Kamis, Mei 12, 2016

Jawabanku ke 3 untuk Ubaid Pemberantas kesyirikan

Ubaid Pemberantas Syirik yg tinggal di Surabaya menulis : Di zaman khalifah Umar bin Khattab masjid nabi diperbaiki dengan beralas batu kerikil.

Al-Baihaqî di dalam kitabnya As-Sunanul Kubrâ telah mengeluarkan satu riwayat yang sanadnya dari Urwah bin Zubair. Ia berkata : " Sesungguhnya orang yang pertama kali menghampari masjid Rasulullâh Saw dengan batu-batu adalah Umar bin Khattâb. Ia pernah berkata kepada orang-orang : "Hamparilah masjid ini dengan wadi atau batu-batu yang penuh berkah yakni al aqiq" .
(Lihat As-Sunanul Kubrâ, Jilid 2, Hal. 441dan Manâqib 'Umar oleh Ibnul Jawzî, Hal. 63.)
Ubaid Pemberantas Syirik Dari riwayat riwayat di atas menunjukkan bahwa. ..perintah yang bersifat umum yaitu di bumi tidak hanya dibatasi pada tanah saja tetapi selain tanah asli juga diperbolehkan.

Jadi perintah sujud pada bumi tersbut benar dan tidak ada dalil nash yang mengkhususkan pada tanah.
https://www.hawaaworld.com/showthread.php?t=3774862
Komentarku ( Mahrus ali )
Arabnya  sbb:
السنن الكبرى للبيهقي (2/ 618)
-           وَثنا أَبُو مُحَمَّدِ بْنُ يُوسُفَ الْأَصْبَهَانِيُّ، أنبأ مُحَمَّدُ بْنُ نَافِعِ بْنِ إِسْحَاقَ الْخُزَاعِيُّ بِمَكَّةَ، أنبأ الْمُفَضَّلُ بْنُ مُحَمَّدٍ الْجَنَدِيُّ، حَدَّثَنِي ابْنُ أَبِي عُمَرَ، ثنا سُفْيَانُ، عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ، عَنْ أَبِيهِ قَالَ: أَوَّلُ مَنْ بَطَحَ الْمَسْجِدَ مَسْجِدَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، وَقَالَ: " ابْطَحُوهُ مِنَ الْوَادِي الْمُبَارَكِ " يَعْنِي الْعَقِيقَ كَذَا قَالَ عُرْوَةُ، وَحَدِيثُ ابْنِ عُمَرَ مُتَّصِلٌ، وَإِسْنَادُهُ لَا بَأْسَ بِهِ
Komentarku ( Mahrus ali )
أَوَّلُ مَنْ بَطَحَ الْمَسْجِدَ مَسْجِدَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ،
Sesungguhnya orang yang pertama kali menghampari masjid Rasulullâh Saw dengan batu-batu adalah Umar bin Khattâb ( terjemahan yg salah ) .
Terjemahanku ( Mahrus ali ) .
Permulaan orang yg  meratakan al masjid – maksudnya  masjid Rasulullah shallahu alaihi wasallam adalah Umar bin Al Khatthab  ra .
( tanpa  kalimat  dengan batu – batu -  ia tambahan  penterjemah sendiri – bukan asli dari atsar tsb. Tambahan ini penghianatan dlm menerjemahkan, tidak jujur  ).
وَقَالَ: " ابْطَحُوهُ مِنَ الْوَادِي الْمُبَارَكِ " يَعْنِي الْعَقِيقَ
Ia pernah berkata kepada orang-orang : "Hamparilah masjid ini dengan wadi atau batu-batu yang penuh berkah yakni al aqiq" .  (Terjemahan yg salah fatal ) .

