Jumat, Juni 03, 2011

Gus Miek Bertemu KH. Dalhar, Watucongol

Dalam http://alimasyhudi.wordpress.com/2010/11/15/kisah-menarik-perjalanan-gus-miek-kh-hamim-jazuli/
Gus Miek Bertemu KH. Dalhar, Watucongol
Dunia pesantren
Setelah menunjukkan kemampuannya kepada kedua orang tuanya, beberapa bulan kemudian Gus MIek melanjudkan studinya di Lirboyo. Di tengah-tengah pendidikannya di Lirboyo, Gus Miek justru pergi ke Watucongol Magelang, ke pondok pesantren yang diasuh KH. Dalhar yang terkenal sebagai seorang wali di Jawa Tengah.
KH. Dalhar adalah seorang di antara tiga wali yang termasyhur di Jawa Tengah. Ketiga wali itu adalah KH. Hamid, Kajoran, Magelang, sebagai wali dakwah; dan KH. Dalhar sendiri sebagai wali hakikat. Akan tetapi, sejak KH. Dalhar wafat pada 1959, menurut sebagian pendapat, posisinya digantikan KH. Mangli, Muntilan, Magelang.
Awal kedatangannya di Watucongol pada 1954, Gus Miek tidak langsung mendaftarkan diri menjadi santri, tetapi hanya memancing di kolam pondok yang dijadikan tempat pemandian. Hal itu sering dilakukannya pada setiap datang di Watucongol kebiasaannya memancing tanpa memakai umpan, terutama di kolam tempat para santri mandi dan mencuci pakaian, membuat Gus Miek terlihat seperti orang gila bagi orang yang belum mengenalnya. Setelah beberapa bulan dengan hanya datang dan memancing di kolam pemandian, ia lalu menemui KH. Dalhar dan meminta izin untuk belajar.
Kiai, saya ingin ikut belajar kepada kiai, kata Gus Miek ketika itu.
Belajar apa tho, Gus, kok kepada saya, tanya KH. Dalhar.
Saya ingin belajar Al Quran dan Kelak ingin saya sebarkan, jawab Gus Miek dengan mantap.
KH. Dalhar akhirnya mau menerima Gus Miek sebagai muridnya, khusus untuk belajar Al Quran. Akan tetapi, Gus Miek tidak hanya sampai di situ saja, ia berulang kali juga meminta berbagai ijazah amalan untuk menggapai cita-cita, tanggung jawab, dan ketenangan hidupnya. Seolah ingin menguras habis semua ilmu yang ada pada KH. Dalhar, terutama dalam hal kapasitas KH. Dalhar sebagai seorang wali, mursyid tarekat, dan pengajar Al Quran. Gus Miek juga seolah ingin mempelajari bagaimana seharusnya menjadi seorang wali, apa saja yang harus dipenuhi sebagai seorang mursyid, dan seorang pengajar Al Quran.
Setiap kali Gus Miek meminta tambahan ilmu, KH. Dalhar selalu menyuruh dia membaca Al Fatehah. Apa pun bentuk permintaan Gus Miek, KH. Dalhar selalu menyuruhnya mengamalkan Al Fatehah.
Barangkali karena ajaran KH. Dalhar sersebut, Gus Miek banyak memberikan ijasah bacaan Al Fatehah kepada para pengikutnya untuk segala urusan. Bahkan apabila ingin berhubungan dengan Gus Miek, cukup dengan membacakan Al Fatehah saja. Dan, bisa jadi inilah yang mengilhami Gus Miek (di samping ijasah yang diberikan oleh Imam Al Ghazali dalam Ihya Ulumuddin yang disampaikan kepada adiknya) menerapkan ajaran sejumlah bacaan Al Fatihah dalam kegiatan wirid Lailiyah yang didirikannya pada tahun 1961, yang kemudian berkembang menjadi Dzikrul Ghofilin pada 1973..
