Al Qur an digital

Senin, Agustus 29, 2011

Kenapa Mekah Lebih Duluan Hari Raya Idul Fitri? Rahasia Umum Astronomi






"Saya ikut lebaran hari ini saja ah soalnya Mekah juga lebaran hari ini!" demikian beberapa orang memberikan alasan "syar'i" mengenai keputusan berhari raya (penentuan tanggal 1 Syawal). Tak kurang seorang Master jebolan IAIN ada juga yang mengatakan demikian.  Tetapi sangat mengejutkan ketika seorang anak SD nyeletuk,"Emangnya kita ini hidup di Mekah atau di Indonesia?,.....Kan antara kota Jakarta dan Riyadh itu beda 4 jam?.... bukankah dalam waktu 4 jam itu bulan sudah bergerak naik dari ufuk setinggi 2,0833 derajat?  Mungkin di Jakarta bulan tidak terlihat, tapi 4 jam kemudian di Riyadh sudah bisa terlihat,"  Wah, wah,....diajarin anak SD pula kita nih? Jadi Kenapa Mekah Lebih Duluan Hari Raya Idul Fitri? Berikut ini penjelasannya
Misalkan waktu diamati di Jakarta posisi bulan tepat di cakrawala atau nol derajat, maka 4 jam kemudian ketika diamati dari Riyadh, bulan tersebut sudah bergerak naik dari ufuk setinggi 2,0833 derajat. view the following picture

 
Gambar pertama:
Asumsikan pengamatan bulan di Jakarta (J) pada tanggal 29 (hari Senin sore)

Posisi bulan segaris dengan posisi matahari tenggelam (sudut 0 derajat), maka pada hari berikutnya (Selasa sore) tanggal 30, bulan terlambat 50 menit dibanding matahari. Artinya matahari sudah tenggelam di garis horison, sedangkan bulan masih di atas horison dengan ketinggian 50 menit.
Kalau dihitung derajat sama dengan  50/60 X 15 = 12,5 derajat
Hari berikutnya bertambah 12,5 lagi menjadi 25 derajat, kemudian 37,5 derajat dan seterusnya sampai kembali lagi segaris dengan posisi matahari

(jika dalam sehari 24 jam, bulan tertinggal dari matahari sejauh 12,5 derajat maka dalam 4 jam (selisih waktu jakarta riyadh) bulan tertinggal sejauh (12,5 X  4/24) atau sama dengan (12,5 dibagi 6) hasilnya adalah 2,0833.

Jadi dalam 4 jam bulan tertinggal dari matahari sejauh 2,0833 derajat sebagaimana terlihat dalam gambar kedua berikut ini:



Gambar kedua adalah pengamatan di Jakarta pada tanggal 29 Senin sore jam 18.00 WIB.
Posisi bulan segaris dengan posisi matahari (Riyadh masih siang jam 14.00 waktu Riyadh)

Empat Jam Kemudian Riyadh baru dapat melakukan Rukyat. Dalam selang waktu 4 jam tersebut bulan sudah tertinggal dari matahari sejauh 2,0833 derajat sebagaimana gambar berikut:

 
Gambar ketiga adalah pengamatan di Riyadh 4 jam kemudian setelah pengamatan di Jakarta (Riyadh jam 18.00 dan Jakarta sudah malam jam 22.00) pada saat pengamatan di Riyadh ini posisi bulan tidak lagi segaris dengan matahari tetapi tertinggal (di sebelah atas) dari matahari yang sedang terbenam di garis horison. Ketinggian bulan dari horison adalah sebesar 2,0833 derajat.

Dalam Ilustrasi diatas, Ahli Rukyat di Jakarta tidak melihat hilal sedangkan ahli rukyat di Riyadh sudah bisa melihat karena tinggi bulan dari horison sudah lebih dari 2 derajat. Dengan demikian umat di Arab Saudi Selasa sudah Hari Raya, sedangkan Muslim di Jakarta berhari raya pada hari Rabu

Biasanya ada usul ”cerdas”  bagaimana kalau batasan tinggi bulan dari horisonnya diperbesar misalnya sampai 5 atau 6 derajat? Dengan begitu selisih 2 derajat tidak membuat Riyadh jadi berbeda dari Jakarta. Benarkah?

