Senin, Januari 16, 2017

Jawabanku untuk Syaikh al Utsaimin


Sy kutipkan disini keterangan dari Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin , namun tdk semuanya ,sbb kebanyakan sdh terjawab dlm makalah yg lalu. Kini sy hanya  ketengahkan kutipan sebagian tulisannya sbb:

ثانياً: أن عذاب القبر على الروح في الأصل، وليس أمراً محسوساً على البدن فلو كان أمراً محسوساً على البدن لم يكن من الإيمان بالغيب ولم يكن للإيمان به فائدة لكنه من أمور الغيب، وأحوال البرزخ لا تقاس بأحوال الدنيا.

Kedua : Sesungguhnya siksa kubur  itu pd roh sj menurut asalnya. Ia tdk merupakan perkara yg bisa di rasa oleh tubuhnya ( bdn tdk merasakan hal itu ) . Seandainya  siksaan itu bisa di rasakan oleh tubuh, mk tdk termasuk iman bil ghaib . dan tdk ada gunanya beriman  pdnya. Tp  ia termasuk perkara ghaib. Kondisi Barzah tdk bisa di kiyaskan dg kondisi di dunia ini.
Komentarku ( Mahrus ali ) :
Pernyatan bahwa siksa kubur  menimpa  pd  tubuh hrs berdalil.
Siksa kubur hanya pd roh juga  hrs berdalil . Bg yg meniadakan siksa kubur jg hrs berdalil.
Untuk pernyataan siksa kubur yg menimpa kpd tubuh, syaikh al utsaimin dlm pernyataan tsb tdk mengakuinya. Beliau  tidk berakidah yg percaya pd siksa kubur sbgmn kebanyakan orang yaitu adanya siksa kubur pada tubuh mayat .
Dlm kalimat tsb syaikh hanya yakin bahwa siksa kubur itu  pd rohnya.  Rohnya sj yg disiksa atau menerima kenikmatan. Tubuhnya tdk di siksa jg tdk merasakan nikmat.
Menurut beliau  siksa kubur itu termasuk iman bil ghaib. Jd layak sekali bukan tubuhnya yg disiksa. Tp  rohnya sj.  Dan inilah termasuk iman bilghaib.
Komentarku ( Mahrus ali ) :
Sy katakan keterangan Syaikh al Utsaimin tsb tanpa dalil yg sahih. Dan sy sendiri jg tdk menjumpai dalilnya yg menyatakan bahwa siksa kubur hanya pd rohnya. Tentang ayat ini:

النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ أَدْخِلُوا ءَالَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ(46)
Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya Kiamat., "Masukkanlah Fir''aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras." (QS. Al-Mu’min: 46)
 Ayat itu  hanya untuk Firaun dan pendukungnya , bukan kafir dan musrik yg lain. Dan Ia adalah Makkiyah  tdk bisa di buat landasan siksa kubur.
Bila dibuat landasan siksa kubur, mk tdk bisa. Sbb Rasulullah shallallahu alaihi wasallam   dan pr sahabat ktk di Makkah  tdk phm siksa kubur  sbgmn kisah hadis  - hadis ttg siksa kubur di Bkhari dan Muslim itu.  Dan tdk pernah ada pernayatan dr beliau bahwa ayat itu untuk siksa kubur.
Bila di buat landasan untuk  siksa kubur, mk tdk tpt . Buktinya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam   sewaktu turunnya  ayat itu tdk mengajarkan ttg siksa kubur.
جمال الشرباتي

خي أبو ليث

ورد في تفسير قوله "النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوّاً وَعَشِيّاً وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ أَدْخِلُوا آلَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ [غافر : 46]

أقوال عن كون أرواح آل فرعون في طيور سود تعرض على النّار في الغداة والعشي–ولما لا دليل عليها لا نعتمدها –فنقول هناك عذاب مخصوص لآل فرعون ماض وباق إلى يوم القيّامة ثم يدخلون حين تقوم السّاعة في أشدّ العذاب–فهي آية خاصة بآل فرعون –ولا تنهض دليلا على عذاب القبر
http://www.alokab.com/forums/index.php?showtopic=24453

