Meluruskan Ritual-ritual Ahli Bid'ah yang dianggap Sunnah. Menggugat sholawat dan dzikir syirik. Menyampaikan pengkajian hadis secara jujur dan ilmiyah Pergilah ke blog ke II : www.mantankyainu2.blogspot.com
Tampilkan postingan dengan label jama` salat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jama` salat. Tampilkan semua postingan
Selasa, Juli 28, 2020
Sabtu, Juli 25, 2020
Senin, Juli 13, 2020
Sabtu, Juli 11, 2020
Sabtu, Januari 25, 2020
Jumat, Desember 27, 2019
Fase ke 23 tentang larangan jama`
Ada keterangan dlm blog PUSKAFI sbb
Istri saya seorang Bidan Desa dan ditempatkan di daerah yang
jauh dari tempat saya bertugas. Kami memutuskan untuk tinggal sementar (kurang
lebih 3 tahun) di desa tersebut. Apakah saya masih di kategorikan musafir yang
boleh menjamak shalat karena saya tidak berencana untuk menetap selamanya di
desa tersebut? Adakah batasan seseorang masih dianggap musafir dan boleh
menjamak shalat?
Jawaban :
Seseorang jika berniat untuk tinggal di suatu tempat selama
3 tahun, dan membawa semua keperluan hidup di tempat tersebut, maka dikatakan
bahwa dia bermukim, sehingga dia tidak boleh menjama' sholat.
Niat dalam hal ini tidak bisa dijadikan ukuran, bisa saja
orang tidak berniat tinggal di suatu tempat selama-lamanya,tetapi dalam
prakteknya dia tinggal di tempat tersebut sampai puluhan tahun lamanya.
Jadi yang menjadi ukuran mukim dan musafir adalah penilaian
masyarakat setempat, ditambah dengan adanya indikasi-indikasi lainnya seperti
kalau dia mendatangkan barang-barang untuk keperluan sehari-hari secara
permanent, seperti tempat tidur, lemari, mesin cuci, ember dan seterusnya.
Karena kebiasaan orang musafir adalah tidak mau repot-repot dengan
barang-barang tersebut, karena dia hanya tinggal sementara.
http://www.ahmadzain.com/…/kary…/234/sholat-jama-dan-qashar/
Komentarku ( Mahrus ali ) :
Sudah di bhs tentang larangan salat jama` baik waktu di
berpergian atau waktu mukim. Jadi lakukanlah salat sbgmn mestinya yaitu
melakukannya tepat waktunya sebagaimana ayat 103 Nisa`. Ingin jls masalah jamak
lihat disini:
http://mantankyainu2.blogspot.co.id/…/fase-ke-1-tentang-sal…
Bagaimana hukum terus menerus menjamak sholat lima waktu
karena lingkungan kerja tidak memungkinkan untuk melaksanakan sholat pada
waktunya?
Jawaban :
Hendaknya dia berusaha sekuat mungkin untuk mencari
pekerjaan yang memungkinkan baginya untuk bisa melakukan sholat wajib pada
waktunya. Suatu pekerjaan yang menghalangi seseorang secara terus menerus untuk
melakukan sholat pada waktunya adalah pekerjaan yang tidak membawa berkah dan
tidak diridhoi oleh Allah swt.
Jadi menjamak sholat sifatnya hanya sementara saja dan dia
hanya rukhsah ( keringanan ), sehingga tidak boleh dilakukan secara terus-
menerus. Jika hal itu karena kondisi tertentu, maka dia dituntut untuk berusaha
sekuat mungkin untuk merubah kondisi darurat tersebut menjadi kondisi yang
normal lagi.
http://www.ahmadzain.com/…/kary…/234/sholat-jama-dan-qashar/
Komentarku ( Mahrus ali ) :
Salat jama` di katakana rukhsah ( keringanan ) belaka adalah
salah kaprah, pemahaman yg keliru yg membudaya. Makanya perlu diliruskan agar
kekeiruan tsb tdk terus berlanjut sampai hari kiamat.
Rukhsah itu apa yg di ringankan oleh Allah, bukan oleh ulama
atau juhala` mulai dulu sampai sekarang . Allah tdk pernah memberikan keringan
jama`, Dia tdk pernah memberikan rukhsah jama`. Allah memberikan rukhsah bagi
musafir atau orang yg sakit untuk tdk berpuasa dan nanti di qadha` di hari lain
spt ayat :
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ
فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ
فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ وَمَن كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ
سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۗ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا
يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ
عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan,
bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi
manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara
yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di
negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan
itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka
(wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada
hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki
kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu
mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu
bersyukur. Al Baqarah 185.
Qashar salat waktu berpergian yg takut di serang musuh atau
untuk ihram haji atau Umrah itu termasuk rukhsah sbgmn ayat :
وَإِذَا ضَرَبْتُمْ فِي الْأَرْضِ
فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَن تَقْصُرُوا مِنَ الصَّلَاةِ إِنْ خِفْتُمْ أَن
يَفْتِنَكُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا ۚ إِنَّ الْكَافِرِينَ كَانُوا لَكُمْ عَدُوًّا
مُّبِينًا
Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa
kamu men-qashar salat , jika kamu takut diserang orang-orang kafir.
Sesungguhnya orang-orang kafir itu adalah musuh yang nyata bagimu. NIsa 101.
Masalah qashar ini jg perlu di bahas dg detil ,apakah boleh
kita mengqashar salat ketika pergi ke miniatour, taman safari , pantai di Bali
, berdegang , silatur rahmi yg dlm keadaan aman dan tdk ada kehawatiran di
serang musuh. Insya Allah suatu saat kita bhs dg detil . Sebab al quran
memberikan sarat boleh mengqashar salat ketika kondisi takut di serang musuh.
Dan scr peraktek , Rasulullah shallallahu alaihi wasallam jg mengqashar ketika
ihram haji dan umrah .
UNtuk salat jama tidak ada rukhsah , tdk ada perintahnya dlm
al quran . Jamak malah di larang sbgmn keterangan yg lalu.
Jumat, Februari 02, 2018
Fase ke 29 tentang larangan salat jama`
Fase ke 29 tentang larangan salat
jama`
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ
بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الدَّارِمِيُّ حَدَّثَنَا أَبُو عَلِيٍّ الْحَنَفِيُّ
حَدَّثَنَا مَالِكٌ
وَهُوَ ابْنُ أَنَسٍ عَنْ
أَبِي الزُّبَيْرِ الْمَكِّيِّ أَنَّ أَبَا الطُّفَيْلِ عَامِرَ بْنَ وَاثِلَةَ
أَخْبَرَهُ أَنَّ مُعَاذَ بْنَ جَبَلٍ أَخْبَرَهُ قَالَ
خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَامَ غَزْوَةِ تَبُوكَ فَكَانَ
يَجْمَعُ الصَّلَاةَ فَصَلَّى الظُّهْرَ وَالْعَصْرَ جَمِيعًا وَالْمَغْرِبَ
وَالْعِشَاءَ جَمِيعًا حَتَّى إِذَا كَانَ يَوْمًا أَخَّرَ الصَّلَاةَ ثُمَّ
خَرَجَ فَصَلَّى الظُّهْرَ وَالْعَصْرَ جَمِيعًا ثُمَّ دَخَلَ ثُمَّ خَرَجَ بَعْدَ
ذَلِكَ فَصَلَّى الْمَغْرِبَ وَالْعِشَاءَ جَمِيعًا .........................
