Rabu, November 07, 2012

Pahala sedekah tidak sampai pada mayat



Dahulu saya menyatakan pahala sedekah akan bisa sampai kepada mayat bila memang di niati untuk dikirimkan ke sana. Karena saya belum mengkaji tentang  states hadis – hadis sedekah. Saya dulu menganggap bahwa orang yang tidak percaya pahala sedekah sampai kepada mayat,saya anggap orong dungu, tidak pernah belajar di pondok pesantren, sekolah ma`had diiniyah atau tidak pernah mendengar penjelasan dari guru  atau kiyai di Langgar atau di masjid.  Jadi orang yang menyatakan pahala sedekah bisa sampai kepada mayat ini memang  sudah merata baik kalangan  pelajar agama atau guru atau kiyainya.
    Saya dulu janggal bila  ada santri saya yang menyatakan  bahwa  A Hasan Bangil menyatakan  pahala sedekah tidak sampai kepada mayat. Sebab  saya tahu hadisnya persis bahwa pahala  sedekah itu sampai yaitu  ada sahabat yang bertanya kepada Rasulullah SAW bahwa  ibunya meninggal  dunia  apakah bermanfaat padanya bila  dia bersedekah lalu Rasulullah SAW menjawab  : Ya. Hadisnya  sbb :

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ سَعْدًا سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ أُمِّي مَاتَتْ وَلَمْ تُوصِ أَفَأَتَصَدَّقُ عَنْهَا قَالَ نَعَمْ
Dari Ibnu Abbas, sesungguhnya Sa`ad bertanya  kepada Nabi SAW, sesungguhnya ibuku mati  dan tidak berwasiat, bolehkah aku bersedekah  untuknya.
Nabi SAW  menjawab : Ya.  HR  Nasai.
أَنْبَأَنَا ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ سَعْدَ بْنَ عُبَادَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ تُوُفِّيَتْ أُمُّهُ وَهُوَ غَائِبٌ عَنْهَا فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أُمِّي تُوُفِّيَتْ وَأَنَا غَائِبٌ عَنْهَا أَيَنْفَعُهَا شَيْءٌ إِنْ تَصَدَّقْتُ بِهِ عَنْهَا قَالَ نَعَمْ قَالَ فَإِنِّي أُشْهِدُكَ أَنَّ حَائِطِيَ الْمِخْرَافَ صَدَقَةٌ عَلَيْهَا
Ibnu Abbas ra berkata : Sesungguhnya Sa`ad bin Ubadah ra menyatakan bahwa ibunya meninggal  dunia dan dia  waktu itu pergi, lalu berkata : Wahai  Rasulullah ! Sesungguhnya ibuku meninggal dunia  dan aku  tidak ada, apakah ada manfaatnya bila aku bersedekah untuknya.
 Rasulullah SAW menjawab : Ya, sesungguhnya  aku mempersaksikan kepadamu  bahwa kebonku  sedakah untuknya. [1][1]
Karena  hadis tsb diriwayatkan oleh amirul mukminin di bidang hadis, maka saya acc saja, salut saja, norok bontek. Bila keliru, saya  tidak ada urusan dan itu bukan urusan  saya  karena  saya tidak mampu  untuk mengeritiknya.
Saya belum tahu bahwa Syekh Muqbil Al wadi`I – murid Al albani  pernah bilang :

وَاْلإِمَامُ الدَّارُقُطْنِي –رَحِمَهُ الله- قَدْ أَجْهَدَ نَفْسَهُ فِي التَّتَبُّعِ لِمَا أَخْطَأَ فِيْهِ الشَّيْخَانِ، فَمَا بَلَغَ الْخَطَأُ إِلاَّ نَحْوَ مِائَتَي حَدِيْثٍ،
Imam Daroquthni sendiri, telah menguras tenaganya  untuk mengeritik kesalahan dalam sahih Bukhori dan Muslim. Tapi kesalahan yang  di jumpai tidak sampai dua ratus hadis.
فَقاَلَ ابْنُ الصَّلاَحِ فِي "الْمُصْطَلَحِ": إِنَّ أَحَادِيْثَ "الصَّحِيْحَيْنِ" تُفِيْدُ اْلعِلْمَ الْيَقِيْنِي النَّظَرِي إِلاَّ أَحَادِيْثَ يَسِيْرَةً اِنْتَقَدَهَا الْحُفَّاظُ كَالدَّارَقُطْنِي وَغَيْرِهِ. فَهُمْ يَعْتَبِرُوْنَ اِنْتِقَادَاتِهِ –رحمه الله-.
Ibnus Sholah berkata dalam Al mustholah : Sesungguhnya hadis – hadis dalam sahih Bukhori dan Muslim bisa memberikan manfaat ilmu yakin nadhori kecuali beberapa hadis sedikit yang di keritik oleh para hafidh  seperti Imam Daroquthni dll. Para ulama ` juga menganggap baik atas keritikannya  rahimahullah. [2][2]

