Jumat, Desember 16, 2011

600.000 dollar AS untuk pemenang kemungkaran

LONDON| SURYA Online- Film dokumenter karya sineas muda Indonesia, Shalahuddin Siregar, The Land Beneath the Fog atau Negeri di Bawah Kabut meraih penghargaan khusus Special Jury Prize Muhr Asia Africa Documentary Awards pada festival film internasional di Dubai .
Dalam The 8th Dubai International Film Festival 2011 (DIFF), karya Shalahuddin Siregar bersaing dengan 10 film finalis lainnya yang diseleksi untuk kategori Film Dokumenter Asia Afrika, ujar Sekretaris Pertama/ Konsul Fungsi Pensosbud KJRI Dubai, Adiguna Wijaya di London, Jumat (16/12/2011).
Penghargaan ini merupakan yang pertama kalinya diterima film dokumenter Indonesia ini mengiringi pemutaran perdananya (World Premiere) dalam acara penutupan kegiatan DIFF 2011 di hotel Jumeirah Zabeel Saray yang berlokasi di pulau buatan berbentuk pohon palem di Dubai.
Sutradara Shalahuddin Siregar menyatakan kegembiraan dan kepuasannya mendapatkan penghargaan yang membuktikan apresiasi dunia internasional terhadap hasil karya sineas Indonesia serta kerja kerasnya bersama tim produksi selama ini.
Dikatakannya proses pembuatan film dokumenter panjang yang baru pertama kali dilakukannya cukup lama dan berliku dan bahkan sempat beberapa kali ditolak proposal pembuatannya oleh beberapa kalangan di dalam negeri, karena perbedaan pandangan tema yang diangkat dalam film ini.

Judul asli: Sineas Indonesia Menangi Festival Dubai

Penghargaan ini merupakan yang pertama kalinya diterima film dokumenter Indonesia ini mengiringi pemutaran perdananya (World Premiere) dalam acara penutupan kegiatan DIFF 2011 di hotel Jumeirah Zabeel Saray yang berlokasi di pulau buatan berbentuk pohon palem di Dubai.

Tahun ini sebanyak 36 penghargaan dengan total hadiah dalam bentuk uang sebesar 600.000 dolar AS diberikan untuk kategori film pendek, dokumenter dan features berdasarkan tiga kategori yaitu Muhr Emirati Awards, Muhr Arab Awards, dan Muhr Asia Africa Awards.

Para juri untuk berbagai film yang dikompetisikan dalam film DIFF 2011 berasal dari kalangan kritikus film, pelaku industri perfilman maupun sineas terkemuka di kawasan maupun dunia internasional, termasuk lembaga The International Federation of Film Critic's (FIPRESCI).


Apresiasi Dunia

Sutradara Shalahuddin Siregar menyatakan kegembiraan dan kepuasannya mendapatkan penghargaan yang membuktikan apresiasi dunia internasional terhadap hasil karya sineas Indonesia serta kerja kerasnya bersama tim produksi selama ini.

Dikatakannya proses pembuatan film dokumenter panjang yang baru pertama kali dilakukannya cukup lama dan berliku dan bahkan sempat beberapa kali ditolak proposal pembuatannya oleh beberapa kalangan di dalam negeri, karena perbedaan pandangan tema yang diangkat dalam film ini.

Menanggapi prestasi sineas muda Indonesia tersebut dalam ajang festival film bergengsi di kawasan Timur Tengah, Asia dan Afrika ini Konjen RI Dubai, Mansyur Pangeran, menyatakan kebanggaannya hal ini membuktikan kualitas sineas dan film Indonesia telah diakui secara internasional dan mampu bersaing secara global.

Hal ini juga membuktikan bahwa tema cerita yang diangkat melalui film tersebut sifatnya universal dan mengena dalam lingkup perfilman internasional. Dikatakannya terpilihnya film dokumenter Indonesia ini dari sekitar 1.700 film merupakan prestasi dan kebanggaan tersendiri dan bahkan berhasil menjadi salah satu dari 10 finalis dan akhirnya menyabet penghargaan.

Menurut Konjen, DIFF menjadi salah satu platform yang berpengaruh serta mendukung perkembangan dan kemajuan industri film di kawasan Timur Tengah.

Selama DIFF 2011 yang diresmikan Wakil Presiden PEA/Perdana Menteri PEA dan Ruler of Dubai, Sheikh Mohammad Bin Rashid Al Maktoum digelar lokakarya, seminar, kompetisi film dengan hadiah ratusan ribu dolar AS, pentas musik, serta aksi penggalangan dana amal yang berhasil mengumpulkan dana sebesar satu juta dollr AS.

Hal ini mendorong semakin terbukanya akses dan interaksi antar budaya maupun masyarakat umum penikmat film melalui industri perfilman dari berbagai kawasan di dunia, seperti Asia, Afrika, Eropa dan Amerika.

Sutradara Shalahuddin menjelaskan proses awal proyek film yang bernaung di bawah rumah produski "Studio Kecil" dimulai tahun 2006 melalui riset yang dilakukannya bersama tim selama dua tahun.

Selanjutnya, proses produksi dan pembuatan film ini memakan waktu empat tahun dan melibatkan empat kru dengan dua asisten dan seorang perekam suara. Tahap penyelesaian film ini memakan waktu selama 18 bulan, hingga siap tayang pada tahun 2011. Produksi film ini mendapat dukungan dari Goethe-Institut Jakarta, Dewan Kesenian Jakarta, Ford Foundation dan Blue Post Asia.