(MUSLIM - 4229) : Telah menceritakan kepada
kami Abdullah bin Abdurrahman Ad Darimi Telah menceritakan kepada kami Abu Ali
Al Hanafi Telah menceritakan kepada kami Malik yaitu Ibnu Anas dari Abu Zubair
Al Makki bahwa Abu Thufail Amir bin Watsilah Telah mengabarkan kepadanya Mu'adz
bin Jabal mengabarkan kepadanya; dia berkata; "Kami bepergian bersama
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pada tahun perang Tabuk. Dalam
perjalanan itu beliau menjama' shalat Zhuhur dengan 'Ashar dan Maghrib dengan 'Isya,
sehingga pada suatu hari beliau menjama' ta'khir. Beliau pergi untuk shalat
jama' Zhuhur dengan 'Ashar. Kemudian beliau kembali. Lalu beliau keluar lagi
untuk menjama' shalat Maghrib dengan Isya.
أخرجه مالك "الموطأ"383
أحمد 5/229 (22347) قال: حدَّثنا عَبْد الرَّحْمان، حدَّثنا قُرَّة بن خالد. وفي 5/230
(22362) قال: حدَّثنا عَبْد الرَّزَّاق، أنبأنا سُفْيان (ح) وأبو أحمد، حدَّثنا
سُفْيان. وفي 5/233 (22386) قال: حدَّثنا حدَّثنا حَمَّاد بن خالد، حدَّثنا هِشَام
بن سَعْد. وفي 5/236 (22412) قال: حدَّثنا وَكِيع، عن سُفْيان. وفي 5/237 (22420) قال:
قرأْتُ. ى عَبْد الرَّحْمان بن مَهْدي: حدَّثنا مالك. وفي 5/238 (22421) قال: حدَّثنا
رَوْح، حدَّثنا مالك ابن أَنَس. و"عَبد بن حُميد" 122 قال: حدَّثنا أبو
نُعَيْم، حدَّثنا هِشَام بن سَعْد. و"الدارِمِي" 1515 قال: أَخْبَرنا
أبو. ي الحَنَفِي، حدَّثنا مالك بن أَنَس. و"مسلم"2/151 (1577) قال: حدَّثنا
أحمد بن عَبْد الله بن يُونُس، حدَّثنا زُهَيْر. وفي 2/152 (1578) قال: حدَّثنا
يَحيى بن حَبِيب، حدَّثنا خالد، يَعْنِي ابن الحارث، حدَّثنا قُرَّة بن خالد. وفي 7/60
(6011) قال: حدَّثنا عَبْد الله بن عَبْد الرَّحْمان الدَّارِمِي، حدَّثنا أبو. ي
الحَنَفِي، حدَّثنا مالك، وهو ابن أَنَس. و"أبو داود"1206 قال: حدَّثنا
القَعْنَبِي، عن مالك. وفي (1208) قال: حدَّثنا يَزِيد بن خالد بن يَزِيد بن عَبْد
الله بن مَوْهَب الرَّمْلِي الهَمْدَانِي، حدَّثنا المُفَضَّل بن فَضَالَة،
واللَّيْث بن سَعْد، عن هِشَام بن سَعْد. و"ابن ماجة"1070 قال: حدَّثنا
علي بن مُحَمد، حدَّثنا وَكِيع، عن سُفْيان.
المسند الجامع (15/ 224)
"النَّسائي"1/285، وفي "الكبرى"1576
قال: أَخْبَرنا مُحَمد بن سَلَمَة، والحارث بن مِسْكِين، قراءةً. يه وأنا أَسْمَع،
عن ابن القاسم، قال: حدَّثني مالك. و"ابن خزيمة"966 قال: حدَّثنا
يَعْقُوب بن إبراهيم الدَّوْرَقِي، حدَّثنا عَبْد الرَّحْمان ابن مَهْدي، حدَّثنا قُرَّة.
وفي (968 و1704) قال: حدَّثنا يُونُس بن عَبْد الأَعْلَى، أَخْبَرنا ابن وَهْب، أن
مالكًا حدَّثه.
خمستهم (مالك بن أَنَس،
وسُفْيان الثَّوْرِي، وقُرَّة بن خالد، وهِشَام بن سَعْد، وزُهَيْر) عن أَبي
الزُّبَيْر المَكِّي، عن أَبي الطُّفَيْل، عامر بن وَاثِلَة، فذكره.
*
Hadis tsb di kitab manapun ttp
intinya dari satu orang yaitu Abuz Zubair al makki. Identitasnya :
ــ محمد بن مسلم بن تدرس القرشى الأسدى ، أبو
الزبير المكى ، مولى حكيم بن حزام
الطبقة : 4 : طبقة تلى الوسطى من التابعين
الوفاة : 126 هـ
روى له : خ م د ت س ق
مرتبته عند ابن حجر : صدوق
إلا أنه يدلس
مرتبته عند الذهبـي : حافظ
ثقة ، و كان مدلسا واسع العلم ، قال أبو حاتم : لا يحتج به
mausuah ruwatil hadis 6291
Ibnu Hajar dan Dzahabi
jg menyatakan Abu Zubair adalah mudallis ( Suka menyelinapkan perawi
lemah ) . Dan Abu Hatim menyatakan : Hadisnya tdk bisa di buat hujjah.
وأبو الزبير مدلس وقد عنعنه
Abuz zubair disini adalah mudallis
dan dia menyatakan dari Abu Thufail
bukan bercerita kepada kami Abu Thufail . Hal sedemikian di hawatirkan
terjadi penyelinapan perawi lemah agar hadis di katakan sahih. Jadi hadis itu
lemah karena tadlis Abuz Zubair atau karena perawi Abuz Zubair adalah mudallis.
حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ
سَعِيدٍ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ بْنُ سَعْدٍ عَنْ يَزِيدَ بْنِ أَبِي حَبِيبٍ عَنْ
أَبِي الطُّفَيْلِ هُوَ عَامِرُ بْنُ وَاثِلَةَ عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ فِي غَزْوَةِ تَبُوكَ إِذَا ارْتَحَلَ قَبْلَ
زَيْغِ الشَّمْسِ أَخَّرَ الظُّهْرَ إِلَى أَنْ يَجْمَعَهَا إِلَى الْعَصْرِ
فَيُصَلِّيَهُمَا جَمِيعًا وَإِذَا ارْتَحَلَ بَعْدَ زَيْغِ الشَّمْسِ عَجَّلَ
الْعَصْرَ إِلَى الظُّهْرِ وَصَلَّى الظُّهْرَ وَالْعَصْرَ جَمِيعًا ثُمَّ سَارَ
وَكَانَ إِذَا ارْتَحَلَ قَبْلَ الْمَغْرِبِ أَخَّرَ الْمَغْرِبَ حَتَّى
يُصَلِّيَهَا مَعَ الْعِشَاءِ وَإِذَا ارْتَحَلَ بَعْدَ الْمَغْرِبِ عَجَّلَ
الْعِشَاءَ فَصَلَّاهَا مَعَ الْمَغْرِبِ
(TIRMIDZI - 508) : Telah menceritakan
kepada kami Qutaibah bin Sa'id telah menceritakan kepada kami Al Laits bin Sa'd
dari Yazid bin Abu Habib dari Abu Ath Thufail dia adalah Amir bin Wailah dari
Mu'adz bin Jabal bahwa pada saat perang Tabuk, Nabi Shalallahu 'alaihi wa salam
berangkat sebelum matahari condong, maka beliau mengakhirkan shalat zhuhur
sampai beliau menggabungkan dengan shalat ashar, lalu beliau mengerjakan kedua
shalat tersebut. Jika beliau berangkat setelah matahari condong, maka beliau
bersegera mengerjakan shalat ashar di waktu zhuhur, lalu beliau menjama' shalat
zhuhur dengan shalat ashar, kemudian beliau berangkat. Bila beliau berangkat
sebelum Maghrib, maka beliau mengakhirkan shalat Maghrib hingga beliau
mengerjakannya bersamaan dengan shalat Isya', jika beliau berangkat setelah
Maghrib, maka beliau bersegera mengerjakan shalat Isya' bersama dengan shalat
Maghirb.
وَحَدِيثُ مُعَاذٍ حَدِيثٌ
حَسَنٌ غَرِيبٌ تَفَرَّدَ بِهِ قُتَيْبَةُ لَا نَعْرِفُ أَحَدًا رَوَاهُ عَنْ
اللَّيْثِ غَيْرَهُ وَحَدِيثُ اللَّيْثِ عَنْ يَزِيدَ بْنِ أَبِي حَبِيبٍ عَنْ
أَبِي الطُّفَيْلِ عَنْ مُعَاذٍ حَدِيثٌ غَرِيبٌ وَالْمَعْرُوفُ عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ
حَدِيثُ مُعَاذٍ مِنْ حَدِيثِ أَبِي الزُّبَيْرِ عَنْ أَبِي الطُّفَيْلِ عَنْ
مُعَاذٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَمَعَ فِي غَزْوَةِ
تَبُوكَ بَيْنَ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ وَبَيْنَ الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ
Intinya: Kata Tirmidzi , hadis tsb
nyeleneh, dan hanya Qutaibah yg
meriwayatkannya . Hadis yg populer malah
hadis yg pertama tadi . Pada hal setelah pengkajian, hadis yg pertama itu itu cacat karena Tafarrud pd
Auz zubair dan tadlisnya.
Imam Tirmidzi berkata:
وَبِهَذَا الْحَدِيثِ
يَقُولُ الشَّافِعِيُّ وَأَحْمَدُ وَإِسْحَقُ يَقُولَانِ لَا بَأْسَ أَنْ يَجْمَعَ
بَيْنَ الصَّلَاتَيْنِ فِي السَّفَرِ فِي وَقْتِ إِحْدَاهُمَا
Dengan hadis tsb , Imam Syafii , Ahmad
, Ishak menyatakan boleh menjama antara dua salat dlm berpergian baik takdim atau ta`khir.
Komentarku ( Mahrus ali ) :
Ketiga tokoh tsb memperbolehkan salat jama` atas
dasar hadis yg di katakan oleh Imam Tirmidzi sbg hadis nyeleneh itu , tiada
hadis lain yg mendukung.
- أخبرنا محمد بن عبد الرحمن السَّامي، حدَّثنا أحمد
بن حنبل، حدَّثنا عبد الرزاق، أنبأنا معمر، عن يحيى بن أبي كثير، عن محمد بن عبد
الرحمن بن ثوبان.عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ: أَنَ النَّبِيَّ - صلى الله عليه
وسلم - أقَامَ بِتَبُوكَ عِشْرينَ يَوْماً يَقْصُرُ الصَّلاةَ (2).
Intinya : Rasulullah shallallahu
alaihi wasallam bertempat di Tabuk dua
puluh hari dengan mengqashar salat ( salatnya
hanya dua rakaat ) .
Komentarku ( Mahrus ali ) :: Tidak
ada keterangan menjama`, beliau mengqashar sj. .
Bila menjama` mesti di katakan
mengqashar dan menjama` .
_________ موارد الظمآن إلى زوائد ابن حبان ت حسين أسد (2/ 265)
(2) إسناده صحيح، والحديث في الإِحسان 4/ 183 برقم (2738).
وانظر ما بعده وهو في مصنف عبد الرزاق 2/ 532 برقم (4335).
Sanadnya sahih , kata syaikh Sulaim
Asad addarani .
مسند احمد بن حنبل (بأحكام
شعيب الأرنؤوط) (3/ 413)
تعليق شعيب الأرنؤوط : إسناده
صحيح على شرط الشيخين
Syaikh Syuaib al arnauth ( ahli hadis
se level al albani ) menyatakan
sanadnya sahih sesuai dengan persaratan perawi Bukhari dan Muslim.
الجامع الصحيح للسنن
والمسانيد (28/ 117)
(1) (د) 1235 , (حم) 14172 , (عب) 4335 , (حب) 2749 , (هق)
5473 , وصححه الألباني في الإرواء: 574
Al albani menyatakan sahih pd hadis
tsb dlm kitab al irwa`.
Intinya , keterangan yg ada , Rasulullah
shallallahu alaihi wasallam di Tabuk
hanya mengqashar salat ( tidak menjama` ).
Dan ini yg cocok dengan ayat :
وَإِذَا ضَرَبْتُمْ فِي
الْأَرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَن تَقْصُرُوا مِنَ الصَّلَاةِ إِنْ خِفْتُمْ
أَن يَفْتِنَكُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا ۚ إِنَّ الْكَافِرِينَ كَانُوا لَكُمْ
عَدُوًّا مُّبِينًا
Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka
tidaklah mengapa kamu men-qashar salat , jika kamu takut diserang orang-orang
kafir. Sesungguhnya orang-orang kafir itu adalah musuh yang nyata bagimu. NIsa 101.