   Begitu  banyak sekitar dua ratusan hadis yang di nyatakan  lemah  oleh Imam  Daroquthni dan  para ulama  juga membenarkan hal itu. Ya`ni Imam  Daroquthni juga tidak di salahkan. Ini suatu gambaran yang menarik untuk menunjukkan kesalahan agar bisa di manfaatkan dan orang tidak lagi mengikuti kesalahan.  Karena  itu pula  saya menjumpai keganjalan dalam masalah hadis sedekah bisa  bermanfaat pada  mayat atau pahalanya sampai pada mayat.  Hadis yang  saya cantumkan di atas ternyata tidak lagi bisa di buat pegangan  karena ada nama  perawi – perawi yang lemah seperti Sulaiman  bin Katsir yang sering keliru dalam menyampaikan hadis atau Makhlad Ibnu Yazid Dia sering keliru, kadang sanad hadis terputus  sepert  antara Hasan dan Sa`ad bin Ubadah, atau hadisnya mursal.
   Jarang  orang yang bisa meneliti keabsahan hadis atau kelemahannya . Jadi baginya hadis hasan, lemah atau sahih sama saja. Harus di pakai semuanya. Disini saya ingin mengupas hadis – hadis tentang pahala sedekah yang di nyatakan sampai pada mayat dan kebanyakan  di buat pegangan oleh orang – orang yang suka tahlil, selametan, bancaan. Alasanya  hanya untuk  ngirim ayah atau mbah yang sudah mati.
Karena itu, saya ingin mengkaji hadis – hadis tentang sedekah yang konon dibuat pegangan oleh orang – orang  yng suka tahlilan.  Hadis – hadisnya sbb:

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ سَعْدًا سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ أُمِّي مَاتَتْ وَلَمْ تُوصِ أَفَأَتَصَدَّقُ عَنْهَا قَالَ نَعَمْ
Dari Ibnu Abbas, sesungguhnya Sa`ad bertanya  kepada Nabi SAW, sesungguhnya ibuku mati  dan tidak berwasiat, bolehkah aku bersedekah  untuknya.
Nabi SAW  menjawab : Ya.
HR Nasai .Al bani menyatakan, Hadis tsb sahih, sahih wadhoif sunan Nasai 3645, sahihul ahkam 172, Atta`liq alabni Khuzaimah 2501.
Komentarku ( Mahrus ali ):
Ia lemah karena redaksinya kacau belau.

Hadis tsb berbeda sangat dengan redaksi hadis sbb:
أَخْبَرَنِي هَارُونُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ حَدَّثَنَا عَفَّانُ قَالَ حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ كَثِيرٍ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنْ سَعْدِ بْنِ عُبَادَةَ أَنَّهُ أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ إِنَّ أُمِّي مَاتَتْ وَعَلَيْهَا نَذْرٌ أَفَيُجْزِئُ عَنْهَا أَنْ أُعْتِقَ عَنْهَا قَالَ أَعْتِقْ عَنْ أُمِّكَ
…………….Dari Ibnu Abbas dari Sa`ad bin Ubadah, sesungguhnya dia datang kepada Nabi SAW, lalu berkata : sesungguhnya ibuku meninggal dunia  dan punya nazar, apakah  bisa saya memerdekakan budak untuk dia.
Rasulullah SAW  bersabda :  Merdekakan  budak untuk ibumu [3][3]
Al bani menyatakan  hadis tsb sahih karena ada hadis sesudahnya.
Saya katakan : Imam Nasai sendiri sebagai periwayatnya  menyatakan :
لَيْسَ بِهِ بَأْسٌ إِلاَّ فِى الزُّهْرِى فَإِنَّهُ يُخْطِىءُ عَلَيْه.
( Perawinya terdapat Sulaiman  bin Katsir dari Azzuhri ) .Tiada cacat untuk Sulaiman bin katsir kecuali dari dia dari Zuhri, sesungguhnya dia sering keliru dalam menyampaikan hadis dari Azzuhri.
  Yahya bin Ma`in menyatakan  bahwa Sulaiman bin Katsir lemah.
وَ قَالَ ابْنُ حِبَّانَ : كَانَ يُخْطِىءُ كَثِيْرًا ، فَأَماَّ رِوَايَتُهُ عَنِ الزُّهْرِى فَقَدْ اخْتَلَطَتْ عَلَيْهِ صَحِيْفَتُهُ ، فَلاَ يُحّتَجُّ بِشَىْءٍ يَنْفَرِدُ بِهِ عَنِ الثِّقَاتِ ، مَاتَ سَنَةَ ثَلاَثٍ وَ ثَلاَثِيْنَ وَ مِئَةٍ.
 Ibnu Hibban berkata :  Sulaiman bin Katsir sering  keliru. Bila dia meriwayatkan hadis dari Azzuhri maka halamannya telah campur baur. Jadi bila  riwayatnya berlainan  dengan perawi – perawi terpercaya lainnya, maka  tidak bisa di buat pegangan. Beliau meninggal  dunia  pada tahun  133 H. [4][4]

