Senin, April 11, 2016

10 Fakta Keterlibatan Sukarno Dalam Peristiwa Pembantaian 7 Perwira TNI AD di Lubang Buaya


Selama puluhan tahun opini kita telah digiring untuk menempatkan Jenderal Suharto sebagai Dalang dari peristiwa G30S/PKI. Selama puluhan tahun pula opini kita digiring untuk memuduh Jenderal Suharto sebagai orang yang paling bertanggung jawab atas pembantaian jutaan rakyat tidak berdosa yang menjadi korban sebagai dampak dari peristiwa pembantaian 7 perwira TNI AD di Lubang Buaya. Bahkan julukan Sang Penjagal disematkan pada diri jenderal Suharto.

 

Berbagai versi cerita dikarang pihak-pihak tertentu untuk memojokan jenderal Suharto. Ada juga versi cerita yang menunjukan bila sebelum peristiwa pembantaian ke 7 perwira TNI AD ternyata Kolonel Latief yang juga mantan bawahan Suharto ketika masih di Kodam Diponegoro telah melakukan beberapa pertemuan dengan Suharto bahkan hingga malam kejadian yaitu tanggal 18, 28, 29 dan 30 September 1965. Bahkan kondisi Tommy Suharto yang masuk Rumah Sakit dituduh sebagai akal-akalan Suharto agar tetap berada di Jakarta. Semua versi cerita dikarang dengan satu tujuan untuk menunjukan kalau Suharto yang terlihat santun hanyalah pura-pura atau kamuflase untuk menutupi kelakuannya yang buruk.
nggiring opini kita agar membenci Suharto. Berbagai versi cerita tentang masa lalu Suharto yang buruk dikarang agar versi cerita yang mereka karang terlihat kapabel. Ada cerita yang dikarang seolah-olah Suharto memiliki dendam pribadi kepada semua korban yang terbunuh di Lubang Buaya. Ada versi cerita yang dikarang seolah-olah Suharto berkelakuan asusila karena memiliki hubungan gelap dengan seorang artis bernama Rahayu Effendi. Bahkan dikarang cerita seolah-olah telah terjadi wawancara dengan para tetangga Rahayu Effendi di Bogor kalau memang pernah terjadi penyiraman tinja kerumah Rahayu Effendi yang di Bogor. Ada juga versi cerita yang mempertanyakan mengapa Suharto tidak menjadi bagian dari target pembunuhan dimalam itu. Bahkan ada versi cerita yang memasukan nama Jenderal Gatot Subroto sebagai pihak yang paling membela Suharto dengan alasan Suharto memiliki potensi yang masih bisa dibina.



Disini penulis akan menunjukan kalau semua cerita tersebut hanyalah cerita bohong atau cerita Fitnah yang bertujuan mendiskreditkan sosok Suharto agar dibenci rakyat Indonesia.

Pertama kita membahas tentang "Dendam Suharto". Versi cerita ini menceritakan bila ditahun1959, Suharto ditangkap oleh Nasution dan Ahmad Yani atas kasus pencurian pentil dan ban sewaktu menjabat sebagai Pangdam Diponegoro dengan pangkat Kolonel. Versi cerita ini tidak tanggung-tanggung memasukan semua nama perwira yang menjadi korban G30S/PKI menjadi anggota oditur yang akan menghakimi kasus Suharto. Nama Pranoto juga dimasukan sebagai orang yang dituduh Suharto sebagai orang yang melaporkan kejadian ini pada Ahmad Yani. Versi cerita ini malah berusaha menggambarkan bila Ahmad Yani sempat menampar Suharto karena telah melakukan tindakan tercela yang memalukan korps TNI AD. Disini penulis melihat satu kejanggalan dalam cerita tersebut. Penulis lalu mempertanyakan, apakah begitu bodohkah korps TNI AD dalam mempromosikan prajuritnya yang terbukti melakukan tindakan pidana kriminil untuk menduduki jabatan pening yang strategis ? Penulis juga melihat satu keanehan yang sangat fatal, ternyata saat diangkat menjadi Panglima Trikora ditahun1961, pangkat Suharto sudah menjadi Mayjen. Lalu muncul pertanyaan, "untuk seorang prajurit yang terbukti bersalah melakukan tindak pidana kriminil, kog bisa ya naik pangkat secara cepat dalam temo 2 tahun naik pangkat 2x bahkan mendapat promosi jabatan strategis". Berarti versi cerita ini terbukti hanyalah cerita bohong dengan tujuan memfitnah Suharto agar dibenci rakyat Indonesia.
 