KH. Dalhar,bagi Gus Miek, adalah satu-satunya orang yang dianggap sebagai guru dunia dan akhirat. Oleh karena itu, selama berada di Watucongol, Gus Miek dengan telaten selalu membersihkan terompah KH. Dalhar, dan menatanya untuk lebih mudah dipakai ketika KH. Dalhar naik ke masjid. Menurut Gus Miek, hal itu dilakukan sebagai upayanya untuk belajar istiqamah. Sebab istiqamah, menurut ajaran KH. Djazuli, ayahnya, adalah lebih utama dari 1000 karomah. Oleh karena itu, dalam rangka melatih keistiqomahannya, Gus Miek memulai dengan istiqomah membersihkan dan menata terompah KH. Dalhar gurunya.
Pernah, di suatu hari, Gus Miek menemukan trompah KH. Dalhar yang biasanya ada di depan kamar ada dua buah yang sama persis baik ukuran maupun bentuknya sehingga ia tidak bisa membedakannya. Bungkul (tangkai tempat menjepit antara jari kaki) terompah KH. Dalhar terbuat dari emas, terompah yang satu juga sama. Akhirnya, ia membersihkan dan menata keduanya sambil menunggu siapakah tamu gurunya itu. Sekian lama ia menunggu sampai terkantuk-kantuk, tetapi terompah itu tetap dua buah jumlahnya. Ketika sesaat ia terlena, terompah itu tinggal satu. Ia terkejut, kemudian berlari jauh keluar pondok untuk melihat tamu tersebut sepanjang jalan sehingga nafasnya tersengal-sengal. Tetapi, jalan tampak sepi dan tidak ada seorang pun terlihat melintas. Padahal, menurut perkiraan Gus Miek, orang tua yang berjalan memakai terompah itu pasti belum jauh dan seharusnya sudah terkejar atau justru berada jauh di belakangnya.
Esok harinya, Gus Miek menemui KH. Dalhar yang baru turun dari masjid memimpin jamaah shalat Zuhur, sesampai di kamarnya Gus Miek bertanya: Maaf, Guru, tamu Guru tadi malam itu siapa?
KH. Dalhar tidak menjawab, sementara Gus Miek tidak mau beranjak sebelum mendapatkan jawaban. Gus Miek tetap duduk menunggu jawaban dari KH. Dalhar. Ketika KH. Dalhar beranjak ke masjid untuk mengimami shalat Ashar, ia mengikutinya untuk menata terompah KH. Dalhar. Dan, ketika KH. Dalhar kembali ke kamar, Gus Miek pun kembali mengikutinya dan duduk di depan kamar untuk menunggu jawaban. Demikian juga ketika saat tiba waktu shalat Maghrib dan Isya. Sehingga, baru ketika sesudah Isya, KH. Dalhar menyuruh pembantunya memberi tahu bahwa tamunya semalam adalah Nabi  Khodhir . Setelah mendapatkan jawaban itu, barulah ia mau beranjak dari tempat duduknya. Menurut keterangan Nyai Dalhar, dari sekian banyak santri KH. Dalhar, hanya Gus Miek yang berani dan diizinkan masuk ke kamar KH. Dalhar.
Kegiatan Gus Miek di Watucongol selain mengaji Al Quran, Gus Miek juga tetap sering bepergian ke pasar-pasr, tempat hiburan, dan mengadu ayam jago. Kebiasaan ini membuat Gus Miek sering harus berhadapan dengan Gus Mad, putra KH. Dalhar, yang kebetulan saat itu memegang tanggung jawab sebagai keamanan pondok karena Gus Miek dianggap sering tidak disiplin. Sedangkan santri yang sering menemani Gus Miek saat di Watucongol adalah Bakri (KH.Bakri), kini pengasuh Pesantren Al Quran, Jampiroso, Kacangan, Boyolali.
