berniat tinggal di suatu tempat selama-lamanya,tetapi dalam prakteknya dia tinggal di tempat tersebut sampai puluhan tahun lamanya.
Jadi yang menjadi ukuran mukim dan musafir adalah penilaian masyarakat setempat, ditambah dengan adanya indikasi-indikasi lainnya seperti kalau dia mendatangkan barang-barang untuk keperluan sehari-hari secara permanent, seperti tempat tidur, lemari, mesin cuci, ember dan seterusnya. Karena kebiasaan orang musafir adalah tidak mau repot-repot dengan barang-barang tersebut, karena dia hanya tinggal sementara.
http://www.ahmadzain.com/…/kary…/234/sholat-jama-dan-qashar/

Komentarku ( Mahrus ali ) :
Sudah di bhs tentang larangan salat jama` baik waktu di berpergian atau waktu mukim. Jadi lakukanlah salat sbgmn mestinya yaitu melakukannya tepat waktunya sebagaimana ayat 103 Nisa`. Ingin jls masalah jamak lihat disini:
http://mantankyainu2.blogspot.co.id/…/fase-ke-1-tentang-sal…


Bagaimana hukum terus menerus menjamak sholat lima waktu karena lingkungan kerja tidak memungkinkan untuk melaksanakan sholat pada waktunya?
Jawaban :
Hendaknya dia berusaha sekuat mungkin untuk mencari pekerjaan yang memungkinkan baginya untuk bisa melakukan sholat wajib pada waktunya. Suatu pekerjaan yang menghalangi seseorang secara terus menerus untuk melakukan sholat pada waktunya adalah pekerjaan yang tidak membawa berkah dan tidak diridhoi oleh Allah swt.
Jadi menjamak sholat sifatnya hanya sementara saja dan dia hanya rukhsah ( keringanan ), sehingga tidak boleh dilakukan secara terus- menerus. Jika hal itu karena kondisi tertentu, maka dia dituntut untuk berusaha sekuat mungkin untuk merubah kondisi darurat tersebut menjadi kondisi yang normal lagi.
http://www.ahmadzain.com/…/kary…/234/sholat-jama-dan-qashar/
Komentarku ( Mahrus ali ) :
Salat jama` di katakana rukhsah ( keringanan ) belaka adalah salah kaprah, pemahaman yg keliru yg membudaya. Makanya perlu diliruskan agar kekeiruan tsb tdk terus berlanjut sampai hari kiamat.
Rukhsah itu apa yg di ringankan oleh Allah, bukan oleh ulama atau juhala` mulai dulu sampai sekarang . Allah tdk pernah memberikan keringan jama`, Dia tdk pernah memberikan rukhsah jama`. Allah memberikan rukhsah bagi musafir atau orang yg sakit untuk tdk berpuasa dan nanti di qadha` di hari lain spt ayat :
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ وَمَن كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۗ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. Al Baqarah 185.
Qashar salat waktu berpergian yg takut di serang musuh atau untuk ihram haji atau Umrah itu termasuk rukhsah sbgmn ayat :

وَإِذَا ضَرَبْتُمْ فِي الْأَرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَن تَقْصُرُوا مِنَ الصَّلَاةِ إِنْ خِفْتُمْ أَن يَفْتِنَكُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا ۚ إِنَّ الْكَافِرِينَ كَانُوا لَكُمْ عَدُوًّا مُّبِينًا

Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu men-qashar salat , jika kamu takut diserang orang-orang kafir. Sesungguhnya orang-orang kafir itu adalah musuh yang nyata bagimu. NIsa 101.
Masalah qashar ini jg perlu di bahas dg detil ,apakah boleh kita mengqashar salat ketika pergi ke miniatour, taman safari , pantai di Bali , berdegang , silatur rahmi yg dlm keadaan aman dan tdk ada kehawatiran di serang musuh. Insya Allah suatu saat kita bhs dg detil . Sebab al quran memberikan sarat boleh mengqashar salat ketika kondisi takut di serang musuh. Dan scr peraktek , Rasulullah shallallahu alaihi wasallam jg mengqashar ketika ihram haji dan umrah .

UNtuk salat jama tidak ada rukhsah , tdk ada perintahnya dlm al quran . Jamak malah di larang sbgmn keterangan yg lalu.

Jumat, Februari 02, 2018

Fase ke 29 tentang larangan salat jama`


Fase ke 29 tentang larangan salat jama`
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الدَّارِمِيُّ حَدَّثَنَا أَبُو عَلِيٍّ الْحَنَفِيُّ حَدَّثَنَا مَالِكٌ
وَهُوَ ابْنُ أَنَسٍ عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ الْمَكِّيِّ أَنَّ أَبَا الطُّفَيْلِ عَامِرَ بْنَ وَاثِلَةَ أَخْبَرَهُ أَنَّ مُعَاذَ بْنَ جَبَلٍ أَخْبَرَهُ قَالَ
خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَامَ غَزْوَةِ تَبُوكَ فَكَانَ يَجْمَعُ الصَّلَاةَ فَصَلَّى الظُّهْرَ وَالْعَصْرَ جَمِيعًا وَالْمَغْرِبَ وَالْعِشَاءَ جَمِيعًا حَتَّى إِذَا كَانَ يَوْمًا أَخَّرَ الصَّلَاةَ ثُمَّ خَرَجَ فَصَلَّى الظُّهْرَ وَالْعَصْرَ جَمِيعًا ثُمَّ دَخَلَ ثُمَّ خَرَجَ بَعْدَ ذَلِكَ فَصَلَّى الْمَغْرِبَ وَالْعِشَاءَ جَمِيعًا .........................
 (MUSLIM - 4229) : Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Abdurrahman Ad Darimi Telah menceritakan kepada kami Abu Ali Al Hanafi Telah menceritakan kepada kami Malik yaitu Ibnu Anas dari Abu Zubair Al Makki bahwa Abu Thufail Amir bin Watsilah Telah mengabarkan kepadanya Mu'adz bin Jabal mengabarkan kepadanya; dia berkata; "Kami bepergian bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pada tahun perang Tabuk. Dalam perjalanan itu beliau menjama' shalat Zhuhur dengan 'Ashar dan Maghrib dengan 'Isya, sehingga pada suatu hari beliau menjama' ta'khir. Beliau pergi untuk shalat jama' Zhuhur dengan 'Ashar. Kemudian beliau kembali. Lalu beliau keluar lagi untuk menjama' shalat Maghrib dengan Isya.

