Jumat, Mei 01, 2015

Jawabanku untuk Ust Abdur Rasyid Al-Atsari

·  
·  
Dia menulis :
 pak Mahrus, Ganong, Ibnu Taimiyah itu orang yg tadinya bersendirian, memahami secara otodidak, gak heran klo memahaminya ditemani syaiton, keberkahan itu bersama org2 besar di antara kalian (Ulama).

Komentarku ( Mahrus ali ):
Jadi tuduhan anda bahwa saya tidak punya guru adalah fitnah yang keji, tak layak di lakukan orang mukmin, bukan orang kafir. . Baca artikel saya  yang lalu sbb:
Guru saya itu banyak sekali, mulai kecil di sekolahan, pondok pesantren, di Mekkah Mukarramah, sampai silsilah dari guru – ke guru sampai pengarang kitabnya  , mulai dari kitab hadis sampai kitab Nahwu, fikih balaghoh . Semuanya bersambung dari saya sampai pada pengarangnya.
Silsilah hadis  dari  guru sampai Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sudah nyambung semuanya.  Buku silsilah pengarang kotab  dari saya nyambung sampai pengarangnya.
Guru bagi saya adalah keharusan, tapi taklid buta kepada guru adalah kesalahan. Boleh memperbanyak guru tapi jangan seperti kerbau taklid buta padanya. 
Bila  kita ikut kesalahan guru, maka kita juga salah dan kita tidak bisa meng oprasikan dalil yang ada pada kita. Kita ini ibarat cd yang merekam saja apa kata guru. Kita tiru saja.  Salah atau benar. Bagaimana  bila  guru kita ini salah.
Kita harus ingat perkataan salaf kita:
Imam Ahmad pernah menyatakan:

لاَ  تُقَلِّدْنِي وَلاَ  مَالِكًا وَلاَ  الثَّوْرِيَّ وَلاَ  الشَّافِعِيَّ
Jangan ikut kepadaku,atau Imam Malik, Tsauri atau Syafii.
Ali ra  berkata :
مَا كُنْتُ لِأَدَعَ سُنَّةَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِقَوْلِ أَحَدٍ *
Aku  tidak akan meninggalkan sunah Nabi  S.A.W.    karena  perkataan orang “. [1]
Imam Malik berkata :
إنَّمَا أَنَا بَشَرٌ أُصِيبُ وَأُخْطِئُ فَاعْرِضُوا قَوْلِي عَلَى الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ
        Aku hanyalah manusia , terkadang pendapatku benar , di lain waktu kadang salah . Karena itu , cocokkan perkataanku ini dengan kitabullah dan hadis Rasulullah .

Imam Syafii yang menyatakan :
إذَا صَحَّ الْحَدِيثُ فَاضْرِبُوا بِقَوْلِي الْحَائِطَ وَإِذَا رَأَيْت الْحُجَّةَ مَوْضُوعَةً عَلَى الطَّرِيقِ فَهِيَ قَوْلِي .
Bila ada hadis sahih , maka  lemparkan perkataanku ke tembok . Bila kamu lihat hujjah telah berada di jalan , maka  itulah perkataan ku
 لاَ تُقَلِّدْ دِينَك الرِّجَالَ فَإِنَّهُمْ لَنْ يَسْلَمُوا مِنْ أَنْ يَغْلَطُوا .
Dalam masalah agama,jangan ikut orang , sebab  mereka mungkin juga salah .

Kaum kristen sesat gara – gara taklid  buta pada pendeta dan uskupnya.
Pengikut Syi`ah sesat gara – gara taklid buta pada marjiiyah atau ulamanya.
Ahli bid`ah sesat gara – gara taklid buta kepada kiyai – kiyanya
Sebagian salafy sesat gara – gara taklid buta kepada asatidznya yang pro thaghut.

Kita haram ikut guru yang keliru dan kita harus mengikuti dalil untuk menghurmati ayat :
فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللهِ  وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللهِ  وَالْيَوْمِ ا‏ ْلآ‏خِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلاً
Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan  Rasul  (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. Nisa` 59
Kita haram ikut ulama yang menyelisihi sahabat  karena menghurmati dalil :
وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ(100)
Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar. 100 Tobat

Anda yang melontarkan fitnah itu apakah tidak takut ayat ini:
إِنَّ الَّذِينَ فَتَنُوا الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ثُمَّ لَمْ يَتُوبُوا فَلَهُمْ عَذَابُ جَهَنَّمَ وَلَهُمْ عَذَابُ الْحَرِيقِ (١٠)


“Sesungguhnya orang-orang yang memfitnah/menganiaya kepada orang-orang yang mukmin laki-laki dan perempuan kemudian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab Jahannam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar” (QS. Al Buruj: 10
Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Pesan yang baik, jangan emosional.Bila ingin mengkeritisi, pakailah dalil yang sahih.Dan identitasnya jelas. Komentar emosional, tidak ditayangkan