Jumat, November 01, 2013

Mantan LDII: Sejak SMP, Shalat Jum’at Saya Sudah Terpisah dari yang Lain


Keputusan para jama’ah yang keluar dari LDII sering kali direspon dengan ejekan. “Kamu gak usah shalat lagi, kamu kan sudah kafir,” kata Adam menirukan gaya para Imam di LDII.
Mengenai paradigma baru, sampai kemarin saja masih ada yang keluar dari LDII. Bisa ditanya (kepada mereka) apakah LDII sudah memiliki paradigma baru? Menurut saya, ini topeng baru. Mengakunya punya paradigma baru, aselinya bohong. Bisa ditanya kepada seluruh jama’ah yang keluar. Kalau LDII mengaku punya paradigma baru. Kita juga bisa lihat dari kenyataan, yang keluar-keluar ini bisa memberi testimoni.
Lantas Apa Beda Islam Jama’ah dengan LDII?
Islam Jama’ah itu intinya, ruhnya dan batinnya, sedangkan LDII itu bajunya.
***
Belum lagi usai kasus NII, Indonesia kembali digegerkan lewat kasus perceraian Adam Amrullah dengan Narendra Garini Anutama Natakusumah. Kasus ini bermula saat Adam memutuskan keluar dari LDII (Islam Jama’ah) karena sadar akan kesesatan Jama’ah yang eksis di tahun 70-an tersebut. Sang istri tidak menerima, karena Adam sudah tergolong kafir.
Padahal jika melihat rekam sejak selama ini, jabatan Adam di LDII bukan main-main. Ia adalah seorang mantan petinggi kepemudaan di Lembaga Dakwah Islam Indonesia.
“Saya dulu Ketua Pemuda LDII Se Jakarta Timur dan pengurus Forum Mahasiswa Islam Jama’ah Sejabotabek,” katanya kepada Eramuslim.com, Jum’at pagi, 27/05/2011.
“Dari kakek, nenek, sampai ibu dan ayah saya juga LDII. Keluarga besar kami LDII,” tambahnya.
Untuk mengetahui lebih jauh mengenai kiprah Adam di LDII hingga alasannya keluar dari LDII, berikut petikan wawancara wartawan Eramuslim.com, Muhammad Pizaro dengan Adam Amrullah, yang dilakukan Jum’at pagi, 27/05/2011, di sebuah tempat di bilangan Jakarta Selatan. Selamat Membaca..
Bisa Anda Ceritakan Awal Anda Terfikir Berhenti dari LDII?
Kalau dimulai dari ragunya, sebenarnya saya dari kecil sudah ragu, yaitu sejak SD. Dulu di TV ada berita tentang pahlawan bernama Sultan Hasanuddin. Di situ diceritakan, Sultan Hasanuddin berperang dan meninggal karena tertembak. Saya lalu bertanya ke orangtua, “Pak, beliau ini pahlawan dan orang Islam apakah dia masuk surga?” Lalu ayah saya jawab dengan ringan, “tidak!”. Lalu saya tanya lagi, “Kenapa Tidak?” Ayah saya bilang, “Karena dia (Sultan Hasanuddin, red.) bukan jama’ah kita.
Kenapa saya tanya begitu? Karena memang di LDII, orang yang dil uar jamaah tidak bisa masuk surga. Saya tidak bisa berfikir. Padahal seharusnya Sultan Hasanuddin sudah berperang sampai mati akan mendapat pahala besar. Cuma itulah di Islam Jama’ah jika bukan jama’ahnya maka orang itu kafir.
Semua Keluarga Anda LDII?
Dari kakek dan nenek, baik pihak ibu dan pihak bapak itu semuanya Islam Jama’ah. Sampai anak-anak-cucunya, hingga cicit itu Islam Jama’ah. Mereka menyebutnya awalun mukminin, karena menurut mereka orang sebelum mereka bukan orang beriman. Itu kan bathil sekali, Walisongo itu belum dianggap Islam oleh mereka dan masih dianggap jahiliyah sebelum datangnya Nurhasan (Al-Imam Nurhasan Ubaidah Lubis Amir, pendiri Islam Jama’ah di Indonesia, red.).
