Selasa, Februari 02, 2016

Jawabanku untuk Imam Nawawi dan Imam Syirazi



Jawabanku  untuk Imam Nawawi dan Imam Syirazi .
المجموع شرح المهذب - (ج 3 / ص 389)
فَالسُّنَّةُ الْجَهْرُ فِي رَكْعَتَي الصُّبْحِ وَالْمَغْرِبِ وَاْلعِشَاءِ وَفِى صَلاَةِ الْجُمْعَةِ وَالْاِسْرَارُ فِي الظُّهْرِ وَاْلعَصْرِ وَثَالِثَةِ الْمَغْرِبِ واَلثَّالِثَةِ وَالرَّابِعَةِ مِنَ اْلعِشَاءِ وَهَذَا كُلُّهُ بِاِجْمَاعِ الْمُسْلِمِيْنَ مَعَ اْلاَحَادِيْثِ الصَّحِيْحَةِ الْمُتَظَاهِرَةِ
Sunnahnya adalah membaca  jaher ( suara keras ) dalam dua rakaat Subuh, Maghrib,Isya` dan Shalat Jum`at. Sunnahnya  juga  memelankan bacaan ( berbisik – bisik , suara pelan )  dalam  shalat  lohor , Asar , rakaat ke tiga Maghrib, ketiga dan ke empat Isya`. Seluruhnya ini  berlandaskan  ijma` kaum muslimin  dengan hadis  - hadis  yang  sahih  yang  saling mendukung.  Al Majmu` syarah al Muhadz dzab 389/3. kata Imam Nawawi.