UNtuk salat jama tidak ada rukhsah , tdk ada perintahnya dlm
al quran . Jamak malah di larang sbgmn keterangan yg lalu.
Bila ingin bc dg detil ttg larangan
salat jama` fase per fase klik disini :
http://mantankyainu2.blogspot.co.id/2018/01/fase-ke-28-tentang-larangan-jama.html
Cari ilmu agama dg sistim dialog yg ilmiyah ttg buka ketika
adzan Maghrib membatalkan puasa dg
penuh persaudaraan di dua grup WA sy .
Mau ikut , hub 08813270751.082225929198 ,081384008118,0 857-8715-4455
0812-4194-6733
Mau ikut , hub 08813270751.082225929198 ,081384008118,0 857-8715-4455
0812-4194-6733
Senin, Januari 29, 2018
fase ke 28 tentang larangan salat jama`
Ustadz
Abdullah Shaleh Al Hadrami Menulis :
Berkata
Imam Nawawi rahimahullah :”Sebagian Imam (ulama) berpendapat bahwa seorang yang
mukim boleh menjama’ shalatnya apabila diperlukan asalkan tidak dijadikan
sebagai kebiasaan.” (lihat Syarah Muslim, imam Nawawi 5/219 dan Al Wajiz fi
Fiqhis Sunnah wal Kitabil Aziz 141).
Dari Ibnu Abbas
radhiallahu anhuma berkata, bahwasanya Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam
menjama’ara Dhuhur dengan Ashar dan antara Maghrib dengan Isya’ di Madinah
tanpa sebab takut dan safar (dalam riwayat lain; tanpa sebab takut dan hujan). Ketika
ditanya hal itu kepada Ibnu Abbas beliau menjawab:”Bahwa Rasulullah Shalallahu
‘Alaihi Wassalam tidak ingin memberatkan umatnya.” (HR.Muslim dll. Lihat
Sahihul Jami’ 1070).
https://abuzubair.wordpress.com/2007/07/26/seputar-hukum-shalat-jama%E2%80%99-dan-qashar/
Komentarku (
Mahrus ali )
Saya kutip
sebagian sj dr tulisan Ustadz Abdullah
Shaleh Al Hadrami sebab keterangan yg lain telah di kupas dlm fase yg dulu.
Bila
maksud jamak disitu , jama` taqdim atau ta`khir, mk jls
kelirulah pendapat ulama tsb. Sebab perawinya
sendiri bernama Abus Sya`tsa`telah menyatakan bahwa jama` disitu adalah jama` suri.
Yakni meng akhirkan salat zhuhur di akhir waktunya dan menjalankan salat Asar
di awal waktunya . jd spt salat biasa yg tepat waktunya. :
Dan ini
bahasan sy yg lalu tentang hadis
tsb.
سنن النسائي (1/ 290)
- أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ بْنِ أَبِي رِزْمَةَ
وَاسْمُهُ غَزْوَانُ قَالَ: حَدَّثَنَا الْفَضْلُ بْنُ مُوسَى، عَنِ الْأَعْمَشِ،
عَنْ حَبِيبِ بْنِ أَبِي ثَابِتٍ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ، عَنِ ابْنِ
عَبَّاسٍ، «أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُصَلِّي
بِالْمَدِينَةِ يَجْمَعُ بَيْنَ الصَّلَاتَيْنِ بَيْنَ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ،
وَالْمَغْرِبِ وَالْعِشَاء مِنْ غَيْرِ خَوْفٍ وَلَا مَطَرٍ». قِيلَ لَهُ: لِمَ؟
قَالَ: «لِئَلَّا يَكُونَ عَلَى أُمَّتِهِ حَرَجٌ»
__________
[حكم الألباني] سكت عنه الشيخ
Intinya di
tempat lain , al bani tdk memberikan komentar hadis tsb sahih atau tdk . Yakni hadis Rasulullah shallallahu alaihi
wasallam menjamak di rumah dlm kedaan
tdk takut atau hujan.
سنن الترمذي ت بشار (6/ 230)
أخبرنا الكروخى، أخبرنا
القاضى أبو عامر الازدي والشيخ أبو بكر الغورجى وأبو الْمظفر الدهان، قالوا،
أخبرنا أبو محمد الجراحى، أخبرنا أبو العباس الْمحبوبى، أخبرنا أبو عيسى الترمذي،
قال:
جميع ما في هذا الكتاب
من الحديث هو معمول به، وبه أخذ بعض أهل العلم ماخلا حديثين:
حديث ابن عباس: أن النبي
صلى الله عليه وسلم جمع بين الظهر والعصر بالمدينة، والمغرب والعشاء من غير خوف
ولاسفر، ولا مطر.
وحديث النبي صلى الله
عليه وسلم أنه قال: إذا شرب الخمر فاجلدوه فإن عاد في الرابعة فاقتلوه.
وقد بينا علة الحديثين
جميعا في الكتاب.
Intinya : Imam
tirmidzi tdk memakai hadis Ibnu Abbas yg menyatakan Rasulullah shallallahu
alaihi wasallam menjamak di rumah / waktu
mukim.
التمييز في تلخيص تخريج
أحاديث شرح الوجيز المشهور بـ التلخيص الحبير (3/ 978)
وأجاب أبو حامد عن هذا
الجمع: بأنه جمع صوري، وهو أن يؤخر الأولى إلى آخر/ (4) وقتها، ويقدم الثانية
عقبها في أول وقتها، وهذا قد جاء صريحا في "الصحيحين" (5) عن عمرو بن
دينار قال: قلت: يا أبا الشعثاء، أظنه أخر الظهر وعجل العصر، وأخر المغرب وعجل
العشاء، قال: وأنا أظن ذلك.
Intinya : Imam
Ghazali menyatakan hadis Ibnu Abbas itu
adalah untuk jamak suri ( bukan jamak taqdim atau ta`khir. )Dan pendapat tsb di
dukung hadis yg muttafaq alaih.
Komentarku (
Mahrus ali ) :
Kelirulah
orang yg menjamak taqdim atau ta`khir di rumah dengan berpegangan kpd hadis tsb.
Barang siapa
yg ingin baca fase larangan jama` seluruhnya mk kliklah link sbb :
Cari ilmu agama dg sistim dialog yg ilmiyah ttg buka ketika
adzan Maghrib membatalkan puasa dg
penuh persaudaraan di dua grup WA sy .