Memiliki Keluarga yang Taat LDII, kok Anda Sendiri Memilih Keluar?
Pertama, saya ini orangnya suka memperhatikan. Dan saya melihat, mereka memang semangat mengaji, tapi untuk shalat, mereka shubuhnya telat. Dan itu banyak, tidak satu-dua orang. Saya mulai ragu kok begini, padahal katanya orang benar. Sedang teman-teman saya di luar Islam jama’ah, kok sholatnya pada khusyuk sekali, sedangkan saya sendiri shalat sering terburu-buru. Lho, orang yang shalat khusyuk kayak begini kok dikafirkan oleh Islam Jama’ah.
Ternyata mereka punya dalil yang unik, yakni ‘siapa saja yang beramal di dalam jama’ah, kalau dia benar Allah akan terima, kalau salah, Allah akan maafkan.’ Makanya orang di luar Islam Jama’ah itu hina.
Saya pas kuliah pun mulai berani berdakwah, karena niatnya menyelamatkan teman-teman saya untuk tidak masuk neraka. Saya bawa berbagai kitab kuning, At Tirmidzi dan lain sebagainya.
Tapi pas Kuliah Tidak Ada yang Memberitahu Anda Bahwa LDII itu Sesat?
Oh.. ada. Saya tantang debat, kalah dia. Karena saya hafalan dalilnya banyak saat itu. Sampai ada satu orang yang masuk LDII, dan sekarang tidak mau keluar. Astaghfirullah (Tertawa sambil geleng-geleng kepala). Di tempat saya kerja juga aneh, karena saya tidak pernah shalat berjama’ah bersama mereka.
Jadi Memang Anda Harus Bara’ (berlepas diri, nm) dengan Orang Non Islam Jama’ah, Termasuk dari Perkara Shalat?
Iya, memang tidak boleh.
Tidak Sah?
Memang tidak sah dan tidak akan diterima. Bahkan saat saya SMP jika Shalat Jum’at, saya selalu dijemput orangtua. Kita shalat sendiri di mesjid Islam Jama’ah.
Oh Ada Ya?
Oh banyak sekali di Jakarta.
Lalu Jika Ada Orang yang di Luar Islam Jama’ah Ingin Shalat di sana?
Kalau ada tamu-tamu atau tetangga yang tidak tahu tentang Islam Jama’ah biasanya berani. Tapi kalau mereka tahu itu milik Islam Jama’ah mereka tidak akan berani. Jika dia bukan Islam Jama’ah biasanya habis itu dipel. Karena bagi Islam Jama’ah, mereka (non Islam Jama’ah, red.), dinilai tidak bisa bersuci sebagus mereka. Jadi mereka itu sebenarnya bagus, tapi lebay. Bahasa agamanya ghuluw (berlebih-lebihan, melampaui batas, nm). Orang-orang jadi tidak tenang karena sedikit-dikit najis. Sampai ada saudara saya yang menderita gila karena takut dirinya najis. Saudara saya beneran gila sampai sekarang ini. Jadi akidah ini (LDII, red.) sudah banyak memakan korban.
Tahun Berapa Anda Memutuskan Keluar?
Setelah menyaksikan kebenaran-kebenaran. Saat itu saya ikut ESQ tahun 2007, siapa tahu dapat channel dan saya ingin tahu. Melihat begitu banyak orang sayang kepada Allah dan RasulNya, saya kembali berfikir kenapa mereka dicap kafir. Tapi saya tidak mengerti kala itu, karena ilmu saya belum sampai. Jadi terkesan, dalam pandangan Islam Jama’ah, kok mau berislam susah sekali. Kita harus baiat, imamnya mengumpat (ngumpet, tidak menampakkan diri jelas-jelasan, nm) lagi. Anda saja tidak tahu kan di mana imamnya?
Jadi Bai’at Itu Bagian dari Rukun Islam Jama’ah?