Kedua mari kita bahas lagi tentang versi kelakuan asusila dari sosok Suharto. Versi cerita ini menggambarkan ternyata dibalik sikap santun Suharto tersembunyi sifat buruk dengan kelakuan yang amoral. Versi cerita ini dikarang agar Suharto terlihat sama atau malah lebih buruk dibanding sosok Sukarno. Versi cerita ini malah menunjukan kalau dari kelakuan asusila Suharto telah melahirkan satu anak manusia yang bernama Dede Yusuf. Versi cerita ini dikarang dengan mengaitkan kemiripn wajah Dede Yusuf dengan wajah Tommy Suharto ataupun wajah Bambang Trihatmodjo. Disini penulis juga melihat satu kejanggalan saat menelusuri biografi aktor Dede Yusuf. Ternyata aktor Dede Yusuf lahir pada tanggal 14 September 1966. Itu artinya bila memang telah terjadi affair, berarti affair tersebut terjadi sebelum tahun 1966. Lalu penulis berpikir, apakah mungkin hal itu terjadi disaat suasana negeri ini genting Suharto sempat-sempatnya melakukan affair seperti Sukarno yang memang biadab dalam hal urusan perempuan. Dari versi cerita ini kembali dibuktikan bahwa telah terjadi character assasination kepada Suharto dengan tujuan agar Suharto semakin dibenci rakyat Indonesia.

Mari lagi kita membahas perihal pertanyaan "mengapa Suharto tidak menjadi target dari operasi". Kita semua tentu tahu kalau semua perwira TNI AD yang menjadi korban kebrutalan PKI adalah mereka yang menolak proposal yang diajukan PKI mengenai Angkatan ke V. Mereka yang menjadi korban adalah para petinggi di Markas Besar AD. Suharto yang ketika itu menjabat sebagai Pangkostrad bukanlah bagian dari Mabes AD yang dapat memberi keputusan tapi Suharto hanyalah bagian dari mereka yang menjalankan keputusan yang diambil Mabes AD. Sebagai Pangkostrad, Suharto selalu siap menjalankan setiap perintah yang dikeluarkan Mabes AD. Itulah yang menjadi alasan kalau Suharto bukanlah orang penting yang pantas dijadikan target operasi.

Terakhir mari kita membahas perihal pertemuan-pertemuan antara Suharto dengan Kolonel Latief yang "katanya" terjadi pada tanggal 18, 28, 29 & 30 September 1965. Disini penulis ingin mengajak pembaca untuk berpikir lebih kritis dengan situasi yang dihadapi Suharto saat itu. Kalaupun benar telah terjadi beberapa pertemuan antara Suharto dengan Kolonel Latief yang berkaitan dengan rencana penjemputan paksa para perwira TNI AD, maka cobalah kondisikan keadaan kita sebagai Suharto kala itu. Apakah yang akan dilakukan Suharto dengan situasi seperti itu ? Ada beberapa kemungkinan untuk menggambarkan situasi yang dihadapi Suharto saat itu ;

1. Apakah Suharto harus melaporkan kepada para atasannya seperti Nasution, Ahmad Yani dll bahwa akan terjadi suatu penindakan kepada diri mereka yang akan dilakukan oleh pasukan Cakrabirawa atas perintah Sukarno ? (sesuai dengan kesaksian Kolonel Untung saat dipersidangan yang mengaku mendapat perintah namun tidak menyebut nama sang pemberi perintah)

2. Apakah Suharto harus melaporkan kepada Sukarno yang secara implisit diketahui yang memberi perintah kepada Kolonel Untung untuk "memberi pelajaran" kepada para perwira TNI AD yang dianggap tidak loyal kepada Sukarno ?