Tidak demikian. Berapapun angka derajat yang disepakati hasilnya akan begitu juga. Misalnya disepakati 5 derajat.  (artinya kalau tinggi bulan belum 5 derajat maka esok masih bulan lama). Jika kasus yang terjadi dilapangan persis seperti asumsi dalam ketiga gambar di atas memang Riyadh dan Jakarta jadi sama karena  tinggi bulan pada pengamatan di Riyadh hanya 2 derajat (tidak sampai lima).

 Persoalan jadi beda kalau pada pengamatan di Jakarta tinggi bulan mencapai 4 derajat maka ketika diamati di Riyadh bulan sudah naik lagi menjadi 4+2 = 6 derajat. Artinya Jakarta masih bulan lama, Riyadh sudah bulan baru.
Sumber :  http://wiseislam.blogspot.com/2010/11/kenapa-mekah-lebih-duluan-hari-raya.html

 



Komentarku ( Mahrus ali )
Kita tidak diperintahkan untuk mengikuti rukyat Mekkah , Mexiko , Roma atau Amirika . Kita tidak ikut Mekkah dalam menentukan awal bulan Ramdahan atau awal bulan Syawal . Kita sudah malam dan  orang – orang di mekkah masih dalam keadaan sore atau siang . Di bidang sahur dan bukanya beda , sudah tentu  awal bulan syawalnya beda. Dalam al quran di jelaskan :
يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْأَهِلَّةِ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ)
Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: "Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji;  189 Al baqarah

Lihat al Quran, jangan lihat kitab Injil atau fikih  dlm menentukan bulan haji atau  di mulainya bulan  haji atau di akhiri bulan sebelumnya juga menggunakan hilal bukan hisab.
Allah juga berfirman tentang bulan  di akhir bulan sbb:
وَالْقَمَرَ قَدَّرْنَاهُ مَنَازِلَ حَتَّى عَادَ كَالْعُرْجُونِ الْقَدِيمِ(39)
Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua. Yasin 39
ٍ عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِي اللَّه عَنْهممَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَكَرَ رَمَضَانَ فَضَرَبَ بِيَدَيْهِ فَقَالَ الشَّهْرُ هَكَذَا وَهَكَذَا وَهَكَذَا ثُمَّ عَقَدَ إِبْهَامَهُ فِي الثَّالِثَةِ فَصُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ غُمَّ  عَلَيْكُمْ فَاقْدِرُوا لَهُ ثَلَاثِينَ
            Ibnu Umar ra  berkata : Sesungguhnya Rasulullah menyebut bulan Ramadhan , lalu  mencontohkan dengan  kedua tangannya  begini , begini dan begini . Kemudian ketiga kalinya beliau melengkungkan ibu jarinya ( 29 hari ) . Beliau bersabda :Berpuasalah  karena melihat bulan  tanggal satu ( Ramadhan ) dan berbukalah karena melihat  bulan tanggal satu ( Syawal ) . Bila ada  awan di atasmu , tentukan tiga puluh hari . [1]
Al Qurthubi berkata :
وَفُرِضَ عَلَيْنَا عِنْدَ غُمَّةِ اْلهِلاَلِ إِكْمَالُ عِدَّةِ شَعْبَانَ ثَلاَثِيْنَ يَوْمًا وَإِكْمَالُ عِدَّةِ رَمَضَانَ ثَلاَثِيْنَ يَوْمًا حَتَّى نَدْخُلَ فِي اْلعِبَادَةِ بِيَقِيْنٍ وَنَخْرُجَ عَنْهَا بِيَقِيْنٍ
  Kita di wajibkan ketika awan menghalangi bulan sabit  untuk menyempurnakan  tiga puluh hari  bulan  sya`ban  dan menyempurnakan  tiga puluh hari bulan Ramadhan  sehingga kita  menjalankan ibadah dengan yakin  dan kita keluar dari Ramadhan juga dengan yakin . [2]Pendapat ini didukung Imam Malik  , Abu Hanifah , Imam  Syafii , mayoritas ulama` salaf dan kholaf kata Imam Nawawi  [3]    