Pernah Gus Miek menyuruh beberapa gus di Kediri agar buru-buru mondok di tempat KH. Dalhar karena dia akan meninggal. Semua berbondong ke tempat KH. Dalhar. Saat itu, Gus Miek menyatakan bahwa KH. Dalhar akan meninggal sekitar 23 Ramadhan 1959, begitu semua datang ke Watucongol, ternyata KH. Dalhar masih sehat. Tercatat di antara orang-orang yang pergi ke Watucongol adalah KH. Mubasyir Mundzir dan Gus Fuad (adik Gus Miek).
Pernah KH. Djazuli menugaskan Gus Nurul Huda untuk datang ke Watucongol mewakili KH. Djazuli untuk menyerahkan adik-adiknya yang mondok ke Watucongol. Di Watucongol, Gus Huda di samping menyerahkan adik-adiknya kepada KH. Dalhar sebagaimana amanat KH. Djazuli, juga meminta maaf bila  adiknya, Gus Miek, banyak melakukan kekeliruan di Watucongol. Tetapi, jawab KH. Dalhar waktu itu justru sangat mengejutkan Gus Huda, Gus Miek itu difatihahi mental, jawab KH. Dalhar. Gus Huda hanya tersenyum karena dia sudah paham akan adiknya yang satu itu.
Dalam versi yang lain diceritakan bahwa bukan Gus Huda yang menyerahkan Gus Miek, tetapi kebalikannya. Saat itu, Gus Huda dan Gus Fuaad disuruh KH. Djazuli agar mondok ke KH. Dalhar. Saat hendak berangkat, Gus Miek masih duduk di teras dengan hanya memakai celana pendek.
Mau ke mana, Mas Dah? tanya Gus Miek.
Aku disuruh bapak mondok ke Jawa Tengah dengan Fuad, jawab Gus Huda.
Keduanya kemudian berangkat dengan naik kereta api. Sesampainya di Watucongol, ternyata Gus Miek sudah berada di teras pondok dengan pakaian masih seperti tadi pagi ketika di kediri.
Kenapa di sini? tanya Gus Huda yang sudah mengenal kelebihan adiknya.
Mengantar kalian kepada Kiai Dalhar, jawab Gus Miek.
Aku tidak mau kalau pakaianmu seperti itu, jawab Gus Huda sambil memberikan pakaiannya ke pada Gus Miek untuk berganti pakaian.
Mereka bertiga kemudian sowan. Setelah sowan, Gus Miek mengantarkan memilih kamar dan setelah itu hilang entah ke mana dengan meninggalkan pakaian Gus Huda.
Akhirnya, semua memburu Gus Miek karena dianggap telah berbohong perihal kematian KH. Dalhar. Tetapi semua menjadi terdiam ketika 25 Ramadhan 1959, KH. Dalhar benar-benar meninggal dunia.
From : Dzikrulghofilinboja.blogspot.com
Komentarku ( Mahrus ali ):
Dalam artikel itu di terangkan :
KH. Dalhar sendiri sebagai wali hakikat
Komentarku ( Mahrus ali ) :
  Ajaran Islam tidak pernah menyatakan adanya wali hakikat , itu ajaran ahli bid`ah  tanpa dalil , wali itu harus terkendali dengan sariat .  Dan saya tidak ingin mendengar kalimat yang tidak berlandaskan kepada  al quran dan hadis. Sebab saya ingin ajaran yang lurus . 
Dalam artikel itu di katakan :
Sehingga, baru ketika sesudah Isya, KH. Dalhar menyuruh pembantunya memberi tahu bahwa tamunya semalam adalah Nabi  Khodhir .
Komentarku ( Mahrus ali ) :
 Tentang kedatangan Khadhir itu belum tentu sungguhan . Dan mayat Khadhir  tidak akan hidup lagi lalu datang kepada KH Dalhar . Apakah tidak punya perkiraan bahwa malaikat yang datang kepadanya ?
Maaf ! Malaikat  tidak datang kepada Imam Madzhab empat ,. Tabi`in dan ulama dulu , lalu apakah kepada ahli bid`ah , malaikat itu datang . Ini tidak rasional sekali . Bila yang datang itu jin yang mengaku Khadhir , itu sangat layak . Sebab , jin suka menipu.

