Rabu, Juli 29, 2015

Politik Luar Negeri Saudi ‘ Menaklukkan ’ Amerika !


Satu hal menarik, manakala dalam satu buletinnya Hizbut Tahrir Indonesia alias HTI menyebut serangan Saudi ke pemberontak Houthi Yaman sebagai serangan agen (amerika) untuk membunuhi kaum Muslimin Yaman. Rasa-rasanya kali ini tak perlu diulas lagi bahwasanya yang diserang Saudi adalah pemberontak Syiah Houthi, bukan negeri Yaman.
Selanjutnya, penting bagi kita buat mengetahui hakikat sesungguhnya hubungan Saudi-Amerika. Jika kita perhatikan secara jeli, sangat sulit buat mengatakan bahwasanya Saudi adalah antek Amerika.
Betapa tidak! Amerika merupakan Negara pendewa sekulerisme, liberalisme, pluralisme, demokratisme, emansipasi dan segala bentuk kebebasan berekspresi, sementara Saudi merupakan sebuah negeri yang berazaskan Al-Qur’an dan Sunnah, penegak panji-panji tauhid, penentang utama paham sepilis (sekulerisme, pluralism dan liberalisme), serta antidemokrasi.
Amerika dengan dalih pembela HAM membolehkan kaum wanitanya berpakaian semitelanjang, sementara Saudi mewajibkan kaum wanitanya mengenakan cadar manakala beraktivitas di luar rumah. Masih lekat di benak kita tentunya, bagaimana kritikan tajam mantan putra mahkota Saudi, Pangeran Sultan rahimahullah terhadap paham emansipasi, dimana dengan lugas beliau menyatakan, “hakikat dari emansipasi sesungguhnya adalah kebebasan menyentuh wanita.” Dan bukan hanya soal prinsip kenegaraannya yang bertolak belakang 1800.
Kedua negara juga mendakwahkan prinsip-prinsip yang mereka anut ke seantero penjuru dunia. Amerika dengan gencar menyebarkan dan menyerukan paham demokrasi, emansipasi, pluralisme, HAM, serta sederet isme-isme lain yang intinya menekankan kebebasan beragama dan kebebasan berekspresi tanpa batas.
Sebaliknya, Saudi berada di garda terdepan dalam mendakwahkan Islam yang murni ke segenap penjuru dunia, dimana prinsip-prinsip Islam yang murni tersebut sangat bertentangan dengan isme-isme jualan Amerika dan konco-konconya.
Tidak main-main…Saudi bahkan mendirikan lembaga-lembaga Islam di luar negeri macam LIPIA di Indonesia guna menangkal isme-isme jualan Amerika CS tersebut. Saudi juga memberikan jatah ribuan beasiswa kepada para pemuda dari berbagai negara untuk belajar di universitas-universitas Islamnya dengan tujuan sekembali ke negeri masing-masing, para pemuda tersebut diharapkan tampil sebagai pendakwah tauhid dan sunnah, yang dengan dakwah itu maka isme-isme dagangan Amerika menjadi tidak laku.
Nah, kalau macam itu…mana mungkin dua negara yang saling bertarung dalam perang ideologi dapat dikatakan, salah satunya adalah antek yang lain? Tidak…Amerika sama sekali tidak pernah menganggap Saudi sebagai sekutu. Yang ada, siasat politik Saudi-lah yang memaksa Amerika bermuka manis di hadapan negeri tauhid tersebut.
Saudi, dengan limpahan minyak yang terus menerus mengaliri bawah tanah Jazirah dapat dengan leluasa ‘menundukkan’ Amerika untuk bersedia menandatangani beragam kerjasama militer. Ketergantungan Amerika akan minyak Saudi-lah yang menjadikan Washington dengan cepat tanggap mengikuti instruksi Riyadh guna mengirimkan bantuan militer besar-besaran untuk mementahkan ambisi Saddam Hussein yang pada Perang Teluk I berencana menganeksasi negeri tersebut, setelah Kuwait berhasil dicaploknya.
Begitu pula, tatkala Saudi bersama koalisinya berusaha mengusir pemberontak Houthi dari Yaman, tak ada jalan lain bagi Amerika selain hanya berposisi sebagai penonton. Gonggongan PBB dan Rusia yang meminta serangan udara Saudi dihentikan tidak akan berpengaruh terhadap kebijakan Saudi.
Bahkan PBB pun tidak mampu untuk memaksa Saudi menghentikan serangan gencarnya terhadap pemberontak Syiah Houthi mengingat Amerika sukses dipasung Saudi dengan politik minyak-nya.
Alhasil, serangan Saudi terhadap pemberontak Syiah Yaman akan membawa dampak positif terhadap negeri kayak minyak tersebut.
Pertama, pamor Saudi di kancah internasional bakal kian diperhitungkan.
Kedua, serangan tersebut akan menyibukkan Iran sehingga mau tidak mau negeri yang didirikan di atas reruntuhan kekaisaran majusi Persia tersebut memfokuskan diri dalam memasok senjata buat para milisi houthi serta menghambat laju Syiah-isasi yang kini marak di negeri-negeri Muslim.
Ketiga, serangan Saudi bersama koalisinya terhadap pemberontak Houthi Yaman sekaligus memperkuat keamanan dalam negeri Saudi dari ancaman Iran. Sekiranya Yaman yang berbatasan langsung dengan Saudi dibiarkan jatuh ke tangan Syiah Houthi, dikhawatirkan bakal menjadi batu loncatan Iran dalam mengarahkan moncong meriamnya ke jantung tanah suci.
Dengan demikian, jelas sudah bahwa Saudi berhasil memperagakan permainan politik yang teramat cantik. Lewat politik minyaknya, Saudi berhasil ‘menaklukkan’ Amerika dan dengan serangan tiba-tibanya terhadap pemberontak Houthi yang membuat PBB dan Rusia tak berdaya selain mengecam dan mengecam, Saudi kian menguatkan eksistensinya sebagai pemimpin dunia Islam.
Permainan cantik, strategi jitu dan pertimbangan politik atas asas maslahat-mudharat itulah yang tidak pernah diperagakan rezim Taliban yang semata mendasarkan perjuangan ‘jihad’-nya atas dorongan emosi dan ghirah, sehingga mereka hanya mampu bertahta di Afghanistan selama 5 tahun! Maka dari itu, hendaknya mereka yang mengaku sebagai para ‘pejuang khilafah’ merenungkan hal ini!
https://muslimlurus.wordpress.com/…/politik-luar-negeri-sau…-
Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Pesan yang baik, jangan emosional.Bila ingin mengkeritisi, pakailah dalil yang sahih.Dan identitasnya jelas. Komentar emosional, tidak ditayangkan