Boleh jadi ketika di Surabaya kita lihat bulan sabit dalam keadaan tertutup awan bukan  terbuka  lalu tidak tampak tapi sembunyi di balik awan , lalu kita genapkan bulan tiga puluh hari dan tidak boleh langsung berhari raya dengan hisap , dan ketika  di Mekkah bulan sabit di lihat dalam keadaan terang tanpa awan yang menghalangi penglihatan lalu bulan sabit bisa di lihat dengan mata biasa . Dan penduduk Mekkah telah mulai hari raya dan kita masih berpuasa di hari berikutnya . Bila kita berhari raya dengan bulan yang tidak tampak untuk mengikuti Mekkah atau lainnya , maka  hadis tadi harus di buang dulu. Ini bukan hal yang ganjil lagi – tapi biasa.

03 Des 2010
Minggu, Agustus 28, 2011

[1]  HR  Bukhori / Shoum / 1900. Nasai / Shoum / 2120. Abu Dawud / Shoum / 2220 . Ibnu Majah / Shiyam / 1654. Muslim / Shiyam / 1080 . Ahmad / Musnad muktsirin minas shohabah / 4474. ( muttafaq alaih ) . Tafsir qurthubi 293/2. Ahkamul quran lil jasshos /234/1. Tafsir Ibnu Katsir / 226/1. Al Mubdi`/ 5/3. Fathul qadir / 184/1. Manarus sabil / 208/1. Al Kafi fi fiqhi Ahmad bin Hambal  347/1. Kassyaful qina` /301/1 Majmu`  fatawa / 207/25. I`anatut tholibin 215/2. Al mughni /6/4. Ikhtilaful hadis / 250/1. Al muhaddzab / 215/1. Iqna` /234/1.  Al wasith / 513.
[2] Tafsir Al qurthubi  293/2
[3] Al majmu`  271/6

Artikel Terkait

17 komentar:

  1. ada yg mengatakan tadi hilal sudah terlihat, namun ditolak pemerintah/MUI karena dianggap tidak masuk akal (seharusnya tidak terlihat hari ini berdasar perhitungan astronomis) dan terlalu sedikit yg melihat. maka bagaimana ini?


    link beritanya:
    http://m.eramuslim.com/berita/nasional/hilal-telah-terlihat-di-cakung.htm

    BalasHapus
  2. setelah tau dari temen saya yang lg study di mesir bahwa dia lebaran besok hari selasa saya sedikit ragu mau lebaran hari rabu, tapi alhamdulillah setelah membaca ini jadi lebih mengerti, dan yakin :) terimakasih sudah menjelaskan :)

    BalasHapus
  3. setelah saya mengetahui teman yg lagi study di mesir lebarannya hari ini (selasa) saya sedikir ragu mau lebaran hari rabu karena kurang faham kenapa berbeda dari mekkah, tapi alhamduillah setelah membaca penjelesan ini akhirnya saya mengerti , syukron :)

    BalasHapus
  4. Untuk cerita cinta lihatlah artikel berikutnya yaitu komentarku atas keputusan pemerintah mengenai hari raya . Dan penglihatan pihak Jepara dan cakung itu boleh jadi kabur ya`ni melihat sesuatu yang mirip dengan hilal tapi bukan . Hal itu karena ilmu menyatakan saat itu bulan sabit belum bisa di lihat.

    BalasHapus
  5. UNtuk Farhati , semoga Allah menambah kita hidayah ke jalan yang benar .