3. Haruskah Suharto mencoba menghentikan tindakan yang akan dilakukan Kolonel Untung dkk sementara Suharto mengetahui bila yang memberi perintah adalah orang no 1 di negeri ini ? Bisa anda bayangkan akibat dari tindakan Suharto bila dirinya mencoba menghalangi tindakan yang akan diambil Kolonel Untung ?

Dari 3 kondisi yang harus dilakukan Suharto maka dapat diambil kesimpulan bahwa sikap diam dan menunggu tindakan apa yang kira-kira dilakukan Kolonel Untung adalah yang terbaik dilakukan Suharto. Perlu diketahui jika operasi "memberi pelajaran" pada para perwira TNI AD yang dilakukan Kolonel Untung yang dibagi dalam 3 tim juga didukung oleh anggota TNI dari angkatan yang lain seperti Mayor KKO Soedarno, Mayor Udara Sudjono dan Kombes Pol Imam Soepojo. Dari kondisi ini juga akan memunculkan pertanyaan yang lain, Mungkinkah seorang Suharto mampu menggerakan anggota prajurit dari Korps yang berbeda untuk melakukan perintahnya ? Penulis mempersilahkan pembaca untuk memikirkannya dengan cermat.

Setelah membahas beberapa Fitnah yang ditujukan kepada Suharto, penulis ingin mengajak pembaca untuk merenung sejenak dan bertanya, "APAKAH MAKSUD dan TUJUAN DARI SEMUA FITNAH YANG DITUJUKAN KEPADA SUHARTO ? Kita semua tentu tahu dan faham kalau setiap cerita fitnah yang dibangun/diciptakan pasti memiliki maksud dan tujuan.

Sekarang penulis ingin mengajak pembaca keperistwa tragedy G30S/PKI. Kita tentu sepakat mengatakan kalau orang yang merancang peristiwa tersebut sebagai dalang yang harus bertanggung jawaab atas peristiwa pembantaian yang terjadi selajutnya. Setelah mencermati berbagai fakta sejarah yang terjadi diseputar peristiwa G30S/PKI, sebelum dan sesudah peristiwa serta karakter dari tokoh-tokoh yang memungkinkan untuk melakukan tindakan tersebut maka penulis mengambil kesimpulan bila tokoh yang paling memungkinkan untuk melakukan itu adalah tokoh yang memiliki karakter "Raja Tega". Setelah mencermati karakter dan masa lalu dari tiap tokoh maka penulis megambil satu kesimpulan bahwa hanya Sukarno yang memiliki karakter seperti itu. Penulis juga menelusuri fakta-fakta yang terjadi diseputar perstiwa tersebut. Penulis menelusuri fakta peristiwa yang terjadi sebelum peristiwa G30S/PKI meletus serta fakta peristiwa yang terjadi pasca perstiwa tersebut terjadi.