عَنْ قَتَادَةَ قَالَ سَمِعْتُ الْحَسَنَ يُحَدِّثُ عَنْ سَعْدِ بْنِ عُبَادَةَ أَنَّ أُمَّهُ مَاتَتْ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أُمِّي مَاتَتْ أَفَأَتَصَدَّقُ عَنْهَا قَالَ نَعَمْ قَالَ فَأَيُّ الصَّدَقَةِ أَفْضَلُ قَالَ سَقْيُ الْمَاءِ فَتِلْكَ سِقَايَةُ سَعْدٍ بِالْمَدِينَةِ
Dari qatadah berkata : Aku mendengar Al hasan bercerita dari Sa`ad bin Ubadah, sesungguhnya ibunya meninggal dunia, lalu berkata : Wahai Rasulullah ! Sesungguhnya ibuku meninggal dunia, apakah aku bersedekah untuknya
Rasulullah SAW menjawab : Ya
Sa`ad bertanya : Apakah  sedekah yang paling utama  ?
Rasulullah SAW  bersabda : Memberi minum.
Dari itulah Sa`ad selalu menyediakan air minuman di Medinah.
Al bani menyatakan  hadis tsb  Hasan karena  hadis sebelumnya [5][5]
 Saya katakan : HR Nasai 3666,  Sanad yang terputus antara Hasan dan Sa`ad bin Ubadah. Jadi hadis tsb lemah. Sepengetahuan saya, tidak menjumpai ulama yang menghasankan kecuali al albani.
الطَّبَرَانِيُّ فِي الْكَبِيرِ مِنْ طَرِيقِ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيِّبِ ، عَنْ سَعْدِ بْنِ عُبَادَةَ : { أَنَّهُ أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ إنَّ أُمِّي مَاتَتْ ، أَفَأَتَصَدَّقُ عَنْهَا ؟.
قَالَ : نَعَمْ قَالَ : فَأَيُّ الصَّدَقَةِ أَفْضَلُ ؟.
قَالَ : سَقْيُ الْمَاءِ }.
  ……………………..Dari sa`ad bin Ubadah, sesungguhnya dia datang  kepada Nabi SAW   lalu berkata : Wahai Rasulullah ! Sesungguhnya ibuku meningal  dunia, apakah aku boleh bersedekah untuk dia ?
Rasulullah SAW  menjawab : Ya, silahkan.
Sa`ad bin Ubadah  bertanya  lagi : Sedekah apakah yang lebih  afdal ?
Rasulullah SAW  bersabda : Memberi minum air. [6][6]
Abul fadhel – Assayyid  Abul Mu`athi Annuri  berkata  : Hadis tsb mursal  karena Said tidak bertemu dengan Sa`ad dan Said di lahirkan di tahun Sa`ad meninggal dunia. Hadis tsb munqathi` ( lemah )   [7][7]   Ia juga diriwayatkan oleh Abu dawud tapi mursal. [8][8]
Hadis tsb di hasankan  oleh Al bani pada hal munqathi` dan seluruh ulama mengetahui hal itu, dan  sepengetahuan saya tiada yang menghasankan  kecuali al bani.[9][9]

Syekh Muqbil di tanya  tentang beberapa hadis yang kamu anggap lemah, pada hal  telah disahihkan oleh Al albani, mengapa bisa terjadi seperti itu ?


J.        Ulama  dahulu juga  berbeda pendapat seperti itu. Imam Ahmad melemahkan suatu hadis yang  di sahihkan  oleh ulama lain. Abu Hatim juga menyatakan tsiqah kepada seseorang, pada hal ulama  lain melemahkannya. [10][10]
Dari Ibnu Abbas ra berkata : Sesungguhnya Saad bin Ubadah kehilangan ibunya ( mati ) dan dia waktu itu tidak dirumah. Apakah bisa memberikan manfaat padanya bila aku bersedekah itu dia ?
Rasulullah SAW menjawab : Ya
Saad berkata :
تُوُفِّيَتْ أُمُّهُ وَهُوَ غَائِبٌ عَنْهَا فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أُمِّي تُوُفِّيَتْ وَأَنَا غَائِبٌ عَنْهَا أَيَنْفَعُهَا شَيْءٌ إِنْ تَصَدَّقْتُ بِهِ عَنْهَا قَالَ نَعَمْ قَالَ فَإِنِّي أُشْهِدُكَ أَنَّ حَائِطِيَ الْمِخْرَافَ صَدَقَةٌ عَلَيْهَا
Sesungguhnya aku mempersasikan kepadamu bahwa kebonku Al Mikhraf sedekah untuknya
HR Bukhori 2756.  Ia  juga di sebut dalam kitab Kanzul ummal [11][11] Talkhisul habir 230/3 dan Al musnadul ja`mi` 265/19.  Saya lihat di seluruh kitab yang saya miliki  tiada keterangan dari pengarangnya bahwa hadis tsb sahih.
Redaksinya beda  sekali dg riwayat yg lalu
Abu dawud 15/2, Nasai 130/2  Tirmidzi 25/2 Al Baihaqi 278/6   dari Abu Hurairah.
Menurut riwayat Tirmidzi, Nasai, Abu dawud lihat Tirmidzi nomer  669.  Nasai 3655, Abu dawud 2882, Ahmad  3494. Hadisnya sbb:
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ رَجُلًا قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أُمَّهُ تُوُفِّيَتْ أَفَيَنْفَعُهَا إِنْ تَصَدَّقْتُ عَنْهَا قَالَ نَعَمْ قَالَ فَإِنَّ لِي مَخْرَفًا فَأُشْهِدُكَ أَنِّي قَدْ تَصَدَّقْتُ بِهِ عَنْهَا
Dari Ibnu Abbas ra, sesungguhnya seorang lelaki berkata : Wahai Rasulullah ! Sesungguhnya ibunya telah wafat, apakah bermanfaat padanya bila aku bersedekah untuknya.
Rasulullah SAW menjawab : Ya
Dia berkata : Sesungguhnya aku punya kebon, aku mempersaksikan kepadamu  bahwa aku menyedekahkannya  untuk ibuku.  ( Lemah ) maksud seorang lelaki itu adalah Sa`ad bin Ubadah.