Itu pengali (pengganda, nm). Jika shaum, zakat, shalat anda beres, rukun iman pun beres, kalau tidak bai’at sama saja dikali nol. Ngeri kan? Itu rumus yang saya bikin sendiri. Bahasa mereka, kalau Islam tidak jama’ah sama saja mencret.
Tidak lama setelah itu saya lihat banyak guru-guru dari Islam Jama’ah yang keluar. Ini kan menarik, kok ulama yang mengerti bahwa keluar dari Islam Jama’ah menjadi murtad dan kafir, kenapa malah memutuskan keluar.
Lalu pada tahun 2008, saya banyak berdiskusi dengan teman-teman dari PKS. Saya lihat tampang mereka baik-baik, sholatnya tenang, mereka juga membaca Qur’an, masak orang seperti ini kafir sih? Akhirnya saya mulai berkenalan, tetapi saya masih belum berani shalat bareng mereka. Kalau ada kajian saya suka nguping sedikit.
Akhirnya saya mulai berani bertanya tentang Islam. Tentang hadis bahwa Umat Islam akan terpecah menjadi 73 golongan, semuanya di dalam neraka, kecuali satu millah. Kebetulan saat itu ada ikhwan dari Ahlussunah dijelaskan, “Akhi, memang saat ini kita terpecah menjadi banyak aliran, cuma jama’ah yang tauhidnya beres, itu berhak masuk surga.” Wah waktu itu saya gembiranya subhanallah. Jangan-jangan ini jawaban yang benar yang selama ini saya cari.
Memang saat di LDII, anda tidak boleh bertanya ke jama’ah atau Ustadz lain?
Tidak boleh. Apa-apa tidak boleh. Di Islam Jama’ah itu terlalu memposisikan Imamnya ketinggian. Jadi seakan-akan jika melanggar ucapan Imam itu seperti terkena karma dan kualat. Padahal banyak kader yang keluar setelah mendapat pencerahan bahwa LDII itu sesat.
Tapi faktanya oleh imam selalu diputar balikkan. Karena ketika tahu ada jama’ah yang keluar, Imamnya langsung ngomong kepada jama’ah, “Lihat tuh mereka jadi ahli neraka, karena tidak taat pada imamnya. Disuruh jangan baca buku (dari jama’ah lain), malah baca buku, akhirnya keluar.”
Saya selalu berusaha mencari perbandingan dengan NU, Muhammadiyyah, PERSIS, Ahlus Sunnah, dan semuanya, mereka ternyata sepakat bahwa ushul itu tauhid. Lha Islam Jama’ah kok beda sendiri? Lalu saya berfikir apa yang membedakan, apakah ada definisi lain tentang bai’at? Akhirnya setelah saya ikut banyak pengajian (di luar Islam Jama’ah), saya sadar seluruh nabi mengajarkan tauhid, mengesakan Allah dan mengenyampingkan Tuhan-tuhan yang lain. Dan ternyata menuruti kata Imam, walau itu salah harus diikuti.Itu kan rusak tauhidnya, karena dia memposisikan imam lebih tinggi dari Allah.
Bahkan jika Allah dan Rasul bilang halal, imamnya bilang haram, maka bisa jadi haram.
Contohnya?
Contohnya apa? Banyak. Jika orangtua meninggal. Orangtuanya Islam Jama’ah, anaknya tidak, tapi anaknya beragama Islam, dapat waris gak? Secara umum dapat waris kan? Tapi dalam Islam Jama’ah, orang kafir tidak boleh dapat waris.
Lalu masalah menikah, ada orang NU boleh tidak nikah dengan Muhammadiyyah? Orang Islam Jama’ah bilang haram (jika Islam Jama’ah menikah dengan jama’ah lain, red.) Betapa syari’at ini hancur jika manusia menggantikan posisi Allah tentang halal-haram. Makanya, setiap mengaji saya menangis, betapa saya bodoh sekali selama ini.
Apakah Anda Sempat bertanya ke Ustadz-ustadz di LDII tentang Keganjilan ini?
