Tampilkan postingan dengan label PKI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PKI. Tampilkan semua postingan

Senin, Januari 30, 2017

Soekarno Institute: Kondisi Saat Ini Mirip Jelang G30S PKI, Panglima TNI Berusaha Menyadarkan Jokowi



Pernyataan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo yang menyebutkan bahwa Prajurit TNI juga siap untuk berjihad dalam mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia, dikomentari Pengamat dari Soekarno Institute for Leadership, Gede Siriana.

Bagi dia, pernyataan yang dilontarkan Gatot di Pangkalan Udara TNI AU Soewondo Medan itu untuk mengkritik para pendukung Ahok yang terindikasi berbau-bau pengaruh Partai Komunis Cina.

"Ucapan Panglima TNI ini seperti menegaskan  kembali peringatan Panglima TNI yang disampaikan dalam ILC minggu lalu bahwa kekuatan asing sedang mencoba menguasai NKRI dengan memecah belah rakyat NKRI," kata dia kepada redaksi, Sabtu malam (19/11).

Analisis Gede, dalam konteks geopolitik,  Cina memang sedang berusaha menguasai Asia Pasifik dan mengambil alih pengaruh AS dengan kebijakan SILK ROAD Maritim. Dengan instrumen OBOR, Cina ingin negara-negara Asia Pasifik menyediakan pembangunan infrastruktur bagi kepentingan ekonomi Cina.

Nah, kata Gede lagi, pernyataan Gatot jelas menegaskan bahwa TNI berada bersama-sama dengan kekuatan-kekuatan Islam dan Nasionalis. Apalagi, ucapan itu disampaikan saat melakukan istigoshah bersama para Kiayi.

"Bahkan Panglima TNI menghargai setiap proses demokrasi, termasuk demonstrasi oleh warga Indonesia. Artinya Panglima secara jeli melihat bahwa demonstrasi 411 adalah merupakan reaksi kemarahan umat atas kasus penistaan agama oleh Ahok. TNI pasti sudah tahu siapa dalang yang sebenarnya ingin merusak kebhinekaan NKRI," terang dia.

Gede menambahkan, kondisi saat ini sama dengan situasi menjelang G30S PKI 1965 ketika kelompok komunis berusaha menguasai pengaruh di istana presiden.


"Sementara kelompok Islam dan TNI juga berusaha menyadarkan presiden," tandasnya. [rmol]

Kamis, Desember 22, 2016

Pemerintah Pakai Bibit Beras Cina, Ternyata Berbakteri Juga dan Sudah Menyebar Luas


Redaksi – Senin, 20 Rabiul Awwal 1438 H / 19 Desember 2016 10:30 WIB

 padi

Eramuslim.com – Rupanya tanaman Cabe berbakteri yang diketemukan di Bogor, bukanlah hal baru, karena dari hasil penelitian pihak Institut Pertanian Bogor, rupanya bibit padi Hibrida yang dimasukkan oleh Pemerintah melalui Departemen Pertanian juga mengandung bakteri.

Hal ini diungkapkan oleh sejumlah pakar pertanian dari IPB, bahkan padi berbakteri ini sudah menyebar hampir di seluruh persawahan di Pulau Jawa.

“Benih padi asal Tiongkok ini memang merupakan program swasembada beras Kementerian Pertanian,” ujar Ketua Departemen Proteksi Tanaman Fakultas Pertanian IPB, Dr, Suryo Wiyono.

padi

Dari hasil penelitian tersebut, diketemukan jika jenis bakteri yang dibawa dengan bibit padi dari Tiongkok China ini adalah Burkholderia Glumae, bakteri ini membuat padi tidak berisi dan membusuk.

“Kondisi ini justru terbalik dengan ucapan pemerintah yang katakan jika hasil produksi panen padi Hibrida lebih tinggi daripada padi Nasional,” ujarnya, menurut Suryo hal ini justru membuat petani semakin menderita.

Walaupun belum ditemukannya dampak secara kesehatan pada manusia, karena yang berbakteri hanya pada bibitnya, namun penggunaan bibit jenis Hibrida ini, akan merugikan petani, dikarenakan turunan padi hibrida ini tidak dapat ditanam kembali, akibatnya pemerintah harus mendatangkan kembali dari Tiongkok.

Sementara dari harga justru jenis padi Hibrida ini lebih mahal dibandingkan dengan bibit padi Nasional, perkilogramnya Rp.40 ribu, sementara harga bibit padi Nasional hanya Rp. 10-15 ribu perkilogramnya.

Sementara itu, sebelumnya pemerintah mengklaim jika jenis padi Hibrida dari Tiongkok ini akan meningkatkan produksi petani hingga 8 ton tidak pernah terbukti sejak diluncurkan beberapa tahun lalu.

Bahkan klaim pemerintah yang justru menyalahkan petani dengan mengatakan jika proses penanaman kurang baik perawatannya, menurut Suryo hanyalah sikap pembenaran dari pemerintah saja.


Untuk wilayah Bogor sendiri pihak Dinas Pertanian melalui kepala Dinasnya, Azrin Syamsudin menyebutkan jika saat ini pihaknya lebih banyak memakai 15 jenis bibit padi Nasional, dan itu melalui proses penanaman di satu tempat jika dirasa cocok baru disebarkan. (yk/pb)

Ngeri...!!! Jangan Lupakan Sejarah, Inilah Fakta Kebiadaban PKI yang Telah Membunuh Ribuan Muslim Indonesia

Ngeri...!!! Jangan Lupakan Sejarah, Inilah Fakta Kebiadaban PKI yang Telah Membunuh Ribuan Muslim Indonesia

 

67 tahun sejak peristiwa pemberontakan PKI Madiun tahun 1948 dan kemudian berulang kembali peristiwa pemberontakan pada G30SPKI Tahun 1965, namun ancaman komunisme di Indonesia seakan sengaja dibiaskan. Bahkan beberapa pihak sempat mewacanakan agar pemerintah Indonesia harus meminta maaf terhadap kader-kader Partai Komunis Indonesia (PKI).

Berikut ini tulisan dari sejarawan bernama Agus Sunyoto yang mengungkapkan fakta sejarah bagaimana kebiadaban PKI dalam upaya melakukan makar dan pemberontakan, ribuan nyawa umat Islam Indonesia telah menjadi kurban, simbol-simbol Islam telah dihancurkan.
Kebiadaban PKI Madiun 1948 Terhadap Ulama NU
“Tanggal 18 September 1948 pagi sebelum terbit fajar, sekitar 1500 orang pasukan FDR/PKI – 700 orang diantaranya dari Kesatuan Pesindo pimpinan Mayor Pandjang Djoko Prijono – bergerak ke pusat Kota Madiun. Kesatuan CPM, TNI, Polisi, aparat pemerintahan sipil terkejut ketika diserang mendadak. Terjadi perlawanan singkat di markas TNI, kantor CPM, kantor Polisi. Pasukan Pesindo bergerak cepat menguasai tempat-tempat strategis di Madiun. Saat fajar terbit, Madiun sudah jatuh ke tangan FDR/PKI. Sekitar 350 orang ditahan.“
KEBERHASILAN FDR/PKI menguasai Madiun disusul terjadinya aksi penjarahan, penangkapan sewenang-wenang terhadap musuh PKI, menembak musuh PKI, kegemparan dan kepanikan pun pecah di kalangan penduduk, diiringi tindakan-tindakan bersifat fasisme yang berlangsung dengan mengerikan. Semua pimpinan Masyumi dan PNI ditangkap atau dibunuh. Orang-orang berpakaian Warok Ponorogo dengan senjata revolver dan kelewang menembak atau menyembelih orang-orang yang dianggap musuh PKI. Mayat-mayat bergelimpangan di sepanjang jalan. Bendera merah putih dirobek diganti bendera merah berlambang palu arit. Potret Soekarno diganti potret Moeso. Seorang wartawan Sin Po yang berada di Madiun, menuliskan detik-detik ketika PKI pamer kekejaman itu dalam reportase yang diberi judul: ‘Kekedjeman kaoem Communist; Golongan Masjoemi menderita paling heibat; Bangsa Tionghoa “ketjipratan” djoega.’
Pada detik, menit dan jam yang hampir sama, di Kota Magetan sekitar 1.000 orang pasukan FDR/PKI – 700 orang diantaranya dari Kesatuan Pesindo pimpinan Mayor Moersjid — bergerak cepat menyerbu Kabupaten, kantor Komando Distrik Militer (Kodim), Kantor Onder Distrik Militer (Koramil), Kantor Resort Polisi, rumah kepala pengadilan, dan kantor pemerintahan sipil di Magetan. Sama dengan penyerangan mendadak di Madiun, setelah menguasai Kota Magetan dan menawan Bupati, Patih, Sekretaris Kabupaten, Jaksa, Ketua Pengadilan, Kapolres, komandan Kodim, dan aparat Kabupaten Magetan, terjadi aksi penangkapan terhadap tokoh-tokoh Masyumi dan PNI di kampung-kampung, pesantren-pesantren, desa-desa, pabrik gula, diikuti penjarahan, penyiksaan, dan bahkan pembunuhan. Wartawan Gadis Rasid yang menyaksikan pembantaian massal di Gorang-gareng, Magetan, menulis reportase tentang kebiadaban FDR/PKI tersebut. Pembunuhan, perampokan dan penangkapan yang dilakukan FDR/PKI itu diberitakan surat kabar Merdeka 1 November 1948.
Meski tidak sama dengan aksi serangan di Madiun dan Magetan yang sukses mengambil alih pemerintahan, serangan mendadak yang sama pada pagi hari tanggal 18 September 1948 itu dilakukan oleh pasukan FDR/PKI di Trenggalek, Ponorogo, Pacitan, Ngawi, Purwodadi, Kudus, Pati, Blora, Rembang, Cepu. Sama dengan di Madiun dan Magetan, aksi serangan FDR/PKI meninggalkan jejak pembantaian massal terhadap musuh-musuh mereka. Antropolog Amerika, Robert Jay, yang ke Jawa Tengah tahun 1953 mencatat bagaimana PKI melenyapkan tidak hanya pejabat pemerintah, tapi juga penduduk, terutama ulama-ulama ortodoks, santri dan mereka yang dikenal karena kesalehannya kepada Islam: mereka itu ditembak, dibakar sampai mati, atau dicincang-cincang. Mesjid dan madrasah dibakar, bahkan ulama dan santri-santrinya dikunci di dalam madrasah, lalu madrasahnya dibakar. Tentu mereka tidak bisa berbuat apa-apa karena ulama itu orang-orang tua yang sudah ubanan, orang-orang dan anak-anak laki-laki yang baik yang tidak melawan. Setelah itu, rumah-rumah pemeluk Islam dirampok dan dirusak.
Tindakan kejam FDR/PKI selama menjalankan aksi kudeta itu menyulut amarah Presiden Soekarno yang mengecam tindakan tersebut dalam pidato yang berisi seruan bagi “rakyat Indonesia untuk menentukan nasib sendiri dengan memilih: ikut Muso dengan PKI-nya yang akan membawa bangkrutnya cita-cita Indonesia merdeka-atau ikut Soekarno-Hatta, yang Insya Allah dengan bantuan Tuhan akan memimpin Negara Republik Indonesia ke Indonesia yang merdeka, tidak dijajah oleh negara apa pun juga. Presiden Soekarno menyeru agar rakyat membantu alat pemerintah untuk memberantas semua pemberontakan dan mengembalikan pemerintahan yang sah di daerah. Madiun harus lekas di tangan kita kembali.”
Seruan Presiden Soekarno disambut oleh Menteri Hamengkubuwono yang disusul sambutan Menteri Soekiman dan Jenderal Soedirman yang membacakan surat keputusan pengangkatan Mayor Jenderal Soengkono sebagai panglima militer Jawa Timur. Tanggal 23 September 1948 Menteri Agama KH Masjkoer mengucapkan pidato radio yang tegas menyebutkan bahwa tindakan merebut kekuasaan bertentangan dengan agama dan sama seperti perbuatan permusuhan orang-orang yang pro Belanda. Dengan janji-janji palsu rakyat dipengaruhi, dibujuk, dihasut, dipaksa dan dijadikan tameng oleh PKI Moeso.
Pidato Menteri Agama KH Masjkoer yang menyatakan bahwa rakyat dipengaruhi, dibujuk, dihasut, dipaksa dan dijadikan tameng oleh PKI Moeso tidak mengada-ada. Itu bukti sewaktu pidato Presiden Soekarno dicetak sebagai selebaran yang disebarkan kepada penduduk melalui pesawat terbang. Seketika – usai membaca selebaran berisi pidato Presiden Soekarno – penduduk yang dipersenjatai oleh PKI beramai-ramai meletakkan senjata. Mereka duduk di trotoar jalan dalam keadaan bingung. Mereka terkejut dan bingung sewaktu sadar bahwa gerakan yang mereka lakukan itu ternyata ditujukan untuk melawan Presiden Soekarno. Mereka pun mulai bertanya-tanya tentang siapa sejatinya Moeso yang mengaku pemimpin rakyat itu.
Sejarah mencatat, bahwa antara tanggal 18 – 21 September 1948 gerakan makar FDR/PKI yang dilakukan dengan sangat cepat itu tidak bisa dimaknai lain kecuali sebagai pemberontakan. Sebab dalam tempo hanya tiga hari, FDR/PKI telah membunuh pejabat-pejabat negara baik sipil maupun militer, tokoh masyarakat, tokoh politik, tokoh pendidikan, bahkan tokoh agama. Dengan kekejaman khas kaum komunis – seperti kelak dipraktekkan lagi di Kampuchea selama rezim Pol Pot berkuasa — bagian terbesar dari mayat-mayat yang dibunuh dengan sangat kejam oleh FDR/PKI itu dimasukkan ke dalam sumur-sumur “neraka” secara tumpuk-menumpuk dan tumpang-tindih. Sebagian lagi di antara tawanan FDR/PKI ditembak di “Ladang Pembantaian” di Pabrik Gula Gorang-gareng maupun di Alas Tuwa.