   Bacalah komentar Ibnu taimiyah sbb:
قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ لَمْ يَبْعَثْ اللهُ نَبِيًّا إلاَّ أَخَذَ عَلَيْهِ الْمِيثَاقَ لَئِنْ بُعِثَ مُحَمَّدٌ وَهُوَ حَيٌّ لَيُؤْمِنَنَّ بِهِ وَلَيَنْصُرَنَّهُ وَأَمَرَهُ أَنْ يَأْخُذَ الْمِيثَاقَ عَلَى أُمَّتِهِ لَئِنْ بَعَثَ مُحَمَّدًا وَهْم أَحْيَاءُ لَيُؤْمِنَنَّ بِهِ وَلَيَنْصُرَنَّهُ . وَلَمْ يَذْكُرْ أَحَدٌ مِنْ الصَّحَابَةِ أَنَّهُ رَأَى الْخَضِرَ وَلاَ  أَنَّهُ أَتَى إلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللُهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِنَّ الصَّحَابَةَ كَانُوا أَعْلَمَ وَأَجَلَّ قَدْرًا مِنْ أَنْ يُلَبِّسُ الشَّيْطَانُ عَلَيْهِمْ ؛ وَلَكِنْ لَبَّسَ عَلَى كَثِيرٍ مِمَّنْ بَعْدَهُمْ فَصَارَ يَتَمَثَّلُ ِلأَحَدِهِمْ فِي صُورَةِ النَّبِيِّ وَيَقُولُ : أَنَا الْخَضِرُ وَإِنَّمَا هُوَ شَيْطَانٌ كَمَا أَنَّ كَثِيرًا مِنْ النَّاسِ يَرَى مَيِّتَهُ خَرَجَ وَجَاءَ إلَيْهِ وَكَلَّمَهُ فِي أُمُورٍ وَقَضَى حَوَائِجَ فَيَظُنُّهُ الْمَيِّتَ نَفْسَهُ وَإِنَّمَا هُوَ شَيْطَانٌ تَصَوَّرَ بِصُورَتِهِ وَكَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ يَسْتَغِيثُ بِمَخْلُوقِ إمَّا نَصْرَانِيٍّ كجرجس أَوْ غَيْرِ نَصْرَانِيٍّ فَيَرَاهُ قَدْ جَاءَهُ وَرُبَّمَا يُكَلِّمُهُ وَإِنَّمَا هُوَ شَيْطَانٌ تَصَوَّرَ بِصُورَةِ ذَلِكَ الْمُسْتَغَاثِ بِهِ لَمَّا أَشْرَكَ بِهِ الْمُسْتَغِيثُ تَصَوَّرَ لَهُ كَمَا كَانَتْ الشَّيَاطِينُ تَدْخُلُ فِي اْلأَصْنَامِ وَتُكَلِّمُ النَّاسَ وَمِثْلُ هَذَا مَوْجُودٌ كَثِيرٌ فِي هَذِهِ اْلأَزْمَانِ فِي كَثِيرٍ مِنْ الْبِلاَدِ وَمِنْ هَؤُلاَءِ مَنْ تَحْمِلُهُ الشَّيَاطِينُ فَتَطِيرُ بِهِ فِي الْهَوَاءِ إلَى مَكَانٍ بَعِيدٍ وَمِنْهُمْ مَنْ تَحْمِلُهُ إلَى عَرَفَةَ فَلاَ يَحُجُّ حَجًّا شَرْعِيًّا وَلاَ  يُحْرِمُ وَلاَ  يُلَبِّي وَلاَ يَطُوفُ وَلاَ يَسْعَى ؛ وَلَكِنْ يَقِفُ بِثِيَابِهِ مَعَ النَّاسِ ثُمَّ يَحْمِلُونَهُ إلَى بَلَدِهِ . وَهَذَا مِنْ تَلاَعُبِ الشَّيَاطِينِ بِكَثِيرِ مِنْ النَّاسِ كَمَا قَدْ بُسِطَ الْكَلاَمُ فِي غَيْرِ هَذَا الْمَوْضِعِ . وَاللهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ . وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ

Ibnu Abbas ra  berkata : Allah tidak akan mengutus Nabi SAW  kecuali mengambil perjanjian  bila Muhammad  diutus dan dia hidup , maka  harus beriman dan membelanya dan memrintahnya untuk mengambil perjanjian kepada umatnya : Bila Muhammad   diutus , dan mereka  hidup , maka mereka harus beriman kepadanya dan  membelanya . Tiada seorang sahabat yang mengaku  pernah melihat Khodhir  atau datang kepada Nabi SAW . Mereka lebih tahu dan martabanya lebih  tinggi  dan jarang sekali setan akan menjelma kepada mereka .
Setan  mngganggu kepada  generasi setelah sahabat , lalu  menjelma menjadi nabi , lalu berkata : Akulah  Khodhir . Pada hal dia adalah  setan
Ada  orang yang bisa melihat mayat , lalu mayat keluar dan datang kepadanya , dan berbicara   beberapa  hal  , atau menunaikan  kebutuhan – kebutuhan . Dia mengira bahwa  itu adalah mayat sungguhan . Pada hal ia adalah setan  yang menjelma menjadi  gambar seperti itu
Banyak sekali orang – orang  minta bantu  kepada   mahluk  , ada akalanya   kristiani  seperti jorjus  atau bukan nasrani , lalu melihatnya  , dan dia juga datang , terkadang  berbicara dengannya.  Hakikatnya ia adalah setan yang menjelma menjadi mahluk yang dimintai bantuan itu . 
Bila orang yang minta bantuan itu melakukan kesyirikan , baru setan datang menjelma kepadanya   sebagaimana setan – setan telah masuk kepada berhala – berhala  dan bisa berbicara kepada manusia .  Hal sedemikian ini  juga ada banyak di masa sekarang  di berbagai negara .
Diantara mereka juga ada orang yang di bawa terbang oleh setan  ke tempat yang jauh , ada yang ke Arofah , jadi tidak melakukan haji yang beneran . Dia  tidak berihram , tidak bertalbiyah  dan tidak tawaf atau sa`I , tapi wukuf saja di sana  lalu di kembalikan ke negaranya
Ini termasuk permainan setan sebagaimana  yang telah di terangkan di lain  tempat [1]
Ibnu taimiyah sbb:
وَلاَ كَانَ فِيهِمْ مَنْ قَالَ إنَّهُ أَتَاهُ الْخَضِرُ فَإِنَّ خَضِرَ مُوسَى مَاتَ كَمَا بَيَّنَ هَذَا فِي غَيْرِ هَذَا الْمَوْضِعِ وَالْخَضِرُ الَّذِي يَأْتِي كَثِيرًا مِنْ النَّاسِ إنَّمَا هُوَ جِنِّيٌّ تَصَوَّرَ بِصُورَةِ إنْسِيٍّ أَوْ إنْسِيٌّ كَذَّابٌ وَلاَ  يَجُوزُ أَنْ يَكُونَ مَلَكًا مَعَ قَوْلِهِ أَنَا الْخَضِرُ فَإِنَّ الْمَلِكَ لاَ يَكْذِبُ وَإِنَّمَا يَكْذِبُ الْجِنِّيُّ وَاْلإِنْسِيُّ . وَأَنَا أَعْرَفُ مِمَّنْ أَتَاهُ الْخَضِرُ وَكَانَ جِنِّيًّا مِمَّا يَطُولُ ذِكْرُهُ فِي هَذَا الْمَوْضِعِ
Di kalangan sahabat tiada orang yang menyatakan kedatangan Nabi  Khodhir  , sebab  Khodhir  teman Musa itu telah meninggal dunia  sebagaimana  di jelaskan di tempat lain . dan  Khodhir  yang datang  kepada kebanyakan  orang adalah jin yang menjelma menjadi manusia  atau  manusia  pendusta . Dan tidak mungkin malaikat . Sebab malaikat tidak akan dusta . Hanya jin atau manusia yang dusta . Sungguh aku mengetahui orang yang kedatangan  Khodhir  yang  dari jin yang menjelma , dan keterangan hal ini panjang di tempat lain . [2]