أخرجه مالك "الموطأ"383 أحمد 5/229 (22347) قال: حدَّثنا عَبْد الرَّحْمان، حدَّثنا قُرَّة بن خالد. وفي 5/230 (22362) قال: حدَّثنا عَبْد الرَّزَّاق، أنبأنا سُفْيان (ح) وأبو أحمد، حدَّثنا سُفْيان. وفي 5/233 (22386) قال: حدَّثنا حدَّثنا حَمَّاد بن خالد، حدَّثنا هِشَام بن سَعْد. وفي 5/236 (22412) قال: حدَّثنا وَكِيع، عن سُفْيان. وفي 5/237 (22420) قال: قرأْتُ. ى عَبْد الرَّحْمان بن مَهْدي: حدَّثنا مالك. وفي 5/238 (22421) قال: حدَّثنا رَوْح، حدَّثنا مالك ابن أَنَس. و"عَبد بن حُميد" 122 قال: حدَّثنا أبو نُعَيْم، حدَّثنا هِشَام بن سَعْد. و"الدارِمِي" 1515 قال: أَخْبَرنا أبو. ي الحَنَفِي، حدَّثنا مالك بن أَنَس. و"مسلم"2/151 (1577) قال: حدَّثنا أحمد بن عَبْد الله بن يُونُس، حدَّثنا زُهَيْر. وفي 2/152 (1578) قال: حدَّثنا يَحيى بن حَبِيب، حدَّثنا خالد، يَعْنِي ابن الحارث، حدَّثنا قُرَّة بن خالد. وفي 7/60 (6011) قال: حدَّثنا عَبْد الله بن عَبْد الرَّحْمان الدَّارِمِي، حدَّثنا أبو. ي الحَنَفِي، حدَّثنا مالك، وهو ابن أَنَس. و"أبو داود"1206 قال: حدَّثنا القَعْنَبِي، عن مالك. وفي (1208) قال: حدَّثنا يَزِيد بن خالد بن يَزِيد بن عَبْد الله بن مَوْهَب الرَّمْلِي الهَمْدَانِي، حدَّثنا المُفَضَّل بن فَضَالَة، واللَّيْث بن سَعْد، عن هِشَام بن سَعْد. و"ابن ماجة"1070 قال: حدَّثنا علي بن مُحَمد، حدَّثنا وَكِيع، عن سُفْيان.
المسند الجامع (15/ 224)
"النَّسائي"1/285، وفي "الكبرى"1576 قال: أَخْبَرنا مُحَمد بن سَلَمَة، والحارث بن مِسْكِين، قراءةً. يه وأنا أَسْمَع، عن ابن القاسم، قال: حدَّثني مالك. و"ابن خزيمة"966 قال: حدَّثنا يَعْقُوب بن إبراهيم الدَّوْرَقِي، حدَّثنا عَبْد الرَّحْمان ابن مَهْدي، حدَّثنا قُرَّة. وفي (968 و1704) قال: حدَّثنا يُونُس بن عَبْد الأَعْلَى، أَخْبَرنا ابن وَهْب، أن
مالكًا حدَّثه.
خمستهم (مالك بن أَنَس، وسُفْيان الثَّوْرِي، وقُرَّة بن خالد، وهِشَام بن سَعْد، وزُهَيْر) عن أَبي الزُّبَيْر المَكِّي، عن أَبي الطُّفَيْل، عامر بن وَاثِلَة، فذكره.
*
Hadis tsb di kitab manapun ttp intinya dari satu orang yaitu Abuz Zubair al makki.  Identitasnya :

  ــ  محمد بن مسلم بن تدرس القرشى الأسدى ، أبو الزبير المكى ، مولى حكيم بن حزام
الطبقة : 4  : طبقة تلى الوسطى من التابعين
الوفاة : 126 هـ
روى له : خ م د ت س ق
مرتبته عند ابن حجر : صدوق إلا أنه يدلس
مرتبته عند الذهبـي : حافظ ثقة ، و كان مدلسا واسع العلم ، قال أبو حاتم : لا يحتج به
mausuah ruwatil hadis 6291
Ibnu Hajar  dan Dzahabi  jg menyatakan Abu Zubair adalah mudallis ( Suka menyelinapkan perawi lemah ) . Dan Abu Hatim menyatakan : Hadisnya tdk bisa di buat hujjah.

وأبو الزبير مدلس وقد عنعنه
Abuz zubair disini adalah mudallis dan dia menyatakan dari Abu Thufail  bukan bercerita kepada kami Abu Thufail . Hal sedemikian di hawatirkan terjadi penyelinapan perawi lemah agar hadis di katakan sahih. Jadi hadis itu lemah karena tadlis Abuz Zubair atau karena perawi Abuz Zubair adalah mudallis.
Ada hadis dari Muadz bin Jabal yg lain sbb:
حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ بْنُ سَعْدٍ عَنْ يَزِيدَ بْنِ أَبِي حَبِيبٍ عَنْ أَبِي الطُّفَيْلِ هُوَ عَامِرُ بْنُ وَاثِلَةَ عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ فِي غَزْوَةِ تَبُوكَ إِذَا ارْتَحَلَ قَبْلَ زَيْغِ الشَّمْسِ أَخَّرَ الظُّهْرَ إِلَى أَنْ يَجْمَعَهَا إِلَى الْعَصْرِ فَيُصَلِّيَهُمَا جَمِيعًا وَإِذَا ارْتَحَلَ بَعْدَ زَيْغِ الشَّمْسِ عَجَّلَ الْعَصْرَ إِلَى الظُّهْرِ وَصَلَّى الظُّهْرَ وَالْعَصْرَ جَمِيعًا ثُمَّ سَارَ وَكَانَ إِذَا ارْتَحَلَ قَبْلَ الْمَغْرِبِ أَخَّرَ الْمَغْرِبَ حَتَّى يُصَلِّيَهَا مَعَ الْعِشَاءِ وَإِذَا ارْتَحَلَ بَعْدَ الْمَغْرِبِ عَجَّلَ الْعِشَاءَ فَصَلَّاهَا مَعَ الْمَغْرِبِ
(TIRMIDZI - 508) : Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa'id telah menceritakan kepada kami Al Laits bin Sa'd dari Yazid bin Abu Habib dari Abu Ath Thufail dia adalah Amir bin Wailah dari Mu'adz bin Jabal bahwa pada saat perang Tabuk, Nabi Shalallahu 'alaihi wa salam berangkat sebelum matahari condong, maka beliau mengakhirkan shalat zhuhur sampai beliau menggabungkan dengan shalat ashar, lalu beliau mengerjakan kedua shalat tersebut. Jika beliau berangkat setelah matahari condong, maka beliau bersegera mengerjakan shalat ashar di waktu zhuhur, lalu beliau menjama' shalat zhuhur dengan shalat ashar, kemudian beliau berangkat. Bila beliau berangkat sebelum Maghrib, maka beliau mengakhirkan shalat Maghrib hingga beliau mengerjakannya bersamaan dengan shalat Isya', jika beliau berangkat setelah Maghrib, maka beliau bersegera mengerjakan shalat Isya' bersama dengan shalat Maghirb.