vertical-align: baseline;"> Setelah gerakan makar FDR/PKI berhasil ditumpas oleh TNI yang dibantu masyarakat, awal Januari tahun 1950 sumur-sumur “neraka” yang digunakan FDR/PKI mengubur korban-korban kekejaman mereka dibongkar oleh pemerintah. Berpuluh-puluh ribu masyarakat dari Magetan, Madiun, Ngawi, Ponorogo, Trenggalek berdatangan menyaksikan pembongkaran sumur-sumur “neraka”. Mereka bukan sekedar melihat peristiwa langka itu, kebanyakan mereka mencari anggota keluarganya yang diculik PKI.
Diantara sumur-sumur “neraka” yang dibongkar itu, informasinya diketahui justru berdasar pengakuan orang-orang PKI sendiri. Dalam proses pembongkaran sumur-sumur “neraka” itu terdapat tujuh lokasi ditambah dua lokasi pembantaian di Magetan, yaitu: 1. sumur “neraka” Desa Dijenan, Kec.Ngadirejo, Kab.Magetan; 2. Sumur “neraka” I Desa Soco, Kec.Bendo, Kab.Magetan; 3. Sumur “neraka” II Desa Soco, Kec.Bendo, Kab,Magetan; 4. Sumur “neraka” Desa Cigrok, Kec.Kenongomulyo, Kab.Magetan, 5. Sumur “neraka” Desa Pojok, Kec.Kawedanan, Kab.Magetan; 6. Sumur “neraka” Desa Batokan, Kec.Banjarejo, Kab.Magetan; 7. Sumur “neraka” Desa Bogem, Kec.Kawedanan, Kab.Magetan; dan dua lokasi killing fields yang digunakan FDR/PKI membantai musuh-musuhnya, yaitu ruang kantor dan halaman Pabrik Gula Gorang-gareng dan Alas Tuwa di dekat Desa Geni Langit di Magetan.
Fakta kekejaman FDR/PKI dalam gerakan pemberontakan tahun 1948 disaksikan puluhan ribu warga masyarakat yang menonton pembongkaran sumur-sumur “neraka” itu, yang setelah diidentifikasi diperoleh sejumlah nama pejabat pemerintahan sipil maupun TNI, ulama, tokoh Masjoemi, tokoh PNI, Polisi, Camat, Kepala Desa, bahkan Guru. Berikut daftar sebagian nama-nama korban kekejaman FDR/PKI tahun 1948 yang diperoleh dari pembongkaran sumur “neraka” Soco I dan sumur “neraka” Soco II, yang terletak di Desa Soco, Kec. Bendo, Kab.Magetan:
SUMUR “NERAKA” SOCO I: 1. Soehoed, camat Magetan; 2. R. Moerti, Kepala Pengadilan Magetan; 3. Mas Ngabehi Soedibyo, Bupati Magetan; 4. R. Soebianto; 5. R. Soekardono, Patih Magetan; 6. Soebirin; 7. Imam Hadi; 8. R. Joedo Koesoemo; 9. Soemardji; 10. Soetjipto; 11. Iskak; 12. Soelaiman; 13. Hadi Soewirjo; 14. Soedjak; 15. Soetedjo; 16. Soekadi; 17. Imam Soedjono; 18. Pamoedji; 19. Soerat Atim; 20. Hardjo Roedino; 21. Mahardjono; 22. Soerjawan; 23. Oemar Danoes; 24. Mochammad Samsoeri; 25. Soemono; 26. Karyadi; 27. Soerdradjat; 28. Bambang Joewono; 29. Soepaijo; 30. Marsaid; 31. Soebargi; 32. Soejadijo. 33. Ridwan; 34. Marto Ngoetomo; 35. Hadji Afandi; 36. Hadji Soewignjo; 37. Hadji Doelah; 38. Amat Is; 39. Hadji Soewignyo; 40. Sakidi; 41. Nyonya Sakidi; 42. Sarman; 43. Soemokidjan; 44. Irawan; 45. Soemarno; 46. Marni; 47. Kaslan; 48. Soetokarijo; 49. Kasan Redjo; 50. Soeparno; 51. Soekar; 52. Samidi; 53. Soebandi; 54. Raden Noto Amidjojo; 55. Soekoen; 56. Pangat B; 57. Soeparno; 58. Soetojo; 59. Sarman; 60. Moekiman; 61. Soekiman; 62. Pangat/Hardjo; 63. Sarkoen B; 64. Sarkoen A; 65. Kasan Diwirjo; 66. Moeanan; 67. Haroen; 68. Ismail. ada sekitar 40 mayat tidak dikenali karena bukan warga Magetan.
SUMUR “NERAKA” SOCO II: 1. R. Ismaiadi, Kepala Resort Polisi Magetan; 2. R.Doerjat, Inspektur Polisi Magetan; 3. Kasianto, anggota Polri; 4. Soebianto, anggota Polri; 5. Kholis, anggota Polri; 6. Soekir, anggota Polri; 7. Bamudji, Pembantu Sekretaris BTT; 8. Oemar Damos, Kepala Jawatan Penerangan Magetan; 9. Rofingi Tjiptomartono, Wedana Magetan; 10. Bani, APP. Upas; 11. Soemingan, APP.Upas; 12. Baidowi; 13. Naib Bendo; 14. Reso Siswojo; 15. Kusnandar, Guru; 16. Soejoedono, Adm PG Rejosari; 17. Kjai Imam Mursjid Muttaqin, Mursyid Tarikat Syattariyah Pesantren Takeran; 18. Kjai Zoebair; 19. Kjai Malik; 20. Kjai Noeroen; 21. Kjai Moch. Noor.”
Tindak kebiadaban FDR/PKI selama melakukan aksi makarnya tahun 1948 yang disaksikan puluhan ribu penduduk laki-laki, perempuan, tua, muda, anak-anak yang menonton pengangkatan jenazah para korban dari sumur-sumur “neraka” yang tersebar di Magetan dan Madiun, adalah rekaman peristiwa yang tidak akan terlupakan. Peristiwa pembongkaran sumur-sumur “neraka” itu telah memunculkan asumsi abadi dalam ingatan bawah sadar masyarakat bahwa PKI memiliki hubungan erat dengan pembunuhan manusia yang dimasukkan ke dalam sumur “neraka”. Itu sebabnya, ketika tanggal 1 Oktober 1965 tersiar kabar para jenderal TNI AD diculik PKI dan kemudian ditemukan sudah menjadi mayat di dalam sumur “neraka” Lubang Buaya di dekat Halim, amarah masyarakat seketika meledak terhadap PKI, termasuk di lingkungan aktivis Gerakan Pemuda Ansor yang sejak 1964 membentuk Barisan Ansor Serbaguna (Banser) di berbagai daerah yang dilatih kemiliteran karena memenuhi keinginan Presiden Soekarno membentuk kekuatan sukarelawan untuk mengganyang Malaysia, di mana anggota Banser yang emosinya tak terkendali – terutama setelah tewasnya 155 orang anggota Ansor Banyuwangi yang dibunuh PKI – dimanfaatkan oleh pihak militer untuk bersama-sama menumpas kekuatan PKI yang telah membunuh para jenderal mereka.
Artikel ini ditulis oleh Agus Sunyoto.
Pertama kali dimuat di buletin Risalah edisi 36 tahun IV 1433 H/ 2012 hal 24-29, dipublikasikan ulang oleh blog  remental.blogspot.co.id
Penulis adalah peneliti sejarah peristiwa Madiun 1948 yang diterbitkan dalam buku berjudul “LUBANG-LUBANG PEMBANTAIAN: GERAKAN MAKAR FDR/PKI 1948 DI MADIUN” (1990).
Penulis peneliti konflik Banser-PKI 1965 di Jawa Tengah yang diterbitkan dalam buku berjudul “BANSER BERJIHAD MENUMPAS PKI” (1995).
Penulis peneliti operasi Trisula 1966-1968 di Blitar yang dimuat bersambung di harian Jawa Pos September-Oktober 1995.

Sumber http://www.beradab.com/2016/04/jangan-lupakan-sejarah-inilah-fakta.html#

Kamis, Desember 15, 2016

Kejahatan PKI: Warga Ditangkap, Kemaluannya Dipotong dan Dibiarkan Mati sampai Membusuk


Oleh: Rudi Agung (Pemerhati Masalah Sosial)

 post-feature-image
Jurnalmuslim.com - Sudah 71 tahun, katanya, Indonesia merdeka. Usia yang matang bagi sebuah negara. Teringat masa-masa kecil, ketika SD, almarhum bapak kerap bercerita aneka tema. Selepas Magrhib, berdua dengan kakak, kami tadarus atau mengaji, lalu bapak membedah hadits yang dulu kami hanya menjadi pendengar dan penanya saja.


Usai Isya, giliran bapak atau ibu berkisah. Banyak kisah yang masih melekat sampai sekarang. Di antaranya, kisah penjajahan dan kekejaman PKI. Beliau berkisah perjuangan rakyat di masa penjajahan dan komunis. Kadang, berkisah leluhur, seperti Eyang Kakung Hasan Basari, pendiri Pondok Tegal Sari cikal bakal Gontor lama, beliau dikenal dengan nama Kiai Ajeng Hasan Basari.


Kadang kala berkisah pula soal perjuangan Eyang Zarkasyi atau Pak Zar, Eyang Sahal, Eyang Fanani. Beliau-beliau dikenal sebagai generasi keempat pendiri Gontor, KH. Imam Zarkasyi (1910-1985), KH. Zainuddin Fanani (1908-1967), dan KH. Ahmad Sahal (1901-1977).

Masih ingat dalam ingatan, ketika ayahanda berkisah bagaimana Gontor diacak-acak PKI. Mereka mencari Eyang-eyang kami untuk disembelih. Alhamdulillah, pertolongan Allah datang. PKI lari kocar-kacir setelah datang bantuan dari Laskar Hizbullah dan Pasukan Siliwangi, yang dipimpin KH Yusuf Hasyim dari Tebuireng Jombang.

Tetapi PKI berhasil membakar pesantren Gontor: buku, kitab, sampai Alquran. Begitu mendebarkan teringat kisahnya. Tak pernah lepas dari memori. Begitu pula kisah ketika ayahanda bersama rekan-rekannya bergelut melawan penjajah Belanda dan Jepang hinggga terpaksa masuk ke hutan.

Ayahanda almarhum R. Masjkur BA, yang lahir tahun 1918, kerap bergelut dalam sejumlah pergolakan di Tanah Air: era penjajahan sampai kekejian komunis. Beruntung, beliau selamat. Meski ketika bercerita tak jarang matanya berkaca, air matanya membasahi pipinya mengingat pengorbanan kawan-kawannya.

Seperti kisah tentang kawannya yang tertangkap PKI, lalu dipotong (maaf) kemaluannya dan dibiarkan begitu saja sampai ditemukan dalam kondisi nyaris membusuk. Atau kisah ketika mereka berhari-hari menahan lapar dan haus di hutan, merancang strategi perlawanan terhadap penjajah.