Dalam artikel itu di jelaskan lagi :
Keduanya kemudian berangkat dengan naik kereta api. Sesampainya di Watucongol, ternyata Gus Miek sudah berada di teras pondok dengan pakaian masih seperti tadi pagi ketika di kediri
Kenapa di sini? tanya Gus Huda yang sudah mengenal kelebihan adiknya.
Mengantar kalian kepada Kiai Dalhar, jawab Gus Miek.
Komentarku ( Mahrus ali ):
  Bila  gus Miek , sariatnya bagus , saya belum bisa percaya kewaliannya , sebab kewalian itu tidak hanya di tandai dengan keanehan. Apalagi  realitanya , sariat Gus miek sangat parah. Bahkan orang awam malu melakukannya ,  suka ke Diskotiik , tempat PSK dan minum bir hitam . Ini menunjukkan dia bukan orang muttaqin. Tentang bisa datang ke Jawa tengah dari Kediri itu suatu yang pernah di lakukan oleh Jin Ifrit  usul untuk membawa Ratu Bulkis ke Nabi Sulaiman sebelum Nabi Sulaiman bangkit dari singgasananya  sebagaimana ayat sbb:
قَالَ يَاأَيُّهَا الْمَلَأُ أَيُّكُمْ يَأْتِينِي بِعَرْشِهَا قَبْلَ أَنْ يَأْتُونِي مُسْلِمِينَ(38)قَالَ عِفْريتٌ مِنَ الْجِنِّ أَنَا ءَاتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَنْ تَقُومَ مِنْ مَقَامِكَ وَإِنِّي عَلَيْهِ لَقَوِيٌّ أَمِينٌ(39)قَالَ الَّذِي عِنْدَهُ عِلْمٌ مِنَ الْكِتَابِ أَنَا ءَاتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَنْ يَرْتَدَّ إِلَيْكَ طَرْفُكَ فَلَمَّا رَآهُ مُسْتَقِرًّا عِنْدَهُ
"Maka berkatalah Sulaiman (as) : siapakah diantara kalian yg dapat membawakan Singgasananya (Singgasana Ratu Balqis) kehadapanku sebelum mereka datang menyerahkan diri?, maka berkatalah seorang Ifrit dari golongan Jin : Aku akan membawakannya padamu sebelum kau berdiri dari kursimu!, sungguh aku memiliki kekuatan dan dapat dipercaya!, Maka berkatalah seseorang yg memiliki ilmu dari kitabullah : Aku akan membawakannya padamu (singgasana Ratu Balqis) sebelum engkau mengedipkan matamu, maka ketika Sulaiman (as) melihat singgasana itu dalam sekejap sudah tegak dihadapannya…" (QS Annaml 39-41)
Buletin Al-Hujjah Vol: 07-IX/Rabi'ul Awwal-1429H/Mar-08
Sebagaimana dikatakan Imam Syafi’i:
“Bila kamu melihat seseorang berjalan di atas air atau terbang di udara maka ukurlah amalannya dengan Sunnah”.
Diriwayatkan dalam kisah seseorang bernama Mukhtar bin Abi ‘Ubaid. Dia mengaku sebagai Nabi yang menerima wahyu, lalu seseorang berkata kepada Ibnu ‘Umar dan Ibnu ‘Abbas: Sesungguhnya Mukhtar mengaku diturunkan ke padanya wahyu ? Dua orang sahabat tersebut menjawab : Benar (wahyu dari setan), kemudian salah seorang dari mereka membaca firman Allah:
“Maukah kamu Aku beritakan kepada siapa turunnya para setan? Mereka turun kepada setiap pendusta yang banyak dosa”. (QS. Asy Syu’araa: 221-222).
Dan yang lain membaca firman Allah,
“Dan sesungguhnya para setan itu Mewahyukan kepada wali wali mereka untuk membantahmu”. ( QS. Al- An’aam:121).
Oleh sebab itu bila seseorang mendapat ilham dia tidak boleh langsung percaya sampai ia mengukur kebenarannya dengan Al-Quran dan Sunnah. Karena Nabi menyebutkan dalam sebuah hadits :
“ Sesungguhnya dalamdiri anak Adam terdapat bisikan dari setan dan bisikan dari malaikat”. (HR. At-Tirmidzy no. 2988)
Berkata Abu Sulaiman Ad-Daraany:
“Boleh jadi terbetik di hatiku apa yang terbetik di hati mereka (orang-orang sufi) maka aku tidak menerimanya kecuali dengan dua saksi dari Kitab dan Sunnah.”


