Kamis, Januari 18, 2018

Jawabanku untuk Ust Firanda ke 2

Ustadz Dr. Firanda Andirja Abidin, Lc., MA menulis:

Lalu beliau ( Imam Bukhari )  berkata :
وَصَلَّى أَبُو مُوسَى فِي دَارِ البَرِيدِ وَالسِّرْقِينِ، وَالبَرِّيَّةُ إِلَى جَنْبِهِ، فَقَالَ: «هَاهُنَا وَثَمَّ سَوَاءٌ»
“Abu Musa (al-‘Asyari) pernah sholat di rumah al-Bariid (yaitu rumah tempat singgah pengantar surat-surat) dan di As-Sirqiin (yaitu kotoran hewan secara umum), ketika itu tanah lapang ada di samping beliau, lalu beliau mengatakan, “Sholat di sini dan di sana (tanah lapang) sama saja”.
 https://konsultasisyariah.com/30383-polemik-seputar-hukum-kencing-kucing-najis.html
Komentarku ( Mahrus ali ) :
Atsar itu sbg landasan kotoran heean suci menurut Ust Firanda.
Problemnya di sini kalimat wassirqin, bila di baca wassirqiini , mk terjemahan  Ustadz Firanda itu tepat.
Bila di baca wassirqiinu, mk terjemahan tsb salah .
Terjemahan yg benar adalah sbb: 
“Abu Musa (al-‘Asyari) pernah sholat di rumah al-Bariid (yaitu rumah tempat singgah pengantar surat-surat)  sedang  As-Sirqiin (yaitu kotoran hewan secara umum) dan  tanah lapang ada di samping beliau, lalu beliau mengatakan, “Sholat di sini dan di sana (tanah lapang) sama saja”.
Jadi Abu Musa al asyari itu melakukan salat di Darul barid – rumah utusan atau pengantar surat . Sedang kotoran hewan dan tanah lapang di samping rumah itu . Jd Abu Musa al asy ari melakukan salat bukan di tempat kotoran tapi di rumah tempat singgah utusan khalifah atau sesama amir dll.
شرح السنة للبغوي (2/ 413)
وَلَوْ صَلَّى فِي مَكَانٍ وَبِقُرْبِهِ نَجَاسَةٌ، فَجَائِزٌ إِذَا كَانَ مَوْضِعُ صَلاتِهِ طَاهِرًا، صَلَّى أَبُو مُوسَى فِي دَارِ الْبَرِيدِ وَالسِّرْقَيْنُ وَالْبَرِّيَّةُ إِلَى جَنْبِهِ، فَقَالَ: هَهُنَا وَثَمَّ سَوَاءٌ.
Intinya  Imam Baghawi di sini membaca  wassirqiinu . Jadi Abu Musa tdk salat di kotoran tp di rumah  tempat singgah utusan yg di sampingnya ada tempat kotoran.
Makanya Imam Baghawi menyatakan: Bila orang melakukan salat di tempat dan didekatnya ada najis, mk boleh asal tempat salatnya suci.
Bila mengikuti pengertian Ust Firanda, mk Abu Musa melakukan salat di tempat kotoran.lalu siapa yg mau melakukan sujud di kotoran hewan. Orang sekarang sj tdk ada yg mau . Dan dlm hal ini orang sekarang dan dulu sama tdk maunya.
Pendapat Ust Firanda itu berbeda dg hadis kemarin yg menyatakan : Rasulullah shallallahu alaihi wasallam   melemparkan sandalnya ketika salat karena ada kotorannya.
ذكره البُخَارِيّ فِي تَارِيخه عَن أبي نعيم
وَرَوَاهُ ابْن أبي شيبَة فِي المُصَنّف عَن وَكِيع عَن الْأَعْمَش نَحوه
وَقَالَ أَيْضًا حَدَّثنا مُحَمَّدُ بْنُ عُبَيْدٍ عَنِ الأَعْمَشُ عَنْ مَالِكِ بْنِ الْحَارِثِ عَنْ أَبِيهِ قَالَ كُنَّا مَعَ أَبِي مُوسَى بِعَيْنِ التَّمْرِ فِي دَار الْبَرِيد ز 34 ب فَأَذِنَ وَأَقَامَ فَقُلْنَا لَهُ لَوْ خَرَجْتَ إِلَى الْبَرِيَّةِ فَقَالَ ذَاكَ وَذَا سَوَاءٌ))
Intinya menurut riwayat Bukhari dlm kitab tarikhnya ada keterangan sbb:
Al harits berkata: Kami bersama Abu Musa di ainut tamr di rumah singgah utusan , lalu di kumandangkan adzan , lalu di bacakan qamat , dan kami berkata: Seandainya anda keluar ke tanah  lapang …………….
Abu Musa menjawab : Di sini atau di tanah lapang sama sj .
Komentarku ( Mahrus ali ) :
Tidak ada keterangan tempat kotoran. …………. Jadi kalimat tempat kotoran itu masih di perselisihkan keberadaannya dlm atsar tsb.

Anehnya atsar sahabat spt itu dibuat landasan oleh Ust Firanda bahwa kotoran hewan suci. Pd hal modalnya salah phm.
Bila benar , itu sekedar perbuatan satu sahabat. Dan ribuan sahabat yg lain tdk melakukannya.
Realitanya ,  Para sahabat  setelah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam   wafat tdk ada  yg melakukan spt itu.

Di tinjau dr sg sanad , atsar itu hanya dari al a`masy Perawi Irak. Dan tidk ada tabiin yg tahu atsar tsb kcl dia.
Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pesan yang baik, jangan emosional.Bila ingin mengkeritisi, pakailah dalil yang sahih.Dan identitasnya jelas. Komentar emosional, tidak ditayangkan