 Jadi kisah Sa`ad bin Ubadah mau menyedekahkan tanah untuk ibunya  itu di riwayatkan dengan redaksi hadis yang sangat berbeda. Ada yang menyatakan Saad saat itu bersedekah dengan air dan ada yang dengan kebun dan ada yang tanpa keterangan air atau kebon.  Dan kami belum menjumpai keterangan kapan Saad bin Ubadah bersedekah kebon itu,  dan Rasulullah SAW sendiri tidak menjawab atas persaksiannya. Pada hal biasanya  di jawab  sebagaimana  hadis sbb:
Anas bin malik ra berkata :
كَانَ أَبُو طَلْحَةَ أَكْثَرَ الْأَنْصَارِ بِالْمَدِينَةِ مَالًا مِنْ نَخْلٍ وَكَانَ أَحَبُّ أَمْوَالِهِ إِلَيْهِ بَيْرُحَاءَ وَكَانَتْ مُسْتَقْبِلَةَ الْمَسْجِدِ وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدْخُلُهَا وَيَشْرَبُ مِنْ مَاءٍ فِيهَا طَيِّبٍ قَالَ أَنَسٌ فَلَمَّا أُنْزِلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ ( لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ ) قَامَ أَبُو طَلْحَةَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَقُولُ ( لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ ) وَإِنَّ أَحَبَّ أَمْوَالِي إِلَيَّ بَيْرُحَاءَ وَإِنَّهَا صَدَقَةٌ لِلَّهِ أَرْجُو بِرَّهَا وَذُخْرَهَا عِنْدَ اللَّهِ فَضَعْهَا يَا رَسُولَ اللَّهِ حَيْثُ أَرَاكَ اللَّهُ قَالَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَخٍ ذَلِكَ مَالٌ رَابِحٌ ذَلِكَ مَالٌ رَابِحٌ وَقَدْ سَمِعْتُ مَا قُلْتَ وَإِنِّي أَرَى أَنْ تَجْعَلَهَا فِي الْأَقْرَبِينَ فَقَالَ أَبُو طَلْحَةَ أَفْعَلُ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَقَسَمَهَا أَبُو طَلْحَةَ فِي أَقَارِبِهِ وَبَنِي عَمِّهِ
Abu Tholhah adalah sahabat Ansor yang memilik harta terbanyak dari ladang kurma. Hartanya yang paling di segani adalah  tanah Bairuha` yang berhadapan dengan masjid nabawi. Rasulullah SAW pernah masuk kepadanya dan minum airnya yang tawar .Ketika turun ayat  :
لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ
Kamu tidak akan mendapatkan  kebaikan  hingga kamu meng infakkan apa yang kamu cintai
 Abu Tholhah pergi kepada Rasulullah SAW, lalu berkata :Wahai Rasulullah !  Sesungguhnya Allah tabaraka wataala berfirman : “Kamu tidak akan mendapatkan  kebaikan  hingga kamu meng infakkan apa yang kamu cintai “  sesungguhnya hartaku yang paling ku sukai adalah bairuha`, ia sedekah untuk Allah, aku berharap kebaikan dan simpanannya disisi Allah, Bagikan  wahai Rasulullah ! sebagaimana  yang diperlihatakan  oleh Allah kepadamu “.
Rasulullah SAW bersabda  :”  Bagus, itulah harta yang beruntung  x2. Sungguh aku telah mendengar apa yang kamu katakan. Aku  berpendapat,hendaklah kamu bagikan kepada  kerabat “.
Abu Tholhah  berkata  :” Aku  melakukannya  wahai Rasulullah ! “. Lalu di bagi diantara  kerabat – kerabatnya  dan keponakannya [12][13]
Menurut riwayat Bukhori yang lain :   Rasulullah SAW  bersabda :
بَخٍ ذَلِكَ مَالٌ رَائِحٌ ذَلِكَ مَالٌ رَائح
Bagus, itulah  harta yang pahalanya  tak terputus X2 [13][14]
Menurut riwayat Bukhori yang lain  ada tambahan  :
وَكَانَ مِنْهُمْ أُبَيٌّ وَحَسَّانُ قَالَ وَبَاعَ حَسَّانُ حِصَّتَهُ مِنْهُ مِنْ مُعَاوِيَةَ فَقِيلَ لَهُ تَبِيعُ صَدَقَةَ أَبِي طَلْحَةَ فَقَالَ أَلَا أَبِيعُ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ بِصَاعٍ مِنْ دَرَاهِمَ قَالَ وَكَانَتْ تِلْكَ الْحَدِيقَةُ فِي مَوْضِعِ قَصْرِ بَنِي حُدَيْلَةَ الَّذِي بَنَاهُ مُعَاوِيَةُ *
 Diantara kerabat Abu Tholhah yang mendapatkan  bagian tanah tsb adalah Ubay bin Kaab ( yang hafalal Quran  ), Hassan, lalu Hassan  menjual  bagiannya kepada Muawiyah.
 Dikatakan  kepadanya  :Kamu menjual sedekahnya Abu Tholhah  “.
 Dia menjawab :Bukankah aku tidak menjual satu gantang  kurma dengan satu gantang dirham “.
 Kebon itu menjadi istana Banu  Hudailah yang dibangun oleh Muawiyah [14][15]
Anas berkata  :
وَأَنَا أَقْرَبُ إِلَيْهِ وَلَمْ يَجْعَلْ لِي مِنْهَا شَيْئًا
   Aku kerabat terdekat ( anak tiri ) Abu Tholhah,tapi aku tidak diberi bagian sama sekali [15][16]
    Kisah sedekah Abu Tholhah ini jelas sekali, penerimanya juga jelas dan tanah yang disedekahkan juga jelas dan jawaban Rasulullah SAW pun juga jelas.
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنْ سَعْدِ بْنِ عُبَادَةَ أَنَّهُ اسْتَفْتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي نَذْرٍ كَانَ عَلَى أُمِّهِ فَتُوُفِّيَتْ قَبْلَ أَنْ تَقْضِيَهُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اقْضِهِ عَنْهَا
 Dari Ibnu Abbas, dari Sa`ad bin Ubadah, sesungguhnya dia bertanya kepada Nabi SAW  tentang nadzar ibunya, lalu ibunya meninggal  dunia sebelum di lakukan nadzarnya. Rasulullah SAW  bersabda : Tunaikan nadzarnya.[16][17]  Sahih
Al albani menyatakan  : Hadis tsb sahih sanadnya.
Jadi dengan kesahihan  hadis tsb maka teka teki  pahala sedekah bisa sampai  pada mayat terjawab  juga  dan tiada  hadis sahih yang sanadnya  tidak cacat yang menjelaskan bahwa pahala sedekah bisa sampai  pada mayat dan dalam hal ini saya tidak menjumpai hadis lain yang bisa di buat pegangan  untuk pahala sedekah di sampaikan kepada mayat
Kecuali hadis Sa`ad tadi yang redaksinya kacau dan satu riwayat dengan riwayat yang lain selalu berbeda. Ternyata  seluruhnya lemah kecuali  hadis di mana  Saad di perintahkan agar menunaikan nazar ibunya, bukan sedekah, atau memerdekakan budak atau memberi minuaman.   Kisah  Saad  untuk minta fatwa  pada Rasulullah SAW  itu pada hakikatnya  untuk bertanya tentang nadzar ibunya  itu, bukan masalah sedekah atau lainnya.


