Minggu, Juli 24, 2016

Awas! Para Militer China Diselundupkan untuk Kuasai dan Rusak Indonesia





Nusanews.com - Peringatan genting disampaikan pengamat kebijakan publik Budgeting Metropolitan Watch (BMW), Amir Hamzah, menyikapi skenario penguasaan China atas Indonesia.

Amir menyebutkan, di masa lalu, China pernah menjalankan skenario yang sama ketika menyerang Tibet. Dalam hal ini, skenario penguasaan Tibet itu bisa diterapkan penguasaan China untuk merusak dan menguasai Indonesia.

Dengan gaya yang terkesan santun, China membantu Tibet dalam membangun infrastruktur. “Proyek dikerjakan militer China, yang dikirim ke Tibet sebagai pekerja pada proyek-proyek investasi pembangunan kereta api, jalan dan proyek lainnya,” ungkap Amir kepada intelijen (21/07).

Menurut Amir, pada saat yang sudah ditentukan para pekerja China mengeluarkan senjata untuk menyerang polisi dan tentara, hingga akhirnya peradaban di Tibet hancur. “Negaranya hancur sampai sekarang, dan mereka dalam kekuasaan China,” beber Amir.



Terkait skenario itu, Amir Hamzah menilai, saat ini China sudah menjalankan skenario jahat itu. Yakni, selain berinvestasi di Indonesia, investor China juga telah ‘menyelundupkan’ para militer China ke Indonesia dengan dalih tenaga kerja proyek.

“Daerah pesisir Indonesia, dari Pelabuhan Belawan Bagian Timur Sumatera, kemudian masuk ke Banten, sampai akhirnya sampai ke Surabaya, sekitar 97 persen telah dikuasai oleh pekerja China,” papar Amir Hamzah.

Amir mengingatkan, ada kemungkinan apartemen-apartemen dan tempat-tempat tertentu di pesisir pantai telah digunakan sebagai tempat persembunyian untuk mengintai perairan Indonesia.

Di Sulawesi Tengah, kata Amir, ada pabrik nikel yang cukup besar, di mana sekitar 5.000 dari 6.700 pegawainya merupakan tenga kerja asal China. Belum lagi di Banten dan di Katapang.

“Coba bayangkan itu, jika sebagian besar di antara mereka adalah militer China yang sekarang banyak menyamar menjadi tenaga kerja di Indonesia. Tiba saatnya mereka akan menguasai Indonesia. Negara kita akan hancur,” pungkas Amir. (it)
*[NUSANEWS.com]*



Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Pesan yang baik, jangan emosional.Bila ingin mengkeritisi, pakailah dalil yang sahih.Dan identitasnya jelas. Komentar emosional, tidak ditayangkan