Jelas. Sebagian dari mereka ternyata sudah ada yang sudah tahu bahwa selain kita ini (non Islam Jama’ah, red.) masih beragama Islam. Tapi fakta ini ditutup-tutupi. Padahal ini penting. Ilmu punya, tapi tidak disampaikan, ini kan aneh? Dan saya sempat dilarang mengaji di luar Islam Jama’ah, lalu disidang oleh keluarga besar karena doktrinnya selain dari Islam Jama’ah itu kafir dan tidak bisa masuk surga.
Dan itu selalu didengung-dengungkan setiap anda mengaji?
Iya. Barangsiapa yang melaksanakan Qur’an, Hadis, dan bai’at wajib masuk surga, barangsiapa yang tidak bersungguh-sungguh dan tidak berbai’at wajib masuk neraka. Akhirnya saya tidak kuat mengaji. Saya cuma menghadiri pengajian seminggu sekali, bahkan sebulan sekali. Padahal dulu di keluarga, saya yang paling aktif mengajak keluarga ke pengajian. (pz/bersambung)
Eramuslim.com, Jumat, 27/05/2011 15:30 WIB
Sambungan:

Mantan LDII: Saya Dibilang Akan Dihancurkan Allah dan Masuk Neraka



Pembaca Eramuslim, pada lanjutan wawancara kedua ini, banyak diceritakan pengalaman Adam Amrullah saat keluar dari LDII. Adam mengaku mendapat banyak sekali cobaan, teror, dan ujian yang mengalir deras. Dari mulai ancaman verbal sampai ancaman penghilangan nyawa.
“Setiap orang yang keluar dari jamaah LDII itu halal dibunuh. Bahkan dengan sesama pendekar Silat di LDII, saya mau dihabisi. Padahal itu teman saya sendiri, karena saya juga pelatih silat di Islam Jama’ah.” Ujarnya tersenyum lagi heran.
Tidak hanya itu, keputusan para jama’ah yang keluar dari LDII sering kali direspon dengan ejekan. “Kamu gak usah shalat lagi, kamu kan sudah kafir.” Kata Adam menirukan gaya para Imam di LDII.
Bagaimanakah kelanjutan dari wawancara wartawan Eramuslim.com, Muhammad Pizaro, dengan Adam Amrullah? Berikut petikannya. Selamat Membaca.
Apa Yang Anda Terima Ketika Keluar dari LDII?
Saya disuruh cerai sama mertua saya. Disitu saya sangat kaget, wah memang jamaah ini sesat. Dulu sebelum cerai, saya bersama istri bisa pelukan sepuluh kali sehari. Saya sangat sayang sama istri saya, saat istri saya sakit TBC selama setahun, saya yang merawatnya. Bahkan saya mencebokinya saat sakit. Sebelum saya tunjukkan akidah Islam saya, hubungan kami baik semua. Tapi setelah keluar, semuanya berubah.
Bahkan istilah yang dipakai untuk mencap orang yang keluar dari LDII disebut anjing neraka. Jadi saya dicap jelek, dicap mau menghancurkan jama’ah LDII. Padahal saya mengajak orang untuk tidak menganggap jama’ah di luar LDII itu kafir. Apalagi sekarang diwawancara (dan mulai berbicara) di media.
Terus dilihat seakan-akan saya adalah orang hina, sepertinya saya ini penjahat. Sorot muka mereka tidak senyum.
Memang Anda Masih Berinteraksi dengan Para Kader LDII?
Saudara saya kan disana semua, termasuk tetangga. Akhirnya saya mulai ditelepon dan dikirimi email, saya dibilang kalau saya sudah murtad. Akhirnya saat itu saya merasa down dan stress. Dicap murtad itu tidak enak. Saya juga diancam. Mereka bilang, “kamu akan dihancurkan Allah dan masuk neraka.”
Kami Dengar Termasuk Ancaman Pembunuhan?
Oh.. itu merata. Artinya setiap orang yang keluar dari jama’ah LDII itu halal dibunuh. Bahkan dengan sesama pendekar silat di LDII, saya mau dihabisi. Padahal itu teman saya sendiri, karena saya juga pelatih silat di Islam Jama’ah. (Tertawa) Emangnya Saya makanan, mau dihabisi.