يَقُولُ أَهْلُ الْعِلْمِ يَقُولُونَ لَيْسَ شَيْءٌ يَصِلُ إِلَى الْمَيِّتِ إِلَّا الصَّدَقَةُ وَالدُّعَاءُ
Para ulama   berkata : Tiada sesuatu yang pahalanya bisa sampai kepada mayat kecuali sedekah dan doa.
Saya katakan : Dalil pahala sedekah  bisa sampai ke mayat hanya hadis lemah itu  yang di hasankan oleh Tirmidzi.
Syekh Muqbil  Al wadi`I murid Al bani mengatakan :
غَالِبُ تَحْسِيْنَاتِ التِّرْمِذِي ضِعَافٌ.
Kebanyakan hadis yang di hasankan oleh Tirmidzi adalah lemah. [17][18]

Dari Abu Hurairah ra  berkata : Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda :
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
           Bila manusia meninggal dunia, maka amal perbuatannya terputus kecuali karena tiga perkara : Sodaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat  atau anak saleh yang berdoa untuknya. [18][19]

HR Muslim  1631, Kanzul ummal 952/15, Nasbur royah 450/5 ada perawi bernama  Al ala ` yang terpercaya tapi terkadang keliru. Tirmidzi menyatakan hadis tersebut hasan sahih tapi dari jalur al ala`, Abu dawud dan Ahmad juga meriwayatkan  tapi dari jalur satu orang yaitu al ala`.yang lemah
Ismail bin Muhammad  Alajluni menyebutnya di kitabnya tanpa menyatakan sahih.[19][20] Pengarang kanzul ummal juga menyebutnya tanpa komentar sahih [20][21]  Ibnu Hajar juga menyabutnya dalam kitab Nasbur royah tanpa menyatakan sahih [21][22]
وَاْلبُخَارِي فِيِ اْلأَدَبِ الْمُفْرَدِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
Al Bukhori meriwayatkannya dalam kitab al adabul mufrad, bukan dikitab sahihnya [22][23]
في رواية سليمان بن بلال, قال : عن العلاء بن عبد الرحمان ، أراه عَنْ أَبِيه.
Menurut riwayat Sulaiman bin Bilal  berkata : Dari Al ala` bin Abd Rahman, saya kira dari ayahnya. [23][24]   Kalimat “ Saya kira “ itu menunjukkan  kelemahan  dalam menyampaikan  hadis.
Hadis tsb di nyatakan  sahih oleh Al wi bin Abd Qadir Assegaf dalam kitabnya  Takhrij ahadis wa atsar kitab fii dhilalil qur`an 306/2.
Saya katakan : Dia mengatakan seperti itu tanpa ada alasan. jadi sekedar berkata.
Al bani menyatakan :
رَوَاهُ الْجَمَاعَةُ إِلاَّ اْلبُخَارِي وَابْنُ مَاجَه
Hadis tsb diriwayatkan oleh segolongan ahli hadis kecuali Bukhori dan Ibnu Majah. Namun beliau menyatakan sahih. [24][25]
Saya katakan : Pada hal jalurnya juga tetap dari al ala~ itu, tiada lainnya.  
Yahya bin Main berkata : Orang – orang sama berhati – hati terhadap riwayatnya, hadisnya tidak bisa di buat hujjah  [25][26]
حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ قَالَ حَدَّثَنِي مَالِكٌ عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ أُمِّي افْتُلِتَتْ نَفْسُهَا وَأُرَاهَا لَوْ تَكَلَّمَتْ تَصَدَّقَتْ أَفَأَتَصَدَّقُ عَنْهَا قَالَ نَعَمْ تَصَدَّقْ عَنْهَا
Dari Aisyah ra berkata : Sesungguhnya  seorang lelaki berkata kepada Nabi SAW, sesunguhnya ibuku meninggal dunia. Saya kira bila bicara akan bersedekah, Apakah  aku akan bersedekah itu untuk dia
Rasulullah SAW bersabda : Ya, bersedekahlah untuk nya. [26][27]
  lemah. Ia juga tercantum di Muwattho` 473, Musnad Al Humaidi 243Ahmad 51/6,  Muslim 81/2, 73/5. Abu dawud 2881, Ibnu Majah 2717.  Ibnu Huzaimah 2499. Seluruhnya dari Hisyam bin Urwah yang lemah.
Ibnu Hajar  berkata : Hisyam bin Urwah  perawi terpercaya, alim tapi kadang menyelinapkan perawi lemah . [27][28]
    Jadi hadis tsb masih belum bisa di buat pegangan.