Mau ikut , hub 08813270751.082225929198 ,081384008118,0 857-8715-4455
0812-4194-6733
Mau ikut , hub 08813270751.082225929198 ,081384008118,0 857-8715-4455
0812-4194-6733
Sabtu, Januari 27, 2018
Fase ke 27 tentang larangan jama`
Fase ke 27 tentang larangan jama`
Hadis di bawah ini
paling populer sbg kandasan jama` salat
حَدَّثَنَا حَسَّانُ الْوَاسِطِيُّ قَالَ حَدَّثَنَا
الْمُفَضَّلُ بْنُ فَضَالَةَ عَنْ عُقَيْلٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ أَنَسِ بْنِ
مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
إِذَا ارْتَحَلَ قَبْلَ أَنْ تَزِيغَ الشَّمْسُ أَخَّرَ الظُّهْرَ إِلَى وَقْتِ
الْعَصْرِ ثُمَّ يَجْمَعُ بَيْنَهُمَا وَإِذَا زَاغَتْ صَلَّى الظُّهْرَ ثُمَّ
رَكِبَ
(BUKHARI - 1044) : Telah menceritakan kepada kami Hassan Al
Waasithiy berkata, telah menceritakan kepada kami Al Mufadhdhal bin Fadhalah
dari 'Uqail dari Ibnu Syihab dari Anas bin Malik radliallahu 'anhu berkata; "Nabi
shallallahu 'alaihi wasallam bila berangkat bepergian sebelum matahari condong,
Beliau shallallahu 'alaihi wasallam mengakhirkan pelaksanaan shalat zhuhur
hingga waktu shalat 'Ashar lalu menggabungkan (jama') keduanya. Dan bila
berangkat setelah matahari condong, Beliau laksanakan shalat Zhuhur terlebih dahulu
kemudian setelah itu berangkat".
HR Bukhari
Komentarku ( Mahrus ali ) :
Tiada keterangan ttg salat jama` isya` dan Maghrib.
صحيح مسلم (1/ 489)
- (704) وحَدَّثَنِي أَبُو الطَّاهِرِ، وَعَمْرُو بْنُ سَوَّادٍ، قَالَا: أَخْبَرَنَا
ابْنُ وَهْبٍ، حَدَّثَنِي جَابِرُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ، عَنْ عُقَيْلٍ، عَنِ ابْنِ
شِهَابٍ، عَنْ أَنَسٍ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِذَا
عَجِلَ عَلَيْهِ السَّفَرُ، يُؤَخِّرُ الظُّهْرَ إِلَى أَوَّلِ وَقْتِ الْعَصْرِ،
فَيَجْمَعُ بَيْنَهُمَا، وَيُؤَخِّرُ الْمَغْرِبَ حَتَّى يَجْمَعَ بَيْنَهَا
وَبَيْنَ الْعِشَاءِ، حِينَ يَغِيبُ الشَّفَقُ»
………………………………………, dari Anas
dari Nabi shallallahu alaihi
wasallam : Bila beliau tergesa – gesa untuk pergi mk meng akhirkan zhuhur sampai pd permulaan waktu Asar , lalu di jamak antara
keduanya dan meng akhirkan maghrib lalu
di jamak dg Isya` ketika awan merah
lenyap.
Komentarku ( Mahrus ali ) :
Di sini menggunakan
kalimat : Bila beliau tergesa – gesa untuk pergi “ …………………. Beda dengan redaksi riwayat yg pertama yg juga dari Anas menggunakan kalimat : Nabi
shallallahu 'alaihi wasallam bila berangkat bepergian sebelum matahari condong,”
Di riwayat itu ada
tambahan ttg salat jama` Maghrib dan
Isya`.
__________ صحيح مسلم (1/ 489)
47 - (704) وحَدَّثَنِي عَمْرٌو
النَّاقِدُ، حَدَّثَنَا شَبَابَةُ بْنُ سَوَّارٍ الْمَدَايِنِيُّ، حَدَّثَنَا
لَيْثُ بْنُ سَعْدٍ، عَنْ عُقَيْلِ بْنِ خَالِدٍ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، عَنْ أَنَسٍ،
قَالَ: «كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَرَادَ أَنْ
يَجْمَعَ بَيْنَ الصَّلَاتَيْنِ فِي السَّفَرِ، أَخَّرَ الظُّهْرَ حَتَّى يَدْخُلَ
أَوَّلُ وَقْتِ الْعَصْرِ، ثُمَّ يَجْمَعُ بَيْنَهُمَا»
Intinya dlm riwayat
Muslim ini tdk ada keterangan jamak antara Maghrib dan Isya` . Pd hal sm dari
sahabat Anas.
عن أبي العباس محمَّد بن يعقوب، عن محمَّد بن إسحاق
الصغاني، عن حسان بن عبد الله، عن المفضل بن فضالة، عن عقيل عن ابن شهاب، عن أنس: أن
النبي - صلى الله عليه وسلم - كان إذا ارتحل قبل أن تزيغ الشمس أخر الظهر إلى وقت
العصر، ثم نزل فجمع بينهما، فإن زاغت الشمس قبل أن يرتحل صلى الظهر والعصر، ثم ركب.
__________
التمييز في تلخيص تخريج أحاديث شرح الوجيز المشهور بـ
التلخيص الحبير (3/ 977)
وهو في "الصحيحين" (1) من هذا الوجه بهذا
السياق، وليس فيهما: و"العصر" وهي زيادة غريبة صحيحة الإسناد.
Intinya : Jamak Takdim dzhuhur dan Asar adalah tambahan yg
nyeleneh tp sanadnya sahih.
Komentarku ( Mahrus ali ) :
Sebab biasanya di hadis – hadis yg lain, ketika matahari
telah condong ke barat , mk Rasulullah
shallallahu alaihi wasallam hanya
melakukan salat zhuhur sj tanpa di jamak.
Karena itu , di katakan jamak
takdim zhuhur dan Asar adalah tambahan
perawi.
المسند الموضوعي الجامع للكتب العشرة (12/ 387)
نا يُونُسُ بْنُ عَبْدِ الْأَعْلَى الصَّدَفِيُّ،
أَخْبَرَنِي جَابِرُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ، عَنْ عُقَيْلِ بْنِ خَالِدٍ، عَنِ ابْنِ
شِهَابٍ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكِ، مِثْلَ حَدِيثِ عَلِيِّ بْنِ حُسَيْنٍ يَعْنِي
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا عَجَّلَ بِهِ
السَّيْرُ يَوْمًا جَمَعَ بَيْنَ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ، وَإِذَا أَرَادَ
السَّفَرَ لَيْلَةً جَمَعَ بَيْنَ الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ، يُؤَخِّرُ الظُّهْرَ
إِلَى أَوَّلِ وَقْتِ الْعَصْرِ، فَيَجْمَعُ بَيْنَهُمَا وَيُؤَخِّرُ الْمَغْرِبَ،
حَتَّى يَجْمَعَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ الْعِشَاءِ حِينَ يَغِيبُ الشَّفَق , (خز) 969
Intinya : Ada
tambahan dr perawi : Bila beliau hendak
berpergian waktu malam , mk menjamak antara salat maghrib dan Isya`.