Dulu, kata ayahanda, siapapun ikhlas berjuang demi kemerdekaan. Semua lapisan masyarakat bahu membahu, terutama para ulama, santri dan umat Muslim. Semua pure dilakukan karena ridha Allah demi melepaskan bangsa dari kedzaliman. Boro-boro mikir jabatan dan materi. (republika)




Minggu, November 27, 2016

Pakai Ikat Kepala Tauhid, Abi Thamrin Bakar Semangat Umat Islam Bogor


Minggu, 27/11/2016 15:39:54 | Dibaca : 30528 Facebook  Twitter  Gplus KH Muhammad Husni 


Thamrin dalam tabligh akbar kebangsaan di Masjid Raya Bogor. (foto: suara islam)
Bogor (SI Online) - Ulama kharismatik KH Muhammad Husni Thamrin hadir dalam acara silaturahmi dan tablig akbar kebangsaan di Masjid Raya Bogor, Ahad (27/11/2016).

Dihadapan ribuan jamaah yang hadir, Kyai yang akrab disapa Abi Thamrin itu memakai ikat kepala bertuliskan lafazh Laa ilaa hailallah dan GBN (gerakan bela negara) sebelum menyampaikan ceramahnya. Sontak, apa yang dilakukan Abi tersebut, membangkitkan semangat jamaah yang hadir. Pekikan takbir bersautan ketika ia memakainya.

"Dengan memakai ikat kepala ini, kita harus siap berjuang menghadapi PKI gaya baru," tegasnya.

Menurutnya, dalam momen saat ini umat Islam telah bersatu, tidak lagi ada perbedaan. "NU, Muhammadiyah, Persis, PUI, FPI, HTI, Hasmi dan lainnya semua bersatu. Kita sekarang bersama-sama bergerak," ujar Abi.

Pimpinan Majelis Al Ihya Bogor itu juga menyerukan umat Islam untuk mengikuti Aksi Bela Islam III di Jakarta pada 2 Desember 2016 mendatang. Dengan sebuah pantun, Abi mengajak umat Islam agar semangat berjuang membela agama Islam.

"Kereta api dipanggil sepur, diatas sepur ada kondektur, daripada mati diatas kasur lebih baik mati di medan tempur," ujar Abi lalu disambut pekikan takbir jamaah.

Saat ini, kata Abi, sejumlah aparat kepolisian sudah mendatangi pesantren-pesantren dan lembaga Islam untuk melakukan pelarangan. Tidak hanya itu, organda juga diancam akan dicopot izinnya jika menyewakan bis kepada jamaah yang ikut aksi.

Meski demikian, dengan berharap dicabutnya larangan tersebut, Abi menyerukan kepada umat Islam untuk tetap berangkat dalam rangka menegakan hukum dan menyelamatkan negara.

red: adhila


Sabtu, November 26, 2016

Militer Khawatir Bangkitnya PKI di Indonesia Melalui PDIP


Militer Khawatir Bangkitnya PKI di Indonesia Melalui PDIP

JAKARTA (voa-islam.com) - Kalangan militer Indonesia sangat kawatir dengan usaha-usaha yang sistematis yang dilakukan oleh unsur-unsur dalam tubuh PDIP yang berusaha membangkitkan kembali komunisme (PKI).
Karena, komunisme merupakan ancaman yang bersifat laten, dan melakukan perebutan kekuasaan dengan jalan kekerasan. Seperti ‘Madiun Affairs’ tahun l948,  dan kemudian tahun l965, pemberontakan PKI, yang memakan korban, termasuk sejumlah jenderal yang dibunuh oleh PKI.
Indikasi bangkitnya kembali komunisme dan PKI ini, sangat kentara dengan berbagai aktitifas mereka  yang terang-terangan dan terbka. Seperti dalam masa kampanye Pilpres, ada beberapa peristiwa yang dapat dinilai sebagai indikasi bangkitnya komunisme alias  PKI di Indonesia. Peristiwa itu bisa ditelusuri sejak Oktober 2002.

Saat itu, kader PDIP Ribka Tjiptaning menulis buku dengan judul yang sangat provokatif 'Aku Bangga Jadi Anak PKI'. Buku Ribka Tjiptaning ini beredar luas, dan Tjiptaning yang menjadi anggota DPR dari PDIP, dan merupakan kader PDIP itu, tak henti-henti melakukan penggalangan di berbagai daerah unsur-unsur yang berbau komunisme.

Menyusul kemudian Juni 2010, pertemuan anak PKI dari berbagai kota yang turut dihadiri oleh anggota DPR RI dari Fraksi PDI-Perjuangan, Rieke Dyah Pitaloka di Banyuwangi, Jawa Timur. Terakhir dikabarkan anak eks-PKI itu melakukan kunjungan ke China guna belajar politik dari partai komunis di sana.
Satu-satunya negara di Asia yang masih tetap mempertahankan ideologi komunisme adalah Cina. Cina tidak pernah berubah dalam menganut ideologi kemunisme. Sejak Mao Tse Tung yang menjadi pendiri komunisme di Cina. Sekalipun pernah terjadi perubahan di masa Deng Xiao Ping, tetapi komunisme tetap tidak pernah berubah di Cina.
Cina tetap bertumpu kepada komunisme. Jaringan negara atau struktur
negara di kuasai atau diisi oleh kader-kader komunis. Mulai dari stelsel yang paling bawah sampai ke tingkat presiden dan perdana menteri diisi oleh kader-kader komunis. Semua stelsel dan struktur birokrasi dan kekuasaan di Cina, semuanya dipegang oleh kader-kader dan tokoh komunis, yang secara ideologi mereka sanggat matang.
Cina memiliki 10 juta kader komunis yang menggenggam negara yang berpenduduk 1,5 miliar. Tidak ada kekuatan di dunia memiliki kemampuan yang begitu besar, secara ideologi dan pendukung ideologi kemunisme, kecuali Cina. Sekarang Cina menjadi satu-satunya super-power di dunia, dan dibangun diatas landasan ideologi komunisme.
Inilah masalah yang bakal dihadapi masa depan dunia secara global. Kekuatan Cina, dan kekuatan militernya, serta kader-kader komunisme yang militan, dan memiliki komitmen secara konsisten (istiqomah), di tengah-tengah perubahan dan situasi global. Cina komunis yang didukung kekuatan militer, dan kader- kader komunis sangat militan, bisa menjadi ancaman kawasan, khusunya di Asia.
Militer Indonesia masih tetap menyimpan kekawatiran dengan dua peristiwa yang terjadi yaitu 'Affairs Madiun' tahun l948, yang memakan korban tidak sedikit, terutama di daerah Madiun. Kemudian, peristiwa tahun l964, pemberotakan PKI, di mana 7 orang jenderal di bunuh oleh kader-kader komunis (PKI) dan Gerwani, dan mayatnya dimasukan sumur Lubang Buaya. Ini tidak mudah dihapus trauma dikalangan militer Indonesia.
komuniskme sedang lakukan rekonsolidasi secara serius dan terencana di Indonesia," ujar mantan Aster Kasad Mayjen TNI Purn  Prijanto di Jakarta, Minggu (29/6/2014).
Lebih jauh, Prijanto mengatakan,  istilah petugas partai yang disampaikan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri kepada Jokowi juga dinilai modus komunisme. Sebab, istilah petugas partai mirip dengan pekerja partai yang pernah diakan tokoh PKI DN Aidit.

"Dalam otak orang PKI, Babinsa adalah salah satu dari '7 Setan Desa' yang harus dimusnahkan. Adu domba, saling fitnah, lempar isu sembunyi tangan, mengobok-obak institusi TNI AD mirip dengan suasana kebatinan saat PKI akan lakukan kudeta tahun 1965," kata mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta tahun 2007-2012 tersebut.

Menurut Prijanto, pelan-pelan rakyat dijauhkan dari TNI di saat yang sama alutsista TNI dilemahkan. TNI akan terus dihancurkan dengan menggunakan isu HAM, dan tokoh-tokohnya disudutkan dengan pelanggaran HAM. Semua dijalankan dengan sistematis. Seperti nampak dalam kampanye negatif terhadap Prabowo.

Selanjutnya, Prijanto mengomentari pernyataan Jokowi, "Tank Leopard yang dibutuhkan TNI AD ditolak. Dalam sejarah, TNI-AD memang adalah musuh bebuyutan komunis-PKI. Sepertinya ada aktor tertentu yang secara terbuka ataupun tersembunyi memanfaatkan kebebasan dalam Pilpres untuk memfitnah dan adu domba. Ada apa? Siapa yang bermain?," jelas dia.

Dia menjelaskan, rangkaian petistiwa tersebut patut dinilai komunis PKI menggeliat. Ancaman laten komunis sangat nyata, perlu kita waspadai. "Bagi saya hanya satu kalimat yang paling tepat, jangan pernah beri peluang untuk komunis berkuasa di Indonesia," tandasnya.
Sekarang terjadi kolaborasi anara kader-kader komunis yang sudah menyusup di PDIP dengan kalangan Katolik yang memiliki ideologi 'Theologi Pembebasan' yang diadopsi dari Amerika Latin, dan bermuara di Tim Sukses Jokowi. Maka, sekarang Tim Sukses terus menggelindingkan dan menggelorakan tentang idiom atau kata 'kerakyatan'.
Jokowi dijadikan 'nabi' orang-orang miskin, rakyat jelata, kaum proletar, dan tokoh yang lahir dari 'rakyat untuk rakyat'. Jokowi menjadi tokoh antitase Probowo, seorang militer pelanggar HAM, bergaya borjuis, dan tidak sesuai dengan kehidupan rakyat jelata, yang menjadi mayoritas rakyat Indonesia. Jokowi seakan menjadi pembebas kaum 'papa' yang tertindas kaum kapitalis atau kaum borjuis pemilik modal.
Tetapi, semua hanyalah kepalsuan dan kebohongan belaka, memoles Jokowi dengan citra sebagai 'nabi'  rakyat miskin. Itulah hanyalah taktik kader-kader komunis yang sekarang menyusup ke dalam tubuh PDIP. Mereka berusaha melakukan perebutan kekuasaan yang dibantu kalangan oportunis, yang haus kekuasaan. Wallahu'alam.

- See more at: http://www.voa-islam.com/read/opini/2014/06/30/31266/militer-khawatir-bangkitnya-pki-di-indonesia-melalui-pdip/#sthash.bwQLNoUC.dpuf

Selasa, Agustus 23, 2016

Ini Dia Kebiadaban PKI dari Tahun ke Tahun, Mohon Disebarkan



 



BELAJAR DARI SEJARAH
(PKI Thn. 1960 s/d Sekarang).

Untuk kewaspadaan nasional jangan lupa dengan sejarah agar dijadikan pelajaran jangan melakukan kesalahan yang sama.



1. Tahun 1960 : Soekarno meluncurkan slogan NASAKOM (Nasional, Agama dan Komunis) yang didukung penuh oleh PNI, NU dan PKI. Dengan demikian PKI kembali terlembagakan sebagai bagian dari Pemerintahan RI.

2. Tanggal 17 Agustus 1960 : Atas desakan dan tekanan PKI terbit Keputusan Presiden RI No.200 Th.1960 tertanggal 17 Agustuts 1960 tentang PEMBUBARAN MASYUMI (Majelis Syura Muslimin Indonesia) dengan dalih tuduhan keterlibatan Masyumi dalam pemberotakan PRRI, padahal hanya karena ANTI NASAKOM.

3. Pertengahan Tahun 1960 : Departemen Luar Negeri AS melaporkan bahwa PKI semakin kuat dengan keanggotaan mencapai 2 (dua) juta orang.

4. Bulan Maret 1962 : PKI resmi masuk dalam pemerintahan Soekarno, DN Aidit dan Nyoto diangkat oleh Soekarno sebagai Menteri Penasehat.

5. Bulan April 1962 : Kongres PKI.

6. Tahun 1963 : PKI memprovokasi Presiden Soekarno untuk Konfrontasi dengan Malaysia, dan mengusulkan dibentuknya Angkatan Kelima yang terdiri dari BURUH dan TANI untuk dipersenjatai dengan dalih ”mempersenjatai rakyat untuk bela negara” melawan Malaysia.

7. Tanggal 10 Juli 1963 : Atas desakan dan tekanan PKI terbit Keputusan Presiden RI No.139 th.1963 tertanggal 10 Juli 1963 tentang PEMBUBARAN GPII (Gerakan Pemuda Islam Indonesia), lagi-lagi hanya karena ANTI NASAKOM.

