Sabtu, Januari 14, 2017

Komentarku terhadap perkataan Imam al albani ttg siksa kubur yg terputus – putus



Komentarku terhadap  perkataan Imam al albani ttg siksa kubur yg terputus – putus , tdk kontinyu.  Akan kita kaji kebenarannnya.

لفتوى الحادية عشر المستخرجة من الشريط التاسع من سلسلة الهدى و النور .

[COLOR=Red]الاجابة [/COLOR]
السائل : أستاذنا ، عذاب القبر هو عذاب حتى يوم القيامة أم متقطع وما الدليل على ذلك ؟ الشيخ الألباني رحمه الله : ربنا قال في القرآن الكريم في حق فرعون وجماعته (النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا ) (غُدُوًّا وَعَشِيًّا) .السائل : نعم .الشيخ الألباني رحمه الله : [COLOR=Red]هذا بالنسبة لاهل أكفر الناس فرعون وجماعته،[/COLOR] اللي اتخذوه إلـهاً من دون الله، أما الآخرين لا شك يعني من الفساق من المسلمين بيكون عذابهم دون ذلك، أما تفصيل بين كم وكم فهذا ليس له ذكر في السنة .السائل : نعم.[/COLOR][/SIZE]
Intinya ; Imam al albani menyatakan siksa kubur tdk kontinyu , tp terputus putus. Lalu mengambil dalil dari ayat:
النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ أَدْخِلُوا ءَالَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ(46)
Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya Kiamat., "Masukkanlah Fir''aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras." (QS. Al-Mu’min: 46)
Pagi dan sore sj. Ini untuk Firaun dan jamaahnya / pendukungnya yg menjadikannya sbg Tuhan selain Allah.Untuk yg lain dr kalangan kaum fasik yg muslim mk siksaannya kurang dr itu.
Untuk detilya antara berapa dan berapa , mk ini tdk ada keterangan dlm sunnah.

Komentarku ( Mahrus ali ) :
Bila kita ikut syaikh al albani, mk kita akan mendapat kesalahan yaitu  ayat itu digunakan dalil siksa kubur. Pd hal dulu telah di terangkan bahwa ayat itu diturunkan di Mekkah . Ini jawaban sy yg lalu :
Mestinya tdk layak bila ayat itu diperuntukkan untuk menjelaskan siksa kubur . Bila untuk  siksa kubur , mengapa sejak di Mekkah, sejak ia diturunkan , Rasulullah shallallahu alaihi wasallam   tdk phm siksa kubur. Bila ia untuk siksa kubur, tentu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam   yg dituruninya akan mengerti adanya siksa kubur dg ayat itu sj.
Nyatanya beliau tdk phm tentang siksa kubur, sampai Aisyah ingkar , dan beliau tanya pada Nabi  shallallahu alaihi wasallam  lalu dijawab: Yahudi yg datang  dg bawa berita siksa kubur  itu  dusta. Baru  setelahnya dituruni wahyu bahwa siksa kubur itu ada, demikian menurut hadis – hadis riwayat Muslim  dan Bukhari. Untungnya  hadis itu  jg bermasalah .
Dan ayat itu tdk menjelaskan siksa kubur. Ia  hanya menjelaskan  neraka di tampakkan bukan siksaan , layaknya  orang bermimpi bgt sj.
Untuk lebih jlsnya klik di blog sy disini:
http://webcache.googleusercontent.com/search?q=cache:http://mantankyainu.blogspot.com/2016/12/jawabanku-untuk-ust-qasim-ali-ke-3.html
Ayat itu husus untuk Firaun dan pendukungnya, bukan kaum kafir yg lain  , apalagi kaum muslimin yg fasik – fasik  sbgmn keterangan al albani. Dan ini keterangan sy yg lalu .
جمال الشرباتي

خي أبو ليث

ورد في تفسير قوله "النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوّاً وَعَشِيّاً وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ أَدْخِلُوا آلَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ [غافر : 46]

أقوال عن كون أرواح آل فرعون في طيور سود تعرض على النّار في الغداة والعشي–ولما لا دليل عليها لا نعتمدها –فنقول هناك عذاب مخصوص لآل فرعون ماض وباق إلى يوم القيّامة ثم يدخلون حين تقوم السّاعة في أشدّ العذاب–فهي آية خاصة بآل فرعون –ولا تنهض دليلا على عذاب القبر
http://www.alokab.com/forums/index.php?showtopic=24453

Ustadz Jamal As syurbati menyatakan:
Intinya : Ayat 45 Ghafir  itu husus untuk Firaun dan bala tentaranya , tdk bisa dibuat dalil adanya siksa kubur.
Komentarku ( Mahrus ali ) :
Sy cocok  jg dg pendapat itu.
Api di tampakkan ke mayat itu husus untuk Firaun dan pendukungnya. Allah tdk menerangkan mayat –mayat kafir, musrikin , munafikin lainnya mengalami spt itu.