Komentarku ( Mahrus ali ):
Saya disini hanya mempermasalahkan “ sunnahnya  israr, sirr, baca pelan, berbisik  dalam shalat lohor dan Asar menurut Imam Nawawi adalah sudah menjadi ijma` kaum muslimin  di dukung dengan hadis – hadis sahih.
Kalau dilihat dalam kitab aslinya keterangannya  sbb:
قَالَ الشِّيْرَازِي فِي الْمُهَذَّبِ: وَيُسْتَحَبُّ اْلإِسْرَارُ فِي الظُّهْرِ وَاْلعَصْرِ وَالثَّالِثَةِ مِنَ اْلمَغْرِبِ وَاْلأُخْرَيَيْنِ مِنَ اْلعِشَاءِ ِلأَنَّهُ نَقْلُ اْلخَلَفِ عَنِ السَّلَفِ.
Imam Syirazi dalam kitab al Muhadz dzab berkata: Di sunnatkan baca dengan  sir ( pelan atau berbisik )  dalam shalat lohor , Asar , rakaat ke tiga Maghrib dan dua rakaat terahir Isya`  . sebab ia  di nukil / di kutip/ manqul generasi penerus ( akhir ) dari generasi dulu.
Komentarku ( Mahrus ali ):
Jadi argumentasinya bukan landasan hadis atau dalil tapi  shalat lohor dan Asar dengan bacaan berbisik  itu dari nenek moyang  dulu ( salaf ).
Ini bukan perkataan  ulama yang  punya ilmu tapi mirip dengan perkataan orang awam yang   bodoh. Juga mirip dengan alasan  orang – orang kafir sebagaimana  di jelaskan  dalam ayat :
وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَىٰ مَا أَنزَلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ قَالُوا حَسْبُنَا مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا ۚ أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُونَ
  Apabila dikatakan kepada mereka: "Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul". Mereka menjawab: "Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya". Dan apakah mereka itu akan mengikuti nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk?. Maidah 104.
Nenek  moyang ada yang  sesat dan ada yang  benar, ada yang  di jalan lurus dan ada yang  di jalan bengkong.
Bila landasan kita hanya salaf / nenek moyang , bukan dalil. Maka  kita ini  sama denga fanatisme dengan salaf lalu dalil dari Allah dan rasulNya akan di lemparkan. Fanatisme kepada  salaf lalu pendapat ulama  sekarang akan dibuang langsung  dan di abaikan tanpa memandang  dengan  dalil. Ikut salaf sekalipun menyalahi dalil. Inilah yang  menyesatkan  bangsa lalu dan tidak mengarahkan bangsa sekarang kepada kebenaran.
Perbuatan  salaf itu kadang benar , juga kadang salah. Begitu juga pendapat mereka. Kita  ini lebih baik ikut ulama sekarang yang  benar dari pada ulama  salaf yang  menyalahi dalil.
Imam Asy Syafi'i berkata:
أَجْمَعَ النَّاسُ عَلَى أَنَّ مَنِ اسْتَبَانَتْ لَهُ سُنَّةُ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ يَكُنْ لَهُ أَنْ يَدَعَهَا لِقَوْلِ أَحَدٍ مِنَ النَّاِس
"Para ulama bersepakat bahwa jika seseorang sudah dijelaskan padanya sunnah Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam tidak boleh ia meninggalkan sunnah demi membela pendapat siapapun"
[Diriwayatkan oleh Ibnul Qayyim dalam Al I'lam 2/361]
→ Imam Malik berkata:
إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ أُخْطِئُ وَأُصِيْبُ، فَانْظُرُوا فِي رَأْيِي؛ فَكُلُّ مَا وَاَفَقَ اْلكِتَابَ وَالسُّنَّةَ؛ فَخُذُوْهُ، وَكُلُّ مَا لَمْ يُوَافِقِ اْلكِتَابَ وَالسُّنَّةَ؛ فَاتْركُوْهُ
"Saya ini hanya seorang manusia, kadang salah dan kadang benar. Cermatilah pendapatku, tiap yang sesuai dengan Qur'an dan Sunnah, ambillah. Dan tiap yang tidak sesuai dengan Qur'an dan Sunnah, tinggalkanlah.."
[Diriwayatkan Ibnu 'Abdil Barr dalam Al Jami 2/32, Ibnu Hazm dalam Ushul Al Ahkam 6/149]
Karena itu, bila ada hilap, kita haram menjadikan rujukan kepada pendapat salaf, tapi wajib bagi kita untuk menjadikan dalil sebagai  fondasi kita. Kita ingat ayat:
فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللهِ  وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللهِ  وَالْيَوْمِ ا‏ ْلآ‏خِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلاً
Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan  Rasul  (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.[1]
Landasan Imam Nawawi dlm mensunnahkan  bacaan berbisik atau pelan dalam salat lohor dan Asar adalah Ijma` kaum muslimin.
Komentarku ( Mahrus ali ):
Kaum muslimin yang berijmak spt itu , kapan, di mana? Kalau di masa  sahabat , lihat ada riwayat sebaliknya sbb:
وَرُوِي عَنْ عُمَرَ أَنَّهُ كَتَبَ إِلَى أَبِي مُوسَى أَنِ اقْرَأْ فِي الظُّهْرِ بِأَوْسَاطِ الْمُفَصَّلِ وَرَأَى بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ أَنَّ الْقِرَاءَةَ فِي صَلَاةِ الْعَصْرِ كَنَحْوِ الْقِرَاءَةِ فِي صَلَاةِ الْمَغْرِبِ يَقْرَأُ بِقِصَارِ الْمُفَصَّلِ
Di riwayatkan dari Umar ra bahwa beliau kirim surat kepada Abu Musa agar membaca surat Al Mufasshol yang pertengahan dalam  shalat lohor  . Sebagian ahlil ilmi berpendapat bahwa bacaan dalam salat Asar  sebagaimana   bacaan dalam salat Maghrib ya`ni membaca  al mufasshol yang pendek – pendek [2]
فَلاَ إِجْمَاعَ إِلاَّ إِنْ كَانَ لَهُ دَلِيْلٌ ، وَمَا كَانَ غَيْرَ ذَلِكَ فَهُوَ قَوْلٌ ضَعِيْفٌ
Tiada ijmak kecuali disertai dengan dalil. Bila tidak menggunakan dalil, maka pendapat yang  lemah. Kata ahli usul.
Perkataan Imam Nawawi bahwa  shalat  siriyyah  lohor dan Asar , landasannya  adalah ijmak . Bila diikuti, maka kita ini  akan ikut pada ijmak siapa ? kapan  dan dimana?
Ijmak tersebut menyalahi dalil, menentang  ayat 110 Isra` yang melarang berbisik dalam bacaan  shalat   dan menentang  dengan dalil sahih bahwa Rasulullah shallahu alaihi wasallam menjaherkan shalat lohor dan Asar
Jabir  bin Samurah ra  berkata :
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ فِي الظُّهْرِ بِاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَى وَفِي الْعَصْرِ نَحْوَ ذَلِكَ وَفِي الصُّبْحِ أَطْوَلَ مِنْ ذَلِكَ
 Waktu salat Dhohor , Nabi saw,   membaca  :  Wallaili idza  Yaghsya  , salat Asar  membaca surat yang mirip dengannya  . Waktu salat Subuh , beliau membaca  surat  yang lebih panjang lagi [3]
Ada sebagian ulama menyatakan:
وكم من إجماعٍ نقلوه وهو أبطل من الباطل. ولنا أن نذكر مقولة الإمام أحمد: «من ادعى الإجماع فهو كاذب
Banyak  ijma` yang mereka kutip  ternyata paling keliru. Kita ingat perkataan Imam Ahmad : Barang siapa yang  menyatakan Ijma` adalah  pendusta.
Ibnu Taimiyah berkata:
ولكن كثير من المسائل يظن بعض الناس فيها إجماعا ولا يكون الأمر كذلك بل يكون القول الآخر أرجح في الكتاب والسنة.
Tapi banyak sekali masalah – masalah yang dikira sebagian manusia mendapat Ijma`. Tapi hakikatnya  tidak begitu. Bahkan perkataan lainya  lebih  rajih ( dominan ) dalam  kitab al Quran dan sunnah ( maksudnya pendapat yang lain lebih cocok  menurut  al quran dan sunnah ) . Lihat  di Majmu`  fatawa  juz 20





[1] Annisa`  59
[2] Sunan Tirmidzi  307
[3] HR Muslim  459
Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Pesan yang baik, jangan emosional.Bila ingin mengkeritisi, pakailah dalil yang sahih.Dan identitasnya jelas. Komentar emosional, tidak ditayangkan