8. Tahun 1963 : Atas desakan dan tekanan PKI terjadi Penangkapan Tokoh-Tokoh Masyumi dan GPII serta Ulama Anti PKI, antara lain : KH. Buya Hamka, KH.Yunan Helmi Nasution, KH. Isa Anshari, KH. Mukhtar Ghazali, KH. EZ. Muttaqien, KH. Soleh Iskandar, KH. Ghazali Sahlan dan KH. Dalari Umar.

9. Bulan Desember 1964 : Chaerul Saleh Pimpinan Partai MURBA (Musyawarah Rakyat Banyak) yang didirikan oleh mantan Pimpinan PKI, Tan Malaka, menyatakan bahwa PKI sedang menyiapkan KUDETA.

10. Tanggal 6 Januari 1965 : Atas desakan dan tekanan PKI terbit Surat Keputusan Presiden RI No.1 / KOTI / 1965 tertanggal 6 Januari 1965 tentang PEMBEKUAN PARTAI MURBA, dengan dalih telah memfitnah PKI

11. Tanggal 13 Januari 1965 : Dua sayap PKI yaitu PR (Pemuda Rakyat) dan BTI (Barisan Tani Indonesia) menyerang dan menyiksa peserta Training PII (Pelajar Islam Indonesia) di Desa Kanigoro Kecamatan Kras Kabupaten Kediri, sekaligus melecehkan pelajar wanitanya, dan juga merampas sejumlah Mush-haf Al-Qur’an dan merobek serta menginjak-injaknya.

12. Awal Tahun 1965 : PKI dengan 3 juta anggota menjadi Partai Komunis terkuat di luar Uni Soviet dan RRT. PKI memiliki banyak Ormas, antara lain : SOBSI (Serikat Organisasi Buruh Seluruh Indonesia), Pemuda Rakjat, Gerwani, BTI (Barisan Tani Indonesia), LEKRA (Lembaga Kebudayaan Rakjat) dan HSI (Himpunan Sardjana Indonesia).

13. Tanggal 14 Mei 1965 : Tiga sayap organisasi PKI yaitu PR, BTI dan GERWANI merebut perkebunan negara di Bandar Betsi, Pematang Siantar, Sumatera Utara, dengan menangkap dan menyiksa serta membunuh Pelda Sodjono penjaga PPN (Perusahaan Perkebunan Negara) Karet IX Bandar Betsi.

14. Bulan Juli 1965 : PKI menggelar pelatihan militer untuk 2000 anggotanya di Pangkalan Udara Halim dengan dalih ”mempersenjatai rakyat untuk bela negara”, dan dibantu oleh unsur TNI Angkatan Udara.

15. Tanggal 21 September 1965 : Atas desakan dan tekanan PKI terbit Keputusan Presiden RI No.291 th.1965 tertanggal 21 September 1965 tentang PEMBUBARAN PARTAI MURBA, karena sangat memusuhi PKI.

16. Tanggal 30 September 1965 Pagi : Ormas PKI Pemuda Rakjat dan Gerwani menggelar Demo Besar di Jakarta.

17. Tanggal 30 September 1965 Malam : Terjadi Gerakan G30S / PKI atau disebut juga GESTAPU (Gerakan September Tiga Puluh) :

a. PKI menculik dan membunuh 6 (enam) Jenderal Senior TNI AD di Jakarta dan membuang mayatnya ke dalam sumur di LUBANG BUAYA – Halim, mereka adalah : Jenderal Ahmad Yani, Letjen R.Suprapto, Letjen MT Haryono, Letjen S. Parman, Mayjen Panjaitan dan Mayjen Sutoyo Siswomiharjo.

b. PKI juga menculik dan membunuh Kapten Pierre Tendean karena dikira Jenderal Abdul Haris Nasution.

c. PKI pun membunuh AIP KS Tubun seorang Ajun Inspektur Polisi yang sedang bertugas menjaga rumah kediaman Wakil PM Dr. J. Leimena yang bersebelahan dengan rumah Jenderal AH Nasution.



d. PKI juga menembak putri bungsu Jenderal AH Nasution yang baru berusia 5 (lima) tahun, Ade Irma Suryani Nasution, yang berusaha menjadi perisai ayahandanya dari tembakan PKI, kemudian ia terluka tembak dan akhirnya wafat pada tanggal 6 Oktober 1965.

e. G30S / PKI dipimpin oleh Letnan Kolonel Untung yang membentuk tiga kelompok gugus tugas penculikan, yaitu : Pasukan Pasopati dipimpin Lettu Dul Arief, dan Pasukan Pringgondani dipimpin Mayor Udara Sujono, serta Pasukan Bima Sakti dipimpin Kapten Suradi.

f. Selain Letkol Untung dan kawan-kawan, PKI didukung oleh sejumlah perwira ABRI / TNI dari berbagai angkatan, antara lain :

- Angkatan Darat : Mayjen TNI Pranoto Reksosamudro, Brigjen TNI Soepardjo dan Kolonel Infantri A. Latief

- Angkatan Laut : Mayor KKO Pramuko Sudarno, Letkol Laut Ranu Sunardi dan Komodor Laut Soenardi

- Angakatan Udara : Men / Pangau Laksyda Udara Omar Dhani, Letkol Udara Heru Atmodjo dan Mayor Udara Sujono

- Kepolisian : Brigjen Pol. Soetarto, Kombes Pol. Imam Supoyo dan AKBP Anwas Tanuamidjaja.

18. Tanggal 1 Oktober 1965 : PKI di Yogyakarta juga membunuh Brigjen Katamso Darmokusumo dan Kolonel Sugiono. Lalu di Jakarta PKI mengumumkan terbentuknya DEWAN REVOLUSI baru yang telah mengambil alih kekuasaan.

19. Tanggal 2 Oktober 1965 : Soeharto mnegambil alih kepemimpinan TNI dan menyatakan Kudeta PKI gagal dan mengirim TNI AD menyerbu dan merebut pangkalan udara Halim dari PKI.

20. Tanggal 6 Oktober 1965 : Soekarno menggelar Pertemuan Kabinet dan Menteri PKI ikut hadir serta berusaha melegalkan G30S, tapi ditolak, bahkan terbit Resolusi Kecaman terhadap G30S, lalu usai rapat Nyoto pun langsung ditangkap.

21. Tanggal 13 Oktober 1965 : Ormas Anshor NU gelar Aksi unjuk rasa Anti PKI di seluruh Jawa.

22. Tanggal 18 Oktober 1965 : PKI menyamar sebagai Anshor Desa Karangasem (kini Desa Yosomulyo) Kecamatan Gambiran, lalu mengundang Anshor Kecamatan Muncar untuk pengajian. Saat Pemuda Anshor Muncar datang, mereka disambut oleh Gerwani yang menyamar sebagai Fatayat NU, lalu mereka diracuni, setelah keracunan mereka dibantai oleh PKI dan jenazahnya dibuang ke Lubang Buaya di Dusun Cemetuk Desa / Kecamatan Cluring Kabupaten Banyu
wangi. Sebanyak 62 (enam puluh dua) orang Pemuda Anshor yang dibantai, dan ada beberapa pemuda yang selamat dan melarikan diri, sehingga menjadi saksi mata peristiwa. Persitiwa tragis itu disebut Tragedi Cemetuk, dan kini oleh masyarakat secara swadaya dibangun Monumen Pancasila Jaya.

23. Tanggal 19 Oktober 1965 : Anshor NU dan PKI mulai bentrok di berbagai daerah di Jawa.

24. Tanggal 11 November 1965 : PNI dan PKI bentrok di Bali.

25. Tanggal 22 November 1965 : DN Aidit ditangkap dan diadili serta dihukum mati.

26. Bulan Desember 1965 : Aceh dinyatakan telah bersih dari PKI.

27. Tanggal 11 Maret 1966 : Terbit Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) dari Presiden Soekarno yang memberi wewenang penuh kepada Soeharto untuk mengambil langkah pengamanan Negara RI.

28. Tanggal 12 Maret 1966 : Soeharto melarang secara resmi PKI.

29. Bulan April 1966 : Soeharto melarang Serikat Buruh Pro PKI yaitu SOBSI.

30. Tanggal 13 Februari 1966 : Bung Karno masih tetap membela PKI, bahkan secara terbuka di dalam pidatonya di muka Front Nasional di Senayan mengatakan : ”Di Indonesia ini tidak ada partai yang pengorbanannya terhadap Nusa dan Bangsa sebesar PKI…”

31. Tanggal 5 Juli 1966 : Terbit TAP MPRS No.XXV Tahun 1966 yang ditanda-tangani Ketua MPRS – RI Jenderal TNI AH Nasution tentang Pembubaran PKI dan Pelarangan penyebaran paham Komunisme, Marxisme dan Leninisme.

32. Bulan Desember 1966 : Sudisman mencoba menggantikan Aidit dan Nyoto untuk membangun kembali PKI, tapi ditangkap dan dijatuhi hukuman mati pada tahun 1967.

33. Tahun 1967 : Sejumlah kader PKI seperti Rewang, Oloan Hutapea dan Ruslan Widjajasastra, bersembunyi di di wilayah terpencil di Selatan Blitar bersama kaum Tani PKI.

34. Bulan Maret 1968 : Kaum Tani PKI di Selatan Blitar menyerang para pemimpin dan kader NU, sehingga 60 (enam puluh) orang NU tewas dibunuh.

35. Pertengahan 1968 : TNI menyerang Blitar dan menghancurkan persembunyian terakhir PKI.

36. Dari tahun 1968 s/d 1998 : Sepanjang Orde Baru secara resmi PKI dan seluruh mantel organisasinya dilarang di seluruh Indonesia dengan dasar TAP MPRS No.XXV Tahun 1966.

37. Dari tahun 1998 s/d 2015 : Pasca Reformasi 1998 Pimpinan dan Anggota PKI yang dibebaskan dari penjara, beserta keluarga dan simpatisannya yang masih mengusung IDEOLOGI KOMUNIS, justru menjadi pihak paling diuntungkan, sehingga kini mereka meraja-lela melakukan aneka gerakan pemutar balikkan fakta sejarah dan memposisikan PKI sebagai PAHLAWAN pejuang kemerdekaan RI. Dan Ideologi Komunis tidak akan pernah mati, selama Syetan masih ada di dunia ini.

38. Di Jogokaryan Kotagede Yogyakarta,  PKI bikin ludruk/kesenian rakyat lakonya ; MATINE GUSTI ALLAH = MATINYA TUHAN ALLAH.

Wallahu a'lam.


[Voa-Islam]

Minggu, Agustus 21, 2016

Mayjen Kivlan Ungkap PKI Sudah Punya 100 ribu senjata dari Cina, "Cegah Sebelum Terlambat"



Media Pribumi - Mayor Jenderal (Purnawirawan) Kivlan Zen mengatakan Partai Komunis Indonesia telah bangkit dan dipimpin Wahyu Setiaji. "Dia anak Nyoto," katanya di sela acara simposium nasional bertajuk "Mengamankan Pancasila dari Ancaman Kebangkitan PKI dan Ideologi Lain" di Balai Kartini, Jakarta, Rabu, 2 Juni 2016.

Kivlan menjelaskan, Wahyu merupakan anak Nyoto, Wakil Ketua CC PKI. Dia menyebutkan Wahyu mempunyai peran besar, apalagi keturunan PKI saat ini sudah bersatu. Persatuan itu, kata Kivlan, terjadi dalam Kongres PKI di Grabag, Magelang, Jawa Tengah. "Sudah membuat anggaran dasar dan metode kerja," ujarnya.


Metode itu, tutur Kivlan, adalah bentuk perjuangan dan penguasaan di kalangan TNI, Polri, dan pegawai negeri. Kemudian, kata dia, mereka akan melakukan propaganda, fitnah, dan teror dengan tujuan merebut kekuasaan. "Metode ini sama dengan PKI pimpinan D.N. Aidit," katanya. "Mereka sudah menyiapkan 15 juta pendukung."

Terkait dengan kantor PKI, kata Kivlan, sudah tersebar di seluruh daerah, termasuk di Jakarta, yang berada di samping Hotel Acacia, Jalan Matraman, Jakarta. Menurut dia, kantor itu merupakan gedung lama dan akan dibangun kembali jika PKI bangkit setelah pemerintah meminta maaf atas peristiwa 1965.

Setelah bangkit, ucap dia, PKI pun akan keluar dengan membawa 100 ribu senjata dari Cina yang disebarkan ke penganutnya. Senjata itu, menurut dia, sudah ada di tangan PKI sejak 1965. "Tidak dipakai karena saat itu gerakannya ketahuan," katanya.