Mari kita membahas karakter dari Sukarno. Penulis tadi mengatakan kalau Sukarno memiliki karakter yang tega melakukan apapun demi mencapai ambisi pribadinya. Pada masa penjajahan Jepang, Sukarno adalah salah satu Kolaborator Jepang yang tega mengirim rakyat Indonesia menuju neraka kematian mereka sebagai Romusha. Sukarno juga tega mengirim perempuan-perempuan Indonesia untuk menjadi pemuas nafsu birahi para tentara Jepang. Lalu kita lihat lagi kasus yang menimpa Dr Suwondo, suami dari Hartini. Sukarno juga tega memenjarakan Dr Suwondo demi mendapatkan pujaan hatinya (sebenarnya sih, pujaan isi celana dalamnya). Lalu kita juga melihat bagaimana tindakan Sukarno kepada Mayor Shakir yang merupakan tunangan dari Haryatie. Sukarno juga tega memenjarakan Mayor Shakir demi mendapatkan Haryatie. Dari 2 kejadian terakhir kita dapat melihat bagaimana Sukarno tega melakukan sesuatu yang brutal kepada rakyat Indonesia demi kepuasan pribadinya dengan memanfaatkan kekuasaan yang dia miliki.
Sekarang penulis ingin mengajak pembaca untuk menelusuri karakter Suharto. Sampai hari ini penulis belum pernah menemukan atau mengetahui ada kelakuan pribadi Suharto yang menyimpang dari norma etika dan kesusilaan. Kesetiaan cintanya pada isteri tercintanya ibu Tien membuat dugaan penulis semakin kuat kalau Suharto bukanlah type manusia yang tega melakukan sesuatu diluar norma etika dan susila. Bukti-bukti cerita fitnah yang dikarang untuk mendiskreditkan Suharto malah semakin menguatkan keyakinan penulis bahwa mereka yang menebar cerita fitnah kepada Suharto pasti sudah kehilangan akal sehat untuk mencari-cari kesalahan Suharto yang berupa fakta, akhirnya mereka mengarang-ngarang cerita bohong tentang Suharto. Mereka memanfaatkan filosofi yang diterapkan Suharto, filosofi Mikhul Dhuwur Mendhem Jero serta filosofi Bangsa yang Besar adalah Bangsa yang Menghormati jasa para Pahlawannya. Bertahun-tahun mereka menebar cerita fitnah ini tanpa mengenal lelah sehingga terbukti para generasi muda saat ini mulai dan sudah menganggap kalau semua cerita bohong yang mereka sebarkan selama ini sebagai sebuah kebenaran yang hakiki.

Berikut ini penulis akan memaparkan beberapa fakta peristiwa sejarah yang terjadi sebelum dan sesudah peristiwa G30S/PKI yang menjadi indikasi keterlibatan Sukarno.

1. Tindakan anarkis para anggota PKI yang tdk direspon pemerintah.
Selama kurun beberapa tahun sebelum peristiwa G30S/PKI meletus telah terjadi beberapa peristiwa tragis yang menimpa rakyat Indonesia yang dilakukan oleh para anggota PKI beserta organisasi sayap yang berada dibawahnya seperti Pemuda Rakyat, Barisan Tani Indonesia, Gerwani, Lekra dll. Ratusan Ulama NU telah dibantai PKI tanpa ada tindakan berarti dari pemerintah dalam hal ini Sukarno. Pada berbagai peristiwa berdarah yang memakan korban jiwa, Sukarno seolah-olah melaakukan pembiaran karena tidakpernah mengeluarkan kebijakan yang berarti untuk menghentikan peristiwa tersebut terjadi.



2. TNI AD tidak menyerahkan pasukan Elitnya, RPKAD untuk menjadi bagian dari pasukan Cakrabirawa
Tidak seperti Angkatan yang lain, ternyata TNI AD menyerahkan pasukan kelas duanya sebagai bagian dari pasukan Cakrabirawa. Kita semua tentu tahu bila semua Angkatan ketika itu telah menyerahakan pasukan terbaiknya untuk menjadi bagian dari pasukan Cakrabirawa sebagai bentuk ketaatan dan kesetiaan kepada "Yang Mulia Sri Paduka, Bapak Pemimpin Besar Revolusi, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, Putra Sang Fajar, Panglima Tertinggi dll, dll, dll". TNI AL menyerahkan pasukan KKO, TNI AU menyerahkan PGT dan Kepolisian menyerahkan Brimob, tapi TNI AD hanya menyerahkan pasukan reguler biasa yang telah dilatih keahlian setingkat para komando yang diberi nama pasukan Banteng Raider untuk menjadi bagian dari pasukan Cakrabirawa. Bisa anda bayangkan bagaimana perasaan Sukarno saat mengetahui hal tersebut. Ini juga menjadi bukti kalau Sukarno melihat TNI AD memang tidak sepenuhnya loyal kepada dirinya.