وَحَدِيثُ مُعَاذٍ حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ تَفَرَّدَ بِهِ قُتَيْبَةُ لَا نَعْرِفُ أَحَدًا رَوَاهُ عَنْ اللَّيْثِ غَيْرَهُ وَحَدِيثُ اللَّيْثِ عَنْ يَزِيدَ بْنِ أَبِي حَبِيبٍ عَنْ أَبِي الطُّفَيْلِ عَنْ مُعَاذٍ حَدِيثٌ غَرِيبٌ وَالْمَعْرُوفُ عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ حَدِيثُ مُعَاذٍ مِنْ حَدِيثِ أَبِي الزُّبَيْرِ عَنْ أَبِي الطُّفَيْلِ عَنْ مُعَاذٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَمَعَ فِي غَزْوَةِ تَبُوكَ بَيْنَ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ وَبَيْنَ الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ
Intinya: Kata Tirmidzi , hadis tsb nyeleneh, dan hanya  Qutaibah yg meriwayatkannya . Hadis  yg populer malah hadis yg pertama tadi . Pada hal setelah pengkajian, hadis  yg pertama itu itu cacat karena Tafarrud pd Auz zubair  dan tadlisnya.
Imam Tirmidzi berkata:

وَبِهَذَا الْحَدِيثِ يَقُولُ الشَّافِعِيُّ وَأَحْمَدُ وَإِسْحَقُ يَقُولَانِ لَا بَأْسَ أَنْ يَجْمَعَ بَيْنَ الصَّلَاتَيْنِ فِي السَّفَرِ فِي وَقْتِ إِحْدَاهُمَا
Dengan hadis tsb , Imam Syafii , Ahmad , Ishak menyatakan boleh menjama antara dua salat  dlm berpergian baik takdim atau ta`khir.
Komentarku ( Mahrus ali ) :
Ketiga  tokoh tsb memperbolehkan salat jama` atas dasar hadis yg di katakan oleh Imam Tirmidzi sbg hadis nyeleneh itu , tiada hadis lain yg mendukung.

-           أخبرنا محمد بن عبد الرحمن السَّامي، حدَّثنا أحمد بن حنبل، حدَّثنا عبد الرزاق، أنبأنا معمر، عن يحيى بن أبي كثير، عن محمد بن عبد الرحمن بن ثوبان.عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ: أَنَ النَّبِيَّ - صلى الله عليه وسلم - أقَامَ بِتَبُوكَ عِشْرينَ يَوْماً يَقْصُرُ الصَّلاةَ (2).
Intinya : Rasulullah shallallahu alaihi wasallam   bertempat di Tabuk dua puluh hari  dengan mengqashar salat ( salatnya hanya dua  rakaat ) .

Komentarku ( Mahrus ali ) :: Tidak ada keterangan menjama`, beliau mengqashar sj. .
Bila menjama` mesti di katakan mengqashar dan menjama` .

_________ موارد الظمآن إلى زوائد ابن حبان ت حسين أسد (2/ 265)
(2) إسناده صحيح، والحديث في الإِحسان 4/ 183 برقم (2738). وانظر ما بعده وهو في مصنف عبد الرزاق 2/ 532 برقم (4335).
Sanadnya sahih , kata syaikh Sulaim Asad addarani .
مسند احمد بن حنبل (بأحكام شعيب الأرنؤوط) (3/ 413)
تعليق شعيب الأرنؤوط : إسناده صحيح على شرط الشيخين
Syaikh Syuaib al arnauth ( ahli hadis se level al albani ) menyatakan   sanadnya sahih sesuai dengan persaratan perawi Bukhari dan Muslim.
الجامع الصحيح للسنن والمسانيد (28/ 117)
(1)        (د) 1235 , (حم) 14172 , (عب) 4335 , (حب) 2749 , (هق) 5473 , وصححه الألباني في الإرواء: 574
Al albani menyatakan sahih pd hadis tsb dlm kitab al irwa`.
Intinya , keterangan yg ada , Rasulullah shallallahu alaihi wasallam   di Tabuk hanya mengqashar salat ( tidak menjama` ).
Dan ini yg cocok dengan ayat :
وَإِذَا ضَرَبْتُمْ فِي الْأَرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَن تَقْصُرُوا مِنَ الصَّلَاةِ إِنْ خِفْتُمْ أَن يَفْتِنَكُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا ۚ إِنَّ الْكَافِرِينَ كَانُوا لَكُمْ عَدُوًّا مُّبِينًا
 Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu men-qashar salat , jika kamu takut diserang orang-orang kafir. Sesungguhnya orang-orang kafir itu adalah musuh yang nyata bagimu.  NIsa 101.
UNtuk salat jama  tidak ada rukhsah , tdk ada perintahnya dlm al quran . Jamak malah di larang sbgmn keterangan yg lalu.
Bila ingin bc dg detil ttg larangan salat jama` fase per fase klik disini :
http://mantankyainu2.blogspot.co.id/2018/01/fase-ke-28-tentang-larangan-jama.html
Cari ilmu agama dg sistim dialog yg ilmiyah ttg buka ketika adzan Maghrib membatalkan puasa   dg penuh persaudaraan di dua grup WA sy . 
Mau ikut , hub 08813270751.082225929198 ,081384008118,0 857-8715-4455 
0812-4194-6733


