Jumat, September 13, 2013

Jawaban ustadz yang menyesatkan ke 2





Aep saepulloh darusmanwiati mengatakan lagi dalam artikel kemarin sbb:

Dalam kitab an-Nihâyah ditambahkan: 'Dinamakan khamrah (tikar kecil), apabila ukurannya seperti itu'. Ia juga berkata: 'Dinamakan khamrah, karena jahitannya (atau anyamannya) tertutup dengan pelapahnya'. Al-Khattabi juga berkata: 'Khamrah dalam istilah sekarang adalah sajadah yang biasa dipakai sebagai tempat sujud bagi orang yang shalat'.

Komentarku ( Mahrus ali): 
Saya lihat di kitab annihayah ada keterangan yang berbeda  jauh dengan keterangan  Ustadz Aep saepulloh darusmanwiati itu sbb:
النهاية في غريب الأثر - (ج 2 / ص 148)
قال لها وهي حائض ناوِلِيني الخُمْرة ] هي مقدارُ ما يَضَع الرجُل عليه وجْهه في سجوده من حَصِير أو نَسِيجة خُوص ونحوه من النَّباتِ ولا تكون خُمْرة إلا في هذا المقدار وسُمِّيت خُمْرة لأنّ خُيوطها مَسْتُورة بِسَعَفِها
Rasulullah SAW  berkata kepada Aisyah yang lagi haidh , berikanlah  khumrah itu kepadaku ).
Penulis berkata: Khumrah hamparan yang cukup untuk hamparan wajah waktu sujud, baik berupa tikar atau anyaman daun kurma  dan sesamanya dari pada kain. Dan tidak di katakan  khumrah  kecuali dengan ukuran itu ( ya`ni sajadah yang untuk wajah saja). Diberi nama  Khumrah  karena benangnya  tertutp oleh pelepahnya.  Annihayah  148/2.

Komentarku ( Mahrus ali): 
Khumrah dalam kitab annihayah itu adalah hamparan yang cukup  untuk  wajah ketika sujud. Bukan sebagaimana tikar yang panjang. Walaupun demikian, konteknya  hadis yang menerangkan nabi menggunakan khumrah itu adalah salat sunnat bukan salat wajib. Kalau salat wajib, maka   Rasulullah SAW selalu melakukannya  di atas tanah langsung, bukan di keramik, sajadah atau karpet.



Aep saepulloh darusmanwiati mengatakan lagi dalam artikel kemarin sbb:
Sejalan dengan apa yang disampaikan oleh para ulama sebagaimana dikutip oleh Ibnu Hajar di atas, Imam Nawawi juga menguatkannya. Bahkan, dalam Syarah nya terhadap Shahih Muslim (5/163), Imam Nawawi membuat satu bab berjudul: 'Bab bolehnya shalat berjamaah di atas kendaraan, serta bolehnya shalat di atas tikar, sajadah dan baju'.
Masih di tempat yang sama, Imam Nawawi—yang merupakan pioneer dalam Madzhab Syafi'i—ketika menjelaskan salah satu hadits, ia berkata: "Hadits tersebut juga menjadi dalil bolehnya shalat di atas tikar atau semua bahan yang tumbuh di atas tanah. Dan hal ini sudah merupakan kesepakatan (ijma') seluruh ulama.



Komentarku ( Mahrus ali): 
Kami cari dari refrensinya yaitu syarah Muslim, saya dapati seperti ini:

شرح النووي على مسلم - (ج 2 / ص 461)
قَوْله : ( فَقُمْت إِلَى حَصِير لَنَا قَدْ اسْوَدَّ مِنْ طُول مَا لُبِسَ فَنَضَحْته بِمَاءٍ ، فَقَامَ عَلَيْهِ رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَصَفَفْت أَنَا وَالْيَتِيم وَرَاءَهُ وَالْعَجُوز مِنْ وَرَائِنَا ، فَصَلَّى لَنَا رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ اِنْصَرَفَ )
فِيهِ : جَوَاز الصَّلَاة عَلَى الْحَصِير وَسَائِر مَا تُنْبِتهُ الْأَرْض ، وَهَذَا مُجْمَع عَلَيْهِ
Anas bin Malik berkata; "Aku lalu berdiri menuju sebuah tikar yang warnanya telah menghitam, karena sekian lama tidak dipakai, lalu kuperciki dengan air, sementara Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berdiri diatasnya. Aku lalu membuat shaff bersama seorang anak yatim yang berada di belakang beliau dan seorang wanita tua di belakang kami. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam kemudian shalat dua raka'at mengimami kami, selanjutnya beliau beranjak pergi."