    BalasHapus
  6. yah bos 4 jam itu sama dengan satu hari, bener ente ( 4 JAM ITU SMA DENGAN 1 HARI)sama malaysia dan brunei beda 1 jam jg terhitung satu hari ( hebat pemerintah hebat) besok buat tanggalan sendiri, trus tiap mau sholat 5 waktu ente lihat posisi bulan/ matahari dulu trus jam dinding yg ada di masjid diloakin aja (percuma drpada jam dindingnya buat pajangan)

    BalasHapus
  7. BACALAH LAGI BIAR PAHAM . PENYELIDIKAN ILMIYAH DI ATAS ITU BUKAN MAIN - MAIN , TANGGAPILAH DENGAN BAIK DAN AMBIL POSITIFNYA. BILA ANDA TIDAK MENGGUNAKAN JAM DINDING SEBAGAIMANA PARA SAHABAT DAN NABI DULU , MAKA BOLEH SAJA . JAM DINDING ATAU TANGAN ITU SEKEDAR ALAT TEHNOLOGI YANG BISA DI MANFAATKAN . BACALAH DI ARTIKEL INI
    MANTAN KYAI NU: Makan nasi bid`ah menurut ahli bid`ah
    23 Jul 2011
    فَمَا أُوتِيتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَمَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَمَا عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ وَأَبْقَى لِلَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ. Maka sesuatu apapun yang diberikan kepadamu, itu adalah keni`matan hidup di dunia; dan yang ada pada sisi Allah lebih baik dan ...
    MANTAN KYAI NU: 8 Kiat Menangkal Radiasi Ponsel
    13 Jun 2011
    13 Jun 2011
    فَمَا أُوتِيتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَمَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَمَا عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ وَأَبْقَى لِلَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ. Maka sesuatu apapun yang diberikan kepadamu, itu adalah keni`matan hidup di dunia; dan yang ada pada sisi Allah lebih baik dan ...
    MANTAN KYAI NU: Internet dan laptop bid`ah menurut orang bodoh
    25 Jul 2011
    فَمَا أُوتِيتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَمَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَمَا عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ وَأَبْقَى لِلَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ. Maka sesuatu apapun yang diberikan kepadamu, itu adalah keni`matan hidup di dunia; dan yang ada pada sisi Allah lebih baik dan ...

    BalasHapus
  8. Ikhwah Fillah, Islam agama internasional bukan agama lokalan, Hadist tentang saksi hilal juga berlaku secara internasional dimana ummat Islam menjadi satu kesatuan, hanya karena jarak hilal visible antara Jakarta & Mekkah tgl 29 hanya berjarak maksimal 4 jam, tidak berarti lebaran menjadi berselang sehari shg anda berpuasa di bulan yang nyata-nyata sudah bulan baru.

    Masyarakat dunia berlebaran di tanggal 30, Hanya Indonesia yang nyeleneh lebaran di tgl 31, dalam penentuan hilalpun lagi2 demokrasi jadi tuhan

    BalasHapus
  9. Assalamualaikum war., wab.

    Yang saya tidak paham, kenapa petugas yang melihat hilal di Cakung dan pantai Utara Jateng meskipun yang bersangkutan di sumpah, tetap ditolak dan memaksakan Iedul Fitri 1432 H pada tanggal 31 Agustus 2011.

    Wassalamualaikum war., wab.

    BalasHapus
  10. Kita ikut petugas pemantau di kebanyakan titik yang menyatakan tidak melihat bulan sabit dan cocok dengan ilmu dari pada ikut pihak pemantau di cakung dan jepara yang sedikit dan nentang ilmu . Apa yang di lihat di cakung dan Jepara itu boleh jadi bukan hilal lalu di kira hilal.

