Kamis, November 19, 2015

Kisah lemah di buat landasan tawassul dengan mayat.



-         

Bambang Hendy Setiawan  menukis :


Dalam diskusi di grub fb sekitar akhir Juli (mengenai permintaan/berdoa kepada mayit), saya temui riwayat yang dipakai penggemar tawasul. Dan saya baru ingat untuk menanyakan status atsar ini. Saya curiga akan keshahihannya. Berikut riwayat yang telah saya copy dari mereka:
=====
Diriwayatkan dari Utsman bin Hunaif bahwa ada seorang laki-laki datang kepada (Khalifah) Utsman bin Affan untuk memenuhi hajatnya, namun sayidina Utsman tidak menoleh ke arahnya dan tidak memperhatikan kebutuhannya. Kemudian ia bertemu dengan Utsman bin Hunaif (perawi) dan mengadu kepadanya. Utsman bin Hunaif berkata: Ambillah air wudlu' kemudian masuklah ke masjid, salatlah dua rakaat dan bacalah: “Ya Allah sesungguhnya aku meminta-Mu dan menghadap kepada-Mu melalui Nabi-Mu yang penuh kasih sayang, wahai Muhammad sesungguhnya aku menghadap kepadamu dan minta Tuhanmu melaluimu agar hajatku dikabukan. Sebutlah apa kebutuhanmu”. Lalu lelaki tadi melakukan apa yang dikatakan oleh Utsman bin Hunaif dan ia memasuki pintu (Khalifah) Utsman bin Affan. Maka para penjaga memegang tangannya dan dibawa masuk ke hadapan Utsman bin Affan dan diletakkan di tempat duduk. Utsman bin Affan berkata: Apa hajatmu? Lelaki tersebut menyampaikan hajatnya, dan Utsman bin Affan memutuskan permasalahannya”. [HR. Al-Thabrani dalam al-Mu'jam al-Kabir dan al-Baihaqi dalam Dalail al-Nubuwwah. Doa ini dikutip oleh Ibnu Taimiyah dalam kitabnya Majmu' al-Fatawa, I/264, dan al-Tawassul wa al-Wasilah, II/199]

Komentarku ( Mahrus ali ):

Saya kutupkan pernayatan  Akhi  Abu Muhammad  - Abdullah bin Jabir al Hamadi  dan  saya ambil secara ringkas belaka, tidak semuanya  sbb:

أبو محمد، عبدالله بن جابر الحمادي

وهذه القصةُ شاذةٌ لا تصح؛ لما يلي:
أولاً/ أنَّ مدارَها على شَبيب بن سعيد، ولأهل العلم كلامٌ في روايته،
Kisah tsb adalah ganjil, (tidak wajar , unik , nyeleneh tidak populer  ). Pertama pangkal permasalahannya adalah pada  seorang perawi bernama Syabib bin  Said . Para ulama masih mengkritik  tentang riwayatnya.

ثانياً/نصَّ ابنُ عدي على أن عبدَالله بن وهب قد حدَّث عن شبيب بمناكير.
وهذه القصة من رواية عبدالله بن وهب عن شَبيب.
Kedua: Ibnu Ady telah menyatakan  bahwa Abdullah bin Wahab telah meriwayatkan hadis – hadis munkar dari Syabib . Sedang kisah di atas adalah dari riwayat Abdullah bin Wahab  dari Syabib.
.
ثالثاً/أن كلَّ مَنْ روى الحديثَ عن أبي جعفر لم يذكر هذه القصة، ومنهم شعبة بن الحجاج وهشام الدستوائي.
Ketiga : Setiap orang  yang meriwayatkan hadis  dari Abu Ja`far  tidak mencantumkan kisah diatas , termasuk  di antara mereka adalah Syu`bah bin Al Hajjaj  dan Hisyam ad dastawai.

الرواية الثانية/زيادة: "وإن كانت حاجةٌ ؛ فافعل مثل ذلك".