3. Peristiwa Bandar Besty yang menewaskan satu anggota TNI AD
Peristiwa tragedy Bandar Betsy yang menewaskan seorang prajurit TNI AD yang bernama Peltu Sudjono pada tangga 14 Mei 1965 yang dilakukan para anggota Pemuda Rakyat dan Barisan Tani Indonesia yang merupakan organisasi sayap dari PKI. Peristiwa ini mengundang reaksi keras dari para petinggi TNI AD terutama Jenderal Ahmad Yani selaku Menpangad waktu itu. Bayak pihak mengatakan kalau peristiwa tragedy Bandar Betsy merupakan cikal bakal dari peristiwa-peristiwa selanjutnya yang memuncak pada peristiwa berdarah Tragedy Lubang Buaya.

4. Pidato Jenderal Ahmad Yani di Markas RPKAD di Cijantung saat HUT RPKAD
Pidato Jenderal Ahmad Yani di Markas RPKAD di Cijantung saat perayaan HUT RPKAD ditahun1965. Jenderal Ahmad Yani dengan terang-terangan meminta para prajurit RPKAD untuk mempersiapkan diri mereka dengan segala kemungkina yang akan terjadi. Pada kesempatan ini Jenderal Ahmad Yani secara terbuka mengatakan akan menuntut balas atas kematian salah satu prajuritnya yang tewas di Bandar Betsy, Sumut.

5. Sukarno mengaku sudah sakit-sakitan tapi disaat yang sama menjalin hubungan dengan Heldy Jaffar
Pada bulan Juli 1965 diketahui bila Sukarno pernah memberikan amanat agar kelak Jenderal Ahmad Yani yang akan menggantikan dirinya bila suatu waktu kondisi kesehatannya kian memburuk. Ada beberapa kesaksian yang memperkuat pernyataan ini. Sukarno mengatakan hal tersebut saat melakukan rapat dengan para petinggi di negeri ini. Dikabarkan Soebandrio, Nasution dan beberapa yang lainnya juga mendengar permintaan ini. Kita semua tentu tahu kalau Sukarno adalah typikal orang yang mampu meyakinkan lawan bicaranya untuk mempercayainya. Namun banyak yang tidak mengetahui bila disaat yang sama Sukarno juga ternyata sedang mendekati seorang gadis belia yang bernama Heldy Jaffar. Disini penulis bingung dengan pernyataan "sakit keras" tapi masih sempat-sempatnya melakukan affair.

6. Pada malam kejadian, Sukarno berkeliling Jakarta bersama Ratna Sari Dewi namun pagi dini hari sudah berada di pangkalan udara Halim Perdana Kusumah.
Pada malam peristiwa pembantaian 7 perwira TNI AD terjadi, semua tahu bila dimalam itu Sukarno bersama Ratna Sari Dewi berkeliling Jakarta menikmati malam hingga menjelang dini hari. Lalu pada dini harinya Sukarno sudah berada di pangkalan udara Halim Perdana Kusumah. Tidak ada yang tahu dalam rangka urusan apa Sukarno berada di pangkalan udara Halim Perdana Kusumah sepagi itu. Hanya Sukarno dan Tuhan yang tahu alasan Sukarno berada di Halim dipagi buta.

7. Sukarno tidak pernah menunjukan rasa empaty atas kematian 7 putra terbaik bangsa.
Pasca tragedy G30S/PKI, tidak sekalipun Sukarno menunjukan rasa simpatik dan empaty atas peristiwa yang menimpa 7 putra terbaik bangsa itu. Sukarno malah menganggap peristiwa pembantaian ke 7 perwira TNI AD bagai Riak Kecil Ditenga Samudera Yang Luas. Itu merupakan bentuk pernyataan yang mengecilkan arti kematian mereka yang dibantai di Lubang Buaya. Sukarno seolah-olah menganggap kematian mereka sebagai hal yang sepele dan tidak ada artinya. Penulis jadi teringat dengan nasib jutaan rakyat Indonesia yang dikirim Sukarno sebagai Romusha dan Jugun Ianfu. Arti nyawaa mereka juga tidak ada artinya dimata seorang Sukarno.