Ada yang Bilang LDII itu Sudah Memiliki Paradigma Baru. Bahkan itu Di situs LDII dikatakan bahwa Mereka Berbeda Dengan Islam Jama’ah. Tanggapan Anda?
Sebenarnya dari tahun 70-an juga banyak yang keluar, tapi tidak terekam. Jadi dari dulu sudah banyak yang keluar, Cuma beritanya dipendam. Nah baru di tahun 2004 mulai banyak kasus keluarnya beberapa orang dari Islam Jama’ah yang berani muncul. Sabar dengan berbagai penganiayaan.
Mengenai paradigma baru, sampai kemarin saja masih ada yang keluar dari LDII. Bisa ditanya (kepada mereka) apakah LDII sudah memiliki paradigma baru? Menurut saya, ini topeng baru. Mengakunya punya paradigma baru, aselinya bohong. Bisa ditanya kepada seluruh jama’ah yang keluar. Kalau LDII mengaku punya paradigma baru. Kita juga bisa lihat dari kenyataan, yang keluar-keluar ini bisa memberi testimoni.
Kedua, pernahkah anda melihat orang-orang LDII yang tinggal di sekitar mesjid umum? Mereka shalat dimana? Katanya sudah paradigma baru, kok tidak kelihatan shalat di Mesjid? Lha katanya sudah tidak mengkafir-kafirkan? Itu kan perlu bukti. Kalau cuma ngomong doang sih bisa. Buktinya apa? Kalau Shalat Jum’at mereka masih shalat di mesjidnya sendiri. Waktu idul adha dan idul fitri begitu juga. Artinya apa? Artinya ini kan mereka masih memisahkan diri dari jama’atul muslimin yang lain. Apakah ini paradigma baru? Kalau menurut saya tidak.
Lantas Apa Beda Islam Jama’ah dengan LDII?
Islam Jama’ah itu intinya, ruhnya dan batinnya, sedangkan LDII itu bajunya.
Bisa Anda Jelaskan Lebih Detail?
Oke, Islam Jama’ah adalah sebuah sekte, sebuah sempalan Islam, dengan tata cara ibadah dan keyakinan sendiri, yang untuk memperlancar eksistensinya, memperlancar dakwahnya, mereka tidak mau dianggap organisasi yang illegal, akhirnya mereka membuat organisasi. Cuma organisasinya pun banyak, kadang-kadang mereka memakai nama LDII, kadang-kadang mereka memakai nama Pecinta Alam Indonesia, ada juga yang pakai baju Pramuka. Isinya sama, orang-orang Islam Jama’ah juga.
Islam Jama’ah ini Sekte Internasional atau Hanya Cakupan Lokal Indonesia Saja?
Asal muasalnya dari Kediri. Nurhasan Al Ubaidah Lubis yang mendirikan. Yang membuat thoriqoh ya itu dia, termasuk mewajibkan persenan dan baiat.
Jadi Hampir Sama dengan NII?
Saya kalau melihat NII seperti melihat LDII Sendiri. Mirip sekali dengan NII. Memang berbeda dalam beberapa hal, tapi intinya tetap sama, duit, metodenya rahasia, dan kalau keluar dianggap halal dibunuh. Cuma LDII lebih lihai mendekati penguasa, tokoh masyarakat, dan orang-orang penting.
Apa Bisa Dikatakan Mereka Tidak Konsisten, Bukankah Orang di luar Kelompok Disebut Kafir?
Tidak ada konsistensi dalam diri mereka. Istilahnya begini, dalam perkara yang menimpa mereka, mereka akan menghalalkan berbagai cara. Contohnya, ketika ada kasus triliunan rupiah, mereka menasehati para jama’ah apa? Supaya sabar dan tidak usah memproses ke pengadilan, karena Undang-undang Indonesia adalah hukum thoghut.
Tetapi ketika ada kasus Pak Bambang Irawan (Digugat LDII ke Pengadilan karena kasus pencemaran nama baik tahun 2006, red.), mereka pinjam hukum thaghut, mereka sewa pengacara-pengacara mahal untuk memenjarakan Bambang Irawan. Jadi mereka benar-benar licik sekali. Kapan dia mau pakai, dia pakai. Padahal itu katanya hukum thoghut.