Kivlan mengatakan semua informasi yang diterimanya berasal dari anak dan jaringan yang dia punya. "Pemerintah jangan pernah meminta maaf," tuturnya.

HUSSEIN ABRI YUSUF


Sumber : tempo.co

Sabtu, Juni 11, 2016

Amien Rais: Ada Kebohongan Nasional Tutupi Kebangkitan Komunisme


Amien Rais



Rep: Andrian Saputra/ Red: Bayu Hermawan
REPUBLIKA.CO.ID, SOLO -- Mantan Ketua MPR Amien Rais menilai ada kebohongan yang sedang dilakukan untuk menutupi kebangkitkan Partai Komunis Indonesia (PKI). Amien melihat PKI tengah menyusun berbagai cara untuk berusaha bangkit kembali di Indonesia.

"Ada kebohongan nasional yang secara sistematik itu dibuat oleh tokoh kita. Mereka bilang komunisme sudah usang, tidak usah ditakuti, sudah tidak ada di mana-mana. Orang seperti ini sangat tidak bertanggung jawab, pura-pura bodoh," katanya, di Universitas Muhammadiyah Surakarta pada Jumat (10/6) sore.

Berbagai cara dilakukan PKI untuk bangkit kembali. Kata Amien, saat ini komunis tengah berupaya terlebih dulu menghancurkan akhlak bangsa dengan menjadikan hak asasi manusia (HAM) sebagai tameng.

"Belum lagi pornografi, narkoba, menggiatkan juga itu kita sudah terjebak dengan komunisme kultural," ujarnya.

Lebih lanjut ia meminta agar pemerintah bersikap tegas terhadap upaya segelintir orang yang ingin menghidupkan PKI. Mantan Ketua Umum PAN itu pun mengendus ada pemimpin-pemimpin yang mempunyai jabatan dan posisi tinggi di pemerintahan menjadi motor untuk kebangkitan PKI.


"Saya ingin menarik perhatian kepada teman-teman saya yang berkuasa, jangan main-main dengan komunisme. Orang yang berkata negara harus minta maaf pada PKI harus dimintai pertanggungjawaban. Ironisnya, ada yang memimpin negeri ini, posisinya pun tinggi, mari kita cari tahu bersama," jelas mantan ketum PP Muhammadiyah.

Sabtu, Mei 28, 2016

!20 juta di bantai komunis

 [8:20 AM, 5/28/2016] +62 821-3757-7848:T aufiq Ismail Ungkapkan Bahwa Komunis Bantai 120 Juta Orang di 75 Negara ¤ 

JAKARTA (Manjanik.net) – Budayawan dan penyair angkatan 1966, Taufiq Ismail mengungkapkan bahwa Komunis telah membantai 120 juta orang di 75 negara selama periode 1917-1991, sehingga Komunis atau PKI harus dilawan.

“Selama 74 tahun Komunis itu rata-rata membunuh 1.621.621 orang setiap tahun atau 4.504 orang per hari atau tiga orang per menit di 75 negara,” jelasnya saat berkunjung ke redaksi LKBN Antara di Jakarta, pada Jum’at (27/5/2016).

Sastrawan yang menandatangani Manifesto Kebudayaan (Manikebu) itu mengungkapkan bahwa Komunis melakukan kudeta di 75 negara selama 69 tahun pada 1918-1987, dan berhasil mendirikan 28 negara Komunis di dunia.

Sementara di Indonesia, Komunis telah tiga kali berupaya merebut kekuasaan, yakni pada 1926, 1948, dan 1965. Namun, ketiga-tiganya gagal dan sejak 1966, komunis menjadi partai terlarang.

“Walau begitu, ideologi ini diam-diam bergerak terus atas dasar dendam. Oleh sebab itu, mari kita bersama membasmi kebodohan, memberantas kemiskinan, menghabisi korupsi, meredam kekerasan dan anarki demi tegaknya hukum dan keadilan di negeri kita,” tegas Taufiq.

Selengkapnya; http://manjanik.net/featured/taufiq-ismail-ungkapkan-bahwa-komunis-bantai-120-juta-orang-di-75-negara/

# BERITA LAINNYA;

1) Kenapa Sidang Sulis Cs Dijaga Ketat Aparat & Wartawan Dibatasi Ambil Gambar? https://t.co/JSZ00mUlvN https://t.co/0v6B4BASV0

2) Pertempuran di Fallujah Bawa Kematian & Kehancuran Bagi Tentara Syi’ah Iraq https://t.co/bxOTUx7pgQ https://t.co/w2IobUMfyg

3) Wahai Muslimah, Istiqomahlah dalam Menutup Aurat & Bercadar https://t.co/G4PuxpNrjL https://t.co/frTLQcLIay

4) Ternyata di Israel Bisnis Pelacuran Tubuh Subur & Merajalela https://t.co/8TDtag1Ply https://t.co/ezqDaHLyFd

5) Islamic State (IS) Hancurkan Pangkalan Udara Rezim Syi’ah Suriah yang Dipakai Rusia https://t.co/tcyRqQnWaV https://t.co/6BbamV5V6b

6) Kapolri Sebut Ada Hubungan Antara Kelompok MIT Poso dengan Abu Sayyaf https://t.co/tjQwBFiAVW https://t.co/kIcjwQxz8n

7) Saksi Polisi Benarkan Sulis Cs Lakukan Pengeroyokan Terhadap Aktivis Islam Klaten https://t.co/GGVLJvrNbb https://t.co/q2ppcav3g0

8) 250 Pasukan Khusus AS Bantu Pejuang Kurdi Perangi Islamic State (IS) di Raqqah https://t.co/r8rNPqUoMb https://t.co/EXyXoDoMaj

9) Serangan Daulah Islam (IS) di Baiji Tewaskan 20 Tentara Syi’ah Iraq https://t.co/9jd1XcMVff https://t.co/2BZLWiEklj

10) Taliban Umumkan Pemimpin Baru Mereka Pengganti Mullah Mansour https://t.co/O5z4c4r40s https://t.co/fPW886iGQb

11) Serangan Bom IS di Tartous & Jableh Suriah Tewaskan 120 Anggota Syi’ah Alawit https://t.co/n3j3lSJruY

12) Taliban Akhirnya Benarkan Pemimpinnya Meninggal dalam Serangan Drone AS https://t.co/LriReiGTgU https://t.co/qUn1iZu9xx

13) Polri Minta Penggunggah Materi, Foto & Video Berbau Terorisme Bisa Ditindak https://t.co/zghsgGjzlX https://t.co/M0Bh5nzFpW

14) ICW Dorong KPK Ungkap Pidana Ahok dalam Kasus Proyek Reklamasi https://t.co/K4Y2I1Wv3x https://t.co/3AqtO4PRd2

15) Polres Bogor Larang Acara Sahur On The Road & Ormas Sweeping https://t.co/ObTEJvfAOf https://t.co/uHa14E0yWd

16) PDAM Kota Bogor Gratiskan Rekening Air Masjid & Ponpes Selama Ramadhan https://t.co/K0NF8QpFs4 https://t.co/Z3wziki42q

17) Sejarah Singkat Kanonisasi Perjanjian Lama (Bagian 1) https://t.co/pYuimy5auN https://t.co/I7AimuFptN

18) FAKTA INDONESIA, Antara Teroris dengan Koruptor Pencuri Uang Negara https://t.co/zbA0JynhOW https://t.co/CfzTvIeSLm

19) Tak Rela Istrinya Dilihat Telanjang Saat Melahirkan, Pria Saudi Tembak Dokter Lelaki https://t.co/c9QnniO3HH https://t.co/10yRQHmYiM

20) Ssst,, Ternyata Ada yang Jauh Lebih Penting dari ‘Itu’ di Malam Pertama https://t.co/Bk50TLttH9 https://t.co/jl3okscxLT

21) MUI Sumbar Tunggu Sidang Isbat Untuk Tetapkan Awal Ramadhan 1437 H https://t.co/MKZikNXWzC https://t.co/mXn3e9DVGK

22) Perang Syi’ah Iraq Lawan IS di Fallujah Kian Sengit Usai Syi’ah Hizbullat Ikut Campur https://t.co/FA2Vmpkvwf

23) 2 Jet Tempur FA-18 Hornet Milik Amerika Tabrakan di North Carolina https://t.co/5HNHVb17Z2 https://t.co/Ikpf1Sofx7

24) Teks Lengkap Pesan Audio Terbaru Jubir Daulah Islam (IS) Syaikh Al-Adnani (2) https://t.co/1OxqkWpagh https://t.co/p1epYyawNL

—---------------—
Ikuti terus informasi dunia Islam dan artikel keIslaman di situs berita online www.manjanik.net (Mengungkap Fakta, Menembus Cakrawala Dunia) 
-> www.manjanik.net dapat diakses melalui UC Browser

☆ PIN BBM: 7C02C9C6
☆ SMS/WA: 0821-3757-7848
☆ Email: redaksi.manjanik@gmail.com
☆ Join di Channel Telegram Manjanik: goo.gl/vN3bi9
[12:29 PM, 5/28/2016] +62 812-5714-4427: "HIDUP CUMA 1,5 JAM SAJA"
Bismillahir Rahmaanir Rahiim
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarokaatuh...

  Hidup kita cuma 1,5 jam saja di dunia ini...
Mari kita lihat berdasarkan Al-Qur'an sebgai sumber kebenaran absolut..
1 hari akhirat = 1000 tahun 
24 jam akhirat = 1000 tahun 
3 jam akhirat = 125 tahun 
1,5 jam akhirat = 62,5 tahun

"Apabila umur manusia itu rata2 60-70 tahun, maka hidup manusia ini jika di lihat dari langit hanyalah 1,5 jam saja. Pantaslah kita selalu di ingatkan masalah waktu."
" Ternyata hanya satu setengah jam saja yg akan menentukan kehidupan abadi kita kelak, hendak di surga atau di neraka."(QS 35:15, 4: 170).
" Cuma satu setengah jam saja cobaan hidup, maka bersabarlah."(QS 74: 7, 52:48, 39: 10 )
"Demikian juga satu setengah jam saja kita harus menahan nafsu dan mengganti dgn sunnah-Nya." (QS 12:53, 33:38).

"SATU SETENGAH JAM"
Sebuah perjuangan yg teramat singkat dan Alloh SWT akan mengganti dgn Surga ALLOH SWT" (QS 9:72, 98:8, 4: 114)..

Maka berjuanglah untuk mencari bekal perjalanan panjang nanti (QS 59:18, 42:20, 3:148, 28:77)..
ALLOH SWT berfirman :
"Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui." (QS 23: 114)..

Subhanalloh, semoga bermanfaat

Sabtu, Mei 14, 2016

Prof Dr Aminuddin Kasdi : Sejarawan Temukan Dokumen Bukti PKI Ingin Dirikan Negara Komunis Indonesia



Masyarakat diminta tetap waspada dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). Sejarawan Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Prof Dr Aminuddin Kasdi mengungkapkan semua isu yang mengaburkan kekejaman PKI itu tidak didukung bukti historis.

"Saya justru menemukan dokumen kecil berisi rencana pemberontakan PKI dengan target untuk mendirikan Negara Komunis di Indonesia,”kata dia dalam sebuah diskusi kecil di Surabaya, Jawa Timur, belum lama ini.

Dokumen yang ditemukan itu berupa buku kecil atau buku saku tentang "ABC Revolusi" yang ditulis Comite Central PKI pada tahun 1957 yang isinya menyebut tiga rencana revolusi atau pemberontakan oleh PKI untuk "target" Negara Komunis di Indonesia.

"Buku itu justru membuktikan bahwa rencana pemberontakan PKI yang diragukan sejumlah pihak itu ada dokumen historisnya, bahkan dokumen itu merinci tiga tahapan pemberontakan PKI yang semuanya gagal, lalu rumor pun diembuskan untuk mengaburkan fakta," ujar penulis tesis berjudul 'Masalah Tanah dan Keresahan Petani di Jawa Timur 1960-1965' itu dalam diskusi yang dihadiri rekannya, Prof Sam Abede Pareno.

Anggota Masyarakat Sejarawan Indonesia Jawa Timur itu menyatakan temuan dokumen (lusuh) itu tak terbantahkan. "Kalau ada orang NU yang dituduh melakukan pembunuhan itu bukan direncanakan, tapi reaksi balik atas sikap PKI sendiri yang menyebabkan 'chaos' saat itu," tutur mantan aktivis Islam itu.

