· Abu Hurairah ra berkata:
·
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعَلِّمُنَا
يَقُولُ لَا تُبَادِرُوا الْإِمَامَ إِذَا كَبَّرَ فَكَبِّرُوا وَإِذَا قَالَ
وَلَا الضَّالِّينَ فَقُولُوا آمِينَ وَإِذَا رَكَعَ فَارْكَعُوا وَإِذَا قَالَ
سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ فَقُولُوا اللَّهُمَّ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ
·
Rasulullah SAW mengajari
kita, lalu bersabda: Jangan mendahului imam. Bila bertakbir, bertakbirlah. Bila
membaca waladh dholliin, bacalah aamin. Bila rukuk, rukuklah. Bila membaca sami aalohu liman
hamidah, bacalah allohumma robbanaa
lakal hamd. [1]
·
قَالَ أَيُّوبُ فَقُلْتُ لِأَبِي قِلَابَةَ وَكَيْفَ كَانَتْ صَلَاتُهُ
قَالَ مِثْلَ صَلَاةِ شَيْخِنَا هَذَا يَعْنِي عَمْرَو بْنَ سَلِمَةَ قَالَ
أَيُّوبُ وَكَانَ ذَلِكَ الشَّيْخُ يُتِمُّ التَّكْبِيرَ وَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ
عَنْ السَّجْدَةِ الثَّانِيَةِ جَلَسَ وَاعْتَمَدَ عَلَى الْأَرْضِ ثُمَّ قَامَ
·
Ayyub berkata: Aku berkata kepada Abu Qilabah:
Bagaimana tata cara salatnya sahabat Malik bin Al Huwairits: Dia menjawab: “
Seperti salat guru kita ya`ni Amar bin Salamah “. Ayyub berkata: “ Guru kita
itu bertakbir dengan sempurna. Bila bangun dari sujud yang kedua, beliau duduk
dan bertumpu ke tanah, lalu berdiri. ( tanpa sedekap )[2]
·
Said bin Al Harits berkata:
·
صَلَّى لَنَا أَبُو سَعِيدٍ فَجَهَرَ بِالتَّكْبِيرِ
حِينَ رَفَعَ رَأْسَهُ مِنْ السُّجُودِ وَحِينَ سَجَدَ وَحِينَ رَفَعَ وَحِينَ
قَامَ مِنْ الرَّكْعَتَيْنِ وَقَالَ هَكَذَا رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
·
Abu said melakukan salat untuk kami, lalu beliau
membaca takbir dengan keras ketika bangun dari sujud, ketika sujud, ketika berdiri
( tanpa sedekap ) dari dua rakaat. Beliau berkata:
Beginilah aku melihat Nabi SAW melakukan salat. [3]
lemah karena ada perawi bernama Fulaih bin Sulaiman , tapi isinya benar karena didukung hadis sahih.
Seluruh hadis tsb tiada keterangan sedekap dalam salat Rasul.
Artikel Terkait
Tanpa sedekap
- sedekap atau tidak dalam salat
- Salat tanpa sedekap - kajianku ke 47
- Salat tanpa sedekap - kajianku ke 46
- Salat tanpa sedekap - kajianku ke 45
- Salat tanpa sedekap - kajianku ke 44
- Salat tanpa sedekap - kajianku ke 43
- Salat tanpa sedekap. - kajianku ke 41
- Salat tanpa sedekap - kajianku ke 40
- Salat tanpa sed ekap - kajianku ke 39
- Salat tanpa sedekap ke 38
- Salat tanpa sedekap - kajianku ke 38
- Salat tanpa sedekap. Kajianku ke 37
- Salat tanpa sedekap - kajianku ke 36
- Salat tanpa sedekap - kajianku ke 35
- Salat tanpa sedekap - kajianku ke 34
- Salat tanpa sedekap - kajianku ke 33
- Salat tanpa sedekap - kajianku ke 32
- Salat tanpa sedekap - kajianku ke 32
- Salat tanpa sedekap - kajianku ke 31
- Salat tanpa sedekap - kajianku ke 30
- Salat tanpa sedekap- kajianku ke 29
- Salat tanpa sedekap - kajianku ke 28.
- Salat tanpa sedekap - kajianku ke 27
- Salat tanpa sedekap - kajianku ke 26
Assalamualaikum wr wb.
BalasHapusBukankah istilah dekapan atau ‘adhmum’ itu sudah tergambar dalam Al Quran seperti termuat dalam:
Masukkanlah tanganmu ke (melalui) leher bajumu (dan kepitkanlah ke ketiakmu), niscaya ia keluar putih tidak bercacat bukan karena penyakit, dan (lalu) dekapkanlah kedua tanganmu (ke dada)mu bila (datang rasa) ketakutan, maka yang demikian itu adalah dua (anugerah) tanda bukti (mu'jizat=tongkat dan ketenangan jiwa) dari Tuhanmu (yang akan kamu gunakan kepada Fir'aun dan pembesar-pembesarnya). Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang fasik" (QS. 28:32)
Dan kepitkanlah tanganmu ke ketiakmu, niscaya ia ke luar menjadi putih cemerlang tanpa cacad, sebagai mu'jizat yang lain (pula) (QS. 20:22)
(terjemahan bebas)
Mohon pencerahan Ustadz?