عَنْ شُعَيْبٍ ، عَنْ جَدِّهِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْروٍ؛أَنَّ الْعَاصَ بْنَ وَائلٍ أَوْصَى ، أَنْ يُعْتَقَ عَنْهُ مِئَةُ رَقَبَةٍ ، فَأَعْتَقَ ابْنُهُ هِشَامٌ خَمْسِينَ رَقَبَةً ، فَأَرَادَ ابْنُهُ عَمْرٌو أَنْ يَعْتِقَ عَنْهُ الْخَمْسِينَ الْبَاقيَةَ ، فَقَالَ : حَتَّى أَسْأَلَ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم ، فَأَتَى النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم ، قَالَ : يَا رَسُولَ اللهِ ، إِنَّ أَبِي أَوْصَى بِعِتْقِ مِئَةِ رَقَبَةٍ ، وَإِنَّ هِشَامًا أَعْتَقَ عَنْهُ خَمْسِينَ ، وَبَقِيَتْ عَلَيْهِ خَمْسُونَ رَقَبَةً ، أَفَأَعْتِقُ عَنْهُ ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : إِنَّهُ لَوْ كَانَ مُسْلِمًا فَأَعْتَقْتُمْ عَنْهُ ، أَوْ تَصَدَّقْتُمْ عَنْهُ ، أَوْ حَجَجتُمْ عَنْهُ ، بَلَغَهُ ذَلِكَ.
Dari Syuaib dari kakeknya Abdullah bin Amar, sesungguhnya al ash bin Wa`il  memberikan wasiat agar seratus budak dimerdekakan  untuknya, lalu anaknya Hisyam memerdekakan  lima puluh budak. lalu Anaknya  Amar juga ingin memerdekakan  lima puluh lagi sebagai sisanya ………………………..   dia berkata :      hingga aku bertanya  kepada Rasulullah SAW.
  Dia datang lalu berkata : Wahai  Rasulullah ! Sesungguhnya ayahku  berwasiat agar di merdekakan seratus budak  budak untuknya. Sesungguhnya Hisyam telah memerdekakan budak lima puluh. lalu masih sisa  lima puluh lagi, apakah aku  boleh memerdekakan  untuknya.
Rasulullah SAW bersabda : Bila dia muslim, lalu kamu memerdekakan budak untuknya   atau kamu bersedekah untuknya, maka bisa sampai kepadanya.
J.    وفي رواية: أَنَّ الْعَاصَ بْنَ وَائِلٍ نَذَرَ ، فِي الْجَاهِلِيَّةِ ، أَن يَنْحَرَ مِئَةَ بَدَنَةٍ ، وَأَنَّ هِشَامَ بْنَ الْعَاصِ نَحَرَ حِصَّتَهُ خَمْسِينَ بَدَنَةً ، وَأَنَّ عَمْرًا سَأَلَ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم عَنْ ذَلِكَ ؟ فَقَالَ : أَمَّا أَبُوكَ فَلَوْ كَانَ أَقَرَّ بِالتَّوْحِيدِ ، فَصُمْتَ وَتَصدَّقْتَ عَنْهُ ، نَفَعَهُ ذَلِكَ.

Menurut suatu riwayat: Sesungguhnya Al ash bin Wa`il bernazar di waktu jahiliyah untuk menyembelih seratus unta  dan sesungguhnya Hisaym telah menyembelih  lima puluh unta lalu Amar bertanya kepada Nabi SAW  tentang hal itu ?
Rasulullah SAW  bersabda :  Bila ayahmu mengakui tauhid lalu kamu berpuasa atau bersedekah untuknya akan  bermanfaat padanya. [28][29]
Ali bin Abu Bakar Al Haitami  berkata :
رَوَاهُ أَحْمَدُ وَفِيْهِ الْحَجَّاجُ بْنُ أَرْطَاةَ وَهُوَ مُدَلِّسٌ.
Hadis tsb diriwayatkan oleh Ahmad, namun sanadnya terdapat Al hajjaj bin Arthoh. Dia suka menyelinapkan perawi lemah[29][30]
Ibnu Hajar  berkata :
صَدُوْقٌ كَثِيْرُ الْخَطَأِ وَ التَّدْلِيْسِ ، أَحَدُ اْلفُقَهَاءِ
Dia perawi yang suka berkata benar, sering keliru, suka menyelinapkan perawi lemah- salah satu tokoh ahli fikih.[30][31]
Saya katakan : Pernyataan Ibnu Hajar itu juga mirip dengan pernyataan Abu Hatim.
Imam Dzahabi menyatakan bahwa Al Hajjaj bin Arthoh adalah perawi lemah.  Jadi hadis : Bila ayahmu mengakui tauhid lalu kamu berpuasa atau bersedekah untuknya akan  bermanfaat padanya “  tidak bisa di buat pegangan.
IMam Thobroni berkata :
حَدَّثَنِي أَبِي، ثنا عِمْرَانُ بن يَحْيَى الأَسَدِيُّ، قَالَ: سَمِعْتُ عَمِّي مَرْوَانَ بن قَيْسٍ وَقَدْ أَخَذَ الرَّعِيَّةَ عَنْ أَهْلِهِ فِي عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّ أَبِي تُوُفِّيَ، وَقَدْ جَعَلَ عَلَيْهِ أَنْ يَمْشِيَ إِلَى مَكَّةَ، وَأَنْ يَنْحَرَ بَدَنَةً، وَلَمْ يَتْرُكْ مَالا، فَهَلْ يَقْضِي عَنْهُ أَنَّ نَمْشِي عَنْهُ وَأَنْ نَقْضِيَ عَنْهُ بَدَنَةً مِنْ مَالِي؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:نَعَمْ، اقْضِ عَنْهُ وَانْحَرْ وَامْشِ، أَرَأَيْتَ لَوْ كَانَ عَلَى أَبِيكَ دَيْنٌ لِرَجُلٍ فَقَضَيْتَ عَنْهُ مِنْ مَالِكَ، أَلَيْسَ يَرْجِعُ الرَّجُلُ رَاضِيًا؟ وَاللَّهُ أَحَقُّ أَنَّ يَرْضَى.