Komentarku ( Mahrus ali ) :
Entah kapan kalimat itu di tambahkan, di masa sahabat
atau masa kelanjutannya ……………., tdk di
mengerti.
السنن الكبرى للبيهقي (3/ 231)
5523 - أَخْبَرَنَا أَبُو عَمْرٍو
الْأَدِيبُ، ثنا أَبُو بَكْرٍ الْإِسْمَاعِيلِيُّ، أنبأ جَعْفَرٌ الْفِرْيَابِيُّ،
ثنا إِسْحَاقُ بْنُ رَاهَوَيْهِ، أنا شَبَابَةُ بْنُ سَوَّارٍ، عَنْ لَيْثِ بْنِ
سَعْدٍ، عَنْ عُقَيْلٍ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ: " كَانَ
رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانَ فِي سَفَرٍ فَزَالَتِ
الشَّمْسُ صَلَّى الظُّهْرَ وَالْعَصْرَ جَمِيعًا ثُمَّ ارْتَحَلَ "
…………….., dari Anas
bin Malik berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bila
dlm perjalanan lalu matahari zawal, mk
menjalankan salat zhuhur dan Asar dg di jamak lalu pergi
………………
Komentarku ( Mahrus ali ) :
Redaksi ini paling nyeleneh , tdk terdapat di hadis –
hadis yg lalu pd hal sama dari sahabat Anas .
Jadi landasan jamak
yg dilakukan orang – orang adalah hadis dari Anas bin Malik itu yg redaksinya
saja sudah kacau. Dan ini tanda
kelemahan matan hadis.
Intinya landasan jamak itu hadis dari Anas bin Malik itu
tiada lagi sahabat yg meriwayatkannya kcl beliau. Dan ini juga dikatakan
tafarrud di kalangan sahabat. . Dan ia hanya dari Anas . Tafarrudnya
jg pd Ibn Syihab azzuhri yg wafat pd
tahun 125 H. Jd pada masa beliau hadis itu masih blm ada yg tahu kecuali beliau.
Bila kita ikut hadis tsb mk kita akan bertentangan dh ayat 103
Nisa` yg menyatakan bahwa salat wajib
punya waktu tersendiri.
Tdk boleh di campur aduk.
Juga bertentangan dg hadis yg menyatakan bahwa Rasulullah
shallallahu alaihi wasallam dn para
sahabat ketika haji wada` berjalan mulai Medinah ke Mekkah dan pp juga tdk
melakukan jamak dan tiada sahabat yg melakukannya. Bila jama` itu benar, mk
mesti ada sahabat yg melakukannya.
Bila kita berlandaskan hadis itu mk kita berlandaskan kpd
hadis yg kacau maknanya dan tafarrud sanadnya jg bertentagan dg hadis lain yg sahih dan quran.
Kita hrs ikut al
quran ayat 103 Nisa` sj lebih selamat.
Kita ikut perilaku
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam
dan para sahabatnya yg tdk menjamak ketika perjalanan haji wada`.
Kita tdk ikut landasan jama` yg hanya riwayat Anas bin Malik
atau Ibn Syihab azzuhri itu.
Selasa, Januari 23, 2018
Fase ke 26 tentang larangan jama`
Fase ke 26 tentang larangan jama`
Ada sang ustadz menulis sbb:
2. Sholat Dijamak Karena Sakit
Berdasarkan hadis yang diriwayatkan Muslim di atas serta
yang diriwayatkan Muslim, Nasa’i, Abu Daud, dan Tirmidzi. Dengan teks hadis
عن ابن عباس قال :صلى رسول الله صلى الله عليه و سلم, الظهر
والعصر جميعا بالمدينة فى غير خوف ولا سفر, قال ابو الزبير : فسالت سعيدا لم فعل
ذلك؟ فقال سالت ابن عباس كما سالتنى فقل : ارادا ان لايحرج احدا من امتى
Dari Ibnu Abbas ia berkata: “Rasulullah saw pernah shalat di
Madinah dengan menjama’kan Dluhur dan ashar tidak dalam keadaan takut dan
perjalanan. Abu az-Zubaer salah seorang perawi tersebut berkata : “saya
bertanya kepada Said mengapa Rasulullah berbuat demikian maka Said menjawab
saya pernah menanyakan pertanyaan seperti itu kepada Ibnu Abbas. Ia menjawab
Rasulullah ingin agar tidak memberatkan ummatnya.”
Para ulama berbeda pendapat tentang interpretasi terhadap
hadis ini dan dan tentang kebolehan menjamak shalat tanpa uzur imam an-Nawawi
menyebutkan beberapa pendapat :
Tirmizdi mengatakan tidak terdapat dalam kitab saya suatu
hadis yang disepakati untuk tidak diamalkan yaitu hadis Ibnu Abbas tentang
shalat jamak di Madinah tanpa adanya keadaan takut atau hujan. Kemudian an-Nawawi
membenarkan pendapat at-Tirmizdi mengenai hadis Ibnu Abbas.
Ada pula yang menafsirkan sebagai jama’ pada pertemuan dua
waktu, yaitu beliau mengakhirkan shalat pertama pada penghujung waktunya dan
segera memulai shalat kedua pada awal waktunya.
Ada pula yang mentakwil hadis ini dengan sakit. Artinya, jamak
boleh dilakukan ketika berada di tempat (tidak musafir) apabila dalam keadaan
sakit. an-Nawawi memilih pendapat ini.
Sebagaian ulama membolehkan jama’ tanpa uzur kalau ada
keperluan penting sepanjang tidak dibiasakan terus menerus. Pendapat ini
dipegang oleh Ibnu Sirin, Asyhab dari mazhab Maliki, al-Qaffal dan as-Syasyi al-Kabiri
dari mahzab Syafi’i, dan segolongan ahli hadis dan ini dipilih oleh Ibnu al-Munzir.
Ibnu mundzir mengatakan bahwa tidak ada alasan untuk
mentakwil hadis Ibnu Abbas itu dengan uzur tertentu, karena Ibnu Abbas sendiri
menegaskan maksud Rasulullah melakukan yang demikian, yaitu untuk memberikan
kelapangan pada umatnya.
Catatan. Bahwa hadis tentang jamak shalat bukan dalam
perjalanan itu tidak dilakukan dengan qasar, jadi hanya jama’ saja. (Tanya
Jawab Tim Tarjih) Adapun orang sakit, seperti sakit perut atau semisalnya boleh
melakukan jama’, tidak denagn qasar (ringkas). Sebagai pilihan boleh melakukan
shalat yang pertama (Dhuhur atau Maghrib) diakhir waktu, kemudian kemudian
melakukan shalat yang kedua (Ashar atau Isya’) di awal waktu. Untuk
menghilangkan kesusahan.
