Rabu, September 02, 2015

Melihat Allah bagi kaum Sufi



Bapak Harun Nasution berkata lagi :
Kaum sufi mengartikan doa disini bukan berdoa, tetapi berseru, agar Tuhan mengabulkan seruannya untuk melihat Tuhan dan berada dekat  kepada-Nya. Dengan kata lain, ia berseru agar Tuhan membuka hijab dan menampakkan diri-Nya kepada yang berseru[1]

Komentar penulis:
Melihat Tuhan dengan mata hati adalah perkara yang tiada dalilnya dan tiada tuntunannya, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam juga tidak mengajarkan, begitu juga para sahabat tidak kenal istilah ingin melihat Allah. Dan hal ini telah saya bahas di buku saya,” Ahlussunnah Menuduh Sufi”. Untuk  doa agar hijab Allah terbuka, pada hakikat permintaan seperti itu tidak begitu penting dan tiada ajarannya dari hadis maupun dari al Quran dan tiada perintahnya, lalu untuk apakah kita minta melihat kepada Allah, lihatlah dan renungkan ayat sbb:
وَلَمَّا جَاءَ مُوسَى لِمِيقَاتِنَا وَكَلَّمَهُ رَبُّهُ قَالَ رَبِّ أَرِنِي أَنْظُرْ إِلَيْكَ قَالَ لَنْ تَرَانِي وَلَكِنِ انْظُرْ إِلَى الْجَبَلِ فَإِنِ اسْتَقَرَّ مَكَانَهُ فَسَوْفَ تَرَانِي فَلَمَّا تَجَلَّى رَبُّهُ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُ دَكًّا وَخَرَّ مُوسَى صَعِقًا فَلَمَّا أَفَاقَ قَالَ سُبْحَانَكَ تُبْتُ إِلَيْكَ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُؤْمِنِينَ
Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: "Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau". Tuhan berfirman: "Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku". Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: "Maha Suci Engkau, aku bertobat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman".[2]
Nabi Musa tidak mampu melihat kepada Allah, bahkan pingsan dan bertobat, apalagi kita – kita yang hidup belakangan dan penuh dengan kemungkaran, dosa dan noda hitam dalam lembaran hidup kita, sudah tentu, Allah tidak akan mau tampak dan kitapun tidak akan mampu. Tiada  para  nabi sejak nabi Adam sampai nabi Muhammad yang pernah melihat Allah, seluruhnya harus melalui hijab sebagaimana ayat :
وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُكَلِّمَهُ اللهُ إِلاَّ  وَحْيًا أَوْ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ أَوْ يُرْسِلَ رَسُولاً فَيُوحِيَ بِإِذْنِهِ مَا يَشَاءُ إِنَّهُ عَلِيٌّ حَكِيمٌ
Dan tidak ada seorang pun yang diajak bicara oleh Allah kecuali dengan perantaraan wahyu atau di belakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana.[3]
Jabir bin Abdillah ra berkata: “ Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam  berjumpa denganku, lalu bersabda: mengapa aku melihatmu sedih ? “ Aku berkata : “ Ayahku mati sahid di hari perang Uhud. Dia meninggalkan keluarga dan hutang.” Rasulullah SAW bersabda: “
أَفَلاَ أُبَشِّرُكَ بِمَا لَقِيَ اللهُ بِهِ أَبَاكَ
Apakah kamu saya beri kabar gembira tentang pertemuan Allah dengan ayahmu ? “.
Jabir menjawab : Ya “. Rasulullah SAW bersabda:
مَا كَلَّمَ اللهُ أَحَدًا قَطُّ إِلاَّ  مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ وَأَحْيَا أَبَاكَ فَكَلَّمَهُ كِفَاحًا فَقَالَ يَا عَبْدِي تَمَنَّ عَلَيَّ أُعْطِكَ قَالَ يَا رَبِّ تُحْيِينِي فَأُقْتَلَ فِيكَ ثَانِيَةً قَالَ الرَّبُّ عَزَّ وَجَلَّ إِنَّهُ قَدْ سَبَقَ مِنِّي أَنَّهُمْ إِلَيْهَا لاَ يُرْجَعُونَ
Allah belum pernah berbicara dengan sesesorang kecuali dari balik hijab, dan Dia berbicara dengan ayahmu secara langsung. Allah berfirman: “Wahai hambaKu ! Berharaplah kepada-Ku, AKU memberimu “.
Ayah Jabir berkata: ” Wahai Tuhanku, hidupkan lagi aku, lalu aku terbunuh lagi untuk-Mu“.
Tuhan azza wajal menjawab: “ Telah menjadi ketentuan-KU bahwa mereka tidak akan  dikembalikan ke dunia lagi “. Lantas turunlah ayat :
وَلاَ  تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللهِ أَمْوَاتًا بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ(169)فَرِحِينَ بِمَا ءَاتَاهُمُ اللهُ مِنْ فَضْلِهِ وَيَسْتَبْشِرُونَ بِالَّذِينَ لَمْ يَلْحَقُوا بِهِمْ مِنْ خَلْفِهِمْ إلاَّ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ  هُمْ يَحْزَنُونَ(170)يَسْتَبْشِرُونَ بِنِعْمَةٍ مِنَ اللهِ وَفَضْلٍ وَأَنَّ اللهَ لاَ يُضِيعُ أَجْرَ الْمُؤْمِنِينَ
Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezki. mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka memberi kabar gembira terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Mereka bergirang hati dengan ni`mat dan karunia yang besar dari Allah, dan bahwa Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman.[4]
Hadis tsb diriwayatkan oleh Tirmidzi di nomor 3010, tetapi lemah karena ada perawi bernama Musa bin Ibrahim bin Katsir al anshori yang berkata benar tapi sering keliru. Karena itu Imam Tirmidzi sendiri menyatakan hadis tsb gharib/aneh. Dan Bukhori Muslim tidak meriwayatkannya.

Untuk Rasul Muhammad berbicara langsung dengan Allah, saya belum menjumpai dalilnya.

Setelah pembahasan di atas, maka jelaslah bagi kita semua bahwa ajaran kelompok orang-orang bodoh dalam beragama ini adalah ajaran sesat yang menyimpang sangat jauh dari petunjuk Al Quran dan As Sunnah, yang dengan mengamalkan ajaran ini -na’udzu billah min dzalik- seseorang bukannya makin dekat kepada Allah ‘azza wa jalla, tapi malah semakin jauh dari-Nya, dan hatinya bukannya makin bersih, akan tetapi malah semakin kotor dan penuh noda. Karena iblis senantiasa menjerat mereka dengan berbagai macam kesesatan, sehingga mereka membuat sunnah tersendiri bagi mereka. Mereka harus disanggah, karena itu kita tidak perlu ada sikap manis muka dalam menegakkan kebenaran. Jika tidak benar, maka kita tetap harus waspada terhadap perkataan yang keluar dari golongan mereka.


http://media.isnet.org/islam/Paramadina/Konteks/TasawufHN1.html


[1] http://media.isnet.org/islam/Paramadina/Konteks/TasawufHN1.html
[2] Al a`raf 143
[3]  As syura 51
[4] Ali imran 169-170  HR  Tirmizi, Sahih Ibnu Hibban  490/15, Nawadirul ushul 362/1 Tuhfatul ahwazi 286/8. Hilyatul auliya` 4/2
Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Pesan yang baik, jangan emosional.Bila ingin mengkeritisi, pakailah dalil yang sahih.Dan identitasnya jelas. Komentar emosional, tidak ditayangkan