Proyek film yang mulai terealisasikan 2009 melalui program kerja sama Goethe-Institut Jakarta dan Dewan Kesenian Jakarta, yaitu "Documentary Cinema Capacity Building Programme: Indonesia-Ten Years After Reformasi".

Sebelumnya, pada tahun yang sama pra-proyek film ini juga turut terpilih untuk dikembangkan lebih lanjut melalui program ?Doc Station 2009 Berlinale Talent Campus?Berlin International Film Festival? bersama 11 proyek film lainnya dari 11 negara yang lolos seleksi dari 3.800 pelamar yang berasal dari 128 negara.


Kehidupan Petani

Film ini menggambarkan kehidupan masyarakat petani di desa Genikan di lereng gunung Merbabu yang mendasarkan mata pencarian bertani mereka dengan kalendar tradisional Jawa untuk menandai pergantian musim bercocok tanam.

Film berdurasi sekitar 105 menit ini menyoroti mengenai keseharian kehidupan petani yang terpengaruh oleh perubahan iklim mengisahkan tokoh Muryati dan Sudardi yang berusaha memahami terjadinya perubahan iklim yang tidak menentu membuat panen lahan pertanian mereka gagal, disamping menghadapi polemik rendahnya harga jual hasil pertanian di pasaran.

Sementara itu, tokoh Arifin dihadapkan pada permasalahan sistem sekolah negeri yang kompleks baginya dan kekhawatiran akan masa depan yang dihadapinya.

Secara umum, film ini menyajikan perjalanan visual bagi para penonton untuk melihat lebih dekat keterhubungan antar anggota keluarga di desa Genikan, serta upaya mereka untuk bertahan hidup dari lingkaran kemiskinan.

DIFF 2011 menayangkan 171 film dari 54 negara, serta dari Hong Kong dan China Taipeh, dengan 45 bahasa berbeda dari seluruh dunia yang merupakan hasil pilihan dari sekitar 1.700 film mendapat dukungan dari Pemerintah Dubai dan beberapa BUMN utama Dubai, berlangsung di empat tempat yang berbeda di kota Dubai.


Red Carpet
e
Festival film yang mengambil tema "Bridging Cultures, Meeting Minds" dihadiri sekitar 1.100 orang dari kalangan industri perfilman dari kawasan Timur Tengah, Asia dan Afrika serta Eropa dan Amerika Serikat, baik para bintang film, sutradara, produser, distributor maupun kalangan sineas pendukung industri perfilman lainnya.

Pembukaan DIFF 2011 ditandai dengan acara Red Carpet dan World Gala Premiere pemutaran perdana film "Mission Impossible: Ghost Protocol" (MI:4) dihadiri para bintang film aktor dan aktris Hollywood Tom Cruise, Paula Patton, aktor Inggris Simon Pegg, aktor Bollywood Anil Kapoor, sutradara Brad Bird serta produser Bryan Burk.

Turut hadir pengarang dan penyanyi terkenal India pemenang Oscar, A.R. Rahman yang menerima "Lifetime Achievement Award" dalam DIFF tahun ini. Selain itu hadir aktor Hollywood Owen Wilson, aktor dan aktris Bollywood Shah Rukh Khan, Anusha Sharma, Ranveer Singh, Rahul Bose dan Priyanka Chopra, sutradara India Farhan Akhtar, mantan supermodel internasional asal Denmark Helena Christensen, penyanyi Inggris Ronan Keating dan bintang film terkenal dari beberapa negara yang filmnya diputar dalam DIFF 2011. (ZG)
Editor: B Kunto Wibisono
COPYRIGHT © 2011
Komentarku ( Mahrus ali ):
Festival film sedemikian ini layak di lakukan  non muslim bukan orang muslim yang konsis kepada ajaran al quran yang jelas anti kemungkaran bukan menegakkan kemungkaran  atau senang melihat kemungkaran yang di senangi setan dan di benci oleh Allah. Muslim harus menghilangkan kemungkaran bukan melestarikannya . Lihat firman Allah:
 الَّذِينَ إِنْ مَكَّنَّاهُمْ فِي الْأَرْضِ أَقَامُوا الصَّلَاةَ وَءَاتَوُا الزَّكَاةَ وَأَمَرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِ وَلِلَّهِ عَاقِبَةُ الْأُمُورِ
orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, niscaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang ma`ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.[1]
Dalam kisah di atas di katakana:
Mansyur Pangeran, menyatakan kebanggaannya hal ini membuktikan kualitas sineas dan film Indonesia telah diakui secara internasional dan mampu bersaing secara global.
 
Komentarku ( Mahrus ali ):
  Sungguh memperihatinkan bukan menyenangkan seorang muslim yang berkomentar seperti itu yang menunjukkan kebodohannya tentang ajaran agama Islam bukan ajaran kufur. Dia bangga filem ini memenangkan dlm festifal kedurhakaan  bukan kebaikan yang di ridai oleh Allah.



[1] Al haj  40 –41
Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pesan yang baik, jangan emosional.Bila ingin mengkeritisi, pakailah dalil yang sahih.Dan identitasnya jelas. Komentar emosional, tidak ditayangkan