Selasa, Juni 23, 2015

Sejak sepuluh tahun yang lalu saya tidak menjalankan tarawih, tapi tahajjud saja. Seri ke 6





Dalam dalil lain disebutkan:
وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ *  

“Berhati-hatilah terhadap perkara baru. Sesungguhnya setiap perkara baru adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat (bid’ah dholalah)”. (Hadits Riwayat Abu Dawud / As-Sunnah /4607. Darimi /Muqaddimah /95).

Seluruh shahabat Rasulullah tidak kenal terhadap perkataan ‘Umar tadi kecuali satu orang. Kita punya konsep bila ada hilaf (perbedaan) maka harus dikembalikan kepada Al-Qur’an sebagaimana ayat:
وَمَا اخْتَلَفْتُمْ فِيهِ مِنْ شَيْءٍ فَحُكْمُهُ إِلَى اللهِ ذَلِكُمُ اللهُ رَبِّي عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ  
Tentang sesuatu apapun kamu berselisih, maka putusannya (terserah) kepada Allah. (Yang mempunyai sifat-sifat demikian) itulah Allah Tuhanku. Kepada-Nya-lah aku bertawakkal dan kepada-Nya-lah aku kembali”. (QS As-Syura: 10).
Dan Al-Qur’an menyatakan agar kita ini tidak mengikuti perbedaan itu dimanapun dan kapanpun, tapi ikutilah ayat Allah bukan undang-undang Thaghut atau pendapat ulama’, profesor, sarjana dll. Allah -‘Azza wa Jalla- menyatakan:
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ  

Katakanlah (hai Muhammad): “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu!”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS Ali ‘Imran: 31).
Di dalam ayat lain dijelaskan:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوُلِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللهَ وَالْيَوْمَ اْلآخِرَ وَذَكَرَ اللهَ كَثِيْرً
ا  
“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, bagi mereka yang mengharap Allah dan hari kiamat, dan dia banyak mengingat Allah!”. (QS Al-Ahzab: 21).

Jadi hadits “Sebaik-baik bid’ah” ini tertolak, tidak usah dipakai karena segi redaksi hadits, sanadnya cacat dan ganjil, juga bertentangan dengan hadits shahih lainnya dan ayat bukan ayat-ayatan.
Bila kita mensahihkan lalu kita  mengerjakan hadis  di atas, kita tidak mengerti  berapa rakaat tarawihnya saat itu. Sebab  dalam hadis  itu  tidak ada keterangan rakaatnya. Lihat hadisnya  sbb:
Dari Ibnu Syihab dari ‘Urwah bin Az-Zubair dari Abdur Rahman bin Abd Qari, dia berkata: Aku keluar bersama ‘Umar bin Al-Khatthab RA pada suatu malam di bulan Ramadhan ke masjid. Tahu-tahu orang-orang sudah berkelompok-kelompok. Seorang lelaki melakukan sholat sendirian. Ada seorang lelaki yang menjadi imam dengan suatu kelompok. Akhirnya Umar bin Al-Khatthab berkata: “Bagaimanakah kalau aku mengumpulkan mereka dengan satu imam saja, akan lebih baik”. ‘Umar bin Al-Khattab sengaja berbuat seperti itu lalu mengangkat Ubay bin Ka’ab menjadi imam. Lantas aku keluar di malam lain, sedangkan orang-orang sedang melakukan sholat berjama’ah bersama satu imam. ‘Umar bin Al-Khattab berkata: “Sebaik-baik bid’ah adalah ini (Sholat Tarawih  berjama’ah). Dan sholat di akhir malam lebih baik daripada tarawih berjamaah ini. Orang-orang sama melakukan tarawih”.
(Hadits riwayat Bukhari nomor 2010 & riwayat Malik nomor 252).
Jumlah rakaat dalam hadis  tsb tidak dijelaskan. Sulit sekali  untuk diperaktekkan seandainya  hadis itu sahih.


Ada hadis sbb:

روى مالك عن يزيد بن رومان قال: كان الناس يقومون في زمن عمر في رمضان بثلاث وعشرين ركعة.
Imam Malik meriwayatkan  dari Yazid bin Ruman berkata: Orang – orang mengadakan tarawih 23 rakaat di bulan Ramadhan di masa Umar.

رواه البيهقي لكنه مرسل فإن يزيد بن رومان لم يدرك عمر
HR Al Baihaqi , tapi mursal. Sesungguhnya  Yazid bin Ruman tidak menjumpai Umar.
http://vb.tafsir.net/tafsir6547/#.VYWCrlK1_IU