Senin, Januari 29, 2018

fase ke 28 tentang larangan salat jama`

Ustadz Abdullah Shaleh Al Hadrami Menulis :
Berkata Imam Nawawi rahimahullah :”Sebagian Imam (ulama) berpendapat bahwa seorang yang mukim boleh menjama’ shalatnya apabila diperlukan asalkan tidak dijadikan sebagai kebiasaan.” (lihat Syarah Muslim, imam Nawawi 5/219 dan Al Wajiz fi Fiqhis Sunnah wal Kitabil Aziz 141).
Dari Ibnu Abbas radhiallahu anhuma berkata, bahwasanya Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam menjama’ara Dhuhur dengan Ashar dan antara Maghrib dengan Isya’ di Madinah tanpa sebab takut dan safar (dalam riwayat lain; tanpa sebab takut dan hujan). Ketika ditanya hal itu kepada Ibnu Abbas beliau menjawab:”Bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam tidak ingin memberatkan umatnya.” (HR.Muslim dll. Lihat Sahihul Jami’ 1070).
https://abuzubair.wordpress.com/2007/07/26/seputar-hukum-shalat-jama%E2%80%99-dan-qashar/

Komentarku ( Mahrus ali )
Saya kutip sebagian sj dr tulisan  Ustadz Abdullah Shaleh Al Hadrami sebab keterangan yg lain telah di kupas dlm fase yg dulu. 
Bila maksud  jamak  disitu , jama` taqdim atau ta`khir, mk jls kelirulah pendapat  ulama tsb. Sebab perawinya sendiri bernama Abus Sya`tsa`telah menyatakan bahwa jama` disitu adalah jama` suri. Yakni meng akhirkan salat zhuhur di akhir waktunya dan menjalankan salat Asar di awal waktunya . jd spt salat biasa yg tepat waktunya.  :
Dan  ini  bahasan  sy yg lalu tentang hadis tsb.


سنن النسائي (1/ 290)
 - أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ بْنِ أَبِي رِزْمَةَ وَاسْمُهُ غَزْوَانُ قَالَ: حَدَّثَنَا الْفَضْلُ بْنُ مُوسَى، عَنِ الْأَعْمَشِ، عَنْ حَبِيبِ بْنِ أَبِي ثَابِتٍ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، «أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُصَلِّي بِالْمَدِينَةِ يَجْمَعُ بَيْنَ الصَّلَاتَيْنِ بَيْنَ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ، وَالْمَغْرِبِ وَالْعِشَاء مِنْ غَيْرِ خَوْفٍ وَلَا مَطَرٍ». قِيلَ لَهُ: لِمَ؟ قَالَ: «لِئَلَّا يَكُونَ عَلَى أُمَّتِهِ حَرَجٌ»
__________
[حكم الألباني] سكت عنه الشيخ
Intinya di tempat lain , al bani tdk memberikan komentar hadis tsb sahih  atau tdk . Yakni  hadis Rasulullah shallallahu alaihi wasallam   menjamak di rumah dlm kedaan tdk takut atau  hujan.
سنن الترمذي ت بشار (6/ 230)
أخبرنا الكروخى، أخبرنا القاضى أبو عامر الازدي والشيخ أبو بكر الغورجى وأبو الْمظفر الدهان، قالوا، أخبرنا أبو محمد الجراحى، أخبرنا أبو العباس الْمحبوبى، أخبرنا أبو عيسى الترمذي، قال:
جميع ما في هذا الكتاب من الحديث هو معمول به، وبه أخذ بعض أهل العلم ماخلا حديثين:
حديث ابن عباس: أن النبي صلى الله عليه وسلم جمع بين الظهر والعصر بالمدينة، والمغرب والعشاء من غير خوف ولاسفر، ولا مطر.
وحديث النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال: إذا شرب الخمر فاجلدوه فإن عاد في الرابعة فاقتلوه.
وقد بينا علة الحديثين جميعا في الكتاب.
Intinya : Imam tirmidzi tdk memakai hadis Ibnu Abbas yg menyatakan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam   menjamak di rumah / waktu mukim.
التمييز في تلخيص تخريج أحاديث شرح الوجيز المشهور بـ التلخيص الحبير (3/ 978)
وأجاب أبو حامد عن هذا الجمع: بأنه جمع صوري، وهو أن يؤخر الأولى إلى آخر/ (4) وقتها، ويقدم الثانية عقبها في أول وقتها، وهذا قد جاء صريحا في "الصحيحين" (5) عن عمرو بن دينار قال: قلت: يا أبا الشعثاء، أظنه أخر الظهر وعجل العصر، وأخر المغرب وعجل العشاء، قال: وأنا أظن ذلك.
Intinya : Imam Ghazali menyatakan hadis Ibnu Abbas  itu adalah untuk jamak suri ( bukan jamak taqdim atau ta`khir. )Dan pendapat tsb di dukung hadis yg muttafaq alaih.
Komentarku ( Mahrus ali ) :
Kelirulah orang yg menjamak taqdim atau ta`khir di rumah dengan berpegangan kpd hadis tsb.
Barang siapa yg ingin baca fase larangan  jama` seluruhnya  mk kliklah link sbb :
Cari ilmu agama dg sistim dialog yg ilmiyah ttg buka ketika adzan Maghrib membatalkan puasa   dg penuh persaudaraan di dua grup WA sy . 
Mau ikut , hub 08813270751.082225929198 ,081384008118,0 857-8715-4455 
0812-4194-6733



Sabtu, Januari 27, 2018

Fase ke 27 tentang larangan jama`

Fase ke 27 tentang larangan jama`

Hadis  di bawah ini paling populer sbg kandasan jama` salat
حَدَّثَنَا حَسَّانُ الْوَاسِطِيُّ قَالَ حَدَّثَنَا الْمُفَضَّلُ بْنُ فَضَالَةَ عَنْ عُقَيْلٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا ارْتَحَلَ قَبْلَ أَنْ تَزِيغَ الشَّمْسُ أَخَّرَ الظُّهْرَ إِلَى وَقْتِ الْعَصْرِ ثُمَّ يَجْمَعُ بَيْنَهُمَا وَإِذَا زَاغَتْ صَلَّى الظُّهْرَ ثُمَّ رَكِبَ
(BUKHARI - 1044) : Telah menceritakan kepada kami Hassan Al Waasithiy berkata, telah menceritakan kepada kami Al Mufadhdhal bin Fadhalah dari 'Uqail dari Ibnu Syihab dari Anas bin Malik radliallahu 'anhu berkata; "Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bila berangkat bepergian sebelum matahari condong, Beliau shallallahu 'alaihi wasallam mengakhirkan pelaksanaan shalat zhuhur hingga waktu shalat 'Ashar lalu menggabungkan (jama') keduanya. Dan bila berangkat setelah matahari condong, Beliau laksanakan shalat Zhuhur terlebih dahulu kemudian setelah itu berangkat".
HR Bukhari
Komentarku ( Mahrus ali ) :
Tiada keterangan ttg salat jama` isya` dan Maghrib.