Al quran sdh  di turunkan dg lengkap, dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam   sdh meninggal dunia  dan tdk bisa di tanyai lg. Makanya kita ikuti sj ayat  45 Ghafir   itu yaitu hanya  Firaun dan pendukungnya yg mengalami spt itu bukan mayat lain.
Bila kaum kafir , musrikin yg lain  diikutkan  atau di sangkut pautkan , boleh tp dg jln qiyas. Dan kiyas apalag dlm masalah gaib tdk boleh.
Saya ingat firmanNya:
وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولاً

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mengetahui dalilnya . Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. Isra` 36.

وَقَالَ قُدِّسَ سِرُّهُ أَيْضاً ((وَقَدْ كَانَ السَّلَفُ الصَّالِحُ مِنَ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ يَقْدِرُوْنَ عَلَى اْلقِيَاسِ وَلَكِنَّهُمْ تَرَكُوا ذَلِكَ أدباً مَعَ رَسُوْلِ اللهِ
Al arif billah Assya` rani  semoga Allah mensucikan sirrinya   berkata: Sungguh  salafus sholeh dari kalangan sahabat dan tabi`in  enggan berkiyas sekalipun mereka mampu untuk melakukannya karena  beradab terhadap Rasulullah SAW
Imam Bukhori membikin bab:
بَاب مَا كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُسْأَلُ مِمَّا لَمْ يُنْزَلْ عَلَيْهِ الْوَحْيُ فَيَقُولُ لَا أَدْرِي أَوْ لَمْ يُجِبْ حَتَّى يُنْزَلَ عَلَيْهِ الْوَحْيُ وَلَمْ يَقُلْ بِرَأْيٍ وَلَا بِقِيَاسٍ لِقَوْلِهِ تَعَالَى ( بِمَا أَرَاكَ اللَّهُ )

Nabi SAW ditanya tentang sesuatu yang tiada dalilnya dalam al Quran  lalu beliau berkata :” Tidak tahu “  atau tidak menjawab hingga wahyu diturunkan. Beliau tidak berpendapat atau menggunakan  qiyas

قلت لو كان القياس نص كتاب أو سنة قيل في كل ما كان نص كتاب هذا حكم الله وفي كل ما كان نص السنة هذا حكم رسول الله ولم نقل له قياس


Aku (Imam Syafi'i berkata), jikalau Qiyas itu berupa nas Al-Qur'an dan As-Sunnah, dikatakan setiap perkara ada nas-nya didalam Al-Qur'an maka itu hukum Allah (Al-Qur'an), jika ada nas-nya didalam as-Sunnah maka itu hukum Rasul (sunnah Rasul), dan kami tidak menamakan itu sebagai Qiyas (jika sudah ada hukumnya didalam Al-Qur'an dan Sunnah). Maksud perkataan Imam Syafi'i adalah dinamakan qiyas jika memang tidak ditemukan dalilnya dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah.
ولم يكن يقدم على الحديث الصحيح عملا ولا رأيا ولا قياسا ولا قول صاحب ولا عدم علمه بالمخالف الذي يسميه كثير من الناس إجماعا ويقدمونه على الحديث الصحيح([2]).
Imam Ahmad mendahulukan hadis sahih, dari pada amaliyah ( seseorang ) pendapat, qiyas, perkataan teman ( atau sahabat ) atau  tidak mengerti ada orang yg berbeda  yang di sebut oleh banyak orang sebagai ijma` dan mereka  mendahulukannya  dari pada hadis sahih. Lihat kitab I`lamul mauqiain 1/29-30 .
Komentarku ( Mahrus ali ):
Perinsip imam Ahmad mendahulukan dalil. Bila ada dalil sahih, maka beliau pegangi, bukan pendapat , qiyas dll.
Bgmn kaum muslimin tersiksa dikuburnya pd hal blm di hisap, blm ditimbang amalannya, apakah kebaikan atau keburukan yg lebih banyak?
Liht sj Firaun dan orang yg dimumi atau di awetkan tubuhnya , kan tdk disiksa.
Bila disiksa apanya  , tubuhnya apa rohnya.
Bila tubuhnya jls keliru. Fitaun sj ttp utuh jasadnya.

Bila rohnya, mk mn ayatnya ? dan mn dalilnya.
Bgmn kalau di surga nanti , hanya rohnya sj yg mendapat nikmat 
Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pesan yang baik, jangan emosional.Bila ingin mengkeritisi, pakailah dalil yang sahih.Dan identitasnya jelas. Komentar emosional, tidak ditayangkan