Riwayat kedua   ada tambahan :  Bila kamu punya kebutuhan lakukanlah  spt itu.

وهذه الزيادة رواها ابنُ أبي خيثمة في تاريخه من طريق حماد بن سلمة عن أبي جعفر الخطمي عن عمارة بن خزيمة عن عثمان بن حُنيف.
ولم يرو هذه الزيادة أحدٌ ممن خرَّج الحديث من طريق حماد سوى ابن أبي خيثمة.
ثم إن شعبة بن الحجاج وهشاماً الدستوائي رويا هذا الحديث عن أبي جعفر الخطمي بدونها.

Intinya  tambahan itu dari perawi bernama  Ibnu Abi Khoitsamah. Tiada yang memberikan  riwayat tambahan itu kecuali dia.


وإنما أحببتُ التنبيه على هاتين الروايتين، لأنه قد يُستدل بهما على جواز التوسل بالنبي صلى الله عليه وسلم أو جاهه، وهما روايتان منكرتان.
Aku hanya mengingatkan  dua riwayat ini . Sebab  terkadang di buat dalil  bagi orang yang bertawassul pada Nabi atau pangkatnya . Dan kedua  riwayat itu adalah munkar. ( lemah )

Komentarku ( Mahrus ali ):
Sanadnya  sbb :

المعجم الكبير للطبراني - (ج 7 / ص 410)
-        حَدَّثَنَا طَاهِرُ بن عِيسَى بن قَيْرَسٍ الْمِصْرِيُّ الْمُقْرِئُ، حَدَّثَنَا أَصْبَغُ بن الْفَرَجِ، حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْمَكِّيِّ، عَنْ رَوْحِ بن الْقَاسِمِ، عَنْ أَبِي جَعْفَرٍ الْخَطْمِيِّ الْمَدَنِيِّ، عَنْ أَبِي أُمَامَةَ بن سَهْلِ بن حُنَيْفٍ، عَنْ عَمِّهِ عُثْمَانَ بن حُنَيْفٍ أَنَّ رَجُلا،"كَانَ يَخْتَلِفُ إِلَى عُثْمَانَ بن عَفَّانَ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى

المعجم الكبير للطبراني - (ج 7 / ص 410)
-        حَدَّثَنَا طَاهِرُ بن عِيسَى بن قَيْرَسٍ الْمِصْرِيُّ الْمُقْرِئُ، حَدَّثَنَا أَصْبَغُ بن الْفَرَجِ، حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْمَكِّيِّ، عَنْ رَوْحِ بن الْقَاسِمِ، عَنْ أَبِي جَعْفَرٍ الْخَطْمِيِّ الْمَدَنِيِّ، عَنْ أَبِي أُمَامَةَ بن سَهْلِ بن حُنَيْفٍ، عَنْ عَمِّهِ عُثْمَانَ بن حُنَيْفٍ أَنَّ رَجُلا،"كَانَ يَخْتَلِفُ إِلَى عُثْمَانَ بن عَفَّانَ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى

المعجم الصغير للطبراني - (ج 2 / ص 106)
-        حدثنا طاهر بن عيسى بن قيرس المقري المصري التميمي ، حدثنا أصبغ بن الفرج ، حدثنا عبد الله بن وهب ، عن شبيب بن سعيد المكي ، عن روح بن القاسم ، عن أبي جعفر الخطمي المدني ، عن أبي أمامة بن سهل بن حنيف ، عن عمه عثمان بن حنيف «
-        دلائل النبوة للبيهقي - (ج 6 / ص 354)
-         - أخبرنا أبو سعيد عبد الملك بن أبي عثمان الزاهد ، رحمه الله ، أنبأنا الإمام أبو بكر محمد بن علي بن إسماعيل الشاشي القفال ، قال : أنبأنا أبو عروبة ، حدثنا العباس بن الفرج ، حدثنا إسماعيل بن شبيب ، حدثنا أبي ، عن روح بن القاسم ، عن أبي جعفر المديني ، عن أبي أمامة بن سهل بن حنيف