Ayahku bercerita kepadaku, lalu berkata : Imran bin Yahya al asadi bercerita kepada kami lalu berkata : Aku mendengar pamanku  Marwan bin Qais yang telah mengambil kekuasaan pada keluarga atau penghuni desanya  di masa Rasulullah SAW lalu berkata :  Seorang lelaki datang kepada Rasulullah SAW, lalu berkata:  Wahai Rasulullah ! Sesungguhnya ayahku meninggal dunia, dia bernazar untuk berjalan ke Mekkah dan menyembelih unta  tapi tidak meninggalkan harta, apakah bisa saya wakili dengan berjalan ke Mekkah dan menyembelih unta dari hartaku.
Rasulullah SAW bersabda : Ya, tunaikan, sembelihlah dan berjalanlah. Bagaimanakah pendapatmu bila ayahmu punya hutang kepada seseorang, lalu kamu melunasi hutang ayahmu dari hartamu, bukankah lelaki tsb akan rela ?  Dan Allah lebih berhak untu rida. HR Thobroni  [31][32]
Ali bin Abu Bakar Al Haitami  berkata : HR Thobroni dalam kitab al kabir, perawi perawinya terpercaya 143/2

Saya tidak menjumpai perawi bernama Imran bin  Yahya al asadi dan Marwan bin Qais di encyplopedi perawi – perawi hadis. Dan saya  tidak menjumpai identitas Imran di kitab – kitab  biografi yang kami miliki.
Menurut Abu Muhammad Arrazi Attamimi, Marwan bin Qais meriwayatkan hadis yang diriwayatkan oleh anaknya  bernama  Khutsaim bin Marwan.[32][33]
Saya katakan : ……….. jadi bukan Imran bin Yahya sebagai keponakannya,  Hadis tsb juga di cantumkan dalam kitab al ishobah tanpa keterangan identitas perawinya bahkan tanpa komentar sahih atau lemah.[33][34]

Saya bisa menyatakan disini bahwa perawi – perawinya  tidak di kenal identitasnya., boleh di katakan  majahil.
   Hadis – hadis lemah di atas selalu di gunakan untuk landasan tahlilan, selametan, bancaan untuk mengirim pahala kepada ayah,. Ibu dan  kakek. Bila telah di nyatakan  bahwa  hadis –hadis tsb lemah maka  alasan  untuk mengatakan bahwa  sedekah dalam acara  kirim kepada orang- orang  yang mati tidak ada.Mereka itu  ibarat orang yang tenggelam  di laut dan sangat membutuhkan bantuan dari yang hidup, kata mereka . Karena itu, gencar dan gemar sekali masarakat  untuk mengadakan tahlilan. Dari  sana timbullah berbagai macam bid`ah. dengan lemahnya hadis pengiriman pahala sedekah maka tidaka da lagi selametan.
Hadis – hadis tentang pahala sedekah sampai pada mayat itu bertentangan  dengan ayat :
وَخَلَقَ اللَّهُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ بِالْحَقِّ وَلِتُجْزَى كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ
Dan Allah menciptakan langit dan bumi dengan tujuan yang benar dan agar dibalasi tiap-tiap diri terhadap apa yang dikerjakannya, dan mereka tidak akan dirugikan.[34][35]
الْيَوْمَ تُجْزَى كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ لَا ظُلْمَ الْيَوْمَ إِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ
Pada hari ini tiap-tiap jiwa diberi balasan dengan apa yang diusahakannya. Tidak ada yang dirugikan pada hari ini. Sesungguhnya Allah amat cepat hisabnya.[35][36]
لِيَجْزِيَ اللَّهُ كُلَّ نَفْسٍ مَا كَسَبَتْ إِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ
agar Allah memberi pembalasan kepada tiap-tiap orang terhadap apa yang ia usahakan. Sesungguhnya Allah Maha cepat hisab-Nya.[36][37]
فَكَيْفَ إِذَا جَمَعْنَاهُمْ لِيَوْمٍ لَا رَيْبَ فِيهِ وَوُفِّيَتْ كُلُّ نَفْسٍ مَا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ
Bagaimanakah nanti apabila mereka Kami kumpulkan di hari (kiamat) yang tidak ada keraguan tentang adanya. Dan disempurnakan kepada tiap-tiap diri balasan apa yang diusahakannya sedang mereka tidak dianiaya (dirugikan).[37][38]
Dan ayat :
وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَى(39)وَأَنَّ سَعْيَهُ سَوْفَ يُرَى(40)ثُمَّ يُجْزَاهُ الْجَزَاءَ الْأَوْفَى
dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya. Dan bahwasanya usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya). Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna,[38][39]
Ibnu katsir berkata :