    BalasHapus
  11. Untuk bagus , ada 30 negara tidak melihat hilal tapi ikut Saudi

    BalasHapus
  12. Selamanya kita akan terus berselisih dalam penentuan 1 syawal kalau kita masih berpatokan dengan waktu GMT (Greenwich Meridian TIme) padahal GMT itu bikinan orang-orang non muslim. kalau menurut GMT Jakarta dan Riyadh memang beda 4 jam, tapi bagaimana kalau kemudian patokan mulai hari kita pakai MMT (Mekkah Meridian Time), sehingga titik awal hari di mulai di Mekkah yang mana di sana ada Ka'bah yang terletak tepat di tengah-tengah bumi. nah...kalau kita umat islam patokannya MMT maka apabila di mekkah sudah 1 syawal maka akan terus menyebar ke negara-negara lain, sehingga 1 syawal akan jatuh pada hari yang sama.

    BalasHapus
  13. Masalahnya bukan GMT atau MMT tapi penampakan bulan sabit di tempat kita dan di Mekkah beda. Kita boleh saja beda dan tidak harus sama untuk mulai Ramadhan atau mulai syawal , memang penampakan bulan sabitnya begitu .Yang aneh itu sesama penduduk Indonesia hari rayanya beda.

    BalasHapus
  14. ikut diskusi USTadz.....:
    semoga kita sm-sm diberi petunjuk Alloh dlm hal ini,USTadz..., pemikiran ringan-ringan sj dulu soalnya sy orang biasa/awam. kalau kita mau membuang semua logika berputar dgn akibat rumus heliosentrisnya, lalu kita mulai berfikir rumus baru pe-NYEBAR-an dgn bulan sbg mercusuarnya, mk kita akan hepotesakan masalah BULAN hanya masalah SUDUT pandang, bukan terhalang. dari New Moon,First Quarter,Full Moon,Last Quarter yg berkaitan dgn Moon Rise,Moon Transit,Moon Set semuanya sebenarnya maslah SUDUT PANDANG. bukan berputar atau sengaja diputar oleh teory-teory klasic (heliosentris juga geosentris). bumi itu keberadaannya MIHADA, shg jika teorinya menyebar mk tempat asalnya bisa jadi sandaran ushulfiqhnya. sehingga mulai dari apapun ISLAM tak kocar-kacir tp menyatu dlm akibat FIQHnya. sebab rujukannya pasti dari KA’BAh yg disebar(seperti pelaksanaan sholat), bukan KA’BAh yg diputar lalu ditinggalkan. ini dasar awal diskusi ini agar mengena dan insyaAlloh menghasilkan rumusan cara berfikir baru dgn logika causal juga benar-benar baru.
    sedikit sj sebagai referensi yg berbeda : ketika kita bicara GMT, kita diilusikan dgn perputaran, sehingga terjadi garis ilusi pd tiap tempat(lintang/bujur. nah ..kalau kita berbicara MMT, yg namanya rasa, karsa, logika entah apa lagi istilah kosmonitasnya dari GMT sudah harus dibuang jauh-jauh. TEGASNYA berbicara MMT maka prinsip dasarnya bukan berputar tp MENYEBAR. maaf dari sini mungkin kita harus mengawali bahasan,tak berlaku lagi jadi timur apa jadi barat. LETAK KA’BAH ITU DILETAKKAN ALLOH DGN SANGAT TELITI TEMPATNYA, JD DARI KA,BAH LALU MENYEBAR KE SEGALA ARAH. nah kalau sudah logika berpikir menyebar maka penentuan masalah FIQHnya akan sama. dari makkah kesetiap ujung takkan melampoi subuh dan melebihi maghrib. efek geografisnya daerah kutup akan mudah juga penentuan ibadahnya. banyak dalil yg berkenaan dgn menyebar, bukan dgn berputar yg sebenarnya nisbi. kalau menyebar sy yakin setiap kejadian dlm syar’i akan NYATA, sesuai REALITA dan mudah dicerna sebab FAKTA.
    GIMANA Ustadz DR PEMIKIRAN ORG AWAM INI.
    MERUBAH TOTAL LOGIKA BERPUTAR (GMT) MENJADI MENYEBAR (MMT). bisa ditangkap….kalau ndak bisa nangkap berati ndak bakat jd penjaga gawang timnas….hehehehehehe….