    Imam Nawawi  berkata: Hadis itu menunjukkan boleh menjalankan salat di atas tikar dan seluruh apa yang ditumbuhkan oleh bumi ( tanaman ) . dan ini sudah di sepakati.
( Ijma` ).

Komentarku ( Mahrus ali): 
 Asal hadis tsb sbb:
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ
أَنَّ جَدَّتَهُ مُلَيْكَةَ دَعَتْ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِطَعَامٍ صَنَعَتْهُ فَأَكَلَ مِنْهُ ثُمَّ قَالَ قُومُوا فَأُصَلِّيَ لَكُمْ قَالَ أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ فَقُمْتُ إِلَى حَصِيرٍ لَنَا قَدْ اسْوَدَّ مِنْ طُولِ مَا لُبِسَ فَنَضَحْتُهُ بِمَاءٍ فَقَامَ عَلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَصَفَفْتُ أَنَا وَالْيَتِيمُ وَرَاءَهُ وَالْعَجُوزُ مِنْ وَرَائِنَا فَصَلَّى لَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ انْصَرَفَ
Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya, katanya; aku pernah menyetorkan hapalan kepada Malik dari Ishaq bin Abdullah bin Abu Thalhah dari Anas bin Malik, bahwa neneknya Mulaikah pernah mengundang Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam karena hidangan yang dibuatnya. Beliau pun memakannya, setelah itu beliau bersabda: "Berdirilah kalian, aku akan melakukan salat untukmu." Anas bin Malik berkata; "Aku lalu berdiri menuju sebuah tikar yang warnanya telah menghitam, karena sekian lama tidak dipakai, lalu kuperciki dengan air, sementara Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berdiri diatasnya. Aku lalu membuat shaff bersama seorang anak yatim yang berada di belakang beliau dan seorang wanita tua di belakang kami. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam kemudian shalat dua raka'at mengimami kami, selanjutnya beliau beranjak pergi."  HADIST NO – 1053. HR Muslim

Komentarku ( Mahrus ali): 
Kisah itu adalah untuk salat sunat bukan untuk salat wajib. Ia salat sunat berjamaah bukan sendirian. Beliau menjalankan salat hanya dua rakaat bukan empat rakaat dhuhur .
Mari kita  lihat dalam riwayat yang lain , kita akan mendapat keterangan lebih jelas lagi – saat itu , Rasulullah SAW tidak menjalankan salat wajib tapi salat sunat  sbb:
حَدَّثَنِي زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا هَاشِمُ بْنُ الْقَاسِمِ حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ عَنْ ثَابِتٍ عَنْ أَنَسٍ قَالَ
دَخَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَيْنَا وَمَا هُوَ إِلَّا أَنَا وَأُمِّي وَأُمُّ حَرَامٍ خَالَتِي فَقَالَ قُومُوا فَلِأُصَلِّيَ بِكُمْ فِي غَيْرِ وَقْتِ صَلَاةٍ فَصَلَّى بِنَا فَقَالَ رَجُلٌ لِثَابِتٍ أَيْنَ جَعَلَ أَنَسًا مِنْهُ قَالَ جَعَلَهُ عَلَى يَمِينِهِ ثُمَّ دَعَا لَنَا أَهْلَ الْبَيْتِ بِكُلِّ خَيْرٍ مِنْ خَيْرِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ فَقَالَتْ أُمِّي يَا رَسُولَ اللَّهِ خُوَيْدِمُكَ ادْعُ اللَّهَ لَهُ قَالَ فَدَعَا لِي بِكُلِّ خَيْرٍ وَكَانَ فِي آخِرِ مَا دَعَا لِي بِهِ أَنْ قَالَ اللَّهُمَّ أَكْثِرْ مَالَهُ وَوَلَدَهُ وَبَارِكْ لَهُ فِيهِ
Telah menceritakan kepadaku Zuhair bin Harb telah menceritakan kepada kami Hasyim bin Al Qasim telah menceritakan kepada kami Sulaiman dari Tsabit dari Anas katanya; Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah menemui kami ketika tidak ada seorangpun selain aku, ibuku, dan Ummu Haram, bibiku. Lalu beliau bersabda: "Berdirilah kalian, aku akan shalat bersama kalian diluar waktu shalat." Maka beliau shalat bersama kami." Seseorang bertanya kepada Tsabit; "Dimanakah beliau meletakkan Anas?" Tsabit menjawab; "Beliau meletakkan Anas di sebelah kanannya, lantas beliau mendokan kebaikan untuk kami, ahli bait, dengan kebaikan dunia dan akhirat." Kemudian ibuku berkata; "Wahai Rasulullah, pelayan kecilmu -maksudnya Anas- tolong do'akanlah kebaikan untuknya!" Beliau kemudian mendo'akan segala kebaikan untukku, terakhir kali doa beliau untukku adalah dengan bacaan ALLAAHUMMA AKTSIR MALAHU WAWALADAHU WABAARIK LAHU FIIHI (Ya Allah, perbanyaklah hartanya dan anaknya, dan berilah barakah padanya baginya)." HR Muslim HADIST NO - 1055