Terjemahanku ( Mahrus ali ) :
Ratakanlah / hamparilah  masjid dari lembah al Mubarak  yaitu al aqiq ( nama lembah itu  adalah al Aqiq).
صحيح البخاري (2/ 136)
(وادي العقيق) قرب البقيع بينه وبين المدينة أربعة أميال
Lembah al aqiq  dekat dengann Baqi` sekitar empat mil antara ia dan Medina
التوضيح لشرح الجامع الصحيح (15/ 280)
قول النبي - صلى الله عليه وسلم -: "العقيق واد مبارك".
Sabda Nabi shallahu alaihi wasallam  : Al aqiq adalah lembah  yg penuh berkah

بطَح المكانَ : بسطه وسوّاه
Membentangkan  atau meratakannya
http://www.almaany.com/ar/dict/ar-ar/%D8%A8%D8%B7%D8%AD/


Komentarku ( Mahrus ali )
Dengan  terjemahan yg salah  itu lalu di pakai untuk memperbolehkan  shalat  wajib dengan  sajadah, astaghfirullah . Semoga Allah memberi petunjuk padanya dan tidk membikinnya tidak mengerti terus. Mana  ada  kalimat yg memperbolehkan shalat wajib dengan sajadah  dlm atsar itu . apakah tdk tahu terhadap atsar Imam Malik  sbb :
. وَقَدْ رُوِيَ أَنَّ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ مَهْدِيٍّ لَمَّا قَدِمَ الْمَدِينَةَ بَسَطَ سَجَّادَةً فَأَمَرَ مَالِكٌ بِحَبْسِهِ فَقِيلَ لَهُ : إنَّهُ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ فَقَالَ : أَمَا عَلِمْت أَنَّ بَسْطَ السَّجَّادَةِ فِي مَسْجِدِنَا بِدْعَةٌ .
Sungguh telah di kisahkan bahwa Abd rahman bin Mahdi ketika datang ke Medinah menggelar sajadah , lalu Imam Malik memerintah agar di tahan ( dipenjara ) . Di katakan kepadanya  : “  Dia adalah  Abd Rahman bin mahdi 
Imam Malik  menjawab :”  Apakah kamu tidak mengerti bahwa  menggelar sajadah dimasjid kami adalah bid`ah “.

Di kalangan kitab – kitab hadis yg popular , sy hanya menjumpai atsar  tersebut di Sunan Baihaqi .
Bukhari , Muslim , Abu  Dawud, Tirmidzi, Nasai , Imam Malik Ibn Majah  tidak mencantumkan  atsar tsb di dalam kitab  - kitab mereka , bahkan di kebanyakan kitab – kitab hadis dan syarah sy tdk menjumpai atsar tsb.

Ada perawi bernama  Ibn Abi Umar


Sanad hadis  sbb:

وَثنا أَبُو مُحَمَّدِ بْنُ يُوسُفَ الْأَصْبَهَانِيُّ، أنبأ مُحَمَّدُ بْنُ نَافِعِ بْنِ إِسْحَاقَ الْخُزَاعِيُّ بِمَكَّةَ، أنبأ الْمُفَضَّلُ بْنُ مُحَمَّدٍ الْجَنَدِيُّ، حَدَّثَنِي ابْنُ أَبِي عُمَرَ، ثنا سُفْيَانُ، عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ، عَنْ أَبِيهِ
Komentarku ( Mahrus ali )
Sanad itu tafarrud. Atsar tersebut hanya Urwah bin Zubair yg meriwayatkannya . Bila Umar memberi pasir atau batu pd masjid Nabawi  dari Wadi Mubarak mesti banyak sahabat yg meriwayatkan bukan satu orang. Realitanya  hanya satu orang tabiin yaitu Urwah
Cacat  sanad disini adalah  Hisyam bin Urwah  sendiri  yaitu tabiin yg wafat pd tahun 145/ 146 H. Dia adalah perawi terpercaya , kadang tadlis  atau menyelinapkan perawi lemah agar hadisnya di anggap sahih. Walaupun hal itu jarang baginya.
Lihat sj dlm sanad  yg di pakai  oleh Imam Baihaqi di situ  Hisyam  tdk menyatakan haddatsana   tapi   cukup dengan kalimat “ an “ . Sedemikian ini  bagi  perawi mudallis masih di ragukan, tdk boleh dikatakan  hadis  yg valid.
Dalam masalah hadis  lain yaitu menyentuh kemaluan membatalkan wudu. Imam Nasai berkata:

ويقول امام النسائي هشام بن عروة لم يسمع من أبيه هذا الحديث
Imam Nasai berkata: Hisyam bin Urwah sbg perawi hadis tdk mendengar  hadis itu dari ayahnya.
Hisyam bin Urwah pernah berkata:
ا خير رسول الله بين أمرين، لم أسمع من أبي إلا هذا. والباقي لم أسمعه
Rasulullah shallahu alaihi wasallam disuruh pilih antara dua perkara, lalu beliau bilang : Aku tidak mendengar  hadis  dari ayahku kecuali ini . Dan hadis lain , sy tdk mendengar  dari ayahku.
Ada ahli hadis  bilang :
كيف نتجاهل رد الشافعي لرواية المدلس ، وعدم قبول مالك لأحاديث هشام بعد عودته من العراق

Bagaimana kah  kita ini tdk paham terhadap penolakan Imam Syafii terhadap riwayat  perawi mudallis  ( menyelinapkan perawi lemah )  Dan Imam Malik  sendiri tdk menerima hadis Hisyam setelah kembali  dari Irak. ( Sebab banyak  hadis yg  aneh – aneh  setelah  pulang dari Irak ).
http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=296078

Cacat kedua  adalah  tadlis  Sufyan . Dlm sanad tersebut tdk dijelaskan apakah Sufyan Tsauri atau  Sufyan bin  Uyainah.  keduanya   termasuk perawi  terpercaya. Dan   banyak ulama  yg mentolerir  tadlis Sufyan  at tsauri . juga ada ulama   yg menyatakan meski beliau  yg mentadlis tetap  membikin cacat  sanad.
Sungguh pun demikian , disitu ada  cacat lagi dalam sanad yaitu  tafarrud . Tiada  ada  sanad lain yg mendukung. 
Ada cacat lagi yaitu perawi  Al Mufaddhol bin Muhammad al janadi , Muhammad bin Nafi` bin Ishak al Khuza`I  dan Abu Muhammad bin Yusuf al ashbihani .
Sy tdk mengerti dan blm tahu  komentar ulama tentang perawi perawi tsb > sy blm tahu  dr komentar ulama apakah mereka pendusta atau bisa di percaya. Jadi setahu  sy tiga peawi  itu majhul sekali. Dan biasanya  hadis atau atsar yg mencantumkan perawi majhul  / tak dikenal ini adalah palsu .
Jadi kisah tentang Umar menghampari masjid dengan tanah  dari  lembah al aqiq adalah palsu .
Kisah Umar bin Al Khattab menghampari masjid medina  tsb nyeleneh  baik dari segi sanad atau redaksi hadis  atau boleh dikata tafarrud. Hal sedemikian ini menurut ulama yg lalu adalah lemah. Redaksi atsar dan sanadnya  adalah tafarrud/ ganjil, tidk di dukung  oleh atsar lain.

Imam Abu Hanifah menyatakan  sinyal kelemahan hadis adalah perawi secara  sendirian meriwayatkan hadis  bukan sahabat yg lain .
3ـ ألا يكون فيما تعم به البلوى العلمية أو العملية، أي أن المحدث يتفرد بحديث في حين سائر الصحابة لا يعلمون مع أنه من الأمور العلمية العامة
3. Agar tidak termasuk musibah ilmiyah atau amaliyah yg umum – yaitu  seorang perawi  hadis menyampaikan  hadis secara  sendirian. Pada  hal sahabat yg lain  tidak mengetahui. Dan ia termasuk masalah ilmiyah yg umum.
http://www.dd-sunnah.net/forum/showthread.php?t=152431
Jadi kisah Umar bin Al Khatthab menghampari masjid Medinah dengan batu    adalah palsu , tdk valid .
Anda menyatakan :
Ubaid Pemberantas Syirik Dari riwayat riwayat di atas menunjukkan bahwa. ..perintah yang bersifat umum yaitu di bumi tidak hanya dibatasi pada tanah saja tetapi selain tanah asli juga diperbolehkan.