صحيح مسلم (1/ 489)
-           (704) وحَدَّثَنِي أَبُو الطَّاهِرِ، وَعَمْرُو بْنُ سَوَّادٍ، قَالَا: أَخْبَرَنَا ابْنُ وَهْبٍ، حَدَّثَنِي جَابِرُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ، عَنْ عُقَيْلٍ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، عَنْ أَنَسٍ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِذَا عَجِلَ عَلَيْهِ السَّفَرُ، يُؤَخِّرُ الظُّهْرَ إِلَى أَوَّلِ وَقْتِ الْعَصْرِ، فَيَجْمَعُ بَيْنَهُمَا، وَيُؤَخِّرُ الْمَغْرِبَ حَتَّى يَجْمَعَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ الْعِشَاءِ، حِينَ يَغِيبُ الشَّفَقُ»
………………………………………, dari Anas  dari Nabi  shallallahu alaihi wasallam : Bila beliau tergesa – gesa untuk pergi  mk meng akhirkan  zhuhur sampai pd  permulaan waktu Asar , lalu di jamak antara keduanya  dan meng akhirkan maghrib lalu di jamak dg Isya`  ketika awan merah lenyap.
Komentarku ( Mahrus ali ) :
Di sini  menggunakan kalimat : Bila beliau tergesa – gesa untuk pergi “   …………………. Beda dengan  redaksi riwayat yg pertama  yg juga dari Anas menggunakan kalimat : Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bila berangkat bepergian sebelum matahari condong,”
Di riwayat  itu ada tambahan   ttg salat jama` Maghrib dan Isya`.

__________ صحيح مسلم (1/ 489)
47 - (704) وحَدَّثَنِي عَمْرٌو النَّاقِدُ، حَدَّثَنَا شَبَابَةُ بْنُ سَوَّارٍ الْمَدَايِنِيُّ، حَدَّثَنَا لَيْثُ بْنُ سَعْدٍ، عَنْ عُقَيْلِ بْنِ خَالِدٍ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، عَنْ أَنَسٍ، قَالَ: «كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَجْمَعَ بَيْنَ الصَّلَاتَيْنِ فِي السَّفَرِ، أَخَّرَ الظُّهْرَ حَتَّى يَدْخُلَ أَوَّلُ وَقْتِ الْعَصْرِ، ثُمَّ يَجْمَعُ بَيْنَهُمَا»
Intinya  dlm riwayat Muslim ini tdk ada keterangan jamak antara Maghrib dan Isya` . Pd hal sm dari sahabat Anas.
عن أبي العباس محمَّد بن يعقوب، عن محمَّد بن إسحاق الصغاني، عن حسان بن عبد الله، عن المفضل بن فضالة، عن عقيل عن ابن شهاب، عن أنس: أن النبي - صلى الله عليه وسلم - كان إذا ارتحل قبل أن تزيغ الشمس أخر الظهر إلى وقت العصر، ثم نزل فجمع بينهما، فإن زاغت الشمس قبل أن يرتحل صلى الظهر والعصر، ثم ركب.
__________
التمييز في تلخيص تخريج أحاديث شرح الوجيز المشهور بـ التلخيص الحبير (3/ 977)
وهو في "الصحيحين" (1) من هذا الوجه بهذا السياق، وليس فيهما: و"العصر" وهي زيادة غريبة صحيحة الإسناد.
Intinya : Jamak Takdim dzhuhur dan Asar adalah tambahan yg nyeleneh tp sanadnya sahih.
Komentarku ( Mahrus ali ) :
Sebab biasanya di hadis – hadis yg lain, ketika matahari telah condong  ke barat , mk Rasulullah shallallahu alaihi wasallam   hanya melakukan salat zhuhur sj  tanpa di jamak. Karena itu , di katakan  jamak takdim  zhuhur dan Asar adalah tambahan perawi.


المسند الموضوعي الجامع للكتب العشرة (12/ 387)
نا يُونُسُ بْنُ عَبْدِ الْأَعْلَى الصَّدَفِيُّ، أَخْبَرَنِي جَابِرُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ، عَنْ عُقَيْلِ بْنِ خَالِدٍ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكِ، مِثْلَ حَدِيثِ عَلِيِّ بْنِ حُسَيْنٍ يَعْنِي أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا عَجَّلَ بِهِ السَّيْرُ يَوْمًا جَمَعَ بَيْنَ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ، وَإِذَا أَرَادَ السَّفَرَ لَيْلَةً جَمَعَ بَيْنَ الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ، يُؤَخِّرُ الظُّهْرَ إِلَى أَوَّلِ وَقْتِ الْعَصْرِ، فَيَجْمَعُ بَيْنَهُمَا وَيُؤَخِّرُ الْمَغْرِبَ، حَتَّى يَجْمَعَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ الْعِشَاءِ حِينَ يَغِيبُ الشَّفَق , (خز) 969
Intinya : Ada tambahan dr perawi : Bila beliau  hendak berpergian waktu malam , mk menjamak antara salat maghrib dan Isya`.

Komentarku ( Mahrus ali ) :
Entah kapan kalimat itu di tambahkan, di masa sahabat atau  masa kelanjutannya ……………., tdk di mengerti.

السنن الكبرى للبيهقي (3/ 231)
5523 - أَخْبَرَنَا أَبُو عَمْرٍو الْأَدِيبُ، ثنا أَبُو بَكْرٍ الْإِسْمَاعِيلِيُّ، أنبأ جَعْفَرٌ الْفِرْيَابِيُّ، ثنا إِسْحَاقُ بْنُ رَاهَوَيْهِ، أنا شَبَابَةُ بْنُ سَوَّارٍ، عَنْ لَيْثِ بْنِ سَعْدٍ، عَنْ عُقَيْلٍ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ: " كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانَ فِي سَفَرٍ فَزَالَتِ الشَّمْسُ صَلَّى الظُّهْرَ وَالْعَصْرَ جَمِيعًا ثُمَّ ارْتَحَلَ "
 …………….., dari Anas bin Malik berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam   bila dlm perjalanan lalu matahari  zawal, mk menjalankan  salat   zhuhur dan Asar dg di jamak lalu pergi ………………
Komentarku ( Mahrus ali ) :
Redaksi ini paling nyeleneh , tdk terdapat di hadis – hadis  yg lalu  pd hal sama dari sahabat Anas .