8. Sukarno selalu & tetap membela PKI diberbagai kesempatan.
Diberbagai kesempatan, Sukarno selalu membela keberadaan PKI dan tidak berkeinginan untuk membubarkannya. Bahkan pada bulan Februari 1966 dalam satu kesempatan dihadapan para simpatisan PKI Sukarno dengan tegas mengatakan akan menghabisi orang-orang atau kelompok-kelompok yang Fhobia kepada Komunis. Ini menjadi momen bagi rakyat kalau Sukarno memang cenderung membela PKI dibanding membela mereka yang dibantai atau didzolimi PKI.


9. Sikap bangga & terhormat Kolonel Untung karena mampu menjalankan tugasnya.
Kolonel Untung saat persidangan.
Harus diketahui, Kolonel Untung sebagai komandan eksekutor dari peristiwa pembantaian 7 perwira TNI AD di Lubang Buaya pantas mendapat apresiasi. Sebagai prajurit Sapta Marga, Kolonel Untung telah menunjukan sifat ksatrianya. Dari keterangan Kolonel Untung diketahui nama-nama anggota TNI yang terlibat langsung dalam peristiwa tersebut. Dari keterangan Kolonel Untung juga diketahui cara kerja dan pembagian tim penjemputan para korban. Hanya satu nama yang tidak disebutkan oleh Kolonel Untung yaitu nama tokoh yang memberi perintah untuk melakukan operasi tersebut.Namun dari sikap bangga Kolonel Untung yang merasa terhormat karena telah menjalankan tugasnya dengan baik memunculkan dugaan pada satu tokoh, yaitu Sukarno. Semua prajurit pasti akan merasa bangga dan merasa terhormat bila mampu menjalankan perintah "Yang Mulia Sri Paduka Bapak Pemimpin Besar Revolusi, Panglima Tertinggi ABRI, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, Putra Sang Fajar, dll, dll, dll".

10. Sikap percaya diri Sukarno saat mengawini Heldy Jaffar.
Inilah peristiwa yang menjadi titik balik keangkuhan dan rasa percaya diri Sukarno. Sukarno yang melihat kalau rakyat Indonesia masih percaya pada dirinya melakukan Blunder yang paling fatal. Pada bulan Mei 1966, dengan rasa percaya diri Sukarno mengawini seorang gadis belia yang telah diincar selama setahun ini yang bernama Heldy Jaffar. Pasca perkawinan ini, rakyat Indonesia yang dianggap Sukarno masih bodoh karena mayoritas masih buta huruf ternyata bisa melihat fakta yang sebenarnya. Rakyat melihat ternyata Sukarno yang selama ini mereka sanjung lebih mementingkan kepentingan isi celana dalamnya dibanding isi perut rakyatnya. Rakyat Indonesia seolah tersadar dari hipnotis orasi-orasi fantastis Sukarno yang selalu diselipi kata-kata berbau bahasa Bealanda dan jargon yang menggunakan bahasa Sansekerta. Demo rakyat yang semula hanya menuntut keadilan dan pemenuhan kebutuhan hidup mulai berubah menjadi demo menuntut pelengseran Sukarno.

Akhirnya pada bulan Juni 1966 Sukarno diseret ke Sidang Istimewa MPRS untuk mempertanggung jawabkan kinerjanya sebagai Presiden RI dihadapan para anggota MPRS. Ternyata cara yag dilakukan Sukarno ditahun 1959 pasca Dekrit Presiden menjadi bumerang bagi dirinya. Jika ditahun 1959, Sukarno dengan ujung jari telunjuknya  mengangkat anggota Dewan maka ditahun 1966 Nasution dan Suharto melakukan hal yang sama melakukan penunjukan untuk menjadi anggota Dewan. Ini namanya "Senjata Makan Tuan".







by : Elya Agustiati
Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Pesan yang baik, jangan emosional.Bila ingin mengkeritisi, pakailah dalil yang sahih.Dan identitasnya jelas. Komentar emosional, tidak ditayangkan