Kamis, Oktober 08, 2015

Habib yang syirik dan keturunan Gajah mada yg bertauhid



Seorang habib membaca ini dengan lagu yang  merdu :
مَدَدْ يَا مَوْلاَنَا يَا حُسَين
Bantulah  aku wahai tuan kami , wahai Husain. ( vedio boleh dilihat di kronologi fb saya kiriman Ainun Na'im)


Saya lihat habib tsb di Youtube  membaca kalimat syirik itu bersama  dengan para habaib yang  lain. Dia tidak sendirian membaca kalimat  syirik itu , tapi bersama  habaib yang  lain. Masak mereka  tidak memahami bahwa minta – minta pada orang yang  mati itu  syirik .  Dan minta – minta pada Allah saja dalam berdoa adalah pangkal  tauhid.
 Madad  ya maulana ya Husain adalah  kalimat syirik sepi dari tauhid.  Pembacanya musyrik. Bila mati dan belum tobat akan bertempat di neraka selamanya dan tidak masuk surga selamanya . Sebab dosa syirik tidak bisa  di ampun  dan pahala tauhid adalah yang  sangat  disenangi Allah. Apakah tidak ingat dengan ayat ini :
إِنَّ اللهَ لاَ يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلاَلاً بَعِيدًا

Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya.  Nisa`  116 

Saya kira ada  di antara mereka yang  mengerti arti kalimat itu adalah minta bantuan kepada Husain  yang  telah meninggal dunia, bukan masih hidup.
Mungkin  juga keturunan dan pakaian  saja yang  membikin mereka terhormat lalu amaliyah kesyirikannya  terhina di mata sariat.

Mestinya  mereka yang  masih hidup  itu mendoakan kepada Husain dan kaum mukmin yang  lain yang  telah meninggal dunia  sesuai dengan ayat:
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ ءَامَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
Robbbanaghfir lanaa  wali ikhwaaninalladziina sabaquunaa bil iiman  walaa  taj`al fii quluubinaa ghillan  lil ladziina  aamanuu  robbanaa  innaka   rouufur rahiim .
“Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang”.[1]
Saya ingat fatwa komite tetap untuk kaijian ilmiyah dan fatwa sbb:


فَتَاوَى الْلَّجْنَةِ الْدَّائِمَةِ لِلْبُحُوْثِ الْعِلْمِيَّةِ وَالْإِفْتَاءِ - (ج 3 / ص 383)
الْسُّؤَالُ الْأَوَّلُ مِنَ الْفَتْوَى رَقْم (9406):
س1: مَا رَأْيُ الْدِّيْنِ فِي الْتَّصَوُّفِ الْمَوْجُوْدِ الْآنَ؟

ج1: أَوَّلاً: لاَ يُقَالُ: مَا رَأْيُ الْدِّيْنِ، وَلَكِنْ: مَا حُكْمُ الْإِسْلاَمِ فِي كَذَا. ثَانِياً: الْغَالِبُ عَلَى مَا يُسَمَّى بِالْتَّصَوُّفِ الْآنَ الْعَمَلُ بِالْبِدَعِ الْشِّرْكِيَّةِ مَعَ بِدَعٍ أُخْرَى كَقَوْلِ بَعْضِهِمْ: مَدَدْ يَا سَيِّد، وَنِدَائِهِمُ الْأَقْطَابَ، وَذِكْرِهِمُ الْجَمَاعِي فِيْمَا لَم يُسَمِّ الْلَّهُ بِهِ نَفْسَهُ مِثْلُ: هُو هُو وَآَه آَه آَه، وَمَن قَرَأَ كُتُبَهُمْ عَرَفَ كَثِيْراً مِن بِدَعِهِمِ الْشِّرْكِيَّةِ وَغَيْرِهَا مِن الْمُنْكَرَات.ِ
وَبِاللَّهِ الْتَّوْفِيْقُ. وَصَلََّى الْلَّهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ ، وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.
اللَّجْنَةُ الدَّائِمَةُ لِلْبُحُوْثِ الْعِلْمِيَّةِ وَالْإِفْتَاءِ
Fatwa Komite Tetap untuk Riset Ilmiah dan Fatwa Penerbitan - (c 3 / p. 383)
Pertanyaan pertama dari No  (9406):
S1: Bagaimana pandangan agama tentang tasawuf yang ada sekarang?
J 1: Pertama:Tidak di katakan: Bagaimana pandangan agama, tetapi Apa hukum Islam tentang perbuatan ini. Kedua: Sebagian besar  tasawuf  sekarang mengikuti  kebid`ahan yang syirik  dengan kebid`ahan  lain seperti perkataan  beberapa dari mereka: Mohon bantuanmu wahai Tuan ( Syaikh Abd Kadir Jailani ),

Mereka memanggil wali kutub,   dzikir bersama, tidak menyebutkan nama Allah sebagaimana Allah memberi nama untuk diriNya, seperti: Hu Hu Ah Ah, dan barang siapa yang membaca buku-buku mereka  akan tahu banyak bid`ah kesyirikan  mereka dan kemungkaran lainnya 
وَبِاللَهِ الْتَّوْفِيْق. وَصَلََّى الْلَّهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ ، وَآَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.
اللَّجْنَةُ الدَّائِمَةُ لِلْبُحُوْثِ الْعِلْمِيَّةِ وَالْإِفْتَاءِ

Komite Tetap untuk Riset Ilmiah dan Fatwa Penerbitan

Rugilah habib yang  baca madad yamulana  ya Husain dan beruntunglah  keturunan  gajah mada yang  menghindari kesyirikan.



 


[1]  Al hasyer 10
Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Pesan yang baik, jangan emosional.Bila ingin mengkeritisi, pakailah dalil yang sahih.Dan identitasnya jelas. Komentar emosional, tidak ditayangkan