Mantan aktivis Pelajar Islam Indonesia (PII/1963-1965), GP Ansor (1965-1968), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI/1965-1975), dan Muhammadiyah (1976) itu mengungkapkan sikap PKI memang menyakitkan. "PKI melakukan provokasi dengan ludruk yang temanya menyakitkan, seperti matinya Tuhan, malaikat yang tidak menikah karena belum dikhitan, dan banyak lagi,” kata dia.

Karena itu, kata penulis disertasi berjudul "Hubungan antara Pusat dan Daerah pada Periode Kartasura Akhir (1976-1745); Studi Peranan Cakraningrat IV dalam Merebut dan Mengembalikan Kraton Kartasura kepada Pakubowana II" itu, masyarakat jangan terpengaruh dengan provokasi politik yang didukung media massa untuk "membesarkan" PKI guna mengaburkan sejarah. Contohnya  menunjukkan bahwa orang PKI juga ada yang menciptakan salah satu lagu nasional.[republika]

Kamis, Mei 12, 2016

Sejumlah Ustadz di Garut Mengalami Teror dan Al-Qur’an Dirobek



 Sejumlah Ustadz di Garut Mengalami Teror dan Al-Qur'an Dirobek

Islamedia – Orang tidak dikenal melancarkan aksi teror terhadap sejumlah ustadz di wilayah kampung Cikancung, Desa Mekarhurip, Kecamatan Sukawening, Kabupaten Garut. Aksi teror terbaru ditujukan kepada tokoh Muhammadiyah Garut KH Aban Soban.
Bukan hanya meneror, para pelaku bahkan berani merobek-robek Alquran dengan menggunakan pisau dan memutuskan kabel pengeras suara di salah satu masjid. .
“Selain aksi teror berupa pelemparan masjid dan menyobek-nyobek Alquran, pelaku juga telah memutuskan kabel pengeras suara di salah satu masjid. Hal itu terjadi pada hari Selasa 10 Mei 2016,” ujar Pimpinan Muhammadiyah Kabupaten Garut M Yusup Sapari sebagaimana dilansir sindonews, Kamis (12/5/2016).
Menurt keterangan Yusup, di dalam Alquran yang sampulnya disyat-sayat menggunakan pisau cuter juga terdapat sobekan kertas yang berisi kalimat kasar.
Untuk menghadapi aksi teror ini, pimpinan Muhammadiyah Kabupaten Garut telah melakukan koordinasi dengan pihak kepolisian, Koramil, dan aparat desa setempat.
“Kami telah laporkan hal ini kepada pihak kepolisian, Koramil dan pemerintahan desa setempat. Kami berharap pihak aparat keamanan menyikapi laporan kami ini dengan serius, serta mengungkap pelakunya, dan kemudian memprosesnya secara hukum,” jelas Yusup.[islamedi

Senin, Mei 09, 2016

Soerjo, gubernur pertama Jatim, meninggal di tangan PKI



 Soerjo, gubernur pertama Jatim, meninggal di tangan PKI


Merdeka.com - Hari ini warga Jawa Timur (Jatim) menggelar pesta demokrasi. Mereka akan menentukan siapa yang akan menjabat sebagai orang nomor satu Jatim.

Pesta demokrasi ini mengingatkan akan sosok RMTA Soerjo. Dia adalah Gubernur Jatim pertama usai republik ini meraih kemerdekaan.

Usai dilantik secara resmi, Gubernur Soerjo langsung berhadapan dengan situasi yang genting setelah terbunuhnya Jenderal Mallaby pada 31 Oktober 1945.

Hal itu menyulut kemarahan tentara Inggris yang kemudian mengeluarkan ultimatum agar rakyat Surabaya menyerahkan senjata sampai batas waktu 10 November 1945. Jika tuntutan itu tidak dipenuhi, tentara Inggris mengancam akan membumihanguskan Surabaya.

Menghadapi situasi seperti itu, Gubernur Soerjo berusaha untuk tetap berkepala dingin. Dia kemudian mengadakan rapat dengan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dan pada 9 November 1945, malam hari sekitar pukul 23.00 WIB, Gubernur Soerjo berpidato menggunakan siaran radio untuk menggugah semangat arek-arek Surabaya.

Pidato yang sama juga digelorakan Bung Tomo, hingga keesokan harinya pecahlah pertempuran 10 November 1945. Meski tidak seimbang karena sebagian besar rakyat hanya bersenjatakan bambu runcing, tetapi pertempuran yang kemudian dikenal dengan Pertempuran Surabaya mampu memukul mundur kekuatan Inggris.

Hal itu membuat tentara Inggris semakin geram dan terus melancarkan serangan ke Surabaya. Gubernur Soerjo terpaksa harus berpindah tempat ke Sepanjang, Sidoarjo, kemudian ke Mojokerto, Kediri, dan Malang.

Tahun 1947, tugas Gubernur Soerjo digantikan oleh Dr Moerdjani. Gubernur Soerjo kemudian mendapat tugas sebagai Wakil Ketua DPA di Yogyakarta yang waktu itu menjadi ibu kota.

Tanggal 10 November 1948, Gubernur Soerjo pergi ke Madiun untuk menghadiri peringatan 40 hari meninggalnya sang adik, RM Sarjuno. Sarjuno menjadi korban pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) di Madiun.

Tetapi, saat melintas di desa Bago, Kedunggalar, Ngawi, dia dicegat oleh gerombolan PKI di bawah pimpinan Amir Sjarifuddin dan Muhammad Yusuf. Bersama Kombes Pol M Doerjat dan Kompol Soeroko, dia ditangkap dan dibawa ke Hutan Sonde untuk dibunuh dengan sangat kejam.

Ketiganya dibunuh di dekat sungat Klakah. Mayat mereka dikubur secara sembarangan.

Jenazah Gubernur Soerjo ditemukan empat hari setelah pembunuhan. Jenazah itu kemudian dimakamkan di Sasono Mulyo yang terletak di Sawahan, Kabupaten Magetan.

Pemerintah lalu menggelari Gubernur Soerjo sebagai Pahlawan Nasional Pembela Kemerdekaan. Hal itu tertuang dalam Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 294 tanggal 17 Nopember 1964.

Minggu, Mei 08, 2016

Ketua PKI Aidit Pernah Minta HMI Dibubarkan


 Ketua PKI Aidit Pernah Minta HMI Dibubarkan


MerahPutih Peristiwa - Desakan pembubaran organisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) pernah disampaikan Ketua Central Committee Partai Komunis Indonesia (PKI) Dipa Nusantara Aidit.
Dalam sebuah orasi politiknya di Kongres II Consentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI) pada tanggal 28 September 1965 di Istora Senayan, secara tegas Aidit meminta kepada CGMI untuk membubarkan HMI. Jika CGMI tidak bisa membubarkan HMI, Aidit menyarankan agar  kader CGMI laki-laki sebaiknya menggunakan  sarung.
Malam itu gemuruh tepuk tangan dan teriakan pembubabaran HMI terasa begitu kuat. Sekitar 25.000 kader CGMI memadati Istora Senayan di Jakarta. Di luar gedung lebih dari 40.000 massa pendukung dan simpatisan PKI terus meneriakkan yel-yel "Bubarkan HMI, Bubarkan HMI". Teriakan tersebut terus menggema sepanjang Kongres II CGMI berlangsung.
Tiba giliran Aidit memberikan sambutan. Di hadapan puluhan ribu kader CGMI dan PKI lagi, lagi Aidit meneriakan pembubaran HMI. Bagi Aidit pembubaran HMI adalah urusan kecil dan ia tidak perlu turun tangan. Aidit menyerahkan sepenuhnya pembubaran HMI kepada CGMI.
"Kalau CGMI tidak bisa membubarkan HMI lebih baik anggota CGMI yang laki-laki menggunakan kain saja," kata Aidit yang disambut gemuruh tepuk tangan barisan pendukungnya.
Bukan hanya minta HMI dibubarkan, Aidit juga menyindir Presiden Sukarno lantaran pemimpin besar revolusi tersebut memiliki istri lebih dari satu.
"Negara ini tidak akan bisa maju jika diurus pemimpin yang memiliki empat atau malahan lima orang istri," teriak Aidit.
Bung Karno yang hadir dalam acara Kongres II CGMI hanya diam mendengar orasi politik Aidit, sebaliknya sejumlah hadirian juga diam seribu bahasa. Bung Karno kemudian meninggalkan lokasi Kongres tanpa banyak bicara.
Victor Tanja dalam bukunya berjudul "Himpunan Mahasiswa Islam: Sejarah dan Kedudukannya di tengah Gerakan-Gerakan Muslim Pembaharu di Indonesia terbitan Sinar Harapan, Jakarta: 1982, menjelaskan konflik antara HMI dan PKI sudah berlangsung cukup lama.
Ia membeberkan sejak pemberontakan PKI di Madiun tahun 1948 PKI sudah memandang HMI dengan corak sama dengan Masyumi. Bagi Aidit, HMI harus dienyahkan sama seperti Masyumi yang dibubarkan pada tahun 1960.
Aidit bersama dengan PKI juga melakukan agitasi massif yang ditujukan kepada HMI. Aidit menuding HMI anti Sukarno, kemudian terlibat dalam gerakan separatis di berbagai daerah, antek nekolim dan mendukung gerakan Darul Islam.
"Sejak pemberontakan Madiun kaum komunis memandang HMI sama dengan Masyumi, karena itu mereka berhasrat menghancurkan organisasi ini secepat-cepatnya," tulis Victor.
Gerakan anti HMI terus berkembang luas  Dr. Ernst Utrecht seorang Dekan Fakultas Hukum Universitas Brawijaya di Jember mengeluarkan pengumuman yang intinya melarang HMI ikut serta dalam kegiatan apapun di Fakultas Hukum Universitas Brawijaya.
Namun Presiden Sukarno tetap membiarkan HMI hidup dengan pertimbangan HMI bukanlah suatu gerakan politik yang mengancam persatuan dan kesatuan bangsa yang sudah dirajut Bung Karno selama puluhan tahun.
"Melalui seorang utusan, Presiden Sukarno berpesan agar HMI meneruskan kegiatan-kegiatannya," tandas Victor.

Sabtu, Mei 07, 2016

Data kronologis melengkapi tulisan ttg PKI

[11:13 AM, 5/7/2016] +62 815-6797-2137: WAJIB DIWASPADAI...!!!🔺

Utk dimonitor, didalami bersama sama dan dikoordkan dgn unsur aparat intel di wilayah masing2 :

"Dalam Rangka Memperingati Hari Lahir PKI yg ke-102 pada tanggal 9 Mei 2016 nanti, ada klmpok yg akan bagi - bagi Kaos Palu Arit Gratis dg Target 102.000 Kaos, saat ini sedang Proses Penyablonan. Buku-buku ttg PKI pun sudah Mulai Menyebar ke banyak daerah, utamanya Jakarta Raya, Info ini langsung dari Akun yg mengatasnamakan "Partai Komunis Indonesia".

*Info ini agar disebarluaskan untuk Mewaspadai ttg Bahaya Laten PKI kedepannya dan supaya diketahui oleh Pihak Berwajib.
[11:14 AM, 5/7/2016] +62 815-6797-2137: Selamat siang bpk/ibu/adik2 yg lahir setelah th 1965. Sejarah masa lalu.. mdh2an tdk terulang lagi. Agak panjang ceritanya, ttp menarik u disimak :

Copas dr mantan KSAD

JASMERAH
(JANGAN SEKALI-KALI MELUPAKAN/MENINGGALKAN SEJARAH)

Data kronologis melengkapi tulisan ttg PKI

PKI : TAHUN 1945 s/d 1965

Bismillaah Wal Hamdulillaah ...
Wa Laa Haula Wa Laa Quwwata illaa Billaah ...

A. KRONOLOGIS

1. Tanggal 8 Oktober 1945 : Gerakan Bawah Tanah PKI membentuk API (Angkatan Pemuda Indonesia) dan AMRI (Angkatan Muda Republik Indonesia).

2. Medio Oktober 1945 : AMRI Slawi pimpinan Sakirman dan AMRI Talang pimpinan Kutil menteror, menangkap dan membunuh sejumlah pejabat pemerintah di Tegal.

3. Tanggal 17 Oktober 1945 : Tokoh Komunis Banten Ce’ Mamat yang terpilih sebagai Ketua KNI (Komite Nasional Indonesia) membentuk DPRS (Dewan Pemerintahan Rakyat Serang) dan merebut pemerintahan Keresidenan Banten melalui teror dengan kekuatan massanya.

4. Tanggal 18 Oktober 1945 : Badan Direktorium Dewan Pusat yang dipimpin Tokoh Komunis Tangerang, Ahmad Khoirun, membentuk laskar yang diberi nama Ubel-Ubel dan mengambil alih kekuasaan pemerintahan Tangerang dari Bupati Agus Padmanegara.