Anda Tidak Membuat Forum Untuk Para Mantan LDII?
Alhamdulillah satu per satu kenalan demi kenalan mulai menyimpan nomor telepon. Jadi mulai tahun 2009, kami mulai koordinasi. Akhirnya kita bikin silaturrahim dan bikin link. Ada yang dari Sumatera dan Sulawesi. Yang belum dari Kalimantan, saya dapat laporan katanya di sana sangat ekstrem. Kalau tahu bahwa mereka keluar dari LDII, mereka bisa mati. Akhirnya, beberapa dari mereka lari ke Jawa.
Dan akhirnya saya bikin forum atas saran tokoh-tokoh agama, namanya Forum Ruju’ Ilal Haq, forum orang-orang yang taubat kembali menuju al haq. Ini forum mantan LDII.
Ini pun belum banyak dari mereka yang berani muncul. Karena mental mereka selama ini sudah biasa dicuci otaknya, jadi mudah takut dan minder. Bahkan ada yang lucu, ketika ada jama’ah yang keluar, imam-imamnya di LDII itu bilang kepada mereka, “Sudah, ngapain kamu shalat, kamu kan sudah kafir.”
Jadi beberapa yang keluar itu merasa down. Kecuali mereka yang diberi kekuatan oleh Allah. Dan saya sendiri bisa seperti ini setelah melalui proses panjang, ikut kajian tauhid, sampai mentalnya bisa seperti sekarang. Alhamdulillah ini rahmat dari Allah.
Lalu Apa Rencana Anda ke Depan untuk Membuka Mata Umat Mengenai Permasalahan LDII?
Misi pertama kita adalah misi perlindungan, karena kami sangat kecil dan yang dipites itu gampang. Akhirnya kami merapat ke Forum Umat Islam (FUI). Alhamdulillah dengan izin Allah, kami diterima. FUI menganggap kami adalah bagian dari FUI yang terdiri dari 43 Ormas, yang Sekjennya Ustadz Muhammad Al Khathathth dan Ustadz Munarman. Jadi, kalau ada apa-apa kami disuruh memberi laporan dan koordinasi.
Selain misi perlindungan, karena banyaknya penganiayaan, misi kami selanjutnya adalah memberikan informasi seluas-luasnya ke kaum muslimin tentang kesesatan LDII. Akhirnya kami presentasi ke Departemen Agama, MUI, dan FUI. Tapi dari ketiga lembaga ini, yang paling memberi perhatian FUI saja, sepertinya yang lain adem-adem saja.
Ketiga, misi kami mengajak orang-orang yang di Islam Jama’ah untuk ruju’ ilal haq. kembali ke jalan Islam yang benar.
MUI Bagaimana?
Kami sudah presentasi, tapi kami malah dibilang memberi berita palsu, (oleh oknum MUI, red.). Akhirnya kami kasih bukti. Mereka bilang ini butuh dicek. Saya tantang balik, ya sudah silahkan saja dicek. Dalam hati saya, kami kok keluar dari aliran sesat malah tidak dianggap gembira. Dia bilang kita perlu meng-cross-check lebih jauh lagi.
Beda dengan FUI, mereka gembira menerima kita. Ahlan wa sahlan istilahnya. Rata-rata mereka senang. Saat saya mengaku bahwa saya adalah mantan Islam Jama’ah, ada yang diantara kita dipeluk, kita didoakan sampai nangis-nangis, dan kami sangat disayang.
Kalau Departemen Agama berada dalam pertengahan, ada yang mendukung, ada yang biasa-biasa saja, tapi ya dingin-dingin saja begitu. Saya tidak mengerti masalahnya dimana. Selain itu, yang menerima kami juga ada dari Forum Ulama Umat Islam (FUUI) Bandung yakni Ustadz Athian Ali dan Ustadz Hedy.
Pesan Anda kepada Orang-orang yang Masih di LDII?