معرفة الصحابة لأبي نعيم الأصبهاني - (ج 14 / ص 81)
-        حدثنا أبو عمرو ، ثنا الحسن ، ثنا أحمد بن عيسى ، ثنا ابن وهب ، أخبرني أبو سعيد واسمه شبيب بن سعيد من أهل البصرة ، عن أبي جعفر المديني ، عن أبي أمامة بن سهل بن حنيف ، عن عمه عثمان بن حنيف

Seluruh jalur riwayat di hampir seluruh   kitab hadis hanya melalui Abu Ja1far al madini  yaitu tingkat  enam   dari orang – orang yang masih menjumpai  yunior tabiin.  Jadi  di masa beliau kisah itu masih tidak dikenal, apalagi di masa sahabat. Kisah itu  dikatakan nyeleneh sekali, tidak populer dan masih  satu orang yang tahu.  Di masa beliau hanya beliau seorang yang mengerti dan  seluruh sahabat kecuali Usman bin  Hunaif sampai mati tidak kenal  kisah itu.
  Kisah sedemikian ini di golongkan dlm kisah yang munkar, lemah sekali,  bukan sahih dan tidak boleh di buat pegangan tapi lepaskan saja. Bila di buat pegangan , maka  keliru, tidak benar, sesat menyesatkan dan tidak mengarahkan orang ke jalan yang lurus .
Tawassul  dengan nabi atau pangkatnya di bolehkan oleh ahli bid`ah , dilarang oleh ahlus sunnah . Ahli bid`ah menggunakan kisah munkar untuk  tawassul dengan mayat.. Tiada landasan yang sahih. Bahkan ayat al quran menentangnya. Allah berfirman:
وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا
Yang artinya, “Dan Sesungguhnya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping (menyembah) Allah” (QS Jin:18).
Kita diperintahkan oleh Allah agar berdoa langsung tanpa tawassul pada Nabi shallahu alaihi wasallam  sebagaimana ayat:
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ
Dan Tuhanmu berfirman: "Berdo`alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina".   Ghofir 60
Termasuk disini adalah orang yg tidak mau berdoa kpd Allah langsung tp harus menggunakan  perantara para wali yg sudah meninggal dunia. Dia  tdk pernah berdoa  langsung , bahkan anti padanya.
Dia  tdk mau berdoa kecuali di kuburan dimuka para wali. Dan tdk mau berdoa langsung  pada Allah. Dia termasuk orang yg nolak ayat Ghofir 60  di atas.
Di bawah ini kami tunjukkan hobby syi`ah dalam berdoa  , yaitu selalu bertawassul dengan figur idola mereka  sbb:

«بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ اللّهُمَّ إِنِّي أَتَوَجَّهُ إِلَيْكَ بِأَحَبِّ اْلأَسْمَاءِِ إِلَيْكَ وَأَعْظَمِهَا لَدَيْكَ وَأَتَقَرَّبُ وَأَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِمَنْ أَوْجَبْتَ حَقَّهُ عَلَيْكَ بِمُحَمَّدٍ وَعَلِيٍّ وَفَاطِمَةَ وَالْحَسَنِ وَالْحُسَيْنِ وَعَلِيٍّ بْنِ الْحُسَيْنِ وَمُحَمَّدٍ بْنِ عَلِيٍّ وَجَعْفَرَ بْنِ مُحَمَّدٍ وَمُوْسَى بْنِ جَعْفَرَ وَعَلِيٍّ بْنِ مُوْسَى وَمُحَمَّدٍ بْنِ عَلِيٍّ وَعَلِيٍّ بْنِ مُحَمَّدٍ وَالْحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ وَالْحُجَّةِ الْمُنْتَظَرِ صَلَوَاتُ اللّهِ عَلَيْهِمْ أَجْمَعِيْنَ، اكْفِنِي كَذَا وَكَذَا...»
Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
Ya Allah ! Sesungguhnya aku menghadap padaMu dengan nama yang Engkau sukai dan yang paling agung di sisiMU . Aku mendekat dan bertawassul dengan orang yang haknya telah Engkau wajibkan atas diriMU – yaitu dengan Muhammad , Ali, Fathimah, Hasan , Husain , Ali bin Al Husain , Muhammad bin Ali , Ja`far bin Muhammad , Musa bin Ja   `far , Ali bin Musa , Muhammad bin Ali , Ali bin Muhammad , Al Hasan bin Ali dan hujjah yang di nanti – nantikan – semoga rahmat Allah  terlimpahkan untuk mereka – Cukupilah aku dengan ini ……….. dan ini….