Jadi landasan  jamak yg dilakukan orang – orang adalah hadis dari Anas bin Malik itu yg redaksinya saja  sudah kacau. Dan ini tanda kelemahan matan hadis.
Intinya landasan jamak itu hadis dari Anas bin Malik itu tiada lagi sahabat yg meriwayatkannya kcl beliau. Dan ini juga dikatakan tafarrud  di kalangan  sahabat. . Dan ia hanya dari Anas . Tafarrudnya jg pd Ibn Syihab azzuhri  yg wafat pd tahun 125 H. Jd pada masa beliau hadis itu masih blm ada yg tahu kecuali beliau.
Bila kita ikut hadis tsb mk kita akan bertentangan dh ayat 103 Nisa` yg menyatakan  bahwa salat wajib punya waktu tersendiri.
Tdk boleh di campur aduk.
Juga bertentangan dg hadis yg menyatakan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam   dn para sahabat ketika haji wada` berjalan mulai Medinah ke Mekkah dan pp juga tdk melakukan jamak dan tiada sahabat yg melakukannya. Bila jama` itu benar, mk mesti ada sahabat yg melakukannya.
Bila kita berlandaskan hadis itu mk kita berlandaskan kpd hadis yg kacau maknanya dan tafarrud sanadnya jg bertentagan  dg hadis lain yg sahih dan quran.
Kita hrs ikut  al quran ayat 103 Nisa` sj lebih selamat.
Kita  ikut perilaku Rasulullah shallallahu alaihi wasallam   dan para sahabatnya yg tdk menjamak ketika perjalanan haji wada`.

Kita tdk ikut landasan jama` yg hanya riwayat Anas bin Malik atau  Ibn Syihab azzuhri itu.

Selasa, Januari 23, 2018

Fase ke 26 tentang larangan jama`

Fase ke 26 tentang larangan jama`
Ada sang ustadz menulis sbb:
2. Sholat Dijamak Karena Sakit

Berdasarkan hadis yang diriwayatkan Muslim di atas serta yang diriwayatkan Muslim, Nasa’i, Abu Daud, dan Tirmidzi. Dengan teks hadis

عن ابن عباس قال :صلى رسول الله صلى الله عليه و سلم, الظهر والعصر جميعا بالمدينة فى غير خوف ولا سفر, قال ابو الزبير : فسالت سعيدا لم فعل ذلك؟ فقال سالت ابن عباس كما سالتنى فقل : ارادا ان لايحرج احدا من امتى

Dari Ibnu Abbas ia berkata: “Rasulullah saw pernah shalat di Madinah dengan menjama’kan Dluhur dan ashar tidak dalam keadaan takut dan perjalanan. Abu az-Zubaer salah seorang perawi tersebut berkata : “saya bertanya kepada Said mengapa Rasulullah berbuat demikian maka Said menjawab saya pernah menanyakan pertanyaan seperti itu kepada Ibnu Abbas. Ia menjawab Rasulullah ingin agar tidak memberatkan ummatnya.”

Para ulama berbeda pendapat tentang interpretasi terhadap hadis ini dan dan tentang kebolehan menjamak shalat tanpa uzur imam an-Nawawi menyebutkan beberapa pendapat :

Tirmizdi mengatakan tidak terdapat dalam kitab saya suatu hadis yang disepakati untuk tidak diamalkan yaitu hadis Ibnu Abbas tentang shalat jamak di Madinah tanpa adanya keadaan takut atau hujan. Kemudian an-Nawawi membenarkan pendapat at-Tirmizdi mengenai hadis Ibnu Abbas.

Ada pula yang menafsirkan sebagai jama’ pada pertemuan dua waktu, yaitu beliau mengakhirkan shalat pertama pada penghujung waktunya dan segera memulai shalat kedua pada awal waktunya.
Ada pula yang mentakwil hadis ini dengan sakit. Artinya, jamak boleh dilakukan ketika berada di tempat (tidak musafir) apabila dalam keadaan sakit. an-Nawawi memilih pendapat ini.
Sebagaian ulama membolehkan jama’ tanpa uzur kalau ada keperluan penting sepanjang tidak dibiasakan terus menerus. Pendapat ini dipegang oleh Ibnu Sirin, Asyhab dari mazhab Maliki, al-Qaffal dan as-Syasyi al-Kabiri dari mahzab Syafi’i, dan segolongan ahli hadis dan ini dipilih oleh Ibnu al-Munzir.
Ibnu mundzir mengatakan bahwa tidak ada alasan untuk mentakwil hadis Ibnu Abbas itu dengan uzur tertentu, karena Ibnu Abbas sendiri menegaskan maksud Rasulullah melakukan yang demikian, yaitu untuk memberikan kelapangan pada umatnya.

Catatan. Bahwa hadis tentang jamak shalat bukan dalam perjalanan itu tidak dilakukan dengan qasar, jadi hanya jama’ saja. (Tanya Jawab Tim Tarjih) Adapun orang sakit, seperti sakit perut atau semisalnya boleh melakukan jama’, tidak denagn qasar (ringkas). Sebagai pilihan boleh melakukan shalat yang pertama (Dhuhur atau Maghrib) diakhir waktu, kemudian kemudian melakukan shalat yang kedua (Ashar atau Isya’) di awal waktu. Untuk menghilangkan kesusahan.
Barang siapa takut akan pingsan, pusing, demam, pada waktu shalat yang kedua (Ashar atau Isya’) maka shalat yang kedua itu dimajukan ke shalat yang pertama (Dhuhur atau Maghrib), jama’ taqdiem.