Komentarku ( Mahrus ali ):
 Kisah itu lemah, sebab perawinya  bernama  Yazid bin Ruman  tidak berjumpa dengan Umar , juga  tidak semasa dengannya, lalu begaimana bisa berkisah spt itu Mestinya ada perawi lain terpercaya yang  semasa  dengan Umar  lalu dia bercerita kepadanya , sehingga  kisahnya bisa dipercaya. Kalau sanad yg  terputus itu, maka kisah itu tdk akurat, rapuh sekali, tidak bisa dipercaya, layak didustakan  dan tidak wajar untuk dibenarkan.
Ada  hadis  lagi sbb:
سنن البيهقى (2/ 224)
4801- وَقَدْ أَخْبَرَنَا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ : الْحُسَيْنُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ الْحُسَيْنِ بْنِ فَنْجُوَيْهِ الدِّينَوَرِىُّ بِالدَّامِغَانِ حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ إِسْحَاقَ السُّنِّىُّ أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ الْبَغَوِىُّ حَدَّثَنَا عَلِىُّ بْنُ الْجَعْدِ أَخْبَرَنَا ابْنُ أَبِى ذِئْبٍ عَنْ يَزِيدَ بْنِ خُصَيْفَةَ عَنِ السَّائِبِ بْنِ يَزِيدَ قَالَ : كَانُوا يَقُومُونَ عَلَى عَهْدِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُ فِى شَهْرِ رَمَضَانَ بِعِشْرِينَ رَكْعَةً - قَالَ - وَكَانُوا يَقْرَءُونَ بِالْمِئِينِ ، وَكَانُوا يَتَوَكَّئُونَ عَلَى عُصِيِّهِمْ فِى عَهْدِ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُ مِنْ شِدَّةِ الْقِيَامِ.
Assa `ib bin  Zaid berkata:  Mereka  ( para sahabat ) melakukan qiyamullail  pada  era Umar bin Al Khattab ra   di bulan Ramadhan    dua puluh rakaat .
Beliau berkata:
Mereka membaca  seratus ayat. Mereka  juga bersandar kepada tongkat – tongkat mereka di masa Usman bin Affan  ra  karena  sangat lama berdiri.
وإسناده صحيح كما قال النووي في المجموع ورواه مالك في الموطأ.
Sanadnya sahih sebagaimana dikatakan oleh Imam Nawawi  dlm kitab al Majmu` . Ia juga diriwayatkan oleh Imam Malik  dlm kitab al Muwattha`.
نصب الراية (2/ 154)
 رجال هذا الاسناد كلهم ثقات، ذكرها "المحقق النيموي الهندي" في "آثار السنن" ص 54 ج 2 رجلاً رجلاً.
نصب الراية (2/ 154)
Imam Ibn Hajar berkata: Perawi – perawi sanad tsb terpercaya seluruhnya . Demikian di sebutkan  oleh

Komentarku ( Mahrus ali ):
Imam Malik meriwayatkan hadis tsb dlm muwattha`  sepengetahuanku  adalah 11 Rakaat bukan dua puluh rakaat. Imam Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Abu Dawud , Ibn Majah, Nasai dan Imam Ahmad tidak mencantumkannya  dalam kitab sunan mereka atau kitab musnadnya. Bila Imam Nawawi  menyatakan hadis tsb sahih, maka mereka pengarang kutubut tis`ah  itu tidak berani menyatakan hadis tsb sahih. Ia hadis mauquf bukan dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam  tapi dari Assa`ib bin Yazid. Setahu  sy hanya  dia seorang yang meriwayatkannya. Tiada sahabat yang lain yang tahu tentang perintah Umar ini.
Di masa Abu bakar menjadi Khalifah, tarawih ditiadakan sebagaimana masa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam .
Di masa Umar pun hakikatnya  tidak ada Tarawih dan Umar  tidak mengadakannya bila  di teliti dari hadis – hadis sahih bukan dari omongan orang. Lihat  atsar  dari Assa ib  lagi yang beda dengan atsar itu sbb:  

الموطأ - رواية يحيى الليثي (1/ 115)
-      وحدثني عن مالك عن محمد بن يوسف عن السائب بن يزيد أنه قال :أمر عمر بن الخطاب أبي بن كعب وتميما الداري أن يقوما للناس بإحدى عشرة ركعة قال وقد كان القارئ يقرأ بالمئين حتى كنا نعتمد على العصي من طول القيام وما كنا ننصرف إلا في فروع الفجر
-       
-       ……….., Assa`ib berkata: Umar bin Al khatthab memerintah kepada  Ubay bin Ka`ab dan Tamim ad dari  agar menjadi imam manusia   dalam tarawih  sebelas rakaat .
-       Dia berkata: Sungguh seorang qari ( imam ) membaca  seratusan ayat, hingga  kita bersandar dengan  tongkat karena  berdiri yg panjang . Dan kita  tidak bubar kecuali ketika permulaan terbitnya fajar.
-      الشافي في شرح مسند الشافعي (2/ 267)
-      وفي رواية القعنبي عنه "بزوغ الفجر" (2).
-       ...menurutriwayat al qa`nabi dari dia …………  terbitnya fajar.


Mau nanya hubungi kami:
088803080803( Smartfren). 081935056529 (XL ) atau  08819386306   ( smartfren)

Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Pesan yang baik, jangan emosional.Bila ingin mengkeritisi, pakailah dalil yang sahih.Dan identitasnya jelas. Komentar emosional, tidak ditayangkan