[1]  Majmu` fatawa libni Taimiyah  192/6
[2] Majmu` fatawa libni Taimiyah  76/1
Artikel Terkait

9 komentar:

  1. pada dasarnya sah sah saja, orang berkomentar, beda itu indah..namun yang seharusnya di kacamatai..adalah mengacu kepada pendapat satu ulama saja ..tentu kurang bijaksana..boleh kita cinta dengan Ibnu Taimiyah..tapi jangan semua pendapatnya.. dijadikan dalil penguat..siapa saja.. ibnu taimiyah juga punya salah..jadi alangkah bijak..jika semua pendapat itu di sear sehingga kita tidak termasuk orang yang terlalu berfanatik kepada salah satu ulama saja..trims.

    BalasHapus
  2. Saya bukan fanatik satu figur, tapi saya ikut kebenaran yang cocok dengan dalil, lalu mana yang kamu anggap salah?

    BalasHapus
  3. hanya orang yang sama-sama wali yang bisa tau kewaliyan seseorang, maaf untuk komen nya mahrus ali, antum mungkin belum sampai kepada hakikatnya gus Miek kenapa beliau pergi ketempat seperti itu. afwan.

    BalasHapus
  4. hanya seorang wali yang tau kewaliyan seseorang, kalau disana Mahrus ali berkomentar untuk Gus miek " Bila gus Miek , sariatnya bagus , saya belum bisa percaya kewaliannya , sebab kewalian itu tidak hanya di tandai dengan keanehan. Apalagi realitanya , sariat Gus miek sangat parah. Bahkan orang awam malu melakukannya , suka ke Diskotiik , tempat PSK dan minum bir hitam . Ini menunjukkan dia bukan orang muttaqin" disana tidak dikatakan Gus miek mnum bir hitam, antum mungkin mengigau ngomongnya, kalaupun gus miek pergi ke tempat seperti itu, beliau pasti untuk menyadarkan orang yg disana, karena jarang yang perduli ketempat seperti itu. afwan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Anda menyatakan: hanya seorang wali yang tau kewaliyan seseorang ". Itu pendapat anda? ataukah hadis, ayat? Tolong tunjukkan dalilnya, jangan sembarang ngomong dalam agama

      Hapus
  5. Yang namanya wali... pastinya tidak mempunyai kontroversi. Semua menganggap ia mulia.

    BalasHapus
  6. Mungkin anda bukan orang pertama yg berpendapat seperti itu,orang2 wahabi jg ramai membahas ginian, nah sekarang faktanya anda kerap kali "ngila'i/jengkali" mereka semua dg modal keilmuan yg anda miliki sekarang,kalau pun benar adanya,manfaat nya dmna?dan kalau trnyata anda yg salah lantas apakah bukan fitnah..yg perlu dilihat juga adalah untuk saat ini sudah berapa banyak ayat alQur'an yg anda pahami, dan sudah berapa banyak hadist shohih yg sudah anda tau? Mungkin perlu ditambah lg perbendaharaan nya sebelum berpendapat demikian itu semua,. Terimakasih,.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Untuk ariev dwi

      Mana yang salah dlm artikel itu?

      Hapus
  7. assalamu'alaikum...
    tidak ada yang salah dalam artikel diatas...hanya saja tidak akan ketemu ujungnya antara pemberi komentar dengan apa yang di komentari...menyitir dari al-qur'an...bagaimana sombongnya nabi Musa a.s atas kepandaiannya, atas ilmu2nya...lalu Allah mempertemukannya dengan Nabi Khaidir...Keilmuan nabi Musa Blm bisa menjawab atas apa yang dilakukan Nabi Khaidir dengan Ilmu Hakikatnya...Sehingga beliau menanyakan kebenarannya menurut pemahaman syari'at nabi Musa a.s..sama halnya dg komentar anda pada artikel diatas...selalu menanyakan syari'atnya, dalilnya, kitabnya, dsb...

    BalasHapus

Pesan yang baik, jangan emosional.Bila ingin mengkeritisi, pakailah dalil yang sahih.Dan identitasnya jelas. Komentar emosional, tidak ditayangkan