Ustadz Jamal As syurbati menyatakan:
Intinya : Ayat 45 Ghafir  itu husus untuk Firaun dan bala tentaranya , tdk bisa dibuat dalil adanya siksa kubur.
Komentarku ( Mahrus ali ) :
Sy cocok  jg dg pendapat itu.
Api di tampakkan ke mayat itu husus untuk Firaun dan pendukungnya. Allah tdk menerangkan mayat –mayat kafir, musrikin , munafikin lainnya mengalami spt itu.

Al quran sdh  di turunkan dg lengkap, dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam   sdh meninggal dunia  dan tdk bisa di tanyai lg. Makanya kita ikuti sj ayat  45 Ghafir   itu yaitu hanya  Firaun dan pendukungnya yg mengalami spt itu bukan mayat lain.
Bila kaum kafir , musrikin yg lain  diikutkan  atau di sangkut pautkan , boleh tp dg jln qiyas. Dan kiyas apalag dlm masalah gaib tdk boleh.

Jadi untuk  ummat Muhammad  ini , sy beriman tdk ada siksa kubur. Sbb sy tdk punya dalil yg valid untuk sy buat pegangan. Siksaan itu nanti di Neraka bukan dikuburan. Bgmn di siksa blm di hisap, blm ditimbang amal perbuatannya , banyak baiknya atau tdk.
Untuk  selain Firaun dan bala tentaranya atau pendukungnya tdk di tampakkan api Neraka pd mereka. Karena tdk ada dalil untuk itu. Dan masalah gaib tdk boleh di putuskan dg akal atau kiyas. Ia  hrs di jlskan dg dalil. Sementara  ini hadis  - hadis yg tlh kita kaji adalah lemah. Tdk sahih dan tdk bisa di buat pegangan untuk siksa kubur. Bila dibuat pegangan akan bertentangan dg ayat 51- 53 yasin.
Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin  menyatakan lg


ثالثاً: أن العذاب والنعيم وسعة القبر وضيقه، إنما يدركه الميت دون غيره والإنسان قد يرى في المنام وهو نائم على فراشه أنه قائم وذاهب وراجع، وضارب ومضروب، ويرى أنه في مكان ضيق موحش، أو في مكان واسع بهيج، والذي حوله لا يرى ذلك ولا يشعر به.

والواجب على الإنسان في مثل هذه الأمور أن يقول: سمعنا وأطعنا، وآمنا وصدقنا.