Jadi perintah sujud pada bumi tersbut benar dan tidak ada dalil nash yang mengkhususkan pada tanah.
Komentarku ( Mahrus ali )
Maksudnya  dlm tulisan Akhina Ubaid  yg lain sbb:
Ubaid Pemberantas Syirik menulis lg : Saya kurang setuju dengan pendpt ustadz Mahrus Ali Mknu tentang memahami hadist dibawah ini

"Bumi di jadikan tempat sujud dan alat suci ( untuk tayammum )Setiap lelaki yg menjumpai waktu sholat , sholatlah ( di tempat itu ) ……"

Dan juga hadist
"Dimana saja kamu menjumpai waktu shalat telah tiba , shalatlah dan bumi adalah tempat sujudmu "

Kenapa ustadz, mengartikan bumi yang bersifat umum tersebut dengan mengkhususkan pada tanah. .?
Padahal kalimat umum bumi tersebut tidak hanya sebatas tanah saja, tetapi juga batu, kerikil, debu, pasir, air bahkan semua yang ada di atas bumi yaitu kayu, dinding dan segala isinya mencakup bumi.
Dimana Bumi dijadikan tempat sujud dan alat bersuci. ...jadi semuanya, bukanlah khusus pada tanah.
Kenapa ustadz, mengartikan bumi yang bersifat umum tersebut dengan mengkhususkan pada tanah. .?
Padahal kalimat umum bumi tersebut tidak hanya sebatas tanah saja, tetapi juga batu, kerikil, debu, pasir, air bahkan semua yang ada di atas bumi yaitu kayu, dinding dan segala isinya mencakup bumi.
Dimana Bumi dijadikan tempat sujud dan alat bersuci. ...jadi semuanya, bukanlah khusus pada tanah.

Komentarku ( Mahrus ali ):

Disini awal kekeliruan dia dan orang yg  sepaham dengannya.
Ardhun boleh di artikan batu, Ardhun boleh di artikan krikil . Ardhun boleh di artikan air. Ardhun boleh di artikan kayu. Ardhun boleh di artikan dinding .
Bila pemahaman spt itu di ikuti, mk dlm shalat wajib boleh juga sujud  di air, , dinding , kayu  dll.
Trus apa bisa sujud di air? Makna spt ini ngelantur.


Menurut Ubaid yg tinggal di Surabaya itu hadis ini:

"Bumi di jadikan tempat sujud dan alat suci ( untuk tayammum )Setiap lelaki yg menjumpai waktu sholat , sholatlah ( di tempat itu ) ……"

Bila kita  detilkan pemahaman dia itu bgini :
"Kayu di jadikan tempat sujud dan alat suci ( untuk tayammum )Setiap lelaki yg menjumpai waktu sholat , sholatlah ( di tempat itu ) ……"
" Dinding  di jadikan tempat sujud dan alat suci ( untuk tayammum )Setiap lelaki yg menjumpai waktu sholat , sholatlah ( di tempat itu ) ……"
" Air di jadikan tempat sujud dan alat suci ( untuk tayammum )Setiap lelaki yg menjumpai waktu sholat , sholatlah ( di tempat itu ) ……"
" Krikil  di jadikan tempat sujud dan alat suci ( untuk tayammum )Setiap lelaki yg menjumpai waktu sholat , sholatlah ( di tempat itu ) ……"

Dia memperbolehkan shalat wajib di sajadah  dengan hadis itu juga , seolah  bgini arti hadis itu :
" Sajadah di jadikan tempat sujud dan alat suci ( untuk tayammum )Setiap lelaki yg menjumpai waktu sholat , sholatlah ( di tempat itu ) ……"

Itulah kesalahan, karena ardhun di artikan scr umum.
Kalau sy tdk bgt, nauudzul billah sy punya pemahaman spt itu. Dan pemahaman spt itu hrs di buang, tdk bolh di ambil lagi . Bukan pemahaman  sahabat tp pemahaman akhina Ubaid .

Kalau  sy  bukan ke pemahaman spt tu. Tp sy focus kpd tempat  sujud yg pernah  di sujudi  oleh Rasulullah shallahu alaihi wasallam dlm shalat wajib apa sj   lalu kita tiru . Dan tempat sujud yg pernah di sujudi oleh Rasulullah shallahu alaihi wasallam  dlm  shalat sunat apa sj lalu kita tiru. Bukan kita selisihi atau kita tentang .

Namun hal ini akan sy detilkan di thread / TS berikutnya karena terlalu panjang …..
Maaf bersambung …………………..








Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Pesan yang baik, jangan emosional.Bila ingin mengkeritisi, pakailah dalil yang sahih.Dan identitasnya jelas. Komentar emosional, tidak ditayangkan