5. Tanggal 21 Oktober 1945 : PKI dibangun kembali secara terbuka.

6. Tanggal 4 November 1945 : API dan AMRI menyerbu Kantor Pemda Tegal dan Markas TKR, tapi gagal. Lalu membentuk Gabungan Badan Perjuangan Tiga Daerah untuk merebut kekuasaan di Keresidenan Pekalongan yang meliputi Brebes, Tegal dan Pemalang.

7. Tanggal 9 Desember 1945 : PKI Banten pimpinan Ce’ Mamat menculik dan membunuh Bupati Lebak, R. Hardiwinangun, di Jembatan Sungai Cimancak.

8. Tanggal 12 Desember 1945 : Ubel-Ubel Mauk yang dinamakan Laskar Hitam di bawah pimpinan Usman membunuh Tokoh Nasional Oto Iskandar Dinata.

9. Tanggal 12 Februari 1946 : PKI Cirebon di bawah pimpinan Mr.Yoesoef dan Mr.Soeprapto membentuk Laskar Merah merebut kekuasaan Kota Cirebon dan melucuti TRI.

10. Tanggal 14 Februari 1946 : TRI merebut kembali Kota Cirebon dari PKI.

11. Tanggal 3 - 9 Maret 1946 : PKI Langkat – Sumatera di bawah pimpinan Usman Parinduri dan Marwan dengan gerakan massa atas nama revolusi sosial menyerbu Istana Sultan Langkat Darul Aman di Tanjung Pura dan membunuh Sultan bersama keluarganya serta menjarah harta kekayaannya.

12. Tahun 1947 : Kader PKI Amir Syarifuddin Harahap berhasil jadi PM Republik Indonesia dan membentuk kabinet.

13. Tanggal 17 Januari 1948 : PM Amir Syarifuddin Harahap menggelar Perjanjian Renville dengan Belanda.

14. Tanggal 23 Januari 1948 : Presiden Soekarno membubarkan Kabinet PM Amir Syarifuddin Harahap dan menunjuk Wapres M Hatta untuk membentuk Kabinet baru.

15. Bulan Januari 1948 : PKI membentuk FDR (Front Demokrasi Rakyat) yang dipimpin oleh Amir Syarifuddin untuk beroposisi terhadap Kabinet Hatta.

16. Tanggal 29 Mei 1948 : M. Hatta melakukan ReRa (Reorganisasi dan Rasionalisasi) terhadap TNI dan PNS untuk membersihkannya dari unsur-unsur PKI.

17. Bulan Mei 1948 : Muso pulang kembali dari Moskow – Rusia setelah 12 (dua belas) tahun tinggal disana.

18. Tanggal 23 Juni – 18 Juli 1948 : PKI Klaten melalui SARBUPRI (Serikat Buruh Perkebunan Republik Indonesia) melakukan pemogokan massal untuk merongrong pemerintah RI.

19. Tanggal 11 Agustus 1948 : Muso memimpin FDR / PKI dan merekonstruksi Politbiro PKI, termasuk DN. Aidit, MH Lukman dan Nyoto.

20. Tanggal 13 Agustus 1948 : Muso bertemu dengan Presiden Soekarno dan diminta untuk memperkuat Perjuangan Revolusi, namun dijawab bahwa dia pulang untuk menertibkan keadaan, yaitu untuk membangun dan memajukan FDR / PKI.

21. Tanggal 19 Agustus 1948 : PKI Surakarta membuat KERUSUHAN membakar pameran HUT RI ke-3 di Sriwedari – Surakarta, Jawa Tengah.

22. Tanggal 26 – 27 Agustus 1948 : Konferensi PKI

23. Tanggal 31 Agustus 1948 : FDR dibubarkan, lalu Partai Buruh dan Partai Sosialis berfusi ke PKI.

24. Tanggal 5 September 1948 : Muso dan PKI nya menyerukan RI agar berkiblat ke UNI SOVIET.

25. Tanggal 10 September 1948 : Gubernur Jawa Timur RM Ario Soerjo dan dua perwira polisi dicegat massa PKI di Kedunggalar – Ngawi dan dibunuh, serta jenazahnya dibuang di dalam hutan.

26. Medio September 1948 : Dr. Moewardi yang bertugas di Rumah Sakit Solo dan sering menentang PKI diculik dan dibunuh oleh PKI, begitu juga Kol. Marhadi diculik dan dibunuh oleh PKI di Madiun, kini namanya jadi nama Monumen di alun-alun Kota Madiun.

27. Tanggal 13 September 1948 : Bentrok antara TNI pro pemerintah dengan unsur TNI pro PKI di Solo.

28. Tanggal 17 September 1948 : PKI menculik para Kyai Pesantren Takeran di Magetan. KH Sulaiman Zuhdi Affandi digelandang secara keji oleh PKI dan dikubur hidup-hidup di sumur pembantaian Desa Koco, Kecamatan Bendo, Kabupaten Magetan. Di sumur tersebut ditemukan 108 (seratus delapan) kerangka jenazah korban kebiadaban PKI. Selain itu, ratusan orang ditangkap dan dibantai PKI di Pabrik Gula Gorang Gareng.

29. Tanggal 18 September 1948 : Kolonel Djokosujono dan Sumarsono mendeklarasikan NEGARA REPUBLIK SOVIET INDONESIA dengan Muso sebagai Presiden dan Amir Syarifoeddin Harahap sebagai Perdana Menteri.

30. Tanggal 19 September 1948 : Soekarno menyerukan rakyat Indonesia untuk memilih Muso atau Soekarno – Hatta. Akhirnya, Pecah perang di Madiun : Divisi I Siliwiangi pimpinan Kol. Soengkono menyerang PKI dari Timur dan Divisi II pimpinan Kol. Gatot Soebroto menyerang PKI dari Barat

31. Tanggal 19 September 1948 : PKI merebut Madiun, lalu menguasai Magetan, Ponorogo, Pacitan, Trenggalek, Ngawi, Purwantoro, Sukoharjo, Wonogiri, Purwodadi, Kudus, Pati, Blora, Rembang dan Cepu serta kota-kota lainnya.

32. Tanggal 20 September 1948 : PKI Madiun menangkap 20 orang polisi dan menyiksa serta membantainya.

33. Tanggal 21 September 1948 : PKI Blitar menculik dan menyembelih Bupati Blora Mr. Iskandar dan Camat Margorojo – Pati Oetoro, bersama tiga orang lainnya yaitu Dr.Susanto, Abu Umar dan Gunandar, lalu jenazahnya dibuang ke sumur di Dukuh Pohrendeng Desa Kedungringin Kecamatan Tujungan Kabupaten Blora.

34. Tanggal 18 – 21 September 1948 : PKI menciptakan 2 (Dua) Ladang Pembantaian / Killing Fields dan 7 (Tujuh) Sumur Neraka di MAGETAN untuk membuang semua jenazah korban yang mereka siksa dan bantai :

a. Ladang Pembantaian Pabrik Gula Gorang Gareng di Desa Geni Langit.
b. Ladang Pembantaian Alas Tuwa di Desa Geni Langit.
c. Sumur Neraka Desa Dijenan Kecamatan Ngadirejo Kabupaten Magetan.
d. Sumur Neraka Desa Soco I Kecamatan Bendo Kabupaten Magetan.
e. Sumur Neraka Desa Soco II Kecamatan Bendo Kabupaten Magetan.
f. Sumur Neraka Desa Cigrok Kecamatan Kenongomulyo Kabupaten Magetan.
g. Sumur Neraka Desa Pojok Kecamatan Kawedanan Kabupaten Magetan.
h. Sumur Neraka Desa Bogem Kecamatan Kawedanan Kabupaten Magetan
i. Sumur Neraka Desa Batokan Kecamatan Banjarejo Kabupaten Magetan.

35. Tanggal 30 September 1948 : Panglima Besar Sudirman mengumumkan bahwa tentara Pemerintah RI berhasil merebut dan menguasai kembali Madiun. Namun Tentara PKI yang lari dari Madiun memasuki Desa Kresek Kecamatan Wungu Kabupaten Dungus dan membantai semua tawanan yang terdiri dari TNI, Polisi, pejabat pemerintah, Tokoh Masyarakat dan Ulama serta Santri.

36. Tanggal 4 Oktober 1948 : PKI membantai sedikitnya 212 tawanan di ruangan bekas Laboratorium dan gudang dinamit di Tirtomulyo Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah

37. Tanggal 30 Oktober 1948 : Para Pimpinan Pemberontakan PKI di Madiun ditangkap dan dihukum mati, seperti Muso, Amir Syarifuddin, Suripno, Djokosujono, Maruto Darusman, Sajogo, dan lainnya.

38. Tanggal 31 Oktober 1948 : Muso dieksekusi di Desa Niten Kecamatan Sumorejo Kabupaten Ponorogo. Sedang MH Lukman dan Nyoto pergi ke pengasingan di Republik Rakyat China (RRC).

39. Akhir November 1948 : seluruh pimpinan PKI Muso berhasil dibunuh atau ditangkap, dan seluruh daerah yang semula dikuasai PKI berhasil direbut, antara lain : Ponorogo, Magetan, Pacitan, Purwodadi, Cepu, Blora, Pati, Kudus, dan lainnya.

40. Tanggal 19 Desember 1948 : Agresi Militer Belanda kedua ke Yogyakarta.

41. Tahun 1949 : PKI tetap tidak dilarang, sehingga tahun 1949 dilakukan rekontruksi PKI dan tetap tumbuh berkembang hingga tahun 1965.

42. Awal Januari 1950 : Pemerintah RI dengan disaksikan puluhan ribu masyarakat yang datang dari berbagai daerah seperti Magetan, Madiun, Ngawi, Ponorogo dan Trenggalek, melakukan pembongkaran 7 (Tujuh) Sumur Neraka PKI dan mengident
ifikasi para korban. Di Sumur Neraka Soco I ditemukan 108 kerangka mayat yang 68 dikenali dan 40 tidak dikenali, sedang di Sumur Neraka Soco II ditemukan 21 kerangka mayat yang semuanya berhasil diidentifikasi. Para korban berasal dari berbagai kalangan Ulama dan Umara serta Tokoh Masyarakat.

43. Tahun 1950 : PKI memulai kembali kegiatan penerbitan Harian Rakyat dan Bintang Merah.

44. Tanggal 6 Agustus 1951 : Gerombolan Eteh dari PKI menyerbu Asrama Brimob di Tanjung Priok dan merampas semua senjata api yang ada.

45. Tahun 1951 : Dipa Nusantara Aidit memimpin PKI sebagai Partai Nasionalis yang sepenuhnya mendukung Presiden Soekarno sehingga disukai Soekarno, lalu Lukman dan Nyoto pun kembali dari pengasingan untuk membantu DN Aidit membangun kembali PKI.

46. Tahun 1955 : PKI ikut Pemilu pertama di Indonesia dan berhasil masuk empat Besar setelah MASYUMI, PNI dan NU.

47. Tanggal 8 – 11 September 1957 : Kongres Alim Ulama Seluruh Indonesia di Palembang – Sumatera Selatan mengharamkan ideologi Komunis dan mendesak Presiden Soekarno untuk mengeluarkan Dekrit Pelarangan PKI dan semua mantel organisasinya, tapi ditolak oleh Soekarno.

48. Tahun 1958 : Kedekatan Soekarno dengan PKI mendorong Kelompok Anti PKI di Sumatera dan Sulawesi melakukan koreksi hingga melakukan pemberontakan terhadap Soekarno. Saat itu MASYUMI dituduh terlibat, karena Masyumi merupakan MUSUH BESAR PKI

49. Tanggal 15 Februari 1958 : Para pemberontak di Sumatera dan Sulawesi mendeklarasikan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI), namun pemberontakkan ini berhasil dikalahkan dan dipadamkan.

50. Tanggal 11 Juli 1958 : DN Aidit dan Rewang mewakili PKI ikut Kongres Partai Persatuan Sosialis Jerman di Berlin.

51. Bulan Agustus 1959 : TNI berusaha menggagalkan Kongres PKI, namun kongres tersebut tetap berjalan karena ditangani sendiri oleh Presiden Soekarno.

52. Tahun 1960 : Soekarno meluncurkan slogan NASAKOM (Nasional, Agama dan Komunis) yang didukung penuh oleh PNI, NU dan PKI. Dengan demikian PKI kembali terlembagakan sebagai bagian dari Pemerintahan RI.