http://ar.islamway.net/fatwa/13363/%D9%83%D9%8A%D9%81-%D9%86%D8%AC%D9%8A%D8%A8-%D9%85%D9%86-%D9%8A%D9%86%D9%83%D8%B1-%D8%B9%D8%B0%D8%A7%D8%A8-%D8%A7%D9%84%D9%82%D8%A8%D8%B1
Ketiga : Sesungguhnya siksaan , nikmat , kuburan luas dan sempitnya  itu hanya di rasakan oleh mayat bukan orang lain. Manusia terkadang bermimpi  waktu tidur di hamparannya . Dia berdiri , pergi atau  pulang , memukul atau dipukul . Dia jg bermimpi seolah di tempat yg sempit yg tdk menyenangkan / bikin kesepian atau di tempat yg luas dan indah. Dan orang disekitarnya tdk melihat nya dan tdk merasakan hal itu.
Komentarku ( Mahrus ali ) :
Ini perlu dalil dan mn dalilnya.
Mayat muslim bermimpi enak dan mayat kafir bermimpi tdk enak itu perlu dalil dan syaikh  rahimahullah kali ini tdk membawakan dalil.
Beliau menyatakan lg :
والواجب على الإنسان في مثل هذه الأمور أن يقول: سمعنا وأطعنا، وآمنا وصدقنا
Kewajiban bg manusia  dlm masalah masalah  spt ini , hendaklah berkata : Kami mendengar , kami taat , kami beriman dan kami membenarkan.
Komentarku ( Mahrus ali ) :
Tp dlm masalah beriman kpd siksa kubur hanya pd rohnya taat pd perkataan siapa ? Allah dan RasulNya ? Blm ada dlm ayat al quran atau hadis sahih.
Untuk yg beriman siksa kubur jasad mayat , akan kufur pd 51 – 53 yasin.
وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَإِذَا هُمْ مِنَ الْأَجْدَاثِ إِلَى رَبِّهِمْ يَنْسِلُونَ قَالُوا يَاوَيْلَنَا مَنْ بَعَثَنَا مِنْ مَرْقَدِنَا هَذَا مَا وَعَدَ الرَّحْمَنُ وَصَدَقَ الْمُرْسَلُونَ  إِنْ كَانَتْ إِلَّا صَيْحَةً وَاحِدَةً فَإِذَا هُمْ جَمِيعٌ لَدَيْنَا مُحْضَرُونَ
Dan ditiuplah sangkakala,  tiba-tiba mereka ke luar dengan segera dari kuburnya (menuju) kepada Tuhan mereka. Mereka berkata: "Aduh celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat tidur kami (kubur)?" Inilah yang dijanjikan (Tuhan) Yang Maha Pemurah dan benarlah Rasul-rasul (Nya). Cukup satu teriakan,tiba-tiba mereka semua dikumpulkan kepada Kami. Yasin 51-53

Dalam ayat tsb ahli kubur dalam keadaan tidur, lalu bagaimanakah mereka di siksa. Bila   disiksa, tdk akan bisa tidur.  Dan menjerit karena merasakan  siksaannya  itu.
Jg kufur pd ayat ini bg yg percaya pertanyaan dua malikat  atau siksa kubur.
قَالُوا رَبنَا أمتنَا اثْنَتَيْنِ وأحييتنا اثْنَتَيْنِ
 11 )   Mereka menjawab: "Ya Tuhan kami Engkau telah mematikan kami dua kali dan telah menghidupkan kami dua kali (pula). Ghafir 11.
Hidup  itu hanya dua kali, bukan tiga kali atau lebih.  Hidup  didunia  dan kelak  ketika  dibangkitkan akan masuk surga atau Neraka. Jadi bila  di kuburan  manusia dihidupkan untuk di tanya  atau  disiksa  mk  hidupnya  tiga kali  dan ini nyalahi ayat itu.
Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin  menyatakan:
Seandainya  siksaan itu bisa di rasakan oleh tubuh, mk tdk termasuk iman bil ghaib . dan tdk ada gunanya beriman  pdnya. Tp  ia termasuk perkara ghaib.

Komentarku ( Mahrus ali ) :
Tp siksa Neraka  dg jasad dan rohnya , kok  di katakan iman bil ghaib jg . Bgt  juga kenikmatan di surga dirasakan oleh tubuh dan termasuk Imam bil ghaib. Di sinilah kelemahan perkataan syiakh rahimahullah itu.
Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin menyatakan :

 Kondisi Barzah tdk bisa di kiyaskan dg kondisi di dunia ini.
Komentarku ( Mahrus ali ) :
Benar sekali . Kayaknya mirip dg ayat ini :
وَمَا يَسْتَوِي الْأَحْيَاءُ وَلَا الْأَمْوَاتُ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُسْمِعُ مَن يَشَاءُ ۖ وَمَا أَنتَ بِمُسْمِعٍ مَّن فِي الْقُبُورِ

( 22 )   dan tidak (pula) sama orang-orang yang hidup dan orang-orang yang mati. Sesungguhnya Allah memberi pendengaran kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan kamu sekali-kali tiada sanggup menjadikan orang yang didalam kubur dapat mendengar. 22 Fathir .
Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pesan yang baik, jangan emosional.Bila ingin mengkeritisi, pakailah dalil yang sahih.Dan identitasnya jelas. Komentar emosional, tidak ditayangkan