Barang siapa takut akan pingsan, pusing, demam, pada waktu
shalat yang kedua (Ashar atau Isya’) maka shalat yang kedua itu dimajukan ke
shalat yang pertama (Dhuhur atau Maghrib), jama’ taqdiem.
Sebagai kongklusi dari jama’ bagi orang yang sakit itu
sesungguhnya shalat yang dijama’ disebabkan takut akan tidak sadar (hilang akal),
atau apabila jama’ itu lebih menolong dan memudahkan dan waktunya pada shalat
yang pertama atau secara taqdiem. (Fiqh Islam wa Adillatuhu)
Sumber: https://www.tongkronganislami.net/tata-cara-sholat-jamak-dan-qhasar/
Komentarku ( Mahrus ali ) :
Hadis di atas sdh di bhs di fase ke 8 , sebagian
keterangannya sbb:
نصب الراية لأحاديث الهداية مع حاشيته بغية الألمعي في
تخريج الزيلعي (2/ 194)
وَلَمْ يَقُلْ أَحَدٌ مِنَّا، وَلَا مِنْهُمْ، بِجَوَازِ
الْجَمْعِ فِي الْحَضَرِ، قَالَ: فَدَلَّ عَلَى أَنَّ مَعْنَى الْجَمْعِ مَا
ذَكَرْنَاهُ مِنْ تَأْخِيرِ الْأُولَى، وَتَعْجِيلِ الْأُخْرَى، قَالَ: وَأَمَّا
عَرَفَةُ، وَجَمْعٌ فَهُمَا مَخْصُوصَانِ بِهَذَا الْحُكْمِ، انْتَهَى كَلَامُهُ.
Intinya: Imam Abdullah bin Yusuf az zaila`i menyatakan tidak
ada ulama dari madzhab Hanafi atau lainnya yg memperkenankan jamak di rumah. Jadi hadis itu menunjukkan
jamak suri .
http://mantankyainu2.blogspot.co.id/2017/12/fase-ke-8-larangan-jamak.html
Sang penulis berkata:
Ada pula yang mentakwil hadis ini dengan sakit. Artinya, jamak
boleh dilakukan ketika berada di tempat (tidak musafir) apabila dalam keadaan
sakit. an-Nawawi memilih pendapat ini”.
Komentarku ( Mahrus ali ) :
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam jg pernah sakit parah dan beliau jg tdk
menjamak salat , jg tdk memerintahkan sahabatnya untuk jama` salat. Hadisnya
sbb:
مختصر صحيح الإمام البخاري (1/ 216)
[وكانت عائشة تحدِّثُ أن النبي - صلى
الله عليه وسلم - قال بعدما دخل بيتَه، واشْتَدَّ [به 7/ 71] وجعُه: هَريقوا عليَّ
من سبع قِرَبٍ لم تُحلَلْ أَوْكِيَتُهُنَّ، لَعلِّي أعهدُ إلى الناس، وأُجلِسَ في
مِخضب لحفصة زوجَ النبي - صلى الله عليه وسلم -، ثم طفقنا نصُبُّ عليه من تلك
القِرَب حتى طفِق (وفي روايةٍ: جَعَلَ) يشير إلينا أن قد فَعَلْتُنَّ، ثم خرج إلى
الناس] [فصلى لهم، وخطبهم].
Intinya , beliau sakit parah dan masih ttp berjamaah dan tdk
menjamak.
Bila kita menjamak
karena sakit , mk kita tdk punya dalil yg bolehkan jama` karena sakit. Kita
akan kufur pd ayat 103 Nisa` yg menyatakan
salat itu punya waktu sendiri , tdk boleh di jama`.
عَنْ أَبِي مَسْعُودٍ الْأَنْصَارِيِّ قَالَ
قَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ لَا أَكَادُ أُدْرِكُ
الصَّلَاةَ مِمَّا يُطَوِّلُ بِنَا فُلَانٌ فَمَا رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي مَوْعِظَةٍ أَشَدَّ غَضَبًا مِنْ يَوْمِئِذٍ
فَقَالَ أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّكُمْ مُنَفِّرُونَ فَمَنْ صَلَّى بِالنَّاسِ
فَلْيُخَفِّفْ فَإِنَّ فِيهِمْ الْمَرِيضَ وَالضَّعِيفَ وَذَا الْحَاجَةِ
(BUKHARI - 88) : Dari Abu Al Mas'ud Al Anshari berkata, seorang
sahabat bertanya: "Wahai Rasulullah, aku hampir tidak sanggup shalat yang
dipimpin seseorang dengan bacaannya yang panjang." Maka aku belum pernah
melihat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam memberi peringatan dengan lebih marah
dari yang disampaikannya hari itu seraya bersabda: "Wahai manusia, kalian
membuat orang lari menjauh. Maka barangsiapa shalat mengimami orang-orang
ringankanlah. Karena diantara mereka ada orang sakit, orang lemah dan orang
yang punya keperluan".
Muttafaq alaih .
Di kalangan sahabat , orang sakit juga ikut berjamaah dan
tdk menjama`, dan tidak ada yg menjama`. Lalu mengambil teladan dari mn orang
yg memperkenankan jama` salat bg orang sakit.
Selasa, Januari 09, 2018
Fase ke 25 tentang larangan jama`
Fase ke 25 tentang larangan jama`
Saya berniat menjamak shalat Duhur dan Ashar. Ketika sampai
ditujuan, saya mendapati jamaah shalat Ashar. Apakah saya harus shalat duhur
dulu ataukah saya ikut makmum shalat Ashar kemudian baru shalat shalat Duhur?
Jawaban :
Anda mempunyai beberapa pilihan diantaranya :
Pertama : Mengikuti imam dengan niat sholat Dhuhur, setelah
salam, maka dilanjutkan dengan mengerjakan sholat 'Ashar.
Kedua : Mengikuti Imam dengan niat sholat 'Ashar, setelah
salam, dilanjutkan dengan mengerjakan sholat Dhuhur.
Ketiga : Mengikuti Imam dengan niat sholat sunnah, setelah
salam, dilanjutkan dengan sholat Dhuhur dan 'Ashar dengan dijamak.
http://www.ahmadzain.com/read/karya-tulis/234/sholat-jama-dan-qashar/
Komentarku ( Mahrus ali ) :
Semua pilihan itu
adalah ra`yu ( pendapat manusia ) , Imam salat Asar , lalu makmum berniat
salat dhuhur . Aneh sekali , tiada
dalilnya , jg tiada tuntunannya. Ada
lg , salat Asar di kerjakan dulu lalu salat dhuhur , tambah aneh, sama dengan
mendahulukan salat Asar dari pada salat dhuhur , atau sama dengan mengakhirkan
salat dhuhur dan mendahulukan salat Asar. ADa
lagi , Imam salat Asar lalu makmum berniat salat sunah – sama dengan tdk
berjamaah , tiada dalilnya , sama dengan para pendeta yg bikin – bikin ajaran
untuk umat keristiani .