Sebagai kongklusi dari jama’ bagi orang yang sakit itu sesungguhnya shalat yang dijama’ disebabkan takut akan tidak sadar (hilang akal), atau apabila jama’ itu lebih menolong dan memudahkan dan waktunya pada shalat yang pertama atau secara taqdiem. (Fiqh Islam wa Adillatuhu)
Sumber: https://www.tongkronganislami.net/tata-cara-sholat-jamak-dan-qhasar/
Komentarku ( Mahrus ali ) :
Hadis di atas sdh di bhs di fase ke 8 , sebagian keterangannya sbb: 

نصب الراية لأحاديث الهداية مع حاشيته بغية الألمعي في تخريج الزيلعي (2/ 194)
وَلَمْ يَقُلْ أَحَدٌ مِنَّا، وَلَا مِنْهُمْ، بِجَوَازِ الْجَمْعِ فِي الْحَضَرِ، قَالَ: فَدَلَّ عَلَى أَنَّ مَعْنَى الْجَمْعِ مَا ذَكَرْنَاهُ مِنْ تَأْخِيرِ الْأُولَى، وَتَعْجِيلِ الْأُخْرَى، قَالَ: وَأَمَّا عَرَفَةُ، وَجَمْعٌ فَهُمَا مَخْصُوصَانِ بِهَذَا الْحُكْمِ، انْتَهَى كَلَامُهُ.
Intinya: Imam Abdullah bin Yusuf az zaila`i menyatakan tidak ada ulama dari madzhab Hanafi atau lainnya yg memperkenankan  jamak di rumah. Jadi hadis itu menunjukkan jamak suri .
http://mantankyainu2.blogspot.co.id/2017/12/fase-ke-8-larangan-jamak.html
Sang penulis berkata:
Ada pula yang mentakwil hadis ini dengan sakit. Artinya, jamak boleh dilakukan ketika berada di tempat (tidak musafir) apabila dalam keadaan sakit. an-Nawawi memilih pendapat ini”.
Komentarku ( Mahrus ali ) :
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam   jg pernah sakit parah dan beliau jg tdk menjamak salat , jg tdk memerintahkan sahabatnya untuk jama` salat. Hadisnya sbb:
مختصر صحيح الإمام البخاري (1/ 216)
[وكانت عائشة تحدِّثُ أن النبي - صلى الله عليه وسلم - قال بعدما دخل بيتَه، واشْتَدَّ [به 7/ 71] وجعُه: هَريقوا عليَّ من سبع قِرَبٍ لم تُحلَلْ أَوْكِيَتُهُنَّ، لَعلِّي أعهدُ إلى الناس، وأُجلِسَ في مِخضب لحفصة زوجَ النبي - صلى الله عليه وسلم -، ثم طفقنا نصُبُّ عليه من تلك القِرَب حتى طفِق (وفي روايةٍ: جَعَلَ) يشير إلينا أن قد فَعَلْتُنَّ، ثم خرج إلى الناس] [فصلى لهم، وخطبهم].
Intinya , beliau sakit parah dan masih ttp berjamaah dan tdk menjamak.
Bila kita  menjamak karena sakit , mk kita tdk punya dalil yg bolehkan jama` karena sakit. Kita akan kufur pd ayat 103 Nisa` yg menyatakan  salat itu punya waktu sendiri , tdk boleh di jama`.
عَنْ أَبِي مَسْعُودٍ الْأَنْصَارِيِّ قَالَ
قَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ لَا أَكَادُ أُدْرِكُ الصَّلَاةَ مِمَّا يُطَوِّلُ بِنَا فُلَانٌ فَمَا رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي مَوْعِظَةٍ أَشَدَّ غَضَبًا مِنْ يَوْمِئِذٍ فَقَالَ أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّكُمْ مُنَفِّرُونَ فَمَنْ صَلَّى بِالنَّاسِ فَلْيُخَفِّفْ فَإِنَّ فِيهِمْ الْمَرِيضَ وَالضَّعِيفَ وَذَا الْحَاجَةِ
(BUKHARI - 88) : Dari Abu Al Mas'ud Al Anshari berkata, seorang sahabat bertanya: "Wahai Rasulullah, aku hampir tidak sanggup shalat yang dipimpin seseorang dengan bacaannya yang panjang." Maka aku belum pernah melihat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam memberi peringatan dengan lebih marah dari yang disampaikannya hari itu seraya bersabda: "Wahai manusia, kalian membuat orang lari menjauh. Maka barangsiapa shalat mengimami orang-orang ringankanlah. Karena diantara mereka ada orang sakit, orang lemah dan orang yang punya keperluan".
Muttafaq alaih .

Di kalangan sahabat , orang sakit juga ikut berjamaah dan tdk menjama`, dan tidak ada yg menjama`. Lalu mengambil teladan dari mn orang yg memperkenankan jama` salat bg orang sakit.

Selasa, Januari 09, 2018

Fase ke 25 tentang larangan jama`

Fase ke 25 tentang larangan jama`
Ada keterangan dlm blog PUSKAFI sbb

Saya berniat menjamak shalat Duhur dan Ashar. Ketika sampai ditujuan, saya mendapati jamaah shalat Ashar. Apakah saya harus shalat duhur dulu ataukah saya ikut makmum shalat Ashar kemudian baru shalat shalat Duhur?
Jawaban :
Anda mempunyai beberapa pilihan diantaranya :
Pertama : Mengikuti imam dengan niat sholat Dhuhur, setelah salam, maka dilanjutkan dengan mengerjakan sholat 'Ashar.
Kedua : Mengikuti Imam dengan niat sholat 'Ashar, setelah salam, dilanjutkan dengan mengerjakan sholat Dhuhur.
Ketiga : Mengikuti Imam dengan niat sholat sunnah, setelah salam, dilanjutkan dengan sholat Dhuhur dan 'Ashar dengan dijamak.
http://www.ahmadzain.com/read/karya-tulis/234/sholat-jama-dan-qashar/

Komentarku ( Mahrus ali ) :
 Semua pilihan itu adalah ra`yu ( pendapat manusia ) , Imam salat Asar , lalu makmum berniat salat  dhuhur . Aneh sekali , tiada dalilnya , jg tiada tuntunannya. Ada lg , salat Asar di kerjakan dulu lalu salat dhuhur , tambah aneh, sama dengan mendahulukan salat Asar dari pada salat dhuhur , atau sama dengan mengakhirkan salat dhuhur  dan mendahulukan salat Asar.  ADa lagi , Imam salat Asar lalu makmum berniat salat sunah – sama dengan tdk berjamaah , tiada dalilnya , sama dengan para pendeta yg bikin – bikin ajaran untuk umat keristiani .
Itu semua terjadi karena ajaran jama` salat yg keliru . Jama` salat didalam  berpergian atau di rumah hrs di tinggalkan karena ikut ayat 103 Nisa`BIla di jalankan mk sm dengan mengerjakan salah satu dari dua  salat di luar waktunya .



