Badal haji
Dalam http://www.badal-haji.com/news.php
Segala puji dan syukur ke
hadhirat Allah swt tuhan sekalian
alam, sholawat dan salam semoga
selalu dilimpahkan kpd jujungan
kita Nabi besar Muhammad saw.
Badal-haji.com adalah website
pelayanan badal haji dan badal
umrah (Upah haji / umrah), Kami
menerima dan mengumpulkan badal
haji dari Anda yg ingin menghaji-
kan
keluarga Anda atau kerabat
Anda yg uzur atau yg sudah mening-
gal dunia, badal haji yg Anda
amanahkan kepada Kami akan kami
bagikan kepada para Mahasiswa
Indonesia
yg menuntut ilmu di Saudi
Arabia dan negara2 sekitarnya
untuk dikerjakan, Semoga amal dan
ibadah Kita diterima oleh Allah Swt
Amin....
H.Muhammad Rudi
Indonesia Telp 0511-7422227
HP. 081348737777 Fax 0511-3268387
Mekkah, Saudi Arabia
Komentarku ( Mahrus ali ):
Maaf, jangan lakukan hal itu
karena dalil – dalilnya hampir seluruhnya dari perawi tunggal, ya`ni
tiada perawi lain yang meriwayatkannya atau
cacat sanadnya dan saya telah mengkajinya . Saya
dulu juga begitu sering melakukan badal haji, tapi di saat saya
masih senang dengan kebid`ahan . Sekarang
saya katakan lebih ikut ayat Najem 39.
Dalam http://kaunee.com/ terdapat
kererangan sbb :
Ibadah haji adalah fardhu hukumnya dalam Islam. Maka bila seseorang
terhalang menunaikan haji hingga ia wafat maka kewajiban tersebut bisa
dilaksanakan oleh orang lain baik keturunannya atau orang yang dapat dipercaya.
Kegiatan menghajikan orang yang telah tiada atau orang yang sudah tak mampu
melaksanakannya sebab udzur ini disebut sebagai 'badal haji'.
Hampir seluruh ulama memperbolehkan badal haji atau dalam istilah
fiqihnya Al Hajju 'anil Ghoir. Bahkan
dalam pelaksanaan badal haji terdapat dua kondisi yang melatar-belakangi; Pertama,
mayit mampu secara fisik dan keuangan saat ia hidup. Seseorang yang saat hidup
mempunyai kesehatan dan dana yang cukup untuk berhaji, namun karena kehendak
Allah Swt maka ia tidak mampu mewujudkan keinginannya untuk berhaji. Dalam
kondisi seperti ini maka menjadi kewajiban bagi ahli waris dan keturunannya
untuk menghajikan si mayit.
Hal ini berdasarkan dalil:
"Ada seorang pria datang kepada
Nabi Saw seraya berkata, 'Saat haji difardhukan kepada para hamba, ketika itu
ayahku sudah amat sepuh dan ia tiada sanggup menunaikan haji maupun menunggang
kendaraan. Bolehkah aku menghajikan dia?' Rasulullah Saw menjawab, 'Lakukanlah
haji dan umrah untuk ayahmu!'" HR. Ahmad & An Nasa'
Kalau saja orang tua yang sepuh yang tidak mampu menunaikan ibadah haji
dan menunggang kendaraan boleh dibadalkan hajinya, lalu bagaimana kiranya
dengan orang yang kuat dan sehat namun belum berhaji Jawabannya tentu lebih
boleh lagi untuk dibadalkan. Hal ini berdasarkan dalil hadits shahih lain yang
menyatakan bahwa ada seorang perempuan berkata kepada Rasulullah Saw, "Ya
Rasul, ibuku pernah bernadzar mengerjakan haji namun ia belum menunaikannya
hingga wafat, bolehkah aku berhaji untuknya?" Nabi Saw menjawab, "Berhajilah
untuk ibumu!" HR. Muslim, Ahmad & Abu Daud
Adapun kondisi kedua, yaitu orang yang semasa hidup tidak mampu atau
orang sepuh masih hidup namun sudah tidak sangup melakukan haji, maka badal
haji untuk mereka diperbolehkan berdasarkan dalil-dalil yang sudah disebutkan
di atas.
Lalu bagaimana tata-cara badal haji yang diperkenankan: 1) Orang yang
melaksanakan sudah lebih dulu mengerjakan haji untuk dirinya sendiri. 2) Si
pelaksana berniat haji untuk orang yang diwakilkan. 3) Diutamakan badal haji
ini dilakukan oleh ahli waris ataupun keluarga terdekat. 4) Bila tidak ada ahli
waris yang dapat melakukannya, maka boleh diamanahkan kepada orang yang dapat dipercaya.
Itulah keterangan yang dapat diberikan soal ibadah badal haji. Dengan
mengerjakan ibadah badal haji, maka pahalanya akan tersampaikan kepada si mayit,
juga untuk orang yang melaksanakannya. Hal terpenting adalah bahwa rukun Islam
kelima yang menjadi kewajiban bagi mayit sudah tertunaikan dengan cara badal
haji ini.
Komentarku ( Mahrus ali ):
Kentara sekali penyusun artikel tsb dari kalangan ahli b id`ah atau
toleran terhadap mereka . Masak orang yang sehat punya dana dan tidak
menjalankan haji lalu boleh di wakili . Orangnya
sendiri tidak mau menjalankan dan mungkin juga sangat tidak suka untuk haji
karena senang kepada harta bendanya, bagaimanakah orang seperti itu yang sudah
jelas tidak mau menjalankan kewajiban lalu
boleh di hajikan . Pernahkan khulafaur rasyidin menjalankan seperti itu .
Dan dalil – dalil yang anda gunakan
sudah gugur di pembahasan saya yang lalu
.
Baca lagi disini:
MANTAN KYAI NU: Menghajikan orang lain, dalilnya cacat
12 Mei 2012
Bacalah lagi diblog ke dua : www.mantankyainu2.blogspot.com
Artikel Terkait
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Pesan yang baik, jangan emosional.Bila ingin mengkeritisi, pakailah dalil yang sahih.Dan identitasnya jelas. Komentar emosional, tidak ditayangkan