Komentarku ( Mahrus ali ) :
Itulah tata cara  orang – orang  syi`ah dalam bertawassul dengan memanggil  figur – figur yang di idolakan  bahkan mereka  anggap bahwa Allah punya hak untuk mengabulkan doa bila nama figur itu di sebut dalam doa. Dan hal sedemikian ini belum ada tuntunannya dari hadis yang sahih dan tiada sahabat yang melakukannya.
Lembaga Tetap Pengkajian Ilmiyah dan Fatwa Saudi dan dua tokoh ulama menyatakan sbb:
وَإِنْ كَانَتْ مُشْتَمِلَةً عَلَى اْلإِسْتِغَاثَةِ بِغَيْرِ اللهِ أَوِ التَّوَسُّلِ إِلَى اللهِ ِبخَلْقِهِ فِي الدُّعَاءِ كَمَا فِي قَصِيْدَةِ اْلبُرْدَةِ أَوْ فِيْهَا دَعَاوِى كَاذِبَةٌ وَغُلُوٌّ فِي تَعْظِيْمِ الْمَخْلُوْقِ أَوْ فِيْهَا كَلِمَاتٌ لاَيُفْهَمُ مَعْنَاهَا لِكَوْنِهَا أَعْجَمِيَّةً أَوْ رُمُوْزًا، فَلاَ يَجُوْزُ الذِّكْرُ بِهَا بَلْ قَدْ يَكُوْنُ شِرْكًا كَاْلاِسْتِغَاثَةِ بِغَيْرِ اللهِ، وَدَعْوًى أَنَّ اْلعَالِمَ لَمْ يُخْلَقْ إِلاَّ مِنْ أَجْلِ رَسُوْلِ اللهِ وَأَنَّ عُلُوْمَ الَّلوْحِ وَاْلقَلَمِ مِنْ عِلْمِهِ، إِلَى غَيْرِ هَذَا مِمَّا اشْتَمَلَتْ عَلَيْهِ أَوْرَادُ الْمُتَصَوِّفَةِ وَأَنَاشِيْدُهُمْ.
Bila halaqah dzikir itu mengandung minta tolong kepada lain Allah atau tawassul dengan mahluknya dalam berdoa  sebagaiamana yang tercantum dalam kasidah Burdah , atau beberapa pengakuan yang palsu , berlebihan dalam mengagungkan  mahluk  atau terdapat kata – kata yang tidak bisa di mengerti artinya  karena ajam atau kode – kode tertentu , maka  tidak boleh berdzikir dengannya . Bahkan syirik  seperti minta  pertolongan kepada  lain Allah dalam berdoa dan pengakuan bahwa  alam ini  di ciptakan  karena Rasulullah SAW. Dan  pengetahuan dalam loh mahfudh atau pena di sana  telah di ketahui oleh Nabi SAW  dan memang  begitulah apa yang di muat dalam wirid ahli tasawwuf dan kasidah – kasidah mereka. [1]

 .  


1.     [1] Encyplopedia Lembaga Tetap Pengkajian Ilmiyah dan Fatwa Saudi  949

Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Pesan yang baik, jangan emosional.Bila ingin mengkeritisi, pakailah dalil yang sahih.Dan identitasnya jelas. Komentar emosional, tidak ditayangkan