Jumat, Maret 18, 2016

Jawabanku untuk Fawwaz



Fawwaz Arkan menulis:

Solat jamaah dan jumatan di mana aja boleh, bukankah berjamaah itu ada keutamaannya yaitu menjadikan solat kita lebih mudah di terima, daripada yang sendirian. Makmum kepada siapa saja boleh asal syarat rukunnya sama, yang nggak boleh yang syarat rukunnya tidak sama seperti solat dhuhur makmum ke imam yang lagi solat jenazah. Itu tidak boleh karena syarat rukunnya berbeda, kl ashar dengan ashar walaupun imamnya bukan orang solihpun sah2 saja asal bacaan fatihahnya fasih dan tartil.

Komentarku ( Mahrus ali ): 

Kita tidak diperkenankan makmum kpd ahli bid`ah, sebab kebanyakan ahli id`ah itu musyrik , suk a dengan kesyirikan dan sdh tercebur ke sana.Kita tidak boleh mengangkat pimpinan dari kalangan ahli bidah yang syirik.
Allah berfirnan :
وَلَا تَرْكَنُوا إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ وَمَا لَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ مِنْ أَوْلِيَاءَ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ
Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolongpun selain daripada Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan.[1]
وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَابُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan (Allah) sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar".[2]
Bila kita menjadikan ahli bid`ah sebagai imam, maka kita ini ber arti simpati padanya yang dilarang oleh ayat Hud 113.
Saya pernah bermakmum kpd ahli bid`ah waktu dulu, dan imamnya menggunakan sabuk yang penuh dengan jimat yang syirik.
Ibnu Qudamah berkata:
وَمِنَ السُّنَّةِ هِجْرَانُ أَهْلِ اْلِبدَعِ وَمُبَايَنَتُهُمْ وَتَرْكُ الْجِدَالِ وَالْخُصُوْمَاتِ فِي الدِّيْنِ، وَتَرْكُ النَّظَرِ فِي كُتُبِ الْمُبْتَدِعَةِ، وَاْلإِصْغَاءِ إِلَى كَلاَمِهِمْ، وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ فِي الدِّيْنِ بِدْعَةٌ.
Dan termasuk sunnah adalah meng-hajr (memutus hubungan) dengan ahli bid'ah dan keterangan-keterangan mereka, serta meninggalkan perdebatan dan permusuhan dalam dien. (Termasuk dalam sunnah pula) adalah menjauhi kitab-kitab mubtadi'ah dan tidak mendengarkan perkataan-perkataan mereka. Semua hal yang baru dalam dien adalah bid'ah



[1] Hud 113
[2] Luqman 13
Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Pesan yang baik, jangan emosional.Bila ingin mengkeritisi, pakailah dalil yang sahih.Dan identitasnya jelas. Komentar emosional, tidak ditayangkan