Fase ke 24 tentang larangan menjama` salat.

Fase ke 24 tentang larangan menjama` salat.

Ada pertanyaan sbb:

Hampir setiap jumat saya pulang kampung setelah sholat jumat di kantor. Yang jadi pertanyaan ialah bolehkah sholat ashar saya jamak setelah sholat jumat karena pasti tidak keburu untuk dikerjakan di rumah. Kalau bisa, bagaimana caranya?

Jawaban :

Seseorang dibolehkan menjamak sholat Jum'at dengan 'Ashar jika memang dia dalam perjalanan, dengan syarat bahwa sholat Jum'atnya dikerjakan setelah waktu Dhuhur masuk. Adapun caranya adalah setelah selesai sholat Jum'at bersama imam, maka dia berdiri mengumandangkan iqamah dan dilanjutkan dengan sholat 'Ashar dua reka'at.

Komentarku ( Mahrus ali ) :

Tiada satupun dalil yg membolehkan menjama` salat jumat dg Asar. Waktu berpergian atau di rumah / mukim.

Dalil salat jama` ketika dlm berpergia tlh di jlskan , kurang jls boleh di klik di link ini:

http://mantankyainu2.blogspot.co.id/…/fase-ke-1-tentang-sal…

Dan ini bukti sahabat pergi dari Medinah ke Mekkah dan dari Mekkah ke Medinah juga tdk menjama`.

حَدَّثَنَا أَبُو مَعْمَرٍ قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَارِثِ قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَبِي إِسْحَاقَ قَالَ سَمِعْتُ أَنَسًا يَقُولُ

خَرَجْنَا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ الْمَدِينَةِ إِلَى مَكَّةَ فَكَانَ يُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ رَكْعَتَيْنِ حَتَّى رَجَعْنَا إِلَى الْمَدِينَةِ قُلْتُ أَقَمْتُمْ بِمَكَّةَ شَيْئًا قَالَ أَقَمْنَا بِهَا عَشْرًا

(BUKHARI - 1019) : Telah menceritakan kepada kami Abu Ma'mar berkata, telah menceritakan kepada kami 'Abdul Warits berkata, telah menceritakan kepada kami Yahya bin Abu Ishaq berkata; Aku mendengar Anas radliallahu 'anhu berkata: "Kami pernah bepergian bersama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dari kota Madinah menuju kota Makkah, selama kepergian itu Beliau melaksanakan shalat dua raka'at dua raka'at hingga kami kembali ke Madinah. Aku tanyakan: 'Berapa lama kalian menetap di Makkah?" Dia menjawab: "Kami menetap disana selama sepuluh hari". Muttafaq alaih.

Mrk menjalankan salat qasar sj tanpa jama`.

Jadi solusi bg orang tsb tdk usah menjama` , lalu berhentilah bila waktu salat Asar tiba, pergilah ke masjid untuk wudu, dan carilah tanah untuk salat di situ dan sujud ke tanah tanpa tikar atau sajadah . Jngn salat di atas karpet.

Cari ilmu agama dg sistim dialog yg ilmiyah ttg buka ketika adzan Maghrib membatalkan puasa dg penuh persaudaraan di dua grup WA sy .
Mau ikut , hub 08813270751.082225929198 ,081384008118,0 857-8715-4455

0812-4194-6733

Senin, Januari 08, 2018

Fase ke 22 tentang larangan menjama` salat.

Fase ke 22 tentang larangan menjama` salat.
Ada pertanyaan sbb:
Hampir setiap jumat saya pulang kampung setelah sholat jumat di kantor. Yang jadi pertanyaan ialah bolehkah sholat ashar saya jamak setelah sholat jumat karena pasti tidak keburu untuk dikerjakan di rumah. Kalau bisa, bagaimana caranya?
Jawaban :
Seseorang dibolehkan menjamak sholat Jum'at dengan 'Ashar jika memang dia dalam perjalanan, dengan syarat bahwa sholat Jum'atnya dikerjakan setelah waktu Dhuhur masuk. Adapun caranya adalah setelah selesai sholat Jum'at bersama imam, maka dia berdiri mengumandangkan iqamah dan dilanjutkan dengan sholat 'Ashar dua reka'at.
Komentarku ( Mahrus ali ) :
Tiada satupun dalil yg membolehkan menjama` salat jumat dg Asar. Waktu berpergian atau di rumah / mukim.
Dalil salat jama` ketika dlm berpergia tlh di jlskan , kurang jls boleh di klik di link ini:
Dan ini  bukti  sahabat pergi dari Medinah ke Mekkah dan dari Mekkah ke Medinah juga tdk menjama`.

حَدَّثَنَا أَبُو مَعْمَرٍ قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَارِثِ قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَبِي إِسْحَاقَ قَالَ سَمِعْتُ أَنَسًا يَقُولُ
خَرَجْنَا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ الْمَدِينَةِ إِلَى مَكَّةَ فَكَانَ يُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ رَكْعَتَيْنِ حَتَّى رَجَعْنَا إِلَى الْمَدِينَةِ قُلْتُ أَقَمْتُمْ بِمَكَّةَ شَيْئًا قَالَ أَقَمْنَا بِهَا عَشْرًا
(BUKHARI - 1019) : Telah menceritakan kepada kami Abu Ma'mar berkata, telah menceritakan kepada kami 'Abdul Warits berkata, telah menceritakan kepada kami Yahya bin Abu Ishaq berkata; Aku mendengar Anas radliallahu 'anhu berkata: "Kami pernah bepergian bersama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dari kota Madinah menuju kota Makkah, selama kepergian itu Beliau melaksanakan shalat dua raka'at dua raka'at hingga kami kembali ke Madinah. Aku tanyakan: 'Berapa lama kalian menetap di Makkah?" Dia menjawab: "Kami menetap disana selama sepuluh hari".   Muttafaq alaih.
Mrk menjalankan salat qasar sj tanpa jama`.
Jadi solusi bg orang tsb tdk usah menjama` , lalu berhentilah bila waktu salat Asar tiba,  pergilah ke masjid untuk wudu, dan carilah tanah  untuk salat di situ dan sujud ke tanah tanpa tikar atau sajadah . Jngn salat di atas karpet.