B pk. Swandi Bekasi kirim
sms sbb:
Assalamu'alaikum ustadz, saya
mau tanya apakah sistim bunga di bank semua termasuk riba yang dilarang ?
Saya
jawab:
pahamsy ribaseluruhnya
Komentarku ( Mahrus
ali):
Ust Muhammad
Abduh Tuasikal menulis sbb:
Riba pada Bunga Bank
Apapun namanya, bunga ataukah fawaid, tetap perlu dilihat hakekatnya. Keuntungan apa saja yang diambil dari utang piutang, senyatanya itu adalah riba walau dirubah namanya dengan nama yang indah. Inilah riba yang haram berdasarkan Al Qur’an, hadits dan ijma’ (kesepakatan) ulama. Para ulama telah menukil adanya ijma’ akan haramnnya keuntungan bersyarat yang diambil dari utang piutang. Apa yang dilakukan pihak bank walaupun mereka namakan itu pinjaman, namun senyatanya itu bukan pinjaman. Mufti Saudi Arabia di masa silam, Syaikh Muhammad bin Ibrahim rahimahullah berkata,
“Secara
hakekat, walaupun (pihak bank) menamakan hal itu qord (utang piutang), namun
senyatanya bukan qord. Karena utang piutang dimaksudkan untuk tolong menolong
dan berbuat baik. Transaksinya murni non komersial. Bentuknya adalah
meminjamkan uang dan akan diganti beberapa waktu kemudian. Bunga bank itu
sendiri adalah keuntungan dari transaksi pinjam meminjam. Oleh karena itu yang
namanya bunga bank yang diambil dari pinjam-meminjam atau simpanan, itu adalah
riba karena didapat dari penambahan (dalam utang piutang). Maka keuntungan
dalam pinjaman dan simpanan boleh sama-sama disebut riba.”
Tulisan singkat di atas diolah dari
penjelasan Syaikh Sholih bin Ghonim As Sadlan –salah seorang ulama senior di
kota Riyadh- dalam
kitab fikih praktis beliau “Taysir Al Fiqh” hal. 398, terbitan Dar Blancia,
cetakan pertama, 1424 H.Dari penjelasan di atas, jangan tertipu pula dengan akal-akalan yang dilakukan oleh perbankan Syari’ah di negeri kita. Kita mesti tinjau dengan benar hakekat bagi hasil yang dilakukan oleh pihak bank syari’ah, jangan hanya dilihat dari sekedar nama. Benarkah itu bagi hasil ataukah memang untung dari utang piutang (alias riba)? Bagaimana mungkin pihak bank syariah bisa “bagi hasil” sedangkan secara hukum perbankan di negeri kita, setiap bank tidak diperkenankan melakukan usaha? Lalu bagaimana bisa dikatakan ada bagi hasil yang halal? Bagi hasil yang halal mustahil didapat dari utang piutang.
Hanya Allah yang memberi taufik.
—
@ Pesantren Darush Sholihin, 20 Jumadal Ula 1434 H
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel Terkait
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Pesan yang baik, jangan emosional.Bila ingin mengkeritisi, pakailah dalil yang sahih.Dan identitasnya jelas. Komentar emosional, tidak ditayangkan