    BalasHapus
  15. Bagus juga , namun perlu pembahasan yang lebih jelas lagi dan contoh - contoh yang nyata agar bisa di mengerti kalangan awam .

    BalasHapus
  16. MASALAH RUKYAT,
    ada yg mengatakan tadi hilal sudah terlihat, namun ditolak pemerintah/MUI karena dianggap tidak masuk akal (seharusnya tidak terlihat hari ini berdasar perhitungan astronomis) dan terlalu sedikit yg melihat. maka bagaimana ini?
    == khan sudah jelas jelas yang lihat adalah dia, bukan saya atau anda ? Anda kenal yang (ngaku) melihat tsb?
    == HUKUM berlaku bagi yang lihat langsung, silakan, jika dia yakin, maka silakan ikuti apa yang dia lihat. Tapi kita, yang tidak lihat, wajib mengikuti Pemerintah, sebagaimana yang telah dicontohkan Nabi, para sahabat dan para tabiin dalam prakteknya
    == bahkan para Tabiin, Imam Hadits dan Ulama, mewajibkan bagi yang melihat ini, untuk tidak menampakkan/terangterangan perbedaan terhadap keputusan pemerintah apabila persaksiannya ditolak oleh Pemerintah

    BEDA WAKTU HOLAT DENGAN PUASA,
    a. WAKTU SHOLAT selisih beberapa menit -- dengan MATAHARI
    kasus, pernah azan dhuhur Masjid didekat rumahku jam 11.55 wib, setelah aku keluar rumah dan ngecek ke bayangan dari cahaya Matahari, ternyata belum masuk, kutunggu sampai Zawal 12.05 wib, baru aku yakin itu sudah masuk dhuhur.
    KESIMPULAN
    yang solat 11.57 tidak sah, jika saya yakin dhuhur adalah 12.05
    dan yang solat pada 11.57wib adalah sah jika yg bersangkutan yakin itu sudah masuk waktu

    WAKTU PUASA/IDUL FITRI -- dengan HILAL
    jika hilal tidak terlihat, maka bilangan bulan digenapkan 30 hari, beda dengan waktu sholat yang bia menunggu beberapa menit
    KESIMPULAN
    solat perbedaan/selisihnya hanya beberapa menit, sedangkan puasa/idul fitri 1x24jam

    b. PENGUMUMAN
    SHOLAT, jika seseorang yakin setelah mengrukyat MATAHARI, bahwa hal tersebut masuk waktu solat, dia boleh langsung mengumumkannya dengan azan,

    PUASA, jika seseorang merasa telah melihat hilal, maka dia tidak boleh mengumumkannya , sampai dia harus melaporkan penglihatannya kepada Pemerintah
    Sebagaimana yang diterapkan di zaman Nabi dan para sahabat serta pengikut mereka

    Catatan : yang tidak boleh adalah mengumumkannya sehingga mendahului dari keputusan pemerintah. Kalau dia yakin dan mau melakukan apa yang dia yakini, maka silakan, akan tetapi para tabiin tetap menganjurkan ingit pemerintah walaupun pemerintah menolak kesaksiannya

    INTINYA ADALAH RUKYAT, teknologi sebagai pendekatan dan untuk memudahkan. WALAUPUN BULAN 10 derajat, tapi tidak ada yang bia melihatnya, karena terhalang awan/kabut, maka jumlah bilangan harinya digenapkan 30. Metode ini adalah yang diajarkan NABI saw, yang beliau tidaklah berbicara dari hawa nafsu bahkan setiap sabda beliau adalah wahyu-NYA

    BalasHapus
  17. Ya, begitulah pendapat Al Utsaimin dari Saudi

    BalasHapus

Pesan yang baik, jangan emosional.Bila ingin mengkeritisi, pakailah dalil yang sahih.Dan identitasnya jelas. Komentar emosional, tidak ditayangkan