  Komentarku ( Mahrus ali): 
Disini jelas ada kalimat
فَلِأُصَلِّيَ بِكُمْ فِي غَيْرِ وَقْتِ صَلَاةٍ
aku akan shalat bersama kalian diluar waktu shalat.

Kalimat itu yang menjadi bukti bahwa saat itu Rasulullah SAW melakukan salat sunat bukan salat wajib. Dan  ini jangan di jadikan  landasan boleh melakukan salat wajib dengan tikar. Ini akan menyalahi tuntunan salat wajib Rasulullah SAW yang sujudnya langsung ke tanah bukan sajadah, tikar atau keramik.

Dalam kitab Tuhfatul ahwadzi  267/1 dijelaskan sbb:
تحفة الأحوذي - (ج 1 / ص 267)
وَفِي هَذَا الْحَدِيثِ مِنْ الْفَوَائِدِ صَلَاةُ النَّافِلَةِ جَمَاعَةً فِي الْبُيُوتِ
Dalam hadis itu  terdapat beberapa  faedah – di antaranya  adalah melakukan salat sunah  dengan berjamaah di rumah.

فتح الباري لابن حجر - (ج 2 / ص 91)
 وَفِي هَذَا الْحَدِيث مِنْ الْفَوَائِد إِجَابَة الدَّعْوَة وَلَوْ لَمْ تَكُنْ عُرْسًا وَلَوْ كَانَ الدَّاعِي اِمْرَأَة لَكِنْ حَيْثُ تُؤْمَنُ الْفِتْنَة ، وَالْأَكْل مِنْ طَعَام الدَّعْوَة ، وَصَلَاة النَّافِلَة جَمَاعَة فِي الْبُيُوت
Dalam hadis ini banyak faedahnya  yaitu  mengabulkan  undangan  sekalipun bukan untuk kemanten, sekalipun pengundangnya perempuan  asal aman dari fitnah dan makan makanan  undangan lalu  salat berjamaah di rumah.  Fathul bari 91/2

Jadi saya  masih belum menjumpai  dalil  bahwa Rasulullah SAW pernah menjalankan salat wajib di atas tikar.   Dalil  yang  ada hanya Rasul  selalu menjalankan salat wajib langsung ke tanah bukan di tikar atau sajadah.


Peringatan:Mesin pencari diblog tidak berfungsi, pergilah ke google lalu tulislah:  mantan kiyai nu    lalu teks yang kamu cari
Mau nanya hubungi kami:
088803080803( Smartfreand ). 081935056529 (XL ) atau  08819386306   ( smartfreand )
Alamat rumah: Tambak sumur 36 RT 1 RW1

Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Pesan yang baik, jangan emosional.Bila ingin mengkeritisi, pakailah dalil yang sahih.Dan identitasnya jelas. Komentar emosional, tidak ditayangkan