53. Tanggal 17 Agustus 1960 : Atas desakan dan tekanan PKI terbit Keputusan Presiden RI No.200 Th.1960 tertanggal 17 Agustuts 1960 tentang PEMBUBARAN MASYUMI (Majelis Syura Muslimin Indonesia) dengan dalih tuduhan keterlibatan Masyumi dalam pemberotakan PRRI, padahal hanya karena ANTI NASAKOM.

54. Pertengahan Tahun 1960 : Departemen Luar Negeri AS melaporkan bahwa PKI semakin kuat dengan keanggotaan mencapai 2 (dua) juta orang.

55. Bulan Maret 1962 : PKI resmi masuk dalam pemerintahan Soekarno, DN Aidit dan Nyoto diangkat oleh Soekarno sebagai Menteri Penasehat.

56. Bulan April 1962 : Kongres PKI.

57. Tahun 1963 : PKI memprovokasi Presiden Soekarno untuk Konfrontasi dengan Malaysia, dan mengusulkan dibentuknya Angkatan Kelima yang terdiri dari BURUH dan TANI untuk dipersenjatai dengan dalih ”mempersenjatai rakyat untuk bela negara” melawan Malaysia.

58. Tanggal 10 Juli 1963 : Atas desakan dan tekanan PKI terbit Keputusan Presiden RI No.139 th.1963 tertanggal 10 Juli 1963 tentang PEMBUBARAN GPII (Gerakan Pemuda Islam Indonesia), lagi-lagi hanya karena ANTI NASAKOM.

59. Tahun 1963 : Atas desakan dan tekanan PKI terjadi Penangkapan Tokoh-Tokoh Masyumi dan GPII serta Ulama Anti PKI, antara lain : KH. Buya Hamka, KH.Yunan Helmi Nasution, KH. Isa Anshari, KH. Mukhtar Ghazali, KH. EZ. Muttaqien, KH. Soleh Iskandar, KH. Ghazali Sahlan dan KH. Dalari Umar.

60. Bulan Desember 1964 : Chaerul Saleh Pimpinan Partai MURBA (Musyawarah Rakyat Banyak) yang didirikan oleh mantan Pimpinan PKI, Tan Malaka, menyatakan bahwa PKI sedang menyiapkan KUDETA.

61. Tanggal 6 Januari 1965 : Atas desakan dan tekanan PKI terbit Surat Keputusan Presiden RI No.1 / KOTI / 1965 tertanggal 6 Januari 1965 tentang PEMBEKUAN PARTAI MURBA, dengan dalih telah memfitnah PKI

62. Tanggal 13 Januari 1965 : Dua sayap PKI yaitu PR (Pemuda Rakyat) dan BTI (Barisan Tani Indonesia) menyerang dan menyiksa peserta Training PII (Pelajar Islam Indonesia) di Desa Kanigoro Kecamatan Kras Kabupaten Kediri, sekaligus melecehkan pelajar wanitanya, dan juga merampas sejumlah Mush-haf Al-Qur’an dan merobek serta menginjak-injaknya.

63. Awal Tahun 1965 : PKI dengan 3 juta anggota menjadi Partai Komunis terkuat di luar Uni Soviet dan RRT. PKI memiliki banyak Ormas, antara lain : SOBSI (Serikat Organisasi Buruh Seluruh Indonesia), Pemuda Rakjat, Gerwani, BTI (Barisan Tani Indonesia), LEKRA (Lembaga Kebudayaan Rakjat) dan HSI (Himpunan Sardjana Indonesia).

64. Tanggal 14 Mei 1965 : Tiga sayap organisasi PKI yaitu PR, BTI dan GERWANI merebut perkebunan negara di Bandar Betsi, Pematang Siantar, Sumatera Utara, dengan menangkap dan menyiksa serta membunuh Pelda Sodjono penjaga PPN (Perusahaan Perkebunan Negara) Karet IX Bandar Betsi.

65. Bulan Juli 1965 : PKI menggelar pelatihan militer untuk 2000 anggotanya di Pangkalan Udara Halim dengan dalih ”mempersenjatai rakyat untuk bela negara”, dan dibantu oleh unsur TNI Angkatan Udara.

66. Tanggal 21 September 1965 : Atas desakan dan tekanan PKI terbit Keputusan Presiden RI No.291 th.1965 tertanggal 21 September 1965 tentang PEMBUBARAN PARTAI MURBA, karena sangat memusuhi PKI.

67. Tanggal 30 September 1965 Pagi : Ormas PKI Pemuda Rakjat dan Gerwani menggelar Demo Besar di Jakarta.

68. Tanggal 30 September 1965 Malam : Terjadi Gerakan G30S / PKI atau disebut juga GESTAPU (Gerakan September Tiga Puluh) :

a. PKI menculik dan membunuh 6 (enam) Jenderal Senior TNI AD di Jakarta dan membuang mayatnya ke dalam sumur di LUBANG BUAYA – Halim, mereka adalah : Jenderal Ahmad Yani, Letjen R.Suprapto, Letjen MT Haryono, Letjen S. Parman, Mayjen Panjaitan dan Mayjen Sutoyo Siswomiharjo.

b. PKI juga menculik dan membunuh Kapten Pierre Tendean karena dikira Jenderal Abdul Haris Nasution.

c. PKI pun membunuh AIP KS Tubun seorang Ajun Inspektur Polisi yang sedang bertugas menjaga rumah kediaman Wakil PM Dr. J. Leimena yang bersebelahan dengan rumah Jenderal AH Nasution.

d. PKI juga menembak putri bungsu Jenderal AH Nasution yang baru berusia 5 (lima) tahun, Ade Irma Suryani Nasution, yang berusaha menjadi perisai ayahandanya dari tembakan PKI, kemudian ia terluka tembak dan akhirnya wafat pada tanggal 6 Oktober 1965.

e. G30S / PKI dipimpin oleh Letnan Kolonel Untung yang membentuk tiga kelompok gugus tugas penculikan, yaitu : Pasukan Pasopati dipimpin Lettu Dul Arief, dan Pasukan Pringgondani dipimpin Mayor Udara Sujono, serta Pasukan Bima Sakti dipimpin Kapten Suradi.

f. Selain Letkol Untung dan kawan-kawan, PKI didukung oleh sejumlah perwira ABRI / TNI dari berbagai angkatan, antara lain :

- Angkatan Darat : Mayjen TNI Pranoto Reksosamudro, Brigjen TNI Soepardjo dan Kolonel Infantri A. Latief

- Angkatan Laut : Mayor KKO Pramuko Sudarno, Letkol Laut Ranu Sunardi dan Komodor Laut Soenardi

- Angakatan Udara : Men / Pangau Laksyda Udara Omar Dhani, Letkol Udara Heru Atmodjo dan Mayor Udara Sujono

- Kepolisian : Brigjen Pol. Soetarto, Kombes Pol. Imam Supoyo dan AKBP Anwas Tanuamidjaja.

69. Tanggal 1 Oktober 1965 : PKI di Yogyakarta juga membunuh Brigjen Katamso Darmokusumo dan Kolonel Sugiono. Lalu di Jakarta PKI mengumumkan terbentuknya DEWAN REVOLUSI baru yang telah mengambil alih kekuasaan.

70. Tanggal 2 Oktober 1965 : Soeharto mnegambil alih kepemimpinan TNI dan menyatakan Kudeta PKI gagal dan mengirim TNI AD menyerbu dan merebut pangkalan udara Halim dari PKI.

71. Tanggal 6 Oktober 1965 : Soekarno menggelar Pertemuan Kabinet dan Menteri PKI ikut hadir serta berusaha melegalkan G30S, tapi ditolak, bahkan terbit Resolusi Kecaman terhadap G30S, lalu usai rapat Nyoto pun langsung ditangkap.

72. Tanggal 13 Oktober 1965 : Ormas Anshor NU gelar Aksi unjuk rasa Anti PKI di seluruh Jawa.

73. Tanggal 18 Oktober 1965 : PKI menyamar sebagai Anshor Desa Karangasem (kini Desa Yosomulyo) Kecamatan Gambiran, lalu mengundang Anshor Kecamatan Muncar untuk pengajian. Saat Pemuda Anshor Muncar datang, mereka disambut oleh Gerwani yang menyamar sebagai Fatayat NU, lalu mereka diracuni, setelah keracunan mereka dibantai oleh PKI dan jenazahnya dibuang ke Lubang Buaya di Dusun Cemetuk Desa / Kecamatan Cluring Kabupaten Banyu
wangi. Sebanyak 62 (enam puluh dua) orang Pemuda Anshor yang dibantai, dan ada beberapa pemuda yang selamat dan melarikan diri, sehingga menjadi saksi mata peristiwa. Persitiwa tragis itu disebut Tragedi Cemetuk, dan kini oleh masyarakat secara swadaya dibangun Monumen Pancasila Jaya.

74. Tanggal 19 Oktober 1965 : Anshor NU dan PKI mulai bentrok di berbagai daerah di Jawa.

75. Tanggal 11 November 1965 : PNI dan PKI bentrok di Bali.

76. Tanggal 22 November 1965 : DN Aidit ditangkap dan diadili serta dihukum mati.

77. Bulan Desember 1965 : Aceh dinyatakan telah bersih dari PKI.

78. Tanggal 11 Maret 1965 : Terbit Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) dari Presiden Soekarno yang memberi wewenang penuh kepada Soeharto untuk mengambil langkah pengamanan Negara RI.

79. Tanggal 12 Maret 1965 : Soeharto melarang secara resmi PKI.

80. Bulan April 1965 : Soeharto melarang Serikat Buruh Pro PKI yaitu SOBSI.

81. Tanggal 13 Februari 1966 : Bung Karno masih tetap membela PKI, bahkan secara terbuka di dalam pidatonya di muka Front Nasional di Senayan mengatakan : ”Di Indonesia ini tidak ada partai yang pengorbanannya terhadap Nusa dan Bangsa sebesar PKI…”

82. Tanggal 5 Juli 1966 : Terbit TAP MPRS No.XXV Tahun 1966 yang ditanda-tangani Ketua MPRS – RI Jenderal TNI AH Nasution tentang Pembubaran PKI dan Pelarangan penyebaran paham Komunisme, Marxisme dan Leninisme.

83. Bulan Desember 1966 : Sudisman mencoba menggantikan Aidit dan Nyoto untuk membangun kembali PKI, tapi ditangkap dan dijatuhi hukuman mati pada tahun 1967.

84. Tahun 1967 : Sejumlah kader PKI seperti Rewang, Oloan Hutapea dan Ruslan Widjajasastra, bersembunyi di di wilayah terpencil di Selatan Blitar bersama kaum Tani PKI.

85. Bulan Maret 1968 : Kaum Tani PKI di Selatan Blitar menyerang para pemimpin dan kader NU, sehingga 60 (enam puluh) orang NU tewas dibunuh.

86. Pertengahan 1968 : TNI menyerang Blitar dan menghancurkan persembunyian terakhir PKI.

87. Dari tahun 1968 s/d 1998 : Sepanjang Orde Baru secara resmi PKI dan seluruh mantel organisasinya dilarang di seluruh Indonesia dengan dasar TAP MPRS No.XXV Tahun 1966.

88. Dari tahun 1998 s/d 2015 : Pasca Reformasi 1998 Pimpinan dan Anggota PKI yang dibebaskan dari penjara, beserta keluarga dan simpatisannya yang masih mengusung IDEOLOGI KOMUNIS, justru menjadi pihak paling diuntungkan, sehingga kini mereka meraja-lela melakukan aneka gerakan pemutar balikkan fakta sejarah dan memposisikan PKI sebagai PAHLAWAN pejuang kemerdekaan RI.
SILAKAN DISHARE...
[11:14 AM, 5/7/2016] +62 815-6797-2137: ðŸ”ºWAJIB DIWASPADAI...!!!🔺

Utk dimonitor, didalami bersama sama dan dikoordkan dgn unsur aparat intel di wilayah masing2 :

"Dalam Rangka Memperingati Hari Lahir PKI yg ke-102 pada tanggal 9 Mei 2016 nanti, ada klmpok yg akan bagi - bagi Kaos Palu Arit Gratis dg Target 102.000 Kaos, saat ini sedang Proses Penyablonan. Buku-buku ttg PKI pun sudah Mulai Menyebar ke banyak daerah, utamanya Jakarta Raya, Info ini langsung dari Akun yg mengatasnamakan "Partai Komunis Indonesia".

*Info ini agar disebarluaskan untuk Mewaspadai ttg Bahaya Laten PKI kedepannya dan supaya diketahui oleh Pihak Berwajib.
[