Senin, Maret 21, 2016

Bahaya ikut tahlilan yg di ganti dengan berkat.

 
 
Komentarku ( Mahrus ali ):
Aneh tempat berkumpul kaum muslimin didalam kebid`ahan. Mestinya ia adalah tempat kaum muslimin berpecah belah . Ada yang ngefan dengan kebid`ahan dan ada yang anti padanya.
Bila tahlilan 1,2,3,4,5,6,7 hari setelah kematian di gunakan media tempat berkumpul, maka kapan kita ini bisa meninggalkan kebid`ahan itu.
Tuntunan kita ini bukan ulama penegak kebid`han . Tapi Rasulullah shallahu alaihi wasallam yang bersabda :
. مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ (رواه البخاري ومسلم)
“Barangsiapa mengada-adakan sesuatu yang baru di dalam urusan (agama) kami ini yang bukan termasuk di dalamnya, maka ia tertolak.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Bila kita ikut tahlilan setelah kematian, kapan kita bisa ikut para sahabat yang anti kebid`ahan dan selalu menegakkan sunnah. Bila kita ikut mereka mendapat rida Allah. Bila menyelisihi mereka lalu ikut orang sekarang yang ngefan kebid`ahan maka kita akan di benciNya. Ingatlah ayat ini:
وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ(100)
Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.[1]
Dalam suatu hadis juga di jelaskan sbb :
عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ خَيْرَكُمْ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ قَالَ عِمْرَانُ فَلَا أَدْرِي أَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْدَ قَرْنِهِ مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلَاثَةً ثُمَّ يَكُونُ بَعْدَهُمْ قَوْمٌ يَشْهَدُونَ وَلَا يُسْتَشْهَدُونَ وَيَخُونُونَ وَلَا يُؤْتَمَنُونَ وَيَنْذِرُونَ وَلَا يُوفُونَ وَيَظْهَرُ فِيهِمُ السِّمَنُ *
Diriwayatkan dari Imran bin Husain r.a katanya: Rasulullah S.A.W. bersabda: Sesungguhnya yang terbaik dari kalangan kamu ialah sezaman denganku, kemudian orang yang hidup setelah zamanku, setelah itu orang yang hidup setelah mereka. Imran berkata: Aku tidak mengetahui apakah Rasulullah S.A.W. menyebut selepas kurunnya sebanyak dua atau tiga kali. Selepas itu datang satu kaum yang bersaksi tanpa diminta dan berkhianat , tidak bisa dipercayai, yang suka bernazar tetapi tidak melaksanakannya dan banyak yang gemuk [2]
Bila kita ikut tahlilan setelah kematian, kita akan menentang hadis sbb:
عَنْ جَرِيرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ الْبَجَلِيِّ قَالَ كُنَّا نَعُدُّ الِاجْتِمَاعَ إِلَى أَهْلِ الْمَيِّتِ وَصَنِيعَةَ الطَّعَامِ بَعْدَ دَفْنِهِ مِنَ النِّيَاحَةِ * رَواَهُ أَحْمَدُ
Dari Jarir bin Abdillah Al bajali berkata : “ Kami para sahabat menganggap berkumpul ke keluarga mayat dan membikin makanan setelah mayat di kubur termasuk niyahah . ( meratapi mayat ) . HR Ahmad .
Bila kita ikut tahlilan setelah kematian , kita akan tergolong ahli bid`ah bukan ahlis sunnah. Bila masih mengaku ahlis sunnah, maka sangat lucu. Penegak kebid`ahan ngaku ahlis sunnah. Bila penegak kebid`ahan ngaku ahlis sunnah, maka siapakah yang ahli bid`ah sekarang?.
Apakah di balik sj . Yaitu yang anti tahlilan di anggap ahli bid`ah dan penegak tahlilan di anggap ahlis sunnah. Lalu sunnah Rasul yang mana yang di buat pegangan untuk tahlilan setelah kematian.
Bila kita ikut tahlilan setelah kematian, kita akan membebani keluarga mayat yang lagi kesedihan untuk menanggung biaya tahlilan itu. Bila dia kaya raya tetap akan tidak layak orang susah di bebani acara tahlilan yang menyusahkan dan menambah kesedihan.
Bila dia fakir miskin, maka tidak layak orang fakir yang susah di tambah menanggung biaya tahlilan . Apalagi dia menentang tuntunan Rasulullah shallahu alaihi wasallam
Bila kita mengadakan tahlilan , mk kita ini akan menjadi teladan jelek di masarakat bukan teladan baik yang cocok dengan tuntunan.
Di acara tahlilan kadang di akhiri dengan kalimat syirik sbb:
هُوَ الحَبِيْبُ الَّذِيْ تُرْجَى شَفاَعَتُهُ لِكُلِّ هَوْلٍ مِنَ الأَهْوَالِ مُقْتَحِمٍ
Dia ( Muhammad ) kekasih yang syafaatnya selalu di harap pada setiap bahaya yang menimpa
Ket : Kesyirikan disini pernyatan bahwa Muhammad satu figur yang syafaatnya di harapkan untuk melenyapkan segala bahaya dan penderitaan didunia maupun akhirat bukan Allah . Ia bertentangan dengan ayat :
مَا يَفْتَحِ اللَّهُ لِلنَّاسِ مِنْ رَحْمَةٍ فَلَا مُمْسِكَ لَهَا وَمَا يُمْسِكْ فَلَا مُرْسِلَ لَهُ مِنْ بَعْدِهِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorangpun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak seorangpun yang sanggup untuk melepaskannya sesudah itu. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorangpun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak seorangpun yang sanggup untuk melepaskannya sesudah itu. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.[3]
[1] Taubat 100

[2] Muttafaq alaih , Bukhori 2457

[3] Fathir 2
Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Pesan yang baik, jangan emosional.Bila ingin mengkeritisi, pakailah dalil yang sahih.Dan identitasnya jelas. Komentar emosional, tidak ditayangkan