Itu semua terjadi karena ajaran jama` salat yg keliru . Jama`
salat didalam berpergian atau di rumah
hrs di tinggalkan karena ikut ayat 103 Nisa`BIla di jalankan mk sm dengan
mengerjakan salah satu dari dua salat di
luar waktunya .
Fase ke 24 tentang larangan menjama` salat.
Fase ke 24 tentang larangan menjama` salat.
Hampir setiap jumat saya pulang kampung setelah sholat jumat
di kantor. Yang jadi pertanyaan ialah bolehkah sholat ashar saya jamak setelah
sholat jumat karena pasti tidak keburu untuk dikerjakan di rumah. Kalau bisa, bagaimana
caranya?
Jawaban :
Seseorang dibolehkan menjamak sholat Jum'at dengan 'Ashar
jika memang dia dalam perjalanan, dengan syarat bahwa sholat Jum'atnya
dikerjakan setelah waktu Dhuhur masuk. Adapun caranya adalah setelah selesai
sholat Jum'at bersama imam, maka dia berdiri mengumandangkan iqamah dan
dilanjutkan dengan sholat 'Ashar dua reka'at.
Komentarku ( Mahrus ali ) :
Tiada satupun dalil yg membolehkan menjama` salat jumat dg
Asar. Waktu berpergian atau di rumah / mukim.
Dalil salat jama` ketika dlm berpergia tlh di jlskan , kurang
jls boleh di klik di link ini:
http://mantankyainu2.blogspot.co.id/…/fase-ke-1-tentang-sal…
Dan ini bukti sahabat pergi dari Medinah ke Mekkah dan dari
Mekkah ke Medinah juga tdk menjama`.
حَدَّثَنَا أَبُو مَعْمَرٍ قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ
الْوَارِثِ قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَبِي إِسْحَاقَ قَالَ سَمِعْتُ أَنَسًا
يَقُولُ
خَرَجْنَا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ مِنْ الْمَدِينَةِ إِلَى مَكَّةَ فَكَانَ يُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ
رَكْعَتَيْنِ حَتَّى رَجَعْنَا إِلَى الْمَدِينَةِ قُلْتُ أَقَمْتُمْ بِمَكَّةَ
شَيْئًا قَالَ أَقَمْنَا بِهَا عَشْرًا
(BUKHARI - 1019) : Telah menceritakan kepada kami Abu Ma'mar
berkata, telah menceritakan kepada kami 'Abdul Warits berkata, telah
menceritakan kepada kami Yahya bin Abu Ishaq berkata; Aku mendengar Anas
radliallahu 'anhu berkata: "Kami pernah bepergian bersama Nabi shallallahu
'alaihi wasallam dari kota Madinah menuju kota Makkah, selama
kepergian itu Beliau melaksanakan shalat dua raka'at dua raka'at hingga kami
kembali ke Madinah. Aku tanyakan: 'Berapa lama kalian menetap di Makkah?" Dia
menjawab: "Kami menetap disana selama sepuluh hari". Muttafaq alaih.
Mrk menjalankan salat qasar sj tanpa jama`.
Jadi solusi bg orang tsb tdk usah menjama` , lalu
berhentilah bila waktu salat Asar tiba, pergilah ke masjid untuk wudu, dan
carilah tanah untuk salat di situ dan sujud ke tanah tanpa tikar atau sajadah .
Jngn salat di atas karpet.
Cari ilmu agama dg sistim dialog yg ilmiyah ttg buka ketika
adzan Maghrib membatalkan puasa dg penuh persaudaraan di dua grup WA sy .
Mau ikut , hub 08813270751.082225929198 ,081384008118,0 857-8715-4455
0812-4194-6733
Senin, Januari 08, 2018
Fase ke 22 tentang larangan menjama` salat.
Fase ke 22 tentang
larangan menjama` salat.
Hampir setiap jumat
saya pulang kampung setelah sholat jumat di kantor. Yang jadi pertanyaan ialah
bolehkah sholat ashar saya jamak setelah sholat jumat karena pasti tidak keburu
untuk dikerjakan di rumah. Kalau bisa, bagaimana caranya?
Jawaban
:
Seseorang
dibolehkan menjamak sholat Jum'at dengan 'Ashar jika memang dia dalam
perjalanan, dengan syarat bahwa sholat Jum'atnya dikerjakan setelah waktu
Dhuhur masuk. Adapun caranya adalah setelah selesai sholat Jum'at bersama imam,
maka dia berdiri mengumandangkan iqamah dan dilanjutkan dengan sholat 'Ashar
dua reka'at.
Komentarku ( Mahrus ali
) :
Tiada satupun dalil yg
membolehkan menjama` salat jumat dg Asar. Waktu berpergian atau di rumah /
mukim.
Dalil salat jama` ketika
dlm berpergia tlh di jlskan , kurang jls boleh di klik di link ini:
Dan ini bukti
sahabat pergi dari Medinah ke Mekkah dan dari Mekkah ke Medinah juga tdk
menjama`.
حَدَّثَنَا
أَبُو مَعْمَرٍ قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَارِثِ قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ
أَبِي إِسْحَاقَ قَالَ سَمِعْتُ أَنَسًا يَقُولُ
خَرَجْنَا
مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ الْمَدِينَةِ إِلَى
مَكَّةَ فَكَانَ يُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ رَكْعَتَيْنِ حَتَّى رَجَعْنَا إِلَى
الْمَدِينَةِ قُلْتُ أَقَمْتُمْ بِمَكَّةَ شَيْئًا قَالَ أَقَمْنَا بِهَا عَشْرًا
(BUKHARI
- 1019) : Telah menceritakan kepada kami Abu Ma'mar berkata, telah menceritakan
kepada kami 'Abdul Warits berkata, telah menceritakan kepada kami Yahya bin Abu
Ishaq berkata; Aku mendengar Anas radliallahu 'anhu berkata: "Kami pernah
bepergian bersama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dari kota
Madinah menuju kota
Makkah, selama kepergian itu Beliau melaksanakan shalat dua raka'at dua raka'at
hingga kami kembali ke Madinah. Aku tanyakan: 'Berapa lama kalian menetap di
Makkah?" Dia menjawab: "Kami menetap disana selama sepuluh
hari". Muttafaq alaih.
Mrk
menjalankan salat qasar sj tanpa jama`.
Jadi
solusi bg orang tsb tdk usah menjama` , lalu berhentilah bila waktu salat Asar
tiba, pergilah ke masjid untuk wudu, dan
carilah tanah untuk salat di situ dan
sujud ke tanah tanpa tikar atau sajadah . Jngn salat di atas karpet.
Langganan:
Postingan (Atom)