Pesan saya banyak-banyak istighfar. Karena jujur di hati kita kesombongannya luar biasa besar. Contoh ada orang shalat, tapi hati kita bilang percuma saja shalat tapi kafir. Itu adalah kesombongan yang luar biasa dalam diri kita. Jadi saya hanya bisa bilang kita istighfar dan mohon ampun kepada Allah. Semoga dengan taubatnya kita, Allah memberikan hidayah. Karena dalam pandangan saya, rata-rata orang-orang Islam Jama’ah adalah orang-orang yang semangat mencari ilmu.
Yang kedua, bertanyalah ke Ulama yang bukan Islam Jama’ah. Dan ketahuilah tidak ada satupun Ulama di dunia ini apalagi di sampai akhirat nanti, yang menyatakan Ulama Islam Jama’ah itu yang paling pinter dan yang paling mengerti Qur’an dan hadis. Ternyata setelah saya selidiki, yang paling terbelakang adalah ilmunya itu (pemahamannya Islam Jama’ah, red.).
Mereka kan mengakunya membaca kutubus sittah (Shahih Al Bukhari, Shahih Muslim, Sunan An Nasa`i, Sunan Abi Dawud, Sunan At Tirmidzi, dan Sunan Ibnu Majah, red.) tapi pemahaman siapa? Ternyata pemahamannya Nurhasan, bukan pemahamannya Ibnu Katsir.
Contoh dalil wa mimma rozaqnahum yunfiqun, ada gak ulama di dunia ini yang dari zaman Rasulullah sampai akhir zaman yang menyatakan ayat itu terjemahannya supaya menyetor 10 persen uangnya ke imamnya? Tidak ada kan? Kalau tidak bayar dihitung hutang? Berlipat kalau bulan depan tidak bayar? Artinya apa? Saya melihat pemahaman orang-orang Islam Jama’ah itu ngaco.
Apalagi yang lebih parah, ushuluddin itu mereka anggap, kalau tidak baiat hidupnya haram, makannya haram, nikahnya haram, tidurnya pun haram. Padahal Ushuluddin itu tauhid. Man qola La ilaha Illallah dakholal jannah’. Tapi kalau di Islam Jama’ah, kalau tidak baiat kafir, pas ditanya apa dalilnya, malah bengong.
Memang ada baiat yang syar’i, tapi ketahuilah baiat yang (syar’i) diberikan kepada penguasa muslim yang mengatur maslahat orang Islam, yang jelas eksistensinya, dan diketahui kekuasaannya, bukan baiat sempalan. Tapi kalau baiat diberikan kepada orang yang ilmunya tidak jelas, akhirnya seperti Islam Jama’ah. (pz/habis)
Eramuslim.com, Senin, 30/05/2011 12:21
(nahimunkar.com)
Artikel Terkait

1 komentar:

  1. Jika kita menganalisa dari cerita mantan LDII, memang benar jika kita meruju pada AlQuran surat 23: 52,53,54,
    1. ayat 52 tentang Allah memerintahkan umat Islam adalah satu umat yang satu diwajibkan bertaqwa, sedangkan orang LDII memisahkan diri berarti tidak bertaqwa.
    2. Ayat 53 informasi Allah mereka memisahkan diri ( sempalan Islam) karena menganggap kelompok dirinya yang paling benar (LDII) hasil cerita mantan LDII diluar sektenya dianggap kafir.
    3. Ayat 53 Allah memerintahkan," biarkan mereka tersesat akan tahu akibatnya pada suatu saat akan terbongkar kedoknya hanyalah Imam nya karena duniawi duit saja..
    kemudian diperkuat oleh Allah sebab-sebab memisahkan dirinya, karena ada kepentingan, Islam dijadikan alat untuk mencari duit saja, akrena ada perasaan dengki( baghyan)= menganggap paling benar kelompok dan dirinya surat Ar Ruum 32

    BalasHapus

Pesan yang baik, jangan emosional.Bila ingin mengkeritisi, pakailah dalil yang sahih.Dan identitasnya jelas. Komentar emosional, tidak ditayangkan