Rabu, September 23, 2015

Jeritan Putra Aceh Untuk Idrus Romli

 
 
 
Sameeh.net -Tulisan ini aku tujukan ke hadapan Yang Mulia Kiyai Haji Muhammad Idrus RamliHafizahullah. Anggap saja tulisan ini sebagai “surat cintaku” kepadamu. Bukannya aku tidak mengenal kantor Pos, bukan pula aku tak punya ongkos, tapi sengaja kutulis surat ini di sini, agar saudara-saudaraku dan juga saudara-saudaramu dapat membaca surat ini. Meskipun surat ini kutujukan kepadamu, tapi tidak ada secuil rahasia pun dalam surat ini.

Idrus Ramli yang dirahmati Allah, sebelum berpanjang kalam, izinkan aku untuk memperkenalkan diriku padamu. Bukan berarti aku begitu penting untuk engkau kenal, tapi aku hanya menjalankan firman Tuhanku, bahwa kita diciptakan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa untuk saling mengenal. Sama halnya seperti dikau yang tak mengenal diriku, pada hakikatnya aku pun tidak mengenal dirimu, aku cuma tahu sedikit saja tentang dirimu. Baiklah, perkenalkan, Aku ini orang Aceh yang lahir di Aceh dan bernenek-moyang Aceh.

Idrus Ramli yang berbahagia, kemarin (10 September 2015) orang-orang di “negeriku” telah melaksanakan satu acara yang mereka sebut sebagai “Parade Ahlussunnah Waljama’ah”. Dalam surat ini, aku tak hendak mengomentari acara tersebut, tersebab aku tahu bahwa itu adalah hak mereka sebagai warga negara. Mereka mau buat parade, karnaval, maraton, jalan santai atau apapun namanya, itu tidaklah menjadi urusanku. Cuma saja, aku “dengar-dengar”, dikau turut hadir dalam acara itu.

“Sayangku” Idrus Ramli, aku menulis surat ini singkat saja, karena aku tahu engkau tidak punya cukup waktu untuk berlama-lama membaca surat ini. Aku sangat paham akan jadwalmu yang “super sibuk”, hari ini engkau diundang ke Aceh, mungkin besok lusa engkau di undang ke Papua. Kesibukanmu dapat kumaklumi karena engkau adalah “Singa Aswaja” di Asia Tenggara, demikian khabaran yang kudengar dari kawan-kawanmu.

Begini Idrus Ramli, dalam acara “parade” itu, aku melihat beberapa spanduk yang berisikan penolakan terhadap Wahabi, PKI dan Syi’ah. Seperti aku katakan di atas, itu bukan urusanku, karena spanduk itu milik mereka dan yang menulis pun mereka. Cuma saja, aku merasa heran kepada dirimu yang turut memposting foto-foto itu di akunfacebookmu. Engkau nampaknya sangat setuju dengan tulisan-tulisan itu. Secara tidak langsung, engkau telah ridha jika Wahabi disederajatkan dengan PKI dan Syi’ah. Meskipun engkau paham, bahwa Wahabi bukanlah Syi’ah, dan Syi’ah pun bukan Wahabi. Aku yakin seyakin yakinnya bahwa dikau juga paham bahwa Wahabi bukanlah PKI, dan PKI bukanlah Wahabi. Tapi engkau terlihat sangat berbahagia memposting foto-foto itu di facebookmu.

Idrus Ramli yang berbahagia. Soal kedatanganmu ke Aceh, pada prinsipnya tidaklah menjadi urusanku, karena engkau memakai biayamu sendiri. Aku juga paham bahwa kedatanganmu bukanlah “murni” kehendakmu, tapi hanya sekedar memenuhi undangan. Tapi, kemarin engkau pasti telah mendengar dan membaca di spanduk-spanduk bahwa Wahabi tidak layak hidup di Aceh. Dalam hal ini, aku melihat keterlibatanmu sudah terlalu jauh. Engkau telah turut campur dalam urusan rumah tangga kami (Aceh) yang semestinya bisa terselesaikan tanpa kehadiranmu.

Idrus Ramli yang dimuliakan Allah, terkait kebencianmu terhadap Wahabi, itu adalah hakmu, tiada yang mampu melarangmu untuk menebar kebencian terhadap Wahabi. Silahkan dikau membenci Wahabi, tapi lakukan itu di tanahmu sendiri (Jawa), jangan engkau “tebar kebencian” di tanah kami (Aceh). Jika pun Wahabi ingin diusir dari Aceh, maka biarlah itu menjadi urusan masyarakat Aceh, tanpa perlu engkau melibatkan diri.

Idrus Ramli “sayangku”, saat ini kaum muslimin di Papua tengah diuji. Engkau tentu ingat beberapa waktu lalu mesjid mereka dibakar. Datanglah ke sana untuk memberi peringatan kepada pihak-pihak yang telah “mengganggu” saudara-saudara kita. Engkau juga pasti tahu, bahwa kaum muslimin di Suriah juga hidup dalam kesusahan dan terpaksa mengungsi menghidari perang akibat kekejaman si Basyar yang telah melampau batas. Datangilah mereka, bantu mereka, semangati mereka, karena mereka adalah saudara-saudara kita seiman. Dan yang terpenting, lupakanlah Aceh!

Sebelum aku mengakhiri surat ini, aku pertegas kembali bahwa surat ini aku tujukan kepada engkau seorang wahai Idrus Ramli “tersayang”, bukan untuk yang lain. Idrus Ramli “cintaku”, di akhir surat ini, aku berharap agar engkau tidak lagi “mengusik” kebersamaan kaum muslimin di tanah kami (Aceh). Biarkan Aceh kami hidup damai. Kami sudah lelah berperang. Pergilah, pergilah, dan pergilah engkau, pulang ke “negerimu”.

Banda Aceh, 10 September 2015
Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Pesan yang baik, jangan emosional.Bila ingin mengkeritisi, pakailah dalil yang sahih.Dan identitasnya jelas. Komentar emosional, tidak ditayangkan