وَمِنْ هَذِهِ الآيَةِ اْلكَرِيْمَةِ اِسْتَنْبَطَ الشَّافِعِي رَحِمَهُ اللّه، أَنَّ اْلقِرَاءَةَ لاَ يَصِلُ إِهْدَاءُ ثَوَابِهَا إِلىَ الْمَوْتَى، ِلأَنَّهُ لَيْسَ مِنْ عَمَلِهِمْ وَلاَ كَسْبِهِمْ، وَلِهٰذَا لَمْ يَنْدُبْ إِلَيْهِ رَسُوْلُ اللّه صلى اللّه عليه وسلم أُمَّتَهُ وَلاَ حَثَّهُمْ عَلَيْهِ، وَلَمْ يَنْقُلْ ذَلِكَ عَنْ أَحَدٍ مِنَ الصَّحَابَةِ رَضِيَ اللّهُ عَنْهُمْ، وَلَوْ كَانَ خَيْراً لَسَبَقُوْنَا إِلَيْهِ،
 Dari ayat tersebut, Imam Syafii  rahimahullah  mengambil kesimpulan bahwa  bacaan al Quran tidak akan sampai  pahalanya kepada mayat, sebab bukan karya atau amalan mereka. Karena  itu  pula, Rasulullah SAW tidak mensunnahkan kepada umatnya, juga tidak menganjurkannya. Dan hal itu tidak pernah di lakukan  oleh salah satu dari sahabat  ra. seandainya baik   mereka akan lebih dahulu mengerjakannya. [39][40]
Pernyataan  Syafii ini berbeda jauh dengan pernyataan KIYAI Sahal  Mahfud yang  pengikut madzhab Syafii sbb ;
Acara tahlilan yang sudah mentradisi hendaknya terus dilestarikan sebagai salah satu budaya yang bernilai islami dalam rangka melaksanakan ibadah sosial sekaligus meningkatkan dzikir kepada Allah

Al Qwurthubi berkata :
وَلمَ ْيُجِزْ مَالِكٌ الصِّيَامَ وَالْحَجَّ وَالصَّدَقَةَ عَنِ اْلمَيِّتِ
Imam Malik tidak memperkenankan berpuasa, berhaji atau mengrimkan pahala sedekah untuk mayat. [40][41]

             Rasulullah SAW acap kali bersedekah, dan jumlah sedekahnya sulit di hitung. Beliau sangat dermawan dan jarang orang yang selevel beliau dalam hal sosial. Begitu  juga para sahabatnya. Mereka menganggap bahwa sedekah itu amalan yang utama.Tapi  sampai detik ini, saya belum menjumpai, Rasulullah SAW   bersedekah untuk mayat atau pahala nya  dikirimkan kepada  Khadijah yang sudah meninggal dunia lebih dulu. Memang beliau bersedekah kepada teman – teman  Khadijah tapi pahalanya tetap beliau ambil sendiri sekalipun pahala beliau amat banyak.  Tiada satupun sahabat yang mengirim pahala sedekahnya  untuk ibunya  selain kisah Sa`ad bin Ubadah itu yang sanad hadisnya masih memiliki kelemahan, begitu juga redaksinya kacau belau. Bila ada hadis lain yang sanadnya sahih dan menyatakan  pahala sedekah bisa di transefer untuk mayat, saya akan berpegangan  kepadanya  dan sekaligus saya ikut. 

Dan kliklah 4 shared mp3 jangan di panahnya.
 






[1][1] HR Bukhori 2756

[2][2] Pertanhyaan  nomer 192  dalam  riwayat hidupn  Syekh Muqbil
[3][3]   HR Nasai 3657 HR Nasai  3656 .  Al Musnad Al jami` 95/13 . Ahmad 242347/7/6  Al kubro  6450 , 6451, 6452. 6455.
[4][4] Mausuah ruwatil hadis 2602
[5][5]  3665 , 238/8 sahih wa dhoif sunan Nasai
[6][6]  HR Thobroni . Musnadul jami` 92/13

[7][7] Musnad al jami`  92/13
[8][8] Al musnadul jami` 92/13.Bab 3
[9][9]    Sahih wa dhoif sunan Nasai  karya  al bani  238/8

[10][10] Maktabah syekh Muqbil Al wadi`I , bab  riwayat hidup syekh Muqbil
[11][11]  602/6
[12][13] Muttafaq alih , Bukhori 1461

[13][14] Muttafaq alih ,  , Bukhori 2318
[14][15] Sahih Bukhori
[15][16] Sahih Bukhori 4555
[16][17] HR Nasai 3657 Sahih .

[17][18]  Maktabah Syekh Muqbil al wadi`I  , bab tanya jawab pemuda Louder
[18][19] Muslim /Wasiat /1613. Tirmidzi / 1376. Nasai /Washoya /3651. Abu Dawud /Washoya /2880
[19][20] Kasyful khofa 99/1/ bab 1
[20][21] Kanzul ummal  952/15
[21][22] Nasbur royah 450/5
[22][23] Kasyful khofa 99/1/ bab 1
[23][24] Al musnadul jami`  346/45/ 9

[24][25]   Muktashar irwa`ul gholil  312/1 Miskatul mashobih 44/1
[25][26] Mausuah ruwatil hadis 5247
[26][27] HR Bukhori 2760.
[27][28] Mausuah ruwatil hadis 7302
[28][29] HR Ahmad 6704 / 161  juz 2 . Abu dawud 2883  Tafsir alusi 30/20 . Al musnadul jami` 18/ juz 26 Tafsir  al alusi 30/20 . Kanzul ummal 450/6 Majmauz zawaid 192/4
[29][30]  Majmauz zawaid 143/2 – 192/4
[30][31] Mausuah ruwatil hadis 1119
[31][32]  Al mu`jamul  kabir  291/15 , Majmauz zawaid  143/2 , Mu`jma kabir karya  Thobroni 291/15
[32][33] Al jarh watta`dil 27/8
[33][34] Al Ishobah 82/6
[34][35] Al Jatsiyah 22
[35][36] Ghofir 17
[36][37] Ibrahim 51
[37][38]  Ali imran 25
[38][39] Annajem 39 - 41
[39][40] tafsir Ibnu Katsir .
[40][41] Tafsir qurthubi .
Artikel Terkait

1 komentar:

  1. Saya tidak ikut itu, karena gaya nya seperti non muslim tanpa memoperhatikan yang halal dan haran seperti tv prabayar dll

    BalasHapus

Pesan yang baik, jangan emosional.Bila ingin mengkeritisi, pakailah dalil yang sahih.Dan identitasnya jelas. Komentar emosional, tidak ditayangkan